FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rated : T

Length : Part (On Going)

Desclaimer : Hak Cipta dilindungi Tuhan Yang Maha Esa ^^

A/N : PART KIZUMI! Maaf klo kebanyakan scene buat Kira-Kazu-Miki disini!

.

Part 21

.

***
Wonbin POV

Aku tidak bisa mencintai Wonbin setulusnya, karena aku masih belum mengerti perasaanku yang sesungguhnya

Apa yang akan kalian lakukan jika kekasih kalian mengatakan hal seperti itu? Menyakitkan?

Lalu kenapa aku terus tersenyum dan mempertahankan semuanya, padahal aku yang disakiti disini?

Itu karena aku menyayanginya.

Aku menyayangi dan mencintainya tak perduli bagaimana perasaannya terhadapku. Aku berhak atas itu-kan? Aku berhak tetap menjaga cintaku padanya-kan?

Tapi..

Aku salah. Kalau begitu apakah kalian berpikir aku juga salah? Bukankah aku juga menyakitinya? Jelas-jelas dia tidak mencintaiku tapi aku memaksanya, aku juga salah-kan?

Karena itu aku sudah memikirkannya. Mungkin memang tiba saatnya bagiku untuk melepasnya, membiarkannya mencari cinta sejatinya yang mungkin adalah 'orang yang kusayangi juga'

"Bisa kita bicara?"segera saja kuhampiri lelaki manis yang baru turun dari atas panggung itu. Ia-pun berbalik. Bisa kulihat ekspresi terkejutnya saat melihatku.

"Wonbin?"aku hanya tersenyum. Mataku menerawang kesekelilingnya, tidak ada yang lain. Mungkin Jonghun, Jaejin dan Minhwan sudah kembali kekursi peserta. Baguslah untuk saat ini, aku memang sedang ingin membicarakan sesuatu hanya dengan Hongki.

"Hongki, bisa aku minta bantuanmu?"tanyaku langsung. Mata Hongki-pun membulat lebar menatapku, namun segera saja ia berdesis kesal untuk mengganti ekspresi terkejutnya itu.

"Untuk apa bicara denganku lagi? Minta bantuan? Kau pikir kau siapa?"sekilas Hongki yang membenciku-pun kembali.

Aku menghela nafas pelan untuk menenangkan pikiranku. Jujur saja kata-katanya itu tetap terdengar menyakitkan kalau mengingat hubungan kami dulu yang tidak seperti ini.

"Tolong jangan sangkutkan ini dengan masalah kita. Ada yang mau kubicarakan"jelasku pelan.

Namun Hongki masih berdecak kesal. Raut wajahnya malah berubah semakin masam tiap kali membalas tatapanku.

Aku-pun tak yakin membicarakan hal ini dengannya mengingat ia pasti sangat membenciku, tapi kurasa hal ini juga ada hubungannya dengannya.

"Ini tentang Kira…"Hongki kembali terkejut saat kubawa nama gadis itu. "Ki-Kira?"

"Kau menyukainya-kan? Sama sepertiku"kembali kutatap wajahnya dalam. Ia diam sejenak dan memalingkan wajahnya kearah lain.

"Jangan bicara seolah kau tahu segalanya. Untuk apa aku berurusan dengan kekasihmu"sinis Hongki dengan mempertegas nada bicaranya.

"Hongki-ah.. walaupun kita tidak pernah bicara lagi, tapi aku masih mengenalmu. Jujur-lah.. aku tahu semuanya"

"Sudah kubilang jangan berlagak sok tahu!"hatiku kembali tersentak menerima emosinya, namun aku tetap berusaha tenang karena aku tahu, Hongki tidak bisa dibalas dengan gertakan juga. Kami-pun menatap tajam satu sama lain tanpa ada yang bicara beberapa menit.

"Aku tidak perduli kau bilang apa. Aku hanya mau mengatakan hal ini…"Aku menghela nafas panjang, berusaha yakin atas apa yang akan kuucapkan. "Kira… tidak mencintaiku"

Hongki langsung terdiam kaku. "A-apa katamu?"

"Dia tidak mencintaiku"ulangku lagi sementara Hongki masih terdiam.

"Aku tidak perduli apapun yang kau katakan. Dimataku kau memang menyukai Kira"

"Untuk apa mengatakannya padaku?"tanya Hongki pelan tanpa menatap wajahku.

Aku ikut terdiam sejenak memikirkan kata-kata yang telah dan akan kuucapkan.

"Bernyanyilah dengannya"

"A-apa?"Hongki semakin mengerenyit heran dengan semua ucapanku yang aku sendiri tak yakin untuk mengatakannya.

"Gantikan aku bernyanyi bersamanya diacara penutup nanti"jelasku.

"Kenapa aku? Apa kau bodoh, hah? Kau pikir Kira itu barang yang bisa seenaknya kau permainkan seperti ini? Apa yang akan ia pikirkan tentangmu yang sudah meninggalkannya dan seenaknya saja membawa pengganti!"emosi Hongki kembali naik.

"Aku tidak meninggalkannya!"kubalas tegas. "Justru karena aku memikirkan perasaannya maka aku membiarkannya bersamamu"

"Kau… sebenarnya apa yang kau pikirkan, hah? Kau seolah-olah membuatku terlibat dalam masalah kalian"cibir Hongki.

"Aku memang bodoh karena berpikir seperti ini, kurasa dia menyukaimu"

"A-apa? Menyukaiku? Bagaimana bisa?"

"Aku belum yakin karena memang aku tidak tahu bagaimana perasaannya, yang jelas dia tidak mencintaiku"Hongki kembali terdiam mendengar ucapanku.

"Sudah kuputuskan… Aku akan mengakhiri hubunganku…"nadaku berat seiring dengan rasa sakit yang menyiksa batinku jika memang hal itu kulakukan.

"Tapi sebelumnya.. aku ingin tahu, sebenarnya siapa yang ia sukai... jika itu memang kau, aku-pun akan melepaskannya"lanjutku.

"Lebih baik memang begitu"Hongki menatapku tajam. "Kasihan sekali kalau dia harus bersama laki-laki sepertimu. Aku tidak perduli siapa yang ia sukai, aku hanya tidak mau melihat seorang gadis dipermainkan oleh kekasihnya seperti ini"

Aku berusaha kuat menahan sakit hati atas semua ucapannya. Sebenci itu-kah dia padaku sampai sekarang?

"Terserah kau bicara apa. Intinya sekarang apa kau mau menggantikanku duet bersamanya?"kuulang lagi pertanyaanku dengan nada secuek mungkin.

"Lelaki tak bertanggung jawab memang sudah seharusnya pergi"aku kembali bungkam dengan kata-katanya. Namun hal itu sudah menjelaskan jawabannya, ia akan bernyanyi bersama Kira.

Tentu saja bukan karena ia menuruti permohonanku, namun karena ia memang ingin aku yang dirasanya 'tidak bertanggung jawab' ini pergi.

"Ehm, maaf kalau aku melepas tanggung jawabku seenaknya"aku berusaha tersenyum seperti biasa. "Kalau kau yang melakukannya, aku bisa percaya"

Dengan begitu berakhirlah pembicaraan rumit kami.

.

***
Kira POV

.

"Dimana dia?"aku mulai bosan menunggu kedatangan Kazu. Acara sudah selesai satu jam yang lalu, bukankah kita sudah janjian ditaman ini setelah acara selesai. Sengaja kami pergi terpisah agar tidak ketahuan Miki, tapi sampai sekarang ia tidak muncul-muncul juga.

Pikiranku sudah kalut karena Hongki dan Wonbin. Aku butuh teman sekarang, aku butuh tempat yang bisa menenangkanku dan membuatku berpikir jernih untuk menyelesaikan masalahku.

Segera saja kuambil Handphone dari dalam tasku dan menghubungi Kazu.

.

.

Kazu POV

.

"Jonghun tunggu!"aku masih mengejarnya sampai sekarang. Sebelumnya ia sempat menghilang dan aku kehilangan jejak, namun Minhwan dan Jaejin Sunbae memberitahuku bahwa Jonghun sudah pulang. Sepertinya mereka mengerti ada masalah karena itu mereka harap aku bisa membicarakannya dengan Jonghun.

"Jonghun!"berapa kali-pun kupanggil, Jonghun tidak menoleh. Terus berjalan diam tanpa mau memperdulikanku. Aku-pun kesulitan mengejarnya ditempat ramai seperti ini.

Namun aku tak menyerah melangkahkan kakiku, dan Jonghun-pun berbelok kesebuah jalan kecil. Beruntung hanya ada kami berdua sekarang, aku-pun bisa memperpendek kami.

"Jonghun berhenti!"aku berdiri menghalangi jalannya. Jonghun tak bergeming, tatapan matanya kosong dan dingin seolah tidak mau melihat wajahku.

"Jonghun.. dengarkan aku.."ucapku terengah karena nafasku yang belum teratur setelah berlarian mengejarnya.

"Tidak ada yang perlu aku dengar. Selamat atas jadinya hubunganmu dengan Seunghyun"ia melangkah lagi menghindari tubuhku. Aku-pun hanya bisa terdiam mendengar derap langkahnya yang perlahan menjauh. Tapi aku tidak mau hanya berakhir begini.

"Aku hanya mencintaimu!"langkah Jonghun-pun terhenti.

"Kau dengar? Aku hanya mencintaimu! Hanya seorang Choi Jonghun!"bisa kurasakan air mata sudah menggenangi kelopak mataku dan siap untuk tumpah kalau-kalau aku tidak bisa menahannya lagi. Namun Jonghun tetap tidak berbalik menatapku, ia hanya diam tanpa melanjutkan langkahnya.

"Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Bahkan sampai sekarang aku tidak percaya bahwa aku adalah kekasihmu, tapi apa itu benar?"tumpah sudah air mataku.

"Kenapa… Kenapa kau selalu bersikap dingin padaku? Kau bisa tersenyum untuk wanita lain tapi tidak denganku… Kenapa.. Jonghun-ah…"

Jonghun tetap diam.

"Hatiku sakit tiap kali melihatmu bersama wanita lain. Tapi apa kau mengerti? Kau… bahkan aku tidak pernah mendengar kau mencintaku…"

"Bukankah kau hanya bilang bahwa aku adalah kekasihmu. Tapi sampai sekarang.. aku masih belum tahu perasaanmu…"tanpa sadar semua tekanan yang selama ini kupendam keluar sudah melalui mulutku. Aku tahu seharusnya aku menjelaskan masalahku dengan Seunghyun tadi, bukannya malah meluapkan emosiku seperti ini.

Tapi aku tidak bisa lagi menahannya. Tiap kali ia bersikap dingin padaku, aku selalu merasa aku yang bersalah. Apa aku egois kalau kesabaranku habis sekarang?

"Kau tidak bahagia?"kudengar suara Jonghun menyahutku. Namun aku hanya diam tanpa bisa menghentikan tangisku. Langkahnya yang semula menjauh, kini terdengar mendekat.

"Sampai seperti itukah aku menyakitimu?"ia bertanya lagi, namun masih tidak bisa kujawab. Sejujurnya aku tidak mau mengatakan hal ini, aku masih ingin bersama Jonghun sedingin apapun dia memperlakukanku. Tapi sepertinya batinku menolak tak ingin tersakiti tanpa alasan lagi.

"Kalau begitu…"Jonghun menghela nafasnya panjang. "Kita… akhiri saja"

DEG.

"J-Jonghun…"kuangkat wajahku perlahan tak perduli dengan air mataku yang masih mengalir. Bola mata dibalik kaca mataku membulat sempurna saat kulihat raut wajah lirihnya.

"Lebih baik aku pergi sekarang"suara Jonghun tertekan, entah kenapa ia terlihat seperti ingin menangis. Ia-pun membalikkan badannya dan kembali melangkah, sampai akhirnya bayang-bayang tubuhnya menghilang dari pandanganku.

Badanku lemas seketika. Apa maksudnya 'Kita akhiri saja'

"Jonghun…"hatiku sesak. Apa dia benar-benar meninggalkanku?

Segera kulangkahkan kakiku mengejarnya lagi, namun ia benar-benar menghilang. Aku-pun mengambil Handphone dari dalam tasku, berharap ia bisa kuhubungi.

Namun aku terkejut saat melihat laporan '25 panggilan tak terjawab' dan '10 pesan baru', mataku semakin membelalak saat kulihat nama yang tertera, Kira.

"Tidak… aku lupa janjiku dengan Kira…"

.

***
Author POV

.

BRAKK!

Miki terkejut dari dalam kamar mendengar suara pintu ruang tamu yang digebrak. Ia-pun beranjak dari kursinya dan keluar dari kamar.

Ia terkejut melihat Kira yang baru masuk dengan raut wajah kesal, namun belum sempat ia tanya, datang seorang lagi yang tak lain adalah Kazu ikut masuk dari pintu.

Miki mengurungkan niat untuk mendekati kedua temannya disaat ia bertemu pandang dengan Kazu yang langsung menatapnya dingin. Namun saat melihat Kira, raut wajahnya langsung berubah.

"Kira kau sudah pulang?"tanya Kazu cepat sambil menghampirinya. Kira hanya diam seolah tak memperdulikan pertanyaan Kazu.

"Kira.. maaf.. aku datang terlambat…"ucap Kazu pelan. Kira-pun memicingkan matanya. "Datang terlambat atau memang tidak datang? Bukankah sampai aku pulang kau tidak datang juga?"

Kazu tersentak. Ia-pun kembali menatap Kira intens. "K-kau marah… ?"

Tanpa memberi jawaban, Kira kembali melangkah menghindari Kazu. "Kira tunggu! Maafkan aku, tadi aku-"

"Sudahlah. Aku paling benci dengan orang yang ingkar janji"Kazu-pun bungkam menelan kata-kata tajam Kira yang sudah termakan amarah.

Miki-pun ikut terkejut mendengar jawaban Kira. Ia segera menghampiri Kira saat Kira sudah membuka kenop pintu kamarnya. "Ki-Kira ada apa denganmu dan Ka-"

"Jangan ganggu aku"ucapan Miki terputus oleh sahutan Kira. Miki-pun ikut bungkam melihat tatapan tajam Kira, ia tahu betul Kira tidak suka diganggu disaat seperti ini.

Kini ia-pun tinggal berdua diruang tamu bersama Kazu setelah Kira masuk kedalam kamar.

Miki mencoba memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Kazu. Ia hanya diam saat melihat Kazu sudah menatapnya lebih dulu.

"Ha.. sekarang aku juga yang membuat kesal orang"Kazu tersenyum tipis. "Kalau saja… waktuku tadi tidak habis untuk mengejar Jonghun…"

Miki tersentak mendengar ucapan Kazu. Ia tidak tahu ada masalah apa antara Kazu dan Kira, namun mendengar kata-kata Kazu yang layaknya sindiran membuat ia berpikir ini ada hubungannya dengannya.

"Kazu.. Maafkan aku.. apa hal ini ada hubungannya denganku?"tanya Miki pelan. Kazu hanya mendengus kesal, ia tak menjawab satu-pun kata-kata Miki.

Dengan sikap cuek ia berjalan melewati Miki dan masuk kedalam kamarnya yang juga satu ruangan dengan Kira. Sementara Miki hanya bisa terdiam pasrah menghadapi sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi.

2 hari ini Kira, Kazu, dan Miki tidak saling bicara. Bahkan Kira dan Kazu yang tidur sekamar hanya saling diam tanpa menegur satu sama lain. Biasanya mereka berangkat dan pulang sekolah bersama, namun kali ini tidak. Layaknya hidup didunia sendiri, secara alami ketiganya memisahkan diri.

.

Miki POV

.

"Miki, kau aneh"telak Yoona sambil menatapku intens. "Itu benar, kenapa matamu sembab?"sahut Soyeon.

Aku-pun menunduk lesu, rasanya air mataku siap tumpah lagi tiap mengingat apa yang sedang kualami. "Hiks…"

"Mi-Miki? Kenapa kau menangis?"pekik Soyeon saat mendengar isak tangisku. Yoona-pun menyingkirkan poni yang menutupi wajahku. "Ya~ kau kenapa?"tanyanya.

"Yoona…"aku-pun langsung menutup wajah dengan kedua telapak tanganku dan meneggelamkan wajahku dipundak Yoona.

Kurasakan Soyeon mengusap-usap rambutku pelan. "Kau ada masalah ya?"tanyanya.

"Apa… ini tentang teman-temanmu? Aku lihat kalian tidak saling tegur 2 hari ini.."kata-kata Yoona mengertak hatiku. Aku-pun berusaha menghentikan tangisku dan kembali mengangkat wajahku menatap mereka berdua.

"Ehm… aku membuat mereka marah padaku…"ucapku pelan. Aku-pun menceritakan semuanya kepada Yoona dan Soyeon yang setidaknya juga temanku selain Kira dan Kazu.

"Ya~ bagaimana bisa begitu? Lalu kau mau apa sekarang?"tanya Soyeon. Aku hanya diam dan menggelengkan kepalaku, pertanda aku-pun tidak tahu apa yang harus kulakukan. Minta maaf? Yakin mereka akan mendengar permintaan maafku sekarang?

"Sudahlah.. yang penting sekarang kau tenang dulu. Jangan terus-terusan sedih seperti ini"ucap Yoona lembut.

"Bagaimana aku tidak sedih? Pikiranku kalut.. aku tidak mau terus-terusan perang dingin seperti ini.."gerutuku pelan. Aku memang tidak bisa melepaskan masalah dari pikiranku, apalagi kalau itu berhubungan dengan temanku sendiri.

"Hmm.. mungkin kau bisa mengurangi bebanmu kalau bercerita dengan orang itu"kata-kata Soyeon membuatku dan Yoona mendelik bingung kearahnya.

"Orang itu?"tanya Yoona. Soyeon-pun mengedipkan sebelah matanya kearah Yoona dan langsung menarik tangannya untuk berdiri.

"Kalian mau kemana?"tanyaku saat Soyeon terlihat ingin membawa pergi Yoona.

"Kau tunggu disini saja. Biar kami yang memanggilnya kesini"senyum Soyeon yang langsung melesat pergi bersama Yoona dan meninggalkanku sendirian dipinggir lapangan ini.

Aku-pun hanya bisa diam dan kembali menundukkan wajahku. Sendirian semakin membuatku terasa asing tanpa teman. (T_T)

Hampir 15 menit aku hanya diam dan menunggu kedatangan mereka, sampai akhirnya kurasakan seseorang memeggang pundakku.

"O-Oniisan?"kagetku saat melihat Jaejin-niisan berada dibelakangku. Ia-pun tersenyum dan duduk disampingku.

"Aku sudah mendengarnya dari Yoona dan Soyeon. Sudahlah.. jangan terus-terusan bersedih"ucap Jaejin-niisan yang matanya menerawang kearah lapangan kosong.

"Aku tidak bisa.."gerutuku pelan sambil menopang daguku diatas kedua lutut yang kutekuk. "Aku tidak bisa punya masalah dengan teman.. Aku ini lemah tanpa teman…"

"Miki…"

"Kalau aku punya masalah seperti ini, aku pasti cerita kepada mereka. Tapi sekarang.. mereka sendiri yang marah padaku.. aku harus menceritakan kepada siapa.."air mata kembali mengalir membasahi pipiku. Aku menyesali semua perbuatanku yang menyebalkan dan sudah menyusahkan mereka berdua.

"Kau punya diriku-kan"aku tersentak mendengar ucapannya. Aku-pun menoleh kearahnya. Ia tersenyum dan mengusap pipiku dengan lembut.

"Kau punya aku.. punya Yoona, Soyeon.. Yeonhee noona.. bukankah kami juga temanmu?"senyum Jaejin-niisan. Kurasakan perasaanku menenang saat melihat senyumnya.

"Ceritakan saja masalahmu. Aku tidak suka melihatmu murung"aku terdiam mendengar ucapannya yang terakhir. Hal itu mengingatkanku dengan sesuatu, bukankah itu yang selalu dikatakan Minhwan padaku?

"Ehm.. tapi aku.. bahkan tidak sampai satu tahun disini, kenal dengan kalian-pun baru beberapa bulan.. aku tidak mau kalian ikut repot mengurusi orang asing sepertiku.."

"Kenapa bicaramu begitu? Kau bahkan memanggilku Oniisan, bukankah itu artinya aku adalah Kakakmu? Siapa bilang kau orang asing? Walaupun kau bersama kami hanya beberapa bulan, yang penting sekarang kau adalah teman kami-kan"

"…Niisan…"

"Jangan berpikir yang macam-macam. Kau tidak boleh sedih lagi supaya bisa memikirkan jalan terbaik untuk berbaikan dengan Kira dan Kazu. Aku harap kalian kembali bersama"senyuman Jaejin-niisan benar-benar membuat pikiranku tenang. Dia memang orang yang tepat bagiku disaat seperti ini.

"Terima Kasih Oniisan, aku senang mendengar kata-katamu"aku-pun tersenyum lebar dan air mataku berhenti seketika saat melihat Jaejin-niisan.

"Kau selalu menjagaku seperti adikmu, karena itulah aku sangat menyukaimu"

Eh?

Apa yang kukatakan barusan? Aku mengakui perasaanku? (O_O)

"A-ah itu.. tadi…"aku salah tingkah saat melihat Jaejin-niisan terdiam menatapku intens. Pasti dia dengar jelas pengakuanku barusan.

"Ng.. hhe.. maaf, memang aneh kalau mengatakannya disaat seperti ini. Tapi kau-pun sudah mendengarnya tadi-kan Niisan.."aku berusaha meyakinkan hatiku. "Aku memang menyukaimu"

"Miki… kalau itu…"aku kembali menatapnya saat kudengar ada yang aneh dengan nada bicaranya.

"Maafkan aku…"aku mengerenyit bingung. "Aku… hanya bisa menyukaimu sebatas adik.."

DEG.

"Sebenarnya saat kau bilang menyukaiku waktu itu juga aku sudah mengerti maksudnya. Maaf aku berpura-pura polos dan tidak tahu, aku hanya…"Jaejin-niisan menggantungkan kata-katanya.

"Tidak apa-apa Niisan"aku-pun tersenyum tipis memotong ucapannya. "Miki.."

"Aku yang minta maaf. Disaat seperti ini, aku malah menyatakan perasaanku"senyumku tipis.

"Jaejin-ah!"pembicaraan kami terputus saat kami dengar suara seseorang memanggil nama Jaejin-niisan dari arah belakang. Kami-pun menoleh serentak, terlihat dua orang anggota OSIS yang datang mendekat.

"Kepala Sekolah memanggil, ayo kita kekantornya"ucap salah satu diantara mereka kepada Jaejin-niisan.

"Sekarang? Tapi aku sedang bicara dengannya"aku-pun langsung mendelik tajam saat Jaejin-niisan menunjuk diriku.

"Tidak. Tidak apa-apa, aku sudah ditunggu Kepala Sekolah… Sunbae…"kembali ku tersenyum tipis. Bisa kulihat ekspresi bingung Jaejin-niisan saat mendengar aku memanggilnya Sunbae.

"Ayo Jaejin-ah, dia sudah memanggil dari tadi"Jaejin-niisan-pun langsung berdiri saat tangannya ditarik oleh salah satu Sunbae.

Dan aku hanya bisa diam saat ia sudah melangkah bersama Sunbae OSIS yang lain.

.

Author POV

.

Tak jauh dari tempat Miki duduk, ternyata Minhwan sudah berada disana sejak tadi dan mendengar semuanya. Hatinya gusar saat tahu Jaejin sudah mengakui perasaanya dan tetap menolak Miki. Entah kenapa sejak tahu hal itu, ia menjadi cemas kalau-kalau Miki juga mengetahuinya. Dan sekarang hatinya benar-benar tergerak karena apa yang ia cemaskan terjadi.

"Kau tidak apa-apa?"tanya Minhwan saat ia berdiri dibelakang Miki. Miki yang merasa ada seseorang dibelakangnya-pun langsung menoleh. Mata bulatnya terkejut saat melihat salah satu pujaan sekolah berdiri menatapnya.

"Minhwan? Kenapa kau ada disini?"bingung Miki.

"Kau tidak apa-apa?"Minhwan kembali mengulang pertanyaannya tanpa menjawab pertanyaan Miki.

"Apa maksudmu tidak apa-apa?"Miki semakin bingung dengan kata-kata si pujaan sekolah itu.

"Jaejin Hyung"sahut Minhwan cepat. Bibir Miki-pun merapat, ekspresi wajahnya berubah seketika.

"Kau… tahu semuanya ya? Benar juga, kau-kan dekat dengannya. Dia pasti menceritakan hal ini padamu"Miki memalingkan wajahnya dari Minhwan.

"Sekarang kau sudah tahu perasaan Jaejin Hyung yang sebenarnya-kan…"Minhwan tetap berdiri menatap Miki tanpa bergerak sedikit-pun.

"Aku… tidak apa-apa… hanya saja…"Miki tersenyum kecut. "Rasanya menyedihkan ya…"

Minhwan terhenyak mendengar nada lirih yang keluar dari mulut Miki. Rasa sedih itu seakan menular padanya.

"Mungkin karena aku juga punya masalah lain, ditolak seperti ini membuatku…"Miki tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia kembali tertunduk lesu.

Minhwan-pun tahu tentang masalahnya dengan Kira dan Kazu karena sejak tadi ia mendengar apa yang dibicarakan Miki. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan gadis Jepang itu sekarang disaat teman-temannya bersikap acuh dan cintanya-pun ditolak oleh orang yang disukainya.

"Aku tidak tahu aku harus apa sekarang. Tapi aku tidak bisa melihatmu bersedih seperti ini, aku sudah terlanjur tahu semuanya"ucap Minhwan sambil membungkukan badannya dan duduk disamping Miki. Miki tetap diam tanpa mau memperlihatkan wajahnya, Minhwan-pun mengira mungkin Miki sedang menahan tangisnya lagi sekarang.

"Aku sudah pernah bilang-kan.. aku tidak suka melihatmu murung"mendengar hal itu, Miki-pun terkekeh kecil. Ia menoleh kearah Minhwan namun tak sepenuhnya.

"Kata-katamu sama seperti Jaejin-niisan, apa orang sepertiku itu tidak pantas murung ya? Seceria apapun seseorang pasti ada saatnya hatinya melemah juga-kan"senyum tipis Miki.

"Kau bilang kau menganggapku penolongmu-kan?"sahut Minhwan cepat.

"Eh?"

"Apa sekarang aku masih berstatus seperti itu dipikiranmu? Apa aku bisa menghiburmu disaat seperti ini?"

"Minhwan… kau…"

"Ya~ jangan salah paham! Ini ada hubungannya juga dengan Jaejin Hyung-kan, aku tidak mau setelah ini hubunganmu dengan Jaejin Hyung jadi renggang. Jaejin Hyung tidak mau kau menjauhinya setelah dia menolakmu. Sepertinya ia sudah terlanjur menyayangimu seperti adik, kalau sampai kau menjauhinya dan ia ikut bersedih… aah, aku tidak suka melihatnya seperti itu. Pasti akan berpengaruh juga kepada Hongki Hyung, Jonghun Hyung dan yang lain"jelas Minhwan yang hanya direspon Miki dengan kerjapan mata.

"Karena itu… kalau kau merasa tidak ada tempat lagi yang bisa kau gunakan untuk meluapkan kesedihanmu. Aku… ada disini…"sekarang Minhwan yang memalingkan wajahnya yang terasa memanas.

"Kalau kau mau, kau bisa membagi kesedihanmu itu padaku. Lagipula aku sudah jadi penolongmu sejak awal-kan.. itu kata-katamu.."sambung Minhwan.

Apapun yang dikatakan Minhwan, Miki merasa itu hanyalah sebuah alasan. Entah kenapa ia merasakan suatu ketulusan dibalik semua ucapan Minhwan. Rasa kecewanya terhadap Jaejin-pun hilang seketika saat Minhwan muncul dihadapannya. Baru saja ia ditolak, namun ia benar-benar merasa tidak apa-apa. Hatinya gusar justru karena ia merasa ada yang aneh dengan perasaannya terhadap Minhwan.

"Hmpth.. hahaha"Miki tertawa lepas. Minhwan-pun langsung mendelik kesal kearahnya. "Ya! Kenapa kau tertawa?"

"Haha ada apa dengan Choi Minhwan ini? Kenapa nada bicaranya jadi manis? Hahaha"Miki tak bisa menahan tawanya. Seketika air mata sedih yang mengalir itu terganti menjadi air mata tawa.

"Sepertinya kata-kataku tidak berguna. Baik, aku pergi saja"gerutu Minhwan kesal yang langsung beranjak dari duduknya. Namun dengan segera Miki menahan tangannya.

"Tu-Tunggu dulu, aku-kan belum selesai bicara…"ucap Miki dengan nada manja.

"Kau pikir aku terima ditertawakan olehmu, hah?"decak Minhwan kesal.

Miki-pun memainkan matanya agar terlihat lebih memelas lagi. "Maafkan aku… sebenarnya aku hanya terkejut kau bicara seperti itu.."

"Sudah kubilang-kan, aku lakukan ini untuk Jaejin Hyung, bukan kau. Jangan salah paham"balas Minhwan. Miki hanya tersenyum menanggapi ucapan Minhwan. 'Jelas-jelas itu hanya alasanmu. Sepertinya kau memang tulus menghiburku' –batin Miki-

"Terima Kasih ya…"senyum lebar Miki kepada Minhwan.

."Eh? Kenapa?"bingung Minhwan.

"Karena kata-katamu aku jadi merasa kuat. Itu karena kau membuatku tertawa.. ah, bukan maksudku meledekmu! Hanya saja karena aku tertawa, rasanya beban dihatiku berkurang"sambung Miki.

Minhwan hanya diam, namun dalam hatinya ia merasa lega. Setidaknya gadis Jepang itu kembali tersenyum.

"Jangan terus-terusan tertawa. Cepat sana minta maaf pada Kazu. Ternyata kau memang serampangan ya, ketahuan juga kalau kau memata-matainya"ucap Minhwan cuek namun penuh arti yang dalam.

Miki-pun mengerucutkan bibirnya mendengar kata-kata Minhwan. "Jangan bilang aku serampangan. Iya, aku akan minta maaf"ucap Miki pelan.
Sekilas Minhwan menyunggingkan senyum yang hanya diketahui olehnya. Mungkin sudah jadi kebiasaan untuk menggoda gadis Jepang itu.
Begitu juga dengan Miki. Mungkin dia tidak akan lepas dari pertengkaran kecilnya dengan Minhwan, namun justru karena itu ia merasa semakin dekat dengannya.
Mungkin saja akan ada hubungan baru yang timbul setelah mereka menyadari perasaan masing-masing yang entah kapan akan menampakkan dirinya

.

To Be Continued

.

Apa ini? TBC gantung dan hanya update segini! XD *ditimpuk readers

Maaf, terpaksa aku hentikan disini karena klo disambung bakal kepanjangan. Jadi aku potong buat next part, jgn marah ya X)

.

Oh iya, maaf kalau bahasaku membosankan. Aku gk kreatif, kta-kta yg kupakai itu-itu aja (readers ngrasa kn?), pdhl aku udh bca bbrp FF dgn bhasa ringan tp enak dibaca, tp gk tau knp FFku rasanya ttp gk ada kemajuan yah T_T Aaah.. sedikit curhat…

.

See you in next part! ^^

.

THANKS A LOT!