FT Island Fan Fiction
Mr. Cassanova
©MikiHyo
.
Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast
Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort
Rated : T
Length : Part (On Going)
Desclaimer : Hak Cipta dilindungi Tuhan Yang Maha Esa ^^
A/N : Maaf atas keterlambatannya. Semoga Readers masih menanti cerita ini T_T
.
Warning : OOC TINGKAT DEWA! Jadi jgn heran klo ada yg ngerasa ill feel sama karakter cast disini yang sungguh jauh sama aslinya. Jeongmal mianhae klo udh ngerusak image anak-anak FTI T_T
.
Part 23
.
Author POV
.
"Heuh…"Miki mendesah pelan. Banyak hal yang ia pikirkan sekarang, terlebih lagi saat ia menyadari ada yang aneh dengan perasaannya pada Minhwan. Walaupun ditolak oleh Jaejin yang notabene adalah orang yang sukainya, namun hal itu tidak membuat perasaan janggal sedikit pun dihati Miki. Justru perasaannya bergejolak saat melihat Minhwan.
Ada apa denganku? Dan kenapa dengan Minhwan? –batin Miki-
Miki pun mengambil gelas dan meraih gagang kulkas untuk mengambil air. Namun tangannya bersentuhan dengan tangan lainnya tepat saat ia memeggang gagang kulkas tersebut.
"Ng?"Kazu ikut terkesiap saat tangannya bersentuhan dengan Miki yang juga salah tingkah. Keduanya pun diam sejenak sambil memalingkan wajah satu sama lain.
"S-Silahkan duluan..:ucap Miki pelan seraya mempersilahkan Kazu untuk membuka kulkas terlebih dahulu. Kazu pun tak langsung mendengar kata-kata Miki karena hatinya yang masih terkejut.
Merasa tak ada respon, Miki pun memberanikan diri untuk melirik kearah sahabatnya itu. Dan tak disangka Kazu juga sedang melihat kearahnya.
"A-Ada apa?"tanya Miki dengan ragu. Kazu pun menggigit bibir bawahnya dan memalingkan kembali wajahnya sejenak.
"Aku.. sudah dengar dari Jonghun.."
"Ng?"
"Miki.."Kazu menghela nafas panjang dan terlihat mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu. "Maafkan aku.."
DEG
"Eh? Ma-Maaf?"mata Miki membulat sempurna saat mendengar kalimat tersebut m=keluar dari mulut Kazu.
"Iya, maafkan aku karena aku sudah menuduhmu yang macam-macam. Sebenarnya aku pun tahu kau tidak akan berbuat seperti itu, tapi.. waktu itu aku hanya terlalu emosi"jelas Kazu sambil menundukkan kepalanya.
"Kazu.. kenapa kau yang minta maaf? Seharusnya itu aku, maaf karena aku terlalu ikut campur masalahmu.."Miki pun ikut menundukkan kepala bahkan ia membungkukan badannya didepan Kazu. Dan dengan cepat Kazu mengangkat kembali wajah Miki.
"Tidak, aku tahu kau berbuat seperti itu karena kau mengkhawatirkanku. Itu sudah sifatmu.."
Tiba-tiba saja segelintir air mata mulai mengalir dari kelopak mata besar Miki. Kata-kata Kazu sungguh membuat hatinya mencelos lega, terharu, sekaligus bahagia.
"Sekarang kita lupakan saja masalah ini. Aku sudah tidak punya masalah dengan Jonghun karena itu kau tidak perlu khawatir lagi"senyum Kazu yang juga rasanya ingin ikut menangis melihat airmata Miki.
"Kazu…"sementara Miki masih berusaha menenangkan hatinya.
"Tolong.. maafkan aku juga"tiba-tiba sebuah suara ikut menyahut diantara obrolan mereka. Miki dan Kazu pun langsung menoleh kearah sumber suara.
"Maaf karena aku terlalu egois pada kalian. Aku selalu bersikap seolah aku yang punya masalah paling berat dan tidak mau memikirkan perasaan kalian"lanjut Kira yang ternyata sudah mendengar percakapan Kazu-Miki sejak tadi.
"Kira…"
Kira pun melangkahkan kaki semakin mendekati kedua sahabatnya itu.
"Aku juga tidak tahan kalau harus perang dingin seperti ini. Aku.. masih butuh kalian"dan Kira pun akhirnya mengeluarkan semua curahan hatinya. Membuat hati Kazu dan Miki ikut tergerak bersamaan.
"Benar juga.. perang dingin dengan alasan bodoh, haha"Miki terkekeh pelan.
"Jadi.. kita sudah baikan sekarang?"senyum Kazu sambil melirik kearah kedua sahabatnya itu bergantian.
Tak ada jawaban langsung dari Kira dan Miki. Namun satu anggukan mantap dan senyum lebar sudah menjelaskan semuanya.
Tanpa basa-basi, Kazu pun merenggangkan kedua tangannya dan langsung memeluk Kira dan Miki. Yah.. itulah Kazu, dialah yang paling suka memeluk diantara ketiganya, terlebih lagi itu adalah pelukan untuk sahabatnya sendiri.
Selalu bersama, Memikirkan satu sama lain, Saling membutuhkan
Itu kan yang namanya Sahabat?
.
.
Kira POV
.
Kini aku sudah berbaikan dengan Kazu dan Miki, tak ada masalah lagi dengan teman-temanku. Dan sekarang aku pun harus segera menyelesaikan masalahku yang lain sebelum ego dan sikap ini semakin menyakiti orang-orang yang kusayangi.
"Wonbin.. bagaimana sekarang?"tanyaku ragu kepada Wonbin yang kini sedang duduk disampingku. Aku memang sengaja memanggilnya untuk bicara berdua dan menyelesaikan masalah ini.
"Kalau kau memang tidak bisa menyukaiku.. tidak apa.."senyum tipis Wonbin. Hatiku pun terasa bagai ditusuk ribuan jarum saat melihat senyum pahit itu. Wonbin terlalu baik padaku dan sekarang aku benar-benar tidak tahu diri sudah menyakitinya seperti ini.
"Maafkan aku.."
"Hem.. sudah kubilang, aku pun tidak mau memaksamu. Aku juga ingin kau bahagia"ucapnya sambil mengusap kepalaku.
"Semoga kau cepat mendapat wanita yang lebih baik dari pada aku"sahutku pelan saat tiba-tiba saja pikiranku melayang pada Eybin. Mungkin Wonbin memang lebih pantas bersama gadis seperti Eybin yang mencintainya dengan tulus.
"Hha kenapa bicaramu jadi seperti itu? Seperti kau wanita yang buruk saja"Wonbin terkekeh kecil.
Aku pun menghela nafas panjang dengan kepala tertunduk. "Kau yang baik ini.. sudah sepantasnya mendapat cinta yang tulus, bukan dengan gadis sepertiku.."
"Kira.."tiba-tiba saja Wonbin menarikku kedalam pelukannya. Aku pun hanya bisa terdiam kaku diliputi perasaan yang bergejolak.
"Maaf aku lancang memelukmu, tapi izinkan aku untuk seperti ini sebentar"bisiknya lembut. Aku pun menuruti permintaannya, sudah sepantasnya aku begitu setelah apa yang kulakukan sungguh menyakitinya.
"Jangan bilang kalau kau buruk, aku mencintaimu karena kau adalah kau.."bisiknya lagi. "Walaupun bukan aku orangnya, tapi aku kagum pada cintamu.. kau berani jujur seperti ini demi cintamu yang sesungguhnya.. kau gadis yang hebat Kira"
Aku benar-benar terharu dengan kata-katanya. Mungkin aku memang bodoh karena tidak bisa mencintai laki-laki seperti ini, tapi cintaku hanya untuk Hongki. Aku yang tahu perasaanku, namun walau begitu.. aku menyanyangi orang ini.
Wonbin pun melepaskan pelukannya perlahan. Dan kini mata kami saling menatap satu sama lain.
"Walaupun kita berpisah sekarang aku bahagia.. setidaknya aku pernah memilikimu"ucap Wonbin dengan senyum hangatnya.
Aku pun mengangguk malu. Sepertinya ini sudah cukup.
"Kalau begitu.. aku pergi duluan Won-, ah.. apa aku masih boleh memanggilmu seperti itu?"
Lagi-lagi ia tersenyum. "Tentu saja. Aku memang mengharapkan seperti itu"
Aku pun kembali mengangguk menanggapi ucapannya. Sebelum pergi, aku membungkukan badan terlebih dahulu dan tersenyum padanya.
Terima Kasih atas cintamu selama ini
Walau kau bukan orang yang kucintai, tapi kau sudah menjadi seseorang yang berharga bagi diriku
Wonbin-ah, daisuki ne
.
.
Author POV
.
Eybin melangkahkan kaki untuk mendekati pria yang sedang termenung sendiri dibangku itu. Jantungnya berdegup kencang saat melihat ekspresi sendu dari sang pujaan hati.
"Tidak apa-apa kah kau bicara seperti itu..?"tanya Eybin pelan pada pria itu yang tak lain adalah Wonbin. Eybin telah mendengar semua pembicaraannya dengan Kira dan kini ia tahu bahwa kedua makhluk itu sudah tak punya hubungan khusus lagi sekarang.
"Sunbae.. bukankah kau sangat mencintainya? Hatimu pasti sangat sakit kan.."ucap Eybin lagi.
Wonbin yang sedari tadi menatap tanpa objek pun langsung menoleh kearah Eybin dan tersenyum.
"Karena itu aku bilang dia hebat. Bisa jujur terhadap perasaannya, sedangkan aku.. terus saja berbohong seperti ini.."senyum pahit Wonbin.
Hati Eybin semakin mencelos mendengar kata-kata pilu dari sang pujaan hati. Ia tahu, Wonbin yang sebenarnya tidak akan bilang bahagia karena sempat memiliki Kira. Dia tidak akan kuat berkata seperti itu. Namun Wonbin mengusahakannya, ia tahu Wonbin pasti memaksakan diri untuk terlihat tegar seperti itu.
"Sunbae.. kau tidak apa-apa?"tanya Eybin yang kini menatap lirih Wonbin.
"Eybin-ah"panggil Wonbin tiba-tiba. Eybin pun langsung menyahut pelan.
"Dia bilang aku pantas mendapat wanita yang lebih baik. Namun aku tidak mau memikirkan hal itu sekarang.."
NYUT.
Hati Eybin sakit begitu mendengar ucapan Wonbin. Ia tahu, saat ini Wonbin pasti masih sangat mencintai Kira. Apa tidak ada kesempatan bagiku untuk memiliki hatimu Sunbae? –batin Eybin-
"Kau pikir siapa wanita yang akan mencintaiku seperti aku mencintainya?"Eybin pun langsung terkejut saat mendengar pertanyaan Wonbin barusan.
Aku Sunbae. Aku mencintaimu seperti kau mencintainya, bahkan mungkin lebih. –batin Eybin-
"Ehm.. hha, lupakan pertanyaanku barusan"kini Wonbin pun tertawa.
"Aku harus kembali kekelas. Aku duluan ya"senyum Wonbin yang langsung beranjak dari kursi. Namun baru selangkah, ia kembali membalikkan tubuhnya menatap Eybin.
"Walaupun acara MyoungDam sudah selesai, kalau kau mau memintaku untuk mengajarimu lagi.. katakan saja ya. Aku suka menghabiskan waktu bersamamu"dan Wonbin pun langsung melangkahkan kaki meninggalkan Eybin yang terkesiap dengan kata-katanya.
.
.
Kira POV
.
Kususuri jalan setapak taman ini sendiri. Masalah dengan Kazu dan Miki selesai, urusanku dengan Wonbin pun.. selesai.
Lalu apa sekarang? Hongki?
"Kenapa aku tidak mengatakan perasaanku padanya? Bukankah ia sudah bilang kalau dia mencintaiku?"
Aku akan melupakanmu
NYUT
"Bodoh. Apa dengan menyatakan perasaan sekarang maka dia akan bahagia? Kau sudah menyakitinya sampai seperti itu, dia pantas membencimu Kira"umpatku pada diri sendiri.
Lalu aku harus bagaimana? Perasaan ini melunjak tiap kali aku mengingatnya. Mengapa cinta itu sungguh rumit?
DEG
Aku terdiam saat kulihat seseorang didepan sana. Sama seperti sore itu, dia hanya duduk diam disana sendiri.
"Hongki.."
.
.
Hongki POV
.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Melupakannya terlalu sulit. Katakan perasaanku sekali lagi? Jangan bodoh Hongki, dia milik orang lain dan dia menyukai orang lain, bukan dirimu.
Sigh…
Mengapa cinta itu begitu rumit?
SAT
Tiba-tiba kurasakan seseorang menggantungkan sesuatu dileherku dari arah belakang.
"Maaf.. bagaimanapun juga kalung ini milikmu"
Aku tersentak. Aku tahu suara ini. Kenapa dia ada disini..? Apa yang dia lakukan?
"Sudah kubilang kan.. buang benda ini. Kenapa kau masih saja menyimpannya.."ucapku dingin.
"Tidak bisa.."
"Kenapa? Kau merasa bersalah? Sudah kubilang hutangmu padaku sudah lunas, leherku sudah sembuh. Kau tidak perlu lagi untuk-"
"Aku tidak bisa membuang benda yang diberikan oleh orang yang kusayangi"
DEG
"K-Kau.. bilang apa barusan?"apa aku salah dengar? Rasanya jantungku berhenti sesaat mendengar ucapannya.
"Hongki aku.. mencintaimu"
HENING
Sekarang apa lagi? Lebih baik aku tidak punya telinga dari pada harus dipermainkan oleh pendengaranku sendiri.
"Kau benar-benar membenciku, eoh?"
Aku masih terdiam.
"Maaf karena aku yang terlalu bodoh tidak menyadari perasaanmu. Aku pun tidak bisa menyadari perasaanku sendiri.. tapi sekarang aku tahu, aku hanya mencintaimu.. hanya Lee Hongki"
"…"
"Baiklah.. kau memang pantas untuk membenciku, kau juga pantas melupakanku karena aku hanya bisa menyakitimu. Tapi aku mohon.. ijinkan aku untuk tetap menyimpan kalung ini. Ini adalah benda yang sangat berharga bagiku, dan aku kembalikan pasangannya padamu. Aku tidak bisa membuangnya, kalau kau mau membuangnya.. jangan lakukan itu dihadapanku"
"…"
"Ehm.. terima kasih karena sudah mendengarkan ucapanku. Mungkin aku harus pergi sekarang.. selamat tinggal"
NYUT
Mencintaiku? Apa benar ucapanmu itu? Apa ini bukan mimpi? Bisakah aku berharap sekali lagi kalau ini memang kenyataan?
GREP
Kudekap erat tubuh gadis yang sangat kucintai ini sebelum dia benar-benar meninggalkanku.
"Melupakanmu huh? Kau pikir itu mudah.."bisikku tajam ditelinganya sedangkan ia tak bergeming.
"Sial.. apa yang kau lakukan padaku? Kenapa aku bisa tergila-gila seperti ini padamu?"
"Hongki.."
"Katakan sekali lagi kalimat yang sudah membuatku bungkam tadi"
"Hongki.. aku mencintaimu"
DEG
Kali ini memang kenyataan kan? Aku yakin telingaku tidak sedang mempermainkan perasaanku sekarang. Otakku tidak lagi berangan akan mimpi ini.
Kurenggangkan pelukanku dan menatap wajahnya. Mataku membulat sempurna saat melihat ketulusan tersirat dari mata manik yang nampak ingin menangis itu.
"Maafkan aku.. aku memang tidak pantas mengatakan hal itu sekarang setelah apa yang telah kuperbuat padamu, tapi.. aku ingin kau tahu bahwa inilah perasanku yang sesungguhnya.."dan sebutir air mata pun mengalir dari kelopak matanya.
"Hongki maafkan aku. Aku mohon jangan lupakan-"
CUP
Kukecup bibir manisnya agar ia tidak meracau lagi. Aku tidak mau dengar apapun selain kata-kata itu.
"Hong.. mmppppth.."
" Jangan katakan apapun lagi selain kau mencintaiku"kutatap wajahnya dalam. Kulihat semburat merah mewarnai seluruh wajahnya.
"Aku hanya takut.. setelah ini kau tidak akan mengatakan hal itu lagi. Apa aku bisa mempercayai hal ini?"
"Hongki-ah"dan Kira pun mulai menyunggingkan senyumnya padaku. Membuat terperangah diam melihatnya.
"Apa ini artinya kau menerimaku? Aku pun takut, aku takut kalau ternyata kau benar-benar ingin melupakanku"ucapnya.
"Kucoba melupakanmu seperti apapun aku tidak bisa. Aku.. terlalu mencintaimu"kali ini kudekap tubuhnya yang lebih kecil dari pada tubuhku.
"Hongki-ah.."
Tak ada kata-kata lain lagi. Cukup seperti ini, kau benar-benar mencintaiku kan? Apa ini akhir dari penantianku? Tuhan.. terima kasih karena telah membawanya kepadaku.
.
.
Miki POV
.
DEG
Aku terdiam kaku dihadapannya. Laki-laki yang akhir-akhir ini keberadaannya menjadi aneh dipikiranku. Choi Minhwan.
"Ng?"ia menatapku heran. Tentu saja, mungkin ia merasa aneh dengan sikapku yang langsung membatu begitu menabrak tubuhnya saat kami berpapasan barusan.
"H-Hei? Kau tidak apa-apa? Bukumu jatuh.."ucapnya sambil menunjuk kearah buku yang jatuh tepat dibawah kakiku.
Merasa tak kurespon, ia pun segera membungkukan badannya dan mengambil buku itu.
Hey, Miki no Bakka!
"Ma-maaf..! Biar aku saja.."ucapku terbata-bata yang segera ikut membungkukkan badanku, dan..
DEG
Bukannya mengambil bukuku tapi aku malah menggenggam tangannya. Ya! Apa yang ada dipikiranmu Miki?
"Ma-maaf..!"aku pun segera mengambil bukuku dan berlari meninggalkannya yang sepertinya masih menatapku bingung.
"Aish, bodohnya aku! Padahal aku ingin berterima kasih karena sudah mendengarkan ceritaku waktu itu. Tapi kenapa harus berpapasan dijalan seperti ini, aku belum siaaaap"racauku tak jelas. Aku pun tak mengerti dengan apa yang kukatakan.
"Hah.."kusandarkan tubuhku didinding koridor. Kurasakan debaran jantung yang tidak biasanya. Wajahku pun memanas.
Aku kenapa?
.
.
Minhwan POV
.
"Ada apa dengannya?"heranku saat ia tiba-tiba saja berlari meninggalkanku. Aku masih terdiam dan masih saja merasakan sesuatu yang sepertinya membekas dibalik sentuhannya tadi.
Kutatap tanganku.
Ada yang aneh. Sebenarnya aku pun tadi sempat terkejut saat ia menggenggam tanganku. Apa dia sengaja? Ah, aku kepikiran lagi dengannya.
Sial, ada apa denganku? Ini semua gara-gara Jaejin Hyung!
Drrt Drrt Drrt
Kubuka layar flip-topku Handphoneku. Satu pesan masuk dan raut wajahku berubah seketika saat kulihat nama pengirimnya.
Rapat hari ini sukses. Dan sahabat Appa ingin bertemu dengamu. Appa tunggu dirumah, ada yang ingin Appa bicarakan.
Kututup kembali layar flip-top itu dengan cuek. Aku mendengus pelan.
"Bosan.. aku ingin bermain.."dengan segera kubuka lagi layar flip-topku berniat untuk menghubungi Jonghun Hyung dan Hongki Hyung.
"Hyung, apa kau ada waktu? Kita sudah lama tidak ke klub"ucapku saat Jonghun Hyung sudah mengangkat teleponnya. Ia pun bicara padaku.
"Oh.. baik, aku mengerti. Aku harap hubungan kalian semakin baik"senyumku tipis dan aku pun memutuskan teleponku dengan Jonghun Hyung. Aku lupa, sekarang hubungan Jonghun Hyung dan gadis Jepang itu sudah membaik. Aku pun bisa merasakan perubahan sikap Jonghun Hyung. Sepertinya ia bahagia sekali.
Aku pun mencoba untuk menghubungi Hongki Hyung. Namun beberapa kali pun ku dial, ia tetap tidak mengangkat teleponnya. Sedang apa dia?
Hah, sepertinya orang-orang sedang sibuk. Aku tidak mungkin mengajak Jaejin Hyung karena yang tahu soal klub hanya kami bertiga.
Drrt Drrt Drrt
Kubuka kembali layar flip-topku
Appa benar-benar menunggumu malam ini Minhwan. Cepat pulang
"Ck, ini sudah sore. Lebih baik aku pergi sendiri!"dan aku pun kembali mengabaikan pesan dari Appa. Kulangkahkan kakiku meninggalkan koridor yang mulai sepi ini.
Kau pergi ke klub? Minhwan ada apa denganmu? Apa yang kau lakukan disana? Kau mencari wanita? Untuk apa kau mencari wanita-wanita seperti itu? Banyak wanita berpendidikan tinggi yang sudah Appa pilihkan untukmu tapi malah kau tolak!
Heuh, apa seleraku memang serendah itu? Kalau begitu, pikiranmu juga rendah. Kau pikir orang-orang hanya bisa bersatu dengan yang sederajat. Ck, aku benci pikiran seperti itu.
"Hah.. klub.. klub.. siapa Noona yang sudah menungguku disana?"
.
.
To Be Continued
.
Sumpah makin gak jelas ini cerita! Aiih~ tolong dikritik bagian mana yang jelek, sepertinya semuanya. Aigoo, saya sedang mood swing. Semoga next part lebih bagus dari ini. Jeongmal Gomawo *bow*
.
kiri devil : wah, ada yg review lagi ^^ jeongmal gomawo~ ne, aku gk masalah. Klo emg ffnya bgus mah pantes direview, tp klo ffnya kurang ya emg pntes jg jrg review. So, gwenchana ^^
keyla : yah.. mgkn krn jrg ada primadonna disini =.= dn jrg ada yg suka OC, tp emg critaku jg si yang kurang. Yowh~ gomawo sarannya, tp ini blum tamat, jadi masih harus aku lanjut ^^v
