Wah, support untukku semakin banyak nih, meskipun reviews masih sama dikitnya xD

Aku terharu.. *srooot*

Yaudah, gausah banyak cingcong, kita langsung liat balasan reviews yaah~

Let's check it out!

-RisufuyaYUI: Sippplaahh.. akan kulanjutkan secepat mungkin! xD Arigatou!

.16718979: Wah! Wah! Wah! Doumo arigatou gozaimasu, Indri-san! xD

Okee.. reviews untuk saat ini hanya dua -_- gapapaa~ yang penting tetep minum mirai ocha supaya Ganbatte! Yaudah, kita langsung ke cerita aja yaah! Let's read the ninth chapter of 'The Reason I Love You', a naruto fan fiction by: Anonymous Hyuuga. Happy reading! :D


Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s), OOC, Like a rubish, Bad plots.

Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)

Happy Reading :)

.

.

.

.

The Wall Between Us


"Sasuke? Sasuke Uchiha?" tanya Naruto memastikan sambil mengerutkan keningnya.

"Hn," jawab Sasuke sekenanya. "Ah, ternyata kau sudah berhasil merebut gadis itu."

"Sasuke-kun, aku tidak―" ucapku gugup. Aku menghampiri pemuda beriris sehitam batu onyx itu dan berusaha memegang tangannya namun segera ditepis olehnya.

"Aku tahu kau lebih memilihnya, Hinata-chan," kata Sasuke lirih. Ekspresinya berubah dari kebencian menjadi kesedihan. Tersirat luka yang mendalam di dalam matanya. Aku menggigit bibirku untuk menetralisir perasaanku yang tidak menentu. Pandanganku mulai dikaburkan oleh airmata.

"Ti-tidak," sahutku. Air mata sudah tidak dapat dibendung lagi oleh pelupuk mataku. Beberapa bulir kristal bening itu keluar dari mata amethyst-ku. Rasa bersalah menyergap hatiku. Perasaan bersalah terhadap Naruto. Dan terlebih perasaan bersalah terhadap Sasuke. Aku.. aku sudah melukainya.

"Jangan bohongi perasaanmu sendiri, Hime," bisik Sasuke lirih. Ia memandangku dengan ekspresi yang masih tetap sama. Tersirat senyum penuh kesedihan di bibirnya. Hatiku rasanya sakit sekali melihat itu. Tanganku terangkat untuk menyentuh dadaku. Aku mulai terisak pelan dengan kepala tertunduk. Tak lama kemudian, kepalaku diangkat dengan mudah oleh Sasuke hanya dengan satu jari. Ia melepaskan benda perak dari jari manisnya dan menyerahkannya kepadaku. "Berikan ini pada orang yang kau anggap tepat, Hime," ucap Sasuke sembari meletakkan cincin itu ke dalam genggamanku. Sesudahnya, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dariku.

Aku terguncang. Tubuhku mulai gemetaran. Kakiku sudah tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhku, dan aku mulai terjatuh di tanah. Tanganku mengepal erat. Kurasakan sakit di telapak tanganku yang masih menggenggam cincin Sasuke. Namun aku tidak menghiraukannya. Aku terus menangis dan mengepalkan tangan dengan erat.

"Hinata-chan," panggil Naruto sambil menepuk pundakku dari belakang. "Berhentilah menangis."

Aku kembali tidak menghiraukan hal-hal yang tidak kuanggap penting. Tangisku kian meledak, membuat Naruto semakin erat menyentuh pundakku. Tak lama sesudahnya, tubuhku berakhir di dalam pelukan laki-laki beriris blue sapphire yang pernah mengisi hari-hariku dulu, sebelum kedatangan Sasuke. Aku terlarut dalam pelukannya. Pelukan yang penuh kasih sayang yang semakin membuatku merasa bersalah.

'Maafkan aku, Naruto. Aku membuatmu terluka. Aku tidak bisa membalas cintamu,' batinku.

Aku sudah melukai hati Naruto. Sudah kepalang basah, aku harus membuatnya lebih membenciku. Harus.

"Lepaskan aku!" bentakku sembari menyentakkan tangan Naruto agar melepaskan pelukannya. Aku berdiri dan berbalik badan untuk menatapnya. Pandanganku menusuk mata birunya. "Kau tidak pantas untukku! Hanya Sasuke yang pantas untukku! Dan kau membuat aku kehilangan dirinya! Kau memuakkan, Naruto. Kau memuakkan!"

Aku berlari menjauhi Naruto, diikuti rasa jijik terhadap diriku sendiri.


Angin malam mendesir membelai rambutku, membuat rambut indigo panjangku beterbangan. Aku memeluk tubuhku untuk menghilangkan rasa dingin yang menggigit. Tak kuhiraukan lagi pandangan-pandangan aneh dari orang-orang yang melihat sepasang alas kakiku yang berbeda jenis. Air mataku kembali mengalir kala kaki ini mengantarkan tubuhku menuju rumah. Aku terisak pelan saat menangkap kilauan di telapak tanganku. Kilauan dari cincin Sasuke.

Tak lama kemudian, aku sampai di depan rumahku. Sudah tak ada niat untuk berlindung di rumah itu. Aku tidak juga melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah. Beridiri dalam diamlah yang aku lakukan saat ini. Pandanganku tertuju pada tanah di bawah kakiku. Pandanganku mulai kabur oleh air mata, diikuti rasa sakit di kepalaku yang mulai berdenyut-denyut. Tanganku terangkat untuk menyentuh kepalaku. Semuanya berputar. Dunia ini berputar dalam pandanganku. Aku jatuh terduduk. Setelahnya, aku mendengar seseorang berseru memanggil namaku. Sekilas aku melihat rambutnya yang berwarna hitam kebiruan.

"Sa-Sasuke-kun.." panggilku dengan suara bergetar bahagia. Berikutnya, pandanganku memutih dan aku tak sadarkan diri.


Aku membuka mataku dan merasakan kepalaku sakit berdenyut-denyut. Tak hanya di kepala, aku juga merasakan telapak tanganku berdenyut sakit. Aku mengangkat tanganku dan melihat benda yang sudah menyakiti tanganku. Dadaku seketika terasa sesak saat melihat benda berkilauan itu. Aku kembali menggenggamnya dan menariknya dalam dekapanku. Air mata kembali mengalir dari mataku, membuat pipiku basah.

"Sasuke.." bisikku lirih, diiringi beberapa tetesan kristal bening.

"Hinata-chan, rupanya kau sudah sadar," kata seseorang dari arah pintu kamarku. Aku menatapnya sekilas dari balik kelambu, dan mendapati surai berwarna raven yang kupikir adalah...

"Sasuke-kun!" panggilku dengan ceria sembari menyibakkan kelambu itu ke arah samping. Namun yang kudapati bukanlah sosok tegap Sasuke, melainkan Itachi yang tengah menatapku cemas. Aku melepaskan pegangan tanganku pada kelambu itu dan kembali membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.

Tak lama sesudahnya, kelambu itu pun tersibak dan kudapati sosok Itachi tengah tersenyum lembut padaku. Ia mendekatiku dan duduk di pinggiran tempat tidurku. Tangan kanannya terangkat untuk membelai rambutku, berusaha menenangkan aku yang sedang sangat rapuh ini. Aku merasa nyaman berada di dekatnya, sehingga aku segera duduk dan kudekatkan diriku padanya. Kusandarkan kepalaku di dada bidangnya yang hangat, dan dapat kurasakan tangan besar Itachi merengkuh tubuhku dalam pelukan.

"Hinata-chan, apa yang terjadi?" tanya Itachi dengan penuh kelembutan.

Tanpa sadar, segala cerita lengkap dengan dialognya kata-perkata kuceritakan pada Itachi. Aku dapat merasakan Itachi tengah membelalak kaget dan tak percaya dengan cerita yang sedang kulontarkan padanya. Aku pun mulai terisak saat tiba di bagian Sasuke yang meninggalkan aku beserta cincinnya itu, dan saat aku mengatakan kata-kata kasar untuk membuat Naruto benci padaku. Mendengar aku menangis, Itachi kembali membelai rambutku. Merapikan helaian demi helaian rambutku yang kusut dan menyelipkannya di belakang telingaku.

"Hinata-chan, gomen na sai, aku tidak dapat membantumu menyelesaikan masalah ini. Ini masalahmu, Hime. Kau harus bisa menyelesaikannya seorang diri. Tetapi tenang, aku akan tetap di sampingmu untuk menjagamu," ujar Itachi panjang lebar padaku. Aku menjauhkan diriku dari pelukannya dan menatap matanya dengan sendu. Hatiku dipenuhi perasaan hangat ketika Itachi tersenyum dan memandangku dengan penuh kelembutan.

"Do-doumo, I-Itachi-nii," ucapku sembari sesenggukkan.

"Doita, Hinata-chan," sahut Itachi penuh pengertian, "Aku menyayangimu," lanjut Itachi sembari mengecup keningku dengan penuh rasa sayang. Setelahnya ia pergi meninggalkan aku sendirian di dalam kamar.


Pagi ini aku kembali membuka mataku dan kenangan kemarin sore pun merayap ke dalam memoriku membuat kepalaku berdenyut-denyut. Aku pun bangun dan duduk di atas tempat tidurku. Saat aku menatap tangan kananku, ternyata cincin Sasuke masih ada di dalam genggamanku. Hatiku kembali terasa nyeri saat melihat benda berkilauan itu. Napasku terasa sesak dan air mata mulai memenuhi pelupuk mataku.

Tidak Hinata. Kau harus kuat.

Paling tidak untuk hari ini.

Aku pun memutuskan untuk segera membersihkan diri. Tak lupa, kuletakkan cincin Sasuke di sebuah kotak perhiasan. Aku bertekad dalam hatiku bahwa akan kuberikan cincin itu hanya kepada satu orang yang kucintai tanpa syarat. Hanya satu. Seusai menyimpan cincin itu, aku beranjak menuju kamar mandi pribadiku yang kebetulan ada di dalam kamar. Kubuka seluruh pakaianku dan segera berdiri di bawah pancuran air. Saat kunyalakan, aku merasakan kesejukan yang ditimbulkan air dari pancuran yang berjatuhan membasahi tubuhku.

Usai membersihkan diri, aku segera mengeringkan tubuhku dengan handuk dan mengenakan seragam sekolahku. Setelah itu, aku bergegas menuruni undakan tangga untuk menuju ruang makan. Di ruang makan, Tou-san sudah menunggu dengan selembar roti tawar di tangan kirinya. Aku bergegas menghampirinya.

"Ohayou gozaimasu, Tou-san!" sapaku dengan senyum penuh paksaan.

"Ohayou, Hinata-chan. Bagaimana kemarin?" tanya Tou-san dengan raut wajah curiga. Aku mendesah karena segera tahu Itachi sudah menceritakan semuanya pada Tou-san.

"Seperti yang diceritakan, Itachi-nii," sahutku malas. Dengan cekatan aku mengambil roti dan mengoleskannya dengan selai blueberry. Tanpa banyak bicara lagi, kumasukkan roti itu ke dalam mulutku dan kukunyah hingga lembut dan kutelan.

"Di mana cincin itu, Hinata-chan?"

Pertanyaan sederhana dari Tou-san membuatku tersedak. Aku segera mengambil segelas air dan meneguknya sebanyak-banyaknya.

"Mengapa Tou-san ingin tahu?" tanyaku heran setelah batukku mereda.

"Bukankah Sasuke berkata kau harus memberikannya pada orang yang tepat?" tanya Tou-san dengan kening berkerut.

"Hn?"

"Jangan gunakan kata itu di depanku, Hinata-chan," ujar Tou-san dengan tegas.

"Ya. Lantas?" aku mengoreksi perkataanku dengan tidak sabar.

"Kurasa orang yang tepat untukmu bukanlah Naruto ataupun Sasuke," kata Tou-san dengan nada sarkastis, "Orang yang tepat untukmu adalah Itachi. Jadi, berikan cincin itu padanya."

Aku membelalak kaget saat mendengar penuturan Tou-san. Bagaimana mungkin Tou-san masih bersikeras untuk menjodohkanku dengan Itachi? Perasaan kesal pun merayapi diriku. Aku menolak dengan tegas, "Dengar, Tou-san. Aku hanya mencintai Sasuke-kun!" detik berikutnya aku segera meninggalkan ruang makan dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan.


Aku menghenyakkan tubuh di atas tempat dudukku di kelas. Sesaat ada yang aneh dengan kelas ini. Namun setelah memperhatikannya sejenak, aku menyadari keanehan itu.

Tak ada pemuda cerewet yang menyapaku pagi ini.

"Ke mana Sasuke-kun?" gumamku lirih pada diri sendiri.

Aku menyandarkan punggungku pada sandaran bangku, dan memijit pelipisku yang mulai berdenyut sakit. Kupejamkan mataku untuk berusaha melupakan sejenak rasa sakit yang tengah kualami kini. Rasanya menelan ludah pun sakit. Aku sudah tidak sanggup lagi, Kami-sama. Aku butuh Sasuke saat ini juga. Aku butuh Sasuke.

"Ohayou, Hinata-chan," sapaan dari suara maskulin itu pun mengembalikanku ke alam sadar. Aku membuka mataku dan melihat Sang Pemuda Raven tengah berdiri di sebelahku dengan tas sekolah yang tersampir di pundaknya. Seketika itu juga semangat dalam diriku naik seratus persen. Aku tersenyum lebar tanpa paksaan.

"O-ohayou, Sasuke-kun!" sahutku dengan senyum mengembang.

Aku sangat mengharapkan cengiran lebar yang biasa ia berikan padaku. Aku sangat mengharapkannya.

Namun harapanku tidak terkabul. Ia hanya menjawab 'hn' dan pergi ke luar kelas tanpa memedulikanku lagi.

Tanpa memedulikanku lagi.

Rasa sakit itu kembali kurasakan di dadaku. Aku kembali terhenyak. Merasakan berbagai emosi berkecamuk dalam dadaku. Sakit. Sakit sekali. Sesak. Sesak sekali.


Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Aku membereskan perlengkapanku, dan mulai pergi ke luar kelas tanpa memedulikan Sasuke. Percuma juga aku memedulikannya, karena seharian ini ia berlagak cuek di depanku. Tidak mengacuhkanku dan lebih sering bersama dengan kelompok perempuan sialan bernama Sakura itu.

Aku berjalan dengan langkah goyah karena rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhku. Pandanganku sedikit kabur, membuat aku tak dapat melihat dengan jelas apa yang ada di hadapanku kini, sehingga aku menubruk seseorang yang tengah berdiri di depanku. Kakiku tak sanggup menahan berat tubuhku. Aku terjatuh, begitu juga dengan barang-barang yang tengah kubawa pun berserakkan di lantai koridor.

"Cih, perempuan bodoh!" seru orang yang baru saja kutabrak. Aku mendongak dan samar-samar warna soft pink tertangkap indera penglihatanku. Sakura lagi.

Saat aku tengah merapikan barang-barangku yang berserakkan, aku dapat merasakan Sakura menendang-nendang diriku dan juga barang-barangku. Tawanya berderai di sela-sela kesibukkannya. Aku tak dapat melawan karena tak punya pertahanan lagi. Kepada siapa aku bisa berlindung sekarang? Semuanya sudah beralih dariku.

Aku benar-benar sendiri kini.

"Menangislah, Hyuuga! Lihatlah, Sasuke sudah berpaling padaku!" ujar Sakura dengan nada tinggi. Air mataku hampir saja mengalir ketika mendengar tawa jahatnya dan menyadari perkataan Sakura benar adanya.

"Aku tak pernah bilang begitu,"

Aku mengangkat kepalaku dan menoleh ke samping. Mataku membeliak ketika melihat pria bernama Sasuke itu tengah membantuku merapikan barang-barangku yang berserakkan. Air mataku kembali membuncah keluar, diiringi isakkan pelan yang sedari tadi kutahan. Hatiku rasanya lega sekali mendapati Sasuke masih mau membelaku dan kini berjongkok di sebelahku untuk membantuku. Tanganku lemas. Aku mengangkatnya untuk menutupi wajahku dan tidak mengabaikan barang-barangku lagi.

"Sa-Sasuke-kun?" bisik Sakura dengan nada tak percaya. Aku tahu kini ia sangat malu. Sesungguhnya tawa jahat tengah bergaung-gaung di hatiku.

"Pergilah, Sakura-san. Jangan ganggu mantan tunanganku," ucap Sasuke datar. Perkataan itu membuat tangisku semakin deras. Isakkanku semakin kencang dan guncangan pada bahuku semakin kentara. Hatiku sakit sekali mendengar perkataannya. Apa maksudmu mantan tunangan, Sasuke? Apa maksudmu?

Tiba-tiba, sebuah tangan yang cukup besar menggenggam tanganku yang tengah menutupi sebagian wajahku. Ia menariknya perlahan, dan aku segera membuka mataku yang masih dipenuhi air mata. Tanpa ragu, Sasuke menghapus jejak-jejak air mata di pipiku, membuat hatiku menghangat. Namun kini ada sesuatu yang berbeda. Aku sudah bukan lagi tunangannya. Sekalipun cincin itu masih melingkar di jari manis kiriku. Aku tak dapat memungkiri kenyataan itu.

Tanganku mendorong tubuh Sasuke pelan, menyatakan penolakkan. Sebaiknya ia pergi sekarang agar aku dapat dengan mudah melupakannya. Namun Sasuke seakan tidak mau tahu akan tanggapanku. Ia menangkup kedua pipiku dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Detik berikutnya, bibir kami bersentuhan.

Hatiku mendesir ketika menyadari kami sedang berciuman. Aku menganggap ini adalah ciuman pertamaku. Ciuman dengan orang yang sangat kucintai. Aku memejamkan mataku saat merasakan bibir Sasuke yang dingin masih menempel di bibirku. Tanpa penolakkan sedikitpun, kugenggam kedua tangan Sasuke yang masih menyentuh pipiku. Tiba saatnya Sasuke melepaskan ciumannya, aku merasakan sesuatu yang hilang dari dalam diriku. Aku menatapnya dengan pilu. Nyeri kembali kurasakan menjalari hati ini.

"Sasuke-kun..." bisikku dengan sangat pelan.

Aku dapat dengan mudah melihat ekspresinya yang masih seperti kemarin. Terluka. Ia tersenyum sendu dan mengangkat tangannya untuk menyentuh kepalaku.

"Hinata-chan, ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu," ujar Sasuke lirih. Tertangkap nada sedih dalam ucapannya.

Aku hanya membalasnya dengan pandangan penuh tanya.

Sasuke menghela napas dan berkata, "Besok aku akan kembali ke Suna."

To be continued.


Gimana, gimana, gimanaa?! Seru gaa? wkwkwkwkk

Hum, aku bingung mau ngomong apaa.. Langsung aja deh aku minta reviews nyaa~

Because, without your reviews, my stories are nothing! :)

Never Stop Trying To be Better, and Better. :)

-Anonymous Hyuuga-