BAB 20:

Seorang gadis sedang duduk didalam kamarnya. Kelihatan dia sedang memeluk kain selimut berwarna emas dan sesekali menciumnya. Sebuah senyuman terukir dibibir gadis muda itu. Tidak lama kemudian, dia merebahkan diri sambil terus memeluk dan mencium selimut tersebut. 'Aku tak menyangka Maharaja memilih aku sebagai teman tidurku. Sebuah keberuntungan besar bagiku." Monolog itu berputar-putar didalam pemikiran Lee Si-Yong.

Lee Si-Young, seorang hamba baru berusia 16 tahun, dia berasal dari bahagian selatan Korea. Sewaktu peperangan antara Sehun dan Chanyeol, dia adalah tawanan perang yang dibawa ke Seoul lebih tepatnya ke istana. Kulitnya putih kekuningan, rambutnya hitam kelam dan warna matanya seperti hazel. Duduk didalam istana adalah suatu perkara yang dia tidak jangkakan. Kini, dia dipilih sebagai teman tidur Maharaja Sehun selepas malam ulang tahun Maharani. Sudah pastinya dia semakin shock mengenangkan yang Sehun sudah mempunyai isteri lelaki. Namun, Si-young seolah tidak mempedulikannya. Yang penting adalah mendapatkan cinta daripada Sehun.

Ketukan dipintu kamar mengejutkan Si-young dari mimpinya itu, Si-young segera bangun dan membetulkan pakaiannya. Setelah dia memberi arahan untuk masuk, inang istana, Hyo-Joo segera masuk diikuti seorang dayang wanita yang membawa bungkusan. "Selamat pagi, Si-young, apa tidurmu nyenyak?" Si-young menganggukkan kepalanya dan berkata: "Pagi ini adalah pagi yang sangat gembira buatku inang." Hyo-Joo menyuruh pelayan wanita itu untuk meletakkan bungkusan tersebut. "Segera bersiap, Yang Mulia Maharani ingin bertemu denganmu, pakai pakaian yang telah aku siapkan untukmu ini."

Si-young sedikit terperanjat lalu berkata: "Yang Mulia ingin bertemuku, apa aku melakukan kesalahan inang?" Hyo-Joo menghela napasnya: "Aku tidak tau, cepat bersiap. Yang Mulia Maharani tidak suka menunggu terlalu lama." Si-young akur dengan perintah itu walaupun dia masih menggerutu.

Istana Luhan

Luhan sedang merajut ketika secara tiba-tiba pandangannya ditutup. "Kyungsoo, jangan bermain-main waktu sebegini. Aku ingin menyiapkan kantung duit ini secepatnya." Suara kekehan yang kedengaran membuatkan Luhan melepaskan tangan tersebut dan memusingkan kepalanya. Mata Luhan membulat apabila wajah sipelaku itu muncul pada penglihatannya.

"Sehun..Maaf Yang Mulia Maharaja…Kenapa mengagetkanku..?" Luhan mengerucutkan bibirnya sedikit kehadapan seperti mau dicium. Sehun meneruskan ketawanya: "Habisnya kau terlalu khusyuk dengan rajutanmu. Kau tidak mendengar aku memanggilmu sejak tadi. Hahahahah." Luhan meletakkan hasil rajutannya diatas kerusi lalu mencium tangan Sehun. "Maaf, aku terlalu asyik dengan aktiviti ini. Mohon keampunannya Sehun."

Dengan aegyo Luhan, Sehun tidak mampu mengatakan apa-apa selain tersenyum lembut. Dengan segera Sehun membawa tubuh Luhan kedalam pelukannya dan mencium kening, pipi dan bibir sang belahan jiwanya. "Aku merinduimu Lu, sangat merinduimu." Sehun terus memeluk Luhan sambil mereka duduk disebuah kerusi panjang. "Sehun, aku juga merinduimu. Tapi kau sedang sibuk dengan urusan negara. Lihat, wajahmu kelihatan pucat. Jangan abaikan kesihatanmu selalu." Luhan membelai wajah Sehun perlahan-lahan.

Sehun sangat menyukai momen-momen seperti ini. Dimana mereka saling mengasihi dan mencintai tanpa mempedulikan pandangan orang lain. Sehun mau mereka seperti ini selamanya berada didalam pelukan, saling mengucapkan kata-kata cinta tanpa batasan waktu. "Kebetulan kau sudah disini Sehun, aku ingin kau makan tengah hari disini. Bolehkan?" Sekali lagi, aegyo Luhan menyebabkan Sehun terpaku dan akur akan permintaan Sehun.

Istana Maharani

"Jadi kau adalah Si-young, sang penari yang telah menarik perhatian Maharaja Sehun pada malam itu?" Si-young yang mendengar soklan Maharani hanya mampu menelan air liurnya perlahan. Dia merasakan hawa yang menakutkan sedang keluar dari tubuh Maharani. "Jawab pertanyaan beta!" Si-young dengan kagetnya mengangkat kepalanya sedari tadi yang tunduk dan memandang terus wajah Maharani: "Benar Yang Mulia, patik yang menari sewaktu majlis ulang tahun Maharani malam tadi."

Maharani tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. "Sejujurnya, kau memang cantik Si-young. Beta sememangnya ingin mencari orang yang sepertimu. Orang yang mampu mengalihkan perhatian Sehun daripada Luhan. Jika kau mampu memberi zuriat kepada Sehun, kehidupanmu akan terjamin pada masa depan. Jika kau mau hidup seperti hamba-hamba yang lain, yang tidak mempunyai masa depan maupun harapan. Kau boleh menolak permintaan beta."

Si-young segera melutut dihadapan Maharani dan memegang tangan Maharani: "Ampun Yang Mulia, patik akan mengikuti arahan Maharani asalkan patik sentiasa bersama Maharaja. Mohon tunjuk ajar daripada Yang Mulia." Maharani hanya tersenyum licik.

Istana Luhan

Luhan sedang asyik membuat rajutannya apabila suara Kyungsoo kedengaran: "Luhan, kau harus meminum obat ini. Jika tidak, penyakitmu akan kambuh." Luhan meletakkan alat-alat merajutnya didalam bakul lalu berkata: "Aku muak dengan ubat itu Kyung, baunya sahaja sudah membuatkanku mau muntah apalagi rasanya." Rengek Luhan.

Kyungsoo memutar matanya dan berkata: "Kalau kau tidak mau minum ya sudah, jangan sampai Maharaja Sehun mengetahuinya dan memarahimu. Aku tidak akan membelamu waktu itu nanti." Mendengar nama Sehun, Luhan berdecak keras lalu mengambil gelas berisikan obat itu lalu segera diteguknya. "Sekarang sudah puas, asyik-asyik membangkitkan nama Sehun kau ini Kyung." Kyungsoo tertawa melihat aksi menggerutu Luhan. Dia tau yang Luhan akan mengikuti arahannya apabila nama Sehun disebut. Mau bagaimana lagi, Sehun sendiri yang mengingatkan Luhan agar terus meminum obat itu agar tubuhnya kembali sihat seperti sediakala.

"Hoamm… Selepas meminum obat ini aku merasa mengantuk. Aku mau tidur sebentar." Kyungsoo tersenyum mengerti. "Memang benar Lu. Kau bahkan tidur lebih lama. Waktu Sehun menjengukmu siang dua hari lepas pun kau masih tidur padahal kau tidak biasa tidur siang…" Secara tiba-tiba pikiran Kyungsoo berubah kearah negatif. Luhan juga merasakan sesuatu yang janggal: "Kyung, sudah berapa lama aku tidur siang dengan waktu yang lama?" Kyungsoo mengelus-elus dagunya: "Sejak dua minggu lepas aku mulai perasan. Sehingga hari ini baru aku tersadar."

"Kyung, coba kau panggil tabib Kang Woo. Tapi katakan padanya bahwa aku ingin melakukan pemeriksaan rutin padanya." Kyungsoo menganggukkan kepalanya: "Jangan tidur dahulu Luhan,tunggu hingga tabib Kang Woo sampai." Pesan Kyungsoo. Luhan memandang cawan yang berisi obat tersebut dengan serius.

Istana Besar

"Ampun Maharaja, Putera Morinaga selaku pemerintah Kaminoshima mengutus surat kepada kerajaan kita untuk membantunya melawan Shogun Kamamura. Shogun Kamamura dikatakan sedang meluaskan kuasanya ke selatan Jepang dan ketika ini, mereka sedang bertempur di Shimonoseki." Woo Bin membaca ringkasan surat tersebut dihadapan Sehun dan seluruh pegawai.

"Ampun Tuanku, pada pandangan patik, hal ini adalah urusan dalam negara mereka. Patik merasakan adalah lebih baik kita menumpukan kepada ancaman dari China. Tuanku, Shogun Kamamura menyerang Putera Morinaga adalah kerna disebabkan ulah kerajaan Kaminoshima yang membunuh utusan Shogun Kamamura. Jadi, secara terangnya, ini adalah kesalahan Putera Morinaga." Jo Kwon, salah seorang pegawai tinggi Sehun memberi penerangan.

"Ya, memang benar utusan Shogun Kamamura dibunuh oleh pihak Putera Morinaga sendiri. Namun, kebiadapan utusan Shogun Kamamura merendah-rendahkan kerajaan Kaminoshima menyebabkan dia dibunuh. Lagipula, utusan itu dibunuh ketika sampai di Pelabuhan Fukuoka. Jadi, kerajaan Kaminoshima tidak bersalah sepenuhnya dalam hal ini." Siwon memberikan ideanya.

Sehun mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat untuk para menteri berhenti bercakap. "Tentang hal ini, pada pandangan beta ianya bukan masalah kecil atau besar maupun siapa salah atau betul. Kerajaan Kaminoshima adalah dibawah naungan Empayar Korea sejak 100 tahun lepas. Lokasinya begitu strategik ditengah-tengah laluan perdagangan. Sayangnya, Putera Morinaga adalah pemimpin yang lemah. Dia lebih suka menghabiskan masanya dengan wanita dan arak. Hanya apabila waktu sebegini barulah dia mengingati kita. Shogun Kamamura pula, melihat pemimpin yang lemah sebagai satu justifikasi untuk meluaskan pengaruh mereka. Beta memang berhasrat untuk membantu kerajaan Kaminoshima. Tetapi, kita akan membantu dengan cara menukar pemimpin mereka dengan orang yang lebih layak memimpin." Saat Sehun habis berucap, para tetinggi kerajaan memahami bahawa Sehun akan memulakan kempen militarinya tidak lama lagi.

Istana Luhan

Tabib Kang Woo sejak tadi sudah memeriksa keadaan kesihatan Luhan. Tabib itu sedang membaca denyutan nadi Luhan. Sejurus selesai Tabib Kang Woo berkata: "Maaf Yang Mulia, izinkan hamba untuk mencucuk jarum akupuntur ini dijari Tuanku. Mungkin ini dapat membenarkan apa yang patik fikirkan." Luhan mengangguk perlahan.

Jarum itu dicucuk pada hujung jari telunjuk Luhan. Luhan sedikit meringis apabila kesakitan itu mula dirasai. Dengan pantas, tabib Kang Woo mencabut jarum itu. Tabib Kang Woo segera meneliti hujung jarum yang berdarah itu. "Seperti yang patik duga, seseorang telah mencampurkan ramuan obat yang patik berikan pada Tuanku." Wajah Luhan sedikit tegang mendengar kata-kata tabib muda itu. "Apa ianya racun?" tanya Kyungsoo tidak sabar.

"Ianya bukan racun tapi kandungan obat yang ada didalamnya adalah tinggi. Sekiranya Yang Mulia berterusan meminum obat tersebut dalam masa enam bulan, Yang Mulia akan menjadi lemah dan merencatkan pemikiran Yang Mulia." Terang tabib Kang Woo. "Pasti ada yang orang yang melakukan perbuatan ini. Tapi kita tak mengetahui siapa yang menjadi dalang utamanya." Luhan memberikan penjelasan.

"Yang Mulia memang benar. Patik akan membetulkan kandungan obat itu semula. Cuma, yang patik hairan bagaimana mereka boleh meninggikan kandungan ramuan tersebut secara senyap. Hanya patik dan Yang Mulia tau akan obat ini. Patik tidak mau berburuk sangka namun bukankah Yang Mulia baru menerima hamba-hamba yang baru pada bulan lepas dan kasus ini berlaku dua minggu lepas." Luhan yang mendengar penjelasan Kang Woo segera menyimpulkan: "Anda maksudkan bahwa ada diantara hamba-hamba yang baru dihantar kesini telah diupah untuk meracun beta?"

Tabib Kang Woo berkata: "Patik tidak yakin dengan hal ini. Patik cuma ingin memberi nasihat agar Yang Mulia lebih berhati-hati dengan masalah makanan dan minuman Tuanku." Luhan dan Kyungsoo menganggukkan kepala mereka serentak. "Kyung, mulai hari ini. Kau akan mengawasi mereka dengan teliti." Arahan Luhan diterima Kyungsoo tanpa ragu-ragu. "Aku tidak akan bertoleransi dengan mereka yang mengancam nyawaku." Luhan mengepalkan tangannya dengan erat.