Yaaak, Anonymous Hyuuga kembali lagi dengan membawa sebuah chapter baru yang errr sangat bodoh -_-
Reviews semakin berkurang saudaraahh~ Tapi bodo amat, aku nulis di sini hanya untuk menuangkan imajinasiku kok. Gak lebih x3
Jadi, kalo ada yang menikmati / memberi review, aku bersyukur, tapi kalo gak ya gakpapa x3
Um, ada baiknya kalo liat balasan review dulu.. Let's check it out!
Replies for reviews:
-RisufuyaYUI: Hahahahah~ baca sajalah kelanjutannya xD Kamu setia juga ya meriview ceritakuu~ wkwkwk, Doumo Arigatou Gozaimasu, Risufuya-san x3 keep read my story yaaahh *cium basah*
-Gak Punya Akun: Wahahahaha xD Makasih banyaak 'Gak Punya Akun' xD terus baca yaahh~ Arigatou!
Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s), OOC, Like a rubish, Bad plots.
Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)
Happy Reading :)
.
.
.
.
Warning Detected
"Aku memilih Itachi."
Aku tersenyum saat mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Memori itu tak henti-hentinya berputar di dalam otakku. Berbagai ekspresi dari tamu undangan dan semua orang yang hadir di ruangan besar itu juga melintas dari segala arah.
"Aku senang kau memilihku," ujar seseorang dari bibir pintu, membuatku terbangun dari lamunanku. Aku menoleh dan menatapnya sambil tersenyum tipis.
Kembali ingatan itu menari-nari dalam memoriku.
"Hinata Hyuuga, tentukan pilihanmu sekarang," ucap Fugaku-sama tanpa ekspresi. Padahal aku bisa melihat di wajahnya terdapat harapan agar aku memilih Itachi.
"Aku―"
"Hinata-chan! Tolong pilih aku!" potong Sasuke yang―kurasa―sudah tidak tahan lagi menutup mulutnya.
"Tidak bisa! Kau harus memilih aku, Hinata-chan," sambar Itachi yang pasti juga tidak bisa menahan keinginan untuk berbicara.
Mereka pun mulai berdebat, memancing tawa dari setiap bibir tamu undangan. Aku mendesah dan memutar bola mataku. Merasa bosan akan pertengkaran duo bodoh itu. Pertengkaran mereka pun akhirnya dihentikan oleh Fugaku-sama, ayah mereka.
"Cukup, Itachi, Sasuke! Janganlah bersikap seperti anak kecil! Kalian harus tetap tenang selama Hinata belum menentukan pilihannya," kata Fugaku-sama.
Keheningan kembali tercipta, membuat aku semakin tegang. Aku dapat merasakan keringat dingin membasahi punggungku. Aku menggenggam kedua tanganku dengan erat dan menghembuskan napas perlahan.
"Aku―" aku memandang mereka berdua secara bergantian, "―memilih Itachi."
Sebagian tamu undangan tampak bernapas lega mendengar pernyataanku, tetapi sebagian juga terlihat membelalak karena terkejut dan tidak menyangka. Aku melirik ke arah Itachi dan melihat ekspresinya tampak terkejut kemudian kulayangkan pandang pada Sasuke dan mendapatkan ekspresi kecewa yang begitu mendalam tersirat di wajahnya. Aku tersenyum tipis melihat ekspresinya itu.
"Kalau begitu sudah diputuskan bahwa―"
"Tunggu, Tou-san. Aku belum selesai berbicara," ucapku memotong ucapan Tou-san. Tamu undangan terlihat saling berpandangan dan berbisik-bisik satu sama lain, membuat aku tak bisa menahan senyum.
"Silakan, Hinata-san," kata Fugaku-sama yang segera kusambut dengan anggukkan sopan.
Aku berdeham pelan dan melanjutkan, "Ya, aku memilih Itachi. Untuk tetap menjadi kepala pelayanku―maksudku asistenku."
Sejurus kemudian, aku melihat Itachi tersenyum miring penuh arti dan Sasuke membelalakkan mata tidak percaya―begitu juga dengan Tou-san dan Fugaku-sama. Fugaku-sama membisikkan sesuatu pada Tou-san dan Tou-san berdeham untuk menenangkan tamu undangan yang mulai ribut. "Harap tenang. Em, Hinata-chan, bisa tolong dijelaskan lagi?" tanya Tou-san, membuat seluruh tamu undangan membungkam mulut, menanti penjelasan dariku.
"Singkat saja. Aku memilih Sasuke," ucapku datar, "Sebagai tunanganku."
"Hinata-chan? Kau melamun lagi," suara maskulin itu menyadarkanku dari lamunan.
"Yah, Sasuke-kun. Aku hanya tidak mempercayai kata-kataku sendiri beberapa waktu yang lalu," kataku dengan ekspresi tetap datar.
Kening Sasuke berkerut. Ia mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan nada merajuk, "Jadi maksudmu, kau tidak bermaksud memilihku?"
Aku buru-buru melambaikan tanganku dan berkata seraya terkekeh pelan, "Bukan itu maksudku, Sasuke-kun."
"Jadi apa maksudmu, Hinata-chan?" tanya Sasuke sambil tersenyum miring. Ia mendekat padaku yang sedang duduk di pinggir ranjang. Aku membelalak dan mundur secara perlahan hingga terpojok di antara Sasuke―yang sudah naik ke atas tempat tidurku―dan tembok.
"Sasuke-kun..." aku berkata lirih dengan kepala agak tertunduk saat wajah Sasuke sudah sangat dekat dengan wajahku.
"Hinata-chan..." katanya lembut. Tangan kanannya mulai terangkat untuk menyentuh pipi kiriku membuat pipiku memanas dan kepalaku semakin tertunduk. Sasuke mulai mendekatkan wajahnya lagi dan bibirnya sudah sangat dekat dengan bibirku dan―
"Sasuke-chan, kau belum benar-benar menjadi suaminya. Kuharap kau tidak menyentuh Hinata-chan―paling tidak, kau tidak melakukannya di kamar yang pintunya terbuka lebar seperti ini," suara itu menyelamatkanku dari sentuhan Sasuke. Napasku terengah-engah saat aku sudah bisa bernapas lega setelah menahan napas sekian detik.
Aku dapat melihat Sasuke yang memutar bola matanya dan merutuk pelan dengan kesal. Ia pun turun dari tempat tidurku dan berbalik untuk menghadap asal suara. "Itachi-nii, bisakah kau tidak mengganggu acaraku?" tanya Sasuke tanpa bisa menyembunyikan kekesalan dalam nada bicaranya.
"Aku tidak bermaksud mengganggu. Hanya saja, pintu kamar ini terbuka lebar dan aku mendengar suara Hinata-chan yang sangat mengundang perhatianku. Jadi, yah, aku memutuskan untuk melihat-lihat keadaan," sahut Itachi sambil tersenyum lebar―kurasa―untuk menggoda adiknya.
"Dan sekarang, mengapa kau tidak membiarkan aku melanjutkan acaraku?" tanya Sasuke, membuat mataku membelalak sempurna.
"Tidak bisa. Aku sudah terlanjur mengganggu kalian, mengapa tidak dilanjutkan saja?" tanya Itachi dengan senyum yang semakin melebar. Aku menahan tawa saat melihat ekspresi Itachi yang benar-benar niat menggoda Sasuke.
Aku bisa merasakan Sasuke―yang sedang memunggungiku―tengah memutar bola mata dengan kesal dari nada bicaranya, "Yasudah, cepatlah masuk!"
Itachi pun tak kuasa menahan tawanya. Ia tertawa sambil menjentikkan jarinya di dahi Sasuke. Pandangannya sangat sarat akan kasih sayang pada seorang adik. Oh, aku jatuh cinta pada tatapannya kepada Sasuke!
"Kau masih seperti dulu, Adikku," kata Itachi sambil berjalan menuju pinggiran tempat tidur dan duduk di sana. Ia menatapku dengan pandangan yang tak dapat kuartikan lalu berkata, "Sesungguhnya aku sudah tahu kau akan memilih adikku."
Aku membelalak mendengar ucapannya. Lantas, jika ia benar sudah mengetahuinya, mengapa ia tidak menghentikan usaha Tou-san untuk menunda pertunangan selama seminggu dan 'menyerahkan'ku pada Sasuke saja? Dan tentang ciuman itu?
Seperti dapat membaca pikiranku, Itachi menimpali, "Karena aku sangat menikmati permainan ini, aku melanjutkannya. Dan untuk mendalami peran, aku memberanikan diri untuk merebut ciuman pertamamu, Hinata-chan. Gomen na sai," Itachi berhenti sejenak. Pandanganku teralihkan pada Sasuke yang membelalak kaget. Agar tidak mengundang kemarahan Sasuke, Itachi buru-buru melanjutkan dengan komentar yang―tentu saja―memprovokasi, "Oh, kau tidak tahu betapa menyenangkannya melihat ekspresi Sasuke yang sangat protektif terhadapmu, dan keinginannya untuk memilikimu!"
Itachi tertawa renyah, sedangkan Sasuke mengerucutkan bibirnya dan tekukkan pada dahinya terlihat semakin lama semakin dalam. "Dan jika tebakanmu salah?" tanya Sasuke yang―lagi-lagi―tak dapat menyembunyikan nada kesal dalam bicaranya.
"Jika tebakanku salah, ya?" Itachi tampak berpikir sejenak dan melanjutkan, "Aku akan tetap menerima pertunangan itu tentu saja. Jarang-jarang Uchiha bisa menikah dengan Hyuuga."
Sasuke terlihat semakin berang melihat Itachi dengan laganya yang santai dan angkuh itu. Aku tak dapat lagi menahan tawaku melihat perilaku kakak beradik Uchiha bodoh itu. Dengan dua tangan menutupi mulut―karena aku diajari mendiang ibuku untuk selalu menutup mulut tiap kali tertawa―aku terkikik pelan, sehingga mengundang perhatian dua pemuda berambut raven itu.
"Kau tertawa, Hinata-chan!" seru Sasuke dengan mata berbinar-binar―seakan kekesalan dalam dirinya menguap begitu saja.
Aku pun segera memperbaiki ekspresi dan posisi dudukku. "Memangnya ada yang salah?" tanyaku ketus―seperti tidak menyadari cincin yang melingkar di jari manis kami berdua.
"Tentu tidak, Tunanganku. Hanya saja, sangatlah langka untuk dapat melihatmu tertawa," ucap Sasuke. Aku mengernyit mendengar panggilan menjijikkannya terhadapku.
Baru saja aku ingin memprotes panggilan 'tunanganku' yang dilontarkan Sasuke, aku merasakan telepon genggamku berdering. Aku pun permisi untuk mengangkat telepon yang masuk. Saat aku sudah sampai di balkon kamarku, aku melihat nama yang tertera di layar telepon. The Saphire One. Dengan tangan berkeringat, aku mengangkatnya.
"Moshi-moshi?" sapaku dengan suara agak bergetar.
"Omedetou, Hinata-chan," ucap pria di seberang dengan nada bicara yang amat sangat kaku.
"Untuk?" tanyaku, mencoba menahan kegugupan dalam nada bicaraku.
"Pertunanganmu,"
"Hei, lihat itu! Sasuke Uchiha dan Hinata Hyuuga berjalan sambil bergandengan tangan!"
"Kau tidak melihat cincin mereka?"
"Oh, apakah pangeran tampan itu bertunangan dengan monster itu?"
"Ah, kuharap aku hanya salah lihat."
Aku mendengar ucapan mereka dengan sangat jelas. Mungkin mereka bermaksud membicarakanku secara sembunyi-sembunyi, namun volume suara mereka tidak terlalu rendah untuk disembunyikan. Aku tahu Sasuke juga mendengarnya, karena genggamannya pada tanganku semakin erat, seakan ingin memberikan kekuatan dan energi positif padaku. Jujur saja, perbuatannya itu membuat aku semakin tenang.
Sekalipun tangan Sasuke sudah menggenggamku begitu erat dan penuh akan sifat afektif, aku tak dapat menyembunyikan kegundahanku akibat perbincangan singkatku dengan Naruto semalam, yang dilanjutkan dengan saling berkirim pesan singkat. Ia memberitahuku bahwa ia sangat amat merindukanku dan terkejut saat mengetahui berita pertunanganku dengan Sasuke Uchiha melalui website pribadi milik keluarga Uchiha. Ia juga mengatakan bahwa ia menyesal telah memutuskan untuk tidak menepati janjinya karena ia baru menyadari bahwa ia sangat mencintaiku.
Aku sedang berada dalam dilema saat ini. Naruto kembali menyatakan perasaannya padaku, dan Sasuke sudah menjadi tunanganku. Baiklah, kuakui aku memang mencintai Sasuke. Tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan untuk jatuh cinta lagi pada Naruto, karena aku lebih dulu mengenal Naruto daripada Sasuke.
"Hina-chan, kau aneh hari ini," ujar Sasuke lembut. Aku kembali ke alam nyata dan baru menyadari kami berdua sudah sampai di dalam kelas―bahkan aku sudah duduk manis di sebelah Sasuke.
"Ah, tidak Sasuke-kun," bantahku. Aku segera mengeluarkan barang-barang dari dalam tasku dan meletakkannya sebagian di atas meja dan sisanya di dalam laci meja.
Sasuke mengerutkan kening dan berkata lagi, "Kau tak bisa membodohiku, Hina-chan."
Aku menghela napas dan tidak juga menjawab pertanyaan Sasuke yang sangat mendesakku, membuatnya terlihat gusar. Namun aku tidak memedulikannya, dan kembali larut dalam lamunanku.
Aku meninggalkan Sasuke sendirian di dalam kelas pada jam istirahat ini. Di sinilah aku sekarang, tenggelam dalam pikiranku di atap sekolah. Merasakan angin semilir yang membelai lembut tiap inci kulitku dan membuat rambut indigoku berkibaran, membuat aku merasa nyaman dan damai.
Naruto... laki-laki bersurai kuning dengan mata sebiru batu saphire dan senyuman lebar yang sangat menghangatkan hati. Tawanya yang khas dan senyumannya yang seperti rubah itu mampu meruntuhkan segala kegundahan dan rasa sedihku. Tangannya yang kuat senantiasa merangkulku di kala aku kesepian dan membutuhkan seseorang di sampingku. Tak pernah sekalipun ia meninggalkanku dan tidak menjagaku walau hanya melalui kata-kata dan sentuhan ringan.
Sasuke... pria berambut seperti pantat ayam berwarna hitam kebiruan dan mata sehitam batu onyx dengan senyuman yang tak kalah lebar dengan milik Naruto. Suara maskulinnya mampu membuatku terhanyut dalam pesonanya dan melupakan segala persoalan yang sedang kuhadapi. Ia selalu menggangguku di setiap kesempatan dan membuatku kesal akan sikapnya. Namun perlahan-lahan pesonanya menjeratku dan membuatku tak sanggup lagi mengalihkan pandang daripadanya.
Dua sosok pria berbeda karakter yang sudah membawaku dalam dilema yang sangat berat. Naruto sudah mengkhianatiku dan Sasuke datang membawa pertolongan dengan menyediakan dada bidangnya untuk kusandari. Aku bertunangan dengannya pada akhirnya setelah menolak dan mengabaikan Itachi yang tak lain adalah kakaknya. Hanya beberapa jam setelah aku bertunangan, Naruto meneleponku dan mengatakan betapa menyesalnya ia sudah mengingkari janji. Ia mengatakan bahwa ia merindukanku dan ia mencintaiku. Perempuan mana yang tidak mabuk kepayang saat diberi pernyataan cinta oleh orang yang pernah menjadi seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya?
Kini aku benar-benar tak mengerti akan apa yang harus kupilih. Tidak. Aku harus tetap bersama Sasuke, karena cincin ini dan cincin itu sudah melingkar di jari manis kiri kami masing-masing. Aku tak boleh mengkhianatinya. Tidak boleh. Tapi... Ah, cukup Hinata. Cukup.
"Sudah kuduga kau di sini. Dan sudah kuduga penyebab semuanya adalah laki-laki itu," ucap seseorang dengan suara yang sangat amat kukenal.
'Laki-laki itu'?
Aku menoleh dan mendapati Sasuke tengah berdiri di depan pintu sambil memutar-mutar telepon genggam dalam tangannya. Aku memicingkan mata untuk melihat telepon genggam yang sepertinya familiar itu. Aku membelalak dan kemudian meraba-raba saku celana dan saku kemejaku, dan tidak menemukan telepon genggam milikku.
"Sa-Sasuke-kun?"
"Sejak kapan kau menjadi gagap seperti itu, Hinata-chan?" tanya Sasuke sambil berjalan mendekatiku, lalu berjongkok di hadapanku.
"Dari mana kau menemukan ponselku?" tanyaku―semacam pengalihan perhatian.
"Kau meninggalkannya di laci, Hinata-chan," jelas Sasuke sambil tersenyum lembut. Sebelah tangannya mulai terangkat untuk memainkan rambutku dan sesekali membelai pipiku dengan sangat lembut. "Aku ingin bertanya."
Aku mendongak menatap tepat ke iris hitam kelamnya, dan memandangnya dengan penuh tanya.
"Siapa 'The Saphire One'?" tanya Sasuke sambil menaikkan alis dan tersenyum miring.
To be continued.
Fuh, akhirnya kelar!
Yap seperti biasa, nothing to talk about =3=
So, review please, cause without your reviews, my stories are nothing :)
"Never Stop Trying To Be Better, And Better."
-Anonymous Hyuuga-
