HALO~!
Berjumpa lagi dengan saya~
Hm... I can't speak anything here. Kay, kayaknya kita liat balasan review aja deh. Let's check it out!
Replies for Reviews:
-Anne Garbo: Huweee~ Gomen aku baru baca sekarang review mu~ xD. Iya nih, aku pengen bikin karakter yang bener-bener OOC ._. makanya aku bikin Sasu yang Extrovert, dan Hinata yang stoic dan Introvert. Makasih yaah udah mau bacaa~ Keep reading my ficts ;)
-Moku-chan: Arigatou udah mau baca dan me-review xD alurnya kecepetan yaah? Hm, baiklah akan kuperlambat lagi! sekali lagi, doumo arigatou~!
-Sugar Princess71: Gomen na sai yaah masalah dobe-temenyaa. Aku memang mau bikin karakter mereka yang: Sasuke kayak Naruto, dan Hinata kayak Sasukee xD makanya aku bikin dobe-teme. Wah tebakan kamu benar :3. Kata-kata gak berkenan? Semua kritik dan saran aku terima dengan lapang dada kok ;) jadi gakpapa, malahan bisa jadi motivasi biar jadi lebih baik lagi~ Arigatou!
.
Buat readers, maaf ya warning 'ooc'-nya lupa aku cantumkan di dalam ceritanya x( tapi di Summary ada kok :) karena ini out of character full! Sekali lagi, gomen~!
Okay, let's read the third chapter of 'The Reason I Love You', a Naruto fan fiction by Anonymous Hyuuga! Happy reading
Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s), OOC
Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)
Happy Reading :)
.
.
.
.
CLOSE
Aku kembali membaca ulang pesan singkat darinya. Mataku masih belum percaya akan penglihatanku. Entah sudah berapa kali aku membacanya, dan sudah berapa banyak tisu yang sudah kugunakan untuk menghapus air mataku.
Secangkir kopi lagi-lagi kuhabiskan. Aku memandang meja di hadapanku sekilas dan mendapati empat cangkir kosong―cangkir yang tadi terisi penuh dengan kopi gingseng yang pastinya sudah berpindah ke dalam perutku.
Aku sudah memutuskan tidak akan tidur malam ini, maka dari itu aku meneguk bercangkir-cangkir kopi untuk menghalangi atau mengusir kantuk yang pasti akan menyerangku nanti malam. Dengan kepala agak pusing, aku memanggil kepala pelayanku―aku terlalu pusing untuk berteriak.
"Itachi-san, datanglah kemari!" ucapku di telepon dengan suara serak karena habis menangis, lalu segera memutuskan sambungan.
Tak lama kemudian, kepala pelayanku datang. Ia adalah seorang laki-laki dewasa tampan bermata hitam kelam dengan rambut raven panjang dan kulit seputih kapas. "Ada apa, Nona?" tanya Itachi dengan sopan saat ia sudah berada di depanku.
"Satu lagi," ucapku singkat sembari mengacungkan cangkir kelima yang sedari tadi masih di tanganku.
Itachi membelalak mendengar permintaanku. Ia memandangku dengan penuh pengertian dan membantah dengan lembut, "Tapi Hyuuga-san―"
"Sudahlah, ikuti saja apa mauku," timpalku yang mulai kehilangan kesabaran.
"Itu sudah cangkir kelima yang anda minum, Nona. Aku tidak bisa memberikan lebih banyak lagi," ucap Itachi masih mempertahankan argumennya.
Aku mendesah dan menimpali, "Ayolah, Itachi-san. Aku tidak apa-apa. Apa kau ingin 'Nona Muda'mu ini mati karena gelisah?"
"Gomen na sai. Aku tidak bisa," ucapnya dengan raut wajah khawatir―entah khawatir padaku atau khawatir Tou-san akan memarahi dan memecatnya.
"Baka Itachi. Kau keras kepala," kataku singkat setelah menyerah dan lebih memilih keluar dari argumentasi yang pasti tidak akan kumenangkan, "Sekarang, bawa aku ke kamar."
Aku tidak menyadari kata-kataku karena kepalaku sudah sangat pusing.
"M-maksud anda?" tanya Itachi.
"Kau tahu Bridal style?" tanyaku tidak sabar, "Gendonglah aku ala bridal."
Itachi menggeleng menolak permintaanku, lalu membantah―lagi-lagi dengan lembut, "Maaf Nona."
"Baiklah, bawa aku di atas punggungmu!" perintahku dengan nada tidak-ingin-ditolak.
Sebentar Itachi melihat keadaan sekitar untuk memastikan Tou-san belum pulang dan tidak melihatnya menggendongku. Lalu sesaat kemudian, ia mulai berjongkok di hadapanku sambil membelakangi tubuhku.
Aku tersenyum kegirangan―sungguh, ini tidak seperti diriku yang biasanya―, dan segera naik ke punggung Itachi. Itachi pun berdiri dan membawaku menuju kamar, lalu menurunkan aku di tempat tidur.
"Arigatou, Itachi-san!" seruku sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Doita, Hinata-san," sahut Itachi dengan ekspresi kebingungannya yang sedari tadi belum ia lepas.
Aku terkekeh pelan, dan merasa seperti orang mabuk―sungguh aku tidak tahu kopi bisa membuat mabuk. Atau hanya efeknya saja? Aku merasa kepalaku sangat pusing, seketika itu juga tawaku berhenti digantikan dengan erangan kesakitan. Itachi pun mulai panik melihatku, sebelum ia sempat menolongku, Itachi mengeluarkan ponselnya dari saku celana, dan mengetik sesuatu di sana.
Detik berikutnya pandanganku menggelap.
Aku pingsan.
Pukul berapa ini? Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?
Pertanyaan itu seketika berkelebat dalam otakku saat aku siuman. Aku mendapati selembar kain basah di keningku, padahal suhu tubuhku sangat normal. Ah, mungkin Itachi meletakkannya untuk menghilangkan sakit kepalaku. Aku melepas saputangan itu dari keningku dan segera berdiri dari tempat tidur. Tak lama setelah berdiri, tubuhku goyah dan kembali jatuh ke tempat tidur.
"Kurasa kau harus beristirahat, Hinata."
Aku menoleh menatap siapa yang sedang berbicara, dan ternyata itu Tou-sanku.
"Tou-san?"
"Aku dengar dari Itachi kau meminum lima cangkir kopi. Apakah kau sudah gila?" tanya Tou-san kesal sembari membuang napas keras-keras.
"Gomen na sai, Tou-san. Aku hanya―" ucapanku terhenti karena aku tidak ingin mengucapkannya.
"Karena apa?" tanya Tou-san sambil duduk di salah satu bangku yang ada di kamarku.
"Begitulah," ucapku datar.
Tou-san mengeluarkan sesuatu dari sakunya, dan itu merupakan ponselku. "Apa karena pesan dari Naruto?" tanya Ayah to the point.
Aku menghela napas dan kembali memasang wajah stoic-ku. Aku tidak menjawab karena aku tidak cukup rajin untuk menjawab pertanyaan itu.
"Yasudah, istirahatlah. Kau harus bangun pagi esok hari," kata Tou-san setelah sebelumnya menghela napas.
Aku mengangguk, lalu Tou-san menyerahkan ponselku kepadaku dan ke luar dari kamarku. Saat ponsel itu sudah di tanganku, aku melihat ada sebuah pesan dari nomor yang tidak ada di kontakku. Aku membukanya dan sedikit terkejut melihat isinya.
From: xxxxx
Kuharap kau tidak minum kopi terlalu banyak lagi, Dobe. Kau akan mati kalau berlebihan. Baka Hinata!
Hanya ada satu orang yang berani memanggilku Dobe. Seketika itu juga bayang-bayang laki-laki berambut raven itu muncul dalam benakku. Dari mana ia tahu nomor ponselku?
Dan yang terpenting,
Dari mana ia tahu aku meminum kopi terlalu banyak?
"Jawab pertanyaanku, Teme!" bentakku sembari mendelik ke arahnya.
"Kau berisik sekali, Hinata-chan! Kau tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkan nomor teleponmu!" sahut Sasuke yang sedari tadi menutup telinganya.
"Aku perlu tahu," sambarku dingin dengan tatapan tajam dan sedikit stoic yang mampu membuat siapapun bergidik ngeri. Tapi tidak dengan laki-laki bodoh di hadapanku.
"Aku mendapatkannya dari seseorang. Puas? Sudahlah, sekarang temani aku ke atap untuk makan siang, Hyuuga," ucap Sasuke yang segera berdiri dari tempat duduknya dan menyambar tanganku yang sedang berdiri di hadapannya.
Aku menyentakkan tanganku agar tangannya terlepas dari tanganku. "Aku tidak mau pergi sebelum kau memberitahuku," ucapku dingin.
"Baiklah, kuberitahu. Aku mendapatkannya dari kakakku. Jangan tanya dari mana kakakku mendapatkan nomormu. Karena aku tidak tahu. Sekarang temani aku, oke?" tutur Sasuke menjelaskan.
Kakaknya?
"Kalau begitu, siapa kakakmu?" tanyaku heran. Aku tidak pernah memberikan nomorku kepada orang-orang yang sembarangan. Jujur saja, orang di luar keluargaku yang kuberitahu nomorku hanyalah Naruto dan Itachi, kepala pelayanku.
"Seorang Uchiha," jawab Sasuke singkat dan mulai menarik tanganku tanpa memedulikan penuturanku yang selanjutnya.
"Tapi―"
Ucapanku terhenti karena tiba-tiba saja Sasuke berbalik dan menatapku intens. Jaraknya hanyalah beberapa senti saja dari wajahku. Aku memebelalakkan mata kala ia menatapku demikian. Ia menyentuh lembut pipi kiriku, tak ayal aku memejamkan kedua mataku, merasakan getaran di tiap sentuhannya. Tak menunggu waktu lama lagi, Sasuke mendekatkan wajahnya padaku dengan gerakkan seolah-olah hendak mencium bibirku. Namun dugaanku salah karena ia hanya mencium pipiku dengan lemb―ugh―sangat lembut.
"Jangan banyak bertanya, Hinata," ujar Sasuke dengan suara yang―tidak biasanya―lembut dan tenang, tak lupa senyuman manis ia suguhkan padaku.
Tanpa sadar aku mengangguk. Detak jantungku tak dapat lagi kuhentikan. Entah apa yang kurasakan saat ini. Bahkan aku tidak menolak kala Sasuke menggenggam tanganku, dan menggiring aku ke atap sekolah untuk menghabiskan waktu makan siang. Tiba-tiba ada sebuah perasaan yang tak dapat lagi kupungkiri. Perasaan aneh yang jauh melampaui perasaanku terhadap Naruto.
Perasaan ingin dekat dengannya. Perasaan ingin memilikinya.
Aku telah kalah terhadap perasaanku sendiri.
Aku jatuh cinta pada Sasuke Uchiha.
To be continued.
Pamparampapam~ Third chapter has updated~!
Gimanaa? Suka atau tidak? Ada kritik dan saran? Silakan berikan review di bawah yaaa~
Makasih buat yang sudah memberikan kritik dan saran yang sangaaaaattt bergunaaaaaa~! Doumo Arigatou! Gomen kalo dalam pemenuhan 'saran'nya, aku belom terlalu all out :( karena otakku ini terlalu banyak dipenuhi khayalan-khayalan bodoh, sampe-sampe aku pelupa xD.
Sekali lagi, jangan lupa reviewnya yaah~
Without your reviews my stories are nothing :)
"Never stop trying to be better, and better."
-Anonymous Hyuuga-
