Cloudy ft L for Lucius
Present :
à Cause de L'Amour
YoonMin fanfiction
Drama, Romance | Rate T | BL | Typos | Missing words | Newbie | Kacau
Enjoy It!
Chapter 1B
Jimin membuka matanya saat merasakan elusan lembut di kepalanya. Mata sipitnnya melebar saat melihat Yoongi hyung'nya yang terbaring disampingnya dengan tangan kirinya menjadi tumpuan kepalanya dan tangan kanannya mengelus lembut surai hitam Jimin.
"Hyu…"
"Ssshh ,, biarkan aku yang bicara sekarang, kau hanya dengarkan semuanya dengan baik" potong Yoongi dengan senyuman lembut menghiasi wajahnya yang pucat dan dipenuhi luka memar juga luka sobek di sudut bibirnya. Jimin merasakan hatinya berdenyut sakit saat dia menyadari kalau dirinya hanya terbungkus selimut biru langit favoritenya seperti saat Hoseok pamit pergi dari apartemennya tadi sore. Jimin yakin Yoongi sudah mengetahuinya. Tanpa dia sadari air matanya sudah mulai turun perlahan melewati hidungnya. Membuat tangan Yoongi yang masih mengelus lembut rambutnya berpindah untuk mengusap air mata itu.
"Jangan menangis,hm" bisiknya sambil mengecup lembut kedua mata Jimin yang langsung terpejam, menikmati kehangatan bibir Yoongi.
"Kau tau aku sedang bingung. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Karena semuanya tidak ada yang membuatku lebih baik" ucap Yoongi sambil kembali mengelus lembut kepala Jimin. Senyumannya masih terukir di wajahnya tapi Jimin bisa melihat sorot kekecewaan dari mata Yoongi hyung'nya ini. Jimin tau saat ini namja didepannya ini sangat terluka. Jimin kembali menangis dengan isakan pelan yang membuat Yoongi menariknya kedalam pelukannya. Pelukan yang sangat erat.
"Maafkan aku" Bisik Yoongi sambil menepuk punggung Jimin perlahan. Jimin menggelengkan kepalanya dan semakin terisak. Dia tidak ingin kehilangan namja yang sangat dia cintai ini. Dia tidak tau bagaimana bisa dia mengkhianatinya padahal cinta untuknya begitu besar. Kenapa pesona seorang Jung Hoseok begitu menyilaukan sampai membuatnya lupa kalau dia memiliki Yoongi. Dia sungguh tidak tau kenapa.
"Bolehkah aku egois hyung, bolehkah?" tanyanya disela isakannya. Kedua tangannya mengencangkan pelukannya pada pinggang Yoongi.
Jimin merasa dirinya benar-benar hancur saat Yoongi mulai melepaskan pelukannya dan mengecup dahinya lama sebelum turun dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar.
"Maafkan aku Minnie'ah" ucapnya sambil menutup pintu kamar. Ya, ini akhir dari kisahnya bersama Yoongi hyung'nya. Namja yang dia cintai sepenuh hati. Seniornya yang dia dapatkan setelah perjuangan panjang melawan semua keegoisannya, setelah meruntuhkan benteng es seorang Min Yoongi.
Jimin menangis keras dan terisak lirih. Dia menekan dadanya yang terasa sangat sakit. Dia tidak peduli orang-orang terbangun karena tangisannya. Dia tidak peduli dengan harga dirinya sebagai lelaki. Sementara itu di balik pintu Yoongi bersandar di pintu itu, dia ingin sekali kembali ke dalam dan memeluk Jimin, mengatakan kalau dia tidak akan pernah meninggalkannya tapi, luka hatinya mencegahnya untuk melakukan itu. Bayangan bagaimana Hoseok dan Jimin melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan semakin menambah rasa amarah Yoongi. Perlahan dia melangkah menjauhi kamar itu. Dia harus pergi atau dia akan semakin terluka dengan mendengar tangisan Jimin. Belum tangan Yoongi memegang handle pintu apartemen Jimin memeluknya dari belakang menahan langkahnnya untuk keluar dari apartemen itu.
"Hyung, aku mohon.. aku mohon jangan tinggalkan aku"
Yoongi terdiam dia bisa merasakan punggungnya basah karena Jimin masih menangis. Dia memegang tangan Jimin yang merangkuli pinggangnya dan melepaskannya.
"Bukan aku yang meninggalkanmu Jimin, bukan aku"
Lalu Yoongi kembali melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Jimin yang terduduk lemas dilantai sambil terisak.
?
Taehyung berdiri di atap apartemen dengan tangan menggenggam erat pagar besi pembatas atap. Matanya menerawang jauh ke langit malam tanpa bintang. Pikirannya kembali ke saat dimana dia mendengar pembicaraan antara Jungkook dan Yoongi tadi sore distudio. Saat itu dia mau mengajak Jungkook untuk pergi mencari makan tapi sesuatu menghentikannya didepan pintu ruang recording.
"Jimin hyung dan Hoseok hyung mengkhianatimu hyung, percayalah padaku. Ini bukan yang pertama tapi berkali-kali aku memergoki mereka. Aku ingin kau melihatnya sendiri tapi seakan mereka menutupinya dengan rapi sehingga sampai sekarang kau belum juga menemukan kelakuan busuknya"
Taehyung terdiam tidak percaya. Tidak mungkin Jimin dan Hoseok hyung melakukan itu. Dia sangat mengenal keduanya dengan baik. Tapi Jungkook juga bukan seorang pembohong.
"Kalau begitu buktikan"
Yoongi langsung pergi keluar tanpa menyadari keberadaan Taehyung dibalik pintu meninggalkan Jungkook yang terdiam didalam.
Taehyung menghela nafas berat. Apakah hoseok sengaja mengkhianatinya atau dia terjerat pesona Jimin. Itu yang Taehyung pikirkan sampai sesuatu mengingatkannya.
"Aku akan membuatmu bahagia, jika Yoongi adalah alasan kebahagiaanmu aku akan membuatnya menjadi milikmu"
Kata-kata Hoseok sebelum Taehyung meninggalkan jepang 2 tahun yang lalu. Mungkinkah?
Sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Disini sangat dingin Tae'ah, kau bisa sakit jika terlalu lama diluar" ucapnya sambil menyandarkan dagunya di bahu Taehyung.
"Hyung,"
"Hm"
"kau tidak melakukan hal yang bodohkan?"
Namja yang ternyata Hoseok ini langsung terdiam saat Taehyung bertanya. Dia menatap langit di kejauhan yang gelap gulita segelap hatinya saat ini.
"Aku melakukannya untukmu "
Jantung Taehyung seakan berhenti berdetak sesaat. Dia langsung berbalik hanya untuk melihat Hoseok tersenyum lembut kearahnya dengan wajah yang penuh luka. Tangan Hoseok mengelus lembut pipi Taehyung.
"Hyung"
?
Jungkook menatap tajam hyung yang ada didepannnya.
"Jadi kau mengetahuinya?"
"Jadi itu benar?"
Yoongi terdiam dia duduk di sofa apartemen Jungkook dan menatap kosong dinding putih ruangan itu.
"Hyung, jawab aku. Apa itu benar?"
"Ne"
Brukk!
Dalam beberapa detik Yoongi sudah terjatuh ke lantai cukkup keras dengan Jungkook menduduki perutnya.
"Ternyata kau lebih brengsek dari Hoseok dan Jimin!"
Yoongi membiarkan Jungkook melampiaskan amarahnnya dengan memukuli wajahnya yang sudah terdapat banyak luka itu.
"Kau sudah puas?" tanyanya pada Jungkook yang berhenti memukulinya. Perlahan Jungkook turun dari atas tubuh Yoongi dan berbaring di sampingnya.
Yoongi terkekeh pelan sebelum mengernyit saat salah satu lukanya berkedut ngilu.
"Apa yang kau tertawakan Hyung"
"Haruskah aku menangis ?"
Jungkook menatap langit-langit apartemennya.
"Haruskah aku ikut menangis denganmu Hyung?"
"Bodoh"
Jungkook memegang tangan dingin sang hyung.
"Mianhae hyung, aku tau kau menyayangiku karena itu kau tidak membalas semua pukulanku"
"percaya diri sekali, eoh"
"Ehey, kau tau hyung tidak ada yang tega memukul wajah tampanku"
Yoongi tertawa hambar mendengar lelucon Jungkook.
"Wuah, leluconku bisa membuatmu tertawa hyung"
"Bodoh"
Mereka tertawa bersama walaupun berbeda dengan hati mereka. Jungkook tau hyungnya ini ingin sekali menangis tapi dia adalah Min Yoongi preman sekolah yang tidak akan pernah menangis. Jungkook menoleh kearah Yoongi yang sedang menutup kedua matanya. Menahan tangis pikirnya. Jungkook semakin mengeratkan genggamannya berusaha memberi kekuatan pada sang hyung. Dia sangat kesal sebenarnya tapi dia tau selalu ada alasan dari setiap pilihan. Karena itu dia mengerti kenapa Yoongi meninggalkan Taehyung. Yoongi hyung'nya bukan orang jahat atau berhati dingin karena itu dia tidak sepenuhnya percaya dengan yang di katakan Hoseok kemarin. Jungkook tersenyum tipis
"Menangislah hyung"
Dan seiring Jungkook mengakhiri kalimatnya, airmata turun menyusuri pipi Yoongi pelan.
?
I miss you so I cry, multiple times a day
I'm pressing on, multiple times a day
I want to live, I want to breathe now, it hurts
Some day, some place, somewhere, when the season changes
Some day, some place, somewhere, I hope I can see you
Even if it's coincidence, even if it's far away, I want to see you
Please show up, some day, some place, somewhere
Why did we become alone? Tears fall
Why did we do this to each other?
We were in loved like we were dancing, it was good
Some day, some place, somewhere, when the season changes
Some day, some place, somewhere, I hope I can see you
Even if it's coincidence, even if it's far away, I want to see you
Please show up, some day, some place, somewhere
Words I repeat thousands, tens of thousands of times
I only have you, I only love you
If I turn the corner, as if nothing happened, some day
Come back to me, some day, some place, somewhere
Some day, some place, somewhere, on an especially sunny day
Some day, some place, somewhere, when the wind feels good
Run to me, I want to see you smiling at me
Please show up, the same day, the same place as the first time
Jimin menghela nafas pelan saat mengakhiri lagu ang baru saja dia nyanyikan dia atas atap sekolah. Dia memandang jauh ke langit yang berwarna biru. Warna favoritenya. 3 minggu berlalu dengan begitu cepat bahkan Jimin tidak menyadarinya sama sekali. dia masih tenggelam di penyesalannya. angin membelai surai hitam pekatnya pelan, dia memejamkan matanya menikmati belaian angin yang lumayan dingin itu.
"Membolos lagi, hm?" Tanya seseorang yang memeluknya dari belakang dengan dagu yang bertumpu pada bahu sempit Jimin. Jimin tersenyum tipis sebelum memegang erat tangan yang memeluknya.
"Maaf" gumamnya pelan.
TBC
Ah, hallo semua senang bisa kembali update, walaupun tidak sebagus fic yang lain tapi aku berusaha untuk tampil bagus. ah, sungguh membingungkan saat menulis konflik aku tidak ahli dalam menceritakan konflik, jatuhnya jadi ga dapet konfliknnya. tapi, aku berharap apa yang aku tulis disini cukup membuat kalian merasakan apa yang ingin fic ini sampaikan. terima kasih pada readersnim yang sudah mau membaca dan mereview fic abal-abalku. terima kasih juga pada kang Cloudy ide cerita barunya udah aku terima kemarin, kalau ada waktu aku akan mulai garap dan semoga kamu ga kecewa dengan cerita yg aku garap saat ini. akhir kata see you next chap. chap terakhir yang ga akan terlalu panjang kayanya.
salam L for Lucius
Bbuiing Bbuiing
