Naruto milik Masashi Kishimoto

WARNING: OOC, AU, TEENLIT AND NONBAKU! Chapter ini kekeringan humor.

.

.

"Bang, bakso tiga." Naruto langsung duduk ganteng di tempat yang telah disediakan.

"Wih, bawa dua cewek sekaligus nih ceritanya." Abang bakso ngecengin dengan muka tambunnya.

Naruto reflek liat Sakura. Seolah takut.

Sakura bales, sudut bibir bagian atas aja yang terangkat dan tatapan 'sok-iye-lu'.

"Engga!" Naruto dada-dada pake ke dua tangan ke Sakura.

"Bukan urusan gue juga," sahut Sakura.

"Yah, jadi salah paham kan. Elo sih, Bang!" Naruto mulai ngehardik abang bakso yang lagi nyiduk. "Kapan coba pernah gue bawa cewek lain?!"

Sakura dan Rin gak peduli dan duduk di seberang, selagi Naruto ngoceh ke abang bakso tapi matanya ngeliat ke Sakura.

"Maap atuh, saya teh nyeletuk aja biar rame." Abang baksonya masih cuek nyidukin kuah.

"Gue tau, gue ganteng. Tapi cewek gue cuma satu," Naruto nunjuk, "Sakura-chan."

Sakura berdecak, "Jangan percaya, Bang."

"Iya saya teh mana percaya."

"…kampret." Naruto mulai mikir warung Ramen emang bagusan dari pada warung Bakso.

Selesai makan.

Naruto terkesima sama mangkok kemerahan Sakura.

Dia baru nyadar selera Sakura sangar dan makin ngerasa jodoh.

"Ngh… kenyang~" Sakura bergumam dengan jidat keringetan.

"Alhamdulillah ya~" sahut Rin setelah meneguk habis es tehnya. "Makasih, Nar. Udah ditraktir."

"Iya, thanks banget loh." Kata Sakura ikutan.

Naruto ngibasin tangan sambil nyengir, "Yoi, selow aja ama gue mah."

"Mm, betewe, Obito masih belom kelar sama urusannya?" tanya Sakura saat keluar dari warung bakso yang ada di depan sekolah mereka itu. "Nanti Rin pulang sama siapa?"

"Gue bisa pulang sendiri kali." Sahut Rin jutek liat tampang ngeledeknya Sakura.

"Jangan." Naruto menahan dengan kata-kata dan tampang sok kalemnya. "Obito pasti balik buat lo, tungguin aja napa. Selama ini kan dia selalu nungguin lo sepulang sekolah."

Selama ini? Helow mereka masuk nih sekolah aja beloman ada satu semester..

"Emang dia ngapain sih?" tanya Rin. "Sampe dikejar Kakak kelas?"

Naruto liat jam di tangan dengan tampang mikir. "Lama juga ya, tuh bocah."

Rin berasa dikacangin.

"Obito punya urusan apa sama Kakak kelas, Nar?" tanya Sakura.

"Katanya sih perkara masa lalu, Sakura-chan."

TUH KAN BENER GUE DIKACANGIN, NARUTO BIADAB! Rin udah mau nempeleng Naruto pake cidukan bakso milik Abang yang tadi.

Dan baru aja Rin mau ngomel, sebuah mobil oren ngejreng telah sampai di hadapan mereka dengan ngerem menggetarkan gendang telinga.

Pintu samping terbuka, nampaklah wajah Obito yang keringetan kayak abis lari seharian. "Rin! Cepet masuk!"

"WOY! OBITO! JANGAN LARI LO!" beberapa Kakak kelas ngerem di tikungan gerbang sekolah hanya untuk belok secepatnya ke Obito.

"Hah? Eh? AH!" Rin langsung ditendang Naruto dari belakang buat masuk ke mobil.

Melajulah mobil tersebut dan meninggalkan Naruto yang dada-dada di sebelah Sakura yang kebingungan.

Rin menoleh ke belakang, lewat jendela mobil terlihat Kakak-kakak kelas tersebut bertampang geregetan karena ketinggalan.

Obito mengatur napas sambil menyetir. "Lo gak apa kan Rin?"

Rin masih menepuk seragam putih bagian punggungnya yang ia yakin kena cap sepatu Naruto. "Lo ngapain sih? Naruto juga main nendang aja, kan sakit."

"Besok gue yang jitak dia." Jawab Obito menyandarkan punggungnya.

Melihat jidat Obito yang keringetan bikin Rin mikir kejar-kejaran tadi itu gak main-main.

"Lo punya masalah sama kakak kelas?" tanya Rin.

Obito diem menatap jalan ke depan, masih nyetir. Rin bersidekap tangan. "Jawab!"

Obito masih diem, dia bingung mau bilang apa, kayaknya.

Rin menghela napas. Dipikir-pikir dia juga gak punya hak nuntut Obito ngejawab. Masih untung dianterin pulang dengan mobil ber-AC ini, walau pinjeman.

Sekian menit dan terjebak di lampu merah, Obito bersuara.

"Tadi udah makan kan, Rin?"

Rin diem masih kesel gak dijawab. Tapi gak bisa keki juga liat tampang ngenes Obito.

"Rin?" Obito menatap Rin sekilas. Rin jadi anyut kan.

"Udah." Jawab Rin agak jutek dan langsung ngerasa berdosa udah jutekin Obito karena tuh cowok ber-Alhamdulillah.

"Sorry ya, tadi nunggu lama." Obito bersuara lagi yang bikin Rin bingung setengah mati harus gimana. "Next time, kalo gue telat muncul tolong sabar ya? Gue pasti nganterin lo pulang. Pasti."

Iiiiih! Apa maksudnya semua ini?! Batin Rin ikut ngedrama.

"Jadi jangan tinggalin gue."

"Apaan sih, To?" Rin memotong akhirnya. "Gue gak ngerti. Dan lo lebay banget." Aslinya ini cuma efek kesel Rin karena Obito lagi-lagi mau bikin GR.

Obito diem. Gak nyaut jenaka bin ngeselin kayak biasanya. Please, dia Obito; salah satu anggota redaksi mading sewaktu SMP yang gak mungkin kehabisan kata-kata.

Menghela napas, "sorry."

Selanjutnya Obito diem seribu bahasa sampai tujuan, pengkolan gang rumah Rin.

Sejujurnya, Rin sadar muka ling-lung Obito. Mungkin dia bener-bener mendem masalah serius.

"To," Rin manggil sebelum buka pintu mobil, Obito bergumam dengan nada nanya dan alis terangkat—tuh kan, matanya gak fokus.

"Masuk dulu yuk?" ajak Rin, nadanya biasa aja sih sebenernya tapi entah mengapa manis gitu di kuping Obito—abis, mana pernah Rin ajak masuk (disamper aja, ngusir).

"Minum dulu," tawar Rin lagi.

Obito mendesah dengan berat. "Sumpah, gue mau banget, Rin. Tapi gue ada urusan…sama mereka yang tadi."

Rin berkedip. Kayaknya masalahnya emang serius. Obito ditawarin masuk pasti langsung loncat jumpalitan, ini nolak—dengan tampang depresi pula.

Jadi intinya dengan jantan Obito anter Rin pulang dan balik ke mereka untuk nyelesaiin masalah.

"To," Rin pegang lengan Obito. "Jangan sok jagoan."

Obito bengong. Rin megang lengannya. Otaknya langsung sepi.

"Gue… mau hemat ongkos." Kata Rin buang muka. "Jadi, jangan mati."

Rin keluar, menancapkan kekuatan FULL TANK kepada Obito yang siap mati menghadapi para kakak kelas tadi.

Eh siap menang ding. Kalo mati mah gak bisa anter jemput Neng Rin atuh.

Esok pagi.

Rin udah siap depan gang sambil bawa dua bungkus nasi uduk. Entah kerasukan apa, pengen aja ngasih Obito sarapan.

"Ck," Rin udah gegana—gelisah galau merana—liat jam dapet dari ciki di pergelangan tangannya.

Waktu sudah menunjukan kalau Rin calon lari di lapangan karena telat.

"Rin!" akhirnya Obito datang dengan mobil oren ngejreng milik Naruto. "Sorry telat."

"Gak usah keluar! Gue bisa masuk sendiri." Rin langsung masuk, mencegah Obito keluar untuk membukakannya pintu kayak biasanya. Plis, itu lebay, banget.

Mobil pun berjalan. Rin ngelirik, tampang Obito masih mulus walau setengah dekil. Hm. Gak kenapa-kenapa nih anak. Batin Rin.

"Eh, gue beli nasi uduk dua nih." Kata Rin.

"Satunya buat siapa?" Tanya Obito.

"Elo lah. Siapa lagi?!"

"IYA?!" Obito kelewat semangat. "Kirain buat Sakura."

"Buat elo. Tapi kayaknya gak kemakan nih. Kita telat. Sambelnya sambel kacang, kalo ditunggu sampe siang nanti asem."

"Ya lo makan aja duluan sekarang, ada sendoknya kan?"

"Ada sih…"

"Ya udah."

Rin ragu bergerak, "Elo… gimana?"

"Gue, gampang." Obito mengerem perlahan karena macet, "Ah, jadi nyesel nuker vespa kalo kayak gini caranya." Ya kan Obito dan Naruto tukeran kendaraan demi Rin dan Sakura. Rin yang cepet sakit, Sakura yang malu kalo dianter jemput pake mobil (aneh emang).

"A." Suara Rin bikin Obito noleh. Dan terkesima. Rin nyuruh dia mangap karena sesendok cinta eh nasi uduk dari cewek itu telah menunggu. "Aa!" ulang Rin.

Obito mangap dan ngunyah dengan tampang bloon. Dia mikir keras apa mungkin masih beloman bangun dari tidurnya.

Sebungkus pun habis berdua di perjalanan.

Di bungkus kedua, Obito mulai menikmati genjutsu ini. "Kerupuk dong."

"Nih." Rin masih menyuapi.

BAYANGKAN. Tak hanya semobil dan sebungkus nasi uduk, tapi juga SESENDOK!

Rasanya, Obito mati sekarang gak apa. Indah bener.

"Lo kenapa sih?" tanya Rin liat muka absurd Obito. Matanya berkilauan gitu.

"Engga, kerupuknya lagi dong."

"Hn." Rin masih nyuapin dan gak sadar apa yang terjadi dengan cowok jabrik di sebelahnya.

Bungkus kedua pun habis tepat saat mobil masuk parkiran sekolah.

"Nih minum."

RIN MEMBERIKAN MINUM BEKAS DIRINYA UNTUK OBITO!

Obito diem sementara Rin beberes dan keluar mobil.

"To! Ayo! Udah telat!" bentakan Rin menyadarkan Obito ini bukan mimpi.

Lapangan sekolah.

Bener. Obito dan Rin telat.

"Telat 15 menit." Setelah melihat jam tangan, Pak Guy menuding lapangan. "Tujuh setengah puteran kalo gitu."

Emang cuma tujuh (-setengah). Tapi ini lapangannya lumayan.

Rin pucet.

"15 deh, Pak."

Rin noleh patah ke Obito. BEGOOOO! Matematika tuh dipake!

"Kok kamu malah nawar?" tanya Pak Guy.

"Asal Rin masuk duluan." Jawab Obito. Dan Rin terpaku di tempat.

"Mana bisa gitu."

"Apaan sih, To?! Gue sanggup kali…"

"Shuss!" Obito berdecak ke Rin kemudian. "Gini, Pak…" cowok jabrik itu ngerapet ke Pak Guy yang badannya tinggi. Berbisik entah apa.

Rin pendek dan gak bisa denger.

"Oke kamu masuk." Kata Pak Guy menyuruh Rin.

Obito pun langsung lari. "Tunggu Abang, ya, Neng Rin~!"

Istirahat.

"HUAHAHAHAHA…" Sakura ketawa nista bersanding dengan tampang bete Rin.

"Niat bales dia, bikin dia GR, tapi lo malah kalah… Hyahahaha." Ketawa Sakura gak lucu abis. Rin kesel.

Cewek bertato ungu di kedua pipinya itu ngegerutu. Malu sama diri sendiri.

"Gue udah rela ngegeser harga diri gue buat suapin dia." Dengan jantung yang deg-deg-an tentunya. Rin jomblo polos gitu. "Satu botol minum pula."

Dan Rin sempat berpikir ia menang lihat tampang Obito yang berkaca-kaca. Nyatanya, Rin salah.

Obito rela lari dua kali lipat ngegantiin Rin.

Rin ngerasa kalah. Hatinya tersentuh.

"TIDAKKKK…"

"Kan gue udah bilang, jangan macem-macem sama mereka. Nikmatin aja. Ngebales mereka dengan manfaatin aja. Tanpa ke-GR-an."

Rin tahu yang Sakura maksud "mereka" adalah Obito dan Naruto yang sejak SMP nge-bully tapi pas masuk SMA mendadak centil.

"Kalo caranya kayak gitu lo malah masuk ke kadang singa." Sakura memperingatkan. "Gue aja santai. Bodo amat itu Naruto mau bertingkah gimana. Semerdeka dialah, yang penting jangan kebawa. INGET RIN, MEREKA ITU GAK KETEBAK DAN PSYCHO!"

Sakura nonggeng demi ngingetin Rin yang terduduk di kursi kantin.

Seketika, kesilauan lewat.

"Woy." Suara berat Sasuke membuat Sakura membeku.

"Apaan?" Kini suara berat Kakashi membuat Rin terkesiap.

Sakura dan Rin langsung noleh, Sasuke lagi nyamperin Kakashi.

"Senggang? Gue ada perlu." Kata Sasuke yang owmaigawd ganteng banget di mata Sakura. Bajunya gak dimasukin, rambutnya cepak a la emo dan tampangnya…

"Ih, gantengnya…" bisik Sakura dan Rin barengan.

Tentu saja Rin lagi muja muka Kakashi yang gak keliatan gimana rupanya. Hal inilah yang bikin Sakura noleh ilfil ke Rin. Entah si Rin itu punya indra ke-17 atau apa yang bisa bikin dirinya sendiri yakin kalo Kakashi ganteng.

Sakura dan Rin langsung duduk manis berjejer memerhatikan dua cowok tampan pujaan mereka sedang berdiskusi.

"Ya ampun fan service banget, Ra!"

"Gue siap mimisan, Rin." Sakura ngomong dengan nada bengek melukin Rin.

"Gak nyangka pacar-pacar kita udah saling kenal!" kata Rin yang berfatamorgana.

"Akh… iya, gak perlu repot-repot ngenalin lagi." sahut Sakura yang kejebak fatamorgana yang sama.

"Kadar kegantengan mereka jadi ultimate gitu ya kalo disatuin~"

"Iya~"

"KYA~~~!" Rin dan Sakura lepas kendali dan sukses membuat obrolan Kakashi dan Sasuke terpotong.

"Bisa diem gak lo berdua?" hardik Sasuke dengan tampang setan. Setan ganteng kalo kata Sakura.

Ternyata posisi SakuraRin dengan SasukeKakashi cuma satu meter.

Sakura pundung dibentak. Rin gak jadi ngerutin alis kesel karena Kakashi langsung melihat ke arahnya lalu menarik Sasuke.

"Udah, Sas."

"Ck."

Pipi Sakura udah menjadi aliran kali ciliwung. "Gue dibentak. Hiks."

Sementara Rin ngerasa diselametin karena Kakashi langsung bawa Sasuke pergi. "Sabar, Ra."

Dan kedua cewek itu gak sadar adanya dua cowok jabrik berbeda warna rambut berada jauh di belakang mereka.

"Teme bangs—" bahu Naruto ditahan oleh Obito.

"Sabar, Nar."

"Sodara lo tuh kenapa sih?" Naruto malah jadi ngomelin Obito. "Sakura-chan salah apaan? Gak bisa apa dia bersikap sopan dikit aja?"

Obito yang gak ngerasa salah tapi dimarahin pun nyaut, "Cewek lo yang masokis kalo kata gue, Nar. Digalakin aja masih demen, gimana kalo sodara gue itu baik? Udeh lu kalah telak dan calon bunuh diri doang."

Dalemmm.

Tapi omongan Obito ada benernya. Naruto nangis jantan.

"Ya udeh. Sabar, Nar." Obito menggiring Naruto pergi dengan rasa sakit di dalam hati.

Rin segitu cintanya sama Kakashi sampe Obito nyaris mikir buat bunuh diri…Kakashi.

Ya, diri Kakashi lah. Obito maunya idup sama Neng Rin.

Sakura dan Rin masih di tempat ngalemin diri dengan minum jus sirsak.

"Lo kuat banget, Ra." Rin mengelus pundak Sakura. "Suka sama cowok kayak gitu."

"Lo juga hebat, Rin." Sakura pegang tangan Rin yang di pundaknya. "Demen sama kucing dalam karung. Gak liat mukanya udah cinta."

Rin ngerutin alis. "Lo ngehina apa gimana sih?"

Batal udah rasa kasihan Rin.

Sakura emang gak perlu dikasihanin. Dia kuat mental karena kecacatannya. Batin Rin.

"Hai cewek…" tetibaan ada tiga cowok yang duduk di meja bundar Sakura dan Rin.

"Sorry kita berdua udah taken. Ehh? Elo yang kemaren?" Sakura berisik sendiri.

Ya. Itu tiga kakak kelas yang kemarin ngejar Obito.

Si kembar non identik: Kak Uchiha Shisui & Kak Uchiha Kagami.

Ketiganya adalah Uchiha Izuna yang membuat gerakan nekat dengan merapat ke Sakura.

"Kamu emang manis," kata Izuna dengan badan gedenya yang menjulang ngalingin sinar matahari. "Aku tertarik sama kamu, tapi kita punya urusan sama temenmu."

"EH?" Rin kebingungan ketika dua tangan kurus kecilnya dipegangin si kembar Shisui dan Kagami.

Sakura yang terkesima liat muka Kak Izuna betapa mirip Sasuke (walau gantengan Sasuke) jadi panik Rin dibawa.

"RIIIIIIN!"

Sakura dan Rin mengulurkan tangan, ngedrama.

"Sakura… tolong aku~"

Rin pun menghilang dibawa tiga kakak kelas ganteng yang bertampang jahat di mata Sakura(—dilatarbelakangi tawa jahat mereka dalam khayalan).

Kelas ObiRinKaka.

BRAAKKKK! Sakura bukan pintu dengan lebaynya.

"OBITOOoo.." Suara si jidat lebar pun menciut melihat hanya ada Kakashi dan Sasuke sedang mengobrol di meja belakang.

Tidak ada Obito.

Eh. Tapi setidaknya ada Uchiha Sasuke.

"Sas!" Sakura lari ke meja Kakashi yang nyaris paling belakang itu.

"Tolong, Sas. Temen gue, Rin, dibawa sama sodara lo."

Sasuke ngerutin alis. "Peduli apa gue kalo Obito ngebawa ceweknya sendiri."

"Bukaaaan!" Sakura yang jadi khawatir sendiri sambil lirik Kakashi. Gawat kan kalo Kakashi ngira Rin pacaran sama Obito beneran.

"Tapi kakak kelas. Tiga sodara lo itu. Yang kembar, sama yang… mirip elo." Muka Sakura merah di akhir. "…Dan Rin gak jadian sama Obito loh, Kakashi! Rin masih jomblo!"

Kakashi gak nyaut.

Sasuke diem sejenak liat Sakura datar. "Gue gak ada urusan sama tiga orang bego itu—" buseeet sodara yang lebih tua disebut begituuu, "—pergi lu sono. Ganggu aja."

"Sas, emang sodara lo ngapain?" Kakashi bersuara, muka ketutupan masker, tapi alisnya ngerut. Cihuy. Kabar bagus buat Rin nih, batin Sakura.

"Nah! Iya, Kakashi aja deh yang nolong Rin. Pleeeeease?" pinta Sakura.

"Ck," Sasuke berdecak, "Kita punya urusan lebih penting. Bisa gak lo pergi sekarang?"

Sakura menekuk wajahnya dalem-dalem. Fine. Sakura pergi. Sasuke jahanam! Untung gue cinta sama lo, kalo gak, abis tuh idung. Sakura berusaha napas normal.

Setelah kepergian Sakura, Sasuke pun menghadap Kakashi.

"Tuh cewek (Rin) gak bakal kenapa-kenapa. Gue kenal mereka (Uchihas)."

Kelas NaruSakuSasu.

Obito lagi nenangin Naruto yang galau lewat lagu bergenre melayu.

"Nenek bilang, kuat-kuat~~"

BRAKKK~!

"OBITOOOO!"

Naruto dan Obito terkaget-kaget di tempat.

"Rin, Rin, Rin, Obito! Rinnnn…!" Sakura duduk di tempatnya, di sebelah Naruto, karena Obito duduk di meja Naruto (bukan kursi).

"Kenapa? Kenapa?" tanya Obito benahin posisinya lebih siap.

"Sakura-chan napas dulu…" Naruto nepok-nepok pelan punggung Sakura. "Mau gue kasih napas buatan, Sakura-chan?"

"Diem lo!" Sakura ngebentak. "Rin, To! Rinnn…"

"Iyaaa kenapa?" Obito agaknya gemes-gemes mau nonjok Naruto walau Sakura yang salah. Ya kan pasti Naruto selalu bela Sakura ya jadi langsung aja—gitu Obito mikirnya.

"Rin dibawa sama sodara-sodara lo! Kakak kelas kita ituuu… Kak Shisui, Kak Kagami sama Kak Izuna."

Lapangan sekolah.

BRUAAKKK.

Seorang siswa lompat dari jendela lantai dua. Dialah si jabrik uchiha Obito.

"RIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNN!"

Sementara Naruto dan Sakura cengo di jendela dengan posisi tangan yang tadinya nahan kebrutalan Obito.

"Gile tuh orang kalo patah kakinya gimana?" kata Sakura melihat Obito lari kesetanan tanpa keliatan kesakitan.

"Ya wajarlah." Naruto berdehem. "Kalo Sakura-chan yang diculik aku juga pasti ngamuk jadi monster rubah."

"Korban sinetron lu ye?"

Di lapangan indoor, lapangan basket.

Rin dikelilingin 3 kakak kelas Uchiha. Kalau biasanya seorang Uchiha Obito selalu ngider di sekitarnya sedangkan Uchiha Sasuke selalu bikin badmood karena nyakitin sahabatnya, Sakura, kini 3 kakak kelas Uchiha bikin Rin deg-degan.

Rin akui, pesona Uchiha itu nyata.

"TAPI SENPAI PLEASE HATI AKU UDAH PUNYA SESEORANG, TOLONG JANGAN GANGGU AKU." Well yeah, Rin PD setengah mampus udah ngucapin itu.

Shisui, Kagami dan Izuna ngakak-ngakak (jahat di khayalan Rin).

"Coba kita liat apa cowok kamu itu bakal dateng nyelametin kamu?" tantang Kagami, Shisui di sebelahnya manggut bersidekap tangan.

Rin mewek. "Fine!" dia pun ambil HP di kantong seragamnya dan…

Di kelas ObiRinKaka.

Sasuke terlihat berbicara serius dengan Kakashi.

Kakashi terlihat terganggu dengan getaran di saku celananya. Sambil tetep dengerin Sasuke, Kakashi membuka SMS.

'Kakashi-kun, selamatkan aku…'

"Lo kenapa?" Sasuke micingin matanya curiga.

"Gue… ke toilet dulu, Sas." Kakashi jawab datar.

Sasuke napas kasar, masukin tangan ke saku dan bersiap minggat. "Lanjut besok, gue tau ini (alibi toilet Kakashi) bakal lama."

"Hn."

'Aku di lapangan indoor. 3 kakak kelas ini gak biarin aku pergi…'

Kakashi keluar kelas, setengah mikir sejak kapan Rin jadi aku kamuan ke doi?

Yaudah. Otw dulu.

Di lapangan indoor.

Rin udah nangis imut dikelilingin tiga penjahat ganteng.

Mana jam istirahat malah sepi lagi. Oh ya, Rin lupa. Cuma Uchiha brothers lah tim basket yang sering pake lapangan ini.

Rin mati aja udah.

"Aku salah apa sama Senpai? Salah apa?"

Rin mendramatisir. Padahal ya, dia tuh sama sekali gak diiket. Cuma duduk bareng di kursi penonton yang kosong sama 3 kakak kelas Uchiha.

Bisa aja Rin loncat dan memanfaatkan badan langsingnya untuk melarikan diri.

Rin cuma berharap diselametin kayak di dongeng-dongeng. Kalo perempuan dijadiin saudara, kalo laki-laki dijadiin suami.

Makanya sengaja Rin SMS Kakashi.

Hihihi.

.

.

a/n : btw Kagami dan Shisui yang bapak anak sengaja dijadiin kembar, sengaja disamain umurnya sama Izuna juga. pokoknya umur di sini aku acak2. yang kece2 dikumpulin lah...haghaghag, sebagian diriku iri sama Rin di chapter ini XD