I'm Your Light Yesterday, Now and In the Future

Vmin,and other BTS Member, DaeBaek, Chanyeol, Youngjae, KaiDo, Yongguk, Himchan and ect

Genre : Romance, Family, Friendship and sad

BOYS X BOYS

Don't like Dont read. Just don't read and get gone XD

Chapter 2

Jimin mengerjapkan pelan kedua matanya. Mengedarkan pandangannya pada langit-langit berwarna biru laut yang sangat indah. Ia menoleh ke arah kanannya. Ia bisa melihat seorang namja manis yang seingatnya bernama Jin sedang duduk di dekatnya sambil sibuk dengan smartphone miliknya. Dibelakangnya dapat dilihatnya Jungkook yang menangis sesegukkan sambil ditenangkan oleh Hoseok dan Namjoon. Ah, kenapa dia disini? Ini dimana? Seingatnya tadi ia sedang di depan kamar Taehyung, berusaha meminta maaf karena sudah merusak barang-barangnya. Tapi setelah itu Baekhyun datang dan memeluknya dan setelah itu dia tidak ingat lagi. Ah pasti ia pingsan, efek karena terlalu shock dengan kemarahan Taehyung dan bentakannya. Hah dia benar-benar lupa dengan kelemahannya yang tidak bisa di bentak. Sedikit saja nada tinggi itu terdengar maka Jimin akan seperti ini. Ck, dasar lemah.

"eumm, Jin hyung?",Jin menoleh saat suara lemah Jimin memanggilnya. Buru-buru namja itu menaruh smartphonenya di atas meja nakas yang berada tepat disamping tempat tidur tersebut. Jin memegang pergelangan tangan Jimin, mengecek denyut nadi namja imut tersebut. Mengetahui denyut nadi Jimin sudah kembali normal Jin pun bernafas lega. Ia menoleh ke arah Jungkook yang menatapnya degan mata berairnya. Jungkook memang akan menjadi orang yang sangat cengeng jika menyangkut tentang hyung semata wayangnya itu. Jimin mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk menyandar pada bantal-bantal yang tersusun rapi di belakangnya. Mengangkat selimut super tebal berwarna cokelat itu hingga menutupi tubuhnya sebatas perut. Jimin menoleh pada sang dongsaeng yang juga kembali menatapnya.

"Kookie-ah, kau menangis?",oh astaga pertanyaan bodoh itu meluncur dengan sempurna dari mulut seorang Park Jimin. Apa menurutnya wajah memerah dengan mata sembab dan hidung berair itu tidak menangis ya? Sepertinya si manis ini masih belum sepenuhnya sadar.

"hueee Chimchim hyung, aku sangat mencemaskanmu tau. Dan kau bertanya aku menangis? Heol, bagaimana aku tidak akan menangis jika melihat hyung tersayangku tiba-tiba saja pingsan dengan wajah pucat dan tubuh bergetar hebat",Jungkook menghambur ke pelukan sang hyung sambil masih terisak lirih. Moment hyung dan dongsaeng yang sangat manis dan mengharukan. Kelima orang yang ada di dalam ruangan tersebut terdiam menyaksikan moment tersebut. Eh? Apa aku baru saja mengatakan lima? Bukankah hanya ada Jin, Jungkook, Hoseok dan Namjoon dalam ruangan ini? Dan oh kita melupakan pangeran es kita yang saat ini berdiri dengan kepala sedikit menunduk di balkon kamar tersebut. Dan yah, seharusnya Jimin sadar dimana ia sekarang. Ayolah Park, kau berada di kamar orang yang baru saja membentakmu sejam yang lalu.

Jimin membulatkan matanya yang sipit. Dia baru sadar dimana dirinya sekarang, bukankah ini kamar Kim Taehyung? Kenapa dia masih disini? Astaga, bagaimana jika Taehyung kembali membentaknya dan dia kembali pingsan? Atau dia merusak barang Taehyung yang lainnya? Oh itu tidak boleh terjadi lagi. Jimin menggelengkan kepalanya kuat, ia langsung mendorong Jungkook menjauh dari tubuhnya dan menyibak selimut super tebal yang aromanya cukup untuk membuat Jimin pusing seketika. Jangan salah persepsi, Jimin pusing karena bau khas dari Taehyung yang melekat di selimut super tebal itu. Aroma maskulin yang bisa membuatnya merasa nyaman dan merinding di waktu yang sama. Anggap saja Jimin masih cukup takut untuk bisa berada di sekitar namja berwajah dingin itu saat ini. Bahkan yang dia inginkan adalah secepatnya keluar dari tempat ini ah atau lebih baik dirinya segera pulang ke rumahnya saja dan meringkuk di balik selimut hangatnya sendiri.

Jimin sudah siap menapakkan kakinya di atas karpet bulu lembut yang ada disekitar tempat tidur tersebut saat dengan tiba-tiba seekor anjing bersurai cokelat menabrak tubuhnya cukup kuat. Membuat namja imut itu terjerembab kembali ke atas kasur empuk Taehyung dan lagi-lagi membuat hidungnya dengan seenaknya saja kembali menangkap bebauan yang punya sensasi aneh itu. Jimin tersenyum kala anjing berukuran lumayan besar itu menggeser tubuhnya untuk duduk di sebelahnya. Menatap lekat Jimin dengan tatapan imutnya yang menurut Jimin terlalu menggemaskan. Jimin mengusap lembut surai si anjing, membuat anjing itu mendekatkan kepalanya pada Jimin. Persis seperti yang dilakukannya pada Taehyung. Jimin kembali terkekeh lucu melihat tingkah si anjing.

"ireumi mwoeyo? (siapa namamu)",Jimin tetap mengelus surai lembut Lax saat dirinya menangkap secarik kertas yang terselip di kalung pengenal anjing tersebut. Dengan cepat Jimin menarik kertas berwarna baby blue itu. Ah siapa yang menyelipkan kertas ini di kalung Lax? Kalau kalian ingin tahu darimana Jimin tahu nama anjing tersebut, jawabannya ada pada kalung pengenal yang digunakan Lax. Jimin penasaran dengan kertas yang ada di tangannya saat ini, dengan perlahan namja imut itu membuka lipatan demi lipatan pada kertas tersebut. Ia kaget melihat isi kertas tersebut.

Mianhe, aku tak bermaksud membuatmu jadi seperti itu. Sekali lagi maaf

KTH

Jimin masih dalam mode shocknya. Ya ampun ini kedua kalinya ia harus terkaget-kaget dengan sifat Taehyung yang berubah-ubah. Tapi sedetik kemudian ia sedikit tersenyum. Baru saja ia hendak bertanya pada sang adik perihal dimana Taehyung saat ini, dia hanya bisa melihat ruangan itu sudah kosong tanpa ada seekor pun manusia-manusia tampan tadi. Heh? Kapan mereka semua pergi dari sini? Sudahlah memangnya apa peduli Jimin tentang hal tersebut. Lebih baik dia keluar dan memberitahukan pada semua orang yang ada di rumah tersebut bahwa ia baik-baik saja. Tapi lagi-lagi baru saja ia akan turun dari tempat tidur empuk itu dia dikagetkan dengan kemunculan tiba-tiba Taehyung dari arah balkon kamarnya. Jimin menatap kaget Taehyung yang berjalan pelan sambil menunduk ke arahnya. Jimin memundurkan badannya seiring mendekatnya Taehyung ke arahnya. Tiba-tiba saja badannya kembali bergetar karena Taehyung. Meskipun perasaannya sudah lebih baik karena permintaan maaf namja tampan itu, tapi tetap saja ia masih merasa sedikit takut jika Taehyung kembali memarahinya.

Taehyung bukannya tak menyadari perubahan sikap Jimin yang kembali menatapnya sedikit takut, bahkan si manis itu bergetar hebat saat ini. Akhirnya Taehyung menghentikan langkahnya saat jarak antara dirinya dan Jimin hanya sekitar 2 meter saja.

"maafkan aku karena sudah membentakmu. Aku tidak tahu jika kau takut dibentak. Maaf Park Jimin",Taehyung membuka mulutnya.

"Heol, k..kau bilang mengenalku dari kecil. B...bagaima mungkin kau tak mengetahui sifatku itu",Jimin menatap Taehyung dengan mata berairnya. Ia meremas keras selimut tebal yang ada di dekatnya saat ini. Taehyung terdiam sambil menatap Jimin dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun Jimin bisa menangkap kekhawatiran yang mendominasi dalam tatapan itu. Heh, mustahil jika seorang yang tak punya hati seperti dirinya bisa khawatir pada orang lain.

"meskipun kita saling mengenal sejak kecil bukan berarti hingga sekarang aku masih mengingat semua kebiasaanmu Park. Bukankah orang bisa berubah kapan saja",Taehyung masih berdiri beberapa meter dari Jimin yang masih terduduk di atas kasur Taehyung. Wajah dingin itu menampilkan senyuman tipis dibibir merah chery tersebut. Membuat Jimin terperangah sesaat. Apakah dia baru saja melihat seorang Kim Dingin Taehyung tersenyum? Astaga itu kejadian langka, harusnya Jimin memotretnya tadi.

"apa kau baru saja tersenyum Kim? Omo !",Jimin tersenyum lebar, melupakan rasa takutnya pada namja berwajah dingin tersebut dan mulai menggoda seorang Kim Taehyung.

"YA! Berhenti menggodaku Park. Hah, sudahlah bicara dengan orang semacam dirimu memang tak berguna",Taehyung bersiap untuk berbalik meninggalkan kamarnya itu saat suara cicitan dari Park Jimin kembali berdengung indah di telinganya. "Mianhe. Karena aku barang-barang kesayanganmu jadi rusak. Maafkan aku ya",Jimin menundukkan kepalanya. Dengan cepat Taehyung kembali membalikkan badannya untuk melihat Jimin. Sungguh, Taehyung benci melihat orang bersedih, apalagi itu adalah orang yang disayanginya. Dengan ragu Taehyung melangkah ke arah Jimin. Namja itu duduk tepat didepan Jimin. Tanpa aba-aba Taehyung mengelus lembut rambut Jimin. Membuat sang empu terkejut bukan main, ia masih enggan mendongakkan kepalanya. Hah dia berani bersumpah wajahnya pasti sudah memerah seperti tomat.

"Sudahlah, gwenchana. Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah membentakmu. Lagipula itu bukan masalah besar kok. Kau bisa menggantinya kapan-kapan",Taehyung masih mengelus lembut rambut si manis yang terlalu gugup untuk mendongak menatap balik Taehyung.

"ne, arraseo. Aku akan menggantinya kapan-kapan. Aku janji",Taehyung lagi-lagi tersenyum melihat Jimin yang mengangkat wajahnya dengan tatapan anak kucing, membuat Taehyung gemas sendiri melihatnya. Dan lagi-lagi tanpa sadar tangan lancang milik Taehyung terangkat untuk menusuk-nusuk pipi gembul milik Jimin. Mengundang wajah cemberut dari si pemilik pipi.

"Ya! Jangan menusuk-nusuk pipiku begitu. Aish",Jimin menyingkirkan tangan Taehyung yang ada di pipinya. "Apakah sekarang kita sudah bisa menjadi teman Tae?",Jimin kembali berujar sambil menatap Taehyung dengan senyum lebarnya. Seketika yang ditatap kembali pada mode ekspresi datarnya.

"siapa bilang kita berteman? Aku tidak mau berteman dengan orang cerewet seperti dirimu. Sudahlah aku mau keluar, kau istirahatlah lagi",Taehyung melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Jimin dengan tatapan tajam serta ekspresi dinginnya.

Jimin mendengus sebal melihat perilaku Taehyung yang kini mulai berjalan menjauh darinya. "Tae-ya, bukankah kita memang harusnya berteman. Ah ya, bukankah sebentar lagi kita akan menikah. YA! Kim Taehyung! Kau tidak mendengarkanku?",Jimin berlari mengejar langkah lebar Taehyung yang kini sudah sampai di dekat tangga menuju ke lantai satu. Jimin sangat kaget saat ia menabrak punggung Taehyung yang secara tiba-tiba berhenti di depannya. Jimin mengumpat pelan saat merasakan kepalanya sedikit sakit karena benturan yang terjadi.

"jangan karena hal ini kau berpikir bisa berteman denganku Park. Kau masih bukan siapa-siapaku sampai saat aku lulus menjadi sarjana",Taehyung menampilkan ekspresi dingin andalannya membuat Jimin mendelik sebal padanya. Namja manis itu kembali mempoutkan bibir tebalnya.

"YA! KIM TAEHYUNGG! Kau pikir aku sudi menikah denganmu hah? Salahmu sendiri yang menerima perjodohan menyebalkan itu ! YAAA! Liat saja, aku pastikan kau akan menjadi temanku Kim !",Jimin kembali berteriak pada Taehyung yang kini sudah hilang di balik dinding menuju halaman belakang keluarga Kim.

Tanpa mereka berdua sadari, semua orang yang berada di rumah tersebut mendengar dengan jelas semua perdebatan tak penting tersebut. Baekhyun dan Seokjin tertawa pelan diikuti oleh beberapa namja lainnya.

...

Dua bulan semenjak kejadian tersebut Taehyung tidak lagi terlalu kesepian seperti biasanya. Hari-harinya penuh dengan celoteh cerewet dari teman sebangkunya Park Jimin. Selain itu Taehyung selalu saja menjadi sasaran penarikan paksa dari Jimin dan Jungkook saat jam istirahat untuk makan bersama mereka serta Namjoon dan juga Hoseok di kantin. Bukan Taehyung tak suka dengan keberadaan orang-orang yang mau berteman dengan dirinya. Hanya saja yah seperti yang diketahui, Taehyung masih terlalu takut untuk berharap pada mereka. Bahkan Taehyung masih saja belum bisa bersikap dengan benar terhadap Jimin yang notabene orang terkasihnya setelah kedua orang tuanya tentu saja. Taehyung masih saja berkata dengan ketus dan berekspresi dingin pada Jimin dan yang lainnya.

Seperti saat ini, Taehyung sedang memasang tampang dingin menyeramkannya sambil tetap mendengarkan celotehan-celotehan dari keempat manusia disekelilingnya. Taehyung hanya mengaduk-aduk jus jeruknya tanpa minat sedikitpun. Apalagi setelah melihat betapa dekatnya si imut Park Jimin dengan si kuda hyper aktif Bang Hoseok. Seperti sesuatu membuatnya ingin sekali menarik Jimin segera menjauh dari Hoseok namun urung dilakukannya mengingat ia tidak punya hak untuk itu.

"ah, sepulang sekolah ayo kerumah Taehyung. Hyungku dan juga Yoongi hyung akan kesana dan memasak makan malam untuk kita. Berhubung Baekhyun ahjumma sedang berada di Jepang bersama Daehyun Ahjussi jadi sekalian saja kita menginap",Hoseok berseru heboh membawa berita yang menurut Taehyung adalah bencana besar untuk kelangsungan hidupnya. Heol, jika mereka sudah berkumpul bersama, Taehyung tidak bisa menjamin tidurnya malam ini akan nyenyak tanpa gangguan. Sungguh mereka bisa sangat berisik jika bersama, dan juga memangnya Taehyung mengizinkan mereka apa? Seenaknya saja memutuskan secara sepihak.

"ah, ide bagus hyung. Kita bisa bermain game hingga pagi. Besok kan hari minggu, jadi kita tak perlu bangun pagi. Otte Jimin hyung? Kau mau kan?",Jungkook menimpali perkataan Hoseok. Ia menatap Jimin dengan tatapan super imut yang ia miliki.

"keundae, apa tidak sebaiknya menanyakan pada tuan rumahnya terlebih dahulu? Bukankah Taehyung ber-",belum sempat Jimin menyelesaikan perkataannya, Hoseok sudah menyela perkataannya."Eyy, Jiminie kau tenang saja. Seokjin hyung dan aku sudah meminta izin secara langsung pada Baekhyun ahjumma, dan tebak dia sangat senang hehe. Kkokjongma ne",Hoseok mengelus sayang puncak kepala Jimin mengundang tatapan tajam dari namja yang duduk tepat di hadapan mereka.

"baiklah kalau begitu. Nanti jam 4 sore kita berkumpul di rumah Jimin untuk berangkat bersama ke rumah Taehyung. Otte? Aku akan membawa banyak cemilan dan beberapa kaset film terbaru untuk kita tonton",Namjoon ikut-ikutan bersemangat dengan rencana akhir pekan sepihak mereka.

Jimin melirik sekilas pada Taehyung yang masih sibuk dengan jus jeruknya yang masih tersisa setengah gelas. Sejak awal percakapan ini, Taehyung bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun membuat Jimin sedikit merasa tak enak hati pada namja dingin tersebut. Jimin masih betah melirik Taehyung saat tanpa sengaja Taehyung balik menatap Jimin. Tatapan mereka bertemu sekitar tiga detik saja saat Taehyung lebih memilih mengalihkan perhatiannya pada hal selain Jimin.

"eumm Taehyung-ah, kenapa kau hanya diam? Apa kau benar-benar tak setuju dengan rencana kami? Kalau be-",lagi-lagi Jimin harus rela perkataannya terpotong oleh mulut cerewet milik Hoseok. "Jiminie, Taehyung tak punya alasan untuk menolak rencana menyenangkan ini. Lagipula kita bisa mengawasi Taehyung juga kan? Seperti yang dikatakan Baekhyun Ahjumma kalau kita harus menjaganya. Ah Jiminie, kau nanti pulang denganku ne? Temani aku pergi ke pusat perbelanjaan sebentar ya? Ada sesuatu yang harus aku beli",Hoseok lagi-lagi menatap Jimin sambil mengelus lembut rambut si Imut. Dan kali ini mengundang tatapan tak suka menjurus pada tatapan ingin menelan hidup-hidup dari Taehyung. Dan well, apakah manusia dua itu tak juga sadar akan aura mengerikan di depan mereka? Astaga, bahkan Namjoon saja sudah menyadarinya semenjak awal Hoseok mengelus rambut Jimin pertama kali. "aku akan ke kelas. Terserah kalian ingin melakukan apapun di rumahku, asalkan jangan sampai menggangguku atau merusak barang-barangku",Taehyung melenggang meninggalkan empat manusia lain yang masih cengo. Jungkook yang pertama kali menyadarinya langsung berdeham seraya mempoutkan bibirnya.

"apa dia pikir kita datang untuk menghancurkan barang-barang super mahalnya itu? Huh, dasar muka tembok berhati es",Jimin, Hoseok dan Namjoon terkekeh mendengar penuturan polos dari Jungkook tersebut.

Taehyung berbohong tentang ia akan kembali kekelas. Nyatanya, namja tampan itu kini berada di atap sekolah yang sepi. Merebahkan tubuhnya di atas sebuah kursi kayu panjang yang terlindung oleh beberapa tanaman bunga yang menjulang tinggi, menghalau panas matahari untuk sampai ke kursi tersebut. Taehyung memejamkan matanya, merasakan semilir angin yang berhembus lembut menerpa wajah serta rambut cokelatnya. Pikirannya melayang pada kejadian dua bulan yang lalu saat Jimin tiba-tiba pingsan setelah mendengar bentakan dari dirinya.

Flashback on

Jimin terkulai lemah dalam pelukan Baekhyun, membuat namja manis itu berseru panik memanggil sang suami yang berdiri tak jauh di belakangnya. Taehyung yang mendengar teriakan sang oemma dengan segera membuka pintu kamarnya, memastikan apa yang sedang terjadi. Taehyung hampir saja berteriak menyerukan nama Jimin jika ia tak melihat sang appa membopong tubuh si mungil menuju pintu kamarnya. Dengan segera Taehyung menyingkir dari depan pintu dan segera menuju ke tempat tidurnya untuk menyibakkan selimut agar memudahkan appanya untuk membaringkan Jimin. Taehyung menatap wajah pucat penuh keringat Jimin dengan khawatir yang memuncak. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Sungguh Taehyung benci pada dirinya sendiri yang sudah membuat orang terkasihnya menjadi seperti saat ini. Ingin sekali ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi, namun seolah tak bertenaga dan kehilangan suaranya Taehyung bakhan tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk bertanya. Taehyung hanya menatap Jimin yang sedang diperiksa Seokjin dari meja belajarnya di sudut ruangan, sungguh ia ingin sekali mendekat dan menggenggam tangan tersebut tapi ia terlalu takut akan menyakiti namja manis itu lagi.

Baekhyun yang melihat reaksi sang putra semata wayang, menghela nafasnya lelah. Ia tahu Taehyung pasti merasa sangat bersalah pada Jimin saat ini. Dengan segera Baekhyun menghampiri sang anak dan menariknya menuju lantai satu, tepatnya kabar dirinya dan Daehyun. Ia mendudukkan Taehyung di pinggiran kasur. Dan tanpa komando air mata itu jatuh dari mata indah milik Taehyung. Baekhyun memilih membiarkan sang anak untuk meluapkan emosinya sesaat sebelum ia mulai menenangkan Taehyung.

"oemma, aku membuatnya menangis hiks...dan aku membuatnya ketakutan lalu pingsan hiks... aku benar-benar tak bermaksud begitu. Aku hanya...aku hanya... hiks", Baekhyun dengan segera memeluk erat sang anak yang masih terisak. Baekhyun sangat paham, Taehyung menangis bukan karena dirinya cengeng dan lemah, melainkan karena rasa bersalah serta rasa sayang yang sangat besar terhadap Jimin. Yah, Baekhyun tahu bahwa hingga saat ini Taehyung masih sangat mencintai Jimin. Hanya karena beberapa hal buruk yang terjadi beberapa tahun belakang pada hubungan sosial Taehyung, membuat namja tampan tersebut bahkan tak mampu bersikap dengan seharusnya pada orang yang disayanginya.

"sstt...uljimma baby Kim. Oemma tak suka mendengarmu menangis. Oemma tahu betapa kau mencintai Jimin, dan oemma tahu kau lepas kendali bukan karena kau marah atas barang-barangmu yang rusak oleh Jimin. Kau marah karena khawatir Jimin akan terluka keutchi? Tapi kau salah mengekspresikannya baby. Seharusnya kau tak membentaknya, dan kau harus tahu Jimin sangat tak bisa di bentak. Ia sangat sensitif terhadap perubahan nada bicara seseorang. Itulah kelemahannya chagi, jadi kedepannya jangan pernah membentaknya lagi. Arraseo? Oemma yakin kau lebih tahu dengan apa yang kau lakukan Tae",Taehyung mengangguk dalam pelukan Baekhyun. Ia masih merutuki kebodohannya hingga pintu kamar itu terbuka. Menampakkan Daehyun yang berdiri di ambang pintu menatap miris kepada Taehyung.

"Seokjin bilang Jimin tak apa. Ia hanya mengalami shock saat mendengarmu membentaknya. Saat ini ia sedang beristirahat di kamarmu dengan Seokjin disampingnya. Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu lagi. Taehyungie, kau itu namja dan namja tak akan menangis dan lari dari tanggung jawabnya. Hapuslah air matamu dan minta maaflah pada Chanyeol Ahjussi dan Youngjae Ahjumma karena sudah membuat anak mereka seperti itu. Dan yang paling penting, minta maaflah pada Jimin, Taehyungie",Daehyun yang sudah berada di samping sang putra mengelus pelan puncak kepala Taehyung yang dibalas tatapan sedih dari sang anak. Hati Daehyun terenyuh melihat tatapan sang anak, tatapan yang ia lihat terakhir kali saat Taehyung menyalahkan dirinya sendiri karena seluruh teman-temannya yang hanya memanfaatkan dirinya tanpa niat tulus berteman dengan dirinya. Daehyun sangat ingat saat itu ia menemukan Taehyung terduduk sendiri di taman belakang sekolahnya dengan seragam yang kotor dan lutut berdarah serta wajah yang dibenamkan di antara kedua lututnya. Daehyun yang kaget langsung menghampiri sang anak dan menepuk pelan pundak kecil milik sang anak.

"aku sudah membuat mereka membenciku. Aku benar-benar jahat appa, aku membuat mereka tak mau lagi berteman denganku hanya karena aku marah mereka menyebutku tak berguna. Hiks... apa tak ada yang bisa berteman tulus dengan Taehyungie appa? Kenapa semua teman Taehyungie pergi setelah ia merasa bosan bermain denganku appa? Wae hiks? Jika seperti ini Taetae tak ingin lagi punya teman", pernyataan itu tak pernah bisa terlupakan oleh seorang Kim Daehyun. Karena setelah kejadian tersebut, Daehyun tak pernah lagi melihat sang anak tersenyum dan bermain dengan teman sebayanya.

Daehyun memeluk Taehyung dengan sangat erat. Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan sang anak. Baru saja ia bahagia karena Taehyung akan segera kembali ceria seperti dulu karena teman terbaiknya telah kembali, tapi kejadian seperti ini malah terjadi. Ia hanya takut jika Taehyung menjadi lebih tak terkendali sifat tertutupnya.

...

Taehyung berjalan pelan masuk ke kamarnya. Ia dapat melihat Youngjae ahjumma yang masih setia duduk di samping Jimin sambil mengelus pucak kepalanya. Serta Chanyeol ahjussi yang sedang duduk sambil sibuk mengelus lembut punggung si bungsu Park Jungkook yang sesegukan karena menangis. Taehyung melangkah pelan menuju kedua orang tersebut dengan kepala tertunduk dalam. Rasa bersalah benar-benar tak bisa pergi dari pikirannya.

"Chanyeol ahjussi, Youngjae Ahjumma",Taehyung sedikit mengangkat kepalanya menatap dua orang yang kini balik menatapnya. Ah, jangan lupa dengan tatapan menusuk dari Jungkook. Namja itu berdiri dari duduknya sambil melangkah cepat menuju Taehyung yang masih mematung beberapa meter dari tempat tidurnya.

"YA! Kau pikir siapa dirimu hah? Berani sekali kau membentak kakakku sunbae! Dan kau hiks...me..hiks..membuatnya ketakutan begitu. Kau benar-benar tak punya hati sunbae",Jungkook nyaris melayangkan kepalan tangannya ke wajah Taehyung kalau saja Namjoon dan Hoseok yang ada di kamar tersebut tidak menahannya terlebih dahulu. Chanyeol langsung mengisyaratkan kedua namja tersebut untuk membawa Jungkook keluar dari kamar tersebut terlebih dahulu. Menyisakan Taehyung beserta Jin dan juga keluarga Park (minus Jungkook).

"ahjumma, ahjussi aku benar-benar minta maaf atas sikap kasarku terhadap Jimin. Sungguh aku tidak bermaksud untuk membuatnya ketakutan begitu. Dan aku juga tak tahu jika Jimin tak bisa dibentak. Jeongmal mianhamnida",Taehyung membungkuk dalam di hadapan Chanyeol dan Yeongjae, membuat dua orang tersebut tersenyum lembut. Yeongjae menarik kedua bahu Taehyung untuk menegakkan tubuhnya, ia tersenyum melihat wajah Taehyung yang benar-benar menyiratkan penyesalan yang besar.

"Tae-ah, gwenchana. Jimin akan baik-baik saja. Aku tahu kau sangat mencemaskannya, tenanglah semua akan baik-baik saja. Aku memang lupa memberi tahumu hal tersebut, itulah kelemahan terbesarnya Tae. Jadi, aku berharap kau bisa menjaganya dengan baik. Kami tahu kau sangat menyayanginya",Youngjae menepuk pelan pundak Taehyung.

"saat Jimin sadar nanti, selesaikanlah masalahmu dengannya ne",Chanyeol ikut menepuk pelan pundak Taehyung. Kemudian kedua orang tersebut melangkah keluar dari kamar tersebut.

Flashback off

Taehyung menghela nafas berat, ia benar-benar frustasi sendiri dengan sifat dinginnya yang cenderung tak berperasaan saat ini. Bahkan pada Jimin ia juga seperti itu, sungguh diluar kehendaknya. Padahal ia ingin membuat hari-hari yang menyenangkan dengan Jimin mulai dari saat mereka pertama kali bertemu kembali, tapi malah hal sebaliknya yang terjadi. Taehyung tak mau lagi hal semacam itu terjadi, maka karena itulah ia masih enggan untuk dekat dengan Jimin. Ia benar-benar mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada Jimin jika ia masuk ke dalam kehidupan namja manis tersebut.

"hah, tenggelam saja kau Kim Taehyung", Taehyung kembali memejamkan matanya. Mengabaikan bunyi bel tanda istirahat selesai yang sudah berbunyi. Sepertinya namja itu tak berniat mengikuti pelajaran saat ini.

...

Jam sudah menunjukkan pukul 2.30 siang. Bel pulang sekolah pun sudah berbunyi dari 30 menit yang lalu. Seluruh siswa tampak sangat antusias untuk secepatnya dapat pulang ke rumah masing-masing. Lihatlah, sekarang sudah hampir tak terlihat lagi siswa-siswa berlalu lalang di koridor sekolah tersebut. Hanya ada beberapa siswa yang merupakan anggota ekstrakurikuler tertentu saja yang masih betah berlama-lama di sekolah. Tak terkecuali seorang namja bertampang dingin yang masih berada di dalam kelas sambil membenamkan wajahnya diantara kedua lengannya. Hah, dia masih tertidur rupanya. Melupakan janji yang dibuat oleh teman-teman barunya saat makan siang tadi. Ya, namja itu adalah Kim Taehyung, yang semenjak bel pulang berbunyi tak beranjak satu senti pun dari tempat duduknya. Kedua mata yang terpejam erat dan kedua telinga yang tersumpal earphone serta angin sepoi-sepoi yang berasal dari jendela di sampingnya membuat namja tampan itu benar-benar terbuai untuk tetap tertidur pulas.

Jimin melirik kembali jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. Ia mendengus cukup keras melihat Hoseok yang masih asik berputar-putar mengelilingi lorong-lorong di antara rak-rak menjulang tinggi yang berisi berbagai macam produk. Apa perlu dijelaskan lagi, apa yang sedang dilakukan Si Manis Park Jimin bersama dengan Kuda Liar Bang Hoseok di tempat tersebut? Oh tentu saja mereka sedang berbelanja keperluan untuk acara 'kemah bersama di rumah Kim Taehyung'. Dan yang membuat si chubby itu mendengus sebal adalah, kenapa semenjak 20 menit yang lalu Hoseok sibuk sekali berputar-putar memasuki tiap lorong rak, padahal dirinya hanya akan mencari beberapa cemilan dan juga beberapa kebutuhan harian Hoseok yang secara kebetulan juga habis.

"hyung, apa masih banyak yang harus dibeli? Aku sudah lelah tahu?",Jimin melipat kedua tangannya di depan dada sambil mempoutkan bibir sexy nya. Ough, sepertinya Uri Jiminie merajuk eoh? Dan kemudian tanpa aba-aba tawa nista seorang Hoseok terdengar menggema di sepanjang lorong tempat mereka berdiri, bahkan mengundang tanda tanya besar dari beberapa manusia lain yang juga kebetulan berada di dekat mereka. Ya ampun, jika tahu begini Jimin tak akan meng iyakan ajakan Kuda Liar ini tadi. Ternyata ia tak kalah idiotnya dengan Jungkook, namun bedanya Jungkook masih sangat imut meskipun bertingkah idiot seperti itu.

"hahaha jiminie, jangan marah ya. Setelah ini kau akan aku traktir es krim otte?",Hoseok mengusap-usap surai orange milik Jimin. Sedangkan sang empu sedang menatap berbinar kepada Hoseok, melupakan kekesalannya tadi yang memuncak pada namja Hyper tersebut.

"ne ne... ayo hyung segera selesaikan belanjanya dan ice cream juseyooo",Jimin menengadahkan kedua telapak tangannya ke arah Hoseok dengan mata berbinar semangat. Hoseok yang melihatnya tak tahan untuk tidak mencubit kedua pipi gembil namja manis tersebut. Mengundang tawa lucu dari Jimin yang kini mulai mendorong troly berisi banyak sekali cemilan itu dengan sangat semangat.

...

Taehyung melangkahkan kedua tungkainya masuk ke dalam sebuah cafe yang berada tak jauh dari rumahnya. Pasalnya namja dingin itu baru saja tersadar beberapa menit lalu dari tidur nyenyaknya di sekolah dan kini ia merasa sedikit lapar sehingga memutuskan untuk membeli cheese cake kesukaannya dan secangkir ice coffe di cafe langganannya tersebut.

"selamat datang, eoh Taehyungie? Kau datang hari ini?",seorang namja berperawakan tinggi menjulang yang berada di balik meja kasir tersenyum ramah pada Taehyung yang dibalas anggukan serta seulas senyum samar.

"sungyeol hyung, aku pesan seperti biasa ne, dan juga tolong bungkus satu cheese cake dan strawberry cake untukku ne",Taehyung menatap kepenjuru cafe, menatap meja tempat biasa dirinya berdiam di cafe tersebut. Sungyeol yang masih sibuk mentotal seluruh pesanan Taehyung mengikuti arah pandangan Taehyung. Ah, sepertinya hari ini namja itu tidak bisa duduk di meja favoritnya tersebut. Lihat saja di meja tersebut ada sekitar lima orang anak sekolahan yang sepertinya sebaya dengan Taehyung sedang duduk sambil bersenda gurau.

Sungyeol membuyarkan keheningan yang terjadi untuk beberapa sekon tersebut "semuanya 8000 won Tae, eumm... apa kau ingin pesananmu dibungkus semua saja? Sepertinya kau tak bisa duduk di tempat favoritmu itu hari ini. Atau kau ingin duduk di lantai dua saja? Disana tak kalah nyaman, lagipula tak banyak pengunjung yang ada di sana",Sungyeol menatap Taehyung yang masih diam sambil menyerahkan uang tunai sebanyak 10000 won pada dirinya.

"aku akan tetap makan disini hyung. Bawakan saja pesananku ke lantai dua",Taehyung kemudian berlalu setelah mengambil kembalian dan struk yang disodorkan oleh Sungyeol padanya. Namja bertampang dingin tersebut melangkahkan kakinya menaiki tangga yang berada di sudut ruangan cafe tersebut. Ia berhenti sejenak saat matanya mulai menjelajah mencari tempat yang nyaman untuk dirinya duduk di ruang terbuka tersebut. Taehyung memutuskan untuk duduk di meja pojok dekat tangga yang berhadapan langsung dengan pemandangan taman kota dan jalanan berhiaskan jejeran aneka toko-toko dan cafe di sisi jalanan tersebut. Angin sepoi-sepoi yang menemani namja tersebut, membuatnya memejamkan sejenak matanya hingga ia mendengar seorang pelayan membawakan pesanannya.

Taehyung memakan cheese cake serta sesekali menyesap ice coffenya dengan tenang. Tatapannya masih fokus terhadap sebuah komik yang sedang dibacanya, serta earphone yang masih setia menyumpal kedua telinga namja tersebut. Membuat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat, apalagi kalau saja namja itu menampilkan ekspresi yang lebih bersahabat, pastilah ketampanannya makin bertambah. Tapi sudahlah, siapa yang peduli dengan itu? Sudah sangat beruntung bisa melihat ciptaan tuhan yang begitu sempurna itu duduk diam dengan ekspresi seriusnya tersebut daripada mendengar ucapan dingin menusuk miliknya.

Taehyung sudah menghabiskan cheese cake yang ada dihadapannya dan ice coffe miliknya sudah tandas tak bersisa. Bahkan komik yang sedari tadi ada di tangannya telah selesai dibaca dan telah berpindah masuk ke dalam ransel hitam miliknya. Taehyung hendak beranjak dari duduknya, saat mata tajamnya tanpa sengaja menangkap sesosok namja manis yang sedang tertawa bahagia bersama seorang namja tampan di sebelahnya. Namja manis itu sedang sibuk dengan cup ice cream yang ada digenggamannya dan sesekali namja itu tertawa melihat tingkah namja di sebelahnya. Tanpa sadar Taehyung mengepalkan tangannya kuat. Entahlah, ia sadar dirinya seharusnya tak berhak untuk marah. Namun hatinya berkata lain, ia bahkan sangat marah saat ini. Bukan karena namja manis itu tertawa dengan namja lain, yah meskipun sebenarnya itu salah satu alasannya tapi kemarahannya terhadap dirinya sendiri jauh lebih mendominasi saat ini. Kenapa ia tak bisa bersikap dengan seharusnya pada namja manis tersebut? kenapa dirinya hanya menorehkan luka dan ketakutan pada namja manis tersebut? Kenapa ego sialan yang ada dalam dirinya tak bisa dikendalikan dengan baik? Apakah ia harus menyerah dan membiarkan namja manis itu untuk mendapatkan kebahagiaannya sendiri? Atau dia masih harus berjuang? Banyak hal berkecamuk di benak Taehyung hingga tanpa disadarinya namja manis yang sedari tadi diperhatikannya juga tak sengaja menatap ke arah dirinya.

"Jimin-ah..."

"Taehyung-ah..."

TBC

Maaf banget buat very late update, terus ceritanya makin absurd dan nggak jelas. Tapi ini bakal dibikin jadi alur lambat (?) jadi yah lumayan panjaaanggg. Dan juga maaf karena nggak bisa update chap ini sampe 7k+ word. Gumawooo buat yang udah review, I Love You All Chu~ Chu~ Chu~

Warm hug and kiss (?) from author ^^