FT Island Fan Fiction

Mr. Cassanova

©MikiHyo

.

Cast : FT Island, Kira Akegawa, Kazu Uzumi, Miki Amakura, & Other Cast

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort, School Life

Rated : T

Length : One Shoot

A/N : Minhwan and Miki part for this last part. Don't Like? So don't read it

.

.

Last Part

Part 30

.

.

Minhwan POV

.

Krieek

Pintu rumah itu terbuka sesaat setelah Michi memanggil seseorang yang ada didalam. Seseorang yang ia panggil 'Onnie' dan hal itu benar-benar membuatku semakin penasaran.

"Sudah kubilang jangan memanggilku Onnie, Michi—"

DEG

Aku terdiam kaku. Mataku membulat sempurna melihat sosok itu, gadis yang baru keluar dari pintu. Ternyata benar, dia Miki.

"Mi...Ki..."

Gadis itu pun terlihat kaget dengan kehadiranku. Ia menatapku sekilas namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.

"Onnie, laki-laki ini Minhwan Oppa. Dia datang mencari alamatmu, apa kau mengenalnya?" tanya Michi kepada Miki.

"Michi, sudah kubilang jangan memanggilku Onnie, gunakan bahasamu sendiri" tegur Miki dengan nada halus. Michi pun mengerucutkan bibir mendengar protesan Miki.

"Neechan selalu begitu..." gerutu gadis Jepang itu. *Neechan : Kakak Perempuan*

Arah pandangku masih tertuju pada gadis itu. Orang yang membuatku nekat untuk mendatangi Negara ini sendirian. Namun seberapa dalam aku menatapnya, gadis itu tetap enggan berbalik menatapku. Apa dia benar-benar tidak mau melihatku disini?

"Michi-ah, terima kasih karena sudah mengantarku kesini. Kakakmu memang orang yang kucari" senyumku pada gadis Jepang yang berdiri disampingku, Michi.

"Jadi benar Miki Onnie yang Oppa cari disini? Woah, dunia ini memang sempit ya" ucap Michi polos. Ya, gadis ini memang tidak mengetahui masalah diantara aku dan Miki.

Aku pun tersenyum kepada gadis itu, "...dan maaf, bisakah aku meminta waktu berdua dengan Kakakmu?" tanyaku pelan.

Michi pun langsung menatapku bingung, "Mwo? Waktu berdua dengan Onnie?" gadis Jepang itu melirik bingung kearahku dan Miki bergantian. Sementara Miki tetap terdiam seolah tak memperdulikan apapun. "Ah... Arasso, sepertinya ada hal penting yang ingin kalian bicarakan" Michi pun akhirnya mengerti. Perlahan gadis Jepang itu melangkah mundur meninggalkanku berdua bersama Miki.

"Oppa, jangan lupa menghubungiku ya! Alamat emailku sudah kau simpan kan? Aku berharap bisa menghabiskan waktu lagi bersama Oppa" gadis Jepang itu melambai dengan senyum cerianya sebelum ia masuk kedalam rumahnya yang ada disamping rumah Miki. Aku pun hanya mengangguk dan membalas senyumnya.

Kini hanya tinggal aku dan Miki disini. Aku kembali berbalik menatap gadis itu, sementara Miki masih tetap tidak mau melihatku. Arah matanya mengedar kesemua objek yang ada disekelilingnya, terkecuali aku.

"Miki" panggilku pelan.

"Kenapa kau ada disini?" sahutnya dingin tanpa sedikitpun melihat kearahku.

"Apa kau akan terus bicara tanpa menatapku seperti itu?"

Gadis itu pun akhirnya berbalik setelah mendengar nada bicaraku yang naik. Kini mata kami bertemu pandang. Terlihat jelas dari sirat matanya yang bercampur antara sedih dan kecewa saat melihatku, sepertinya keberadaanku disini benar-benar membuat gadis itu merasa tidak nyaman.

"Sebenarnya apa maumu datang kesini?" tanyanya lagi dengan nada yang terdengar tertekan.

Aku pun semakin menatapnya dalam. "Aku... datang untuk minta maaf"

Gadis itu terdiam. Sirat matanya tak berubah menjadi lebih baik setelah mendengar ucapanku, justru ia semakin terlihat sedih dan kecewa, entalah... aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya sekarang, yang jelas ia benar-benar tidak menyukai kehadiranku disini.

"Maafkan aku... maafkan aku atas semua kesalahanku yang bahkan aku pun tidak bisa memikirkan seberapa banyak kesalahanku padamu..." ucapku yang berusaha untuk tetap menjaga nada bicaraku agar tidak goyah. "...baik pertengkaran kita waktu itu maupun yang lainnya... yang aku tahu, aku hanya bisa terus menyakiti perasaanmu. Karena itu... maafkan aku" ucapku lagi.

Gadis itu tetap terdiam. Kini ia benar-benar menatapku penuh, namun sirat matanya menjadi dingin dan kosong.

"Pergilah..."

DEG

"Mwo...?" aku terdiam mendengar jawabannya.

Gadis itu pun melangkahkan kaki mendekatiku, perlahan menghilangkan jarak diantara kami sedikit demi sedikit. Dan kini ia sudah benar-benar berada dihadapanku, menatapku dengan sirat matanya yang dingin dan sendu. Gadis ini tidak seperti Miki yang kukenal, yang selalu menatapku dengan mata yang berbinar penuh semangat.

"Jika hanya itu yang ingin kau katakan, lebih baik kau pergi saja" ucapnya lagi.

"Kenapa? Kenapa kau bicara seperti ini? Aku tidak mengerti" aku pun mengelak.

"Kau hanya membuang-buang waktumu disini"

"Miki! Aku tahu kau sangat membenciku, dan aku pun bukan orang yang pantas untuk kau maafkan, tapi... apa kau tidak mendengar ucapanku sedikitpun? Aku benar-benar menyesal—"

"Minhwan..." nada bicara gadis itu melunak. Sirat matanya yang sedingin es seolah mencair seketika, yang ada kini hanyalah bening-bening air mata yang terlihat seperti pecahan kristal yang berkumpul dikelopak matanya.

"Sudahlah..." setetes air mata jatuh dari kelopak mata kirinya. Aku pun semakin terdiam.

"Tidak ada yang perlu meminta maaf ataupun dimaafkan. Lupakan saja semuanya..." nada bicaranya kian bergetar.

"Miki... apa yang kau bicarakan?"

"Daripada saling menyakiti seperti ini, lebih baik kita lupakan semuanya. Kau dan aku... tidak pernah memiliki hubungan apapun bahkan saling mengenal, sekarang pun kita tidak akan bertemu lagi kan... kau di Korea dan aku disini... karena itu... lupakan semuanya" kini air mata sudah meluncur bebas melewati pipinya.

GREP

Aku pun langsung memeluk gadis ini tanpa perduli dengan semua ucapan-ucapannya. Perasaanku benar-benar bergejolak, terlebih dengan melihat air mata dan sirat mata itu. Aku tidak bisa membiarkannya jatuh, terpuruk oleh kesedihan yang membebaninya sekarang.

"Apa yang kau bicarakan? Kenapa aku harus melupakan semuanya? Kenapa aku harus membuang semua kenangan itu? Apa kau benar-benar tega untuk melupakan semuanya?" ucapku kalut. Aku pun semakin mempererat pelukanku saat kurasa gadis ini ingin melepasnya.

"Jika aku punya salah, maka aku akan meminta maaf sampai kau memaafkanku. Aku tidak mau melupakan semuanya, jangan suruh aku untuk melupakan hal itu"

"Minhwan..." gadis itu masih menangis dipundakku.

"Kau harus mendengarku kali ini... aku... menyukaimu..." bisikkan itu pun sampai dengan jelas kedalam telinganya. Aku yakin gadis ini pasti mendengarku.

Perlahan aku pun melonggarkan pelukanku agar aku bisa melihat wajahnya sekarang. Bekas air mata yang mulai mengering kembali terbasahi oleh air mata yang baru. Gadis ini tidak terisak, namun air mata terus saja meluncur dengan bebas seolah tak bisa dikendalikan.

Hatiku benar-benar terasa miris. Perasaan Miki sekarang ini pasti sangat tertekan.

"Kau mendengarku kan? Aku menyukaimu..." ulangku sekali lagi.

Miki pun tersenyum tipis, "Gomawo..."

Aku kembali terdiam melihat ekspresi wajahnya.

"Terima kasih karena telah mengatakan hal itu. Tapi maaf... aku rasa aku tidak bisa menerimanya... jadi lupakan saja tentang semuanya mulai sekarang" perasaanku kembali jatuh saat gadis itu lagi-lagi mengatakan hal yang menyakitiku.

"Wae? Kenapa kau terus mengatakan hal itu? Bukankah kau pun menyukaiku? Sudah kubilang jika aku punya salah maka aku akan meminta maaf padamu sampai kau memaafkanku. Jadi berhenti mengatakan hal itu" nada bicaraku kembali naik.

"Minhwan, aku mohon mengertilah..." Miki pun balik memohon padaku. "Sekarang ini... aku tidak bisa hanya memikirkan hal itu. Banyak hal yang membebani pikiranku jadi kurasa... apapun yang kau katakan akan percuma"

Aku terdiam mendengar penjelasannya. Aku ingat, bagaimana bisa aku melupakannya. Bukankah gadis ini dalam keadaan berduka sekarang? Dan kini aku datang untuk menambah beban pikirannya.

"Disaat seperti ini, aku tidak pantas untuk mendengar itu semua. Jadi lebih baik, kita akhiri disini..." Gadis itu melangkah mundur dengan perlahan. "...annyeong..."

Dan kini bayangnya sudah menghilang dibalik pintu. Ia meninggalkanku yang masih terdiam kaku disini. Pikiranku berkecamuk.

Banyak hal yang membebani pikiranku

Entah apa yang menahan langkahku untuk tidak mengejarnya. Mungkin hal ini ada benarnya. Keberadaanku sekarang hanya menambah beban pikirannya.

Apakah... aku benar-benar harus menyerah sekarang?

.

.

Author POV

.

Miki menutup pintu rumahnya dengan perlahan. Ia pun bersandar pada badan pintu untuk menopang badannya yang terasa lemas. Bagaimanapun juga semuanya terlalu tiba-tiba untuknya. Kepergian Ayahnya, kedatangan Minhwan, dan semua ucapannya...

Perlahan tubuh Miki mulai ringset saat ia menekuk lututnya hingga kini tubuhnya menyentuh lantai. Air matanya kembali mengalir. Sungguh, terlalu banyak yang harus ia pikirkan sekarang. Dan ia tidak akan sanggup untuk memikirkan semuanya sekaligus, karena itu ia lebih memilih membuang salah satu walau ia sendiri tidak menginginkannya.

"Mianhae..."

Hanya sebait kata itu yang dapat ia keluarkan. Miki pun semakin terlarut dalam kesedihannya sendiri.

.

.

Seoul, Korea

.

Sirat mata tajam gadis ini sedikit meredup tak seperti biasanya. Ia seolah kehilangan semangat sejak kepulangan sahabatnya yang mendadak ke Jepang. Ya, pada dasarnya Kira bukan orang yang mudah menunjukkan perasaannya secara langsung, namun entah kenapa sedikit masalah yang terjadi tiba-tiba dalam kehidupan persahabatannya sekarang, membuatnya sulit untuk memikirkan sesuatu yang baik.

"Hah..." gadis bermata tajam itu menghela nafas panjang.

"Kenapa kau menghela nafas seperti itu?" tiba-tiba seorang laki-laki berwajah cantik dengan rambut coklat yang sedikit ikal datang menghampiri Kira, yang notabene adalah Kekasihnya sekarang. Ia menatap bingung sang gadis dengan sebelah alis yang terangkat.

"Aigoo... raut wajahmu terlihat aneh, aku tidak biasa melihat Kira dengan sinar matanya yang redup" senyum Hongki seraya tersenyum jahil pada Kekasihnya itu. Namun Kira memang seperti orang yang kehilangan sedikit semangatnya, tak sedikitpun ia menanggapi ucapan Hongki. Padahal biasanya, ia tak segan-segan untuk membalas ulah jahil Hongki.

"Kau terlambat 10 menit" ucap Kira cuek.

"Mwo? Jadi kau menyadarinya? Aigoo, itu hanya 10 menit. Maaf, jika membuatmu menunggu" lagi-lagi Hongki masih tersenyum enteng. "Sekarang kau mau apa? Makan siang?" ajak Hongki.

"Sudahlah... aku juga sedang tidak ingin berkencan sekarang..." ucap Kira.

"Eh? K-kau marah? Ash... kenapa emosimu akhir-akhir ini sulit ditebak sih?" gerutu Hongki dengan nada yang terdengar manja.

Kira pun berbalik, menatap Hongki dengan raut wajah malas. "Bukan. Aku hanya tidak punya semangat saja, lebih baik kita pulang sekarang" ucapnya dengan nada datar.

"Ya, sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Hongki bingung seraya mendekatkan wajahnya kearah Kira. Berharap gadis itu akan mengeluarkan semburat merahnya yang manis. Namun raut wajah Kira tetap datar, malah semakin datar karena ulah jahilnya itu.

"Kau berisik" ucapnya cuek. Dan kini Hongki pun benar-benar dibuat diam, dia sungguh tak mengerti mengapa Kira sangat tidak bersemangat hari ini.

"Apa... Minhwan sudah bertemu dengan Miki?"

Hongki pun kembali mengangkat wajahnya saat mendengar pertanyaan Kira. Ia pun menatap gadis itu. "Jadi kau memikirkan hal itu?" tanya Hongki balik. Kira tak langsung menjawab, namun dilihat dari raut wajahnya yang agak gusar, sepertinya pertanyaan Hongki memang tepat pada sasaran.

"Jadi begitu..." Hongki pun ikut bersandar dipagar, disamping Kira. Manik matanya yang jernih memandang jauh kearah langit. "Wajar saja kalau kau mengkhawatirkannya, kau pasti mencemaskan Miki... aku juga mencemaskan Minhwan, tapi bagaimana lagi..." laki-laki itu pun menghela nafas panjang.

"Handphone Miki masih tidak bisa kuhubungi.." sahut Kira.

"Tapi setidaknya Minhwan sudah membaca pesan kita, aku harap dia menemukan alamatnya. Aku dan Jonghun juga masih menunggu kabar darinya" ucap Hongki.

Kedua pasang manusia itu pun menghela nafas bersamaan dengan bersandar dipagar. Namun tiba-tiba saja Handphone Hongki berbunyi, menandakan panggilan masuk yang ternyata dari Jonghun. Dengan cepat, Hongki pun mengangkatnya.

"Ye, Jonghun-ah?"

Hongki pun berbicara pada Jonghun, sementara Kira hanya berdiri memperhatikan Kekasihnya itu dari samping.

"M-Mwo?! Choi Ajjusshi...?" Mata Hongki pun sontak membelalak begitu mendengar berita yang disampaikan oleh Jonghun ditelepon. Sementara Kira ikut terkejut kaku saat menyadari ekspresi wajah Hongki yang dirasanya tidak membawa berita yang cukup baik.

.

.

"Itu benar, Ayah Minhwan sudah mengetahui kalau anak itu sedang ada di Jepang sekarang" jelas Jonghun pada Hongki melalui pembicaraan mereka di telepon. Beberapa menit yang lalu ia pun baru mendapat telepon langsung dari Ayah Minhwan yang sedang mencari keberadaan Anaknya. Dan Jonghun pun tidak menyangka, bagaimana bisa Ayahnya itu tahu kalau Minhwan sedang berada di Jepang sendirian.

Dan berita yang lebih mengejutkan lagi adalah, Ayah Minhwan memutuskan untuk membawa Minhwan ikut bersamanya keluar negeri. Entah untuk apa, jangan sampai ini adalah keputusan sepihaknya yang jelas saja akan membebani Minhwan, anaknya sendiri.

"Aku akan menghubungi Minhwan" ucap Jonghun diakhir pembicaraannya dengan Hongki. Ia pun menutup teleponnya.

"Jonghun..." arah mata Jonghun pun berpaling pada gadis yang ada disampingnya, Kazu. Biasanya senyum selalu terukir dikala ia melihat wajah gadis Jepang itu, namun kali ini raut wajahnya berbeda. Diantara cemas dan kecewa, entahlah. Baik Jonghun maupun Kazu, keduanya memang tidak sedang dalam keadaan baik sekarang.

"Apa kau sudah bisa menghubungi Miki?" tanya Jonghun pada Kazu. Dengan gerakan lemah, Kazu pun menggeleng.

"Bagaimana kalau sampai Ayah Minhwan menemukannya? Apa yang akan ia lakukan?" Kazu pun menundukkan wajahnya. "Kalau Minhwan pergi... aku yakin Miki tidak akan baik-baik saja..."

"Kazu..." Jonghun pun mengusap lembut pucuk kepala gadis Jepang itu.

"Aku tahu kau pasti sangat memikirkan sahabatmu itu, sama seperti aku memikirkan Minhwan. Aku pun mengharapkan yang terbaik untuk mereka, kita berdoa saja" senyum tipis Jonghun. Kazu pun mengangguk lemah.

"Baiklah, aku akan menghubungi Minhwan sekarang"

.

.

Minhwan melangkahkan kakinya dengan enggan. Sepanjang perjalanan wajahnya terus tertunduk. Sirat matanya sayu, banyak sekali hal yang berkecamuk didalam pikirannya. Dan itu membuat perasaannya semakin tertekan.

Lelaki itu pun sampai didepan pintu kamar hotelnya, dan betapa terkejutnya ia saat tahu bahwa pintu kamar hotelnya sudah terbuka. Dengan segera ia pun masuk kedalam kamar itu.

"Akhirnya kau datang juga"

DEG

Tubuh Minhwan langsung membeku ditempat. Kelopak mata Koreanya melebar sempurna saat melihat sesosok pria payuh baya yang amat sangat dikenalnya.

"A-Appa..." bibirnya terasa kelu.

Pria paruh baya didepannya tetap menatapnya dengan tatapan yang dingin dan tajam. Minhwan tahu, masalah baru tengah menimpanya sekarang.

"Kenapa kau hanya diam disitu? Duduk disini, ada yang ingin Appa bicarakan denganmu" Tn. Choi selaku Ayah Minhwan pun langsung duduk disofa yang ada dibelakangnya. Sirat matanya mengisyaratkan agar Minhwan ikut duduk bersamanya.

Minhwan pun melangkah menuju sofa yang terletak disamping Ayahnya. Ia pun duduk tanpa berani untuk menatap wajah sang Ayah.

"Kau pasti kaget karena aku bisa menemukanmu disini" Minhwan hanya diam mendengar ucapan Ayahnya. "Hah, kau ini... tak henti-hentinya membuat masalah dalam hidup Appa"

Minhwan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Tiap bait kata yang diucapakan Ayahanya, mengapa selalu terasa menyakitkan?

"Appa sudah cukup shock saat tahu ternyata kau suka bermain dengan para wanita di klub, kau pun sampai menolak perjodohan yang Appa buat, padahal Appa sudah susah payah mencarikanmu tipe gadis yang kau suka, dan sekarang... tiba-tiba saja kau menghilang dan pergi ke Jepang" nada bicara Tn. Choi pun semakin terdengar berat.

"M-Mianhae... aku—"

PLAK

Tamparan telak pun diterima oleh Minhwan. Kali ini Ayahnya benar-benar marah padanya.

"Sebenarnya apa maumu, hah? Apa kau sengaja membuat Appa terus-terusan stress seperti ini? Kau tahu, seberapa banyak pekerjaan yang Appa terlantarkan hanya untuk memikirkanmu?!" nada bicara Tn. Choi meninggi.

Perasaan Minhwan pun semakin bergejolak, kali ini ia berani untuk mengangkat wajahnya dan menatap sang Ayah.

"Aku minta maaf karena sudah menyita waktu bekerja Appa yang berharga. Tapi, aku hanya ingin menyelesaikan masalahku Appa, aku hanya butuh hal-hal yang bisa membuatku merasa tenang!" Minhwan pun ikut memperlihatkan emosinya.

"Selama ini jika aku tertimpa masalah, apa aku pernah menyulitkan Appa?! Sebisa mungkin aku tidak mau membebanimu Appa, aku selalu menuruti semua ucapanmu hanya untuk membuatmu senang..."

"Minhwan, kau—"

"Walaupun tidak bisa kupungkiri, terkadang aku benci pada Appa yang sekarang, yang tidak pernah lagi mempunyai waktu untukku. Namun seberapa sakitnya hatiku, aku selalu mencoba untuk mengerti kondisi Appa, aku pun bukan anak kecil yang harus selalu Appa manjakan. Karena itu... aku mencari sendiri hal-hal lain yang bisa membuatku melupakan semua rasa sakitku... dan aku harap... Appa mau mengerti..." wajah Minhwan sudah memerah. Nafasnya pun tersengal seolah ia baru saja melakukan kegiatan yang berat. Jantungya berdetak tak karuan, akhirnya semua perasaan tertekannya selama ini bisa ia sampaikan pada Ayahnya.

"Aku ingin... sekali ini saja... Appa mau mengerti diriku seperti aku yang selalu mencoba untuk mengerti Appa..." wajah Minhwan kembali tertunduk.

Tn. Choi pun berjalan mendekati putra semata wayangnya itu. Minhwan juga siap kalau ia harus menerima tamparan yang kedua kalinya atas kata-katanya yang kurang ajar pada Ayahnya sendiri barusan. Namun...

"Dasar anak bodoh... aku tidak akan jadi seperti ini kalau aku tidak mencoba untuk mengerti dirimu..."

Ucapan itu sukses membuat Minhwan kembali mengangkat wajahnya menatap sang Appa.

"Appa..."

Tn. Choi tersenyum tipis namun wajahnya terlihat sedih. Ia pun mengacak-acak rambut putra semata wayangnya itu.

"Mana ada orang tua yang tidak memikirkan anaknya. Sesibuk apapun, pikiran Appa tidak pernah lepas darimu Minhwan"

"Appa..." Minhwan semakin tak percaya dengan kata-kata yang ia dengar. Rasanya ia seperti bertemu dengan sosok yang amat ia rindukan, sesosok Ayah yang dulu selalu memperhatikannya seperti ini.

"Tentu saja Appa akan marah saat tahu kau bermain dengan para wanita diklub walau Appa tahu kau tidak akan melakukan apapun, kau hanya butuh seseorang yang bisa memanjakanmu. Karena itu Appa menjodohkanmu dengan Bomi, Appa pun tidak akan sembarangan memilih gadis, Appa berusaha mencari seorang gadis yang kau suka. Bukankah kau menyukai gadis seperti Bomi..."

Minhwan terdiam. Jika ia harus mengatakan suka, tentu saja ia menyukai gadis itu, tapi ia tak bisa meganggap Bomi lebih dari teman. Ia hanya menyukai Bomi sebagai temannya.

"Tapi sepertinya... cara Appa untuk memanjakanmu itu justru membuatmu merasa lebih tertekan ya?" Tn. Choi kembali tersenyum tipis. "Maafkan Appa... Minhwan..."

Kata maaf itu pun terucap dari mulut Tn. Choi. Dan sontak membuat tubuh Minhwan semakin membeku dihadapan Ayahnya sendiri. Ia benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi.

"Maafkan Appa karena selama ini Appa sudah membuatmu kecewa pada Appa... Appa memang tidak berguna... menerlantarkan anak Appa sendiri seperti ini, Eommamu pasti sangat kecewa pada Appa..." Minhwan menyadari setetes air mata sudah membasahi wajah Appanya. Matanya pun ikut berkaca-kaca melihat raut penyesalan diwajah Appanya.

"Appa hanya ingin yang terbaik untukkmu, tapi ternyata cara Appa salah. Seharusnya Appa lebih memperhatikanmu. Minhwan-ah, maafkan Appa..." Tn. Choi pun memeluk tubuh putra semata wayangnya itu dengan erat.

Minhwan yang kembali merasakan kehangatan sang Appa pun membalas dekapan itu. Ia pun sudah tak bisa menahan air matanya lagi untuk jatuh. Ayah dan Anak itu seolah berada dalam kerinduan yang teramat dalam.

"Ne... aku juga minta maaf Appa..."

.

.

"Seseorang?" alis Tn. Choi mengerut begitu ia mendengar penjelasan Minhwan.

Minhwan pun mengangguk, "Ne, aku kesini untuk menemui seseorang dan menyelesaikan masalah diantara kami. Maaf karena aku pergi mendadak tanpa memberi tahu apapun kepada Appa" jelas Minhwan lagi.

Tn. Choi pun mencoba untuk mengerti.

"Apa kau sudah bertemu dengannya?"

"Ne, aku sudah bertemu dengannya"

"Lalu, masalah kalian?"

Minhwan kembali terdiam. Ia mencoba untuk mencari jawaban yang tepat.

"Itu... aku tidak yakin. Tapi kurasa... kami memang akan berakhir seperti ini. Mungkin kedatanganku kesini hanya akan menambah beban pikirannya"

"Minhwan..." Tn. Choi pun menatap iba sang Anak. Ia bisa merasakan seberapa tertekannya perasaan Minhwan sekarang.

"Tapi... aku ingin mencobanya sekali lagi" tiba-tiba Minhwan mengangkat kepalanya menatap Tn. Choi.

"Aku akan mencoba lagi untuk bicara padanya. Jika kali ini tetap gagal, maka aku akan menyerah. Aku tidak mau jadi beban pikirannya" Minhwan pun membulatkan tekadnya dalam hati, walau ia tahu jika kali ini ia gagal lagi, hal itu pasti akan sangat menyiksa dirinya untuk beberapa waktu kedepan atau mungkin selamanya?

"Minhwan-ah, Appa tahu Appa tidak sepantasnya untuk membicarakan hal ini. Masalahmu sekarang pasti sudah terasa sangat berat, tapi..." Tn. Choi menggantungkan ucapannya.

"Aniyo, gwenchana. Wae Appa?" Minhwan justru penasaran dengan ucapan Ayahnya.

"Appa... akan pergi ke Amerika lagi..."

Minhwan terdiam sejenak, namun tak lama kemudian ia pun tersenyum tipis. "Jadi Appa akan pergi lagi? Arasso, pergilah Appa. Tidak usah mengkhawatirkanku, aku mengerti"

"Aniyo Minhwan. Kali ini Appa rasa akan lama dan Appa tidak mau lagi meninggalkanmu sendirian"

Minhwan mengerutkan alisnya, "Maksud Appa?"

"Appa akan membawamu ikut bersama Appa. Kau akan melanjutkan sekolahmu disana, karena mungkin kita akan tinggal selama beberapa tahun di Amerika" Tn. Choi pun menghela nafas panjang usai mengatakan keputusannya yang berat itu.

"A-Amerika... aku?" Minhwan membelalak tak percaya.

"Pekerjaan ini akan memakan waktu yang lama Minhwan. Appa tidak yakin bisa menjengukmu di Seoul, karena itu Appa tidak mau meninggalkanmu lagi. Appa mau kau ikut bersama Appa" Tn. Choi tetap berusaha menjelaskan hal itu kepada Minhwan.

"Tapi... ini... mendadak sekali..." Minhwan pun bingung harus menganggapinya seperti apa. Sejujurnya ia pun ingin pergi bersama Ayahnya, namun semudah itukah ia meninggalkan semuanya di sini? Semua Hyung dan teman-temannya bahkan Miki, apa ia bisa meninggalkan mereka semua.

"Dan satu lagi... Besok kita harus sudah kembali ke Seoul untuk bersiap-siap. Lusa, kita akan berangkat ke Amerika" Minhwan semakin shock mendengar ucapan Ayahnya.

"B-besok? Secepat itukah?" Minhwan menatap tak percaya pada Ayahnya. Tn. Choi pun hanya bisa mengangguk lemah.

Pikiran Minhwan semakin berkecamuk. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya sekarang, ia benar-benar tak bisa memilih. Tak bisa sedikitpun hatinya tenang untuk mengambil keputusan. Minhwan pun menarik nafas dalam dan mencoba untuk memikirkan semuanya.

.

.

"Oh? Nee-chan? Kau mau kemana?" bingung Michi saat melihat Kakaknya itu keluar dengan pakaian rapi dari dalam rumahnya.

"Aku ingin kemakam Ayahku, Michi" senyum tipis Miki seraya menjawab pertanyaan gadis yang sudah ia anggap Adik kandungnya sendiri.

Michi pun bisa melihat raut wajah sedih pada Kakaknya. Ia tahu Kakaknya itu belum dalam kondisi yang baik, terlebih setelah ia bertemu dengan seseorang bernama Minhwan kemarin.

"Onee-chan mau kuantar?" Michi pun menawarkan diri untuk menemani Miki.

"Tidak usah. Kau sedang mengerjakan tugas rumah kan? Kau tidak boleh kabur lagi atau aku laporkan pada Bibi" ancam Miki seraya mengacak-ngacak rambut pendek Michi. Michi pun mengerucutkan bibirnya dengan imut.

"Hufth, aku kan hanya ingin menemani Nee-chan. Aku tahu Nee-chan masih sedih" ucap Michi.

Miki pun tertawa pelan, "Tidak apa. Aku baik-baik saja sekarang. Kalau begitu aku pergi dulu" Gadis Jepang itu melangkahkan kaki meninggalkan rumahnya. Tak lama kemudian bayang tubuhnya pun mulai menghilang dimakan jarak.

Michi masih terdiam disana sambil menatap sendu kearah sang Kakak.

"Apanya yang baik-baik saja? Mata yang sembab itu... aku tahu Nee-chan habis menangis"

Michi pun hanya bisa menghela nafas panjang. Ia pun tak bisa berbuat banyak untuk masalah yang satu ini. Ia pun kembali melakukan tugas rumahnya sebelum Ibunya pulang dan mengecek hasil kerjanya.

.

.

Sesampainya ia didepan nisan Ayahnya yang masih baru. Miki pun segera menaruh bunga kesukaannya diatas nisan tersebut kemudian berdoa dengan tulus untuk sang Ayah yang sudah tenang di alam sana.

Setelah selesai, ia masih menatap lekat nama yang tertera diatas nisan itu dan tersenyum tipis. Walau ia tahu Ayahnya tak akan kembali, namun berada didekatnya seperti ini, masih terasa sama seperti ketika Ayahnya masih hidup.

"Otto-san, bagaimana kabarmu? Kau tenang-tenang saja kan disana?" Miki pun mencoba berbicara seperti biasanya. Sedikit demi sedikit beban dihatinya seolah menghilang. Masalah yang menerpanya akhir-akhir ini seolah terlupakan begitu saja secara perlahan.

Memang benar, sama seperti saat Ayahnya masih hidup. Ayahnya selalu jadi tempat yang bisa menampung semua keluh kesah yang dirasakan gadis Jepang itu. Dan kali ini, walau sosok fisik Ayahnya sudah tak mungkin ia lihat lagi, namun ia tetap membutuhkan keberadaan sang Ayah untuk melepaskan semua beban pikirannya.

"Kalau begini... aku jadi ingin sekali bertemu denganmu Otto-san..."

"Aku pun ingin sekali bertemu denganmu Ajjushi..."

Sontak Miki pun langsung berbalik begitu mendengar suara yang amat ia kenal. Betapa terkejutnya ia saat melihat Minhwan berdiri dibelakangnya sambil tersenyum teduh. Miki pun hanya bisa terdiam kaku saat Minhwan mensejajarkan posisi disampingnya kemudian berdoa didepan nisan Ayahnya.

"K-Kau... kenapa kau bisa ada disini?" bingung Miki.

"Jadi dia Ayahmu yang selalu kau ceritakan itu?" namun bukannya menjawab pertanyaan Miki. Minhwan justru mengalihkan pembicaraan dan tersenyum seperti biasanya.

Miki pun tak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengalihkan pandangannya dan tertunduk dalam.

Melihat hal itu, Minhwan tersenyum tipis. Ia tahu bahwa gadis Jepang dihadapannya itu masih terlarut dalam duka yang sangat dalam.

"Annyeong Haseyo Ajjushi"

Miki pun kembali mengangkat wajahnya saat mendengar suara Minhwan. Raut wajahnya semakin bingung saat melihat Minhwan bersikap seperti biasa dihadapan nisan Ayahnya.

"Ah, maaf.. kau pasti tidak mengerti bahasaku ya? Tapi hanya itu yang bisa aku katakan, semoga kau mau mengerti" Minhwan tersenyum malu dan melanjutkan pembicarannya.

"Perkenalkan, namaku Choi Minhwan. Aku bertemu putrimu Miki saat dia datang ke Korea, pertemuan kami sangat lucu. Waktu itu... aku terkejut saat menemukan gadis yang berteriak-teriak memakai bahasa Jepang didepan Minimarket, ternyata tas miliknya dicuri oleh seorang bocah. Kami pun mengejarnya dan berhasil mendapatkan tas itu kembali. Tapi Miki tak henti-hentinya memarahi bocah itu dengan memakai bahasa Jepang. Aku pun menyuruh bocah itu untuk pergi agar Miki tidak semakin membuat keributan dilingkungan itu. Haha, putrimu benar-benar gadis yang sangat agresif Ajjushi" Minhwan tertawa lepas seolah ia benar-benar menceritakan awal pertemuannya dengan Miki kepada sosok asli Ayah gadis Jepang itu.

Sementara Miki masih terdiam disampingnya. Menatap wajah lelaki yang penuh senyuman itu dengan tatapan sendu. Sesungguhnya ia benar-benar merindukan senyum itu.

"Dan ternyata kami satu sekolah. Setelah itu kami pun semakin sering bertemu bahkan bertengkar karena sifat kami yang sama-sama keras kepala. Namun karena itu kami bisa menjadi dekat dan menjalin hubungan bersama teman-teman yang lain. Kau tahu Ajjushi, di Seoul sana banyak orang yang menyukai putrimu. Termaksuk Hyung-hyungku, mereka sangat menyukai Miki..."

"Min... Hwan..."

"Haha, putrimu memang gadis yang menarik. Tapi ternyata aku baru tahu kalau dibalik sikap agresifnya itu, ternyata ia sangat takut dengan hantu dan gelap. Ia pernah hilang di Osaka saat kami melakukan jurit malam, untung saja aku bisa menemukannya" Minhwan tersenyum bangga dihadapan nisan Ayah Miki.

"Minhwan... kenapa..." Miki pun tak bisa berkata apapun lagi. Entah kenapa kenangan-kenangan indah itu justru terasa menyakitkan dihatinya sekarang ini. Ia benar-benar merindukan semuanya.

"Dan karena itu juga... aku tahu kalau Miki adalah seorang anak yang sangat manja padamu Ajjushi," kali ini Minhwan menoleh kearah gadis Jepang disampingnya dan tersenyum teduh. "Dia sering sekali menceritakan segala hal tentangmu, bahkan saat aku menemukannya dihutan jurit malam waktu itu, ia juga menceritakan soal dirimu. Setelah itu ia pun semakin banyak membicarakanmu, ia bilang ia sangat merindukan Ayahnya, ia sangat ingin bertemu dengan Ayahnya, bahkan dengan manjanya ia meminta kepada Ayahnya untuk menjemputnya kalau ia sudah kembali ke Jepang nanti..."

Semua ucapan Minhwan sukses membuat air mata yang sudah menggenangi kelopak mata Miki terjatuh lepas. Air mata itu pun mengalir membasahi pipi putih gadis itu. Miki terisak mengingat semua kenangan itu.

"Walau hanya mendengar ceritanya, tapi aku sudah bisa merasakan seberapa besar Miki mencintaimu Ajjushi... Miki benar-benar mencintaimu..." Mata Minhwan ikut berkaca-kaca menatap secara bergantian nisan dihadapannya dengan gadis Jepang disampinya yang tengah meringkuk terisak.

Tangisan Miki benar-benar pecah. Ia sangat merindukan keberadaan Ayahnya sekarang. Tubuhnya pun ikut bergetar karena menangis.

Melihat hal itu, kedua tangan Minhwan perlahan meraih tubuh yang lebih kecil darinya itu. Ia pun membawa Miki masuk kedalam dekapan hangatnya. Membiarkan tangis seseorang yang dicintainya itu tumpah disana. Tak apa walau bajunya harus basah karena air mata, Minhwan pun mengusap-usap punggung Miki yang bergetar dengan lembut.

"Sayang sekali... aku belum sempat bertemu dengan Ajjushi, padahal aku ingin sekali melihat sosok pria yang paling dicintai Miki..." ucap Minhwan seraya terus mengusap punggung Miki.

"Tapi sekarang aku benar-benar lega karena sudah bertemu dengan Ajjushi walau dalam keadaan seperti ini. Aku senang sekali, walaupun tidak bisa melihatmu secara langsung, tapi aku sudah bisa merasakan seperti apa sosok yang selalu diceritakan Miki..."

"...Min... Hwan..." raungan lemah Miki terdengar ditelinga Minhwan. Ia pun semakin mempererat dekapannya dan tersenyum tipis.

"Sebelum aku kembali ke Korea, aku ingin mengatakan hal ini kepadamu Ajjushi... terima kasih karena telah membawa Miki hadir ke dunia ini. Karena itu.. aku bisa bertemu dengannya. Aku manyukai putrimu Ajjushi, sangat menyukainya. Tapi aku hanya laki-laki bodoh yang hanya bisa terus-terusan menyakitinya, karena itu aku benar-benar minta maaf..."

Minhwan pun melepaskan dekapannya pada Miki dan beralih menundukkan kepalanya dengan dalam dihadapan nisan Ayah Miki. Sementara Miki dengan air mata yang belum berhenti mengalir hanya bisa menatap pilu kearah laki-laki yang ada disampingnya.

"Maafkan aku Ajjushi... dan terima kasih... putrimu sudah membawa kenangan yang indah untuk kehidupanku yang kelam sebelumnya... karena dia, aku bisa mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang..."

Minhwan pun memalingkan wajahnya kearah Miki. Lagi-lagi senyum teduh itu terpampang diwajahnya. Menatap dalam sang gadis Jepang yang sudah berhasil merebut hatinya.

"Miki..." panggil Minhwan pelan. Gadis Jepang itu hanya diam tanpa menyahut sedikitpun.

"...aku akan kembali ke Seoul..."

Sebait kata itu sukses membuat tubuh Miki semakin membeku. Walau keputusannya untuk mengakhiri semuanya sudah bulat, namun melupakan Minhwan ternyata bukan perkara yang mudah. Gadis itu sudah terlanjur mencintainya.

"Hari ini?" akhirnya Miki pun angkat bicara.

Hal itu membuat Minhwan sedikit tersenyum lega karena pada akhirnya gadis itu mau bicara padanya.

"Ne, hari ini aku akan pulang..."

Miki kembali terdiam. Ia berusaha untuk terlihat biasa, walau dalam hatinya terasa sakit karena ia tak mau Minhwan pergi meninggalkannya. Namun apa yang bisa ia lakukan? Pada akhirnya mereka memang harus berpisah, tempatnya adalah disini, Jepang dan Minhwan di Korea.

Bukan jarak yang dekat untuk keduanya jika mereka ingin bertemu. Ia pun tak pernah tahu apa ia bisa kembali lagi ke kota bernama Seoul yang sudah setengah tahun ini memberinya banyak kenangan manis.

"Miki, aku akan mencobanya sekali lagi... kau mau mendengarkan permintaan maafku kan?" Minhwan pun masuk pada inti pembicaraannya.

"Apa yang harus kumaafkan? Bukankah sudah kubilang, lebih baik kita lupakan saja semuanya. Dengan begitu tak ada yang menyakiti ataupun disakiti kan... dan tak ada yang perlu meminta maaf ataupun dimaafkan..." ucap Miki lirih.

Raut wajah Minhwan menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Lagi-lagi hanya kalimat menyakitkan itu yang keluar dari mulut Miki.

"Aku mengerti... semua ucapanku hanya bisa menambah beban pikiranmu... aku minta maaf" lagi, kata maaf itu terucap dari mulut Minhwan. Namun 'maaf' itu untuk hal yang berbeda.

"Kalau begitu... baik-baiklah disini..." Minhwan pun beranjak dari tempatnya. Kelopak mata Koreanya menatap sayu gadis Jepang yang masih berlutut didepan nisan Ayahnya.

"...aku benar-benar menyukaimu... dan hanya ini yang bisa kukatakan padamu selain permintaan maaf..."

DEG

Perasaan Miki kembali bergejolak. Sedikit saja ia lengah, air mata akan kembali jatuh dari kelopak matanya. Kali ini bukan lagi untuk menangisi seluruh kenangannya bersama Ayah maupun teman-temannya, namun untuk menangisi perasaannya yang tidak bisa tersampaikan pada orang yang disukainya.

"...kau boleh membenci bahkan melupakanku sesukamu... tapi aku tidak akan pernah mencoba untuk melupakanmu dan semua kenangan yang sudah kita lewati..." Minhwan tersenyum tipis.

"Semua itu terlalu berharga untuk hilang dalam ingatanku..."

Miki tetap terdiam. Jika saja gadis itu tak kuat menahan getaran tubuhnya akibat tangis yang tertahan, Minhwan pasti sudah mengetahui jika sebentar lagi tangis gadis itu akan meledak untuk membalas ucapannya. Namun Miki berusaha sekuat mungkin untuk tetap pada pendiriannya.

"Kalau begitu... aku pergi..." Minhwan pun kembali menoleh kearah nisan Ayah Miki dan menunduk dalam. "Aku pamit Ajjushi..."

"Dan Miki... selamat tinggal..."

Ucapan itulah yang terakhir terdengar oleh gadis Jepang itu sebelum akhirnya ia tak lagi menemukan sosok yang amat dicintainya selama ini. Minhwan telah pergi. Inilah keputusan mereka pada akhirnya, keputusan yang dirasa terbaik walau harus mengambil jalan yang terberat.

"...selamat... tinggal...?" ucapan itu, entah kenapa membuat perasaan aneh muncul dalam hati Miki. Apa itu artinya mereka benar-benar tidak akan bertemu lagi? Dia tidak akan datang lagi ke Jepang? Atau gadis itu yang mungkin memang tidak akan pernah kembali lagi ke Seoul.

Entahlah... perasaan Miki semakin tidak enak.

"Minhwan..."

.

.

Minhwan menatap kosong landasan udara yang sebentar lagi akan ia seberangi untuk mencapai pesawatnya menuju Seoul. Disampingnya Tn. Choi tak henti-hentinya menatap sendu putra semata wayangnya itu.

"Appa tidak tahu kalau kau menyukai seseorang... sepertinya dia gadis yang baik" ucap Tn. Choi berusaha membuat suasana itu menjadi sedikit menghangat.

Minhwan pun tersenyum tipis mendengar ucapan sang Ayah.

"Yah... jika aku mengatakan ia tidak baik, maka aku berbohong" Minhwan berusaha tertawa walau tawanya itu hanya menjadi tawa yang hambar.

Tn. Choi pun mengusap lembut kepala putranya, "Kalau saja kita punya waktu lebih banyak lagi, Appa tidak keberatan kalau kau mau memperkenalkannya pada Appa. Mungkin Appa bisa membantu kalian untuk—"

"Sudahlah Appa" Minhwan pun memutus ucapan Ayahnya begitu saja. Membuat Tn. Choi langsung menatapya bingung.

"Kurasa ini memang keputusan yang terbaik. Aku tidak mau menjadi beban pikirannya" sirat mata Minhwan semakin terlihat kosong. Perasaannya benar-benar hancur sekarang, namun ia tak bisa melakukan apapun lagi.

Pengumuman keberangkatan pun sudah menyeru diseluruh memenuhi seluruh penjuru bandara. Membuat Tn. Choi tersadar dari lamunannya terhadap sang Anak yang terlihat sangat terpukul.

"Kajja, kita berangkat" sebisa mungkin pria paruh baya itu berusaha untuk mendampingi Anaknya. Kini ia tidak akan lagi meninggalkan Minhwan sendiri dalam keterpurukannya.

Minhwan pun mengangguk lemah dan mulai melangkahkan kaki mengikuti jejak Ayahnya.

'Selamat Tinggal... Miki...'

.

.

Hari ini benar-benar terasa berat untuk Miki. Sejak pulang dari makam Ayahnya, gadis itu hanya bisa duduk termenung diatas tempat tidurnya. Menghabiskan waktu berjam-jam hingga malam datang bahkan seolah tak dirasa oleh gadis yang tengah berkecamuk dengan pikiran-pikirannya itu.

Sisa-sisa air mata yang mengering masih nampak di wajah mulusnya. Kini tangisnya sudah berhenti, nafasnya pun sudah kembali normal. Gadis itu hanya bisa menatap kosong tiap objek yang ia lihat, ia sudah terlalu lelah dengan semuanya.

Tiba-tiba saja suara panggilan yang berasal dari ponselnya membuyarkan lamunannya. Ia pun menolehkan kepalanya dengan enggan kearah benda elektronik yang bergetar-getar disampingnya itu. Benda yang kembali hidup setelah sekian lama dinon-aktifkan oleh sang pemilik.

Sebenarnya Miki sangat tidak ingin ada yang menganggunya saat ini, karena itu ia menonaktifkan ponselnya selama beberapa saat. Namun saat ponsel itu baru saja menyala, panggila khusus datang padanya.

"Kazu..." gumamnya saat melihat nama yang tertera dilayar ponsel fliptopnya. Ia pun mengangak telepon itu.

"Moshi-moshi..." sahutnya dengan suara serak.

'Miki?! Ya Tuhan, akhirnya aku bisa menghubungimu!'

Miki tersenyum tipis saat mendengar suara sahabatnya yang sangat ia rindukan itu.

'Apa kau baik-baik saja?! Kenapa ponselmu terus saja tidak aktif? Aku dan Kira jadi tak bisa mengubungimu kan!' terdengar nada bicara yang kesal sekaligus cemas dari Kazu.

"Ehm... gomen ne... aku sudah membuat kalian khawatir. Aku baik-baik saja... aku hanya butuh waktu sendiri, karena itu aku menon-aktifkan ponselku..." jelas Miki dengan suaranya yang terdengar berat.

'Apa kau benar-benar baik? Ada apa dengan suaramu? Miki, kau menangis?' tanya Kazu lagi, kali ini nada bicaranya lebih terdengar cemas.

Miki pun tersenyum tipis dan berusaha tertawa, "Adalah hal yang wajar kan kalau aku menangis dalam keadaan berduka. Sudahlah, aku benar-benar tidak apa-apa" ucap Miki memaksakan suaranya untuk terdengar baik.

Walau ia tahu bahwa ia sudah membuat kebohongan besar terhadap dirinya sendiri. Ia tidak mungkin dalam keadaan baik setelah seharian menangis hingga akhirnya lelah dengan sendirinya.

'Miki... maaf kami belum bisa menemuimu disana. Kami masih harus menyelesaikan urusan perpindahan di MyeoungDam, tapi sebentar lagi kami akan pulang ke Jepang'

"Tidak apa, justru aku yang harus minta maaf. Karena kepulanganku yang mendadak, aku jadi harus merepotkan kalian untuk urusan kepindahanku"

'Sudah sewajarnya kan! Kita ini teman! Lagipula bukan hanya kau yang pulang ke Jepang, kami juga. Rasanya setengah tahun ini berlalu dengan cepat, jujur saja aku sudah merasa kerasan tinggal di Seoul walau aku pun merindukan Tokyo...'

Miki tersenyum mendengar ucapan Kazu. Ternyata perasaan mereka pun sama, sudah terlalu banyak kenangan manis yang mereka lewati disana.

'Semua orang disini menanyakan kabarmu, Hongki sunbae, Jonghun, Seunghyun, Jaejin sunbae, Yoona, Soyeon dan yang lainnya... mereka semua mengkhawatirkanmu karena kau tak kunjung bisa dihubungi'

"Ternyata aku sudah membuat banyak orang khawatir ya. Aku benar-benar gadis yang nakal" Miki kembali berusaha untuk tertawa walau pada akhirnya hanya terdengar hambar.

'Miki... dengan begini aku harap aku bisa menemanimu menghadapi semuanya...'

Alis Miki pun mengerut saat tiba-tiba saja ia tak mengerti arah pembicaraan Kazu. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti ucapanmu"

'Kau sudah bertemu dengan Minhwan kan?'

Miki pun terdiam sejenak. Jadi kearah sini pembicaraan Kazu. Entah kenapa bayang-bayang lelaki itu tak sedikitpun bisa lepas dari pikirannya. Namun kali ini Miki berusaha untuk menanggapinya dengan biasa.

"Iya, aku sudah bertemu dengannya. Dia kembali ke Seoul hari ini kan, apa dia sudah sampai?" tanya Miki lebih kearah pembicaraan biasa yang menganggap Minhwan hanya sebagai 'temannya'.

'Ya, aku baru mendapat kabarnya dari Jonghun. Miki... aku tahu ini adalah hal yang berat bagimu, apakah kau baik-baik saja?'

"Kenapa kau menanyakan hal itu terus menerus? Aku baik-baik saja, Zu... tidak ada yang harus kau cemaskan" Miki berusaha untuk menguatkan dirinya.

'Tapi Miki... apakah ini benar-benar keputusan yang tepat? Bahkan kalian mungkin tidak bertemu lagi, aku benar-benar mencemaskanmu...'

"Aku tahu... mungkin... suatu hari nanti... jika ada kesempatan lagi, aku akan mengunjungi Seoul. Lagipula tahun depan sepertinya Michi akan ikut program pertukaran pelajar di MyeoungDam, ia akan jadi adik kelas Minhwan kan. Aku bisa titip salam padanya, Michi pun sudah mengenal Minhwan" ucap Miki setegar mungkin.

'Seoul? Miki... jangan bercanda, ini tidak ada hubungannya lagi dengan Seoul ataupun MyeoungDam kan'

Ucapan Kazu barusan pun sukses membuat mata Miki membelalak lebar. Ia tidak mengerti dengan ucapan Kazu yang sepertinya akan membawa berita yang tidak mengenakan.

"A-Apa maksudmu, Zu?" tanya Miki hati-hati.

Kini giliran Kazu diseberang sana yang terkejut. Apakah sahabatnya itu tidak mengetahui sedikitpun soal kepergian Minhwan? Mengapa ia justru terdengar bigung?

'Miki... k-kau benar-benar tidak tahu?'

"Sebenarnya ada apa Kazu?!" nada bicara Miki pun meninggi saat perasaan tidak enak semakin memenuhi pikirannya.

'Apa kau benar-benar tidak tahu bahwa Minhwan akan pindah ke Amerika?'

DEG

Rasanya seperti dihantam oleh sebuah bom besar. Miki tebujur kaku, otot matanya seolah mati karena selama beberapa menit mata itu tidak bisa mengedip. Ia terlalu terkejut mendengar berita itu.

'A-Amerika?"

'Apa Minhwan tidak mengatakannya padamu? Dia akan pindah bersama Ayahnya ke Amerika, Miki. Entah sampai berapa lama aku juga tidak tahu...'

Miki semakin tercekat. Ia benar-benar tidak tahu apapun tentang hal ini. Apakah ini maksud dari ucapan selamat tinggal Minhwan tadi pagi?

"Kazu... kapan dia akan berangkat?" tanya Miki cepat.

'Itu... kalau tidak salah besok'

"Secepat itu?!" mata gadis Jepang itu membulat sempurna.

'Miki...' Kazu pun tak tahu harus berkata apa lagi. Ia tak menyangka bahwa sahabatnya Miki yang seharusnya tahu masalah ini, justru tidak mengetahuinya sama sekali.

'Miki, kau baik-baik saja?!' cemas Kazu.

Miki pun masih terdiam diatas tempat tidurnya. Sekujur tubuhnya benar-benar membeku mengetahui berita itu. Ia tak menyangka kalau ia akan benar-benar berpisah dengan Minhwan. Padahal dalam hati kecilnya ia berharap suatu saat nanti ia bisa memperbaiki hubungannya dengan laki-laki itu, entah kembali sebagai Teman atau lebih. Yang jelas ia ingin kembali bersama Minhwan.

Namun pikirannya yang terbagi dengan banyak hal sekarang membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Terlalu banyak beban yang harus dipikirkan, ia takut salah satu keputusan yang ia ambil justru akan membawa masalah baru karena itu ia pun serba salah dalam mengambil keputusan.

Gadis Jepang itu pun menghela nafas panjang, kali ini saja... ia tidak mau beban pikirnya mengalahkan sesuatu yang seharusnya bisa ia pikirkan dengan baik. Hatinya sakit, bahkan kelopak mata Jepangnya kini sudah digenangi oleh bulir-bulir air mata yang siap tumpah. Namun Miki berusaha menahan semuanya, kali ini ia harus mengambil keputusan yang tepat.

"Ternyata begitu..." suara Miki terdengar bergetar, namun sekuat tenaga ia menahan agar suaranya tetap stabil dan tidak pecah menjadi sebuah isakan.

'Miki...'

"Apa kalian akan mengantar kepergiannya besok? Bisakah aku menitip salam padanya?"

'Kau tidak bisa datang kesini? Kita pergi bersama-sama, kau harus menemuinya kan' Kazu tahu ucapannya itu memang tidak masuk akal. Bisa-bisanya ia dengan mudah menyuruh Miki datang ke Seoul diwaktu yang cepat, namun ia pun bingung harus mengatakan apa. Ia hanya ingin yang terbaik untuk sahabatnya.

"Aku tidak bisa... Keluargaku akan datang untuk acara peringatan kematian Otto-san. Aku tidak bisa meninggalkan Jepang..." ucap Miki dengan senyum pahitnya. Tentu saja disaat seperti ini ia harus lebih memilih kepentingan keluarganya, terutama itu menyangkut masalah Ayahnya.

'Miki... maafkan ucapanku yang seenaknya..'

"Tak apa Zu, aku mengerti. Lagipula pada akhirnya kita memang harus berpisah kan, setelah masa pertukaran pelajar kita habis, kita akan kembali ke kehidupan kita masing-masing seperti sebelumnya, tanpa mengenal satu sama lain" senyum pahit Miki semakin mengembang.

Kazu yang berada nan jauh disana bahkan bisa merasakan seberapa sakitnya hati Miki sekarang. Namun ia juga tak bisa berbuat banyak, walaupun hanya salam yang ingin Miki sampaikan, mungkin itu sudah menjadi jalan yang jauh lebih baik dibanding berpisah tanpa kata sedikitpun.

'Baiklah, apa ada hal yang ingin kau sampaikan padanya? Akan kupastikan dia mendengarnya besok!' ucap Kazu dengan semangat. Berharap sedikit saja ia bisa membangkitkan semangat Miki yang biasanya.

"Ng... apa itu... aku juga tidak tahu, kalau mendadak seperti ini..." Miki pun masih memikirkan kata-kata yang pantas untuk Minhwan.

'Perasaanmu?'

DEG

Ucapan Kazu itu sontak membuat Miki kembali terdiam. Namun sedetik kemudian ia pun tersenyum tipis, "Katakan saja padanya... Baik-baiklah disana dan turuti kata-kata Ayahnya. Semoga hubungan mereka selalu dalam keadaan baik" Ucap Miki dengan senyum mengembang.

'Ha-Hanya itu? Kau serius? Bagaimana dengan—'

"Tolong sampaikan saja itu padanya" tanpa bicara panjang lebar lagi, Miki benar-benar mengakhiri pembicaraannya. Kazu pun terdiam, namun ia pun ikut menerima keputusan itu. Ia mencoba mengerti dengan keputusan Miki, berharap dalam hati kecilnya semoga inilah yang terbaik.

Pembicaraan mereka pun terputus. Menyisakan Miki yang masih duduk termenung diatas tempat tidurnya.

.

.

Miki POV

.

Kulangkahkan kakiku pelan menuju jendela kamar. Tirai berwarna biru itu kutarik perlahan, memperlihatkan lukisan alam yang tercipta malam ini.

Aku terdiam dihadapan milyaran bintang.

Aku benci kegelapan, bahkan langit malam. Namun jika benda-benda cantik itu ada diatas sana, rasanya segala hal yang kubenci itu lenyap seketika.

Sama seperti malam itu,

...dimana aku terjebak sendirian dihutan Kyoto yang gelap gulita.

Jika saja dia tidak datang menemukanku, aku tak bisa membayangkan lagi apa jadinya diriku yang sudah setengah mati ketakutan itu.

Bagaikan milyaran bintang ini, ditengah kegelapan dia tiba-tiba datang menemukanku. Membuat rasa takutku seolah lenyap seketika. Aku yang terjatuh didalam tebing yang mungkin tak terjamak oleh kehidupan diluar di malam gulita seperti itu.

Aku ingat saat dimana ia bisa menemukanku seorang diri. Saat ia sengaja menjatuhkan dirinya kebawah tebing agar bisa menemukanku. Saat aku bisa melihat sekujur tubuhnya dipenuhi luka lecet akibat hal itu.

Kami, yang berada dibawah milyaran bintang langit malam Kyoto.

'Kau suka bintang?'

'Sangaaaat Suka~'

'Baguslah, sepertinya kau sudah kembali baik setelah melihat bintang. Setidaknya kita sudah berada ditempat yang terang'

'Minhwan...'

'Sudah kubilang, kau lebih bagus jika tersenyum... aku tidak suka melihatmu murung'

Sudut bibirku tersenyum tipis mengingat hal itu, "Aneh... padahal biasanya bintang jarang lagi terlihat di Tokyo, tapi kali ini... kenapa?"

Pandanganku kembali mengedar ke langit malam yang cerah itu. Kali ini aku sudah bisa tersenyum puas. Tersenyum dengan tulus atas semua hal indah yang sudah kudapatkan, mungkin rasa sakit ini akan tetap tersisa dan air mata ini akan tetap keluar, tapi aku berusaha kuat.

"Kau lebih suka melihatku tersenyum kan..."

"...nado saranghae, Choi Minhwan... Bye Bye..."

.

.

"Bintang malam ini banyak sekali..." gumam seorang lelaki yang hanya duduk terdiam dipinggir jendela kamarnya dengan kepala yang bersandar di tiang jendela. Matanya menerawang jauh milyaran bintang yang bertebaran di langit malam.

"Miki..." ucap Minhwan, lelaki itu. "Jika kau melihat hal ini, apa kau akan senang?"

Putra sulung keluarga Choi itu pun tersenyum lembut.

"...Saranghae... Bye Bye..."

.

.

Even if you leave me far away, if I close my eyes, your heart will be near

All my love is for you

Nothing left to lose

Because I know the meaning and strength of your love more than anybody else
.

.

4 Years Passed

.

.

"A-Aku gugup..." Tubuh Kazu seolah membeku saat detik-detik upacara sakralnya akan dimulai. Ya, hari ini diusianya yang menginjak 21 tahun, ia akan segera melangsungkan pernikahannya bersama Jonghun, -pria berkebangsaan Korea yang sudah bersama dengannya sejak 4 tahun yang lalu.

KYUUT~

Kira pun mencubit pipi chubby sahabatnya itu. "Apa ini wajah dari seorang pengantin? Kau terlihat seperti Mumi!" sergah Kira.

Kazu pun mempoutkan bibirnya, "Kau kan belum mengalaminya. Aku benar-benar gugup tahu! Rasakan saja kalau kau juga menikah dengan Hongki nanti!"

Raut wajah Kira sedikit memerah mendengar ucapan Kazu, namun dengan cerdas ia bisa menyembunyikan rona wajahnya itu. Yah, khas seorang Akegawa Kira yang selalu terlihat cuek namun memiliki kelembutan tersendiri didalamnya.

"Lalu, bagaimana dengan Miki?" tanya Kazu tiba-tiba.

"Hari ini dia tiba di Jepang, sejak tadi pagi aku belum bisa menghubunginya. Mungkin dia masih berada didalam pesawat" jelas Kira. Kazu pun menganggukan kepalanya.

Miki sekarang memang bekerja sebagai seorang penulis buku. Dan sudah setahun ini, ia jadi sering pergi ke luar negeri bersama editornya untuk mencari beberapa referensi. Dan sekarang, tepat di hari pernikahan Kazu, ia menyempatkan diri untuk pulang dan menghadiri upacara pernikahan sahabatnya itu.

Waktu yang dinanti pun tiba. Sudah saatnya Kazu bersiap untuk memulai upacaranya.

"Baiklah, kutinggal ya. Aku harus kembali ke kursi hadirin sekarang, si berisik Hongki itu sudah memanggilku dari tadi" ucap Kira.

"Eumm..." Kazu hanya mengangguk pelan.

Kira pun tersenyum lembut kearah sahabatnya itu, "Tenang saja. Kau sangat cantik, pernikahanmu akan berjalan lancar. Akhirnya kau sampai pada hari bahagiamu" ucapan manis Kira membuat hati Kazu menghangat seketika.

Wanita yang sudah berbalut gaun pengantin itu pun langsung memeluk Kira.

"Arigato..."

"Jangan menangis! Kalau sampai make-up mu luntur sebelum acara dimulai, aku akan mencubitmu! Lebih buruk lagi, aku akan pulang sebelum kau sempat mengucapkan janji!" gertak Kira. Walau tak bisa dipungkiri ia pun ingin menangis bahagia merasakan momen berharga ini.

"Haha, baik aku janji. Tapi kalau sampai aku tidak bisa menahannya lagi, aku boleh menangis ya. Dan kau yang harus membetulkan make-up ku lagi" Kazu tersenyum tipis.

Kira pun mengangguk dan membalas senyumnya, "Sudahlah. Cepat bersiap! Fighting!"

Dan Kira pun keluar dari ruang rias itu, meninggalkan Kazu yang tengah mempersiapkan diri menghadapi salah satu momen terpenting dalam hidupnya ini.

.

.

"Kenapa lama sekali?~" gerutu Hongki saat Kira baru saja kembali dan duduk disampingnya. Ia memang sudah menanti-nanti kehadiran Kekasih tercintanya itu, karena ia ingin menyaksikan pengucapan janji Jonghun dan Kazu bersama dengan Kira.

"Itu hanya sebentar Hongki, jangan seperti anak kecil" balas Kira cuek.

Hongki semakin mengerucutkan bibirnya. Tak lama kemudian, para hadirin mulai berdiri saat mempelai wanita memasuki altar, sedangkan Jonghun sudah berdiri didepan altar untuk menunggu kedatangan calon Istrinya itu.

Terlihat Kazu tengah berjalan bergandengan tangan dengan Ayahnya. Dia benar-benar terlihat cantik, semua mata pun menatap takjub gadis Jepang yang akan menjadi Wanita Choi itu.

"Kazu cantik sekali ya..." gumam Kira.

Hongki pun tersenyum mendengar ucapannya, "Akan kubuat kau lebih cantik dihari pernikahan kita nanti"

Mendengar hal itu, Kira langsung tertunduk malu. Namun dengan segera ia merubah raut wajahnya seperti biasa. "Ayo duduk!" sergah Kira seraya manrik tangan Hongki untuk kembali duduk dan menyaksikan janji sakral yang akan terucap. Hongki pun hanya bisa tertawa pelan melihat sikap Kira yang terihat manis.

Kini kedua mempelai pun sudah berada dialtar dan perjanjian itu dimulai.

"Choi Jonghun, apa kau bersedia untuk selalu menemani Uzumi Kazu sebagai pendamping hidupnya disaat sakit maupun senang sampai ajal memisahkan kalian?"

"Aku bersedia" jawab Jonghun tegas.

"Dan kau Uzumi Kazu, apa kau bersedia untuk selalu menemani Choi Jonghun sebagai pendamping hidupnya disaat sakit maupun senang sampai ajal memisahkan kalian?"

"Aku bersedia" Kazu pun melepaskan jawaban yang sama.

Dan kini mereka telah terikat oleh janji suci yang akan selalu melekat dalam hati mereka sampai akhir hidup mereka. Jonghun dan Kazu pun saling bertatap dalam, terlihat jelas sirat mata yang penuh kebahagiaan disana. Kazu tersenyum lebar sekaligus berusaha menahan tangis harunya. Dan sebelum butir krystal itu pecah, Jonghun pun merapatkan bibirnya dan mengecup lembut bibir Kazu.

Cincin pernikahan pun sudah terpasang manis dijari mereka.

Membuat para hadirin langsung bersorak senang merayakan kehidupan baru yang terjalin ini. Begitu juga Hongki dan Kira yang sejak tadi seolah tak berkedip menyaksikan tiap detik upacara pernikahan sahabat mereka itu.

Kira pun menggenggam erat tangan Hongki, membuat laki-laki dengan killer smile itu menoleh kearahnya. Kira tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, sepertinya hatinya benar-benar tersentuh melihat semua ini.

Hongki pun membalas senyumnya dan ikut mendekatkan wajahnya kearah Kira, tak lama kemudian bibir mereka saling bertautan dengan dihujani oleh kelopak-kelopak manis bunga sakura di musim semi Jepang.

.

.

"Kau tidak mau ikut berebut mengambil bunga? Kazu akan segera melemparnya lho~" goda Hongki seraya menunjuk kearah kerumunan gadis-gadis yang tak jauh dihadapannya. Mereka sedang menanti sesi pelemparan buket bunga pengantin oleh Kazu.

"Kalau aku mengambilnya, maka aku yang akan menikah berikutnya? Hmph, kekanakan sekali" Kira hanya tergelak masih dengan gaya cueknya.

"Kau yakin tidak mau mengambilnya?" goda Hongki lagi.

"Sudahlah Lee Hongki, ini tidak ada hubungannya dengan—"

PLUK

"He?" Kira membelalakan mata tak percaya saat sebuah buket bunga pengantin jatuh tepat ditangannya yang tengah terbuka.

Hongki pun tersenyum puas kearah Jonghun dan Kazu. Sepertinya Kazu memang sengaja melemparnya kearah Kira agar gadis itu bisa mendapatkannya.

"A-Aku dapat?" Kira masih menatap tak percaya buket bunga itu.

"Woah, yeoboku mendapatkannya! Nice Catch!" Hongki pun langsung merangkul pundak Kira yang lebih pendek darinya. Gadis Jepang itu pun menatap Hongki dengan mata yang berkaca-kaca.

"Hongki..." ia tak tahu harus berkata apa. Yang jelas, perasaannya menjadi bahagia seketika dengan alami ketika buket bunga pengantin itu sampai ditangannya.

"Kalau begitu besok kita menikah ya!" senyum lebar Hongki.

Semua orang yang mendengar hal itu pun ikut tertawa, begitu juga Jonghun dan Kazu. Hal itu membuat rona merah kembali mewarnai wajah Kira, ia yang awalnya senang kini kembali kesal dengan sikap Hongki itu.

"Dasar seenaknya!" Kira pun memukul-mukul tubuh Hongki dengan buket bunga itu.

.

.

"Gyaaa! Lewat setengah jam, Kazu pasti sudah mengucapkan janjinya!" terlihat seorang gadis Jepang tengah sibuk berlarian menuruni tangga dari kamarnya menuju lantai bawah. Sampai dibawah pun ia kembali berlari mengitari isi ruang tamu itu untuk mencari sesuatu.

"Dimana sepatuku?!" Miki, gadis Jepang yang baru saja mendarat dikampung halamannya itu sangat terlihat repot sekarang.

"Sudah ada pintu depan Nee-chan! Jangan terus berlarian seperti itu, nanti dandananmu hancur!" Michi yang juga turun dari tangga pun langsung menghampiri Miki.

Mendengar hal itu, Miki langsung berlari menuju pintu depan. "Lagipula dandanan ini adalah idemu, aku tidak memintanya" ucap Miki ditengah-tengah kegiatannya memakai sepatu.

"Masa kau mau datang dengan dandanan ala turis seperti tadi?! Aish, dasar Onnie ini!" sergah Michi dengan kedua tangan yang melipat didepan dada.

"Panggil aku Nee-chan, Michi!" Miki pun sudah siap.

"Sudahlah, ayo kita segera pergi. Kazu Nee-chan sudah mengucapkan janjinya dari tadi" Michi pun menarik tangan Miki untuk mengikuti langkahnya.

Tempat dimana resepsi pernikahan Kazu dan Jonghun diadakan memang tak jauh dari rumah mereka. Karena itu mereka lebih memilih untuk berjalan kaki yang tidak akan memakan waktu sampai 15 menit.

"P-Pelan-pelan Michi! Tadi kau yang bilang kita tidak boleh lari" gerutu Miki yang mulai kesulitan menyusul langkah adiknya itu. "Kalau kau memang tidak mau terlambat, kau kan bisa datang dari tadi tanpa harus menungguku tiba disini"

"Aish, Nee-chan ini masih bisa bicara seperti itu. Yang penting kita jalan saja!" kini Michi pun kembali meraih tangan Miki dan menariknya.

"Michi, kau mau membuat kakiku lecet, hah?!"

"Hehe, Nee-chan ayo jalan lebih cepat~"

.

.

Ditempat yang tak jauh dari kedua Kakak-beradik itu, seorang pria berkebangsaan Korea dengan kacamata hitam yang melekat diwajahnya terlihat bingung dengan tempat ia berada sekarang.

"Aish, kenapa Hongki hyung tidak menangkat telepon? Aku harus kemana sekarang, aku kan tidak bisa bahasa Jepang!" gerutu Minhwan saat usahanya untuk menelepon Hongki selalu gagal karena sepertinya pemilik handphone itu tengah sibuk di tempat lain.

"Aku harus bertanya kepada siapa? Disini tidak ada orang" Minhwan pun memperhatikan deretan rumah yang ada disekelilingnya. Ia memang tengah berada dikomplek perumahan sekarang. Dan dia sedang mencari tempat dimana pernikahan Hyungnya –Jonghun, dilaksanakan.

"...aku tidak pernah ke Jepang lagi sejak 4 tahun yang lalu..." ia pun teringat dengan kenangannya di negeri sakura ini beberapa tahun yang lalu.

Tiba-tiba matanya menangkap seorang wanita paruh baya yang lewat tak jauh dihadapannya. Minhwan pun memberanikan diri untuk bertanya pada wanita itu.

"M-Maaf... bisa aku bertanya?" wanita itu pun terlihat bingung saat mendengar bahasa asing yang diucapkan Minhwan.

Minhwan langsung merutuki dirinya saat ia sadar bahwa baru saja ia memakai bahasa Korea, jelas saja wanita ini tidak mengerti.

"Can you help me?" kali ini Minhwan mencoba berbicara dengan bahasa Inggris. Namun wanita itu justru terlihat semakin bingung mendengarnya. Minhwan pun menyerah, ia juga merasa tak enak karena sudah menghalangi jalan wanita itu. Ia pun membungkukkan badannya, begitu juga wanita itu sebelum akhirnya ia pergi.

Dan kini ia kembali sendiri dan berusaha memikirkan kembali bagaimana caranya ia bisa sampai ke tempat pernikahan Jonghun.

.

.

"Oh, Bibi!" seru Michi saat mereka berpapasan dengan seorang wanita paruh baya di tengah jalan. Mereka pun menghentikan langkahya dan menyapa wanita itu dengan sopan.

"Michi, Miki... kalian mau kemana?" bingung wanita yang tak lain adalah tetangga kedua Kakak-beradik itu.

"Kami mau keacara pernikahan temanku Bi. Bibi darimana?" tanya Miki.

"Belanja. Ah, Miki-chan... tadi aku bertemu orang asing disana. Sepertinya dia sedang kebingungan, kau bisa berbahasa asing kan? Temui saja orang itu dan bantu dia. Bibi ingin membantunya tapi Bibi tidak mengerti bahasanya" ujar wanita itu.

"Orang asing? Orang barat?" tanya Miki lagi.

"Sepertinya dia orang asia. Bibi tidak melihat jelas wajahnya karena dia memakai kacamata hitam" jelas wanita itu.

"Hm, iya sudah. Kalau aku bertemu dengannya, aku akan coba bertanya. Sekarang kami harus pamit Bibi" ucap Miki sopan seraya membungkukkan badannya.

"Kami pergi dulu ya, Bibi!" Michi pun ikut pamit dan kembali berlari bersama Miki.

.

.

"Apa itu orangnya, Nee-chan?" Michi berusaha memperjelas penglihatannya saat melihat seorang laki-laki asing yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Sepertinya laki-laki itu tengah tersesat.

Miki pun ikut memperhatikan pria itu.

"Nee-chan, sapa dia!" sergah Michi.

"Aku tidak tahu dia berasal dari mana. Bibi bilang dia orang Asia, jangan-jangan orang China! Aku kan tidak bisa bahasa China!" gerutu Miki.

"Aish, Onnie ini~ kalau terlalu lama berpikir, kita akan semakin terlambat!" Michi pun ikut menggerutu.

"Lagi-lagi kau menyebut Onnie—!"

"Onnie-ya!~"

"Hah, iya sudahlah. Kau duluan saja, aku akan segera menyusul" ucap Miki pada akhirnya. Mereka memang sudah dekat dengan dengan tempat acara diselenggarakan, bahkan mungkin hanya tinggal beberapa langkah lagi.

"Baiklah, jangan lama-lama Onnie!" Michi pun meninggalkan Miki ditempat itu.

Dengan perasaan gugup, Miki memberanikan diri untuk mendekati laki-laki itu. Kini ia pun sudah berdiri dibelakang tubuh tegap yang lebih tinggi darinya itu.

"S-Sorry... may I help you?"

Laki-laki dihadapannya itu pun langsung berbalik dan kini mereka sudah saling bertatap muka. Seketika mata Minhwan membelalak lebar saat melihat wajah yang sangat dikenalnya itu. Walau tak bisa dipungkiri bahwa gadis Jepang itu telah berubah menjadi lebih dewasa sekarang.

"Excuse me?" namun sepertinya Miki masih belum menyadari siapa yang berada dihadapannya, karena Minhwan masih memakai kaca mata hitamnya.

"Miki..."

DEG

Tubuh gadis Jepang itu pun terdiam kaku saat mendengar suara yang amat familiar ditelinganya. Suara yang terus ia ingat walau dalam 4 tahun ini ia tidak pernah lagi mendengarnya. Tiba-tiba darahnya berdesir cepat, hatinya pun berdebar-debar.

Perlahan Minhwan melepaskan kacamata hitamnya. Membuat Miki semakin terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang.

Hening.

Hanya itu yang terjadi. Keduanya hanya terdiam menatap satu sama lain. Sampai sesuatu terasa menggelitik hati mereka, perasaan rindu yang membuncah memaksa untuk keluar.

Minhwan pun tersenyum teduh, "...sudah lama sekali ya"

Sementara Miki masih terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Namun perasaannya juga tak dapat ia tahan lagi, ia benar-benar merindukan laki-laki dihadapannya ini. Laki-laki yang ia selalu ia tunggu selama 4 tahun ini.

GREP

Dengan cepat, Miki pun sudah memeluk erat tubuh Minhwan. Membuat sang pemilik tubuh hampir terjungkal kebelakang akibat dorongan gadis Jepang dihadapannya, namun dengan cepat ia pun membalas dekapan hangat itu.

"...Minhwan..." Miki tak bisa berkata apa-apa.

"Tak kusangka kita akan bertemu disini... gadis bintang..."

Keduanya pun tersenyum dan semakin memperat pelukannya. Melepaskan perasaan rindu satu sama lain yang sudah lama tertahan selama ini. Memperbaiki hubungan yang sempat berakhir kurang sempurna, tidak seperti sahabat-sahabat mereka.

"Onnie! Kenapa lama sekali?! Kazu Onnie sudah memanggil— Omo!" langkah Michi pun langsung terhenti saat melihat pemandangan mengharukan dihadapannya.

"...mereka bertemu... mereka bertemu lagi..." Michi pun tak bisa menahan senyum bahagianya. Ia memutuskan untuk diam dan memperhatikan dari jauh sepasang manusia yang mungkin akan kembali kepada takdir mereka itu.

Takdir yang sempat terputus karena pikiran labil dimasa lalu. Dan kini disaat mereka semua menjadi dewasa, hal yang benar pun sudah bisa terlihat.

Jonghun, Kazu...

Hongki, Kira...

Minhwan, Miki...

Dan berapa banyak lagi manusia yang akan menemui takdir ini. Diawali dengan pertemuan yang tak terduga dan ending yang mendebarkan hati. Kini semuanya telah berkumpul untuk merayakan hari bahagia ini.

Kehidupan baru akan segera dimulai

Cerita yang baru pun akan segera dimulai, meninggalkan ketidaksempurnaan di masa lalu untuk diperbaiki dengan kesempurnaan di waktu sekarang.

Apa lagi yang diharapkan selain akhir yang bahagia? This is the end of this story.

.

.

All My Love Is For You

Even from the far and distant roads, you continue to shine for me so

You can start to run with fear

Because I know the meaning and strength of your love more than anybody else

.

.

Mr. Cassanova Fin

.

Backsound : Shoujo Jidai – All My Love is For You

.

A/N : Kyaaa~ akhirnya cerita ini tamat juga, waktu cepat berlalu ya. Tapi updatetan ku yang lambat berlalu, haha. Jeongmal Mianhaeo, aku selalu gak bisa profesional dalam hal mengupdate chapter maupun memperbagus jalan cerita. Aku tahu ini pasti sangat mengecewakan readers, apalagi yang udah nunggu-nunggu chap terakhir dan ternyata hanya berakhir kaya gini.

JEONGMAL MIANHAEO~ *deep bow*

HongKira Shipper atau JonghunKazu Shipper pasti kecewa banget ya chap terakhir isinya MinhwanMiki semua~ Maaf ya~ habis bagaimanapun juga cerita mereka juga harus ada akhirnya, klo HongKira atau JongKazu kan udah

Aku minta maaf juga untuk yang nunggu-nunggu tokoh lainnya, (Seunghyun, Jaejin, Wonbin, dll), aku gak bisa munculin tokoh favorit kalian disini.

Terakhir aku ucapin, BANYAK TERIMA KASIH untuk readers yang udah ngikutin Mr. Casaanova ini, tanpa support dari kalian, cerita ini gak mungkin jadi, pokoknya...

JEONGMAL GOMAWO~ *deep bow*

Annyeong, sampai ketemu di cerita lainnya!

.

SPECIAL THANKS FOR nanachan *hugs*, FurimaDahlia, sari, Furima *hug all*