P/S: SESUAI DENGAN JANJINYA, AUTHOR SUDAH PUBLISH DUA CHAPTER MINGGU INI. ENJOY N REVIEW…

BAB 17

Musim sejuk mulai tiba di Korea sejak minggu lepas, dimana-mana sahaja tompokan salju berwarna putih itu kelihatan. Sesetengah orang menganggap salju yang turun itu melambangkan kesucian dan kejernihan hati. Namun sesetengah pula menganggapnya satu kesusahan kerna mereka tidak mampu membuat aktiviti diluar rumah.

Luhan sedang terbaring diatas katil dengan gulungan selimut yang tebal. Mukanya yang putih itu berubah pucat. Luhan adalah salah seorang dari sekian manusia yang terpaksa menghadapi musim dingin dengan sedikit kesusahan. Entah mengapa, tiap kali musim dingin tiba, sistem imun badannya menjadi lemah. Dia akan mudah menghadapi selsema dan demam yang sangat tinggi. Akibatnya, dia akan terus menjadi penghuni tetap katil.

"Kyungsoo.." Suara lirih Luhan kedengaran perlahan. dia cuba bangun perlahan-lahan dari katilnya. Tidak ada Kyungsoo didalam kamar tersebut maupun dayang-dayang yang lain. Luhan yang berasa haus mau tak mau bangun untuk mencapai secawan teh ginseng panas diatas meja. Walaupun adanya pendiang api, bagi Luhan tubuhnya masih tidak berasa hangat.

Dengan langkah perlahan-lahan dia cuba mencapai cawan tersebut, namun tubuhnya tiba-tiba melayang ke arah lantai. Luhan hanya pasrah sambil menunggu saat debuman tubuhnya. Dia merasa ada yang menopang tubuhnya. "Luhan sadarlah. Hei sayang…" Suara baritone milik Sehun kedengaran sayup-sayup dideria dengar Luhan. Kebetulan Sehun yang ingin menjenguk Luhan melihat langkah Luhan tidak seimbang. Mujurlah dia sempat merangkul tubuh Luhan sebelum lantai istana menjadi sasaran jatuhnya tubuh langsing Luhan.

Sehun membawa Luhan ala bridal style dan membaringkan tubuh Luhan kekasur. "Jongin cepat kesini." Seru Sehun. Jongin yang berada diluar kamar segera masuk menghampiri sang pemimpin. Sehun menatap Jongin dengan cemas lalu berkata: "Bawakan tabib istana cepat!, Luhan pengsan." Dengan langkah cepat Jongin melesat menuju ke bahagian menempatkan tabib istana. "Luhan, aku mohon sadarlah."

"Ampun Tuanku, keadaan Yang Mulia Luhan agak lemah. Tubuhnya tidak boleh menerima angin musim dingin dengan terlalu banyak. Tambahan pula tekanan darahnya tinggi menunjukkan Yang Mulia mengalami sedikit tekanan. Sebaik-baiknya Yang Mulia tidak dibenarkan untuk keluar istana pada waktu sebegini. Patik telah menyediakan ubat baginya. Permisi Tuanku." Begitulah hasil penelitian tabib Kang Woo. Didalam kamar Luhan selain Sehun, ada juga Maharani dan Ji Won. Kyungsoo hanya berdiri disamping kasur Luhan dengan wajah yang sebak. Kyungsoo merasakan dia adalah punca Luhan hampir jatuh. Pada waktu kejadian, Kyungsoo sedang menuju ke bahagian dapur istana untuk menyiapkan bubur bagi Luhan. dia tidak menjangka Luhan akan sedar dari tidurnya selepas memakan ubat.

Sehun memegang tangan Luhan yang dingin sambil mengecupnya. Sehun memandang intens wajah Luhan yang sedang tidak sedarkan diri. "Sebaiknya bonda dan Ji Won pulang ke kamar masing-masing. Biarkan aku menjaga Luhan disini. Jika berlaku apa-apa, anakanda akan memberitahu bonda." Maharani menganggukkan kepalanya. "Tuanku juga harus beristirehat, jangan terlalu memaksakan diri menjaga Luhan." Sehun hanya tersenyum mendengar nasihat Maharani. Maharani dan Ji Won mulai bergerak meninggalkan kamar Luhan.

"Kyungsoo, ada yang beta ingin bicarakan kepadamu. Ikut beta." Kyungsoo menganggukkan kepalanya lalu menuju ke arah luar teras kamar Luhan untuk berbicara. Sehun menempatkan seorang dayang bagi menjaga Luhan agar kejadian seperti dua jam tadi tidak berulang. "Jangan takut Kyungsoo, aku tidak akan menyalahkanmu. Aku cuma ingin tau mengapa Luhan jatuh sakit seperti itu. Dan tabib Kang ada menyebutkan yang Luhan mengalami tekanan. Apa kau tau sesuatu Kyungsoo. Katakan jujur dengan beta."

Kyungsoo mengigit bibirnya. Dia berada didalam dilemma. Sememangnya teman rapat Luhan itu tau apa yang sebenarnya dirisaukan oleh Luhan. Namun, Kyungsoo sedikit takut jika Luhan menyalahkannya jika Sehun mengetahui kegalauan Luhan. "Do Kyungsoo, katakan apa yang terjadi." Suara Sehun semakin kedengaran keras.

"Ampun Tuanku, Luhan sememangnya akan mengalami gejala seperti itu apabila tiba musim sejuk. Ini adalah kerna dia dilahirkan prematur, jadi tubuhnya tidak kuat seperti orang lain. Pada mulanya aku juga sedikit bingung namun lama kelamaan patik telah terbiasa. Seiring dengan waktu, penyakit Luhan akan mulai sembuh seiring dengan peralihan musim." Terang Kyungsoo kepada Sehun.

Sehun menganggukkan kepalanya perlahan-lahan. Dia sedikit merasa bersalah kerna tidak pernah menanyakan hal-hal seperti itu kepada Luhan. Sehun menghembuskan nafasnya perlahan. Dia kemudiannya menghadapkan mukanya ke arah taman istana yang dilitupi salju tebal. "Apakah ada acara untuk mengubatinya Kyungsoo." Kyungsoo juga menghadapkan wajahnya ke arah yang sama. "Tuanku, seperti yang tabib istana katakan tadi, Luhan tidak boleh keluar dari kamar sepanjang musim sejuk. Selain itu, kamarnya harus sentiasa berada dalam keadaan panas. Dia juga perlu meminum air teh ginseng atau halia dengan banyak bagi memanaskan badannya dari dalam." Kyungsoo sedikit tersenyum.

Sehun kagum dengan Kyungsoo yang betah menjaga Luhan pada waktu sebegini. Sehun tersenyum miris dengan penyakit yang Luhan deritai. Hal ini membuat Sehun semakin tekad menjaga pasangan sahnya itu sehingga ajal menjemput salah seorang dari mereka. "Tentang kata-kata tabib Kang itu berkenaan Luhan yang mengalami sedikit tekanan. Sebenarnya Luhan takut untuk memberitahumu tentang penyakitnya itu. Dia tidak mau Tuanku terlalu memikirkannya. Menurut pandangan Luhan, urusan negara sudah menyebabkan Tuanku kelelahan. Dia tidak ingin Tuanku bersusah payah menjaganya." Cerita Kyungsoo.

"Luhan bodoh, aku ini adalah suaminya. Sebagai pasangan, aku harus mengetahui keadaan dia semasa sihat maupun sakit. Jika dia mengabariku dari awal, Luhan tidak akan menjadi sebegini." Suara Sehun sedikit bergetar. "Aku takut melihat dia hanya terbaring tanpa berbicara kepadaku. Dengan adanya dia disisiku, masalah yang besar sekalipun akan aku tempuhi dengan tenang. Aku menyayanginya Kyungsoo. Aku mencintainya. Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati." Itulah janji Sehun kepada dirinya dan Kyungsoo. Sehun segera berganjak masuk kedalam untuk menjengah Luhan.

'Maafkan aku Sehun. Itu bukan penyebab Luhan tekanan. Aku sudah berjanji pada Luhan untuk tidak bercerita padamu sebelum sampai waktunya' batin Kyungsoo berbicara entah pada siapa.

Luhan kembali terjaga selepas pengsan selama 4 jam. Dia membuka matanya perlahan-lahan. Kepalanya masih terasa berat. 'Sudah malam.' Lirih Luhan. Luhan melihat kearah samping dan terkejut melihat Sehun tertidur sambil duduk ditepi kasurnya. Tangannya menjadi bantalan buat kepala sang pemerintah. "Sehun bangun, Sehunnie bangun.." Luhan menggoncangkan badan Sehun. Tidak mengambil masa yang lama, sang suami lantas terjaga. "Lu, kau sudah sedar, syukurlah sayang. Apa kau mau sesuatu..?" Mata hitam Sehun memancarkan rasa gembiranya yang tak terkira. Sehun merasakan semangatnya mulai pulih dengan melihat kesedaran Luhan.

Luhan menggelengkan kepalanya perlahan. "Mengapa kau tidur seperti itu Sehun. Aku tidak tega melihatmu seperti itu makanya aku mengejutkanmu." Sehun tersenyum riang. "Mianhae Luhan, aku mau kau mendapat sedikit tempat yang lapang untuk tidur. Jadi aku tidur seperti itu." "Sehun, kau membuatku bersalah. Aku tidak…" Belum sempat Luhan menghabiskan ayatnya, dua jari Sehun menempel dimulutnya dan secara mengejut digantikan dengan ciuman dari Sehun. Sehun semakin intens mencium Luhan dan sang penerima juga mulai terbuai dengan acara itu.

Sehun melepaskan ciuman mereka apabila oksigen kedua mereka semakin nipis. Terlihat jejak air liur milik entah siapa menempel pada bibir cherry Luhan. Wajah Luhan yang sedikit panas akibat demam semakin memerah dengan kelakuan Sehun. Sehun mencium kening Luhan sambil berbicara: "Tidurlah Lu. Aku akan menjagamu." Luhan memegang tangan Sehun: "Tidurlah disisiku. Aku ingin tidur dalam pelukanmu." Luhan memandang Sehun dengan tatapan yang sayu.

"Baiklah, aku akan menemanimu tidur." Sehun segera menaiki kasur Luhan dan berbaring disebelahnya. Luhan segera meletakkan kepalanya pada dada bidang Sehun dan memejamkan matanya kembali. Sehun mengelus-elus belakang Luhan dan tidak lama mereka hanyut kedalam dunia mimpi.

Istana Ji Won

Suasana musin dingin tidak mampu menghalang suasana ceria didalam istana Ji Won. Hari ini adalah ulang tahun ketiga sang buah hati. Satu-satunya anak Ji Won dan Sehun. Oh Soo Hyun. Sejak dari awal pagi, telah banyak acara yang dijalankan sempena ulang tahun Soo Hyun. Pada awal pagi, sang anak kecil itu dimandikan dengan tujuh air sungai yang mengalir di Korea sebagai tanda pembersihan tubuh anak dari segalan kekotoran sepanjang tahun lepas. Setelah itu, sang ayah, Sehun akan melakukan upacara pengorbanan atas nama Soo Hyun agar Tuhan memberkati perjalanan anak itu pada masa depan.

Menjelang tengah hari, pelbagai tarian serta permainan tradisional Korea dipersembahkan pada tetamu yang terdiri daripada pegawai-pegawai istana. Mereka juga turut memberi hadiah kepada sang Putera Mahkota. Kegembiraan itu turut dikongsi kepada rakyat jelata. Sehun telah memberi arahan kepada perbendaharaan negara agar memberi sedekah kepada rakyat yang miskin. Rakyat turut bersama-sama berdoa kepada Tuhan di kuil-kuil agar Putera Mahkota mereka selamat dan sehat sejahtera. Apabila malam menjelma, upacara akhir adalah menyalakan tanglung serta memainkan bunga api. Langit di Kota Seoul dipenuhi dengan tanglung dan percikan bunga api.

Sehun tersenyum melihat gelagat anaknya kelihatan begitu bersemangat. Anak itu tidak kenal erti lelah, sepertinya otak Soo Hyun sudah memprogramkan yang dia harus bergembira sepuas-puasnya pada hari dia dilahirkan. Ji Won yang sedang melayan anak itu membuka satu persatu hadiah yang diberi oleh para tetinggi kerajaan.

"Majlis pada hari ini begitu berjalan lancar, Luhan sungguh bijak mengatur acara yang dilaksanakan pada hari ini. Meskipun pada akhirnya dia sendiri tidak dapat mengikut ulang tahun Soo Hyun." Sehun memberi komentarnya. Air muka Ji Won sedikit berubah apabila mendengar nama Luhan disebut. Ada rasa cemburu yang melekat dihatinya. Semenjak Luhan jatuh sakit, Sehun tinggal dikamar Luhan. Hanya malam tadi Sehun berkunjung ke istana Ji Won. Ji Won merapati Sehun dengan senyuman yang sengaja dibuat-buat. "Bagaimana keadaan Luhan, Sehun? Aku belum sempat mengunjunginya sejak tiga hari lepas."

Sehun menghela nafasnya seketika: "Keadaannya sudah membaik. Cuma atas saranan tabib Kang, dia harus tidak keluar dari istananya bagi mengelakkan tubuhnya kembali lemah." Ji Won menganggukkan kepalanya. "Semoga dia cepat sembuh." Sehun hanya tersenyum lalu mengecup kening Ji Won. "Jika kau ada kelapangan temanilah dia. Dia merasa kesunyian kerna terkurung didalam istana." Ji Won tersenyum nipis. "Baiklah, Tuanku."

Istana Luhan

Luhan sedang duduk berbicara dengan Kyungsoo tentang pesta ulang tahun kelahiran Soo Hyun. Luhan sedikit sedih kerna dia tidak ikut serta merayakan pesta itu. "Jangan risau Luhan. Tahun depan kau mesti boleh merayakannya. Mungkin kau merayakannya dengan anakmu sendiri." Usikan Kyungsoo membuat Luhan tersipu malu. "Hei Kyung, aku ini lelaki. Mana mungkin aku boleh mendapat anak bersama Sehun. Kau ini ada-ada sahaja Kyungsoo."

Kyungsoo tertawa renyah melihat ekspresi Luhan itu. Tiba-tiba dia teringat akan pembicaraannya bersama Sehun sewaktu Luhan jatuh sakit. "Luhan, semasa kau jatuh sakit, Sehun ada membicarakan tentang sebab kau jatuh sakit. Dia mendesakku tentang punca kau mendapat tekanan. Aku menceritakan sejarah kesihatanmu. Namun aku tidak menceritakan apa yang membuatmu tekanan. Apakah kau mau menceritakannya sendiri pada Sehun?"

Pertanyaan Kyungsoo senyuman Luhan memudar. "Akut takut dia tidak bersetuju Kyung. Sejujurnya aku tidak mau hal ini terjadi. Walaupun aku sudah bersedia dengan hal sebegini namun jauh disudut hatiku, aku sukar untuk menerima. Aku memerlukan masa Kyungsoo." Nada bicara Luhan mulai bercampur dengan kesayuannya. Tampak dimata Luhan ada sedikit genangan air mata. Kyungsoo segera berganjak memeluk saudaranya itu.

"Menangislah Luhan. Aku bersedia menampung tangismu itu. Aku tetap disisimu. Sehun juga begitu Luhan. Aku yakin dia akan memahami isi hatimu." Kyungsoo merasakan bahunya basah dengan air mata Luhan.