Soonyoung duduk di depan meja rias dengan wajah yang gugup sekali. Bibi Lee-perias Soonyoung sampai berkali-kali menghela nafas. Bukan, bukan menghela nafas lelah, wanita itu malah gemas sekali melihat tetangganya ini.
"Soonyoung-ah. Kenapa kau gugup sekali? Makeup nya jadi tidak selesai-selesai, loh." Soonyoung hanya tersenyum canggung sambil memainkan jari-jarinya.
"Maafkan aku, bibi. Aku juga tidak tahu bisa segugup ini." Wanita berusia tiga puluhan itu hanya tersenyum maklum. Dia mengerti perasaan Soonyoung saat ini, karena dulu dia juga mengalami hal yang sama saat dia menikah dengan suaminya.
Tiba-tiba pintu kamar Soonyoung terbuka dan menampakkan sesosok pria berumur mendekati putra satu-satunya. Pria itu tersenyum penuh arti sambil mengelus kepala Soonyoung dengan penuh kasih sayang.
Ayah Kwon memberi isyarat kepada bibi Lee untuk meninggalkan mereka berdua. Bibi Lee yang mengerti langsung keluar.
Ayah Kwon menatap putra kesayangannya, "Ada apa Soonyoung? Kudengar kau gugup?" Soonyoung memasang wajah merajuk sambil menatap ayahnya.
"Iya ayah, apa ayah gugup juga saat akan menikah dengan ibu?" Ayah Kwon tersenyum bijaksana dan mengangguk. "Tentu saja, sayang. Siapa yang tidak akan gugup jika kau akan menjadi pasangan sehidup semati dari orang yang kau cintai?"
Soonyoung mengangguk mengerti. Ayah Kwon menepuk pundak anaknya, "Ingat, Soonyoung-ah. Kau jangan gugup lagi, ne? Memang gugup itu hal biasa, tapi jika kau gugup terus, kapan kau akan sah bersama Seokmin?" Soonyoung merona mendengar perkataan ayahnya,
"Lagipula kau tidak sabar kan menghabiskan malam bersama Seokmin?" Soonyoung makin merah dan mulai memukuli tubuh ayahnya, "Ayah, hentikan!" Sedangkan ayahnya hanya tertawa keras, tak lama kemudian pintu terbuka kembali. Kali ini menampakkan seorang wanita cantik.
"Soonyoungie, ayo. Acara akan segera dimulai." Soonyoung menghirup nafas dan menghembuskannya perlahan. Setelahnya dia tersenyum dan keluar dari kamarnya menuju acara.
.
Seokmin mondar-mandir di kamarnya sejak dua puluh menit yang lalu. Tubuhnya sudah terbalut tuxedo broken white dan wajahnya juga sudah terpoles make up sempurna.
Lalu apa yang membuat Seokmin sampai mondar-mandir seperti ini?
Jawabannya adalah acara yang akan dimulai setengah jam lagi.
Seokmin duduk di pinggir ranjang dan mencoba menetralkan nafasnya. Ia beranjak menuju cermin dan melihat refleksi dirinya sendiri.
Tanpa sadar Seokmin tersenyum tulus. Hari ini, setengah jam lagi, dia akan menjadi suami dari seorang pemuda yang sangat dicintainya, Kwon Soonyoung. Kalau boleh berbangga diri, Seokmin sangat bangga ia bisa memiliki pemuda sespesial Soonyoung. Ya kalian tahu sendiri bahwa Seokmin bukan pemuda kalangan atas. Beruntungnya, Soonyoung adalah bukan tipe pemuda pemilih. Begitupun keluarga Soonyoung.
Setelah pernyataan lamaran Seokmin pada Soonyoung, Soonyoung dan Seokmin buru-buru pulang ke Namyangju-kampung halaman Soonyoung untuk meminta restu orangtua Soonyoung. Walaupun orangtua Soonyoung memang mengetahui hubungan anaknya dan Seokmin, Soonyoung dan Seokmin tetap merasa harus mendapat kata restu dari orangtua Soonyoung. Dan tanpa basa-basi, orangtua Soonyoung langsung mengatakan kata 'ya' dan sudah pasti itu membuat mereka berdua senang sekali.
Ibu Seokmin juga sangat bahagia saat mendengar berita ini. Ia juga sangat menyukai kekasih anaknya itu. Dan dengan tegas juga ibu Seokmin mengatakan 'ya'. Dan disinilah ia sekarang.
Pernikahan dilakukan di gereja dekat rumah Soonyoung. Ibu dan adiknya juga sedang siap-siap saat ini.
Tak terasa dua puluh menit ia habiskan dengan merenung, suara ketukan pintu dari ibunya untuk menyuruhnya keluar membuat Seokmin melangkah dengan langkah pasti. Sebelum memutar knop, Seokmin tersenyum sambil membayangkan wajah imut Soonyoung.
'Aku siap, Lee Soonyoung.'
.
Seokmin sudah berdiri di sebelah pastor menunggu sang pasangan masuk ke altar. Semua teman-temannya maupun teman-teman Soonyoung hadir. Ada Seungcheol dan Jeonghan duduk bersebelahan, Vernon dan Seungkwan dengan tangan saling bertautan, Mingyu dan Wonwoo yang tersenyum bersama, Jihoon dan Jisoo yang mengenakan warna baju senada, lalu ada Jun dan Minghao juga.
Ibu Seokmin dan Lee Chan duduk di barisan paling depan sebaris dengan ibu dan keluarga Soonyoung yang lainnya. Air muka mereka sangat cerah.
Suara pintu altar terbuka dan menampilkan dua orang pria. Seokmin hampir saja meneteskan air matanya saat melihat malaikat penjaga hatinya itu.
Soonyoung sangat indah dengan balutan tuxedo yang senada dengannya, wajah imutnya juga terpoles make up yang membuatnya makin cantik dan tatanan rambutnya dibuat berponi, berbeda dengannya yang disisir ke belakang.
Soonyoung dan ayahnya perlahan mendekati Seokmin. Pandangan Soonyoung dan Seokmin terkunci satu sama lain dengan mata yang basah oleh air mata kebahagiaan. Mereka berusaha menahan agar air itu tidak jatuh saat ini.
Soonyoung dan ayahnya sudah di depan Seokmin, "Lee Seokmin, ku percayakan anakku satu-satunya denganmu. Jaga dia baik-baik, Seokmin-ah."
Seokmin tersenyum tulus dan mengambil tangan halus Soonyoung, "Tentu saja, abeoji. Aku janji aku akan menjaganya." Soonyoung hampir meneteskan air matanya saat mendengar kata-kata itu. Tidak, bukan saatnya dia meneteskannya.
Soonyoung dan Seokmin sudah berdiri berhadapan dan menatap dalam satu sama lain, "Baiklah, saudara Lee Seokmin, bersediakah anda mencintai Kwon Soonyoung sehidup semati, di saat suka dan duka?"
Seokmin mengangguk pasti sambil tetap menatap Soonyoung, "Ya, aku bersedia."
"Dan saudara Kwon Soonyoung, bersediakah anda mencintai Lee Seokmin sehidup semati, di saat suka dan duka?"
Seperti halnya Seokmin, Soonyoung juga mengangguk pasti, "Ya, aku bersedia."
"Baiklah, kalian dipersilakan untuk mencium pasangan kalian." Seokmin perlahan menarik pinggang Soonyoung dan Soonyoung memegang kerah tuxedo Seokmin.
Seokmin mendekatkan wajahnya ke wajah Soonyoung yang masih menatapnya, tak lama bibir mereka sudah bertaut menyalurkan rasa kebahagiaan mereka. Dan air mata itu akhirnya menetes.
Seokmin melepas ciumannya dengan mengelus bibir Soonyoung pelan, lalu mereka sama-sama tersenyum manis.
.
Jam sudah menunjukkan jam dua dinihari. Soonyoung dan Seokmin belum tidur sejak acara berakhir empat jam yang lalu.
Bukan, mereka bukan melakukannya.
Belum sampai ke inti tepatnya. Hanya saling berciuman dan setelahnya mereka saling bercerita tentang apapun dalam pikiran mereka masing-masing.
"Apa yang kau lakukan saat kita tidak dibolehkan untuk berkomunikasi?" Soonyoung mengingat sebentar lalu menatap lagi wajah Seokmin.
"Aku bosaaan sekali. Apalagi aku stress memikirkan pernikahan kita." Seokmin melihat Soonyoung yang tidur di lengannya. "Stress? Stress bagaimana? Mengacak-acak kamarmu begitu?"
Soonyoung tertawa, "Ya tidak sampai begitu juga, Seokie. Kau ini." Seokmin tertawa bersama Soonyoung. "Iya, iya. Aku mengerti, kok."
Seokmin menguap seenaknya membuat Soonyoung menutup mulut Seokmin, "Kalau menguap itu tutup mulutmu, sayang." Seokmin terkekeh,
"Hehe, refleks sayang." Soonyoung memutar bola matanya. "Kau mengantuk ya, Seokie?"
Seokmin hanya diam saja. Soonyoung mengangkat kepalanya dan menemukan wajah damai Seokmin.
Soonyoung tersenyum, suaminya ini sepertinya sangat lelah. Tapi bukan Soonyoung namanya jika ia tidak jahil. Soonyoung memainkan hidung mancung Seokmin dan membuat Seokmin terlonjak,
"Huwaa! Ah, kaget aku. Ada apa, Youngie?" Soonyoung hanya tersenyum lebar sampai menampakkan eyesmile nya. "Aku cuman menjahilimu, wlee~"
Seokmin cemberut tapi dia terbawa tertawa juga mendengar tawa Soonyoung. Dia memilih tidur lagi saja. Soonyoung belum menyerah, dia hendak memainkan hidung Seokmin kembali.
Tapi sebelum Soonyoung menyentuh hidung Seokmin, Seokmin membuka matanya duluan, "Kau gagal menjahiliku, wlee~"
Soonyoung giliran cemberut tapi kemudian ia tertawa juga. "Dasar boomerang."
Seokmin terkekeh dan menarik Soonyoung ke pelukannya. Soonyoung memeluk erat Seokmin sambil tersenyum.
Serius, sudah berapa kali Seokmin dan Soonyoung tersenyum hari ini.
"Soonie." Soonyoung merespon dengan gumaman, "Aku masih belum menyangka aku bisa menikahimu."
Soonyoung melepaskan pelukannya dan mengelus wajah Seokmin, "Kau kira aku tidak? Aku juga masih merasa bahwa ini mimpi." Seokmin tersenyum dan mengambil kedua tangan Soonyoung dan menciuminya.
"Kau..tidak menyesal mencintaiku, kan?" Soonyoung agak terkejut dengan perkataan Seokmin namun dia tersenyum tulus,
"Lee Seokmin, bukankah aku pernah berkata bahwa aku mencintai dirimu apa adanya? Lagipula aku sudah berjanji pada Tuhan untuk selalu bersamamu saat suka dan duka. Mana mungkin aku menyesal, sayang."
Seokmin menciumi tangan Soonyoung lagi, "Terima kasih, sayang. Aku bersyukur aku bisa bertemu denganmu dan memilikimu." Soonyoung hanya mengangguk dan memeluk Seokmin lagi.
"Kau tidak perlu berterimakasih padaku, Seokmin. Kita sama-sama beruntung, aku juga beruntung mendapatkan pemuda setampan dirimu." Seokmin tertawa kecil, lalu menarik tubuh pemuda blonde itu lebih dekat dengannya.
Soonyoung dan Seokmin menatap satu sama lain dan menempelkan bibir mereka sebelum mereka pergi ke alam tidur.
"Jaljayo, Lee Soonyoung, mimpikan aku, ya?"
"Jaljayo, Lee Seokmin, iya, iya, berisik"
.
FIN
And this is Soonseok sequel~ Astaga banyak juga yang minta sequel Soonseok:) Apalagi Ms. eunkim3 This is for you, walaupun aku ga kenal sih siapa asli kamu, tapi kamu reviewer terfavorite /ini kenapa jadi curhat(?)
Dan dari pertama mikirin sequel juga untuk bagian Soonseok bakal aku ceritain pernikahannya~ Maaf yaa kalo hasilnya mengecewakanã… ã…
Aku seneng banget banyak yang respon buat ff ini Next couple belum bisa aku tentuin, lagi nunggu feel nya dateng :3 Aku lagi mabok Cheolsoo btw :3
Di review banyak yang nanya part Meanie yang kemaren akhirnya kok ga diceritain? Fyi guys, walaupun aku seneng baca rated, aku masih belum berani bikin rated, sumpah ga berani sama sekali. So, maaf kalo yang mengharapkan ff aku ada rated nya, ga ada.
RnR guys? ;)
