Anonymous Hyuuga is coming back~!
Hiks, sedih nih makin berkurang pembaca setiaku :(
Tapi gak pa-pa, kalo mau kasih flame silakan. Aku gak melumuri diriku dengan minyak tanah kok, jadi api gak bakal membakar tubuhku :)
Jadi, silakan yang mau flaming :p
Um, kita liat balasan reviews aja yaah.. Check it out!
Replies of reviews:
-RisufuyaYUI: Wahahahaha~ Terimakasih pembaca setiaku xD (semoga kamu tetap setia-v). Wkwkwk, tadinya aku emang mau bikin Itachi yang pecinta adik dan pengalah gituu~ Tapi kalo dibikin kayak gini, kayaknya lebih gimana gitu huakakakakak. Arigatou~!
-Dewi Natalia: Um, biar kutebak. Kamu ngomong gitu karena tebakkanmu gak bener ya? wkwk. Atau kamu mau aku bikin cerita semacam tebakanmu itu? Hum, sorry but I just can't. Soalnya cerita ini udah kurancang dari awal sampe akhir. Masalah alur berantakan? aku udah bikin semaksimal mungkin, dan aku udah bilang aku amatiran, mungkin gak kayak kamu yang udah pro ._.a, jadi kalo ini berantakan banget dan kamu gak suka, mendingan gausah baca lagi._. takutnya kamu sakit komplikasi:)
Huaaahh Reviews nya dikit banget ._. resiko update kilat ini -_-a. Gakpapa lah.. Okay, let's read the sixth chapter of 'The Reason I Love You', a naruto fan fiction by: Anonymous Hyuuga. Happy reading! :)
Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s), OOC, Like a rubish, Bad plots.
Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)
Happy Reading :)
.
.
.
.
Result
Beginilah hidupku sekarang. Diikuti oleh dua pria Uchiha yang sama-sama bodoh dalam waktu dua minggu penuh. Sesungguhnya tak perlu seperti ini, aku pun sudah menemukan pilihanku dengan sekali kejap mata. Dan sayangnya, Tou-san tidak tahu.
"Hinata-chan, kau ingin makan apa? Biar kubelikan."
"Hinata-chan, aku akan menjemputmu sepulang sekolah nanti."
"Hinata-chan, maukah kau kencan denganku akhir pekan nanti?"
"Hinata-chan, sebaiknya kau ikut aku, karena aku memiliki sesuatu yang spesial untukmu!"
Sudah cukup jengah aku mendengar mereka memanggilku, mengucap namaku, mengajak dan menyuruhku hal-hal yang sangat menghabiskan waktu―paling tidak menurutku.
Seperti saat ini, Sasuke tengah bersikeras untuk menggendongku.
"Ayolah Hinata-chan, biarkan aku menggendongmu sampai kelas!" bujuk Sasuke dengan raut wajah memohon.
"Tidak," jawabku acuh tak acuh seraya melangkahkan kaki lebih jauh lagi.
"Ah, kumohon Hinata-chan," paksa Sasuke.
Aku pun menghela napas dan berbalik badan agar kami berhadapan. "Begini saja Sasuke-kun, kau boleh menggandeng tanganku hingga kita sampai di kelas," tawarku dengan raut wajah datar.
Sasuke terlihat menimbang-nimbang sejenak, lalu sesaat kemudian ia mengangguk. "Cukup adil," ucapnya sambil tersenyum, dan segera menggenggam tangan kiriku. Aku pun tak dapat menyembunyikan rona merah yang muncul di kedua pipiku saat orang-orang yang lewat memandangi kami sedemikian rupa.
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Aku segera beranjak dari tempat dudukku dan berniat untuk bergegas meninggalkan ruang kelas. Namun tanganku ditahan oleh chair-mate bodoh yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke Uchiha.
"Ada apa Baka Sasuke?" tanyaku kesal sambil berusaha menyentakkan tanganku.
"Aku mau pulang bersamamu, Hinata Teme," ucap Sasuke dengan seringaian lebar.
Aku memutar bola mata bosan dan memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan memilih jalan pintas, yaitu diam.
Setelah Sasuke selesai membereskan barang-barangnya, kami berdua pun berjalan pulang menelusuri koridor yang masih sarat akan orang berlalu-lalang. Aku menegakkan kepala saat terlihat olehku kelompok Sakura Haruno di depan kami tengah berbisik-bisik. Tak lupa kulayangkan senyuman tidak ikhlas pada gadis-gadis bodoh itu.
Kami pun sampai di depan gerbang sekolah. Sasuke menuntunku menuju tempat parkiran mobil. Terlintas di benakku dua buah pertanyaan. Sejak kapan Sasuke mengendarai mobil ke sekolah? Mengapa aku tidak tahu?
"Nah, kita sampai!" ucap Sasuke riang saat kita sudah berdiri di depan sebuah mobil sedan berwarna biru metalik yang masih sangat amat mulus tanpa goresan sedikit pun.
"Mobil siapa ini?" tanyaku dengan nada dan raut wajah curiga yang sangat berlebihan.
Mendengar pertanyaanku, Sasuke mengerutkan kening dan mengerucutkan bibirnya, lalu berkata, "Kau pikir aku pencuri? Ini mobilku!"
"Oh," sahutku singkat, "Mengapa kau tidak membukakannya untukku, Sasuke Dobe?"
"Ah, ya. Hampir saja aku lupa!" Sasuke berkata seraya membunyikan alarm mobilnya dan membukakan pintu depan penumpang untukku, "Silakan, Tuan Putri Hyuuga."
Aku memutar bola mata, dan bersiap untuk naik mobil Sasuke, sampai sebuah tangan menahanku dari belakang. Spontan aku menoleh untuk melihat siapa pemilik tangan dingin itu.
"Tunggu dulu Sasuke-chan. Aku yang akan mengantarkan Hinata-chan pulang," ucap sang pemilik tangan yang sudah bisa ditebak adalah Itachi.
"Itachi-nii, tidak puaskah kau bertemu dengan Hinata-chan setiap hari? Ingatlah, kau tinggal dengannya. Berikanlah adikmu ini kesempatan untuk lebih dekat dengannya, Onii-chan," kata Sasuke dengan kening berkerut.
"Tidak pernah dan tidak akan pernah," kata Itachi dengan senyuman miring tersungging di bibirnya.
"Serahkan Hinata-chan padaku!" seru Sasuke sambil menarik tanganku yang satunya. Aku terbelalak kaget mendengar ucapannya barusan. Apakah ia merasa diri seorang pahlawan dan menganggap Itachi seorang penjahat?
"Langkahi dulu mayatku, Sasuke-chan!" timpal Itachi, membuat mataku semakin melebar. Sebenarnya apa yang mereka berdua lakukan? Bermain dramakah?"
Perdebatan ala drama itu pun terus berlanjut, membuat aku semakin jengah berada di antara mereka. Ini baru hari pertama, dan masih ada tiga belas hari lagi untuk ke depannya. Akan jadi apakah diriku jika terus menerus berada di tengah-tengah mereka?
"Sudah cukup!" bentakku sembari menyentakkan kedua tanganku yang sedari tadi ditarik-tarik oleh kakak beradik bodoh itu. Bentakkanku pun membuahkan hasil, karena mereka sudah membungkam mulut dengan suksesnya. "Biarkan aku pulang sendiri!"
"Tapi, Hinata-chan―" kata mereka berdua bersamaan.
"Kubilang, biarkan aku pulang sendiri!" potongku dengan nada bicara tinggi. Aku pun berjalan sambil menghentak-hentakkan kaki dengan cepat. Sebelum aku terlalu jauh, aku pun berbalik badan dan menatap tajam ke arah mereka yang masih mematung di tempat semula. "Satu lagi," ucapku tajam, "Dua minggu ini, tidak ada satu pun dari kalian boleh mengajakku berbicara."
"Tapi, Hinata-chan―" kata mereka berdua bersamaan―lagi.
"Jangan membantah!" potongku yang segera berbalik badan dan kembali melangkahkan kaki menjauh dari mereka. Aku merutuk dalam hati, merasa kesal dengan keadaan ini. Seharusnya aku tak usah pernah berjumpa dengan kedua orang―yang bodoh―ini, karena hidupku menjadi sangat amat berantakkan.
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian menyebalkan di lapangan parkir mobil, dan seminggu itu juga Sasuke dan Itachi menahan-nahan diri untuk tidak mengajakku berbicara walau sepatah kata pun. Sungguh lucu melihat Sasuke yang biasanya cerewet menahan diri untuk tidak berbicara denganku dengan menggigit bibir dan menghela napas. Aneh juga melihat Itachi yang sehari-harinya sopan padaku menjadi canggung karena tidak kuperkenankan bicara padaku.
Yang merasakan keanehan ini tidak hanya aku dan mereka berdua. Teman-teman satu kelasku memandang kami dengan heran karena tak biasanya kami berdiam diri seperti ini. Beberapa dari mereka bahkan bertanya padaku apakah aku sedang bertengkar dengan Sasuke, dan aku menjawabnya dengan 'Hn' semata.
Begitu pula dengan Tou-san yang melihat perubahan dalam diriku. Aku yang biasanya dengan mudah meminta tolong pada Itachi untuk melakukan ini-itu pun akhirnya melakukan segala sesuatunya sendiri. Melihat gelagat kami, aku tahu Tou-san sudah mulai curiga terhadapku, tetapi tidak tahu harus berbuat apa.
Seperti malam ini.
Aku dan Tou-san tengah berbincang-bincang di ruang keluarga. Sebenarnya tidak sepenuhnya berbincang-bincang karena delapan puluh lima persen dari 'pertemuan' kami hanya diisi dengan keheningan yang sangat canggung. Sisanya hanya percakapan singkat basa-basi ala Ayah dan Anak.
"Bagaimana dengan sekolahmu, Hinata-chan?" tanya Tou-san untuk sekedar basa-basi.
"Biasa saja. Tak ada yang istimewa," jawabku sambil menyeruput kopi yang notabene merupakan minuman favoritku.
Tou-san mengangguk-angguk. Aku melirik ke arahnya, dan dapat dengan mudah melihatnya hendak berkata atau bertanya sesuatu padaku, namun tidak jadi dan memilih untuk mengurungkan niatnya.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang dibuka dari luar. Aku mendongak dan mendapati Itachi―yang masih berstatus kepala pelayan pribadiku―masuk sambil membawakan nampan dengan secangkir teh hijau di atasnya.
Aku melihat Itachi melirik sekilas ke arahku, dan kemudian melayangkan pandang ke arah Tou-san.
"Teh hijaunya, Tuan," ucap Itachi sambil meletakkan cangkir itu di meja yang ada di hadapan Tou-san.
"Berhentilah memanggilku 'Tuan', Itachi," kata Tou-san sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya.
"Hai, Hyuuga-sama," timpal Itachi canggung. Setelah mengantarkan teh hijau untuk Tou-san, ia tak segera beranjak dari tempatnya. Ia justru memandangku seakan ingin menyampaikan sesuatu.
Aku mengerti maksud pandangan itu. Aku pun menahan senyum geli dan berkata sambil mengangkat cangkir kopiku yang sudah setengah kuminum, "Satu cangkir lagi untukku."
Dan seperti biasa, Itachi mengangguk canggung dan membungkukkan badan untuk pamit pergi.
"Tunggu sebentar, Itachi," cegah Tou-san sambil menatapku dengan kening berkerut. Aku membalas tatapannya dengan mengangkat kedua alis. "Aku ingin bertanya, apa yang terjadi di antara kalian berdua?"
"Kami bertiga lebih tepatnya, Tou-san," timpalku mengoreksi.
"Terserah. Yang penting aku butuh penjelasan dari kalian berdua, karena Sasuke tidak ada di sini. Itachi, duduklah di sebelah Hinata," ucap Tou-san.
Itachi mengangguk canggung dan berjalan ragu menuju sofa yang sama denganku. Aku memutar bola mata, saat merasa ada pergerakkan pada sofa yang kududuki, menandakan Itachi sudah duduk di sebelahku.
"Jelaskan," pinta Tou-san dengan nada menuntut.
Aku menghela napas sebelum menjelaskan, "Aku hanya jengah dengan sikap mereka berdua."
"Jengah? Apa maksudmu, Hinata-chan?" tanya Tou-san menuntut penjelasan yang lebih lengkap dariku.
"Aku tidak suka diikuti terus sepanjang hari. Mereka sangat menggangguku dengan berbagai ocehan kekanak-kanakkan dan ajakkan-ajakkan yang tidak masuk akal yang juga menghabiskan waktu," jelasku panjang lebar sembari menahan emosi.
"Tapi kami hanya melakukan yang seharusnya," timpal Itachi membela diri.
"Tapi aku sudah bilang, bahwa aku tidak suka! Untuk itulah aku menyuruh kalian membungkam mulut kalian selama dua minggu ini!" bentakku tidak kuasa menahan emosi.
"Cukup, Hinata-chan! Kau tidak boleh bersikap kasar pada salah satu calon tunanganmu!" seru Tou-san, menghentikan perdebatan kami, "Jadi, Hinata-chan, kau menyuruh Itachi dan Sasuke untuk tidak berbicara padamu selama dua minggu ini?"
Aku mengangguk malas.
"Tapi bagaimana jika kau tidak dapat menentukan pilihanmu pada malam pertunangan nanti jika kalian tidak saling berkomunikasi?" tanya Tou-san.
Emosiku sudah hampir meledak lagi, namun setelah mati-matian menahannya, aku menjawab tenang, "Yang kubutuhkan bukanlah komunikasi bodoh dan kekanak-kanakkan seperti itu, Tou-san. Aku hanya butuh pendekatan yang lebih dewasa."
"Seperti apa?" tanya Tou-san lagi.
"Seperti perbincangan yang sewajarnya," tuturku sembari berdiri dan melenggang meninggalkan ruang keluarga, sebelum benar-benar keluar, aku berbalik badan dan berkata pada Itachi, "Itachi-san, kopinya tidak jadi."
Dua minggu tenang yang menyenangkan pun akhirnya lewat. Hari yang ditunggu-tunggu Ayah dan Fugaku-sama pun tiba. Hari di mana aku harus memilih salah satu di antara Itachi dan Sasuke untuk menjadi tunanganku. Aku tahu aku mencintai Sasuke. Namun hal itu tidak menyurutkan keraguanku untuk memilih salah satu dari kakak beradik bodoh itu.
Aku berdiri mematung di depan cermin besar di kamarku, memperhatikan diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku terlihat cukup dewasa hari ini. Rambut berwarna indigo yang diurai bebas tanpa hiasan apa pun, make-up tipis yang natural agak menyembunyikan wajah childish-ku yang kaku. Aku mengenakan sebuah dress sebetis berwarna biru pucat dengan jenis kain organza yang mengkilap tanpa aksesoris tambahan pada baju yang membuatku tampak bodoh ini. Selain itu semua, aku juga menggunakan kalung perak dengan liontin berbentuk kunci G dalam not balok―kalung pemberian Naruto.
Tak lama setelah aku memandangi diriku di depan cermin, aku melihat dua orang berambut raven dengan mata hitam kelam berdiri di depan pintu kamarku dan memandangku lewat pantulan cermin. Aku mendesah saat melihat mereka berdua yang―pasti―menjemputku untuk menghadiri pesta―yang lebih tepat di sebut neraka―pertunanganku.
Aku mengangguk pada kedua orang di belakangku, dan berjalan menghampiriku. Tidak seperti dua minggu lalu saat aku hanya mengapit tangan Itachi, hari ini aku mengapit tangan kanan Itachi di sebelah kiri, dan tangan kiri Sasuke di sebelah kanan. Ah, mungkin sebagian besar wanita di dunia ini menganggap aku adalah seorang gadis yang sangat beruntung karena hidup di antara dua orang dari keluarga Uchiha yang bisa dipastikan ketampanannya―paling tidak selama mereka tidak tahu betapa bodohnya kakak beradik itu.
Saat kami mencapai anak tangga terbawah―seperti dua minggu lalu―, para tamu undangan bertepuk tangan menyambut kami. Dan lagi-lagi aku menyumbangkan senyum palsuku pada mereka, padahal aku ingin sekali melarikan diri dari kewajibanku memilih pada malam ini. Seperti biasa, acara dibuka oleh Tou-san yang memperkenalkan kami bertiga, dan memberitahukan kepada seluruh tamu undangan―yang pasti sudah tahu―bahwa aku harus memilih salah satu di antara mereka.
Hingga tiba saatnya aku harus memilih.
"Hinata Hyuuga, tentukan pilihanmu sekarang," ucap Fugaku-sama tanpa ekspresi. Padahal aku bisa melihat di wajahnya terdapat harapan agar aku memilih Itachi.
"Aku―"
"Hinata-chan! Tolong pilih aku!" potong Sasuke yang―kurasa―sudah tidak tahan lagi menutup mulutnya.
"Tidak bisa! Kau harus memilih aku, Hinata-chan," sambar Itachi yang pasti juga tidak bisa menahan keinginan untuk berbicara.
Mereka pun mulai berdebat, memancing tawa dari setiap bibir tamu undangan. Aku mendesah dan memutar bola mataku. Merasa bosan akan pertengkaran duo bodoh itu. Pertengkaran mereka pun akhirnya dihentikan oleh Fugaku-sama, ayah mereka.
"Cukup, Itachi, Sasuke! Janganlah bersikap seperti anak kecil! Kalian harus tetap tenang selama Hinata belum menentukan pilihannya," kata Fugaku-sama.
Keheningan kembali tercipta, membuat aku semakin tegang. Aku dapat merasakan keringat dingin membasahi punggungku. Aku menggenggam kedua tanganku dengan erat dan menghembuskan napas perlahan.
"Aku―" aku memandang mereka berdua secara bergantian, "―memilih Itachi."
To be continued.
Waaahh akhirnya selesai juga :)
Hum, nothing to talk about nih, minna ._.
Langsung review aja deh yaa~ Minta kritik, saran, atau flame nya yaah, supaya makin bagus ini fiction ;)
Without your reviews, my stories are nothing.
"Never stop trying to be better, and better."
-Anonymous Hyuuga-
