FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rated : T

Length : Part (On Going)

Desclaimer : Hak Cipta dilindungi Tuhan Yang Maha Esa ^^

A/N : Aku minta maaf atas keterlambatan Updatenya selama 4 bulan ini! Astaga, lama banget yak. Sumpah, otakku stuck. FF orang juga banyak yang belum aku review *curhat*

Tapi sekarang aku balik lagi, semoga masih ada readers yang masih setia menanti ceritakku yang udah kadaluarsa(?) ini

.

OK, Happy Reading!

.

.

Part 27

.

.
Author POV

.

Waktu seolah berhenti, lagi-lagi kesunyian menyelimuti mereka, Hongki dan Wonbin.

Wonbin pun tetap pada posisinya semula, merendahkan tubuhnya dihadapan Hongki, sementara Hongki tetap diam tanpa ada sedikitpun respon atas sikap Wonbin.

"Kau… benar-benar…" bahkan bicara pun terasa sulit bagi Hongki. Semua emosinya telah keluar, bahkan air matanya. Tak bisa ditebak apa yang akan dilakukannya saat ini.

Dan tak berapa lama kemudian ia pun menarik tangan Wonbin untuk kembali berdiri. Wonbin pun hanya bisa terdiam pasrah dengan apapun yang dilakukan Hongki.

"Dengar," Hongki menghela nafas. "Kau memang bodoh. Tapi ternyata aku pun tidak kalah bodohnya denganmu" kini bibir tipis itu tertarik kebelakang, memperlihatkan senyum tipis yang sulit untuk dijamak mata.

"Hongki?" Wonbin pun masih saja diam tanpa tahu harus berbuat apa lagi.

"Padahal aku sudah tahu semuanya, aku pun tahu sifatmu yang sok baik itu. Tapi kenapa tetap saja aku marah? Aku… mengapa aku tidak bisa mengerti dirimu…" wajah Hongki tertunduk. Suara yang keluar lebih terdengar seperti isakan.

"Kita ini laki-laki macam apa yang hanya menyelesaikan masalah saja sampai menangis seperti ini" gumam Hongki.

"Kau benar Hongki" kali ini giliran Wonbin yang mencoba untuk mengangkat wajah Hongki. Dilihatnya setetes air mata kembali membasahi wajah yang lebih kearah cantik milik sahabatnya itu.

"Kau ingat saat kau marah pada Jonghun karena kau pikir ia tidak mau mengerti keinginanmu untuk ikut audisi? Kau ingat apa yang kukatakan padamu?" Tanya Wonbin dengan senyum tipis.

Hongki mengangguk lemah.

"Jonghun tidak mengijinkanmu justru karena ia paling mengerti dirimu. Ia tidak mau kau terpuruk kalau keinginanmu tidak berjalan mulus sesuai pikiranmu" Wonbin kembali mengulang kata-katanya yang pernah ia ucapkan untuk Hongki beberapa tahun lalu.

"Kurasa kau pun seperti itu, sekarang aku mengerti. Jangan merasa berdosa karena kau sudah membenciku mati-matian, kau bukan membenciku. Kau seperti ini karena kau paling mengerti diriku," Wonbin tersenyum tipis. "Kau tahu bagaimana sifatku yang suka merendahkan diri, karena itu kau membenciku. Bukankah kau ingin aku sadar agar aku tidak lagi merendahkan diri seperti itu?"

"Kau itu benar-benar… Kau sudah tahu bagaimana sifat jelekmu itu dan kau tetap melakukannya, aku benar-benar tidak habis pikir padamu Wonbin-ah," suara Hongki semakin terdengar berat. "Bahkan sampai sekarang pun kau tetap seperti itu, dasar Silly" Hongki tersenyum kecut.

"Kalau begitu," Wonbin pun ikut berusaha untuk tersenyum. "Aku minta maaf, sekali lagi aku benar-benar minta maaf padamu Lee Hongki"

"Apa kau minta maaf karena ingin kembali padaku?"

Wonbin pun tergelak pelan, "Mungkin aku lebih ingin kembali pada Jonghun, Jaejin dan Minhwan. Aku hanya tidak mau bermasalah dengan seorang Lee Hongki"

Bibir Hongki pun mengerucut mendengar ucapan Wonbin.

"Karena itu sangat menyakitkan. Benar-benar menyakitkan sampai aku takut untuk berpisah dengannya lagi" ucap Wonbin menyelesaikan kata-katanya.

Hongki pun tersenyum simpul, "Kau seperti wanita yang ingin kembali kepada Kekasihnya, aigoo, kau pikir aku bisa memaafkanmu?"

"Ya?" Wonbin kembali menoleh heran kearah Hongki.

"Aku tidak akan bisa memaafkanmu kalau kau pun belum bisa memaafkanku. Wonbin-ah, maafkan aku juga selama ini" dan suara Hongki semakin mengecil diakhir kalimat. Itu pertanda bahwa dia benar-benar malu.

Wonbin hanya bisa tersenyum dan terkekeh pelan pertanda ia sudah sangat mengerti bagaimana Hongki. "Jadi… apa sekarang kita sudah berbaikan?" senyum Wonbin dengan polosnya.

Hongki pun hanya mendengus dan kembali menunjukkan raut wajah kesal, "Apapun katamu" dan Hongki pun berjalan mendahului Wonbin dengan wajah tertunduk menyembunyikan semburat merah yang telah mendominasi wajahnya.

.

.

Miki POV

.

"Kazu, kita disini hanya tinggal dua bulan lagi ya?" tanyaku santai sambil melirik kearah Kalender meja. Kazu yang ada disampingku pun hanya mengangguk pelan.

"Kenapa? Sepertinya kau tidak ingin dua bulan ini cepat berakhir" sahut Kira yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Aku pun hanya menghela nafas dan menyalakan TV dengan malas.

"Tidak apa-apa" sahutku singkat dan berpura-pura untuk fokus kearah TV.

"Sebenarnya aku pun tidak ingin dua bulan ini cepat berakhir" ucap Kazu yang langsung membuatku menoleh spontan kearahnya.

"Kenapa?" tanya Kira lagi.

"Hm.. mungkin ini terdengar egois, tapi aku belum bisa memikirkan kalau nanti aku akan benar-benar berpisah dengan Jonghun" ucap Kazu sambil menyembunyikan setengah wajahnya dibalik bantal.

"Hah.. benar juga, lagipula sekarang hubunganmu dengan Jonghun benar-benar sedang dalam kondisi terbaik. Dasar orang yang sedang jatuh cinta" kini Kira ikut menghempaskan tubuhnya diatas sofa dan duduk disamping kananku. Sementara bisa kudengar gumaman-gumaman tak jelas dari arah kiriku, tempat Kazu.

"Kau sendiri bagaimana?," kali ini giliran Kira yang kutanya. Ia sendiri pun langsung menatap bingung padaku. "Hubunganmu dengan Hongki Sunbae" lanjutku lagi.

Kira pun terdiam memalingkan wajahnya. Sepertinya memang ada masalah dengan mereka, aku sudah hapal betul gelagat Kira. Kalau sudah seperti ini pasti terjadi sesuatu diantara ia dan Hongki Sunbae.

"Iya sudahlah, kurasa ini bukan waktunya untuk membicarakan cerita cinta masing-masing. Lebih baik kita bersantai sekarang, karena sejak kemarin kita banyak tertimpa masalah" ucapku lagi sambil mengambil snack yang ada diatas meja.

Kazu dan Kira pun hanya mengangguki ucapanku.

Namun sebenarnya aku pun ingin seperti mereka, setidaknya mereka sudah memiliki hubungan khusus dengan orang-orang yang mereka sukai. Sedangkan aku? Aku bahkan baru menyadari bahwa aku menyukai Minhwan beberapa minggu ini, dan dua bulan lagi aku akan kembali ke Jepang.

Yah, apa yang bisa kuharapkan? Minhwan jatuh cinta padaku dalam dua bulan? Ash.. jangan bodoh Miki.

.

.

Miki POV

.

"Astaga aku terlambat pulang ke Rumah! Kira pasti akan memarahiku" aku pun segera berjalan menuju kasir dan membayar semua buku-buku yang kubeli. Setelah selesai aku pun langsung berjalan cepat keluar toko buku untuk pulang.

Namun hal yang tak kusangka-sangka terjadi.

"Hujan? Oh tidak, aku tidak bawa payung dan..." kukeluarkan Handphone dari kantung bajuku. "Baterai Handphoneku low, kalau begini aku tidak bisa menghubungi siapapun. Ash.. sialnya" aku menggerutu tak jelas diberanda Toko Buku.

Kuperhatikan orang-orang disekelilingku. Tak ada yang sedang meneduh selain aku, ternyata mereka semua membawa payung. Kenapa bisa begini? Padahal cuaca tadi siang sangat cerah, aku tak habis pikir kalau akan hujan deras seperti ini.

Oh iya!

Ayolah Miki, kau itu sedang berada dinegeri orang. Jelas saja kau tidak tahu apa-apa soal cuaca disini, mungkin orang-orang itu sudah tahu tentang perubahan cuaca di Seoul, karena itu mereka sudah mempersiapkan segala sesuatunya.

"Ukh" aku kedinginan. Sudah tidak bawa payung, aku pun hanya memakai baju tipis tanpa Jacket atau Sweater apapun, hari pun sudah mulai malam. Oh, tentu saja suhu udaranya akan semakin mencekam.

"Hei, kau sedang apa? Apa kau tidak membawa payung?" tiba-tiba saja kudengar suara beberapa orang laki-laki yang berjalan mendekatiku. Dilihat dari penampilannya sepertinya mereka adalah orang-orang yang tidak boleh didekati.

"Kau orang Jepang ya? Baru datang kesini? Haha, sepertinya kau gelisah sekali" salah satu dari mereka menyeringai aneh. Aku pun memundurkan langkahku perlahan, sialnya walaupun ini beranda Toko Buku, tapi tempat ini sepi pengunjung dan tidak ada Security yang mengawasi.

"Ya, kenapa menjauh seperti itu? Kau mau kuantar pulang? Dimana rumahmu?" tanya lelaki lainnya. Kondisi ini semakin tidak wajar, mereka bertiga sepertinya sengaja memojokkanku agar aku tidak bisa lari.

"M-Menjauh" suaraku bergetar. Kalau dalam kondisi biasa mungkin aku masih bisa melawan, tapi aku benar-benar terpojok disini, Handphoneku mati dan tidak ada siapa-siapa. Oh tidak, aku takut. Apa yang akan mereka lakukan?

"Tolong.. menja—"

GREP.

Tiba-tiba seseorang memelukku dari arah samping. Menenggelamkan seluruh tubuhku dalam dekapannya seolah-olah ia adalah Barier yang melindungiku. Aku pun hanya bisa terdiam kaku didalam dekapannya yang terasa hangat.

Tak lama kemudian ia yang masih mendekapku, membawaku pergi menjauhi para lelaki menyeramkan itu.

"Ya! Siapa kau?! Berani-bera—!"

"Jangan sentuh!"

Kembali kutersentak mendengar suara ini. Aku mengenalnya.

Dengan segera saja aku mendangakan wajahku.

"Mi-Minhwan…"

Ternyata benar, aku tak percaya aku tengah berada dalam dekapannya sekarang. Aku melirik kearah para lelaki menyeramkan itu, mereka berdecak sebal dan memandang Minhwan sinis.

Minhwan pun tak memperdulikannya lagi, ia kembali menarikku untuk pergi dari tempat ini. Kami pun masuk kedalam Toko Buku.

.

.

Miki POV

.

Ngggg...

Aku seperti orang bodoh. Hanya bisa melamun menatapnya yang berjalan disampingku.

Minhwan tak bicara apapun lagi setelah menolongku tadi.

Lagi-lagi dia... selalu ada disaat aku membutuhkan seseorang.

"Mmm... itu... terima ka—"

"Kau itu bodoh atau apa sih?!"

Eh?

"Sudah tahu sendirian, kau pun lihat kan mereka orang-orang yang berbahaya. Kenapa hanya diam saja?!"

Apa? Ke-kenapa tiba-tiba dia jadi marah padaku?

Ya! Dia membentakku didepan umum.

"Kenapa tidak berteriak minta tolong atau lari?! Biasanya kau bisa melawan, tapi kenapa tadi hanya diam saja, huh? Kau mau dirimu terluka?!"

Apa-apaan kata-katanya itu, eoh?! Sudah cukup! Kau membuatku kesal Choi Minhwan!

"Kalau tidak suka menolongku, lebih baik tidak usah! Kalau aku bisa melakukan itu semua sendiri, aku pun tidak butuh pertolonganmu!" aku balas membentaknya.

"Ya! Amakura Mi—"

"Iya sudahlah, terima kasih sudah menolongku. Aku minta maaf sudah merepotkanmu!" dengan terpaksa aku pun melangkahkan kakiku meninggalkannya.

Ash, kenapa dia benar-benar menyebalkan?! Padahal aku pikir dia memang berniat untuk menolongku, bagaimana pun juga dari dulu dia selalu jadi penolongku. Dia tidak tahu kalau aku benar-benar terpojok tadi, mana bisa aku melawan!

Aku memikirkannya sampai seperti ini tapi dia malah membentakku dan tidak mengerti apapun!

Ash, fakta memang benar. Orang yang kau cintai bisa jadi adalah orang yang sangat kau benci!

GREP

"Pembicaraannya belum selesai"

DEG

Kembali kuterdiam saat tiba-tiba ia memojokkanku bersandar pada rak buku yang ada dibelakangku. Kedua tangannya menahan tanganku. Posisi ini membuatku benar-benar tak bisa bergerak.

Aku pun hanya bisa terdiam, terlebih lagi saat kutatap pandangan matanya. Ia menatap lurus tajam padaku, pandangan itu serius dan penuh maksud. Entah apa, perasaanku masih rancu memikirkannya.

"Mi-Minhwan..." bibirku sedikit bergetar. Jujur, aku sedikit takut dengan tatapannya. Dengan tiba-tiba ia berubah menjadi pribadi yang tidak bisa kutebak.

Namun tiba-tiba saja cengkramannya pada tanganku kian melunak, dan akhirnya ia melepasnya.

"Iya sudah, tidak apa-apa..." wajahnya sedikit menekuk. "Aku hanya... mengkhawatirkanmu"

DEG

Kali ini aku benar-benar terdiam kaku. Kata-katanya barusan, sungguh tak pernah kubayangkan akan keluar dari mulut ketusnya.

"Tenang saja, " kali ini dia kembali menggenggam kedua tanganku dengan begitu lembut. "Aku akan selalu menolongmu disaat kau membutuhkanku"

DEG DEG DEG

Ini... Bukan... Pengakuan kan?

[nb : adegan ini diambil dari komik 'Fake' karya Nana Shiiba. Karena saat baca ini aku pikir adegannya mirip sama bayanganku, jadi aku jadiin referensi]

.

.

Author POV

.

"Bernyanyi lagi? Oh, sejak festival sekolah waktu itu, guru-guru selalu saja menyuruhku untuk bernyanyi. Padahal ini hanya hobi sampinganku, aku tidak benar-benar mendalaminya" gadis Jepang bermata sipit itu menggerutu saat langkahnya mulai menjauh dari Ruang Guru.

Kira, gadis itu memang tengah terusik oleh permintaan gurunya barusan, yang ingin agar ia bisa tampil menyanyikan sebuah lagu saat perpisahan kelas 3 nanti.

"Tapi kuakui suaramu memang bagus Kira, jelas saja kalau guru-guru itu memintamu. Lagipula bagus juga kalau kau bisa mengisi acara sebelum kepulangan kita ke Jepang" Kazu, sahabatnya hanya tersenyum santai sambil mengiringi langkah Kira.

"Ini semua karena kau dan Miki!" Kira pun menatap sebal kearah Kazu dengan bibir yang mengerucut. Membuat Kazu harus merubah ekspresinya semerana mungkin.

"Ah... aku harus latihan dengan siapa... aku tidak bisa bernyanyi sendiri..." Kira kembali ketopik pembicaraannya. Hal itu membuat Kazu tersadar akan sesuatu.

"Dulu... Wonbin sunbae kan yang selalu melatihmu... itu karena duet kalian..." ucap Kazu dengan nada menggantung. Ia baru menyadari hal itu.

"Kau sadar kan. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana, aku benar-benar tidak bisa bernyanyi sendiri..." nada bicara Kira kian melunak. Sepertinya tersirat juga kesedihan didalam sana, mengingat saat ini ia tengah bermasalah dengan Wonbin.

"Bukankah Hongki sunbae juga pandai bernyanyi?! Pada akhirnya kau pun berduet dengannya kan, lagipula dia juga Vocalist Ba—" Kazu menghentikan ucapannya saat lagi-lagi ia menyadari sesuatu yang seharusnya ia sadari sejak awal.

"Eum... maafkan aku" ucap Kazu pada akhirnya. Bagaimana bisa otaknya berpikir begitu lamban, ia boleh jenius dalam semua mata pelajaran, namun tidak dalam kehidupan nyata.

Padahal ia tahu kalau sahabatnya itu tengah menghadapi masalah dengan kedua orang yang disayanginya, Hongki dan Wonbin. Bahkan hampir seminggu ia tak melihat sahabatnya itu berinteraksi dengan kedua orang itu.

"Kazu! Kira!" suasana hening itu pun pecah saat sebuah seruan terlontar bebas dari gadis Jepang lainnya yang terlihat lebih kecil dari mereka berdua. (Padahal umurnya paling tua :p)

"Kenapa mukamu kusut sekali? Apa yang dikatakan guru?" tanya Miki dengan polosnya saat melihat wajah masam Kira.

"Kalau saja seseorang tidak blak-blakan mengatakan aku bisa bernyanyi, mungkin aku tidak perlu repot mengisi acara perpisahan untuk kelas 3" Kira kembali menggerutu dengan nada menyindir. Namun yang disindir justru terlihat sumringah dengan senyum polosnya. (Benar-benar anak ini...)

"Jadi kau akan bernyanyi?! Wah... kita jadi punya kenangan sebelum pulang ke Jepang kan! Bagus sekali!" Miki mengacungkan jempolnya kearah Kira, terlihat tak menyadari sedikitpun bahwa sahabatnya itu mungkin sedang mengutuknya dalam hati.

"Ah! Kazu, tadi aku bertemu dengan Jonghun sunbae. Ia menyuruhmu untuk datang ke Taman Belakang. Ia sudah menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya" gadis kecil itu malah mengalihkan pembicaraan. (Benar-benar menguras emosi, eoh?)

"Astaga, dia menelponku 3 kali. Handphoneku dalam keadaan Silence, kalau begitu aku akan menemuinya sekarang" namun langkah Kazu terhenti saat Miki menggaet lengannya.

"Aku ikut!" serunya senang.

"He?! U-untuk apa?!" tanya Kazu canggung.

"Aku tidak akan menganggu kalian kok! Aku... ingin melihat seseorang" jelas Miki singkat. Senyum merona tersungging diwajahnya. Kazu pun menghela nafas panjang.

"Sudah kuduga kau akan benar-benar bersama Minhwan" ucap Kazu dengan nada tajam. Ya, Kazu dan Kira memang menyadari ada yang berbeda dari hubungan Miki dan Minhwan beberapa hari ini. Seperti telah terjadi sesuatu diantara mereka.

"Bisakah kalian mengurus percintaan kalian masing-masing berdua saja? Dan jangan membuat keributan didekatku" sindiran Kira pun memutus begitu saja obrolan kedua sahabatnya itu. Kazu hanya bisa tersenyum getir dan langsung membawa Miki pergi dari hadapannya.

Huh... hubungan persahabatan yang aneh.

.

.

Kira POV

.

"My heart is beating,

You have taken my heart.

I will tell you now,

I will be brave,

May I love you now?"

"Ash... tetap saja tidak terdengar bagus!" aku mengetuk-ngetuk kepalaku frustasi. Ternyata aku memang tidak bisa bernyanyi sendiri, terlalu canggung kalau hanya mendengar suaraku sendiri.

Tidak bisa kupungkiri, aku membutuhkan Hongki... atau mungkin Wonbin...

"Bagus sekali" aku pun mendangak saat mendengar tepukan pelan dari arah lain. Mataku pun terbelalak saat melihat seseorang yang berjalan menghampiriku dengan senyum yang terlihat bangga.

"Itu sudah bagus kok, hanya saja suaramu masih bergetar. Sepertinya kau benar-benar gugup" Wonbin tersenyum tipis, dan kini ia sudah duduk disampingku.

Aku pun hanya bisa terdiam mengalihkan pandanganku. Kejadian tempo hari saat tiba-tiba Hongki memukulnya dan membawaku pergi benar-benar membuatku merasa tidak enak padanya.

"Ng... maaf, sepertinya aku harus pergi"

"Apa aku mengganggumu?" langkahku pun terhenti seketika. Rasanya hatiku mencelos begitu saja. Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak tahu harus bicara apa kalau bertemu denganmu.

"Ma-Maaf..." ucapku gemetar. Aku pun membalikkan badan perlahan kembali menatapnya.

"Maaf?" Wonbin terlihat bingung.

"Kejadian waktu itu... tolong maafkan Hongki..." ucapku pada akhirnya.

"Hmpht, kau benar-benar menyayanginya ya... sampai-sampai kau yang memintaku untuk memaafkannya" Wonbin tersenyum miris. Perasaan tidak enak pun kembali menggandrungiku.

"Tapi... kau tidak perlu meminta maaf. Kami sudah membicarakan semuanya"

Aku pun terperangah mendengar apa yang barusan ia ucapkan.

"Apa... maksudmu?"

"Yah, hasil pembicaraan kami berdua waktu itu..." Wonbin tersenyum tipis. "Masalah kami sudah selesai, kau tidak perlu memikirkan apapun lagi"

"Apakah itu berarti..." aku terbelalak tak percaya. Benarkah yang ia katakan? Apa itu artinya... mereka sudah berbaikan?

"Wonbin-ah, benarkah?" rasaya aku begitu senang sampai-sampai ingin menangis. Padahal ini masalah diantara mereka dan aku hanyalah orang baru, tapi... mendengar dua orang yang kusayangi bisa bersatu lagi seperti ini membuatku...

"Wonbin-ah, terima kasih" aku tersenyum puas, perasaanku benar-benar baik. Aku tak menyangka akhirnya saat-saat ini datang juga.

"Hmph, kenapa pakai terima kasih? Ini memang hal yang seharusnya kami berdua lakukan sejak dulu" ia berjalan mendekatiku, aku pun mendangak memandang tubuhnya yang lebih tinggi dariku.

"Akhirnya kau bisa tersenyum lagi, perasaanku benar-benar kacau saat melihatmu terus-terusan murung sejak tahu masalahku dengan Hongki"

Aku hanya bisa terdiam tak tahu harus menjawab apa. Wonbin pun tak bicara lagi, namun ia menggenggam kedua tanganku dengan erat. Perasaan ini sama seperti saat kami bersama dulu, mungkinkah ia sedang menahan perasaannya lagi sekarang.

GYUT

Aku pun berbalik menggenggam tangannya, sementara Wonbin yang terkejut langsung menatapku bingung. Aku pun tersenyum tipis.

Wonbin-ah, maafkan aku. Hanya ini yang bisa kulakukan, aku memang menyayangimu, tapi tetap saja yang kucintai hanya Hongki.

Namun bagaimanapun juga aku bersyukur pernah memilikimu, aku tidak akan menyesal atas waktu itu. Wonbin-ah... terima kasih.

.

.

Author POV

.

Tubuh itu hanya bisa diam menahan perasaannya, senyum samar tersungging dari bibir tipisnya. Emosinya masih ada, namun perasaan yang lain telah mengalahkannya. Hongki pun menyisir asal surai coklatnya dengan jari-jari lentiknya, kemudian mengusap-usap kepala bagian belakangnya tanpa tujuan.

Mungkin kalau dirinya yang dulu, ia pasti sudah menghampiri Wonbin disana dan menghajarnya habis-habisan. Namun kini ia mencoba mengerti, mengerti akan perasaan sahabatnya itu.

"Hmpht, dasar Silly... lebih baik aku pergi sekarang. Sepertinya aku salah waktu"

Hongki pun membalikkan langkahnya dan perlahan bayang tubuhnya mulai menghilang, menjauh dari tempat Wonbin dan Kira yang tengah tersenyum satu sama lain.

.

.

Author POV

.

"Astaga..." seorang gadis Jepang bertubuh kecil kini tengah menatap jengah tumpukan-tumpukan barang dihadapannya.

"Cho Songsaenim ada-ada saja, dengan terpaksa aku harus mengatur barang-barang ini" Miki pun mengangkat 1 kardus buku yang dititipkan oleh seorang Guru setelah mata pelajarannya usai tadi.

Bagi murid-murid lama SMA MyeoungDam, sudah pasti mereka hapal dengan gelagat para Guru mereka. Termaksuk Cho Songsaenim yang terkenal usil dan suka menyuruh-nyuruh siswa untuk mengembalikan bahan-bahan ajaran ke perpustakaan, ruang guru bahkan Gudang penyimpanan buku seperti yang sedang Miki lakukan saat ini.

Miki yang notabenenya masih berstatus murid baru walaupun sudah beberapa bulan berada di MyeoungDam, tentu saja tidak tahu soal sifat usil Gurunya itu. Karenanya ia bisa tertangkap dengan mudahnya untuk mengembalikan buku-buku itu ke Gudang penyimpanan buku.

"Sial, begitu aku menengok kebelakang ternyata mereka semua sudah pergi. Mereka pasti tahu kalau Cho Songsaenim akan menyuruh mengembalikan barang-barang ini" gerutu Miki sambil melirik-lirik tempat yang kiranya adalah tempat dari buku-buku lama itu.

"Bahkan Yoona dan Soeyeon juga meninggalkanku! Aish, dimana tempat buku-buku ini?! Songsaenim bilang taruh dilemari coklat, sedangkan semua lemari disini warnanya coklat!" Miki mulai menggeram kesal. Jelas saja, 15 menit lagi pelajaran selanjutnya akan dimulai, sedangkan ia masih harus mengatur 1 dus buku-buku pelajaran yang ia bawa ke Gudang.

"Hufth, aku taruh disini saja dulu. Biar kubuka isi lemari ini satu-satu" Miki pun menaruh dus buku itu diatas tumpukan-tumpukan dus lainnya, namun tak sengaja dus itu menyenggol beberapa buku yang berperan sebagai penahan agar dus-dus yang lain tidak berjatuhan.

Merasa tumpukan dus yang ada dibelakangnya bergoyang, Miki pun reflek langsung membalikkan tubuhnya. Matanya membelalak lebar saat melihat 3 buah dus buku yang melayang bebas kearahnya.

BRUGH

Miki mengerjapkan matanya. Ia bernafas lega saat ia tahu ia terlepas dari accident terjatuhnya dus-dus buku itu.

"Kau tidak apa-apa?"

Namun tubuhnya kembali membeku saat ia menyadari bahwa kini ia tengah berada dalam dekapan seseorang.

"Mi-Min..." lagi-lagi ia dibuat terkejut bukan kepalang saat menyadari Minhwanlah yang menyelamatkannya barusan.

"Kenapa? Kau terluka?!" Minhwan pun ikut panik saat melihat respon Miki yang terkejut memandangnya.

"Ti-Tidak... aku..."

Kini keduanya tak saling bicara. Mereka tersadar bahwa posisi mereka saat ini tak terpaut oleh jarak lagi. Tubuh Minhwan yang lebih besar dari Miki, kini tengah menimpa tubuh kecil gadis Jepang itu. Miki pun tidak bisa bergerak.

Jantungnya berdebar hebat saat hidung mereka bersentuhan, Miki benar-benar tidak bisa menahan perasaannya lagi.

Minhwan yang perasaannya tak kalah berdebar pun tak bisa memikirkan apapun lagi. Entah kenapa pandangannya seolah dibuat buta oleh keberadaan gadis Jepang yang sukses membuat perasaannya campur aduk satu bulan ini.

Tanpa sadar Minhwan pun semakin mendekatkan wajahnya kearah gadis Jepang itu. Nafas keduanya tersengal akibat kerja jantung yang tidak biasanya. Namun entah kenapa suasana disekitar langsung terasa hening saat mereka bisa merasakan deru nafas satu sama lain.

Ya, entah sejak kapan bibir keduanya telah terpaut satu sama lain. Miki memejamkan mata saat merasakan sentuhan hangat dibibir tipisnya. Tak menolak atau apapun, ia seolah menerima apapun perlakukan Minhwan.

Dan Minhwan pun tak bisa lagi menahan perasaannya. Ia hanya mengikuti apa kata hatinya, dihadapannya hanya ada Miki dan ia merasa seperti ingin memiliki gadis Jepang ini seutuhnya.

.

.

"Kenapa anak itu lama sekali?" seorang guru muda berpapan nama Cho Kyuhyun terus menggerutu ditengah-tengah perjalanannya menuju gudang penyimpanan buku.

Memang dasar sifatnya yang usil atau karena dia benar-benar lupa, ia baru sadar bahwa buku-buku yang ia suruh Miki kembalikan ke Gudang tadi akan dipakainya lagi untuk mengajar di kelas 1-C.

Ia pun menyuruh Minhwan untuk menyusul Miki ke Gudang penyimpanan dengan maksud mengambil buku-buku itu kembali. Tapi entah apa yang terjadi, Minhwan tak kunjung kembali kekelas setelah 15 menit berlalu.

"Ng? Itu Amakura Miki kan?" Kyuhyun memicingkan matanya saat melihat seorang gadis Jepang yang baru keluar dari Gudang penyimpanan Buku. Dengan segera ia pun menghampiri anak didiknya itu.

"Amakura, dimana Choi Min—" ucapan Kyuhyun terhenti saat ia melihat raut wajah Miki yang tersipu malu. Semburat merah memenuhi rona pipinya.

"O-oh, Song... saenim..." Miki pun sepertinya baru menyadari bahwa gurunya itu sebenarnya sedang mengajaknya bicara.

"Mmmm, aku... kalau begitu aku permisi" bukannya menjawab pertanyaan Kyuhyun, Miki justru berpamit salam padanya. Kyuhyun semakin mengerenyit saat melihat Miki yang terus saja memeggang bibirnya sejak tadi dengan tingkah aneh.

"So-Songsaenim?!" Kyuhyun pun spontan menoleh kearah seorang anak didiknya lagi yang tak lain adalah Choi Minhwan. Raut wajah Minhwan juga tak jauh beda dengan Miki.

Senyum Evil pun tersungging dibibir tebalnya. Ia tahu telah terjadi sesuatu diantara kedua anak muridnya tadi, namun Kyuhyun lebih memilih diam dan tertawa dalam hati.

'Dasar anak jaman sekarang' tawanya dalam hati.

.

.

Kira POV

.

With one last goodbye, I send you with my love
Still my love fails a bit
I cannot hold you

Now even though I haven't met you in a long time,
During that time, with the love I gave you,
You can remember

Mulutku kembali mengatup saat arti dari bait lirik barusan membuatku tersadar akan sesuatu. Benar saja, ini adalah lagu yang pernah kubawakan bersama Hongki.

Seharusnya aku membawakannya bersama Wonbin, namun karena sesuatu hal... dan lagi, aku lebih bersyukur aku menyanyikannya bersama Hongki waktu itu.

Setidaknya kami punya kenangan akan lagu ini.

Haengbokkae... Be Happy...

Berbahagialah... walaupun arti dari lagu ini sebenarnya adalah... Perpisahan akan Cinta...

::Flash Back::

"Moshi-moshi, Okaa-san?" sahutku saat mengangkat panggilan dari Keluargaku di Jepang. *Okaa-san : Ibu*

"Kira? Bagaimana kabarmu? Sekolahmu baik?" tanya Ibu diseberang sana.

Aku pun tersenyum mendengar suaranya yang sangat kurindukan, "Iya, aku baik-baik saja. Bagaimana kalian disana? Aku merindukkan kalian"

"Kami semua baik, Okaa-san juga merindukanmu. Bukankah hanya tinggal dua bulan lagi? Kau akan kembali ke Jepang kan?"

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Sedikit terkejut, bukan karena aku lupa. Tentu saja aku ingat kalau aku tidak akan selamanya tinggal disini, namun... dia seolah membuatku lupa akan statusku yang hanya sebagai murid pertukaran selama setengah tahun disini.

Tentu saja aku harus pulang, dan itu sebentar lagi.

"Ehm, dua bulan lagi. Aku akan pulang" aku pun tersenyum tipis.

"Baiklah kalau begitu, Okaa-san menunggumu disini. Hati-hati disana, jaga dirimu. Okaa-san akan meneleponmu lagi. Oyasumi Nasai Kira-chan"

Aku pun menganggung dengan senyum tipis, "Oyasumi, Okaa-san"

Pembicaraan kami pun terputus berbarengan dengan tertutupnya Handphone Flip-topku. Pikiranku kembali gundah, aku ingin sekali kembali dan bertemu Keluargaku di Jepang. Tapi...

"Hongki..."

::Flash Back END::

Tears formed whenever I think of that painful time
Being with you for a moment, waiting for my future life extremely is
A present

"Kkkh..." aku tak bisa meneruskannya lagi. Sakit, this is truly my painful time.

Kenapa disaat seperti ini hubungan kami justru merenggang? Bagaimana bisa aku pulang dengan tenang kalau perasaanku tetap saja seperti ini.

Aku ingin Hongki...

My love I yell, I shout, my love I cannot see
Someday the way which holds difficulty will come, I pray

DEG

Su-suara ini...!

My love, just hearing your name I cry, my love
Wherever you are, until I come back be happy

"Hongki..." dengan cepat aku pun membalikkan tubuhku. Hatiku benar-benar tercekat saat melihatnya berdiri disana dan tersenyum kepadaku.

I'm happy
My important memories are with me
I could never change those memories with something else
My needs for relief, I will always protect you
I love you

Aku hanya bisa terdiam. Rasanya sekujur tubuhku berubah menjadi kaku, tak tahu harus bersikap seperti apa, terlebih saat ia berjalan mendekatiku.

Namun sejujurnya, apa yang ingin kulakukan saat ini adalah... memeluknya.

Aku ingin memeluknya dengan erat.

GREP

"Maafkan aku..." ucap Hongki dengan suara pelan.

Aku semakin terbujur kaku saat ia memelukku. Padahal hal itu hanya ada dalam pikiranku, namun ia seolah bisa membaca semuanya. Hongki... kau benar, aku membutuhkanmu seperti ini.

"Maafkan kata-kataku waktu itu. Seharusnya aku bisa percaya pada kata-katamu," ia melonggarkan pelukannya agar wajah kami bisa bertemu. "Kau hanya mencintaiku, hanya seorang Lee Hongki, dan aku percaya itu"

"Hongki..." rasanya seperti ada sesuatu yang hangat menyelimutiku sekarang. Kata-katanya barusan... benarkah ia mempercayainya?

"Hongki, aku juga minta maaf. Aku tidak bisa mengerti bagaimana dirimu, seharusnya aku bersikap wajar terhadap Wonbin, tapi aku—"

CUP

Mataku terbelalak saat bibirnya menyentuh bibirku. Ia membungkam kata-kataku dengan caranya yang selalu membuat duniaku seolah hanya ada satu. Dia.

"Sudah jangan katakan apapun lagi, aku mengerti..." ucapnya dengan nafas berderu. Bisa kurasakan hembusan nafasnya yang menyentuh hidungku.

"Masalahku dengan Wonbin pun sudah selesai. Lebih baik kita lupakan semuanya dan memulainya kembali... aku tidak bisa kalau harus berjauhan denganmu seperti ini terus Kira..." Hongki mengusap kedua pipiku yang merona. Wajahnya masih berada tepat dihadapanku, ia hanya mau menatapku.

"Berjauhan..." tanpa sadar mulutku bergumam saat kusadari apa arti dari kata itu.

"Hongki... kau tahu, sebentar lagi aku..." Hongki pun terdiam dengan tatapan seriusnya. "Aku akan pulang ke Jepang..."

Lagi, rasa sakit ini terasa lagi. Selalu sakit saat kuingat jika aku harus berpisah dengannya.

"Kira..." kini ia mengusap rambutku. "Sudah kubilang aku tidak bisa berjauhan denganmu dalam waktu lama..."

"Tapi Hongki, bagaimanapun juga aku harus pulang! Aku punya keluarga disana, dan aku merindukkan mereka semua! Aku pun merindukan negara asalku!" tanpa sadar nada bicaraku malah meninggi. Bukan karena aku marah, justru ini semua karena aku takut.

Aku terjebak dalam situasi yang membuatku frustasi. Disatu sisi aku merindukkan Jepang, dan disisi lain aku pun tak mau meninggalkan Hongki.

"Apa kau mau berjauhan denganku?" tanyanya dengan nada lembut.

"Tidak... aku tidak mau... aku mencintaimu, tapi aku..." aku semakin bingung. "Ah... aku tidak tahu Hongki-ah!" spontan aku pun langsung menenggelamkan wajahku didadanya.

Menahan tangis. Aku benar-benar bingung memikirkannya.

Dan kini bisa kurasakan ia tengah mengusap kepalaku dengan lembut.

"Kalau begitu... kita akan terus bersama..."

"Apa maksudmu?" aku pun menatapnya dengan tatapan bingung.

"Yah, kalau begitu kita bersama saja. Toh kita tidak bisa saling berjauhan kan" ia tersenyum enteng. Senyuman yang menjadi titik point utama dari seorang Lee Hongki.

"Bagaimana bisa? Jepang dan Korea kan—"

"Aku akan ke Jepang"

"Eh?"

Mataku semakin membelalak saat mendengar jawabannya.

"Sudah kuputuskan, aku akan melanjutkan sekolahku di Jepang. Orang tuaku pun sudah mengijinkannya, jadi kita akan tetap bersama"

"Ho-Hongki... kau serius?" aku semakin tak percaya dengan semua jawabannya.

"Ya! Apa kau tak mempercayaiku? Aigoo.. gadis yang cuek terhadap lelaki sepertimu mana bisa aku biarkan. Hanya aku yang bisa menaklukkan hatimu kan! Aku tidak mau saat kau pulang ke Jepang nanti, ada laki-laki Jepang yang menaklukkan hatimu! Kau itu sudah jadi milik laki-laki Korea, Kira!"

Aku hanya bisa terdiam mendengar ucapan anehnya. Sesaat kemudian aku pun tertawa.

"Haha, kau ini. Siapa bilang aku milikmu? Aku kan milik orang tuaku!"

"Kalau begitu aku akan minta izin pada orang tuamu, bahwa aku akan memilikimu" ia pun tersenyum dan mengacak-acak rambutku.

"Hahaha, bahkan kau belum lulus SMA. Simpan dulu impianmu itu untuk beberapa tahun lagi" aku tersenyum tipis.

"Yah! Lama sekali!" ia pun kembali menggerutu.

"Tenang saja, untuk seorang Lee Hongki... aku akan menunggumu sampai kapanpun"

Mata kami kembali bertatap dalam. Ia pun tersenyum mendengar ucapanku, begitu juga aku yang merasa terlalu bahagia dengan semua yang kumiliki ini. Dalam sekejap ia mengambil segala kegelisahanku tadi.

Ia pun kembali mendekatkan wajahku, dan aku pun menutup mata.

"Ehem, panas sekali disini. Padahal kukira diatap sekolah suasananya akan sejuk sehingga aku bisa tidur, tapi ternyata... musim panas datang lebih cepat disini"

Kegiatan kami pun terhenti saat menyadari kehadiran seseorang.

"Wo-Wonbin-ah..." wajahku sedikit merona malu, Wonbin pasti melihat kami tadi.

"Ya! Ternyata kau ya, aish! Mengganggu acara orang saja!" Hongki pun mendumal sambil mengerucutkan bibirnya.

Sementara Wonbin hanya tertawa puas melihat ekspresi kami berdua, "Hahaha lanjutkan saja, aku penasaran dengan adegan selanjutnya"

"Mwo?! Ya! Silly, kemari kau! Asih, anak ini benar-benar—!"

Kini Hongki dan Wonbin pun kejar-kejaran seperti anak kecil. Aku hanya bisa tertawa senang melihatnya, rasanya seperti mimpi melihat keakraban mereka yang kembali seperti ini.

Tuhan, terima kasih atas segalanya...

Semoga cerita kami tetap dalam jalur yang penuh dengan kebahagiaan

.

.

To Be Continued

.

Buat Readers setia maupun Silent Readers, aku ucapkan banyak terima kasih karena udah mau baca cerita amatir ini. Gak nyangka banget cerita yang udah lumer episode ini peminatnya malah nambah, bahkan lebih senengnya lagi ada yang bilang kalau ini FF FTIsland yang pertama dia baca dan dia langsung suka, kyaaaa gak nyangka!

.

Semoga kedepannya Mr. Cassanova bisa nambah lebih greget lagi. Dan maaf kalau part ini semakin jelek, tapi aku usahakan yang terbaik. Sekali lagi terus dukung aku dan cerita-ceritaku yah! *macam author beneran aja*

.

Hehehehehe Hugs!

.

rienha : kangteuk eoh? hha, molla yo, mianhae chingu, aku belum pernah bkin kangteuk ^^

guest : mian baru bisa update, sankyuu ^^

nanachan : wah, kamu prims yah? hhe ne, ntar aku coba buat lagi cerita lainnya, sankyuu ^^

elissa : krn di part2 sbelumnya banyak scene JogZunya makanya di part ini mreka udah dikurangi, gomawo udah baca ^^

aihara : sankyuu ne ^^