FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort, School Life

Rated : T

Length : Part (On Going)

Desclaimer : Hak Cipta dilindungi Tuhan Yang Maha Esa ^^

.

.

Part 29

.

.

Author POV

.

Percuma aku mencintaimu selama ini,

mungkin perasaanku memang harus kusesali...

Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi semua orang yang berada di Sekolah Internasional MyoungDam. Hari ini adalah hari kelulusan bagi kelas 3 setelah beberapa bulan ini mereka disibukkan oleh ujian maupun test percobaan demi menunjang kemampuan berpikir mereka dalam menghadapi ujian kelulusan.

Dan semua hasil jerih payah itu kini terbayar sudah. Senyum kemenangan terpancar diwajah seluruh siswa-siswi MyoungDam yang telah menerima sertifikat kelulusan mereka.

"Hongki sunbae... Jonghun sunbae... kami akan merindukan kalian, selamat atas kelulusannya" ucap beberapa siswi dengan nada sedikit tak ikhlas saat memandang kedua pujaan sekolah yang sedang bercengkrama ria dengan teman-teman seangkatannya.

Yah, bagi kelas 3 yang telah menempuh ujian sulit, saat ini memang saat yang membahagiakan. Tapi tidak untuk para siswi yang kebanyakan telah menjadi fans bagi seorang Lee Hongki dan Choi Jonghun sejak mereka terdaftar menjadi murid sekolah Internasional MyoungDam. Tak banyak dari mereka yang masih tak bisa merelakan kepergian kedua pujaan mereka itu.

"Hongki-ah, lihat fans-fansmu itu. Apa yang akan kau lakukan supaya mereka bisa mengikhlaskanmu pergi?" ledek seorang teman sejawat Hongki dan juga Jonghun yang sedang asyik mengobrol bersama.

"Ah, aku juga tidak rela meninggalkan mereka semua. Apa setelah ini masih ada yang akan memuja-muja ketampananku?" Hongki menghela nafas suram. Bertingkah seolah-olah ia pun ikut merana dengan keadaan yang ada, padahal dalam hati ia tengah berseru senang karena akhirnya ia bisa terbebas dan bisa berhubungan dengan Kira kapan saja.

"Aish, aku berdoa semoga teman kuliahmu di Jepang nanti tidak akan terpengaruh oleh aura Cassanovamu ini" Jonghun mencibir seraya menggeleng-gelengkan kepala jengah dengan sikap Hongki. Namun tak lama kemudian ia tertawa saat melihat Hongki tengah menegerucutkan bibirnya lucu dihadapannya.

"Ya! Jadi kau mau memonopoli gadis-gadis itu sendiri begitu?! Dasar Pinochio ini!" Hongki ikut mengumpat.

"Siapa bilang aku mau memonopoli? Lagipula kita akan kuliah di kampus yang berbeda nanti, aku harap kau tidak menangis meraung-raung karena terpisah denganku, si manja Lee Hongki" Jonghun kembali tersenyum evil seraya menggoda sahabat terdekatnya itu.

"Ya! Aku ini laki-laki mandiri, seharusnya kau yang bersedih karena harus berpisah dengan sahabat terbaikmu ini" Hongki tak mau kalah.

"Aigoo, sudahlah. Tidak akan ada habisnya kalau berdebat denganmu. Lagipula kampus kita masih berada dalam daerah yang sama, aku yakin kita akan tetap bertemu. Oh iya, aku tidak lihat Wonbin, dimana dia?" ucap Jonghun seraya menoleh ke sekeliling tempatnya dan Hongki berdiri.

"Bersama Kira, aku yang yang menyuruhnya"

"Mwo?!" Jonghun terkejut mendengar jawaban Hongki. "Kau yakin?"

Hongki mengangguk mantap, "Kenapa tidak? Dia juga sahabatku. Yah, aku tidak seegois dulu, jangan tatap aku seperti itu. Aku tahu Wonbin juga menyayanginya, jadi kuberikan sedikit waktu padanya untuk bersama Kira sebelum dia pergi ke Singapore. Tapi aku juga tidak bisa lama-lama menahannya, setelah ini aku akan menemui mereka!" kata Hongki dengan ekspresi wajah yang berbeda dengan saat pertama kali ia bicara.

Jonghun hanya bisa tertawa dengan sikap aneh sahabatnya, "Haha, tetap saja egoismu itu datang. Hahaha, syukurlah kalau begitu... akhirnya masalah diantara kita bisa selesai" Jonghun tersenyum.

"Tapi... kurasa salah seorang dari kita justru mendapat masalah baru..." ucapan Hongki kembali menyadarkan Jonghun atas sesuatu. Arah mata mereka berdua pun beralih mencari seseorang lagi 'sahabat' yang bahkan tidak memberi kabar apapun dihari yang membahagiakan ini.

"Hah.. dasar mangnae satu itu. Baik dalam keadaan normal maupun seperti ini, dia memang yang paling menyebalkan. Selalu berisik dengan tingkahnya yang kekanakan itu, tapi disaat punya masalah seperti ini dia malah memendamnya sendiri" ucap Hongki dengan nada setengah kesal. Jonghun pun menepuk pundak sahabatnya itu.

"Sudahlah, kita akan bicarakan ini nanti. Sebelum kepergian Wonbin, kita sudah berjanji untuk berkumpul bersama kan. Kita bisa membahasnya saat itu"

Hongki pun mengangguk mendengar perkataan sahabatnya yang terdengar lebih dewasa daripada dirinya. Jonghun memang sosok yang pantas dijadikan seorang leader bagi mereka semua. Keramaian belum berakhir, Hongki dan Jonghun pun memutuskan untuk berkumpul bersama teman-teman sejawat mereka lagi.

.

.

"Okaa-san, bagaimana keadaannya?" seorang gadis Jepang bertubuh mungil tengah berbicara dengan Ibunya melalui ponsel miliknya. Gadis itu adalah Miki. Raut wajahnya yang terlihat cemas menandakan ia sedang dalam kondisi tidak baik.

"Ehm... aku mengerti. Aku baik-baik saja, sebentar lagi aku akan kembali ke Jepang. Tunggu aku.." gadis itu kembali mengangguk lemah. Sebelah tangannya menggenggam erat rok sekolahnya. Gadis itu benar-benar dalam pikiran setengah kalut.

"Bilang pada Otto-san... dia harus segera sembuh.." setetes air mata pun jatuh membasahi pipinya. Sesaat setelah percakapan terakhir dengan Ibunya, ia pun menutup teleponnya. Kepalanya tertunduk lemah, memberi sedikit waktu untuk hujan air matanya.

"Miki" panggilan itu pun menyadarkan gadis Jepang itu. Dengan cepat ia menghapus bekas air mata sebelum temannya datang.

"Ternyata kau disini? Kami mencarimu. Aigoo.. apa kau tidak mau mengucapkan perpisahan kepada Hongki dan Jonghun sunbae, ayolah~" bujuk Soyeon yang datang sesaat Miki berhasil menyembunyikan air matanya.

"Kupikir kalian sudah menyapanya" Miki hanya tersenyum tipis saat Soyeon dan Yoona menarik tangannya untuk bangkit. Mereka pun berjalan kembali menuju kerumunan siswi-siswi lain.

"Ya, kalau tidak ada kau, kami tidak akan bisa bicara dengan mereka. Aku tahu kau dekat dengan Hongki dan Jonghun sunbae. Kalau ada kau, mereka pasti mau bicara dengan kami" Soyeon tersenyum lebar.

"Aku ingin memberi hadiah kelulusan ini Jonghun sunbae, Kau harus membantuku Miki" timpal Yoona seraya memperlihatkan kado kecil yang ia bawa. Miki hanya bisa tertawa pelan melhat tingkah kedua temannya itu. Sedikit perasaan tidak rela kembali menguasai pikirannya. Ia tidak percaya bahwa sebentar lagi ia akan meninggalkan kedua temannya itu.

Teman yang sudah menemaninya hampir satu tahun di sekolah ini. Miki tersenyum tipis meningat semua kenangan mereka. Ia pasti akan sangat merindukan Yoona dan Soyeon jika sudah kembali ke Jepang nanti.

"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan dibelakang gedung sekolah tadi? Kenapa hanya sendiri?" tanya Yoona, yang membuat senyum diwajah Miki sedikit memudar. Gadis Jepang itu pun menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa. Aku hanya sedang menelepon keluargaku di Jepang" senyum tipis Miki. Yoona dan Soyeon pun hanya bisa mengangguk mengerti. Tak bisa dipungkiri, mereka pun tahu bahwa sahabat Jepang mereka itu tidak akan bersama mereka selamanya.

Suatu saat hari itu akan tiba, hari kepulangannya ke kampung halamannya.

"Ng? Kenapa kalian jadi diam? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" kini Miki balik menatap bingung kearah dua sahabatnya.

"Kau akan pulang sebentar lagi. Setengah tahun itu terasa lebih cepat ya" Yoona tersenyum tipis. Ia pun semakin merapatkan tubuhnya dengan Miki, kemudian merangkul lengan kiri sahabatnya itu.

Disisi lain, Soyeon ikut merangkul lengan kanan Miki. Kini Miki hanya bisa menoleh bergantian kearah dua sahabatnya.

"Pokoknya sebelum kau pulang, kau harus membantu kami untuk mendekati para pujaan itu. Kau tidak boleh meninggalkan kami tanpa kesan apapun, Miki" senyum jahil Soyeon.

"Jadi yang kau maksud kesan itu adalah, aku yang jadi penghubung kalian dengan pujaan-pujaan itu? Ukh, jahat sekali" Miki mempoutkan bibirnya imut. Berpura-pura jenuh menatap kedua sahabatnya.

Namun tak lama kemudian mereka pun kembali tertawa bersama. Mengingat kenangan-kenangan yang telah mereka lalui bersama setengah tahun ini.

"Aku tidak mau tahu, kalau sampai kau melupakan kami, aku akan menerormu dari sini!" ucap Soyeon yang diiringi tawa oleh Yoona.

"Iya-iya, aku mengerti! Daripada membahas masalah itu, lebih baik kita cepat menyusul Jonghun sunbae. Sepertinya dia sudah mau pergi" sahut Miki sambil menarik tangan Yoona, meninggalkan Soyeon.

"Ya! Kalian meninggalkanku, eoh?! Aish, tunggu aku!"

.

.

"Jonghun Hyung bilang dia sudah ada di studio bersama yang lainnya termaksuk Seunghyun. Mereka menyuruh kita agar segera kesana" jelas Minhwan sesaat setelah ia mendapat telepon dari Jonghun.

Jaejin yang baru selesai menyelesaikan beberapa kerjaan OSISnya pun langsung mengangguk, "Baiklah, aku sudah selesai. Maaf ya Minan-ah, kau jadi harus menungguku menyelesaikan ini semua" ucap Jaejin, tersenyum tipis pada dongsaengnya itu.

Mereka berdua pun melangkah keluar ruang OSIS bersama-sama.

"Tidak apa Hyung, aku juga malas kalau pergi sendirian" ucap Minhwan memaksakan senyumnya.

Jaejin pun diam sejenak seraya memperhatikan raut wajah Minhwan. Sedikit rasa ragu menyelebungi saat ia hendak menanyakan keadaan dongsaengnya yang tidak terlihat baik itu.

"Minan-ah," laki-laki yang lebih muda dari Jaejin itu pun menoleh. "Apa kau baik-baik saja?"

Langkah keduanya pun berhenti. Minhwan agak memandang bingung kearah Jaejin.

"Ne? Ada apa Hyung? Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya balik Minhwan.

"Bukankah kemarin Bomi sudah pulang ke Canada? Bagaimana reaksi Ayahmu mengetahui hal itu? Apa... dia marah padamu?" kini nada bicara Jaejin melunak, terdengar seperti seseorang yang mencemaskan dongsaengnya.

Minhwan pun tak langsung menjawab. Sirat matanya berubah sendu seketika, kehilangan sinarnya. Namun tak lama kemudian ia berusaha tersenyum lagi.

"Kau tahu sifat Ayahku kan, kurasa aku tidak perlu menceritakannya lagi Hyung" senyum tipis Minhwan. Mereka pun kembali melangkah di tengah koridor yang mulai sepi itu.

"Aku hanya mengkhawatirkanmu Minan-ah" sahut Jaejin lembut.

Sudut bibir Minhwan pun kembali tertarik tipis, "Terima kasih Hyung. Tapi kau tidak perlu memikirkannya, aku bisa menyelesaikannya sendiri. Lebih baik sekarang kita bergegas, Jonghun Hyung dan yang lainnya sudah menunggu kita—"

DUK

Seketika langkahnya terhenti saat ia menabrak seseorang. Jaejin pun langsung membantu Minhwan dan gadis yang ditabrak Minhwan tadi untuk berdiri.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Jaejin pada gadis itu. Sontak gadis bermata bulat itu pun mengangkat kepalanya menatap Jaejin.

"Onii-san?" ucap Miki setengah terkejut saat tahu ada Jaejin dihadapannya. Namun ia lebih terkejut lagi saat tahu Minhwanlah yang menabraknya tadi.

Mereka sempat menatap nanar satu sama lain. Sampai keduanya berusaha bangkit tanpa bicara apapun.

"Benar tidak apa?" Jaejin yang belum menyadari situasi pun hanya bisa bersikap biasa kepada dua dongsaengnya itu.

"Aku tidak apa-apa Nii-san" senyum tipis Miki kearah Jaejin. Jaejin pun ikut tersenyum melihat keadaan dongsaeng Jepangnya yang terlihat baik itu. Sementara Minhwan tak mau bicara apapun apalagi menatap gadis Jepang yang beberapa hari lalu masih sangat akrab dengannya itu.

"Kenapa masih disini? Kukira kau sudah pulang?" masih tak menyadari sesuatu, Jaejin pun malah mengajak Miki untuk mengobrol.

Miki pun menggeleng, "Tasku masih ada dikelas. Hari ini Kira dan Kazu tidak pulang bersamaku, karena itu aku menghabiskan waktu lebih lama bersama Yoona dan Soyeon tadi" jelas Miki yang berusaha tersenyum seperti biasanya. Walaupun hatinya masih terasa sakit tiap kali melihat Minhwan.

"Ng? Apa mereka ikut bersama Jonghun Hyung dan Hongki Hyung ke studio?" ucap Jaejin yang masih santai mengobrol menanyakan keberadaan Kazu dan Kira.

"Hyung, cepatlah. Jonghun Hyung sudah menunggu" sahut Minhwan yang mulai jengah dengan atmosfir anehnya bersama Miki.

"Kalau begitu kau ikut saja bersama kami ke studio. Aku yakin, Kazu dan Kira juga ada disana"

"Apa?!"

Sontak Jaejin pun langsung menatap bingung kearah Minhwan, sesaat setelah dongsaengnya itu berteriak kaget mendengar ajakannya pada Miki barusan.

"Minan-ah?" Jaejin mengerenyit saat ia mulai menyadari ada yang aneh dengan sikap dongsaengnya itu. Sementara Minhwan –masih dengan raut wajah kesalnya, berusaha menghindari tatapan Jaejin.

"Jangan bicara yang aneh-aneh Hyung. Kenapa kita tidak pergi saja sekarang? Mereka sudah menunggu lama di studio" ucap Minhwan dengan suara teredam.

"Aku kan hanya mengajaknya. Ada apa denganmu Minan-ah?" rasa penasaran Jaejin justru semakin terpancing dengan sikap aneh Minhwan itu.

"Dia benar, lebih baik kalian pergi saja sekarang. Maafkan aku Nii-san, kurasa aku tidak bisa menerima ajakanmu" ucap Miki pelan.

Kali ini Jaejin berbalik menatap Miki, "Eh? Kenapa? Apa kau ada urusan lain?"

"Aku masih harus mengurus kepulanganku ke Jepang"

Seketika suasana hening pun menyelimuti ketiga orang itu. Perasaan aneh kembali bergejolak di hati Minhwan saat mendengar ucapan Miki. Entah kenapa mendadak ia mencemaskan sesuatu.

"O-Oh.. benar juga, kau akan segera pulang ya" Jaejin yang tersadar pun menjadi sedikit salah tingkah. Sejujurnya ia sudah menganggap Miki sebagai adiknya sendiri, sampai-sampai ia melupakan bahwa adiknya itu tidak akan selamanya berada di Seoul. Bahkan belum ada satu tahun mereka bersama, namun Jaejin sudah bisa merasakan kedekatan hubungan mereka semua.

Miki pun tersenyum tipis.

"Kapan kau akan pulang?" nada bicara Jaejin melunak. Kini ia tersenyum teduh kepada dongsaengnya itu.

"Satu minggu lagi" jawab Miki.

Minhwan pun semakin membisu. Perasaan aneh benar-benar bergejolak dihatinya. Tak bisa dipungkiri, ia tidak bisa bersikap biasa mendengar itu semua. Entah kenapa ia benci mendengar soal kepulangan gadis itu ke Jepang. Sangat benci, seolah ia tidak mau berpisah dengan gadis itu.

"Arasso" Jaejin mengangguk. "Sebelum pulang nanti, sisakan waktu untukku ya. Mungkin kita bisa pergi menonton ataupun membeli souvenir untuk kau bawa pulang ke Jepang"

Miki hanya bisa berusaha tertawa mendengar ucapan Jaejin. "Aku mengerti Onii-san"

Keduanya pun tertawa satu sama lain. Sangat berbeda dengan Minhwan yang masih berkutat dengan perasaan anehnya. Hatinya sakit melihat senyum yang terukir dibibir Miki. Bagaimana bisa gadis itu bersikap biasa dengan semua kata-katanya tadi, sementara ia dikelubungi oleh perasaan aneh yang benar-benar menyiksanya sekarang.

'Tidak! Kenapa aku masih memikirkan gadis itu?! Sebenarnya ada apa denganku?!' batin Minhwan.

"Kalau begitu aku permisi. Aku harus segera pulang" ucap Miki.

"Hyung!" dengan cepat Minhwan menarik tangan Jaejin. "Ayo kita pergi" ucap Minhwan dingin.

"Minan-ah, sebenarnya ada apa? Kenapa buru-buru sekali?" Jaejin semakin heran dengan sikap Minhwan. Kini Minhwan pun berbalik, menatap Miki dengan sirat matanya yang dingin. Hanya menatapnya diam dalam sesaat.

Sirat mata Miki pun tak berubah, tetap menatap nanar kearah Minhwan.

"Aku pergi duluan" ucap Minhwan dingin. Ia pun langsung melangkahkan kaki meninggalkan Jaejin dan Miki yang masih diam ditempat.

Jaejin ikut berbalik kearah Miki. Ia pun menyadari ada yang aneh dengan tatapan Miki kepada Minhwan. Sekilas ia berpikir, ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya. Namun menyadari langkah Minhwan yang semakin menjauh, ia pun berpamitan pada gadis Jepang itu dan menyusul Minhwan.

Sementara Miki masih terdiam dengan sirat mata kosongnya. Pikirannya bergeming. Kenapa Minhwan masih saja jadi pusat dari semua rasa sakitnya? Kenapa ia tidak bisa melupakan laki-laki itu? Sekeras apapun ia berusaha melupakan bahkan membenci Minhwan, namun sedikitpun perasaan cinta itu tidak bisa luntur dihatinya.

Ia sangat mencintai Minhwan.

Setetes air mata membasahi pipi putih gadis Jepang itu. Namun dengan segera ia menghapusnya dengan kasar. Ia pun melangkah kembal menuju kelasnya.

.

.

"Minan-ah, aku ingin bicara padamu"

Lamunan Minhwan terhenti saat suara Jaejin menginterupsi kedalam pikirannya. Ia yang tengah merenung sendirian di ruang studio lain pun terpaksa harus menghentikan kegiatan –tak berartinya itu karena kehadiran Jaejin.

"Ada apa Hyung?" sahut Minhwan cuek sambil mulai memainkan Drumnya. "Kau mau bertanya kenapa aku tidak bergabung dengan yang lainnya? Aku hanya bosan Hyung" ucapnya menebak-nebak apa yang ingin Jaejin bicarakan.

Namun sirat mata Jaejin kali ini benar-benar serius, "Aku tidak akan berbasa-basi seperti itu Min"

Minhwan pun mengangkat wajahnya menatap Jaejin saat menyadari nada bicara Jaejin yang terdengar serius.

"Sebenarnya ada masalah apa diantara kau dan Miki?" tanya Jaejin langsung.

"Masalah? Apa yang kau bicarakan Hyung? Aku tidak mengerti" Minhwan masih berpura-pura cuek.

"Jangan mengelak Minan-ah. Aku tahu ada yang aneh dengan kalian berdua tadi sore, kenapa kalian tidak saling bicara dan malah menatap dingin satu sama lain?" Jaejin semakin mendesak.

Minhwan pun menghela nafas panjang, "Bukankah aku dan dia memang seperti itu? Kalaupun kami bicara, kami hanya akan bertengkar kan? Bukankah kau tahu bagaimana kami? Jangan bertanya yang aneh-aneh Hyung, aku malas mendengarnya"

"Kau yang aneh Min! Jelas-jelas kau menyukai gadis itu tapi sikapmu malah bertolak belakang seperti ini. Kenapa kau selalu mengelak?"

Minhwan pun menghentikan permainan Drumnya sesaat kemudian.

"Kau ini bicara apa sih Hyung?! Sudah kubilang aku malas membicarakan hal-hal tidak penting seperti ini. Jangan mengada-ngada, tahu apa kau soal perasaanku?!" nada bicara Minhwan meninggi. Bahkan ia tak segan-segan menatap nanar kearah Jaejin, padahal selama ini ia sangat menghormati semua Hyungnya.

"Kau menyukainya Min, aku tahu itu. Bukankah kau tidak suka melihat kedekatanku dengan Miki? Bukankah kau yang paling khawatir saat ia hilang di jurit malam Kyoto? Bukankah kau yang selalu ada untuk gadis itu saat ia membutuhkan pertolongan?"

"Hyung, hentikan ucapanmu"

"Kenapa kau masih mengelak? Kenapa kau tidak jujur pada perasaanmu Min—"

"Kubilang HENTIKAN!" Stick Drum itu terbanting keras kelantai. Sorot mata Minhwan semakin tajam kearah Jaejin. Namun laki-laki berwajah manis itu justru berbalik menatap Minhwan lebih tajam lagi.

"Kenapa kau bisa yakin bahwa aku menyukainya? Kenapa kau bisa bersikap seolah-seolah tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya?" ucap Minhwan dingin.

"Kau yang membingungkan Min. Padahal kau yang punya perasaan itu, kenapa justru kau yang tidak menyadarinya sedikitpun? Hanya dengan melihat sikapmu selama ini, aku –bahkan Jonghun Hyung dan Hongki Hyung pun tahu bahwa kau menyukainya" balas Jaejin lagi.

Hati Minhwan pun semakin terasa panas. Semudah itu Jaejin mendeklarasikan perasaannya, bahkan Hyung-hyungnya yang lain pun tahu. Padahal ia sendiri saja sampai berkutat keras dengan semua perasaan anehnya selama ini.

"Arrgh!" dengan penuh emosi, Minhwan membanting tubuhnya duduk diatas kursi Drummerna. Ia menjambak rambutnya dengan kasar.

"Kenapa kau bisa menyadarinya semudah itu Hyung?! Sedangkan aku sampai seperti ini masih belum bisa menentukan bagaimana perasaanku..." wajah Minhwan tertunduk dibalik Drumnya.

"Minan..." nada bicara Jaejin melunak, ia pun mendekatkan diri kepada dongsaengnya yang terlihat rapuh itu.

"Aku sudah menyakiti perasaan Bomi Hyung... dan aku pun sudah menyakiti perasaannya... kenapa aku sebodoh ini? Bahkan orang lain lebih bisa menyadari perasaanku.." suara Minhwan bergetar. Sungguh, ini adalah pertama kalinya ia merasa serumit ini. Cinta benar-benar membuatnya seperti orang bodoh.

"Minan-ah, aku mengerti.. menerima perasaan aneh yang asing bagimu ini pasti terasa sangat sulit. Selama ini kau banyak disukai oleh semua orang, namun kau sendiri belum tahu apa itu artinya suka. Sampai akhirnya kau merasakannya sendiri sekarang" Jaejin tersenyum tipis seraya mengusap-usap kepala Minhwan dengan sayang.

"Apa... yang harus kulakukan Hyung?"

"Kau menyukainya kan?"

Minhwa kembali terdiam. Kini ia berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan perasaanya. Dan tiap kali ia berusaha, hanya ada Miki didalam pikirannya. Benarkah yang selama ini ia cintai adalah Miki? Bukankah belakangan ini hubungan mereka sudah sangat dekat, layaknya sepasang Kekasih?

"Ehm..." Minhwan mengangguk pelan. "Lalu aku harus bagaimana sekarang Hyung? Dia bilang dia membenciku"

"Dia membencimu?" Jaejin terkejut mendengar ucapan Minhwan.

"Kami bertengkar hebat beberapa hari yang lalu. Aku terlalu emosi sampai-sampai menyakiti perasaanya sangat dalam, hingga ia membenciku" jelas Minhwan.

"Jika kau memang menyukainya, minta maaflah padanya. Kau masih punya waktu sebelum ia kembali ke Jepang. Perbaiki semua kesalahpahaman ini, dan katakan perasaanmu yang sebenarnya"

Minhwan kembali terdiam mengingat kepulangan Miki ke Jepang. Ternyata perasaan anehnya sejak tadi karena ia tidak ingin berpisah dengan gadis itu. Berpisah dengan orang yang dicintai, bukankah itu menyakitkan?

Minhwan tersenyum miris, lagi-lagi ia lambat menyadari perasaanya yang satu itu.

"Apa aku masih punya kesempatan Hyung? Apa dia akan memaafkanku yang sudah banyak menyakitinya ini?"

"Aku yakin Miki akan memaafkanmu" senyum teduh Jaejin seraya menenangkan perasaan dongsaengnya itu.

"Baiklah... aku akan berusaha memikirkan jalan keluarnya"

Jaejin pun hanya bisa tersenyum lega. Akhirnya Minhwan tidak lagi membohongi perasaannya.

.

.

"Miki, kami minta maaf" Miki mengangkat wajahnya, menatap bingung kearah kedua sahabatnya yang tiba-tiba datang untuk minta maaf.

"He? Ada apa?" bingung Miki seraya menatap Kira dan Kazu bergantian. Kedua gadis Jepang itu pun menatap satu sama lain.

"Maaf, akhir-akhir ini kami kurang menyediakan waktu untukmu. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama..." Kazu bingung untuk melanjutkan kata-katanya. Miki pun menyadari kearah mana kedua sahabatnya itu bicara.

Ia pun hanya bisa tertawa mendengar itu semua, "Hahaha, aku mengerti. Kenapa kalian minta maaf? Hahaha, aku jadi merasa aneh sendiri. Itu kan hak kalian untuk menghabiskan waktu dengan Kekasih kalian masing-masing" tawa Miki.

"Jangan tertawa, kami kan hanya mengkhawatirkanmu. Kami jadi terlihat seperti melupakan sahabat sendiri" ucap Kira dengan bibir mengerucut.

Miki masih terkekeh, "Hhem, iya aku mengerti. Tapi bagiku wajar saja kalau kalian seperti itu, setelah berbagai masalah menimpa hubungan kalian, kenapa kalian tidak menikmatinya sekarang? Lagipula aku tidak marah sedikitpun, aku justru senang kalau hubungan kalian semakin baik" senyum Miki.

Kazu pun langsung memeluk tubuh sahabatnya yang lebih kecil itu. Yah, memeluk memang kebiasaan seorang Uzumi Kazu.

"Arigato, kau itu kadang-kadang bisa jadi dewasa seperti ini ya" ledek Kazu.

"Aish, walaupun aku yang paling kecil, tapi aku yang paling tua diantara kalian, ckckck"

Mereka bertiga pun hanya bisa tertawa satu sama lain.

"Bagaimana kalau hari Sabtu nanti kita bertiga pergi ke Lotte World? Sejak datang ke Seoul, kita belum pernah pergi kesana kan? Kita harus menghabiskan waktu bersama dan membuat kenangan sebelum kita kembali ke Jepang" usul Kazu.

Kira pun mengangguk setuju, "Baiklah, aku juga belum membeli oleh-oleh untuk Keluargaku. Aku jadi tidak sabar untuk menunggu hari Sabtu" senyum gadis cantik itu.

"Betul-betul, pokoknya kita harus menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang sebelum pulang ke Jepang" seru Miki. Mereka bertiga pun kembali terlarut dalam obrolan-obrolan ringan.

Namun perhatian Miki teralih saat dering ponselnya memecah suasana. Ia pun segera mengambil benda itu dan membaca nama yang tertera disana.

'Okaa-san'

"Aku angkat telepon sebentar" ucap Miki yang langsung diangguki oleh Kira dan Kazu.

Kedua gadis Jepang itu pun kembali menonton acara di televisi dengan santai. Sementara Miki berjalan menuju dapur untuk mengangkat telepon.

"Moshi-moshi, Okaa-san?"

Miki pun mendengar suara Ibunya ditelepon. Namun tak beberapa lama kemudian tubuhnya meneggang kaku. Bibirnya bergetar kelu. Sesaat ia tak bisa mempercayai apa yang baru saja dikatakan Ibunya.

"Jangan ganti channelnya, Zu!" gerutu Kira saat Kazu menyentuh remote TV dan bersiap untuk mengganti channel.

"Aku ingin melihat sebentar, sepertinya drama kesukaanku sudah mulai" Kazu masih memohon kepada Kira. Namun ia langsung diam saat gadis cantik itu menatapnya tajam.

"Masih 5 menit lagi" ucap Kira telak.

Kedua gadis Jepang itu pun masih saja bertengkar kecil seperti biasanya. Namun perasaan aneh tiba-tiba menyelimuti mereka saat menyadari keheningan dari arah dapur. Bukankah tadi mereka masih mendengar Miki berbicara dengan Ibunya, kenapa sekarang suasana jadi sangat hening?

Dengan perasaan cemas, kedua gadis Jepang itu pun melangkah menuju dapur. Seketika keduanya bernafas lega saat melihat punggung Miki yang masih berdiri didepan wastafel. Namun mata kedua gadis Jepang itu langsung membelalak saat menyadari suara isakan dari gadis Jepang yang bertubuh lebih kecil dari mereka itu.

Dengan segera Kazu membalikkan tubuh Miki menghadap mereka. Betapa terkejutnya mereka saat melihat air mata sudah membasahi wajah gadis mungil itu.

"Miki, kau kenapa?!" kaget Kira seraya mencengkram pundak Miki. Bisa ia rasakan getaran tubuh Miki, seolah-olah tubuh kecil itu akan segera oleng.

Miki masih tak menjawab. Ia kembali menangis seraya menundukkan wajahnya.

"Miki!" Kazu pun semakin cemas dengan keadaan sahabatnya itu.

"O- Otto-san..."

Seketika kedua gadis Jepang itu pun terdiam kaku, menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi. Isak tangis Miki pun mewarnai keheningan itu.

.

.

"Aku minta ma.. ash, bagaimana cara melakukannya?!" Minhwan mengacak rambutnya frustasi. Sejak tadi ia hanya berjalan mondar-mandir didepan gerbang apartemen milik Miki, Kira dan Kazu. Entah darimana ia mendapatkan kepastian dengan cepat untuk meminta maaf pada Miki.

Setelah mendapat alamat apartemen ini dari Seunghyun –yang juga tinggal di apartemen yang sama, maka keesokan harinya Minhwan pun berniat untuk menemui gadis Jepang itu dan meminta maaf.

Namun pertahanannya mendadak runtuh saat ketidakyakinan kembali mengandrungi pikirannya. Ia sudah bertengkar sehebat itu dengan Miki, sampai-sampai saling mengucapkan benci. Apa dia pantas untuk meminta maaf sekarang.

"Hah.. kenapa aku jadi benar-benar bodoh seperti ini"

Drrrt Drrrt Drrrt

Dengan raut wajah kesal, Minhwan pun mengangkat panggilan masuk di ponselnya.

"Ya! Kau dimana sih? Kenapa tidak datang-datang, aku menunggumu di apartemen! Kau tidak tersesat kan?"

Dahi Minhwan semakin mengkerut kesal mendengar teriakan Seunghyun di telinganya.

"Kau itu berisik sekali, aku sudah sampai tahu. Aku masih ada dilantai bawah, lagipula aku datang bukan untuk bertemu denganmu, tsk" gerutu Minhwan yang langsung membalas ucapan Seunghyun dengan nada kesal.

"Kau sudah ada dilantai bawah? Kalau begitu cepat naik, ada sesuatu yang harus kau—"

"Iya-iya, aku akan segera naik!" tanpa mendengar penjelasan Seunghyun, Minhwan pun langsung memutuskan panggilannya. "Ash, benar-benar berisik"

Tanpa pikir panjang, Minhwan pun memasuki gedung apartemen itu dan langsung berjalan menuju lantai 3, sesuai dengan tempat tinggal Seunghyun dan ketiga gadis Jepang itu.

Minhwan pun sampai ditempat yang ia tuju, dari kejauhan ia sudah bisa melihat Seunghyun bersama dengan Kira dan Kazu. Perasaan gugup kembali menghantuinya, namun ia berusaha melawannya. Ia ingin masalahnya dengan Miki segera selesai sebelum gadis Jepang itu pulang ke Jepang.

"Ya! Kenapa kau memutus teleponku begitu saja?!" lagi-lagi Seunghyun langsung menyambar dengan suara nyaringnya. Minhwan pun hanya bisa berdecak menahan emosinya. Ia pura-pura tak memperdulikan Seunghyun, dan malah melirik kearah dua gadis Jepang yang berdiri disampingnya.

"Nng..." Minhwan sedikit memiringkan kepala untuk mengintip kedalam rumah Kira dan Kazu yang terbuka. Alisnya sedikit mengerut saat tidak menjumpai keberadaan satu gadis Jepang lainnya.

"Minhwan-ah" sontak Minhwan pun menoleh saat suara Kira menginterupsi telinganya. Sedikit rona merah mewarnai wajahnya, ia menjadi salah tingkah.

"Seunghyun bilang kau datang karena ada urusan, ada apa?" tanya Kira. Kazu pun ikut menatap dalam Minhwan.

"Ng... aku..." Minhwan bingung harus memulainya darimana, namun ia berusaha memikirkan yang terbaik. "...Dimana Miki?"

Kira dan Kazu pun saling menatap satu sama lain. Raut wajah mereka terlihat tidak baik setelah mendengar pertanyaan Minhwan. Menyadari hal itu, Minhwan pun ikut menatap bingung kearah kedua gadis Jepang itu.

"Apa kalian berdua punya urusan dengannya? Barusan Seung juga menanyai keberadaan Miki" kali ini Kazu yang berbicara dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Eh?" Minhwan pun menatap Seunghyun dan kedua gadis Jepang itu bergantian. Sementara raut wajah Seunghyun pun mendadak berubah, seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan namun sulit.

"Memangnya dia ada dimana?" rasa penasaran Minhwan semakin menjadi saat menyadari bahwa ada yang salah dengan tatapan Kira dan Kazu padanya. Apakah sesuatu telah terjadi? Sebenarnya dimana Miki? Mengapa sejak tadi gadis Jepang itu tak terlihat?

"Miki..." Kazu pun berusaha menjawab setelah berkali-kali melirik kearah Kira seolah sedang berdiskusi melalui tatapan mata.

"Miki sudah kembali ke Jepang"

Suasana langsung hening saat suara terakhir Kazu terdengar. Tak ada lagi yang bicara. Kedua gadis Jepang itu kembali saling bertatap dalam, sementara Seunghyun hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Lalu Minhwan?

Ia terdiam. Kelopak mata Koreanya membelalak lebar. Ia terdiam kaku, walaupun kini jantungnya berdetak tak karuan. Ia benar-benar tak bisa mempercayai apa yang dia dengar barusan.

"A-Apa...?"

"Dia sudah kembali ke Jepang, Minhwan" Kira pun semakin mempertegas jawaban Kazu.

"Apa kalian bercanda? Bukankah kalian masih punya waktu satu minggu? Kenapa.. lalu kenapa kalian berdua masih ada disini? Sebenarnya ada apa?" semua justru terdiam dengan pertanyaan berbelit Minhwan. Tampak sekali raut wajah gusar di wajah pujaan MyeoungDam itu.

"Dia pasti hanya sedang mengurus kepulangannya kan? Dia akan kembali—"

"Mungkin," dengan cepat Kira memutus ucapan Minhwan begitu saja. "Mungkin... dia tidak akan kembali kesini lagi.."

Minhwan semakin termengu, lelucon apa ini?

"Kenapa dia tidak akan kembali? Sebenarnya ada apa?" nada bicara Minhwan semakin menuntut. Deru nafasnya saling berlomba, ia benar-benar terlihat gusar sekarang.

"Minhwan-ah, sebenarnya itu yang mau aku katakan padamu ditelepon tadi, tapi—"

"Aku tidak bertanya padamu Seung!" Minhwan memutus ucapan Seunghyun begitu saja. Matanya hanya mendelik tajam kearah dua gadis Jepang itu, menuntut sebuah jawaban atas semua kerancuan ini.

"Ayah Miki meninggal" jawaban tegas dari Kira pun memecahkan semua kegusaran Minhwan, sekaligus membuat kegusaran baru dihatinya.

"Me... ninggal..?" bibir tebalnya kini bergetar. Ia lebih tidak mempercayai jawaban barusan dibanding jawaban sebelumnya.

Kira dan Kazu pun mengangguk pelan. "Semalam ia mendapat telepon dari Ibunya soal kepergian Ayahnya. Malam itu juga dia berangkat ke Jepang. Kami pun sangat terkejut dengan berita ini, ini terlalu mendadak, tapi.. memang seperti itulah yang terjadi" jelas Kazu menambahkan.

Minhwan semakin terdiam. Mendadak ia teringat dengan semua senyuman Miki saat gadis itu menyebut-nyebut soal Ayahnya. Ayah yang sangat ia sayangi dan ia rindukan.

"Waktu kecil aku sering merawat lukaAppa"

"1 bulan lagi aku akan pulang. Appa, jemput aku dibandara ya!"

"Kurasa aku lebih cocok bersama Appa. Biasanya anak perempuan akan lebih dekat ke Ummanya, tapi aku tidak. Aku kurang dekat dengan Umma, sejak kecil aku lebih nyaman bersama Appa"

Perasaan dihati Minhwan mendadak miris. Ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Miki sekarang, bukankah gadis itu sangat ingin bertemu Ayahnya? Dan kini... Ayah itu telah pergi meninggalkannya... selamanya... tanpa pernah ia lihat lagi.

"Minhwan-ah, sebenarnya ada urusan apa kau dengan Miki?" Kira kembali bertanya.

"Aku... harus meminta maaf padanya" jawab Minhwan pelan. Wajahnya yang tertunduk pun kini terangkat. "Aku harus minta maaf padanya Kira, aku sudah menyakiti hatinya"

"Minhwan-ah" Kira dan Kazu kini hanya bisa menatap bingung kearah pujaan MyeongDam itu.

"Aku... aku harus bagaimana sekarang... dia tidak akan kembali..."

Hati Minhwan kini terasa bagaikan diremas oleh rantai berduri. Sangat sakit.

Ia benar-benar menyesalo perbuataannya saat itu, ia benar-benar menyesali pertengkaran mereka saat itu. Seharusnya ia bisa menyadari bagaimana perasaannya selama ini, namun ia terlalu munafik untuk mau mengakuinya.

Ia sudah melukai dua orang gadis yang mencintainya dengan tulus.

"Aku sudah cukup bahagia dengan semua keegoisanku hari ini, kau tidak perlu berbuat baik padaku lagi. Aku akan pulang ke Canada sekarang"

"Padahal aku sudah berusaha untuk merelakanmu kalaupun kau lebih memilih tunanganmu itu, tapi... memang tidak seharusnya aku percaya padamu. Bagaimanapun juga kau hanyalah seorang laki-laki yang suka bermain dengan banyak wanita, kau sudah benar-benar melukai perasaanku dan Bomi..."

Mereka berempat pun kini hanya bisa terdiam di lorong apartemen. Kedua gadis Jepang itu dan juga Seunghyun hanya bisa bertatap miris satu sama lain, menyadari bahwa Minhwan kini tengah terlibat dalam hubungan yang rumit.

.

.

Udara malam yang dingin seolah tak berpengaruh apapun terhadap seorang anak laki-laki yang baru saja menginjakkan kakinya di pintu masuk bandara.

Ia menghela nafas panjang sesaat sebelum ia memasuki kawasan itu. Mempersiapkan hati atas semua keputusan mendadaknya ini.

Namun ia yakin, ia tak mau lari lagi. Ia harus mengejarnya, gadis itu.

Gadis yang dicintainya.

Ia harus meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Entah apa hasilnya nanti, ia hanya bisa berusaha dan berharap. Semoga saja semuanya berjalan dengan baik.

Minhwan, anak laki-laki itu pun melangkah masuk kedalam bandara.

Tokyo, aku datang

.

.

"Dasar anak itu..." Jonghun menghela nafas berat setelah berkali-kali ia membaca pesan singkat dari Minhwan semalam. Kazu yang duduk disampingnya pun hanya bisa menatap sendu kearah Kekasihnya itu.

"Dia itu benar-benar—!" Hongki pun ikut naik emosi. "Padahal aku ini Hyung yang selalu menemaninya sejak dulu, kenapa tidak sedikitpun dia menceritakan masalahnya padaku?! Dia itu selalu seperti itu, ash... dasar anak bodoh!"

"Hongki tenanglah!" Kira pun berusaha menenangkan Hongki dan menyuruhnya duduk kembali dikursinya. Keempat orang yang berbeda negara itu kini tengah berkumpul setelah tahu tentang kepergian Minhwan yang mendadak ke Jepang.

Jonghun, Hongki bahkan kedua gadis Jepang itu tak percaya bahwa Minhwan akan sampai mengejar Miki ke Jepang. Bahkan anak itu tidak mengatakan apapun, ia hanya mengirim pesan singkat tentang kepergiannya kepada Jonghun dan Hongki.

Sontak, kedua Hyungnya itu pun termakan emosi saat tahu Dongsaeng kesayangan mereka kini tengah mencoba untuk mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuan Hyungnya. Bukannya mereka ingin marah dengan keputusan Minhwan, mereka hanya kecewa –mengapa Minhwan menyimpan masalahnya sendiri dan membuat keputusan untuk pergi ke Jepang dengan mendadak tanpa membicarakannya lebih dulu.

Jonghun dan Hongki tahu, bahkan Minhwan tidak bisa berbahasa Jepang dan belum pernah mengunjungi Tokyo –Kota yang dipenuhi kepadatan itu. Bagaimana bisa ia menemukan Miki di tempat seperti itu kalau ia saja tidak tahu dimana alamat gadis Jepang itu. Dan sampai sekarang Jonghun belum bisa menghubungi Minhwan, entah dia masih dalam penerbangan ataupun sudah sampai, mereka tidak ada yang tahu.

"Apa aku harus menghubungi Miki dan memberitahukannya bahwa Minhwan sedang berada di Jepang?" tanya Kazu kepada tiga orang dihadapannya.

"Tidak usah. Bukankah Miki masih dalam keadaan berkabung? Kita jangan mengganggunya dalam keadaan seperti ini" jawab Jonghun.

"Lagipula mereka berpisah karena anak bodoh itu sudah menyakiti hatinya. Lebih baik jangan hubungi Miki untuk membicarakan hal-hal mengenai Minhwan. Kurasa hal itu justru akan semakin membebani hatinya saat ini" timpal Hongki dengan kata-kata yang lebih tajam.

Kazu dan Kira pun mengangguk. Mereka juga menyadari bagaimana keadaan salah satu sahabat mereka saat ini. Mereka tahu seberapa dekat hubungan Miki dengan Ayahnya, saat ini perasaan Miki pasti sangat terpukul atas kepergian Ayahnya.

Andai mereka bisa berkumpul bersama dan saling menghibur. Namun sayangnya kedua gadis Jepang itu baru bisa pulang tepat saat hari kepulangan mereka yang seharusnya. Karena kepergian Miki yang mendadak setelah mendapat izin dari pihak MyeongDam maupun Higashi Gakuen, kini Kira dan Kazulah yang harus mengurus semuanya. Mereka harus menunggu sampai hari kepulangan mereka tiba untuk bertemu dengan Miki di Jepang.

"Lalu kita harus bagaimana sekarang? Apa kalian tidak mau menyusulnya ke Jepang?" kali ini giliran Kira yang mengeluarkan suaranya.

"Walaupun kami menyusulnya sekarang, itu tidak akan ada gunanya. Kami sudah tahu bagaimana sifatnya. Lagipula minggu-minggu ini kami tidak bisa pergi jauh karena harus mengurus kepindahan kami juga untuk kuliah di Jepang" jelas Jonghun.

"Setidaknya kita sudah mengirimkan alamat rumah Miki padanya. Tapi sepertinya dia belum membaca pesan itu. Kita baru bisa menghubunginya kalau ponselnya sudah aktif" ucap Hongki.

"Aku pun hanya bisa berharap Minhwan bisa menemukan alamat rumah Miki. Bagaimanapun juga itu pertama kalinya ia ke Tokyo, menemukan sebuah alamat tidak semudah yang dibayangkan untuk kota yang besar dan padat seperti itu" Kazu ikut bicara.

"Setidaknya ia bisa berbahasa Inggris, walaupun tidak banyak orang Jepang yang bisa berbahasa Inggris, kurahap dia bisa menemukan orang yang bisa membantunya menemukan alamat itu" ucap Kira pada akhirnya.

Dan kini keempat orang itu hanya bisa saling menatap dan mengharapkan yang terbaik. Semoga saja semua masalah ini bisa segera diselesaikan tanpa ada halangan apapun.

.

.

Mata Korea Minhwan hanya bisa melirik diam kesemua orang yang tengah berlalu lalang disekitarnya. Masih ada rasa tak percaya bahwa kini ia tengah berada ditengah-tengah kota Tokyo yang padat. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Bahkan ia tak tahu sekarang ia berada dimana, sejak tadi ia hanya bisa melihat banyak tulisan Shibuya di tempat itu. Apakah ia tengah berada di Shibuya sekarang?

"Ash, apa yang harus kulakukan? Bagaimana bisa aku tidak membawa Charger Handphoneku kedalam tas! Malam itu aku benar-benar terburu-buru, aku hanya memasukkan apa yang kulihat kedalam tas, ah~" Minhwan menggerutu frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya.

"Sementara ini aku hanya bisa mematikan Hanphoneku. Aku harus mencari toko yang menjual Charger Handphoneku agar aku bisa menghubungi Kira atau pun Kazu untuk menanyakan alamat Miki, tapi..." Minhwan kembali melirik kearah keselilingnya.

"Ah, kenapa orang Jepang itu tidak banyak yang bisa berbahasa Inggris? Aku harus bertanya kepada siapa sekarang"

Minhwan pun hanya bisa duduk diam sambil menunggu pikiran yang lebih segar datang kedalam otaknya. Sesungguhnya perasaanya masih kacau sekarang, karena itu ia belum bisa berpikir dengan baik. Ia sadar bahwa keputusanya untuk pergi ke Jepang hanya karena termakan emosi sesaat, ia tidak benar-benar memikirkan soal kepergiannya. Karena itu ia tidak punya persiapan apapun.

Minhwan pun bangkit dan memutuskan untuk berjalan ketempat lain yang lebih tenang.

DUAGH

Namun tepat saat itu juga, seseorang menabraknya dengan sangat keras hingga mereka berdua terjatuh.

"Akh, ya! Kenapa berlari seperti itu, hah?!" ia tak perduli walaupun ia tengah memakai bahasa Korea sekarang. Walaupun ia tahu orang yang menabraknya itu tidak akan mengerti apa yang ia ucapkan.

"Dasar perncuri! Kembalikan tasku!" terlihat seorang gadis Jepang tengah berlari kencang kearah Minhwan dan juga laki-laki yang menabraknya tadi. Walaupun gadis itu berteriak dalam bahasa Jepang, namun Minhwan seolah mengerti kondisi yang tengah ia hadapi sekarang.

"Apa jangan-jangan kau seorang pencuri?!" gertak Minhwan saat menyadari sebuah tas wanita kini tengah digenggam erat oleh laki-laki dihadapannya.

"AH, Dasar penganggu! Minggir!" dengan kasar laki-laki itu pun berusaha mendorong tubuh Minhwan agar tak menghalangi jalannya. Namun menyadari ini sebuah kriminal, Minhwan pun berusaha untuk menahan laki-laki itu.

"Pak Polisi, itu pencurinya!" tak lama kemudian gadis Jepang itu pun datang bersama seorang polisi yang sedang berpatroli. Pencuri itu pun berhasil tertangkap dan segera dibawa ke pos patroli terdekat.

"Ah, tasku!" seru gadis itu saat melihat tasnya berada dengan aman ditangan Minhwan. Menyadari hal itu, Minhwan pun memberikan tas berwarna kuning itu kepada gadis Jepang dihadapannya.

"Arigato!" ucap gadis itu seraya berterima kasih pada Minhwan. Minhwan pun hanya bisa mengusap-usap kepala belakangnya dan mengangguk. Ia tahu bahwa gadis itu sedang berterima kasih padanya, hanya saja ia tak tahu bagaimana membalasnya.

"Your welcome" ia pun hanya bisa membalas dengan bahasa Inggris. Berharap gadis itu akan mengerti karena dilihat dari fisiknya, sepertinya gadis itu masih pelajar SMA. Setidaknya ia berlajar bahasa Inggris kan, namun...

"Ternyata dia orang asing. Ya ampun, aku harus bagaimana? Bahasa Inggrisku tidak lancar" kini gadis itu yang terlihat bingung menghadapi Minhwan. Minhwan pun hanya bisa diam karena ia pun tidak tahu harus berkata apa.

"Ng..." gadis itu pun memberanikan diri untuk menatap Minhwan. Namun saat melihat kelopak mata Korea milik Minhwan, gadis itu pun menyadari sesuatu yang sudah sangat dihapalnya selama ini. Kini ia semakin merasa familiar dengan semua ciri-ciri Minhwan.

"O-Orang Korea..."

"Ne?" Minhwan terkejut saat mendengar gadis itu mengucapkan bahasa Korea.

"Omo! Ternyata memang orang Korea! Ah, Ottoke?! Aku bertemu dengan orang Korea!" raut wajah gadis Jepang itu pun langsung berubah sumringah saat menyadari bahwa Minhwan adalah orang Korea.

Sementara Minhwan semakin tak bisa berkata apa-apa saat mendengar lontaran-lontaran kalimat dalam bahasa Korea yang diucapkan gadis Jepang itu. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai penglihatan dan pendengarannya.

Gadis dihadapannya adalah gadis Jepang. Bahkan dandanannya pun sama seperti gadis Jepang lainnya. Tapi kenapa ia bisa berbahasa Korea sefasih itu?

"Ma-maaf, apa kau.. bisa bahasa Korea?" Minhwan pun bertanya dengan hati-hati. Namun kelihatannya gadis itu masih terlalu senang dengan hal yang –Minhwan sendiri tidak mengerti apa itu. Sepertinya gadis ini senang sekali hanya karena bertemu dengan orang Korea.

"Kyaa, aku senang sekali. Akhirnya aku bisa bicara dengan orang Korea secara langsung"

Minhwan pun hanya bisa terdiam dengan tatapan aneh kepada gadis Jepang itu.

"Oppa, siapa namamu?" tanya gadis itu dengan penuh semangat. Ia pun duduk ditempat yang diduduki Minhwan tadi, dan menyuruh Minhwan untuk duduk disampingnya. Kelihatannya gadis Jepang ini ingin sekali berbincang dengan Minhwan.

"Choi... Minhwan" jawab Minhwan dengan nada ragu.

"Choi Minhwan? Minhwan Oppa! Aku memanggilmu Minhwan Oppa saja ya" senyum lebar gadis itu. Minhwan pun hanya bisa tersenyum tipis membalas senyumnya. Padahal ia sudah bisa menemukan seseorang yang bisa mengerti bahasanya, tapi entah kenapa ia agak takut dengan sifat menggebu-gebu gadis itu, sepertinya ia benar-benar menyukai orang Korea.

"Oppa, kenalkan namaku... mmm.. Lee Seohyo" kini gadis itu tersenyum agak malu sambil mengulurkan tangannya kepada Minhwan. Sesaat itu juga senyuman diwajah Minhwan langsung berubah datar.

"Gadis Jepang, aku tahu kau ini orang Jepang. Jadi katakan saja nama aslimu" Minhwan mulai terbiasa dengan sikap gadis Jepang ini.

Gadis Jepang itu pun langsung mempoutkan bibirnya imut. "Ya, Oppa! Kau mematahkan semangatku, padahal aku sangat menanti-nanti untuk menyebutkan nama itu" gerutunya.

Minhwan pun tertawa pelan, "Haha, sebenarnya kau ini siapa? Biar kutebak, apa kau menyukai orang Korea?"

Gadis itu pun langsung mengangguk mantap, "Sangaaat sukaaa! Dong Bang Shin Ki, Super Junior, So Nyeo Shi Dae..." dan gadis itu pun mulai menyebutkan nama-nama artis Korea yang disukainya.

'Ya ampun, anak ini penggemar Hallyu ternyata. Pantas saja sikapnya seagresif ini' –batin Minhwan. Ia pun hanya bisa menatap bosan kearah gadis itu yang terus-terus menyebutkan nama-nama artis yang sudah sering disebut-sebut di negaranya.

"Oppa, pasti tahu 4minute kan? Apa benar mereka akan segera mengunjungi Jepang? Dan... oh, aku juga suka dengan girlband rookie yang menjadi favorite Korea saat ini, A Pink! Aku berharap mereka bisa segera melakukan promo di Jepang" gadis itu masih saja asyik dengan dunianya. Sementara Minhwan mulai kekurangan oksigen dan akhirnya menguap bosan.

"Ya, aku tanya siapa namamu?" Minhwan pun kembali mengeluarkan suaranya.

"Lee Seohyo" senyum lebar gadis itu lagi.

"Nama aslimu!" Minhwan mulai naik emosi.

"Hufth, padahal Oppa orang Korea, kenapa tidak mau memanggilku dengan nama Koreaku saja" gadis itu kembali mempoutkan bibirnya imut. Minhwan pun membutar bola mata dan meniup poninya sendiri.

"Aku hanya merasa aneh untuk memanggilmu seperti itu. Bagaimanapun juga kau orang Jepang, jadi katakan saja nama aslimu" jelas Minhwan.

"Baiklah, walaupun aku sangat suka nama Koreaku. Tapi nama asliku pun tidak kalah bagus," seru gadis itu dengan penuh semangat. "Oppa kenalkan, namaku Michi. Hoshine Michi"

"Michi.." Minhwan pun hanya bisa mengangguk. Ya, nama yang terdengar lucu, sepertinya cocok dengan gadis ini.

"Oppa sedang apa disini? Berliburkah?" gadis bernama Michi itu kembali mengajak Minhwan bicara dengan penuh semangat.

"Ya, apa kau tahu toko yang menjual charger Handphone ini? Tolong antarkan aku kesana" bukannya menjawab pertanyaan gadis itu, Minhwan malah mengajak Michi untuk pergi mencari toko yang menjual charger Handphonenya.

"Oppa terburu-buru sekali, apa Handphonemu mati? Baiklah, ayo ikut aku" Michi pun hanya bisa tersenyum sumringah berjalan bersama Minhwan ditengah-tengah kota Tokyo yang padat itu.

Walaupun Michi terlihat sangat agresif, namun Minhwan hanya bisa bergantung pada gadis Jepang itu sekarang. Setidaknya hanya dia yang bisa ia ajak bicara, Minhwan pun sangat mengharapkan bantuan dari gadis itu.

.

.

"Untunglah aku bisa mendapatkan charger disini, sekarang aku akan kembali ke hotel untuk mencharge Handphoneku" Minhwan tersenyum lega saat tangan kanannya kini tengah menenteng kantung belanja yang berisi charger baru Handphonenya.

Akhirnya ia bisa menghubungi Kira dan Kazu sekarang, juga Hyung-hyungnya yang lain. Ia tak bisa membayangkan seberapa gemas Hyung-hyungnya itu terhadap dirinya sekarang. Mengingat belasan panggilan tak terjawab, baik dari Jonghun, Hongki, Jaejin dan yang lainnya terpampang dilayar Handphonenya saat ia melakukan uji coba charger Handphonenya.

Sekarang ia hanya tinggal kembali ke hotel untuk mencharge Handphonenya. Namun sesuatu menyadarkannya akan sesuatu, ia pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Michi yang berdiri dibelakangnya dengan raut wajah sedih.

"Oppa mau pulang sekarang?" tanya Michi sedih.

Minhwan pun terdiam. Ia merasa tidak enak pada gadis Jepang itu, bagaimanapun juga kalau tidak ada Michi, ia tidak akan bisa mendapatkan jalan yang akan mempermudahnya mencari Miki. Gadis itu sudah menemaninya di kota besar sepadat ini, dan sekarang setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, ia akan pergi meninggalkan gadis Jepang itu begitu saja?

"Eum..." Minhwan pun mulai berpikir. Ia tahu, Michi pasti ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengannya, mengingat seberapa sukanya ia terhadap sesuatu yang berbau Korea. Namun ia pun terdesak sekarang, ia berada di Jepang bukan untuk main-main, ia punya tujuan –mencari Miki.

"Arasso, sepertinya Oppa sibuk sekali ya. Kalau begitu, lebih baik Oppa pulang saja" senyum tipis Michi. Minhwan pun semakin merasa tidak enak, jujur saja berada didekat Michi walaupun –agak takut, namun ia pun merasa nyaman dengan gadis Jepang yang agresif itu.

Minhwan merasa Michi benar-benar menyerupai seorang Miki. Mulai dari sifat, gaya bicara, bahkan keagresifannya itu, Minhwan seolah-olah telah bertemu dengan Miki yang lain. Walaupun tetap banyak juga hal-hal yang jauh berbeda diantara Michi dan Miki.

"Ya, jangan murung begitu. Kau itu lebih manis kalau tersenyum tahu" Minhwan pun berusaha tertawa untuk menghibur Michi, melalui kata-kata yang biasa ia lontarkan kepada Miki jika gadis Jepang itu bersedih.

Mendengar pujian Minhwan, Michi pun langsung mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk lesu. Rona merah mewarnai pipi tirusnya, ia tersipu dengan ucapan Minhwan.

Minhwan pun berjalan mendekati gadis Jepang itu sambil tersenyum lebar.

"Kau sudah membantuku membeli charger, bagaimana bisa aku tidak berbalas budi. Yah, walaupun aku juga punya urusan mendesak, mungkin kalau sekedar makan Ice Cream ataupun cemilan, waktuku masih tersisa" Minhwan tersenyum seraya memberi tawaran untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama Michi.

Tanpa perlu berpikir lagi, Michi pun langsung mengangguk riang. "Gomawo Oppa, kau tahu saja aku ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu"

Minhwan pun terkekeh melihat ekspresi lucu gadis Jepang itu. "Baiklah, sekarang kau ingin kita makan dimana? Aku akan mengikutimu, kajja!"

Dan mereka berdua pun kembali berjalan menyusuri jalanan kota Tokyo yang tak habis oleh lautan manusia.

.

.

"Jadi kau mempelajari bahasa Korea sendirian? Hanya dengan mendengarkan lagu dan drama? Woah, kau benar-benar hebat" puji Minhwan saat mendengarkan cerita Michi.

"Hahaha, tidak sehebat itu Oppa. Aku menyukainya sejak kecil, karena itu wajar saja kalau aku jadi hapal dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Korea, aku hanya terbiasa mendengarkannnya" senyum Michi.

Mereka pun kembali menyantap Ice Cream dan cemilan di Cafe bernuansa minimalis itu.

"Aku punya seorang Onnie. Beberapa bulan yang lalu ia dikirim ke Korea sebagai murid pertukaran pelajar, Ah~ aku iri sekali dengannya. Dan kau tahu Oppa, akulah yang mengajari Onnieku itu supaya bisa berbahasa Korea" ucap Michi lagi sambil bercanda seraya membangga-banggakan dirinya.

"Haha, hebat. Bahkan kau sudah bisa mengajari orang, kau memang anak yang menarik" tawa Minhwan sambil menyendok potongan kecil dari Ice Cream Vanilla Strawberrynya.

"Hehem, Oppa apakah kau tidak mau menceritakan sesuatu tentang dirimu? Sebenarnya kau datang kesini untuk apa?" tanya Michi dengan santai.

Minhwan tak langsung menjawab, ia melirikkan mata kesegala arah untuk mencari jawaban yang tepat. Namun kebetulan, ia melihat ternyata ada stop kontak disamping tempat duduknya.

"Apa ini bisa digunakan untuk mencharge Handphoneku? Kalau begitu aku charge disini saja" dengan segera Minhwan pun mengeluarkan charger Handphonenya dan menyambungkannya dengan Handphonenya yang mati.

"Oh, aku lupa. Biasanya dibeberapa Cafe dan tempat makan, memang disediakan stop kontak untuk keperluan pelanggan" jelas Michi. Minhwan pun masih sibuk dengan Handphonenya yang baru saja menyala. Ia tidak sadar bahwa ia belum menjawab pertanyaan Michi tadi, dan kini ia malah mengacuhkan gadis itu karena Handphonenya sudah bisa menyala.

Dengan cepat Minhwan membuka beberapa pesan yang dikirim oleh Jonghun sehari yang lalu. Matanya langsung membelalak saat ia tahu Jonghun sudah menyiapkan alamat rumah Miki.

"Jadi ini alamatnya..." gumam Minhwan tanpa sadar.

"Oppa?" lamunan Minhwan pun pecah saat mendengar suara Michi yang memanggilnya.

"O-Oh, mianhae. Kau bertanya apa tadi?" Minhwan pun sadar bahwa ia sudah mengacuhkan Michi karena terlalu sibuk dengan Handphonenya.

"Aku bertanya, kau datang kesini karena urusan apa?" ulang Michi lagi.

"Aku.. mencari seseorang" jawab Minhwan pada akhirnya.

Michi pun terdiam sejenak saat melihat raut wajah Minhwan yang mendadak berubah sendu. Sepertinya ia terlalu banyak bertanya, karena ia tahu alasan Minhwan pastilah sebuah alasan pribadi.

"Jadi kau mencari seseorang, temanmu kah?" tanya Michi lagi, entah kenapa ia menjadi semakin penasaran.

Minhwan pun tersenyum miris, "Ya, kami berteman saat di Korea. Tapi kami bertengkar hebat, dan sebelum aku sempat meminta maaf, dia sudah kembali ke Jepang dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi ke Korea. Jadi kuputuskan untuk mengejarnya kesini" jelas Minhwan.

"Eum... mianhae Oppa, sepertiya aku terlalu banyak bertanya" ucap Michi pelan. Minhwan pun hanya bisa tersenyum tipis seolah mengatakan tidak apa.

"Oh iya, aku baru saja mendapat alamat rumah temanku itu disini. Apa kau tahu dimana daerah ini?" Minhwan pun segera memperlihatkan isi pesan Jonghun di Handphonenya kepada Michi. Dengan hati-hati Michi berusaha membaca deretan huruf hangul tersebut. Agak sulit pada awalnya, namun saat ia mulai tahu dimana daerah yang dimaksud itu, ia pun langsung menatap tajam kearah Minhwan.

"Apa benar... ini alamatnya?" tanya Michi dengan nada penuh penekanan.

Minhwan pun menjadi bingung dengan sikap Michi yang tiba-tiba berubah setelah membaca alamat itu, "Apa kau tahu alamat itu? Dimana? Tolong beritahu aku!" Minhwan pun langsung memohon saat ia sadar Michi pasti mengetahui sesuatu.

"Lebih baik, aku antar Oppa kesana sekarang" tanpa basa-basi lagi, Michi pun meminta Minhwan untuk beridiri dan mengikuti langkahnya. Sementara Minhwan masih agak terkejut dengan sikap Michi, namun sekarang ia hanya bisa mengikuti langkah gadis Jepang itu.

.

.

"Sepertinya kau sangat hafal dengan jalanan ini, apa kau memang mengenal tempat ini?" tanya Minhwan yang kini sudah berada ditengah-tengah komplek perumahan bersama Michi.

"Sebenarnya... itu alamat rumahku"

Langkah Minhwan pun langsung terhenti saat mendengar jawaban Michi. Kelopak matanya langsung menatap horror kearah gadis itu.

"Apa?! Ja-jadi alamat yang ada di pesan itu adalah alamat rumahmu?! Apakah kau—"

"Tapi alamat itu tidak sepenuhnya alamat rumahku" jawaban Michi kembali membuat kegusaran dihati Minhwan.

"Apa maksudmu?" Minhwan mengerenyit bingung.

Michi memberi isyarat supaya mereka kembali melanjutkan langkah. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai ditempat tujuan mereka.

"Maksudku, rumahku ada didaerah dan jalan yang sama, tapi nomor rumah itu bukan nomor rumahku" Michi menghentikan langkahnya beberapa kaki dari sebuah rumah yang kini berdiri kokoh dihadapan mereka. Minhwan pun ikut berhenti dan menatap dua rumah yang terletak dihadapannya.

"Rumahku yang itu," Michi menunjuk salah satu rumah dihadapan mereka. "Dan alamat yang Oppa cari itu.. adalah rumah yang ada disebelah rumahku" Michi kembali melangkah untuk memperpendek jaraknya dengan rumah yang ia maksud. Rumah yang terlihat sepi.

Sementara Minhwan langsung terdiam kaku mendengar penjelasan Michi barusan. Mendadak ia teringat dengan cerita Michi soal Onnienya yang menjadi murid pertukaran di Korea. Dengan cepat, Minhwan pun menyusul langkah Michi mendekati rumah itu.

"Michi-ah, apakah kau kenal dengan—"

Ting Tong

"Onnie!" ucapan Minhwan terputus begitu saja saat Michi menekan bel rumah itu dan memanggil seseorang didalam.

"O-Onnie...?" Minhwan semakin terpaku diam.

Tak lama kemudian seseorang membuka pintu rumah tersebut dan berjalan keluar rumah. Seorang gadis Jepang yang mampu membuat jantung Minhwan terasa berhenti berdetak seketika. Minhwan benar-benar tidak bisa mempercayai penglihatannya.

"Sudah kubilang jangan panggil aku Onnie, Michi—" gadis itu pun ikut terdiam saat menyadari kehadiran Minhwan.

Ya, gadis itu adalah Miki.

Ternyata firasat Minhwan memang benar, ternyata Miki berada sedekat ini darinya.

"Miki..."

"Min... Hwan..."

.

To Be Continued~ XD

.

A/N : Akhirnya update! Nunggu lama ya? Jeongmal Mianhae-o! Kebiasaan author yang sering stuck mendadak (tapi ampe berbulan-bulan) XD

Akhirnya sampai juga di part 29, klo perkiraanku si part 30 itu udah part terakhir. Tapi gak tau juga, aku kan suka berbelit-belit, makanya bisa aja malah nambah part XD

Hehehe

Jeongmal Gomawo untuk dukungan dan perhatiannya untuk Mr. Cassanova selama ini, klo gak di uber-uber sama readers setia mah, mungkin cerita ini gak bkal berlanjut XD

Sekali lagi Gomawo buat semuanya yang udah baca cerita ini, mudah2an cerita ini bisa jadi cerita yang berkesan *bow*

Special Thanks to : ejinki, nanachan,FurimaDahlia, Reizu, Ikha