Naruto milik Masashi Kishimoto
WARNING : NONBAKU. TEENLIT. OOC! CHESSY!
.
.
"Duh, kan udah gue bilang jangan pake mobil!" gerutu Sakura masuk ke mobil matic oren ngejreng milik Naruto. Pagi-pagi buta, tumbenan si Naruto bisa bangun pagi terus nangkring di depan rumah Sakura.
Bermodalkan cengiran berasa ganteng, Naruto pun dengan pedenya memperkenalkan diri sebagai calon pacar Sakura. "Pagi om tante yang ganteng dan cantik, perkenalkan Namikaze Naruto, calon pacarnya Sakura."
Bisa dibayangin nggak, gimana merahnya jidat Sakura yang ditepok dengan kerasanya saking kesal. Ini nih alasan Sakura nyuruh Naruto pake vespa kek.
Soalnya orang tua Sakura itu matre!
Dijamin pasti bling-bling tingkat nasional mata kedua orang tuanya begitu tahu kalau Naruto orkay alias orang kaya. Masalahnya nggak sampe situ, orang tua Sakura juga sudah pasti nyodor-nyodorin anaknya ke Naruto.
"Kamu kalo mau jadi pacar Sakura harus beliin saya gerobak baru ya…"
Duh orang tua durhaka! Masa jual anak sendiri nggak ada bedanya sama jual sayuran! Dituker gerobak lagi. Sakura sakit hati banget denger ayahnya ngomong gitu.
Terus nyokap Sakura yang dagang nasi uduk pun ngajak Naruto sarapan. Akhirnya sarapan bareng deh tadi mereka dengan berujung Naruto diminta bayaran empat porsi yang dikeluarkan nyokap Sakura tadi.
Lah. Padahal yang makan keluarga dia-dia juga. Tapi emang dasar kan udah dibilang orang tua Sakura itu matre dan serba perhitungan.
Naruto akhirnya bayar gitu aja tanpa beban mau pun penolakan atau pun pertanyaan mengapa-dia-yang-ditawarin-makan-seporsi-dia-juga- yang-harus-bayar-empat-porsi.
"Ra, cemberut aja sih?" tanya Naruto di balik kemudinya.
Sakura berdecak, "Ah elo. Kan udah gue bilang bawa vespanya Obito aja. Pake dateng bawa mobil lagi!"
Naruto garuk-garuk kepala tanpa dosa, "Kalo besok gue gak bawa mobil ngejemput elo, bisa dipecat gue sebagai calon menantu sama bokap lo."
Grrrrrrr.
Sakura mendelik tajam ke arah Naruto yang sedang pasang wajah minta dikasianin—mancungin bibir dua senti dan ngerutin alis melas. Sakura mau buka mulut dan berteriak 'SIAPA JUGA YANG MAU KAWIN SAMA LO' tapi nggak tega.
"Pokoknya besok jangan nyamper gue! Ada-ada aja sih lo!" gerutu Sakura kesal. Ia juga terpaksa ikut Naruto karena ada orang tuanya. "Siapa juga lagian yang minta dijemput. Aneh. Tiba-tiba makin centil aja."
"Ya udah, iya deh besok pinjem vespa Obito aja. Maaf, ya?" sahut Naruto.
Buset, sabar banget nih orang. Dari tadi gue bentak-bentak—eh ralat, dari dulu gue bentak-bentak masih aja bisa begini. Dalem hati, Sakura kasihan juga.
Ya udah deh.
"Nar, sorry ya jadi marah-marah." Kata Sakura melepas sitbeltnya.
Muka Naruto emang gak ada sengsara-sengsaranya. Tapi Sakura tau, di balik cengiran cowok itu pasti ada rasa sakitnya dari jaman bahela jadi bahan semprotan Sakura.
Sakura pun keluar dari mobil Naruto dan mendapati Rin yang kebetulan baru aja dateng dibonceng vespa Obito.
Muka Rin terlihat pucet dan badan kurus kecilnya dibalut jaket kegedean warna biru Obito. Sakura yang khawatir pun menghampiri Rin.
"Rin? Lo sakit? Pucet banget!" tanya Sakura ngerangkul Rin yang baru aja turun. Rin menggeleng, bibirnya emang terlihat kering.
"Cewek lo napa, To?" tanya Naruto di belakang Sakura. Rin mendelik tidak suka dibilang cewek Obito tapi Naruto tidak peduli sama sekali.
"Tau tuh, tadi pas gue jemput sih nggak kenapa-kenapa," malah Obito yang jawab sehabis nyetandarin motornya, "Tapi di jalan tiba-tiba dia meluk gue sambil ngadu kedinginan."
"Sial! Nggak gitu juga kali!" sanggah Rin yang tidak terima atas karangan Obito. "Nggak apa, Ra. Gue cuma meriang kayaknya."
Sakura masih mandang Rin cemas, "Aduh pucet banget lagi lo. Kenapa nggak pulang aja udah tau ngerasa nggak enak badan?"
Baru Rin mau buka mulut, keduluan Obito lagi yang menepuk tangannya sekali dengan nyaring. "Nah! Kan bener apa kata gue. Ini nih, Ra. Bandel Rinnya. Tadi gue udah mau puter balik biar dia istirahat. Eh dia malah ngomel-ngomel. Ya udah kan gue mana bisa nolak permintaan Rin." Lalu Obito noleh ke Rin dengan centilnya.
Rin mengerutkan alisnya nanggepin Obito.
Sakura buru-buru mengeluarkan botol minum dari tasnya, "Ya udah lo minum aja dulu."
"Eit, eit." Obito mencegah dan menuding-nuding botol air minum Sakura, "Udah tau muka Rin pucet malah dikasih air dingin!"
"Oh iya," Sakura nyengir lebar.
"Di depan ada warkop, To. Beliin teh anget aja." Usul Naruto.
Obito langsung setuju. "Pinter juga lo, Nar. Kadang-kadang." Tanpa pedulikan geplakan Naruto di kepalanya, Obito langsung berpesan pada Sakura.
"Tolong anterin Rin ke kelas, ya, Ra!"
"Sip!"
"Jangan sampe kenapa-kenapa!"
"Iye, lebay bener."
"Calon emaknya anak gue tuh, awas lo, ya, Ra!"
"APAAN SIH!" akhirnya dengan bentakan Rin, percakapan semi tidak penting Sakura dan Obito pun berakhir.
Sakura cekikikan.
"Cieee so swiiit." Godanya selagi melangkah merangkul erat bahu Rin. "Dipakein jaket lagi."
Rin melirik tajam. "Kayak lo nggak ngalamin hal yang sama aja. Kok bisa lo bareng Naruto? Hayo…" wajah pucet Rin kini menyipit jahil, "Jangan-jangan udah jadian."
"Yeee! Jangan fitnah dong!" sambar Sakura cepat. "Kejam banget. Gue juga nggak tau. Lo ngerasa nggak sih dari kemaren tiba-tiba tuh dua cowok jadi aneh ke kita?"
Rin mengangguk setuju.
Pasalnya, Obito dan Naruto itu cowok rese yang jahilnya nggak ketulungan waktu SMP, mendadak jadi flamboyan dan kecentilan.
"Jangan-jangan kita lagi dikerjain?" duga Rin.
"Atau dijadiin taruhan!" timpal Sakura. Aih. "Bener, kayaknya tuh! Masa dari jaman SMP gue maki-maki masih bisa begini si Naruto?"
"Ah, parah banget." Kata Rin memandangi jaket Obito yang ada di tubuhnya. "Acting mereka kelewat bagus, Ra."
"Ugh, awas aja kalo bener dikerjain. Gue bejek!" ancam Sakura mencengkram lengan Rin yang sedang dirangkulnya.
"Ouch. Sakit, woy!"
"Hehe, sory-sory…"
Di warkop depan sekolah.
Naruto pun menemani Obito ke warung kopi di depan sekolah untuk beli teh anget.
"Nar, pinjem duit dong. Bokek nih."
Naruto menoleh, "Ya elah, masa dua rebu aja gak ada?" lalu dikeluarkannya duit gocengan. "Nih!"
"Hehehe, thanks." Obito pun membayar teh anget yang dipesannya lalu di bawa ke kelas.
"Oh ya, To." Naruto memulai pembicaraan selagi di koridor menuju kelas.
"Apaan?"
"Ng… untuk beberapa hari ke depan kita tukeran kendaraan gimana?" tanya Naruto.
"Heh. Masa mobil dituker vespa? Otak lo geser, ya?" jawab Obito.
Naruto jadi garuk-garuk kepala bingung jelasinnya. Terus Obito seperti berpikir lalu spontan bersemangat, "Ah, setuju deh! Ini serius kan?"
"Iyalah."
"Demi Rin ini, Nar. Gue nggak bermaksud mau enaknya kok." Jelas Obito. Naruto mengangguk pegang bahu Obito. "Santai aja broh. Ini juga demi Sakura-chan."
"Lah emang napa?"
"Tau tuh, cewek aneh. Masa dianter jemput pake mobil marah-marah. Kan harusnya seneng ya? Dia katanya malu." Naruto nggak bohong kan, Sakura pernah memberi alasan yang sama. Walau kenyataannya Naruto tahu Sakura seperti itu agar Naruto tidak diporoti orang tuanya.
"Ya lo harusnya seneng juga, Nar." Sahut Obito. "Tandanya dia cewek sederhana. Lempeng-lempeng aja hidupnya kayak badannya. Hoho."
"Heh, Rin lebih kurus kayak lidi dibanding Sakura tauk!"
"Woy! Kenapa jadi ngatain Rin?"
"Lo duluan ngatain Sakura!"
"Berani lo yah!"
"Apa? Nggak jadi nih tukeran kendaraannya!" ancam Naruto pura-pura melotot seakan bola matanya siap copot, "Nanti Rin lo itu tambah sakit naik vespa!"
Obito manyun lima senti. "Ampun, Bang." Katanya nggak ikhlas.
Yah sebego-begonya dua cowok itu, tetap aja mereka berteman. Berantemnya nggak pernah beneran.
Di kelas Obito dan Rin.
Obito nyaris saja menjatuhkan gelas plastik berisi teh angetnya saat melihat telapak tangan Kakashi yang caplang itu nemplok di jidatnya Rin.
"WOY!" Teriak Obito menghampiri Rin yang duduk paling belakang. "Woy, woy, woy, woy…" Lanjutnya lebay padahal tangan Kakashi udah pergi dari jidatnya Rin.
"Main pegang-pegang aja." Ketus Obito yang nggak digubris Kakashi.
"Mending lo ke UKS," saran Kakashi kepada Rin tanpa menganggap Obito yang berdiri di sebelahnya. "Percuma di kelas nggak bakalan konsen."
Tampang Rin yang lemes-lemes pucet masih aja salting dengan senyum oneng pada Kakashi yang tentu saja membuat Obito keki.
"Nih Rin, tehnya." Obito memelototi Kakashi selagi menaruh gelas plastik berisi teh anget di atas meja.
"Thanks, To." Sahut Rin langsung minum dengan nikmatnya.
Kakashi balas menatap Obito datar, lalu duduk di tempatnya yakni di depan bangku Rin dan Obito.
Obito duduk di tempatnya langsung memandang Rin. "Lo udah sarapan belom sih?" katanya, ketus banget. Masih bersisa kesal karena lihat tangan caplangnya Kakashi seenak udel nemplok di jidat Rin.
Obito pun memegang jidat Rin nggak mau kalah dari Kakashi. Hm, panas juga.
"Ish," Rin menepis, boleh dibilang hampir geer dengan ulah Obito sejak kemarin. Tapi Rin dan Sakura bertekat nggak boleh kejebak oleh Obito dan Naruto. "Udah kok tadi. Gue cuma meriang. Dibawa tidur juga nggak apa. Entar bilangin ke gurunya ya kalo gue di UKS."
Obito menghela napas. "Ya udah, ke UKS yuk."
"Gue sendiri." potong Rin cepat lalu melepas jaket Obito.
"Kok dilepas?" tanya Obito heran selagi Rin melipat jaket biru besar Obito. Rin tersenyum mengembalikan, "Makasih, ya."
Terus pergi membawa gelas plastik teh anget keluar kelas. Sebenernya sih nggak tega gituin Obito. Mukanya ketara kecewa waktu dibalikin jaketnya. Tapi ah, Rin menggeleng.
Biarin aja. Itu orang lagi ngerjain gue. Gue nggak boleh mau-mauan diboongin. Batinnya jika mengingat bagaimana kejahilan Obito sewaktu SMP.
Ketika Rin memegang kenop pintu UKS, ia tidak sengaja melihat Kakashi ada di belakanganya sedang berjalan dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
Perasaan tadi Kakashi duduk di kelas. Apa jangan-jangan ngikutin gue ya? Batin Rin menerka kegeeran selagi berusaha membuka pintu tapi sepertinya dikunci. Susah?
"Minggir," Kakashi tau-tau ada di sebelah Rin. Ia membuka pintu UKS dengan gampangnya lalu berjalan santai menuju toilet yang tidak jauh dari ruang UKS.
Jangan salahin Rin dong kalo jadi geer begini. Siapa suruh Kakashi bareng-barengin aja mau ke toilet. Kan Rin jadi curiga kalo Kakashi ngikutin dia.
Cepet sembuh nih gue, batin Rin rebahan di kasur UKS.
Istirahat sekolah.
Sakura bingung bukan kepalang. Murid-murid di sekitarnya cekakak-cekikik. Ngapain ya? Emang ada yang aneh dengan mukanya?
Kayaknya dari pa'ut jidat Sakura emang segini lebarnya, itu pun udah ditutupin poni kok! Terus apa yang salah ya?
Saking ling-lungnya liatin orang-orang yang cekikikan, Sakura gak sadar menabrak sesuatu yang keras sampe bikin badan kecilnya jatoh ke lantai.
"Aduh!"
Terdengar suara decakan kesal seorang, "Jalan pake mata dong!" Sewotnya.
Baru Sakura mau ngajak ribut karena ketengilan orang tersebut. Tapi batal sudah setelah tahu yang ditabraknya itu Sasuke.
Sakura bangkit sendiri, "Sory. Gue meleng." Katanya lihat lagi ke sekitar yang masih pada cekakakan.
"Ih, apaan sih." Gumam Sakura pelan mulai tidak nyaman karena tidak tahu apa yang ditertawakan dari dirinya.
Melihat Sakura seperti memeriksa penampilan sendiri, Sasuke jadi memerhatikan ketika Sakura menghadap kiri kanan badannya.
Terdengar decakan lagi, Sasuke menghentikan gerakan bahu Sakura lalu mengambil sesuatu dari punggung cewek itu.
"Nih," Sasuke menyerahkan selembar kertas yang sudah ada solatip di bagian atasnya. "Alay banget sih gaya pacarannya."
Wow, pedes meeeen. Sasuke melengos pergi meninggalkan Sakura yang melongo menatap kertas yang ternyata sejak tadi menempel di punggungnya.
Isinya?
'INI PACAR NARUTO. AWAS KALO ADA YANG GANGGUIN.'
GRRRRRRRR.
"NARUTOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!" Sakura mencak-mencak di tempat. Membubarkan keramaian koridor sekolah karena pada kabur mendengar teriakan menggelegar Sakura.
Di kantin.
"Lo masih mending, Ra." Sahut Rin setelah mendengar penuturan Sakura tentang keisengan Naruto berserta kertas ajaibnya, ia sudah baikan dan melahap seporsi bakso di kantin bersama Sakura.
"Masih mending gimana?" tanya Sakura gemas meremas-remas kertas nista tadi di tangannya.
"Lo belom liat aja, ya, si Obito?"
"Emang kenapa?"
"TUH!" tuding Rin keki.
Ketika Sakura menoleh ia langsung tertawa terbahak-bahak bahkan tersedak!
Obito datang membawa jus untuk Rin. Di kedua pipi Obito terdapat tato seperti yang di muka Rin. Persiiiiiiiiiiis banget. Bedanya, tato Obito itu dari spidol warnanya item.
"Hai sayaaaang." Sapa Obito menaruh jus di meja Rin. Matanya berkedip-kedip kayak barongsai.
Sakura yang masih tersedak belum juga kelar tertawa. Sementara Rin di sebelahnya cemberut.
"Gimana, Ra? Ganteng kan gue?" Obito minta dukungan, "Sama kan sama Rin? Iyalah. Ini bukti kalo gue dan Rin itu soulmate!" jelas Obito penuh semangat.
"Sakura-chan!" Naruto menepuk punggung Sakura.
"IH!" Sakura kesal bukan main dan langsung melempar kertas tadi ke Naruto. "NIH APA NIH! JELASIN!"
"Hoho, nggak penting. Buang ajalah!" kata Naruto langsung mengomentari tato baru Obito. "Wih, keren, To!" Naruto mengacungkan kedua jempolnya.
"Yoi…"
Kedua cowok sarap itu pun tos menggunakan kepalan tangan mereka.
"Gue juga mau, ah, couple-an sama Sakura-chan." Naruto langsung duduk di sebelah Sakura dan menyibak poni pirangnya untuk memamerkan jidatnya.
"Gimana?" Naruto minta pendapat sembari tetap menahan poninya turun sambil merapat ke kepala Sakura-chan.
Kali ini Rin yang terbahak menertawakan Sakura. "PERSIS!"
Sakura menggertak Naruto dengan mengangkat sendok baksonya siap menggetok.
Tanpa Sakura sadari kalau Naruto sempat menempelkan kertas di punggungnya lagi tadi.
'CEWEKNYA NARUTO. SENGGOL, BACOK!'
.
.
Hihihi. Maaf ya kalau kelanjutannya aneh. Ya memang begini bisanya :) sankyu for you. Mind to rifyu?
