Warn: boys love. maybe you'll find lot of typos and the words were not pleasing.
Disclaimer: all cast aren't mine, i just borrow their names. their properties i developed myself. so this will very out of character if you still want to read.
Lia's note: saran aja sih baca dulu chapter 1-nya kali aja pada lupa soalnya saya kelamaan update /gagaga semoga masih inget ya~!
Dream Lover
'A simple moment could lead us to a million things.'
Tidak ada hari yang lebih menjengkelkan daripada hari dimana Mingyu harus berdiri di bawah terik matahari hingga dua setengah jam lamanya dengan sebelah kaki terangkat—walaupun disaat lengah ia akan menurunkan kakinya atau sekedar melakukan peregangan otot. Warna kulit Mingyu yang memang sudah kecoklatan sepertinya akan berubah menjadi semakin gelap-hitam-hangus—oke, itu berlebihan. Yang jelas, paparan sinar ultraviolet tidak akan berdampak bagus untuk warna kulitnya. Hansol terlihat seperti orang linglung karena kehausan. Sedangkan Seokmin sedari tadi terus mengambil ancang-ancang untuk kabur ke kafetaria namun selalu tertangkap basah oleh Guru Park.
Ini semua karena Jeon Wonwoo. Mingyu akan selalu ingat pada nama laki-laki yang kini berada di posisi teratas orang paling menyebalkan sepanjang tahun versi Kim Mingyu. Apalagi saat mengetahui fakta bahwa nelangsa mereka tidak hanya sebatas berdiri berjam-jam di lapangan menahan malu, namun sebuah pernyataan dari Guru Park setelah mereka masuk kelas membuat perut Mingyu seperti di aduk—sangat mual.
"Jeon Wonwoo, kupercayakan mereka padamu. Awasi mereka, beritahu aku jika teman-temanmu melanggar aturan lagi."
Semua pasang mata segera tertuju pada Wonwoo yang duduk diam di kursinya, masing-masing dari murid di kelas terlihat tegang menunggu respon pemuda Jeon itu—walaupun mereka tahu kalimat yang baru saja terucap dari mulut Guru Park bukanlah sebuah tawaran yang memerlukan jawaban, melainkan perintah absolut yang mustahil untuk di tolak. Mingyu menangkap sedikit keterkejutan dari raut wajah Wonwoo—terlihat dari matanya yang sipit tiba-tiba sedikit melebar. Tanpa sadar Mingyu menjerit-jerit dalam hatinya berharap agar anak itu menolak perintah Guru Park walaupun rasanya sangat tidak mungkin.
"... Akan saya usahakan." Wonwoo merespon bersama anggukan pelan di kepalanya, kemudian melirik sekilas pada Mingyu yang menatapnya tanpa ekspresi—Sepertinya Wonwoo sadar sedari tadi obsidian Mingyu terus tertuju padanya dengan sorot yang sangat tidak mengenakkan. Murid perempuan terlihat antusias sekali; setelah ini mereka akan di awasi atau mereka menyebut itu sebagai 'diperhatikan' oleh seorang Jeon Wonwoo si murid kehormatan yang terkenal. Sedangkan kaum jantan justru terdiam dengan ekspresi sangat buruk seperti akan mati.
.
.
"Padahal Seungcheol sudah yang terbaik." Mingyu dapat mendengar keluhan Donghyuk yang kacau sambil mengeringkan keringat di depan kipas angin. Guru Park sudah meninggalkan kelas dan menyisakan raut muram para murid laki-laki. Rasanya seperti sepotong roti yang tersangkut di tenggorokan, ingin menolak namun mereka sudah menjadi pihak yang bersalah. Tentu saja suara anak-anak yang hanya tahu cara mastrubasi seperti mereka tidak akan pernah mau di dengarkan.
"Mulai sekarang sepertinya kita akan lebih sering di jemur." Jaehyun tertawa garing lalu melirik sinis pada Wonwoo yang sedang meraut pensilnya.
"... Kita punya ketua kelas baru dari Gangnam."
"... Hanya karena punya nilai bagus, bukan berarti kau bisa menjadi bos disini."
"... Sesuatu yang buruk untuk kelas yang buruk."
Mingyu yakin, Wonwoo tidak se-tuli itu untuk tidak mendengar sindiran-sindiran menyakitkan yang terus terlontar setiap waktu sejak Guru Park melangkah meninggalkan kelas. Ekor mata Mingyu terus melirik pada Jeon Wonwoo yang sedang membereskan alat tulisnya. Ia heran mengapa anak aneh itu bahkan tidak menunjukkan reaksi apapun; misal seperti membalas sindiran teman-temannya atau yang lebih seru; bangkit dari kursi lalu menarik kerah seragam salah satu dari mereka, dan menonjok rahang orang yang sudah menyindirnya itu. Namun, Wonwoo tetap bergeming di tempat duduknya, membuat Mingyu diam-diam mencibirkan 'dasar batu' pada anak itu.
Tidak terhitung berapa kali Mingyu mengumpat di belakang nama Jeon Wonwoo. Sebelumnya, Mingyu adalah karakter remaja yang lebih senang melayangkan satu pukulan di rahang untuk mewakili sejuta sumpah serapah yang mengendap dan membusuk dalam hatinya. Tapi Soonyoung bilang, menghajar anak itu sama saja dengan cari mati, ujungnya Wonwoo pasti kembali mengadu dan mereka akan berakhir lebih parah daripada hari ini.
.
Seokmin adalah yang paling merasa kesal saat mendengar beberapa murid perempuan justru membela Pemuda Jeon yang menyebalkan itu.
"Bukankah ini perubahan yang bagus? Kita perlu ketua kelas yang tegas." Perkataan Yeri di ikuti oleh anggukan setuju oleh murid perempuan yang lain. "Tapi Seungcheol bisa menjadi wakil ketua." tambah Miyeon sambil melirik simpati pada Seungcheol yang sedang merebahkan kepalanya di meja.
Jelas saja, yang paling merasa terinjak dan dipatahkan harga dirinya disini tentu saja Seungcheol. Dia menjabat sebagai ketua kelas namun dengan gamblangnya Guru Park justru menyerahkan tugas Seungcheol sebagai pengatur-penjaga kelas pada Wonwoo—tanpa menoleh sedikitpun pada Seungcheol yang duduk dengan perasaan hancur di kursinya; tidak ada kata-kata yang merujuk pada pemecatan Seungcheol secara resmi, tapi tidak dianggap adalah sesuatu yang sangat tidak nyaman dan ini sama saja dengan dipecat secara tidak terhormat. Wajah Seungcheol sangat muram dan dia benar-benar tidak bisa di ganggu.
Mingyu menepuk-nepuk bahu Seungcheol sebagai simbol belasungkawa, "Kau tetap bos kami, kok."
Seungcheol hanya tersenyum kecut.
.
.
Seorang murid pintar seperti Jeon Wonwoo adalah ahlinya mengusik kesenangan murid lain yang menurutnya mengganggu kelangsungan pembelajaran.
Siang hari bukanlah waktu yang tepat untuk belajar Matematika. Saat matahari seperti berada di atas kepala bahkan kipas angin jenis split yang terpasang di setiap sudut ruang kelas tidak mampu mengeringkan sedikit keringat atau mendinginkan otak mereka yang seperti akan mendidih. Alih-alih mencatat materi, beberapa dari murid yang frustasi justru menggunakan buku catatan sebagai kipas alternatif. Mingyu merasakan kepalanya seperti akan pecah hanya dengan melihat coretan—atau tulisan angka-angka yang tersusun aneh memenuhi papan tulis. Mingyu adalah pembenci matematika nomor satu di daerahnya, lebih tepatnya Mingyu adalah hater semua pelajaran—kecuali olahraga.
"Apakah berbicara dua jam lebih tidak cukup? Kenapa harus mencatat juga?" Soonyoung mengeluh sambil mengambil beberapa alat tulis, kemudian ekor mata sipitnya melirik heran pada Mingyu yang duduk tenang tanpa melakukan apapun. "Kau tidak mencatat?"
Mingyu mengangkat bahu lalu menatap tak minat pada papan tulis yang penuh coretan di depannya. "Aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang harus ku catat."
Soonyoung mendengus, "Ya. Karena itulah kita harus mencatat."
Perkataan Soonyoung hanya ditanggapi dengan senyum remeh oleh Mingyu. Ia benar-benar tidak bisa mencintai Matematika seperti dirinya mencintai Hara Saori yang seksi dan menggiurkan. Mingyu mulai membenci kelas Matematika sejak memasuki sekolah menengah pertama; saat ia di minta menyanyikan sebuah folksong hingga menjadi bahan lelucon teman-temannya hanya karena tidak mampu menjawab kuis bilangan bulat yang di ajukan.
Mingyu merebahkan kepalanya di meja lalu menghela napas berat. "Kau tahu, Soonyoung. Aku tidak menyukai ini."
Soonyoung mengangguk mengerti, lalu berbisik lagi dengan volume suara lebih kecil. "Aku juga tidak. Tapi... tidak ada yang tahu, bagaimana jika Guru Nam tiba-tiba memeriksa buku catatan?"
Berbeda dengan Mingyu, Soonyoung memiliki laku yang sedikit lebih beradab daripada Mingyu saat menghadapi pelajaran yang sangat tidak di sukai. Matanya yang sipit menatap lurus ke depan dengan serius—seperti mendengarkan dan memperhatikan penjelasan Guru Nam dengan sangat seksama. Benar-benar terlihat konsentrasi walaupun Mingyu tahu bahwa Soonyoung hanya ingin cari aman agar tidak di tunjuk untuk mengerjakan kuis—Para Guru memang selalu memilih murid yang menurut mereka tidak terlalu memperhatikan materi untuk kemudian di hakimi dengan beberapa kuis yang sengaja di buat serumit mungkin.
"Soal itu bisa ku tangani. Sejak SMP buku catatanku selalu kosong dan aku masih bisa naik kelas."
Soonyoung menatap Mingyu datar—matanya terlihat hampir tertutup karena ekspresi itu. "Kau ini benar-benar."
Mingyu tersenyum tanpa memperlihatkan taringnya. "Lagipula, tak mampu menguasai materi Logaritma tidak akan membuat pencernaanku terganggu."
Soonyoung terdiam sambil menekan ujung bolpoin-nya. Membenarkan perkataan Mingyu yang seperti sebuah sugesti untuk segera berhenti mencatat.
"Kau membuatku malas mendadak."
Mingyu terkikik bodoh saat melihat Soonyoung akhirnya menutup buku catatannya dan malah menjadikan buku bersampul spiderman itu sebagai kipas. Namun, entah karena tawa Mingyu terlalu keras—atau hari ini ia sedikit tidak beruntung karena tanpa sadar mengganggu konsentrasi murid lain yang duduk tak jauh di belakangnya. Hingga—
TUK
"Aduh!"
—Sesuatu yang kecil namun bertekstur agak keras membentur belakang kepalanya. Sakit—tentu saja, ditambah dengan Mingyu yang terkejut karena itu adalah 'serangan' dari belakang yang tak terduga. Seperti di hipnotis, seluruh pasang mata menoleh penuh tanya pada Mingyu yang sedang memegangi kepalanya sambil meringis pelan.
Saat tak sengaja menjatuhkan pandangannya ke arah lantai, Mingyu menemukan sebuah penghapus karet yang tergeletak di bawah mejanya. Itu cukup memberi jawaban atas benda macam apa yang baru saja dilempar kuat seperti ingin melubangi kepalanya. Mingyu menoleh ke belakang, mencari tahu siapa pemilik, sekaligus orang yang dengan sangat lancang melempari kepalanya dengan sebuah penghapus. Dari beberapa siswa yang duduk di belakangnya, entah bagaimana Mingyu dengan mudah menemukan Jeon Wonwoo yang menatap dingin ke arahnya sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir—oke, tanpa berpikir ulang pun sepertinya Mingyu tahu ini ulah siapa. Kesal sekali mengetahui fakta bahwa pelakunya adalah yang baru saja Mingyu nobatkan sebagai orang paling menyebalkan tahun ini dan sekarang anak aneh itu menjadi berlipat-lipat lebih menyebalkan. Mingyu sudah membentuk gestur untuk melempar balik penghapus karet berwarna hitam itu, namun—
"Kim Mingyu, silahkan maju ke depan dan kerjakan kuis nomor sebelas."
.
.
.
"Apakah sebelumnya kau punya masalah dengan Jeon Wonwoo?"
Mingyu menggeleng malas sebagai respon pertanyaan dari Hansol. Ia merebut pemantik dari tangan Hansol kemudian membakar ujung rokok berlabel 'iceblast' favoritnya. Niat Mingyu kabur ke atap sekolah adalah untuk menenangkan emosinya agar tidak meledak di kelas. Namun, Hansol justru mengungkit-ungkit sumber kekesalannya.
"Ketahuilah, Choi Hansol. Aku bahkan tidak tahu bahwa di dunia ini ada spesies manusia seperti dia." Mingyu mengusak kasar rambutnya yang sedikit basah oleh keringat. Bayangan wajah Wonwoo yang dingin-angkuh-menyebalkan membuatnya tanpa sadar meremas kuat pemantik milik Hansol. Mood Mingyu benar-benar hancur setelah pantatnya mendapat sebuah pukulan penggaris kayu oleh Guru Nam di depan teman-teman sekelas.
Mingyu memang sering berada satu kelas dengan murid pintar, begitupula yang sok berkuasa. Tapi sekali lagi, Jeon Wonwoo adalah jenis manusia yang berbeda dan mulai sekarang Mingyu harus mengantisipasinya.
"Kudengar Jaehyun dan Yugyeom ingin mengerjainya dalam waktu dekat ini." Hansol meniupkan asap tembakau dimulutnya ke udara.
Mingyu menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"
Hansol mengangkat bahu, lalu menyelipkan rokoknya di antara bibir. "Tapi sepertinya ini akan sangat seru."
Seringaian tipis terbentuk di bibir Mingyu. Sebuah senyum kemenangan. Membanyangkan Jeon Wonwoo merubah ekspresi papan tulisnya saat menjadi bulan-bulanan Jaehyun dan Yugyeom nanti membuat mood Mingyu sedikit membaik. "Apakah Jaehyun dan Yugyeom perlu pasukan tambahan?"
.
.
.
Bunyi bel pengingat sekolah telah berakhir adalah lagu favorit semua orang. Mingyu menghabiskan dua jam terakhirnya dengan terkantuk-kantuk di atas kursi. Tidak terhitung berapa kali ia menguap dan bola matanya seperti akan terbalik. Guru Im yang sedang menjelaskan tentang isi perut belalang sebenarnya lebih terdengar seperti sebuah nyanyian lullaby untuk menidurkan bayi.
Tidak ada yang aneh dengan semua itu, kecuali ketika kejadian menyebalkan saat jam matematika terulang kembali. Kali ini bukan hanya Mingyu, tapi Soonyoung juga—namun si sipit itu lebih beruntung karena lemparan sebuah gumpalan kertas binder milik Wonwoo tidak mengenai kepalanya. Padahal Mingyu tidak berbicara apapun, hanya mencoba untuk tidur di balik buku Biologi yang lebar dan tinggi. Sedangkan Soonyoung terus menusuk telinga kanan Mingyu dengan pensil agar Mingyu tidak bisa tidur.
Mingyu belajar dengan baik untuk tidak membalas lemparan Jeon Wonwoo atau dirinya akan di minta maju ke depan menyebutkan komponen-komponen dalam perut belalang—yang menurut Mingyu sangat tidak penting untuk di bahas.
Jeon Wonwoo benar-benar makhluk aneh yang sangat menyebalkan. Seperti kaset rusak, Mingyu terus menyumpah-serapahi anak itu dalam hati.
.
.
Pemandangan langit sore itu entah mengapa dengan cepat berubah menjadi abu-abu. Daun-daun kering pohon oak berjatuhan dan debu pasir di lapangan bola beterbangan hingga menggelitik hidung Mingyu yang sedang berjalan tergesa menuju lahan parkir. Tidak mempedulikan rintik hujan yang mulai turun sedikit-demi sedikit. Sedangkan kebanyakan dari murid perempuan memilih untuk diam di kelas hingga hujan reda.
Mingyu sangat lapar dan ia ingin segera pulang. Tetapi saat Mingyu sudah membawa sepedanya ke luar area sekolah, rintik hujan tiba-tiba berubah seperti air yang mengalir dari selang—deras sekali ditambah dengan kilat yang menyala tepat di atas kepalanya. Hujan sore ini seperti balas dendam atas cuaca tadi siang yang seperti ingin menghanguskan semua orang. Pada akhirnya, Mingyu memilih untuk menahan laparnya lebih lama dan berteduh di sebuah minimarket yang berlokasi tak jauh dari gedung sekolahnya.
Mingyu menyandarkan sepedanya pada sebuah bangku panjang di sisi kiri teras minimarket tersebut. Ia melangkah masuk dengan mendorong pintu kaca. Jejak air hujan tercetak di sepatunya dan sedikit mengotori lantai—tapi Mingyu tidak peduli, dia tidak sabaran untuk menjelajahi box roti dan mencari pengganjal perutnya yang kosong.
"Cari yang paling murah dan besar." Mingyu bergumam sambil menelisik satu-persatu jejeran roti yang tersusun rapi di atas rak. Ia terseyum lega melihat sebuah brand roti dengan ukuran cukup besar dan harganya terbilang murah. Sepotong roti Bolillo rasa nanas adalah pilihan Mingyu.
.
"Terima kasih. Maaf sepatuku mengotori lantaimu."
Setelah membayar, Mingyu segera menuju sudut teras minimarket dimana ia memarkirkan sepeda hybrid-nya di sana. Mungkin makan roti sambil duduk menunggu hujan reda bukan ide yang buruk. Namun, derap langkah Mingyu melambat saat melihat seseorang yang familiar sedang duduk diam di dekat sepedanya.
—Jeon Wonwoo.
Anak itu tampak memandang lurus ke depan—entah mengamati jalanan basah yang sepi atau hanya sedang melamun. Sepertinya dia sedang menunggu jemputan.
Mingyu diam dengan mulut sedikit terbuka. Ini bukan momen yang bagus untuk terjebak di tempat yang sama dan hanya ada mereka berdua di sana. Bagaimanapun juga, Mingyu sama sekali tidak akrab bahkan cenderung memusuhi laki-laki bermata sipit nan tajam itu.
Mingyu mendadak ragu untuk melangkah lebih dekat. Namun setelah dipikir-pikir, ia tidak mungkin hanya berdiri bodoh di sana demi menghindari Jeon Wonwoo. Lagipula menurut Mingyu, seharusnya bangku itu adalah kekuasaannya karena Mingyu telah datang beberapa menit lebih dulu, hanya saja Mingyu meninggalkannya sebentar untuk membeli roti.
Itu artinya, Mingyu tidak akan mengalah—oke, ia memang masih kekanakkan. Namun, siapa yang ingin berdiri menunggui hujan (yang entah kapan akan berhenti) sementara di depanmu ada sebuah bangku panjang yang menyisakan banyak spasi.
.
"Ehem."
Mingyu berdehem ringan dan berjalan mendekati bangku panjang tersebut tanpa menimbulkan suara derap langkah. Wonwoo menyadari bahwa ada seseorang berjalan menuju ke arahnya, tetapi sesuatu yang berkutat di pikirannya lebih menarik daripada apapun.
Tanpa permisi, Mingyu menghempaskan pantatnya pada tempat kosong bangku itu. Mata Wonwoo menyipit ketika mendapati Kim Mingyu tahu-tahu berada di sampingnya.
Mingyu membalas tatapan Wonwoo kemudian bergumam canggung. Dia baru saja akan menyuarakan 'hai' pada pemuda Jeon di sampingnya namun Wonwoo justru buru-buru mengalihkan pandangannya seperti semula.
.
.
Keheningan menguasai keduanya.
Sebenarnya Mingyu adalah tipe yang banyak bicara. Semua orang tahu bahwa Kim Mingyu adalah si super berisik yang 'untungnya' tampan. Dia benar-benar tidak tahan untuk berada dalam suasana canggung selama bermenit-menit tanpa bisa melakukan apapun. Tetapi mengajak laki-laki seperti Jeon Wonwoo mengobrol adalah sebuah pengecualian. Hanya ada suara deburan hujan yang jatuh ke tanah, suara dari kunyahan roti Mingyu, dan bunyi decitan kursi saat Mingyu merubah posisi duduknya. Sedangkan Jeon Wonwoo masih dengan posisi yang sama; diam mematung seolah tidak ada Mingyu di sana.
Mingyu terus berharap agar hujan segera berhenti atau Jeon Wonwoo segera di jemput. Ia benar-benar tidak ingin berlama-lama terjebak di sana.
Jeon Wonwoo yang selalu Mingyu teriaki sumpah-serapah dalam hati setiap hari, Jeon Wonwoo yang kini berada di posisi teratas sebagai orang paling menyebalkan sepanjang tahun versi Mingyu. Jeon Wonwoo yang sebelumnya begitu ingin Mingyu hajar sekarang tengah duduk di sampingnya dan hanya ada mereka berdua di sana. Ini benar-benar bukan hal yang bagus.
.
Mingyu hanya dapat menggigit rotinya kemudian mengunyahnya dengan pelan. Tidak pernah sedikitpun terlintas di otaknya untuk sekedar basa-basi menawarkan roti bolillo nanas miliknya pada pemuda yang duduk diam di sampingnya. Lagipula, Mingyu yakin sepotong roti bertekstur keras seperti bolillo hanyalah di anggap batu untuk hiasan halaman rumah bagi orang borjuis Gangnam seperti Jeon Wonwoo.
.
Namun, suasana canggung berubah ketika Mingyu tak senga menelan gigitan besar roti nanas yang masih belum ia kunyah sempurna hingga—
"Uhuk! Uhuk!"
—Mingyu tersedak di saat yang sangat tidak tepat. Dimana ia terlihat begitu konyol saat terbatuk-batuk keras sambil menepuk-nepuk dada. Roti yang sudah berada di mulutnya terlempar ke luar bersama dengan air liurnya. Oke, ini memalukan apalagi saat menyadari bahwa Jeon Wonwoo melihat ke arahnya dengan tatapan; ewh-what-is-wrong-with-you.
Mingyu menekuk wajahnya dengan kesal.
"Apa yang kau lihat?"
Suara Mingyu terdengar serak dan menyedihkan. Sebenarnya ia kesusahan walau hanya sekedar mengucapkan sepatah kata, namun ekspresi Jeon Wonwoo yang seolah menatapnya dengan jijik benar-benar mengetuk emosinya—lagi.
Masih dengan pancaran mata yang sama, Wonwoo melirik sekilas pada Mingyu. Kemudian lelaki bermata sipit itu merogoh tas punggungnya seperti tengah mencari sesuatu. Mingyu diam memperhatikan gerak-gerik Wonwoo.
"Nih."
Tanpa di duga, Wonwoo menyodorkan sebotol air mineral yang tersisa setengah pada Mingyu yang saat itu kembali terbatuk. Mingyu menatap botol air itu dengan bingung. "Serius? untukku?" Mingyu menunjuk dirinya sendiri.
Wonwoo memutar kedua bola matanya dengan malas, "Untuk yang tersedak bahan dasar sandwich." nada bicara Wonwoo terdengar seperti tengah mengejek.
Dengan raut wajah yang masih saja tertekuk, Mingyu akhirnya menerima air mineral itu untuk menghilangkan rasa sesak di tenggorokan dan dadanya. Setelah merasa lega, ia kembali menyerahkan botol air itu pada Wonwoo. "Terima kasih. Aku baru tahu kalau roti yang ku makan ternyata adalah roti mentah untuk bahan dasar sandwich."
Wonwoo diam saja dan menaruh kembali botol minumannya.
"... Oh iya, ngomong-ngomong, ternyata kau perhatian sekali padaku."
Pernyataan seenaknya yang terlontar dari mulut Mingyu membuat Wonwoo mendelik tidak terima. Sedangkan Mingyu terkekeh melihat ekspresi Wonwoo yang belum pernah di lihatnya. "Maksudmu?"
"Kau bahkan melempariku dua kali hari ini. Apa kau ingin mencari perhatianku?" Mingyu menaik-turunkan sebelah alisnya dengan jenaka. Akhirnya ia menemukan celah untuk membahas soal ini.
Wonwoo memeluk tas punggungnya, "Aku hanya ingin menjalankan tugasku."
Ucapan Wonwoo membuat Mingyu tertawa remeh, "Benarkah hanya itu? Heh—ketua kelas baru?"
Wonwoo tidak menjawab, hanya helaan napas berat yang terdengar.
.
Sebenarnya Mingyu tidak serius dengan ucapannya. Ia hanya ingin sedikit 'menggodai' seorang Jeon Wonwoo yang tanpa ekspresi itu. Ingin sekali melihat ekspresi lain terpatri di wajah Wonwoo selain wajah papan tulisnya yang menyebalkan. Semakin Wonwoo enggan menggubrisnya, semakin Mingyu gencar untuk terus memancing ekspresinya.
"Kau mendapatkan perhatianku, Jeon."
Wonwoo terlihat membuang muka sambil menggigit bibir bawahnya—menahan kesal. "Apa yang ingin kau katakan?" Wonwoo berdecih.
Mingyu memasang tampang masam yang di buat-buat. "Padahal bukan hanya aku yang membuat gaduh. Padahal bukan hanya aku yang tertidur. Tapi kenapa kau hanya melempariku? Hanya aku?" –oke, untuk soal ini Mingyu tidak bercanda. Yugyeom bahkan bermain ponsel saat jam belajar dan murid perempuan yang mencuri-curi waktu untuk bersolek. Tidak ada lemparan kuat sebuah penghapus karet untuk mereka. Ini tidak adil untuk Mingyu.
"Karena kursimu adalah yang paling dekat dengan jangkauanku." adalah alasan Wonwoo untuk semua tanda tanya hijau yang beterbangan di atas kepala Mingyu.
"Tapi aku menyadari bahwa kau terkesan seperti ingin mendapat perhatianku."—Mingyu mulai lagi.
Mereka tidak sadar bahwa hujan deras berubah menjadi gerimis kecil. Harapan Mingyu agar hujan segera berhenti telah terkabul. Namun suasana canggung itu berubah menjadi perdebatan kecil yang cukup seru, menurut Mingyu.
Pada akhirnya Wonwoo hanya mengangkat bahu dengan acuh. Merasa sangat rugi meladeni obrolan Mingyu yang begitu mengada-ada. "Siapa peduli dengan apa yang kau katakan."
.
.
.
Wonwoo bangkit dari duduknya saat melihat sebuah mobil Vios berwarna merah menepi di depan mereka. Mingyu menatap datar mobil mewah di depannya, dia tidak akan lupa dengan gosip Sejung dan Eunsuh soal Wonwoo yang berangkat dengan Porsche berwarna hitam. Hampir saja Mingyu mengambil kesimpulan bahwa Wonwoo sangat kaya dan memiliki banyak mobil mewah jika saja pintu kaca mobil itu tidak terbuka dan melihat seorang laki-laki dengan seragam yang sama dengan miliknya duduk di kursi kemudi.
Mingyu tidak terlalu peduli dengan siapa laki-laki yang menjemput Wonwoo. Hanya saja, ia sedikit tidak rela untuk menghentikan momen debat mereka karena belum berhasil mengubah ekspresi papan tulis khas Wonwoo.
Ternyata, mengajak bicara seorang kutu buku seperti Jeon Wonwoo tidak seburuk yang Mingyu bayangkan.
.
Mingyu menatap punggung Wonwoo yang membelakanginya sambil tersenyum jahil. Dia memang belum puas sampai Wonwoo merubah ekspresinya 'kan?
"Hei, Jeon Wonwoo."
Panggilan dari Mingyu membuat Wonwoo menghentikan langkahnya. Bahkan tangan kanan Wonwoo sudah hendak menjangkau pintu mobil.
Tanpa berbalik, Wonwoo hanya diam menunggu Mingyu melanjutkan perkataannya.
"... Meskipun aku tampan, tinggi, dan sangat lucu, jangan coba-coba untuk jatuh cinta padaku. Karena aku..." Mingyu menggigit rotinya dengan dramatis, "... adalah salah satu panglima perang saat tawuran."
Wonwoo memutar bola matanya malas sembari mendengus. "Oh—terima kasih. Aku tidak tertarik pada orang yang lebih bodoh daripada aku."
Seketika Mingyu membulatkan matanya tidak terima. "Bodoh? APA KATAMU?!"
Tanpa mempedulikan teriakan kesal Mingyu, Wonwoo bergegas masuk ke dalam mobil sambil menahan tawanya.
.
.
.
"Dia siapa, Won-ie? Kau terlihat senang bersamanya."
Wonwoo tersenyum tipis saat lelaki yang sedari tadi menunggunya di kursi kemudi memakaikan seatbelt dengan hati-hati pada tubuhnya. "Terima kasih."
"—Kau belum menjawab pertanyaanku."
Terdengar helaan napas panjang dari Wonwoo, "—Dia bukan siapa-siapaku."
Continued
A/N huah kayaknya ini panjang banget T^T yang minta meanie moment, maaf ya segini dulu. trus momen yang klasik banget pula. lol btw makasih lho udah baca sampai sini. makasih banyak juga buat feedback-nya di chapter 1. mumumu~! kalau sempet pasti saya bales kok ;3
