à Cause de L'Amour
Sekuel : Notre Dernière Histoire
By : Cloudy ft SwagJeonJun
BTS fanfiction (YoonMin the main), Rate T Nyerempet, BL, Typos, Missing Words, Kacau, alur maju mundur 'Fire' ^^
Enjoy it!
SWAG
Yoongi meangernyit sakit saat Seokjin dengan sengaja menekan kuat kapas yang sudah dibasahi antiseptik ke luka di wajahnya.
"Hyung kau mau mengobatiku atau menambah lukaku?" ujar Yoongi yang sekali lagi merasakan lukanya berkedut ngilu.
"Agar kau kapok. Kenapa juga kalian berkelahi seperti itu" jawab Seokjin sambil merapikan kembali kotak p3k'nya lalu menempelkan beberapa plaster di beberapa luka di wajah Yoogi yang terdiam dan menerawang jauh ke langit malam yang gelap di balik jendela kamar Seokjin.
"Siapa yang harus aku benci hyung?" Tanya Yoongi pelan membuat Seokjin menatapnya bingung.
SWAG
Bugh!
Yoongi menendang perut Hoseok keras sampai dia jatuh tersungkur dan terbatuk-batuk. Amarahnya sudah naik ke ubun-ubun, nafasnya memburu dengan wajah memerah penuh emosi.
"Kenapa kau melakukan semua ini Hah!" Bentaknya sambil menatap nyalang Hoseok yang tengah berusaha berdiri, suara kekehan pelannya menjadi jawaban untuk Yoongi. Hoseok memasang raut wajah mengejek membuat Yoongi semakin emosi.
"Karenamu. Karena kesalahnmu Min Yoongi atau harus aku panggil Suga senpai?"
Hoseok berjalan mendekat ke arah Yoongi yang terdiam.
"Kim Taehyung. Apa yang sudah kau lakukan padanya?" lanjutnya. Semua emosi Yoongi menguap seketika saat mendengar nama itu.
"Eo! Kemana Yoongi yang menakutkan tadi" ucapnya yang baru Yoongi sadari sudah ada di depannya.
"Aku. Aku tidak melakukan apapun" jawab Yoongi yang bahkan diragukan olehnya sendiri.
Brukk!
Satu pukulan telak mengenai pipi kanannya dan membuatnya jatuh tersungkur. Rasa perih langsung dia rasakan di sudut bibirnya.
Bugh!
Satu tendangan juga dia terima, Hoseok meyeringai melihat Yoongi yang tidak melawan sama sekali.
"Apa yang aku lakukan pada Jimin tidak seberapa dengan apa yang diterima Taehyung" Ujar Hoseok sambil menarik kerah t shirt Yoongi lalu kembali memukulnya jatuh.
"Kau membuatnya menderita dan menghancurkan harga dirinya. Gara-gara Kau. Kau Min Yoongi si keparat yang tidak bisa Taehyung benci!" Hoseok kembali memukul Yoongi brutal. Yoongi benar-benar pasrah. Bukan. Bukan karena dia tidak bisa melawan Hoseok tapi karena Kim Taehyung. Namja yang menjadi titik lemah Min Yoongi si preman sekolah.
"HEY! Apa yang kau lakukan Hoseok!" Namjoon berteriak sambil menarik Hoseok yang hendak menginjak tubuh Yoongi yang trbaring lemah di lantai studio.
"Yoongi'ah" Seokjin ikut masuk dan langsung membantu Yoongi.
Hoseok langsung melepaskan tangan Namjoon yang menahannya dan berjalan keluar setelah sebelumnya menatap tajam Yoongi dan menendang pintu studio terbuka membuat bunyi gebrakan yang keras.
"Yoongi apa yang terjadi?"
Yoongi terdiam masih terlena di lubang mimpi buruknya.
SWAG
Yoongi mennyesap americano keduanya sore itu, sesekali dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah 20 menit dia menunggu namja yang katanya kekasihnya itu.
"TSk" Yoongi berdecih sebal karena dia benar-benar benci mununggu dan seharusnya orang itu tau. Getaran halus dia rasakan di saku blazer sekolahnya. 1 buah pasan masuk berisi link video live streaming dari orang yang dia tunggu. Suara desahan yang diiringi rintihan kesakitan menyapa telinga Yoongi saat dia membuka link video itu, sosok Taehyung – namja yang dia tunggu sejak dari tadi- terlihat tengah terikat di atas meja tanpa baluta kain apapun, luka sayatan dengan darh yang masih mengalir segar membuat kedua mata sipit Yoongi melebar terlebih beberapa alat menyakitkan tertanam di tubuhnya.
"Suga senpai ternyata mainanmu sangat bagus. Pantas kau tidak bosan bermain dengannya. Aku sudah me…"
Yoongi langsung berlari keluar café tanpa melanjutkan menonton video itu, mengabaikan protesan dan teriakan dari beberapa orang yang tanpa sengaja dia tabrak di jalan.
Sebuah gedung lama dari sekolahnya menjadi tjuannya saat melompati pagar belakang sekolahnya yang dia yakini disana Taehyung berada bersama dengan kelompok gila yang mengaku sebagai musuhnya.
Greeek!
Yoongi membuka kelas dimana kelompok itu selalu berkumpul. Kelas itu kosong tidak ada Taehyung atau yang lainnya. Yang Yoongi lihat hanya meja-meja yang berantakan dengan sebuah kamera video yang terjatuh di lantai dan cecerah darah yan tampak masih segar. Yoongi mendekati kamera video yang masih dalam keadaan menyala itu.
BRAKK!
Yoongi melempar kamera itu ke lantai dengan keras hingga hancur setelah dia menonton video yang terekam disana. Dengan tangan yang gemetar dia mencoba menghubungi ponsel Taehyung yang tidak aktif.
"Shit!"
Yoongi kembali berlari keluar gedung.
Seokjin menepuk bahu Yoongi yang bergetar. Ya, Yoongi tengah menangis membiarkan harga dirinya hilang di depan Seokjin saat dia menceritakan masa lalunya yang selalu menjadi mimpi buruknya setiap malam.
"Sekali lagi aku membiarkan orang yang aku sayangi terluka hyung" ucapnya lirih.
Seokjin tidak bisa membenarkan Yoongi tidak juga menyalahkan Yoongi, dia juga ikut bingung dengan siapa yang salah disini, siapa yang harus dibenci, siapa yang menjadi pelakunya.
SWAG
"Aku akan membuatmu bahagia, jika Yoongi adalah kebahagiaanmu aku akan membuatnya menjadi milikmu"
Kata kata Hosoek sebelum Taehyung meninggalkan Jepang kembali tengiang.
'Mungkinkah?' pikir Taehyung. Sepasang tangan melingkar di pinggangnya, memeluknya erat dengan dagu yang ditumpukan di bahu sempit Taehyung.
"Disini sangat dingin Tae'ah, kaku bisa sakit jika terlama di luar" ucapnya.
"Hyung"
"Hm?"
"Kau tidak melakukan hal bodohkan?"
Pertanyaan dari Taehyung membuat namja yang tengah menghirup aroma orange dari leher Taehyung diam berhenti lalu menegakan kepalanya, memandang jauh ke langit malam yang gelap.
"Aku melakukannya untukmu"
Jantung Taehyung terasa berhenti berdetak sesaat, dia berbalik dan pandangannya jatuh pada senyum lembut Hoseok, wajahnya terdapat beberapa luka lebam dan lluka sobek di sudut bibirnya. Tangan Hoseok mengelus lembut pipi dingin Taehyung.
"Hyung"
Taehyung menggenggam tangan Hosoek erat lalu perlahan menjauhkannya dari pipinya.
"Aku pernah menyukaimu hyung, sungguh aku tidak pernah main-main dengan perasaanku" ucapnya lirih lalu pergi meninggalkan hoseok yang masih terdiam disana ditemani angin malam yang berhembus lembut mengusap kulitnya dan juga hatinya yang berdenyut sakit
"Pernah?. Apa sekarang kau membenciku" gumamnya pelan.
SWAG
Yoongi kembali mendapatkan pukulan yang tidak sedikit dari Jungkook yang lagi-lagi karena Kim Taehyung. Betapa beruntungnya Taehyung karena dikelilingi orang yang menyanyanginya dan menjaganya dengan baik dibandingkan dengannya yang hanyna bisa melukai setiap orang yang dia sayangi.
"Kau sudah menemui Jimin hyung?" Tanya Jungkook sambil memberika sebungkus ice cream untuk mengompres luka lebamnya katanya.
"Hm"
"lalu kau meninggalkannya?"
"Hm"
"Hyung"
"aku sedang tidak ingin membahasnya Kook"
Jungkook menatap hyungnya. Kedua mata sembab walaupun tadi dia hanya menangis sebentar. Wajah yang semakin pucat ditambah luka lebam ulahnya dan Hoseok.
"Hyung, Meninggalkan bukan satu-satunya jalan jika kau mau"
Yoongi menoleh kearah Jungkook yang tersenyum lalu kembali menggengam tangan sang hyung.
"Apa kau juga tidak akan meninggalkan Taehyung ?"
"Tentu saja"
SWAG
Some day, some place, somewhere, on an especially sunny day
Some day, some place, somewhere, when the wind feels good
Run to me, I want to see you smiling at me
Please show up, the same day, the same place as the first time
Jimin menghela nafas saat mengakhiri lagu yang dia nyanyikan.
"Membolos lagi,hm?" tanya seseorang yang memeluknya dari belakang dengan dagu yang di tumpukan di bahu Jimin.
"Maaf" jawab Jimin sambil menggenggam tangan orang yang memeluknya.
"Lagi? Aku bosan kau tau" ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
"Hei, setidaknya kaku bilang aku memaafkanmu"
Jimin berbalik hanya untuk melihat Taehyung yang tersenyum ke arahnya lalu memeluknya dengan erat.
"Tidak ada kata maaf lagi" ucap Taehyung.
"Tidak ada kata maaf lagi" ulang Jimin.
Jimin membalas pelukan Taehyung.
"Apa kalian sedang bermain drama picisan?" tanya Jungkook yang baru saja membuka pintu atap sekolah.
"Kau cemburu, hm?"
Jungkook mendelik tidak suka pada Jimin lalu menarik Taehyung ke sampingnya.
"Jangan dekat-dekat denga taehyungieku"
Jimin mencebik lalu tertawa saat melihat Jungkook semakin menekuk wajahnya kesal.
"Ah, apa persiapan sudah selesai?" tanya Taehyung pada Jungkook yang di jawab acungan jempolnya.
"Sudah hyung. Minnie hyung kau akan ikut latihan di studio hari ini?"
Jimin terdiam. Dia selalu menolak latihan bersama Jungkook dan taehyung sejak 3 bulan yang lalu. Sejak kejadian itu, dia tidak berani bertemu dengan Yoongi disana. Dia tidak peduli jika dia nanti gagal dalam lomba seni tahunan sekolah yang terpenting Yoongi tidak semakin membencinya. Ya, sudah lebih dari 3 bulan Yoongi meninggalkannya dan mengabaikan kehadirannya jika kebetulan mereka bertemu membuat Jimin yakin kalau Yoongi hyungnya itu benar-benar membencinya.
"Hyung.. Jimin Hyung"
"Ah, Ne?"
"kau kenapa?" Tanya Taehyung.
"Tidak apa-apa, ayo kita kembali ke baah aku lapa" jimin merangkul bahu Jungkook dan Taehyung dan menariknya untuk turun bersama.
SWAG
Jimin menatap ponselnya dimana pesan dari Namjoon terlihat.
'Hari ini hoseok akan kembali ke Jepang. Aku tunggu di bandara'
Sudah 1 tahun berlalu tapi Jimin masih belum melupakannya dan di hari kelulusannya ini Jimin mendapat pesan kalau Hoseok akan kembali ke Jepang. Untuk apa dia pergi menemuinya?. Itu yang dipikirkan oleh Jimin. Dia langsung memasukan kembali ponselnya dan menaiki bis menuju sekolahnya untuk mengikuti acara kelulusannya.
"Jimin'ah maafkan aku"
Jimin memejamkan matanya, dia tidak bisa menyalahkan Hoseok atas putusnya hubungannya bersama Yoongi hyung. Ini salahnnya, jika saja dia tidak terjerat pesona layaknya matahari Hoseok. Semua pasti akan baik-baik saja. Jimin melihat halte dimana dia harus berhenti telah erlewati oleh bis yang dia tumpangi. Ya, dia memilih untuk menemui Hoseok. Setidaknya kata-kata maafnya bisa membuatnya lebih baik dan melepas sedikit beban sakitnya.
Mata Jimin langsung bertemu dengan sosok Yoongi yang tengah duduk bersama Jungkook dan Taehyung saat dia sampai di waiting floor bandara. Mereka sedang menonton entah apa di ponsel yang Taehyung pegang.
"Aku kira kau tidak akan datang" ucap Taehyung sambil berdiri dan menghampiri Jimin setelah menyerahkan ponselnya untuk dipegang oleh Jungkook. Jimin hanya membalasnya dengan senyuman tipis, matanya masih menatap Yoongi yang tetap fokus pada ponsel yang dia pegang.
"Aku tidak ingin terlambat menghadiri acara kelulusan" ucap Jimin membuat semua menatapnya kecuali Yoongi.
"Ah, aku dengar kau akan tampil bersama Choi Soo Min disana?" tanya Taehyung
"Aku hanya membantunya sedikit. Ah! Hobi hyung" jawab Jimin, matanya melihat Hoseok yang baru saja melewati waiting floor tanpa menyadari keberadaan mereka yang memang terhalang kaca besar. Jika saja Jimin merasakannya, Yoongi sempat melliriknya saat dia menyebut nama Hoseok dengan panggilan kesayangan Jimin.
"Ayo, kau duluan" Namjoon merangkul bahu Jimin.
"Apa yang harus aku katakan hyung?"
"Apa saja, kau mau menciumnya juga boleh"
"Mwo?!"
Namjoon terkekeh lalu mendorong punggung Jimin pelan.
"Beri dia kejutan" ucapnya
"Aku kira kau akan menemaniku hyung"
Jiminpun berjalan menghampiri Hoseok yang sudah akan memasuki pintu keberangkatan. Dengan sekali tarikan nafas dia menarik lengan hoseok dan langsung memeluknya.
"J-Jimin"
Jimin bisa mendengar nada kaget disana.
"Maafkan aku hyung dan selamat tinggal. Semoga kau selalu mendapatkan kebahagiaan disetiap tarikan nafasmu" ucapnya tanpa menunggu jawaban Hoseok Jimin melepaskan pelukannya dan berlari meninggalkanya. Jimin masih belum bisa sepenuhnya menatap wajah Hoseok ada rasa kesal tiba-tiba menyelip dihatinya, dan Jimin tidak ingin membenci siapapun. Sungguh.
"Aku akan kembali sekarang" ucap Jimin pada Namjoon.
"kenapa tidak kembali bersama-sama. Lagipula bukan hanya kau yang akan mengikuti acara kelulusan itu jika kau lupa"
Jimin menepuk dahinya, dia lupa kalau 3 senior alumninya ini juga akan mengisi acara hiburan kelulusannya.
SWAG
Jimin mengerang kesal saat mendengar ponselnya yang terus berdering. Sungguh ini hari libur langkanya sebagai seorang pelayan di sebuah coffee café. Dia membuka matanya sedikit hanya untuk melihat siapa si penelepon sialan yang dengan seenaknya mengganggu istirahat langkanya.
"Hey! Tae-Babbo, kau tau ini liburan lang…"
"Cepat datang ke apartemenku ada sesuatu yang penting"
'Nanti saja aju baru pulang lembur. Dan berani sekali kau memot…"
"Ini dari Dosen Shin. Cepat kemari!"
"Hey berhenti memoto…"
Tuut—
Sambungan teleponnya berakhir dan membuat kepala Jimin berkedut.
"Ku bunuh kau Kim Brengsek!" teriak Jimin sambil bangun dengan malas. Ini benar-benar membuat moodnya turun drastis.
Jimin menghabiskan waktu 30 menit untuk mandi dan bersiap dia tidak peduli jika Taehyung lumutan menunggunya.
"Apa ini?" tanya entah pada siapa saat matanya melihat kertas-kertas berhamburab di ruang tamunya . kaget. Tentu saja dia kaget. Dia ingat dia sempat merapikan semua ruangan apartemennya sebelum tidur kemarin malam. Ini pasti ulah Taehyung sahabat yang paling ingin Jimin buang ke sungai han saat musim dingin. Hanya taehyung yang mengetahui password apartemennya. Dengan rutukan dan umpatan dia memunguti kertas-kertas itu. Dia berhenti sesaat saat melihat ponsel berwarna putih yang ada di atas mejanya dengan screen yang menampilkan mp3 player dengan sebuah lagu dalam mode pause. Jimin memplay kembali lagu itu. Musik beat ballad terdengar mengiringi si penyanyi.
Today the moon shines brighter on the blank spot in my memories
It swallowed me, this lunatic, please save me tonight
(Please save me tonight, please save me tonight)
Within this childish madness you will save me tonight
I knew that your salvation
Is a part of my life and the only helping hand that will embrase my pain
The best of me, you're the only thing I have
Please raise your voice so that I can laugh again
Play on
Listen to my heartbeat, it calls you whenever it wants to
Because within this pitch black darkness, you are shining so brightly
Jimin mengerutkan keningnya, dia menghentikan gerakannya saat mengenal suara si penyanyi,serak, berat, dan gaya rap seperti orang mabuk.
'Yoongi hyung'
Give me your hand save me save me
I need your love before I fall, fall
Give me your hand save me save me
I need your love before I fall, fall
Jimin membalikan badannya saat mendengar suara nyanyian Yoongi di belakangnya.
"Hyung!"
Yoongi tersenyum sambil membuka tangannya siap menerima pelukan dari Jimin yang dengan cepat berlari dan menubruk tubuh Yoongi membenamkan wajahnya di leher sang hyung dan memeluk pinggangnya erat takut jilka ini hanya mimpinya saja.
"katakan ini bukan mimpi" ucapnya
"Ini bukan Mimpi" jawab Yoongi
"katakan kalau kau nyata"
"Aku nyata"
"Katakan kalau aku ini lebih tampan darimu"
"Bodoh"
Jimin memberi jarak sedikit dengan mendorong dada Yoongi lalu menarik tengkuk Yoongi dan menyatukan bibirnya dengan bibir tipis sang hyung yang sangat dia rindukan, menyalurkan semua perasaannya dan penyesalannya pada sang hyung.
Yoongi menikmati setiap lumatan yang diberikan Jimin, dia membiarkan Jimin untuk mendominasinya saat ini.
"Sudah puas, hm?" tanyanya saat Jimin melepas pagutan mereka dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya sebelum kembali mencium Yoongi. Yoongi erkekeh di sela ciuman mereka. Sebegitu senangnyakah Jimin? Itu yang terlitas di pikirannya.
'Jangan tinggalkan aku lagi"
"Bukan aku yang meninggalkanmu,"
Jimin menatap manik yoongi, sentuhan hangat dipipinya dia rasakan saat matanya melihat senyuman lembut mengembang di bibir Yoongi.
"Karena aku tidak akan pernah meninggalkanmmu"
Jimin menggigit bibir bawahnya menahan isakan yang ada di tenggorokannya, dia memeluk erat sang hyung .
Ini akan menjadi pelajaran untuknya. Pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan. Dia akan selalu mematri mata, hati dan tubuhnya hanya untuk namja dipelukannya. Yoongi hyungnya.
"Apa?" Jimin mengangkat kepalanya untuk mendapat pengulangan kata-kata Yoongi yang tidak ia dengar dengan jelas.
"Aku bilang, aku ingin menagih hadiahku juga ingin menghapus jejak Hoseok di tubuhmu yang sejak dulu ingin aku singkirkan"
Jimin tertegun, sungguh. Dia tidak mengerti maksud Yoongi hyungnya ini. Yoongi berdecih lalu menarik Jimin kembali ke kamarnya.
"Ah! Hyung ingin kita melakukannya sebagai hadiah karena lagumu selesai?"
Yoongi menyentil dahi Jimin yang tiba-tiba menghentikan langkahnnya hanya untuk mengatakan hal yang seharusnya dia mengerti.
"tapi ini tidak fair hyung" ucap Jimin sambil kembali menahan tubuhnya dari tarikan Yoongi.
"maksudmu?"
"kau berjanji akan menyelesaikannya 3 hari sebelum lomba,kau sudah telat 1 tahun 3 bulan san gara-gara kau juga aku memenangkan posisi kedua"
"Jadi?"
"Aku kau harus membayar ganti rugi hyung"
Jimin menarik tengkuk Yoongi.
"kau harus mempunyai banyak tenaga untuk membayar semua kerugianku, Hyungieh~"
Jimin sengaja mengakhirinya dengan sedikit desahan berat khasnya yang membuat seringaian sang hyung mengembang menggoda. Pintu kamar perlahan tertutup, meninggalkan keheningan ruang tamu yang tidak lama kemudian terganggu dengan suara-suara dari kamar.
End
Huuaaaaaaaa! Jun ga bisa bikin lebih dari ini, ini benar-benar menguras semua imajinasi terbatas Jun yang tidak berpengalaman membuat ff. ini tidak sempurna apalagi bagus tapi Jun harap kalian suka dan tidak mengecewakan. Ga nyambung itu harap di maklum, yang bikin bukan penulis ahli hanya amatiran yang senang mencoba.
Akhir kata see you next story
Salam SwagJeonJun, Cloudy, L for Lucius
/JumpJumpJump\
P.S : rencananya Jun pengen ngebahas kelanjutan Taehyung sama Hopei tapi ya karena kang cloudy ga punya ide lagi jadinya Jun tunda Jun mau tap dulu cari ilham gimana kelanjutan Taehyung sama Hopie atau di jadiin sama kookie ajj?
