Naruto milik Masashi Kishimoto

WARNING: OOC, AU, TEENLIT AND NONBAKU! 0,11% humor


Mata Naruto terbelalak lebar melihat daftar kelompok yang dikeluarkan wali kelasnya.

"Kelompok Tujuh." Pak Iruka membacakan apa yang jelas-jelas sudah berada di papan tulis. "Namikaze Naruto, Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke."

Bisa dilihat gimana muka gembira Sakura di sebelahnya, Naruto sih cemberut aja.

"Kenapa harus sama dia?" gerutunya pelan, padahal tadi udah hampir sujud syukur begitu nama Namikaze Naruto dan Haruno Sakura disebut secara bergantian.

Eh jadi kejeduk meja, gegara sujud syukurnya goyah mendengar nama berikutnya, Uchiha Sasuke.

"Yak, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama setahun mata pembelajaran—kalau ada tugas kelompok kalian tak perlu repot membentuk kelompok lagi. Ini sudah fix teman sekelompok kalian. Selamanya."

Selamanya.

Selamanya.

Selamanya.

Suara Iruka sensei menggema dahsyat bagai suara Spongebob yang mengganggu Squidward atau suara Moris yang menggemakan perkataan Raja Julien.

"—eh, nggak selamanya, ding. Sampai kalian naik kelas aja." Ralat Iruka sensei garing.

Nggak membantu muka Naruto yang udah terlanjur mau nangis. Sementara Sakura yang udah tutup muka nutupin ekspresi sok imutnya yang bahagia.

"Gak, gak mungkin." Naruto geleng-geleng kepala, gak nerima kenyataan.

Pecah. Muka bahagia Sakura rusak. "Apa lagi, sih, Naaar?"

"GAK BISA!" Naruto menggebrak meja secara dramatis. Dengan nyali-nya, ia menghadap ke Pak Hashirama selaku guru Agama sekaligus guru BK.

Sebenarnya ini jam pelajaran Pak Hashirama, Pak Iruka hanya sekedar mampir sejenak untuk membagikan kelompok (permanen) belajar di kelasnya.

"Pak! Bapak sendiri, kan, yang bilang kalau dua orang berduaan pasti yang ketiga itu setan?" tanya Naruto tegas.

Pak Hashirama mengangguk mantap, "Betul!"

"Nah!" Naruto menepok tangannya sekali, kenceng. "Lantas Bapak Iruka telah menjadikan Uchiha Sasuke sebagai setan di antara saya dan Sakura-chan."

Haaaaaaaah? Sakura menoleh dengan wajah bloon sekaligus heran. Kenapa itu si Naruto?

"Maksud?" Pak Hashirama bertanya balik secara gaul.

"KENAPA KELOMPOK TUJUH HARUS BERISI SAYA, SAKURA-CHAN DAN SASUKE?"

"Yaaa, saya ngambil sesuai absen aja kebetulan kalian berurutan bertiga." Yang nyahut Pak Iruka dong tentunya, lah wong Naruto melototnya ke beliau.

"Itu dia, Pak…" Naruto pasang tampang hopeless-nya yang tak lepas dari aura frustasi.

"Kenapa harus bertiga?"

"Kenapa gak saya sama Sakura-chan aja?"

"Kenapa?"

"Kenapa?"

Sakura tutup mukanya pakai dua tangan.

Istirahat, di Kantin.

"Bisa samaan gitu, ya?" Rin menaruh kedua tangannya bertumpukan di dada. "Gue juga sekolompok sama Kakashi-kun~! Kya~!"

"Kyaaaa~! Kebayang setahun ini bakal kerja kelompok sama Sasuke-kun terus."

"Jodoh emang nggak kemana, ya, Ra? Kya~!" Rin mendadak sembuh dari sakitnya.

"Yoi!"

"Kyaa~! Kyaaa~! KYAAA~!"

Rin dan Sakura sibuk ber-'kya' ria di tengah kantin pada meja bundar, lupa akan jam makan siang, malah menelantarkan cup jus milik mereka yang gak terjamah, cuman diaduk-aduk doang.

Sekaligus mengaduk-aduk perasaan dua cowok jabrik yang sedang terpuruk di pojokan kantin.

"Kya, kya." Obito meniru dengan tampang mewek meledek dari jauh tanpa diketahui cewek tersebut. Asli, kesel. Kepalan tangannya menggebrak meja hingga membuat kuah ramen milik Naruto sedikit tumpah keluar.

Naruto menatap hampa semangkok ramennya yang kini ditarik oleh Obito dan dilahap dengan ganas nan penuh amarah. Wajahnya masih semendung kota Bogor—eh Amegakure maksudnya yang diindikasi sebagai kota hujan.

"Rasanya gue mau nangis aja." Naruto memegang pundak Obito sambil mencengkram kemejanya sendiri pada bagian dada. "Parah banget." Katanya lagi dengan suara dalem dan berusaha bersedih secara jantan.

Sroot. Obito menyedot ramen rampasannya dahulu, mulutnya penuh, "Lebay, lo! Duit lo kan banyak. Nggak masalah dong ngehibur gue yang lagi suram ini? Beli aja lagi." Seruput. Seruput. Obito malah curi kesempatan di dalam kesempitan mangkok ramen Naruto yang sudah terlantar karena sang empunya galau di tempat.

"Ini tentang kesialan kita yang serupa, TO!"

"Tau nih, sial banget si Kakashi itu pake acara satu kelompok sama gue dan Rin. Saus tartar!" Obito bersumpah serapah. Ternyata wali kelasnya yang tadi juga mengumumkan kelompok belajar, Obito kedapatan kelompok tujuh bersama Rin dan Kakashi.

"Mungkin kita emang jodohnya mereka, kya~!"

"Iya kali, ya~! Kya~!"

Suara Sakura dan Rin masih berkelanjutan di seberang sana.

"Che Kussooo!" Naruto pengen berubah jadi monster rubah sekedar buat ngamuk keren kayak sinetron ganteng ganteng seringgalau—eh ganteng ganteng serigala.

"Damn!" Timpal Obito. "Yang dianggep jodoh malah itu dua cecunguk," Obito menunjuk Kakashi dan Sasuke di stand sebelah. "—bukannya kita."

Kebetulan sekali itu Sasuke dan Kakashi lagi duduk di sana, beda meja tapi kebetulan punggung-punggungan dan mereka sendirian.

Mereka sama-sama makan sushi lagi—eh enggak ding, Kakashi masih biarin utuh sushi-nya. Rumornya, gak ada yang pernah liat wajah Kakashi bahkan di foto sekolahnya aja doi pake masker.

Edan!

"Dasar Slenderman." Hina Obito makin gedek liat Kakashi buka komiknya.

Sok jejepangan. Batin Obito memaki, eh dasar gak sadar diri dia sendiri lagi langganan ramen barengan Naruto.

Naruto berdecak, "Iruka-sensei keterlaluanlah! Pokoknya gue harus minta tuker si Teme itu sama anak lain aja."

Obito mengelap bibirnya dengan punggung tangan, "Lo mah enak, anaknya guru yang punya saham di mari. Bisa tinggal calling-calling, Babe, Naruto mau minta tuker kelompok!"

"Ah nggak sengampang—"

"OH IYA ya…" Obito memotong, menghadapkan diri di depan Naruto. "Lo kan anaknya Minato-sensei. Please bilangin ke bokap lo supaya kelompok tujuh di kelas X-2 itu dituker lagi. Sama siapa kek, asal bukan Kakashi."

"Nggak segampang itu, To. Sebelumnya gue udah coba buat swap kelompok gue sendiri." Naruto berkata seolah capek, "Tapi liat dong tuh." Tunjuknya. Ke dua orang cewek berbodi super langsing yang masih sibuk ber-kya-kya ria.

"Tau sendiri Sakura sama Rin gimana, kan?"

"Hngg…" Obito manggut. Rin dan Sakura terlihat lovely waktu ketawa-tawa feminin di seberang sana. Kayaknya berkilau gitu deh kayak anime shoujo, tapi bisa berubah kapan aja jadi sehoror emaknya Naruto.

Dan Obito gak berniat ngelunturin kemanisan dua cewek itu pas lagi seneng.

Sungguh dah.

Sesaat sebelum bel 'waktu istihat habis' berdering…

"Kakashi-kun!" Suara malaikat Rin membuat Obito naik darah karena nyebut sang musuh bebuyutan. Obito buru-buru menjebloskan diri di semak-semak terdekat.

Dilihatnya Kakashi hanya mengangkat alis saat menghadap Rin.

"Engg," Rin gigit bibirnya, nahan senyum centil. "itu… bagi nomor hapenya dong, biar gampang kalau mau ngabarin soal kerja kelompok. Ehe. Ehehe…" Rin tanpa sadar bertingkah autis seolah mau nyopotin jari-jari tangannya sendiri.

Kakashi nampak mengangguk paham, mengambil pulpen dari saku kemejanya lalu mengambil tangan kiri Rin.

KAKASHI MEGANG GUE, GOD, KILL ME NOW! Rin siap meledak jadi jutaan sel mikrobaketria tapi ia harus bertahan. Sungguh.

Sementara Obito pengen ngebor tanah di tempatnya sembunyi, yang kenceng, sekarang juga!

"Slenderman sialan!" Obito menatap penuh dendam sambil bergaul sama kambing di belakang sekolah itu, gigitin daun yang secara emosi dicabutinya.

"Sms aja." Kakashi pergi meninggalkan Rin.

Rin yang terbengong cantik menatap tangannya sendiri. Dengan tatapan cinta.

Emak. Rin bakal kawin.

Kenistaan inner Rin tidak tertolong.

DI WC putri.

"Gue berasa dilamar, Ra." Rin mengelus-elus pipi sendiri dengan punggung tangan yang bekas dipegang Kakashi.

"Yaelah," gumam Sakura nyesel ninggalin kelas gara-gara pesan SOS Rin yang membuatnya lari secepat hybrid yang lagi sprint.

"Gue pikir apaan gitu." Sakura sama sekali gak digurbis Rin.

"AAAAAAAAAAAK, AKU PADAMU… AKANG KAKASHI-KUN…!" Rin lari ditempat meluk telapak tangan kirinya.

"Sakit lo Rin." Komentar Sakura yang lama-lama envy. Oemji helow. Sakura juga mau kaliiiiiii dapet nomor Sasuke-kun

Rin mengangkat kepalanya, menatap Sakura pura-pura sebel. "Coba bayangin, Sasuke pegang tangan lo," Rin meraih tangan Sakura, "Nulis nomor hapenya di tangan lo." Rin mencoret-coret tangan Sakura dengan kuku jarinya. "Terus sebelum pergi, berekspresi ganteng sambil bilang "Sms aja"… gimana?"

"GILE LU NDRO. Bisa mati di tempat gue kalo gitu."

"Kan," ekspresi Rin mencemooh jawaban Sakura.

"Elo malah bikin gue envy! Gue iri! Gue juga mauuu!" Sakura mulai gegulingan di tembok.

Rin mencegal kegiatan absurd Sakura. "Ya coba minta aja kali." Sarannya, enteng bener.

"Lo KIRA dia bakal ngasih gitu aja?" oke, respon Sakura malah sewot.

"Pesimis, ah, lo."

"Ya elo sih gampang, dasarnya si Kakashi emang pendiem bukan anti-sosial kayak Sasuke!"

"Bukanya lo sekelompok sama dia? Pake alibi aja kayak gue."

Istirahat kedua.

"Becanda lo?" sahut Sasuke, dingin.

"Enggak, gue serius. Demi kepentingan kelompok." Sakura membalas mantap.

"Lo siapa? Minta nomor gue?"

"Ta-tapi… kelompok…"

Sasuke berdecak, dan pergi dengan sepenggal gerutuan sadis. "Ganggu aja."

(Kembali) Di WC putri (lagi)

"HUWEEEEEEEEEEEEEEEE~!"

Rin kewalahan nenangain Sakura yang nangis berember-ember.

"Kejam banget sih tuh cowok, Ra."

Emang dasar Sakura tahan banting. Depan orang kekar, diem-diem nangis kejer gini. She's the truly Wonder Woman.

"Asli, dia itu kenapa sih? Kok segitunya jadi orang?" Rin masih heran dengan sifat sadis Sasuke yang gak tanggung-tanggung sampe bikin Sakura nyaris gantung diri di pohon toge.

"Watashi wa tsuyoi… watashi wa tsuyoi…" ulang Sakura berkali-kali di pundak Rin, meyakinkan diri bahwa mentalnya sekuat karakter animanga favorite-nya.

Pulang Sekolah.

"Engg… Ra, Rin, pada laper gak?" tanya Naruto.

"Lumayan." Jawab Rin.

"Tumbenan lo nanya, ada apaan nih?" tanya Sakura curiga.

"Ya udah ayoklah kita makan bakso di depan sebelum pulang, gitu maksud gue."

"Mau nraktir?" tanya Sakura tudepoin.

"Gampang itu mah… ya udah yuk jalan."

"Ehhh, tunggu, tunggu! Obito mana?" tanya Rin celingukan.

"Cie, kangen yak." Goda Naruto.

"Gak gitu, biasanya kan lo berdua Obito sekarang dia kemana?"

Rin emang sekelas sama Obito tapi sepulang sekolah punya jadwal penting sama Sakura di toilet. Kayak nyisir sama nyemprot ulang parfum gitu misalnya.

"Ada perlu bentar. Katanya dia nyusul." Jawaban Naruto bikin gak puas.

"Perlu apaan? Kok gue gak tau?"

"Emang lo bininya kudu semuanya lo tau?" Dalemm.

"Biasanya dia serba bilang biar pun gue gak nanya!" Rin sensi, kampureto emang responnya Naruto.

"Ng… kayaknya tadi gue liat Obito lagi dikejar kakak kelas deh." Sakura nimbrung.

"Hah?" Ya kagetlah Rin. "Cewek katarak mana yang mau ngejar-ngejar dia?"

"Ih bukan dikejar-kejar cewek, tapi beberapa kakak kelas cowok. Bukan kayak artis dikejar idola tapi kayak copet dikejar warga!"

"O-oh."

Lucu juga nih ceweknya Obito, batin Naruto ketawa geli.

"Ngapain sih tuh orang…" Rin ngegerutu, dalam hati berharap ada gempa bumi; terus sekolah roboh niban kepala Naruto supaya amnesia, supaya lupa sama dugaan absurd Rin sebelumnya dan supaya gak cerita apa pun ke Obito.

"Ada masalah apa, Nar?" tanya Sakura, "Si Obito berantem apa gimana?"

"Nggak, sih." Jawab Naruto santai. "Sepele. Ada, lah, urusan laki-laki."

Sakura gak puas. Rin juga tambah kepo.

"Udahlah. Nanti dia juga nyusul, yok jalan."