Hello~ Apa kabar semuaa? Tice harap semua baik-baik saja, dan cukup sehat untuk membaca cerita ini~

Yeah, seperti biasa, aku minta pendapat kalian akan cerita ini :3

Um, sebelum aku lanjutin, kita liat balasan reviews dulu yaaahh~ Check it out!

Replies for reviews:

-RisufuyaYUI: Waahahahaha xD Kau merasa dirimu Hinata ya, makanya bingung? Wahahahaha Tice sendiri bingung milih Itachi sama Sasuke :/ waaaah, kurang panjang yaa? ._. akunya buntu sih, gak pinter bikin cerita yang panjang-panjang x( gomen na saaaaii~ Akan kucoba membuat chapter yang lebih panjang lagii :) Tetap setia membaca fict ini yaaahh~ Arigatou!

-Dewi Natalia: Huuummm.. sepertinya tebakan kamu kurang tepat :3 *kedip-kedip balik ke Dewi-chan*. Coba ditebak terus selama baca ini yaa, siapa tau tebakanmu nanti benar hahahahay xD. Tetap setia membaca fict ini yaaahh~ Arigatou!

-biancav312: Wahahahaha kasian ya Sasuke? wwkwkwk menurut Tice juga iya sih :( tapi gimana yaah, Tice tuh orangnya kejam, sangat suka membuat orang lain menderita, apalagi Sasuke B) *devil's laugh* *di kasih death glare sama Om Kishimoto*

Okay, let's read the fifth chapter of 'The Reason I Love You', a naruto fan fiction by: Anonymous Hyuuga! Happy Reading!


Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s), OOC, Like a rubish.

Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)

Happy Reading :)

.

.

.

.

Between The Uchihas


"Aku menantangmu," ucap Sasuke dingin padaku. Aku seketika itu juga mendongak menatapnya yang juga tengah menatap lurus-lurus tepat ke arah mataku. Mata hitam kelamnya dipenuhi kilatan kemarahan―kurasa bukan kemarahan terhadapku.

"Apa?" tanyaku dengan suara masih bergetar karena baru beberapa menit yang lalu aku menangis.

Sasuke terlihat menelan ludah. Ia pun menjawab, "Untuk membatalkan pertunangan yang tinggal enam hari itu."

"Atau?" aku balas bertanya.

"Atau aku yang akan menghentikannya," ucap Sasuke tetap dingin.

"Lebih baik begitu, Sasuke Uchiha," aku menimpali sembari menghela napas. Frustasi. Satu kata yang pas untuk menggambarkan diriku saat ini.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke sembari menarik kerah kemejaku.

"Sa-sasuke! Cukup! Kau tidak perlu kasar terhadapku!" bentakku sambil meronta berusaha melepaskan tangannya dari kerah kemejaku.

Sasuke pun melepaskan cengkeramannya―membuatku kembali terduduk―dan kembali bertanya dengan suara yang lebih lembut, "Aku bertanya, apa maksudmu, Hinata-chan?"

"A-aku tidak bisa menghentikan pertunangan itu, Sasuke-kun. Aku terlalu lemah. Aku takut," ucapku dengan suara serak. Sungguh tenggorokanku benar-benar tercekat, sangat menyulitkanku menghirup oksigen.

Sasuke menghela napas dan berkata, "Baiklah, akan kulakukan. Sekalipun harus dengan membunuh kakakku."

"Kau bercanda? Tidak! Kau tidak boleh membunuh Itachi-san!" sergahku.

"Kau mencintainya, eh?" tanya Sasuke dengan kedua alis terangkat tinggi. Nada bicaranya terdengar menuntut.

Aku terdiam sejenak. Heran akan perubahan sikap Sasuke yang begitu mendadak. Baru saja ia pergi keluar kelas, dan ia kembali dalam sepuluh menit sebagai seorang laki-laki dingin yang bodoh dan kasar.

"Ti-tidak," jawabku tegas.

"Kalau begitu, siapa yang kau cintai?" tanya Sasuke lagi-lagi dengan kedua alis terangkat tinggi. Nada bicaranya tidak terdengar jahil seperti biasa, lebih terdengar seperti menuntut dan menyudutkan.

Aku tak sanggup menjawab. Aku tahu siapa yang kucintai, tetapi haruskah aku mengatakannya di depan orang itu? Kurasa jawabannya tidak.

"Aku tidak tahu," jawabku penuh dusta, dengan tampang stoic yang seharusnya tidak kutampilkan dalam keadaan seperti ini. Tiba-tiba saja muncul dalam benakku keinginan untuk bertanya padanya, "Mengapa kau sangat ingin pertunangan itu dibatalkan?"

"Jawabannya mudah. Dan aku tahu kau mengetahuinya," kata Sasuke sambil mengangkat kedua bahunya.

"Aku tidak tahu," timpalku tidak sabar.

"Kurasa sudah saatnya kau mengetahuinya," Sasuke menghela napas. Ia berjongkok di hadapanku yang sedang duduk. Tangannya terangkat untuk menangkup kedua pipiku dengan lembut, dan ia melanjutkan, "Karena aku mencintaimu, Hinata Hyuuga."


"Itachi-san," panggilku.

Itachi yang kini tengah membuatkanku secangkir kopi itu pun menoleh menatapku yang bertampang kuyu. Ia menyahut, "Ada apa Nona Hyuuga?"

Aku tersenyum mendengar panggilannya terhadapku. "Kau pasti lupa enam hari lagi kita resmi bertunangan," ucapku sambil memandang kosong ke arahnya.

"Tentu saja aku tidak lupa, Nona Hyuuga. Adakah hal penting yang ingin kau sampaikan?" tanya Itachi sopan. Lagi-lagi aku melihat kilatan ragu―atau entah apa―dari matanya yang―baru kuperhatikan―sangat amat mirip dengan milik Sasuke.

"Bisakah kau menghentikan pertunangan kita?" tanyaku dengan kepala tertunduk.

Tak lama setelah aku berkata demikian, aku merasakan daguku diangkat dan saat itu juga mataku tertawan mata hitam kelam milik Itachi yang tengah menunduk dan mengangkat daguku.

"Maaf Hinata-chan. Aku tidak bisa," kata Itachi lirih. Sejak kapan ia memanggil nama depanku? Ah, memang seharusnya begitu. Ia hampir menjadi tunanganku.

"Ta-tapi, Itachi-san. Aku masih SMA, dan usia kita terlampau jauh. Lagipula, aku... aku sudah mencintai adikmu, Sasuke Uchiha," kataku getir.

Itachi menghela napas dan tersenyum masih dengan satu jari mengangkat daguku. Ia berkata, "Sudah kuduga kau akan mencintainya, Hinata-chan. Tapi―"

Sedetik kemudian, Itachi menekan bibirnya ke bibirku dengan mata terpejam. Mataku membelalak karena terkejut akan perlakuannya yang terlalu tiba-tiba, tetapi aku tidak cukup kuat untuk menolak ciumannya.

"―belajarlah untuk mencintaiku, Hinata-chan," lanjut Itachi setelah melepaskan ciumannya.


Sudah dua hari aku tidak berjumpa dengan Sasuke. Ke mana perginya orang bodoh itu? Seenaknya menyatakan cintanya terhadapku dan pergi begitu saja. Tidak tahukah ia aku sedang dilanda kegalauan yang sangat membunuh? Tidak tahukah ia ciuman pertamaku sudah direbut orang yang kuanggap kakakku sendiri?

Aku bisa merasakan perbedaan antara Sasuke dan Naruto.

Sasuke akan pergi atau menertawakanku saat aku sedang dalam masalah. Sedang Naruto akan membela dan menjagaku mati-matian saat aku dalam masalah.

Tidak. Aku tidak boleh membayangkan Naruto lagi. Laki-laki yang tak kalah bodohnya dengan Sasuke yang juga sudah meninggalkanku.

Ah! Apa yang ada di pikiranmu, Hinata? Segala sesuatunya tercampur dalam otakku, membuatku kesulitan berpikir jernih. Aku memukul-mukul kepalaku dengan kedua tangan, berusaha menyingkirkan segala pikiran bodoh yang berkecamuk dalam benakku.

"Lihatlah, anak dari bangsawan Hyuuga sedang frustasi karena ditinggal kekasihnya!" seru seseorang.

Aku mendongak untuk menatapnya dan mendapati pemilik mata berwarna emerald dan berambut soft pink sedang menatapku sinis dengan senyuman miring yang sangat memuakkan. Gadis itu tidak sendirian, ia bersama dua orang gadis lainnya, yang satu dengan dua cepol di rambutnya dan bertampang oriental, dan yang satu lagi perempuan bertubuh tinggi dengan rambut panjang berwarna kuning pucat.

Aku menatap mereka bergantian, dan tersenyum ke arah mereka―bukan senyuman yang dipaksakan. Tak lama setelah aku menyunggingkan senyum, mereka bertiga terbelalak kaget melihatku.

"Apakah... kalian memiliki masalah denganku?" tanyaku lembut―nada bicara yang seumur hidup baru dua kali kugunakan.

Mereka terlihat saling berpandangan. Tak lama, Sakura berdeham dan pergi meninggalkan ruangan, diikuti kedua temannya. Aku tersenyum senang melihatnya. Ah! Mengapa aku jadi aneh seperti ini? Apakah aku sudah gila? Tidak. Aku tidak mungkin gila. Aku hanya sedang sangat membutuhkan Sasuke di sisiku.


Sudah saatnya...

"Kau sudah siap, Hinata-chan?" tanya Tou-san sumringah sambil menepuk pundakku.

"Mungkin," jawabku singkat.

"Baiklah, lima belas menit lagi, kita mulai acara pertunanganmu dan Itachi," kata Tou-san sambil berlalu.

Aku menggigit bibir untuk menahan segala emosi yang bercampur dalam benakku. Di sinilah aku sekarang, berdiri menanti detik-detik pertunanganku dengan orang yang sama sekali tidak kucintai dengan gaun selutut berwarna lavender―senada dengan warna mataku―dan rambut yang digelung tinggi. Seharusnya aku tidak berdiri di sini jika laki-laki bodoh itu benar-benar mencintaiku. Nyatanya ia hanya main-main.

"Hinata-chan, sudah waktunya," ucap seseorang dari bibir pintu, membuat aku tersentak. Aku mengangguk ragu, mendekatinya, dan mengaitkan lenganku pada lengannya.

Kami berjalan berdampingan dengan perlahan-lahan, menuruni tangga dan disambut riuh rendah tepukkan tangan para tamu undangan. Aku tersenyum, sementara hatiku rasanya sakit sekali. Ingin rasanya aku melarikan diri sejauh-jauhnya dan menangis di tempat yang tidak kuketahui itu.

Akhirnya, kami tiba di anak tangga terakhir. Kepalaku rasanya berdenyut saat melihat Tou-san yang hendak memulai acara; Fugaku Uchiha, ayah Itachi dan Sasuke; dan berbagai tamu undangan tersenyum ke arah kami.

"Ada baiknya kita segera memulai acara pertunangan ini," ucap Tou-san memulai acara. Seketika itu juga tamu undangan tak ada yang berbicara. "Hari ini adalah hari yang spesial bagi putra dan putri kami, Itachi Uchiha dan Hinata Hyuuga yang akan segera disatukan dalam ikatan pertunangan. Sebagaimana kita tahu bahwa―"

"Cukup," ucap seseorang dari arah pintu gerbang utama rumah keluargaku. Seluruh tamu undangan pesta pertunangan ini pun segera melihat ke arah datangnya suara. Aku merasakan kehangatan menjalari tubuhku saat melihat siapa yang datang. Aku segera menarik tanganku dan tersenyum. Sasuke Uchiha. Ia datang.

"Sasuke-kun," bisikku pada diri sendiri, "Akhirnya kau datang."

Sasuke berjalan mendekati aku, Itachi, Tou-san, dan Ayahnya. Ia menatapku lekat-lekat sambil menyeringai penuh arti dan aku membalasnya dengan dengusan. Setelah menatapku, ia mengalihkan pandangannya kepada Itachi dan menatapnya tajam.

"Tak kusangka kau lebih memilih yang jauh lebih muda darimu daripada kekasihmu―Konan, Itachi-nii," kata Sasuke sambil tersenyum miring.

Seluruh tamu membelalak dan terdengar bisik-bisik keterkejutan mereka akan panggilan '-nii' yang disebut Sasuke untuk Itachi. Sementara Fugaku-sama hanya memasang tampang datar khas Uchiha―yang tidak dimiliki Sasuke.

"Hai Tou-san," sapa Sasuke sembari menoleh ke arah Fugaku-sama, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Tou-san. "Hyuuga-sama, aku tahu Anda sangat ingin Hinata-chan menikah dengan seorang Uchiha. Dan bila tidak keberatan... Aku juga seorang Uchiha."

Aku melihat Tou-san yang membelalak kaget―padahal aku yakin Tou-san mendengar Sasuke memanggil Itachi dengan sebutan '-nii'. Ia menoleh ke arah Fugaku-sama meminta penjelasan, dan yang dipandang hanya mengangkat bahu sebagai balasannya.

"Sasuke, jangan kacaukan acara pertunanganku," desis Itachi dingin.

Sasuke menoleh dan menatap kakaknya itu dengan sangat tajam dan penuh dendam. "Kupikir kau mendukungku," ucap Sasuke tajam.

"Tidak pernah dan tak akan pernah," balas Itachi sambil menyeringai.

Keheningan yang sangat mencekam pun menyeruak di antara kakak beradik Uchiha itu. Yang kini dapat terdengar hanyalah suara tarikan napas masing-masing. Dan seisi ruangan dapat melihat mereka saling menatap dengan penuh kebencian dan rasa dendam. Aku yang menjadi alasan dari masalah ini pun merasa bingung harus berbuat apa.

"I-Itachi-san, Sasuke-kun, tolong jangan bertengkar," ucapku berusaha menengahi.

"Diam!" seru mereka serentak, membuat aku sedikit terkejut.

Mereka kembali saling pandang dan keheningan kembali tercipta sampai Tou-san berdeham.

"Itachi, Sasuke. Aku dan Fugaku akan membuat sebuah keputusan. Sebaiknya kalian tidak bertengkar saat ini," kata Tou-san berusaha meleraikan mereka, dan usahanya berbuah hasil, karena keheningan tidak semencekam sebelumnya. Tou-san pun mengajak Fugaku-sama keluar ruangan untuk merundingkan sebuah keputusan.

Kira-kira selama lima belas menit, ruangan ini mulai dipenuhi suara orang berbicarasepertinya membicarakan kami bertiga―dan setelahnya, Tou-san dan Fugaku-sama kembali dengan membawa sebuah keputusan yang membuat mataku melebar sempurna dan penderitaanku semakin lengkap.

"Kami berdua sudah menemukan jalan keluar," ucap Tou-san yang segera disambut perhatian penuh dari seisi ruangan. Tou-san melirik Fugaku-sama sebentar, dan yang dilirik terlihat mengangguk pelan dengan wajah tetap datar. "Kami memutuskan pertunangan akan ditunda dua minggu lagi," lanjut Tou-san.

Seluruh tamu undangan tampak berbisik-bisik dan saling pandang, heran akan keputusan Tou-san.

"Dan selama dua minggu ini, kedua putraku akan mendampingi Hinata ke manapun," tambah Fugaku-sama, "Dan membiarkan Hinata memilih salah satu di antara mereka."

To be continued.


Wahahaha, akhirnya part 5 selesai juga dengan segala susah payah memeras otak =="

Berhubung ceritaku sangat amat jauh dari judul lagunya Andra and The Backbond yang 'Sempurna', aku minta kritik dan sarannya lewat review dan PM yaa~ karena itu bakalan berguna banget buat akuuu xD

Without your reviews, my stories are nothing :)

"Never stop trying to be better, and better."

-Anonymous Hyuuga-