FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rating : Ada (sedikit) NC-17

Length : Part (On Going)

Desclaimer : Hak Cipta dilindungi Tuhan Yang Maha Esa ^^

A/N : Jeongmal Mianhae atas keterlambatannya yang sangat-sangat menyiksa hati(?) *plak

Baru sempet aku lanjutin, sebenarnya dari kemarin jg udah ngelanjutin sih, tapi ketiduran mulu (u_u) mohon dimaklumi karena saya gk punya waktu libur *halah*, rumah cm buat tmpat istirahat sementara, tapi aku bkal usaha lbh semangat lagi ^^

Thanks A Lot buat readers yang selalu setia menanti cerita ini, big hug for you *bow

.

Part 22

.
***

Jonghun POV

.

BRAKK!

Aku terkejut saat seseorang mendobrak pintu studio, seketika nada gitarku menjadi sumbang karena pikiranku pecah.

"Apa-apaan kau?"tanyaku sinis saat melihat siapa orang yang sudah masuk seenaknya dan merusak permainanku.

Bocah jangkung itu menghampiriku dengan tatapan tajam. "Sudah kubilang jangan buat dia menangis kan Hyung"

Aku membuang muka tak mau menanggapi.

"Ubah sikap dinginmu ini Hyung! Apa kau benar-benar tak berperasaan?"aku tersentak saat Seunghyun memaksaku untuk menatapnya.

"Kau itu apa-apaan sih!"elakku tak terima. Segera saja kutepis tangan jenjangnya dengan kasar dari pundakku.

Kami-pun diam saling menatap selama beberapa menit.

"Padahal aku kira aku bisa percaya padamu.."mata itu masih menatapku tajam. "Tapi kenapa kau membuatnya menangis lagi Hyung…"nadanya mulai menenang.

Aku tetap diam tanpa mau menjawab sepatah kata pun.

"Aku juga menyukainya Hyung.. apa kau senang kalau melihat orang yang kau sukai itu menangis? Kalau aku, aku benar-benar tidak bisa melihatnya seperti itu…"aku terkejut dengan ucapannya. Tentu saja aku pun sama! Bahkan aku yang selama ini bersikap dingin tetap saja merasa bodoh dengan segala tingkah laku ku.

"Baik. Aku akui juga melakukan kesalahan disini"segera kuangkat kembali wajahku dan menatapnya intens saat mendengar kata-katanya barusan.

"Aku tidak bermaksud merebut Kazu darimu. Aku hanya… waktu itu aku tidak bisa menahan perasaanku lagi.."gumamnya pelan sambil memalingkan wajahnya.

Aku-pun mencoba mengerti, pada dasarnya perasaan Seunghyun sama saja sepertiku. Sama-sama bergejolak saat melihatnya dihadapan kami. Tapi mungkin, Seunghyun jauh lebih baik dariku. Setidaknya dia bisa jujur terhadap perasannya seperti itu.

"Hyung… kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu.. kau mau terus-terusan bertengkar dengan Kazu?"ia kembali menatapku tajam. Nada bicaranya mantap menuntut jawabku.

"Kau sudah tahu semuanya-kan? Kami tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas teman. Jadi jangan marah padanya Hyung…"ucapnya lagi.

"Tapi kalau kau masih membuatnya menangis… aku akan merebutnya darimu"

DEG.

"A-Apa kau bilang?"aku mengerenyit heran.

"Sebagai orang yang juga menyayanginya, aku tidak bisa melihatnya terus menangis seperti itu. Aku akan merebutnya darimu kalau kau masih belum bisa merubah sifatmu"ucapnya tegas.

"Ya! Song Seunghyun! Kau mencoba mengancamku?"emosiku-pun naik mendengarnya.

"Kalau begitu jangan buat dia menangis lagi Hyung! Aku sudah mempercayakannya padamu!"

Kami-pun kembali diam selama beberapa saat.

"Aku rasa hanya itu yang bisa kusampaikan. Kuharap kau bisa lakukan yang terbaik, kalau tidak.. aku benar-benar akan mengambilnya darimu"Seunghyun-pun langsung pergi meninggalkanku sendiri lagi di ruang studio.

Apa itu? Dia bilang dia mau merebut Kazu?

.

***
Kazu POV

.

"Kazu-ah.. kenapa minumannya tidak kau habiskan?"tanya Hyunmi bingung saat melihat gelas Cappucino-ku yang masih penuh. Xia Mei dan Sohee ikut menatapku heran.

"Tidak apa-apa"jawabku seadanya, sementara mataku tak menatap mereka. Tidak ada gairah untuk melakukan apapun saat ini.

Aku tidak tahu apa maksud ucapan Jonghun waktu itu, dia… tidak benar-benar mengakhiri hubungan ini-kan.

"Kau tidak enak badan ya?"Xia Mei memeggang pundakku dengan lembut. Namun tetap saja aku enggan menoleh, perasaanku sekarang tidak menentu. Terasa rapuh dan kapan saja aku bisa menangis. Aku tidak mau wajahku yang seperti ini dilihat oleh mereka.

"Aku pulang duluan ya"ucapku singkat dan segera bangkit dari kursiku.

"Ka-Kazu..!"kudengar mereka memanggilku namun aku tetap berjalan lurus meninggalkan café ini.

Langkah kaki-ku pun gontai tanpa tujuan. Pulang ke rumah? Rasanya lebih baik aku tidak punya rumah. Bukan hanya masalah Jonghun yang mengganggu pikiranku, tapi juga Kira dan Miki.

beberapa hari ini kami tidak saling tegur, rasa kesal dan bersalah pun masih tersisa dihatiku, ingin sekali hubungan kami kembali seperti biasanya. Tapi… aku pun tidak tahu harus bagaimana memperbaikinya. (T_T)

Drrrt Drrt Drrt

Kurasakan getaran Handphone dalam kantung celanaku, aku pun mengambil benda kecil itu dengan rasa malas. Namun mataku membelalak lebar saat kulihat nama yang tertera dilayar Handphoneku.

Jonghun's Calling

"Ha-halo?"segera saja kuangat telepon darinya.

"Studio?"

.

***
Author POV

.

Alunan gitar yang sendu memenuhi tiap sudut ruang studio berukuran sedang ini. Sang pelantun musik pun tak kalah berekspresi sendu saat memainkan instrument kesayangannya.

Beban yang berputar dipikiran Jonghun sang Guitarist membuatnya terdiam murung dan lebih memilih untuk melupakan perasaannya pada musik.

"J-Jonghun…"pria tampan itu pun mendangak saat telinganya merespon panggilan dari seseorang.

Jantungnya berdegup kencang melihat seorang gadis Jepang yang tengah berdiri memperhatikannya dari jarak yang cukup dekat.

"Ng.. masuklah.."ucap Jonghun pelan seraya menyuruh gadis itu agar lebih mendekat lagi padanya. Kazu nama gadis itu, tanpa basa-basi ia langsung menuruti perkataan Jonghun.

"Duduklah…"ujar Jonghun lagi sambil mempersilahkan Kazu untuk duduk dikursi yang ada dihadapannya.

SIING.

Tak ada yang bicara lagi. Bahkan keduanya tidak menatap satu sama lain.

Jonghun memetik-metik gitarnya asal dengan suara pelan, sedangkan Kazu hanya menunduk diam memikirkan keberadaannya sekarang.

"J-Jonghun…"akhirnya gadis Jepang itu pun angkat bicara. Nada suaranya sedikit bergetar karena gugup.

"Aku… maafkan kata-kataku waktu itu…"

Jonghun tak bergeming. Matanya masih menatap lurus kearah gitar klasik kesayangannya sambil terus memainkan senar itu tanpa ritme.

"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Seunghyun… dia memang sudah menyatakan perasaannya padaku tapi aku…"Kazu berhenti sejenak untuk mencerna kata-katanya.

"Aku.. hanya mencintaimu…"

Jemari Jonghun berhenti memainkan senarnya. Namun tubuhnya tetap diam, wajahnya tak sedikit pun menoleh kearah gadis Jepang yang sedang menatapnya lirih.

"Aku serius… aku hanya mencintaimu Jonghun. Kata-katamu kemarin.. kau tidak serius kan?"tanya Kazu takut-takut. Berharap bisa mendapat jawaban pasti dari sang kekasih.

"Kenapa kau yang minta maaf?"kali ini giliran Kazu yang terdiam dan Jonghun yang angkat bicara.

"Aku… bukankah aku juga salah? Selama ini aku selalu menyakitimu kan…"hanya bibir tipisnya yang bergerak, Jonghun masih belum mau menatap Kazu.

"Aku hanya… aah.. bagaimana cara mengatakannya…"Jonghun mulai terlihat gusar.

"Jonghun…"Kazu pun tak bisa bicara apa-apa.

Tiba-tiba saja Jonghun beranjak dari kursinya. Ia mengambil gitar kemudian naik keatas panggung kecil. Duduk santai didepan mic sambil memangku gitar kesayangannya itu.

(nb : bayangin Jonghun nyanyi Even Your Tears)

I don't know, but now I can understand

The reason why you are here right now

Don't think I'm always a child

It's not just your world that's dark

Little by little, every part of me is going to your side

Can you take just one step forward for me?

Don't say anything

What else do we need? When it's you and me

I feel so small because I have nothing to give you

Don't cry my dear, I love you, even your tears

Hati Kazu pun tergerak. Sekalipun lirik itu mengatakan untuk tidak menangis, namun entah kenapa air matanya justru tumpah mendengar bait-bait lirik yang dilontarkan oleh Jonghun.

Little by little, every part of me is going to your side

Can you just take one step forward for me?

Don't say anything

What else do we need? When it's you and me

I feel so small because I have nothing to give you

Don't cry my dear, I love you, even your tears

"Jonghun…."Kazu semakin terhenyak mendengar nyanyiannya. Ia tak pernah berpikir bahwa Jonghun akan melakukan hal ini padanya.

What else do we need? When it's you and me

I feel so small because I have nothing to give you

Don't cry my dear

I love you

Even your tears

Nyanyian pun berhenti. Jonghun menghembuskan nafas panjang sambil melemaskan jari-jarinya diatas gitar. Enggan menoleh kearah orang yang ia berikan nyanyiannya.

"Aku merasa tidak berguna karena tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan padamu…"gumam Jonghun pelan.

"Mungkin aku yang bodoh karena sudah seenaknya memaksamu untuk menuruti permintaanku…"

Ia pun menggigit bibir bawahnya.

"Maafkan aku.. Kazu… maafkan aku…"

GREP.

Jonghun terperangah saat tubuhnya didekap erat dari arah belakang. Hanya syaraf matanya yang bergerak, membuat kedua bola mata tajam itu membelalak lebar.

Sedangkan bagian tubuh yang lain seperti mati rasa, tak bergeming sedikitpun.

Ia rasakan sesuatu membasahi pundak kirinya. Tempat Kazu membenamkan wajahnya dan menangis terisak disana.

"Jangan katakan hal itu… aku yang salah… aku pun terlalu menuntutmu untuk bilang bahwa kau mencintaiku…"tangis Kazu dengan suara yang meredam.

Hati Jonghun sungguh mencelos mendengar kata-kata tegar dari sang kekasih. Padahal ia sudah menyakitinya sampai seperti itu, namun Kazu tetap merasa seolah dirinya yang salah.

"Jangan menangis…"tangan kirinya pun mulai bergerak, mengusap lembut rambut halus milik Kazu. Senyum tipis tersungging dibibirnya. Ia pun beranjak dari kursinya perlahan dan membalikkan badannya berhadapan dengan Kazu.

"Selama ini aku tidak pernah bisa jujur pada perasaanku sendiri…"ucap Jonghun seraya menghapus air mata yang mengalir dari kedua bola mata Kazu.

"Kazu.. Aku mencintaimu"

Hati Kazu pun terhenyak mendengar pengakuan dari Jonghun. Pengakuan yang selama ini ia nantikan tanpa tahu kapan bisa ia dengar. Pengakuan yang hampir saja ia anggap mati dalam angan-angannya.

"Jonghun…"

Wajah Jonghun kini tersipu malu. Semburat merah mewarnai hampir seluruh kulit wajahnya.

"Kau… mengerti arti lagu yang kubawakan tadi kan? Lagu itu lebih menjelaskan perasaanku dibanding kata-kata singkatku barusan"ucap Jonghun seolah ingin melupakan pengakuanya karena malu.

Sedangkan Kazu yang mendengar hanya tersenyum tipis walau air mata masih mengalir membasahi pipinya.

"Jangan bilang kau tidak mengerti… kenapa malah tersenyum?"gerutu Jonghun.

"Tentu saja aku mengerti.. kalau aku tidak mengerti, aku tidak akan memelukmu seperti ini…"ucap Kazu seraya merapatkan tubuhnya dengan Jonghun.

"Tapi aku lebih suka pengakuan singkatmu barusan… bagiku… itu sudah menjelaskan semuanya…"senyum Kazu sambil mengangkat wajahnya menatap Jonghun.

"Kazu… lupakan kata-kataku kemarin.. aku hanya tersulut emosi. Mulai kedepannya… ajari aku agar aku bisa lebih jujur dari ini…"pinta Jonghun yang langsung mendapat anggukan mantap dari Kazu.

"Aku pun tidak mau mengingatnya.. aku sangat mencintai Mr. Cassanova yang satu ini…"senyum Kazu lagi.

"Mr. Cassanova? Kau menganggapku seperti itu?"Jonghun tersenyum jahil.

"Memang benar kan. Mr. Cassanova yang disukai para gadis…"Kazu pun mempoutkan bibirnya dan bersikap enggan menatap kearah Jonghun.

"Baik-baik.. mulai sekarang Mr. Cassanova ini hanya ingin fokus dengan kekasihnya.."ledek Jonghun sambil mencubiti pipi Kazu.

"Hey, tatap aku…"Jonghun pun (agak) memaksa Kazu agar kembali menatapnya. Namun Kazu masih cemberut dan bersikap enggan walau kini ia sudah mau menatap Jonghun.

CUP.

Tanpa aba-aba Jonghun pun menautkan bibirnya dengan bibir Kazu. Membuat gadis Jepang itu terperangah tak percaya.

Lama… dan Jonghun mulai melumat bibir Kazu. Kazu yang awalnya hanya bisa terdiam, mulai terjebak oleh sensasi yang diberikan Jonghun.

"Mmmmpth…"

Sampai akhirnya Kazu sudah bisa membalas apa yang dilakukan Jonghun kepadanya. Bibir mereka kini saling bertautan dengan mesranya. Membuat deep kiss yang terkesan romatis.

.

Kazu POV

.

"Miki tidak mengatakan apapun padamu?"kagetku saat mendengar penjelasan dari Jonghun.

Ia pun menggeleng. "Tidak. Dia tidak pernah mengatakan sesuatu tentangmu dan Seunghyun. Aku rasa… dia berusaha menjaga rahasia karena takut aku marah padamu…"jelas Jonghun.

"Dia itu sangat menyayangimu… dia yang memberitahuku kalau kau mencintaiku, dia juga yang bilang padaku supaya aku bisa akur denganmu. Dia pasti sangat memikirkanmu"

Kata-kata Jonghun sungguh meresap dihatiku. Ternyata benar… aku pun tidak pernah berpikir kalau Miki akan berbuat seperti itu pada temannya sendiri. Aku tahu Miki bukan orang yang seperti itu.

Dia melakukan hal itu karena ia memikirkanku..

"Sebaiknya kalian berbaikan secepatnya.. kalian itu teman dekat kan? Bagaimana bisa perang dingin seperti ini…"lagi-lagi ucapan Jonghun membuatku tersadar.

"Baik…"

.

***
Author POV

.

Minggu ini Wonbin mengajak Kira untuk berkencan. Sejak acara ulang tahun MyeoungDam, mereka tidak bertemu satu sama lain. Wonbin pun belum sempat menjelaskan kepada Kira, alasan mengapa ia tidak tampil diatas panggung saat penutupan.

"Selamat pagi"sapa Wonbin ramah saat ia sudah berdiri disamping Kira. Kira pun menoleh saat merasa seseorang memanggil namanya.

"Ehm.. selamat pagi.."balas Kira dengan senyum tipis dan nada bicara pelan.

Sebenarnya Wonbin pun tahu soal masalah yang sedang dihadapi kekasihnya itu. Ia tahu kalau ketiga gadis Jepang itu sedang tidak bertegur sapa satu sama lain, hanya saja ia tidak tahu apa yang membuat mereka seperti itu.

Tanpa basa-basi, Wonbin pun langsung mengajak Kira bermain ditaman hiburan. Berharap kekasihnya itu bisa sedikit ceria. Namun sepertinya ia harus berusaha keras untuk mewujudkan niat baiknya itu.

.

***
Wonbin POV

.

Apapun sudah kuusahakan, aku berusaha membuatnya tersenyum tapi sepertinya hati itu memang tidak disini. Walaupun dia bilang kalau ia baik-baik saja namun aku bisa melihat yang sesungguhnya.

Masalah dengan cintanya, masalah dengan temannya, tak kubayangkan seberapa kalutnya dia sekarang.

"Kita pulang saja ya"sahutku.

"Eh? K-kenapa?"tanyanya spontan dan menoleh kearahku.

"Tidak apa-apa.. sepertinya kau memang tidak ada semangat hari ini.."senyumku tipis. Kira pun kembali tertunduk lesu.

"Maaf…"

"Tidak apa-apa.. ayo kita pulang"aku pun langsung menggandeng tangannya dan mengantarnya sampai dirumah.

Sepanjang perjalanan kami hanya diam, tidak ada satu pun yang bicara. Tangannya masih kugenggam tapi mulut kami hanya diam. Kira pun masih memalingkan wajahnya, entah apa yang ada dipikirannya sekarang.

"Baik, kita sampai.."ucapku saat kami sudah sampai didepan tangga menuju rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, mentari cerah telah berganti dengan awan kelam nan sendu. Terlebih hanya kami berdua dijalanan komplek ini, tak terlihat orang lain yang melintas.

"Maafkan aku karena telah merusak acara hari ini…"gumam Kira pelan.

"Tidak apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf karena sudah seenaknya mengajakmu kencan padahal kau sedang tidak ingin"sahutku.

"Tidak.. seharusnya aku bisa menghargai ajakanmu.."

"Sudahlah.. lebih baik kau masuk kerumah dan istirahat"senyumku.

Namun ia tak melangkah maju. Justru kembali membalikkan tubuhnya berhadapan denganku. Wajahnya yang sejak tadi tertunduk kini menatapku serius.

"Wonbin.. ada yang ingin kukatakan…"tanda Tanya besar pun muncul dibenakku.

"Ehm.. ya.. katakan saja.."

Sekali lagi Kira memalingkan wajahnya, ia terlihat seperti memikirkan sesuatu. Raut wajahnya cemas, apa hal yang akan ia katakan bisa menjadi sesuatu yang serius? Sepertinya aku sudah bisa menebaknya..

"Wonbin maafkan aku"

"Ng?"

"Aku… menyukai orang lain…"

Diam.

Aku hanya bisa terdiam.

"Maafkan aku… aku tahu hal ini pasti sangat menyakiti perasaanmu, tapi aku hanya ingin jujur padamu…"lanjut Kira.

"Aku sudah tahu semuanya…"

"Eh?"Kira pun terdiam kaku menatapku.

"Aku sudah tahu perasaanmu yang sesungguhnya… hatimu tidak ada padaku kan.."aku hanya bisa tersenyum tipis.

"Wonbin…."

"Tenang saja.."aku berjalan mendekatinya. "Aku pun menginginkan kebahagiaanmu, kalau memang seperti ini jadinya… tidak apa-apa.."hatiku serasa dirujam oleh ribuan jarum. Mulut dan perasaan ini tidak sejalan, sakit.. sangat sakit tapi aku harus mengakuinya. Ini demi kebahagiaan orang yang kucintai juga kan?

"Kau tidak perlu lagi menyuruh Eybin untuk merebutku darimu, karena aku akan berusaha melepaskan dirimu sendiri.."

"Bahkan kau tahu itu semua…."

"Aku.. mendengar pembicaraanmu waktu itu.."ucapku pelan.

Suasana pun kembali hening sesaat.

"Aku mengerti kau sedang banyak pikiran.. aku harap kau bisa segera berbaikan dengan teman-temanmu.. aku juga berharap kau bisa bahagia dengan orang yang kau sukai.."

"Kenapa…?"

"Hm?"

"Kenapa kau tidak mengakhiri hubungan ini saja…? Padahal kau yang disakiti.. kenapa kau tidak meninggalkanku saja.."air mata mulai mengalir membasahi wajahnya.

"Kau punya hak untuk mencampakkanku.. seharusnya begitu… tapi kenapa kau masih mempertahankannya walaupun kau sudah tahu semuannya..? Wonbin-ah kenapa..?"ia pun menangis. Menangis dan menatapku lirih.

"Kira…."

"Kau berhak memutuskanku karena aku yang jahat padamu! Campakan saja aku yang sudah banyak menyakitimu! Aku hanya gadis tidak berguna yang tidak bisa memikirkan perasaan orang lain.. bahkan teman-temanku sendiri.."ia semakin terisak. Kali ini ia tidak kuat lagi menahan emosinya. Ia menangis kencang dihadapanku.

Aku pun langsung memeluknya dengan erat dan mengusap pundaknya. Berusaha agar ia bisa lebih tenang.

"Aku…. Buruk kan…."tangisnya lagi.

Aku pun hanya bisa tersenyum tipis. Aku tidak mau melihat gadis ini menangis.. terlebih lagi menangis karena masalahnya.

"Harusnya aku lakukan itu kan… memutuskanmu…"ucapku pelan.

"Tapi… melihat kondisimu sekarang… bagaimana bisa aku melakukannya…"

Tangisannya pun semakin menjadi. Kubiarkan ia meluapkan semuanya kepadaku, tidak apa asalkan dia bisa tenang.

"Wonbin… maafkan aku…"

Aku pun hanya bisa mengangguk. Hatiku sakit tiap kali mengingat pernyataannya, ia sudah mengakuinya sendiri bahwa dia tidak mencintaiku.

Sungguh sakit bukan?

Tapi… tidak ada yang bisa membuatku tenang kalau tidak melihatnya bahagia

Lebih baik melihat orang yang kita cintai bahagia walaupun hal itu menyakiti diri kita sendiri…

.

.

Hongki POV

.

.

"Wonbin… maafkan aku…"

Ia menangis disana. Menangis dalam dekapan Wonbin.

Aku pun hanya bisa diam melihat pemandangan ini. Aku tak menyangka akan benar-benar bertemu dengannya disini. Padahal niatku hanya ingin melihat tempat tinggalnya, tak kusangka aku sudah melihatnya menangis dalam dekapan Wonbin saat aku tiba disini.

Apa yang mereka bicarakan…?

NYUT

Ini menyakitkan.

Ia bahkan bisa menangis seperti itu didekapan Wonbin. Wonbin pastilah orang yang sangat ia butuhkan. Aku tidak akan percaya dengan kata-katanya yang bilang bahwa Kira menyukai orang lain.

Bukankah ini sudah menjelaskan semuanya? Kira tidak akan meninggalkanmu. Mungkin kau memang pantas untuknya. Ia butuh tempat yang mau menampung kesedihannya seperti ini.

Bukanka kau orang yang tepat?

Kalau bertengkar seperti ini, bagaimana bisa impian kita terwujud?

Dulu.. kau pun selalu jadi orang yang mau menampung kesedihanku

Mungkin lebih baik aku pergi sekarang sebelum hati ini terasa lebih sakit lagi. Bagaimanapun juga aku tidak bisa melupakan gadis itu, aku terlanjur mencintainya.

Apa mungkin aku bisa bertahan menahan rasa sakit ini?

.

.

To Be Continued…

.

.