Aku kembaliii~
Yap, seperti biasa, kita lihat balasan reviews dulu yaah~ So, check it out!
Replies for reviews:
-QRen: tolong baca chapter selanjutnya yaahh xD
-Diane Ungu: baca chapter berikutnya maka kamu akan mengertiii xD
-RisufuyaYUI: tamat sampe chapter berapa? Um, jujur saya belum tahu ._. yah mungkin sekitar 10-an ;) ditunggu yaah
-Diane Ungu: Wahahaha, aku kalo jadi Hinata juga bingung harus pilih yang mana :/ apalagi dua-duanya sama-sama kece dan manis._. terus baca fiction ku yaah~! Arigatou!
-Guest: Waah~ Arigatou gozaimasu udah mau bacaa~ xD xoxo
-cepi-chan: Kamu ngefly di bagian itu? Um, sama lah. Aku authornya aja ngefly._. tapi sayangnya Hinata bukan untuknya x'( wakakak terus baca yaa!
-biancav312: wkwkwkwk kamu emosi banget sama Narutoo xD kasian anakkuu, dipanggil PHP sama bian-san :( Bebeb Minato, anakmu dikatain tuh.. *dihajar readers* Suka sama siaapaa? Hm, kita lihat di chapter selanjut selanjut selanjutnya yaahh wahahahah~ keep reading! Arigatou!
Hauh, kita langsung baca saja yaah~ Kay, let's read the eighth chapter of 'The Reason I Love You', a Naruto fan fiction by: Anonymous Hyuuga. Happy reading!
Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s), OOC, Like a rubish, Bad plots.
Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)
Happy Reading :)
.
.
.
.
Unexpected Meeting
"Siapa 'The Saphire One'?" tanya Sasuke sambil menaikkan alis dan tersenyum miring.
Aku terpaku menatapnya. Berusaha mencerna kalimat Sasuke kata-perkata. Sesaat bibirku terbuka dan kembali tertutup karena tak tahu harus berkata dan menjawab apa. Pertanyaan yang sangat menjebak. Bisa saja aku menjawab ia sahabatku, namun sudah dapat ditebak dengan mudah ia pasti sudah melihat seluruh conversation antara aku dan Naruto.
"I-itu," aku berusaha mengeluarkan suara, namun yang keluar hanya bisikkan serak.
"Siapa?" tanya Sasuke. Kulihat rahangnya mengeras dan ekspresinya terlihat kaku dan agak mengintimidasi. Sangat jarang aku melihat ekspresinya yang seperti itu. Tanpa kusadari, tubuhku bergetar hebat karena ketakutan. Ah, mengapa aku takut? Sebenarnya tak ada alasan untuk takut. Aku cukup menceritakan segala sesuatunya kepada Sasuke. Tapi, ah, entah mengapa ada dorongan kuat dalam diriku untuk tidak menyakiti laki-laki di hadapanku ini.
Kurasa Sasuke menyadari perasaanku. Aku menundukkan kepalaku kala Sasuke mendekatkan dirinya padaku. Tak lama kemudian, Sasuke merengkuh tubuhku dalam pelukannya. Aku merasakan kehangatan menjalari tiap inci tubuhku. Rasa nyaman yang tak tergantikan itu seakan menghipnotis diriku. Kurapatkan tubuhku padanya. Menyandarkan kepala di dada bidangnya, seakan mengangkat segala beban dalam diriku.
"Maaf Hinata-chan, aku sudah membuatmu takut. Aku tidak memaksamu menjawab, Hime," ucap Sasuke lembut sambil mengecup puncak kepalaku, membuat aku mengangguk pelan. Kupejamkan kedua mataku, dan aku menghirup aroma tubuhnya, yang harum, dalam-dalam, merasakan kehangatan semakin lama semakin membuatku nyaman. "Ayo kita turun," suara maskulin itu mengembalikan kesadaranku. Ia pun melepaskan pelukannya, membuat aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dari dalam diriku.
Aku kembali mengangguk, dan detik berikutnya mendapati pergelangan tanganku sudah berada dalam genggaman hangat Sasuke. Kami berdua pun turun dari atap itu dan berjalan menyusuri koridor sekolah, menuju kelas kami.
Tiba-tiba, ketika kami sedang sama-sama menikmati kebersamaan satu sama lain, aku merasakan sesuatu yang aneh dalam perutku. Detik berikutnya, perutku berbunyi keras, membuat aku tersipu malu, dan Sasuke menatapku dengan ekspresi menahan tawa.
"A-aku lapar, Sasuke-kun," kataku malu-malu.
"Jaa mata, Hinata-chan!" seru Sasuke sambil melambaikan tangannya dari balik kemudi. Senyuman yang sanggup membuatku melupakan segala beban itu pun terpatri di bibirnya yang tipis.
Aku tersenyum saat mendengarnya, dan kemudian membalas lambaian tangannya dan menyahut pelan, "Jaa!" Setelahnya, mobil Sasuke melaju dan semakin jauh dari pandanganku. Aku menghela napas, dan berjalan menuju rumahku. Setelah membuka pintu, aku meletakkan sepatuku di rak sepatu dan berseru, "Tadaima!"
"Okaerinasai, Hinata-chan," balas Itachi yang baru saja keluar dari dapur. Ia tersenyum padaku dan melanjutkan, "Tadi ada telepon untukmu dari Naruto-san."
Aku membelalakkan mata ketika mendengar nama itu disebutkan oleh Itachi. Namun aku segera menetralisir perasaanku dengan berdeham dan bertanya, "Apa Naruto meninggalkan pesan untukku?"
"Ya, Hinata-chan," jawab Itachi singkat, tanpa melunturkan senyuman di bibirnya. Namun aku bisa melihat di matanya tersirat sebuah―ah―ketakutan atau apa aku tidak tahu.
"Pesan apa, Itachi-nii?" tanyaku lagi pada Itachi. Mulai sekarang mungkin memang sudah seharusnya aku memanggilnya dengan sebutan kakak.
Itachi terlihat menimbang-nimbang, apakah ia akan memberitahuku atau tidak. Namun setelahnya ia menghela napas dan―sepertinya―memutuskan untuk memberitahuku, "Katanya kau ditunggu di taman."
"Kapan?" tanyaku lagi dengan gugup.
"Sekarang."
Jawaban Itachi membuat aku buru-buru naik ke tingkat atas, menuju kamarku. Setelah mengambil ponsel dari tas, aku melemparkan tasku itu ke sembarang arah. Berikutnya aku mengganti seragamku dengan pakaian yang ada di lemari dengan sekenanya. Entah mengapa aku sangat ingin berjumpa dengan pemuda bermata blue sapphire itu. Mungkinkah aku sangat merindukannya?
Setelah selesai mengganti pakaianku dengan pakaian-entah-apa, aku segera menuruni undakan, dan berjalan untuk mengambil sepatu apapun yang ada di rak dengan tergesa-gesa. Saat aku akan keluar rumah, aku melihat Itachi hendak mengatakan sesuatu, namun aku tidak mengabaikannya dan segera berjalan menuju taman.
Di perjalanan banyak orang yang memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil sesekali terkikik geli. Aku heran melihat sebagian orang berbisik-bisik dengan partner berjalannya. Namun aku memutuskan untuk tidak menghiraukan, dan bergegas menuju taman.
Tak butuh waktu lama, aku segera sampai di taman dalam waktu lima menit. Mata amethyst-ku menangkap seorang laki-laki dengan rambut kuning jabrik yang tengah duduk di salah satu bangku taman sambil membelakangiku. Kerinduan yang amat sangat pun merayapi hatiku saat melihat pria yang pasti adalah Naruto tersebut.
Setengah berlari, aku menghampiri laki-laki itu dan memeluknya dari belakang dengan penuh rasa rindu. Sepertinya Naruto tengah tertidur, karena ia segera terlonjak kaget saat menerima sentuhanku. Ia segera berdiri dan menghadapku. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, ia membelalak dan tersenyum lebar saat mendapati aku berdiri di hadapannya. Dengan cepat, ia segera berlari menuju belakang bangku yang tadi ia duduki dan segera merengkuh tubuhku ke dalam pelukan hangatnya.
Ia pun puas memelukku dan segera memegang kedua pundakku sambil menatapku lembut dengan penuh kehangatan. Aku mencari-cari perasaan gugup yang seharusnya saat ini aku rasakan. Namun hasilnya nihil. Aku tidak menemukannya. Yang aku temukan hanyalah perasaan bahagia karena mendapati sahabat yang selama ini kutunggu-tunggu dan kurindukan akhirnya berdiri di hadapanku masih dengan tatapan hangatnya yang dapat membuatku merasakan kehangatan yang menjalari tubuhku seketika.
Tiba-tiba matanya teralihkan dengan benda berkilauan yang melingkari jari manis kiriku. Dan seketika itu juga, senyumannya luntur dan digantikan dengan ekspresi sedih dan terluka. Aku membuang muka untuk melihat ke arah lain. Pandangan matanya itu membuatku semakin merasa bersalah karena mungkin telah mengkhianatinya.
"Hinata-chan, bagaimana kabarmu?" tanya Naruto untuk memecah keheningan yang sedari tadi menempatkan diri di antara kita.
"Sangat baik, Naruto-kun. Bagaimana denganmu?" tanyaku setelahnya tetap dengan tatapan datar.
"Baik. Baik sekali. Terlebih setelah berjumpa denganmu," ucap Naruto sambil menyeringai lebar.
Aku hanya mendecih dan mendengus mendengar jawaban Naruto yang seenaknya itu. Naruto pun tertawa melihat aku yang menggerutu pelan. Ia segera merangkul pundakku dan menuntun aku untuk duduk di bangku yang sebelumnya ia duduki sendiri.
Seperti biasa, kami tidak banyak menghabiskan waktu bersama kami untuk berbincang-bincang. Kami hanya menyalurkan perasaan masing-masing melalui genggaman tangan dan tatapan mata ataupun senyuman. Kehangatan kembali kurasakan di dalam hatiku. Tiba-tiba pandangan hangatnya berubah saat perhatiannya teralihkan dengan sesuatu yang ada di bawah kami. Aku memiringkan kepala dengan heran saat mendadak Naruto memandangku sambil mengulum tawa.
Aku memandangnya penuh tanya. Dan saat itu juga, Naruto tertawa terbahak-bahak. Keheranan semakin menjadi-jadi dalam pikiranku. Aku berusaha memutar otak untuk menemukan alasan tawa Naruto.
"Hinata-chan!" seru Naruto saat tawanya mulai mereda. Air matanya cukup memenuhi kedua pelupuk matanya setelah ia tertawa terbahak-bahak cukup lama.
"Hn?" sahutku malas.
"Lihatlah alas kakimu," ujar Naruto diselingi sisa-sisa tawanya.
Aku pun spontan menatap kakiku dan terkejut saat mendapati kakiku dihiasi sepasang sepatu yang berlainan jenis. Dan seketika itu juga, tawa Naruto kembali meledak.
"Baiklah, Hinata-chan, aku sepertinya harus kembali ke Suna saat ini juga," kata Naruto akhirnya sambil menghela napas. Perasaan kecewa merayapi tubuhku namun kusembunyikan sedemikian rupa dengan tampang stoic murniku.
"Berhati-hatilah, Naruto-kun," ucapku akhirnya sambil melempar pandang pada matahari yang kian menurun menuju tempat peraduannya.
Aku pun merasakan tubuhku dipeluk dengan pelukan yang tidak biasanya diberikan Naruto kepadaku. Lebih hangat. Lebih dekat. Dan sedikit lebih intim. Ia mengecup puncak kepalaku dengan rasa sayang. Aku dapat merasakan kehangatan kembali menjalari tubuhku untuk yang kesekian kalinya hari ini. Tetapi kehangatan ini berbeda dengan kehangatan yang diberikan Sasuke. Berbeda. Membuatku kurang... puas. Aku... merindukan kehangatan yang diberikan Sasuke. Aku merindukannya. Dan aku membutuhkannya.
"Selamat datang kembali, Naruto Uzumaki," ucap seseorang dari arah samping.
Naruto spontan melepaskan pelukannya padaku, dan kami berdua spontan menatap ke sumber suara. Mataku terbelalak saat mendapati manik hitam itu menatapku dengan tajam. Kecemburuan tersirat dengan jelas di sorot matanya. Naruto memandang sang pemilik suara dengan bingung. Ia tidak tahu siapa orang itu. Laki-laki bermata biru itu pun memandangku dengan bingung.
"Cih. Kupikir kau sudah tahu aku," ucap orang berambut hitam kebiruan itu, "Kurasa sudah saatnya aku memperkenalkan diriku," laki-laki itu memberi jeda singkat di perkataannya, dan kembali melanjutkan, "Sebagai tunangan dari Hinata Hyuuga."
To be continued.
Wahahaha, akhirnya bisa update juga di tengah-tengah kesibukan sekolahku xD
Terimakasih yaa buat yang udah setia membaca ceritakuuu~
Seperti biasa, aku minta kritik, saran, ataupun flame dari kaliaan~
So, review please. Because, without your reviews, my stories are nothing :)
"Never stop trying, to be better, and better."
-Anonymous Hyuuga-
