CIYAAATT~ Pacarnya Naruto telah dataang~ *dikasih death glare sama om Kishimoto*

Eh, btw, gomen ya, kalo cerita ini SAMPAH seperti yang dibilang seorang 'anonymous' :(

Masalahnya, cerita ini hanya untuk orang yang memaklumi pair SasuHina dan bisa maklumin 'warning' yang udah kukasih. Kalo gak suka, jangan baca x(

Tapi gak pa-pa laah~ flame itu sebenernya ada gunanya kok. Thanks yah anonymous yang bilang ceritaku sampah dan aku spam di ffn~:)

Yak, sekarang kita lihat balasan reviews nyaa, check it out!

Replies for reviews:

-Hasegawa Michiyo Gled: Woaaa~ Arigatou sudah mau baca fiction saya inii~ memang ini sangat amat OOC -" wkwkwk aku memang lebih suka membuat character yang ooc :p *dihajar satu RT* Wah, kamu beruntung yaa~ Selamat, kamu dapat termos ganteng ^^

-RisufuyaYUI: Whaaa.. maaf aku bikin Itachinya jadi Kepala Pelayaan x( Tapi nanti akan ada sebuah cerita dibalik itu semuaa, ditunggu yaaa.. Sekali lagi, Gomen dan doumo arigatou~

-Anonymous1: Spam ya? Wkkwkwk, gausah baca :)

-Dewi Natalia: Bacot? Enggak kok :) Menurutku, gara-gara kamu bilang gitu, aku jadi ngerti cara posting cerita xD Arigatou! Woah, itu gak bisa aku kasih tau masalah 'Seorang Uchiha' itu sekarang :( kamu ikutin ajah yaah~ Kalo kujawab pertanyaanmu, nantinya kebongkar semua xD Sekali lagi, arigatou~!

-Anonymous2: Sampah ya? Wkkwkwk, gausah baca :)

-uchiga: ffnya di sini :) wkwkwk.

-Lily Purple Lily: Wah, aku salah pencet 'complete' xD maklum lah, masih pemula dan masih belom mudeng banget soal FFN ._.v gomen xD. Um, Hinata dipanggil Dobe ya? Ups, itu kesalahan dari awal dari Author pemula ini -_- harusnya Hinata (kalo karakternya gitu) dipanggil Teme, kan? Tapi karena udah salah dari awal, dilanjutin terus deh sama stupid author ini-_- Gomen na sai sekali lagi.. Masalah Itachi yang pelayan itu, um.. aku ga bisa kasi tau.. ikutin aja terus yaa~ Arigatou

Okay, let's read the fourth chapter of 'The Reason I Love You', a Naruto fan fiction by Anonymous Hyuuga! Happy reading


Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s), OOC, Like a rubish.

Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)

Happy Reading :)

.

.

.

.

DARE


"Hinata Hyuuga, bisakah kamu memperhatikan pelajaran saya?" teguran itu menyadarkan aku dari dunia khayal. Sontak, aku yang sedang menopang dagu di atas meja pun segera duduk dengan tegak.

"Gomen na sai, Kakashi-sensei," ucapku pelan dengan wajah tanpa ekspresi―lebih tepatnya ekspresi menahan segala perasaan dalam hatiku.

Tiba-tiba, ketika aku sedang mencoba fokus terhadap pelajaran, aku mendengar suara orang terkikik di sebelahku. Aku pun segera menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan pandangan membunuh.

"Nan desu ka?" tanyaku tajam dengan volume suara pelan―karena jika aku mengeluarkan suara yang lebih keras sedikit saja, Kakashi-sensei akan menghukumku dengan hukuman yang unik dan menyebalkan tentunya.

"Daijoubu. Hanya saja kau lucu, Hinata-chan!" sahut Sasuke masih sambil terkikik pelan.

Mendengar ia menyebut namaku saja, pipiku sudah berhasil memanas. Untuk itu aku segera menutupi wajahku dengan buku―berpura-pura membaca dan fokus terhadap pelajaran. Ia tidak tahu saja, aku sedang tersenyum di balik buku itu.

"Kau tidak apa-apa, Hinata-chan?" tanya Sasuke. Terselip sedikit nada khawatir dalam ucapannya, membuat aku semakin gila.

Aku mengangguk pelan dan perlahan-lahan menurunkan buku yang sedari tadi kuberdirikan di depan wajahku. Setengah mati aku menahan wajah stoic-ku agar ia tidak tahu apa yang aku rasakan.

"Kupikir kau marah," ucap Sasuke dengan nada lega, senyumannya mengembang, membuat jantungku―ugh―lagi-lagi berdebar hebat.

"Tidak," jawabku singkat.

"Hinata Hyuuga! Sasuke Uchiha! Mengapa kalian tidak memperhatikan pelajaran saya?" bentak guru bermasker yang sedang berdiri di depan kelas.

"Go-gomen, Kakashi-sensei!" ucap kami serentak.

"Nai. Sekarang kalian maju!" bentak Kakahi-sensei lagi. Sekedar informasi, sekalipun ia marah besar, matanya akan tetap datar, dan kita tidak bisa melihat wajahnya mulai dari bagian hidung hingga dagu, karena ia tidak pernah melepaskan maskernya itu.

Aku menatap tajam ke arah Sasuke yang mulai terkikik lagi, dan mulai maju menghampiri Kakashi-sensei. Seisi kelas menahan tawa saat melihatku―yang notabene tidak pernah dihukum―dimarahi oleh Kakashi-sensei.

Andaikan ada Naruto di sini, ia pasti akan membelaku.

Cukup, Hinata. Ia sudah melupakanmu. Ia tidak akan pernah menjadi milikmu.

Yang tertinggal sekarang hanyalah Sasuke.


"Ini semua gara-garamu, Teme!" desisku sambil tetap mengepel lantai koridor.

"Yang penting sekarang kita bisa bersama, Baka Hinata!" sahut Sasuke dengan raut wajah gembira. Kata-katanya barusan sukses membuat pipiku memanas―entah merah atau tidak.

"Hah, kau ini selalu membuatku kerepotan, Sasuke!" gumamku pada diriku sendiri, yang tak kusangka akan terdengar oleh Sasuke.

"Wah, kau memanggil nama depanku!" seru Sasuke kegirangan sembari melompat-lompat bahagia.

Bodoh!

Aku pun segera mengangkat gagang pel yang sedang ada di tanganku dan segera memukulkannya pada kepala laki-laki bodoh di depanku yang sedang lengah.

"Aduh! Hinata-chan! Hatimu itu terbuat dari apa, eh? Mengapa kau jahat sekali padaku?" tanya Sasuke dengan tangan yang masih mengusap-usap kepalanya yang―kurasa―cukup sakit.

"Apa pun bahan dasar hatiku, itu semua bukan urusanmu, Uchiha!" desisku sambil terus melanjutkan kegiatanku.

"Aku ingin sekali lagi mendengar kau memanggil nama depanku, Hinata-chan," kata Sasuke seakan-akan tidak menggubris perkataanku sebelumnya.

"Tidak mau dan tidak akan pernah mau," timpalku cepat tanpa sedikitpun melirik ke arahnya.

Aku mendengar Sasuke mendesah, dan ia mulai menyambar lagi, "Baiklah, akan kuingat kata-katamu, Hinata-chan! Kalau kau lupa, aku tak segan-segan membuatmu membayarnya."

Sontak aku terdiam menimbang-nimbang maksud perkataan pemuda di hadapanku.


"Tadaima!" seruku sambil meletakkan alas kakiku di rak sepatu.

"Okaeri, Nona Hyuuga," sahut Itachi sambil tersenyum―senyum yang sanggup membuat hati perempuan manapun luluh akan perkataannya―kecuali aku tentunya.

"Hn," sahutku sambil terus berjalan menuju kamarku.

"Nona Hyuuga, sebaiknya Anda bersiap-siap, ada hal penting yang akan dibicarakan Tuan Hyuuga pada Anda," kata Itachi yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri semula.

Aku menoleh menatapnya dan menangkap kilatan gugup di matanya. Lantas, aku pun bertanya, "Tentang?"

"Um, entahlah. Ah, semacam perjodohan, mungkin?" jawab Itachi yang kurasa semakin lama semakin gugup.

Tanpa diberi aba-aba, mataku pun segera terbeliak mendengar ucapan Itachi barusan. Kata-kata itu seakan-akan menyerap seluruh ekspresi stoic-ku yang segera digantikan dengan ekspresi ketakutan, "A-apa maksudmu, Itachi-san? A-aku masih SMA."

"Entahlah, aku juga merasa keberatan, Nona Hyuuga," ucap Itachi yang buru-buru menimpali dengan ucapan lain, "Um, maksudku aku―"

"Kau tahu sesuatu, Itachi-san," desisku dingin.

"Ti-tidak. Sebaiknya Anda segera berganti pakaian. Sumimasen," kata Itachi cepat yang buru-buru membalikkan badannya untuk pergi.

"Itachi-san," panggilku masih dengan nada bicara dingin.

"Y-ya?" tanya Itachi. Ia tidak membalikkan badannya, namun segera berhenti melangkah.

Entah apa yang membuatku mengatakan ini, tapi aku merasa aku patut mengatakannya, "Kuharap kau menolak perjodohan ini. Aku sudah mencintai pria lain." aku melangkah menjauh dan menyambungnya lagi, "Satu lagi, Itachi-san. Aku ingin tahu, apa nama belakangmu?"

Keheningan menyeruak di antara kami selama beberapa detik. Tak lama kemudian, Itachi menghela napas dan menjawab, "Kurasa sudah saatnya Anda tahu, Nona," Itachi kembali terdiam dan ia melanjutkannya, "Namaku Itachi Uchiha."


Aku menangis sejadi-jadinya di dalam kamar malam ini. Ingatan akan perbincanganku dengan Ayah beberapa waktu lalu kembali berkelebat dalam memoriku. Membuat seluruh indraku melemah dan air mataku membuncah. Perlahan aku meraba pipi kiriku yang sarat akan warna merah bekas tamparan. Aku kembali terisak, dan mengingat kejadian tadi sore.

"Hinata-chan. Tou-san pikir sudah waktunya kau memiliki seorang tunangan," ucap Tou-san yang segera disambut ekspresi terkejutku.

"Tapi Tou-san. Aku masih SMA, dan aku tidak ingin cepat menikah!" bantahku kesal.

"Anakku, percayalah, jodohmu ini akan sangat baik padamu. Tidakkah kau lihat dari kesehariannya yang selalu memedulikan kondisimu? Tou-san rasa ia sangat pantas mendampingimu. Terlebih ia adalah seorang Uchiha," desak Tou-san tidak mau kalah.

Aku terdiam sejenak. Rasa sesak kembali menjalari tenggorokkanku, membuat aku sulit bernapas. Sebuah bayangan berkelebat dalam benakku. Sasuke. Ia juga seorang Uchiha, dan aku amat sangat mencintainya saat ini. Sedang Itachi, aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Kakak yang begitu baik dan perhatian padaku. Aku menyayanginya. Menyayanginya sebagai seorang kakak. Tidak lebih.

"Tou-san! Aku tidak mencintai Itachi-san! Aku sudah menganggapnya sebagai seorang kakak! Tidak lebih, Tou-san!" bantahku sedikit membentak.

"Sejak kapan kau mulai membantahku?" bentak Tou-san yang sudah berdiri di hadapanku dan menampar pipi kiriku dengan keras, "Tou-san tidak mau tahu. Pertunanganmu akan dilangsungkan minggu depan!"

Tou-san pun berjalan keluar dari ruangan ini dan menutup pintunya dengan keras, meninggalkan aku yang sedang duduk memijit pelipisku yang mulai berdenyut-denyut.


"Ohayou, Hinata-chan!" sapa seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke Uchiha―adik dari Itachi Uchiha.

"Ohayou, Sasuke," balasku tidak sadar memanggil nama depannya.

"Yeah! Kau memanggil nama depanku, Hinata-chan! Seperti yang kubilang sebelumnya, aku akan―" ucapannya terhenti, karena aku yang segera menghambur ke dalam pelukannya, "―Hinata-chan?"

Aku menangis sejadi-jadinya dengan tangan memegang bagian depan seragam Sasuke. Rasa hangat mulai menjalari tubuhku kala tangan kokoh itu mulai terangkat untuk menyentuh kepalaku dan menipiskan jarak di antara kita. Aku merasa nyaman dan aman dalam pelukannya, dan tidak ingin melepaskannya barang sedetikpun.

"Hinata-chan? Apa yang terjadi? Apa ada yang melukaimu? Beritahu aku siapa yang melukaimu, agar aku bisa meninjunya saat ini juga!" kata Sasuke yang segera kusambut dengan tawa di sela tangis.

"Sasuke bodoh!" bisikku pelan.

"Kau mengatakan aku bodoh, eh?" tanya Sasuke sambil melepas pelukannya.

"Kumohon jangan lepaskan," gumamku dengan suara bergetar. Aku merasakan tangannya kembali terangkat untuk memelukku lagi.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi, Hinata-chan. Mungkin aku tidak bisa menyelesaikannya, tapi paling tidak, aku bisa menjadi pendengar yang baik," bujuk Sasuke agar aku mau menceritakan keresahanku.

Aku menelan ludah dan mulai melepaskan pelukanku terhadapannya, dan Sasuke mengikuti gerakanku, begitu juga saat aku mulai duduk di bangkuku.

"Sasuke-kun,"

Sasuke mengangkat kedua alisnya, untuk menuntut penuturan yang lebih dari bibirku.

Aku menghela napas sejenak sehingga mencipta keheningan yang cukup panjang di antara kami. "Kau pasti tahu masalah perjodohan Onii-san-mu, kan?" tanyaku dengan suara serak. Air mataku sudah menggenang dan mengaburkan pandanganku.

Samar-samar, aku bisa melihat perubahan ekspresi pada Sasuke. Aku mengerjapkan mata, untuk menyingkirkan air mataku, dan jelas tertangkap oleh mataku rahang Sasuke yang mengeras.

"Itu―"

"Tolong jangan katakan," ucap Sasuke sambil beranjak pergi dari kelas.

To be continued.


Walaaaaaa~ Akhirnya part 4 selesai juga, fiuuh..

Um, yeah, seperti biasa fiction bikinanku memang selalu tidak jelas tiap chapternya ._.a gomen na sai. Author masih sangat pemula dan bodoh.

Untuk itu, aku butuh kritik dan saran lewat review / private messaging. Flame? Boleh aja kok, puas-puasin aja ;) hehehe

Without your reviews, my stories are nothing :)

"Never stop trying to be better, and better."

-Anonymous Hyuuga-