Naruto by Masashi Kishimoto

Warning:
AU. Teenlit. Nonbaku. Rin-centric & Sakura-centric. RinSaku friendship.

0,0009017231728917% humor

SPECIAL:
ObiRinKaka & NaruSakuSasu
(Team Seven Ultimate~!)


.

.

Obito lari tunggang langgang di tengah lapangan outdoor. Tim sepak bola yang sedang bertanding sengit tak dihiraukannya. Wasit ditabrak, bola yang nyaris masuk gawang ditending bahkan keeper ditoyor, tiang lapangan pun tak menghalanginya justru jadi pijakan buat dia loncat cepat menuju pintu lapangan indoor tempat Rin bera…

"OBITOOO!"

…da.

"Wow, wow, aduh sakit Pak!" Obito mengerang, telinganya nyaris putus di tangan Pak Gai.

"Kamu janji bantuin saya ngusungin matras baru buat ruang olah raga. Ayo! Ijin ke piket, kita mau angkat-angkat sekarang."

"Ampun, Pak. Jangan sekarang!" Ringis Obito.

"Mobilnya udah nungguin kita. Kamu dari tadi saya cariin susah bener."

"T-tapi, Pak…"

"Kamu jangan banyak alesan, tadi saya udah bebasin cewek kamu dari hukuman. Ayo bayar janjinya sekarang."

Obito mau nangis rasanya. "Pak, tolong! Nyawa saya terancam!"

Pak Gai terhenti dramatis menoleh ke Obito. "Ada apa, muridku?" Rasa superior dan heroiknya meroket jika menyangkut anak didik.

"Jadi itu alasan kamu lari-lari tadi?"

"Kuping saya nyaris putus!"

Dan… "Ups," Pak Gai melepas jewerannya yang telah menggeret Obito bak sapi sedari tadi.

.

.

Rin resah, risau, galau, gundah, gulana. Uchiha brothers udah ngecengin dia abis-abisan perkara pangeran kodok mana yang mau menyelamatkannya—kok gak dateng-dateng juga?

"Ngaku deh kamu, jomblo kan?" Kagami nuding dengan muka minta ditampol—mata nyipit, senyum super lebar.

"Tauk nih, bosen ah pacarnya gak dateng-dateng." Sambung Shishui melihat jam di tangannya.

Sementara Izuna langsung berpindah ke kursi di depan Rin dengan cara meloncat.

"Tapi temen kamu yang rambut pink jomblo juga gak sih?"

Shisui menggeplak Izuna. "Punya orang itu!"

"Siapa? Si Pirang Naruto?" timpal Kagami.

"Hah?!" Rin panik, mengkhawatirkan sahabatnya, Haruno Sakura. "Dia jomblo! Jomblo kok, senpai!"

Izuna bernapas lega dengan tampang sengaja kalem.

"Jangan lupa bilangin Sasuke, ya!"

And those Uchiha brothers have no idea what she mean by that.

"RIIIINNN. RIIIIN. RIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!" kegaduhan terjadi saat Obito mendobrak pintu lapangan indoor (yang gak dikunci sama sekali) dengan dramatis.

Uchiha brothers bersorak sorai.

"Akhirnya yang ditunggu dateng juga!" siulan, tepuk tangan, sorak sorai. Asli, kedatangan Obito disambut seperti datangnya gol dalam sebuah pertandingan.

Obito berjalan cepat melewati lapangan indoor tersebut menuju kursi penonton, tempat Rind an saudara-saudara Obito (uchiha) berada.

"Wih, liat, dia marah banget tuh." Celetuk Izuna sementara Rin garuk-garuk kepala dan ngecek hape, bener gak sih tadi sms ke Kakashi, kok yang muncul malah makhluk mitologi?

"Uh, berasep-asep tuh pala. Lu nyeplok telor di situ, mateng udah." Shishui geleng-geleng kepala. Obito sampai di mereka dan nunjuk satu-persatu dengan muka marah melotot dari jauh tadi.

"Rin, ayok pergi dulu." Rin ditarik oleh Obito yang membelah Shishui, Kagami dan Izuna yang tadinya mengitari Rin.

Uchiha brothers cie cie gak danta tapi tangan mereka bertiga nahan Rin.

"Eit. Lo pikir lo bisa bawa tawanan kita begitu aja?" Izuna bersuara sementara Kagami tersenyum miring menunjukkan ponselnya. "Gue udah catet alamat rumah cewek ini, nomor hape, pesbuk, pin, twitter, path, terus… eh ya, kamu punya instagram?"

"Punya, kan tadi aku udah bilang usernamenya sama semua kalo aku…"

"RIN~!" Obito berjengit, kecewa. "Susah payah gue lindungin…"

"Udah berakhir, To. Nyerah aja." Kagami bersidekap tangan dan biarin Izuna dan Shishui yang nahan Rin. "Gue udah pegang semuanya. Melalui koneksi yang gue punya, cewek lo dalam bahaya."

Pret. Padahal data diri Rin dari tadi juga nanya-nanya pas nunggu siapa gerangan yang bakal dateng nyelametin Rin—tentunya dengan iming-iming mau difollow dan dipromosiin soalnya follower Kagami di jejaring sosia amatlah banyak. Uchiha gitu.

Rin sih ngasih aja, biar nambah follower.

Obito mengurut pangkal hidungnya, Uchiha memang berbahaya.

"Jadilah jantan, To. Hadapi kita." Ucap Izuna dan melirik Rin. " Lo bisa lari, tapi cewek lu ini enggak."

Rin menatap Obito yang sedang menatapnya dengan sangat cemas. Dengan tampang berat hati Obito pun menjawab. "Oke, fine. Kalian menang."

Uchiha brothers itu pun bersorak sorai bagai gol dan pluit kemenangan baru saja dibunyikan.

"Tapi kalian HARUS BERSUMPAH untuk gak bawa-bawa Rin lagi."

Entah apa yang terjadi tapi Rin merasa Uchiha brothers memperlakukannya seperti ratu sejak saat itu.

.

.

Bel masuk berbunyi saat Rin baru saja duduk dibangkunya, Obito ditahan oleh para kakak kelas Uchiha dan Rin kini termenung di tempat bangkunya meresapi apa yang terjadi…

"Kakashi gak dateng…" lirih Rin ngeberingsutin pala pada lipatan tangan di atas meja.

"Kas, ngapain lu tadi di lapangan indoor?" Tanya seorang murid yang ternyata adalah teman sebangku Kakashi, sebut saja Tekushi (TEman sebangKU kakaSHI).

Rin langsung bangun, tanpa melepas lipatan tangan di atas mejanya. Kakashi terlihat menggeleng singkat menuju bangkunya, di depan bangku Rin.

"Elo juga Rin," tunjuk Tekushi semangat, "Ngapain sama Uchiha brothers, ada Obito segala. Kakashi ampe bengong di pintu belakang dan gak jadi masuk tau gak."

Rin diem aja dan sibuk liatin punggung jangkung Kakashi di depannya.

JADI KAKASHI TERNYATA DATANG? Bengong di pintu belakang? Pintu yang gak dilewatin Obito? Ada kemungkinan Kakashi datang lebih dulu dong?

"Emang bener, lu di sana tadi? Kakashi?" Tanya Rin. Kakashi menoleh ke samping tanpa menatap Rin, ia mengangguk. Rin mau terbang rasanya. Kakashi gak boong kan ya?

.

.

"Lho, To? Pake mobil Naruto lagi?" Rin bingung, Obito bersidekap tangan senderan di bumper mobil oren ngejrengnya yang setahunya kepunyaan Naruto.

"Yoi!" Obito mengangkat alisnya sok asik, langsung ngegeret Rin masuk ke dalam mobil. "Yuk, ah, Neng Rin!"

Rin curiga, jahilnya Obito kan melekat jelas bak nempel di jidat. "Yakin nih? Udah ijin belom sih sama yang punya?"

"Udehhh." Obito mencolek centil gantungan dari kunci yang sudah tertancap di dalam mobil.

Mata Rin menyipit, "Nggak nyopet kan?"

"Astaghfirullah!" Obito istighfar dengan gelengan bijaknya. "Ya enggaklah."

"Terus?" Rin masih penasaran. Aneh aja gitu. Emang vespa Obito kemana? Pikir Rin.

"Kepo deh ya…" Sahut Obito, nyolot, sebelum melajukan mobilnya.

Ya bisa aja Obito nyablak jujur tukeran kendaraan demi biar Rin aman sentosa di jalan karena Rin sering sakit-sakitan. Enteng-enteng aja sekalian ngegombal ke Rin. Tapi kali ini lidahnya kelu, tema-nya soal penyakit, takut Rin sedih.

"Jangan aneh-aneh, To! Entar jatohnya kriminal, walau cuman bercanda." Rin memperingatkan.

"Nggak bakal Naruto lapor polisi juga." Jawab Obito santai.

"Iya tapi…"

"Oke." Obito memotong. "Miss Kepo yang bawel, gue emang tukeran kendaraan sama Naruto. Puas? Ini atas kesepakatan kita berdua."

"Atas dasar…?"

Obito mingkem, "Nggg… Iseng. Eh… enggak ding. Karena Naruto yang minta!"

Rin menatap Obito curgia. "Naruto yang minta? Otaknya geser, ya? Masa mobil matic dituker vespa?"

Lantas untungnya Obito teringat omongan Naruto soal Sakura yang minta disamper pake vespa aja.

"Nah, itu dia!" Nada Obito kelewat semangat.

Nemu jawaban bagus gitu ceritanya. "Katanya Sakura ngomel-ngomel malu diajak Naruto bareng pake mobil. Malu kenapa coba? Bangga, aturan, yah? Ya jadinya Naruto minjem vespa gue sampe waktu yang tidak ditentukan."

"Oh." Rin mengangguk, ngerti banget. "Sakura cuma gak suka jadi pusat perhatian. Dia paling sensitif sama hal-hal kekayaan."

"Bisa gitu ya?"

"Iyalah. Gak inget apa lo? Kan elo dan Naruto yang waktu SMP nerbitin berita di mading sekolah perkara ortu Sakura yang mengaku ningrat. Di-bully deh Sakura sama satu sekolah karena aslinya ortunya sederhana banget."

"Hah? Apaan? Kapan gue nerbitin kayak gitu? Sumpah! Gak pernah." Obito bingung, kerutan alis hitamnya bener-bener dalem.

"Hmm," Rin melipat tangan, bermuka sepet. "Jangan bilang lo dan Naruto juga amnesia udah nerbitin artikel soal nominasi cewek terkurus satu sekolah waktu SMP dan berujung gue sama Sakura di-bully satu sekolah!"

"He… yang itu sih, kan bercanda, Rin. Gitu aja ngambek." Tampang Obito ngenekin waktu bela diri, sok imut gitu.

"Gak lucu."

"Lucu, dong! Buktinya banyak yang ketawa." Hahaha-nya Obito garing abis, dan perlahan surut seiring tatapan males Rin.

"I-iya, sorry." Obito ciut.

"Tapi soal terbitan berita orang tua Sakura itu gak mungkin gue. Gue gak segitunya iseng sama orang. Keluarga, men, yang dibawa-bawa."

"Lo kan anak mading, masa gak tau? Sedangkan satu sekolah tau?"

"Sumpah…! Kapan sih emang?" tanya Obito gemes.

"Tau deh lupa, udah lama banget kan. Kelas dua SMP kali." Sahut Rin natap ke depan.

Obito nampak berpikir, "Kelas dua? Kan gue lagi sibuk-sibuknya jadi ketua dewan pramuka. Gak punya waktu ngurus mading…"

"Terus kok lu bisa bikin artikel tentang cewek terkerempeng satu sekolah di tahun yang sama?"

"Itu sih tulisan lama, dari pas mau naik kelas dua."

"Gak masuk akal."

Obito diem sejenak. "Jujur, ya, Rin… gue lakuin itu karena kangen aja sama lo."

Heh?

"Karena gue sibuk banget dan gak bisa liat lo lagi, gue titipin artikel lama gue itu ke tim redaksi. Sengaja. Biar lo nyariin gue."

Rin bingung, apa banget ini situasi.

"Otomatis lo nyesuaiin jadwal gue buat ketemu gue walau tujuannya mau ngelabrak."

Yaa, pantes, deh. Semua jadi masuk akal kenapa tampang Obito waktu Rin labrak dulu kayak orang sawan. Cuma nyandarin pipi dengan kepalan tangan yang sikunya di atas meja, sambil senyum tengil ngeselin.

Rin hilang arah, bingung mau ngerespon apa. "Terus kenapa Sakura lo bawa-bawa dalem artikel itu?"

"Yang itu maunya Naruto. Semua ide itu, yang biar lo nyariin gue, sebenernya idenya Naruto juga."

"Apa-apaan…" Suara Rin memelan. Rin gak bego. Kepinterannya lebih dari cukup buat ngerti kode-kodenya si Obito.

Obito suka sama Rin.

Sama halnya kayak Naruto suka sama Sakura.

Gitu kan intinya?

"Inget, Rin! Kita gak boleh kalah kali ini~!" Tiba-tiba suara Sakura terngiang. Bener, Rin jadi sadar kalau ini semua adalah jebakan.

Please, Obito dan Naruto itu RESE. REALLY. Dari SMP udah jadi sumber naiknya tekanan darah Rin dan Sakura. Dari mulai sering ngatain, sering ngecengin, sering ngerjain sampai public bullying lewat mading.

Semua serba gak masuk akal kan, kalau tiba-tiba Obito dan Naruto mendadak baik banget ke Rin dan Sakura sejak masuk SMA yang sama? Modusin, gombalin, godain. Pasti ini tahap selanjutnya dari keisengan mereka.

SMP, Rin dan Sakura boleh kalah. Tapi SMA ini saatnya membalik keadaan. Mau kayak gimana Obito dan Naruto bertingkah di sekitar mereka, Rin dan Sakura tidak boleh terbawa dan terjebak.

WATASHI WA TSUYOI! Gitu kira-kira slogan RinSaku, dikutip dari salah satu karakter animanga kesukaan mereka.

.

.

Sakura mengigit bibirnya sambil liat jam hello kitty di tangan kirinya.

"Udah setengah jam, boker gak selama itu juga kali." Gerutu Sakura yang sejak tadi disuruh Naruto nunggu depan toilet laki-laki.

Tiba-tiba pintu di depannya itu terbuka.

Sakura yang tadinya udah mangap mau nyembur Naruto jadi mingkem kembali. Ia speechless. Sama dengan pemuda di hadapannya, speechless, bedanya speechless-nya Sasuke pake muka datar liat Sakura.

"Ehm, Sasu…" belum sempat Sakura kelar, Sasuke minggat bagai tidak pernah ada Sakura di situ. "…ke…" Sakura pun hanya menuntaskan kalimatnya sambil menatap punggung Sasuke yang menjauh.

Gilingan, itu manusia apa es batu! Tapi apalah daya, Sakura udah terlalu cintaaa. Tatapan galau Sakura ke punggung Sasuke itu pun buyar saat pintu toilet terbuka lagi. Gentian Naruto yang bertampang galau.

"Lama banget lo?! Tau gitu kan gue pulang sendiri. Maksa bareng, maksa gue nunggu, tapi lama sendiri…" Nada tinggi Sakura itu pun kian surut, lihat wajah Naruto yang sedih dan nunduk.

Sakura hela napas ngapus keselnya pelan-pelan, gak tega juga mau lanjut ngomel ke nih si kuning jabrik. "Kenapa lo?" tanyanya pelan. "…Sembelit?"

Naruto diem, ia menggeleng. "Sorry, Ra, kalo gue udah keterlaluan maksa lo pulang bareng gue."

Sakura kali ini yang diem. Ia bengong. "Lo sawan di kamar mandi, Nar?" Sakura maju selangkah, niatnya mau ngecek suhu di jidat Naruto.

Tapi Naruto reflek mundur dengan wajah takut bercampur sedih. "Jangan, Ra. Please jangan ngedeket."

"Kenapa, sih, lo?" Sakura mengerutkan alisnya kian dalam, maju selangkah lebih nekat dengan telapak tangan masih terangkat.

Naruto mundur lagi, sukses mereka berdua berada di kamar mandi cowok dengan Sakura ada di pintu. "Ra, please! Jangan ngedeket. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa!" Rengek Naruto bak dirinya dicucuri darah dari virus Ebola.

"APAAN SIH NAR?!" Sakura gemas. "LO KENAPA?"

"HEI! NGAPAIN KALIAN?!" Nah loh, Pak Hashirama yang merupakan guru agama merangkap guru Bimbingan Konseling datang.

Sakura dan Naruto digiring ke ruang BK.

.

.

"Apa yang telah kalian lakukan? Sepulang sekolah? Saat-saat sepi? Di kamar mandi?!" Tanya Pak Ustadz Hashirama bertubi-tubi.

Naruto nunduk dengan kegalauannya yang masih menjadi misteri. Sedangkan Sakura panik. Gaswat ini kalo disangka yang enggak-enggak!

"Sumpah, Pak. Saya cuman nungguin Naruto buang air, tapi dia lama banget…"

"Terus, kalau dia lama, itu alasan kamu buat nyusul masuk ke dalem?"

"Saya gak nyusul pak!"

"Oh jadi Naruto yang ngundang?!"

"ENGGAK, PAK. SUMPAH!" Sakura beralih ke Naruto yang jaga jarak semeter dari Sakura duduk. "Nar, jelasin dong Nar! Jangan diem aja!"

"Jangan ngedeket, Ra!" Naruto pasang tampang takut lagi, kayak mau disamperin Susana aja.

Sakura mangap melihat Pak Hashirama udah pasang tampang siap nge-bully mental Sakura karena jawaban Naruto sungguh berpotensi tinggi menciptakan kesalahpahaman.

"Jadi kamu yang ngapa-ngapain Naruto?"

Etdah. Gila, ya?

Sakura istighfar, kenceng, demi menekan emosi sesaatnya pada gurunya yang terlalu suuzon ini.

"Saya nungguin Naruto." Sakura membuat gerakan tangan seperti memindahkan kerdus. "Setengah jem, Pak. Begitu Naruto keluar tampangnya kayak orang abis sembelit. Terus saya tanya kenapa, dia gak mau jawab. Saya pikir dia sakit, mau saya cek jidatnya, dia malah mundur-mundur. Gak tau kenapa!"

"Hmm," Pak Hashirama mengangguk. "Gak peka banget sih kamu, Ra. Mungkin dia cepirit."

Wanjir, gak lucu abis.

"Loh? Emang, iya, Nar?" Sakura kemakan omongan Pak Hashirama pula, ia mencoba mendekat lagi untuk mengecek bagian belakang Naruto, tapi Naruto histeris.

"NGGAK! PLEASE, JANGAN NGEDEKET!" Naruto mojok kayak anak sekolah dasar yang mau diculik om-om genit.

"Kan bener dia cepirit." Celetuk Pak Hashirama tanpa bukti.

"Lo cepirit, Nar?" Yaelah banget nih pertanyaan Sakura.

Naruto menggeleng. "Kita pulang naik bus, ya, Ra? Gue jagain lo dari belakang." Tawar Naruto tanpa menatap Sakura.

"Lo kenapa, sih?" Sakura mulai merasa khawatir, tampang Naruto layak dicemaskan kejiwaannya.

Wajah kesal Sakura yang keheranan pun melunak. "Kalau pun iya lo cepirit, ya gak apa, Nar. Gak usah malu… itu… itu manusiawi, kok!" Sakura menyelesaikan bujukannya, absurd.

"Gak gitu…" sahut Naruto, pelan. "Pokoknya vespa Obito gue titipin Pak Satpam sini aja. Kita naik bus, lo gue jagain dari belakang. Pak Hashirama, saya pamit…" Naruto mengucap salam dan setengah lari keluar pintu.

Sakura yang masih bingung pun garuk-garuk rambutnya. Ia lantas ikut pamitan ke Pak Hashirama dan minta maaf atas kegajean Naruto hari ini.

.

.

"Nar, tunggu, Nar!"

Sakura berjalan cepat mengikuti langkah Naruto yang besar-besar. Buset dah nih, Naruto, kebangetan. Dikira lagi drama apa. Gayanya kayak ngambek sama pacar.

"Lo kenapa, sih, Nar? Naruto! Tunggu!"

Naruto malah lari sampai gerbang sekolah dia berbalik menghadap Sakura yang menyusul dari jauh dengan langkah cepat.

"Apa-apaan, sih?" Sakura belum capek nanya.

"Jangan ngedeket!" Naruto gelengin kepalanya sambil menyetop Sakura dari jauh dengan tangannya.

Sakura memelankan jalannya. Ia mencoba menuruti Naruto untuk tidak terlalu dekat.

"Lo jalan duluan, gue jagain dari belakang. Oke?" Naruto membuat kesepakatan, tampang memprihatinkannya mempengaruhi Sakura.

"Nar, elo kenapa? Jelasin sesuatu, kek. Gue gak ngerti." Tampang Sakura kali ini seriusan peduli, tulus, bagaimana pun si jahil Naruto selalu berusaha menjaga Sakura sejak masuk SMA ini—terlepas dari kecurigaan Sakura kalau Naruto punya rencana buruk dari semua perhatian Naruto terhadap Sakura yang tiba-tiba belakangan ini.

"Gak ada." Naruto mundur makin jauh. "Untuk kali ini, aja, Ra. Gue janji besok semuanya kembali normal."

Sakura mengerutkan alis, melipat tangan sambil menjilat bibirnya yang kering. "Oke, kalo lo keras kepala dan gak mau ngasih tau lo sebenernya kenapa, mulai sekarang gak usah ngomong sama gue lagi."

Tangan Sakura yang siap melengos pergi pun ditahan oleh Naruto.

"Tolong, Ra," ucap Naruto rendah. Sakura mengerutkan bibirnya kesal berusaha lepas. "Lepasin gue, gue mau pulang."

"Oke, fine. Gue kasih tau tapi jangan pergi."

Tawaran Naruto membuat Sakura berhenti melawan.

"Gue…"

Sakura bertahan, setelah melepas kasar tangan Naruto.

Pun, setelah beberapa saat, ia mencoba memberi tatapan peduli sekaligus ingin tahu—yang tanpa sadar membuatnya terlihat begitu manis di mata Naruto.

"Gue…" mata Naruto lari dari tatapan Sakura. "Gue hari ini lupa pake deodorant."

He?

"Lo tau sendiri tadi terakhir jam olah raga… gue… gak bisa boncengin lo… kalo begini."

What? Sakura masih space out.

Iya, Sakura udah dapet alasan Naruto yang jadi aneh. "Karena lo takut gue nyium bau badan lo?"

Naruto mengangguk imut semi mau nangis.

"Astogeh, Nar. Gue pikir apaan!" pecah sudah suasana dramanya. Sakura hela napas berkali-kali. Lalu selangkah mendekat ke Naruto.

"Jangan, Ra!" Naruto mundur. "…gue… bau."

Dengan bibir mengerut gemas, Sakura narik kerah Naruto dengan cengkraman tangannya. Naruto yang lebih tinggi terpaksa jadi nunduk kayak kambing.

Sakura mengendus-endus, sama sekali gak sadar bikin jantung Naruto deg-degan karena mereka terlalu dekat! Belum lama mata biru Naruto menatap bulu mata Sakura yang lentik ketika menatap dada Naruto saat mengendus, Sakura sudah mendorongnya.

"Gue udah nyium, sekarang mau apa? Malu? Gak ada gunanya."

Naruto terkesima dengan gerakan tak terduga Sakura tadi.

"Udah, yuk, balik." Ajak Sakura ngegeret Naruto. "Ambil vespanya, buruan."

Yaa, Sakura lagi-lagi gak sadar tatapan terharu bin penuh cinta Naruto yang digeretnya di belakang tersebut.

"Sakura-chan…" Naruto manggil.

Sakura menoleh. Wajah Naruto udah nista.

"Makasih udah nerima aku apa adanya…" Naruto buka kedua tangannya lebar-lebar.

"Nar!" Sakura nunjukin bogem yang terbentuk dari tangan mulusnya. "Berani lo meluk gue, gue tonjok!" ancam Sakura.

Naruto nampak tak terganggu dengan itu, justru jadi memeluk diri sendiri. "Maaf." Katanya tanpa ada tampang minta maaf. Muka masih autis.

"Bukan mukhrim, tau!"

"Iya, aku bakal mukhrim-in Sakura-chan yang nerima aku apa adanya. Ahhh, aku janji gak akan cari yang lain! Aku udah nemu yang nerima aku apa adanya." Naruto masih komat-kamit memanjatkan doa puji syukur atas rahmat Yang Maha Kuasa karena udah ngirimin Sakura-chan.

Sakura gak peduli, dia ngegerutu sendiri. "Lebay banget, sih, gue kira apa gitu."

Dan perjalanan mereka pulang pun gak lepas dari omelan Sakura yang sewot lantaran Naruto sengaja mengepak-ngepakan sikunya saat nyetir vespa.

"Aduh enak keringet pun kering." Lupa dia kalo tadi ngejaga banget biar Sakura gak kebauan.

.

.


Akhirnya bisa ng-update. Maaf ya kalau chapter ini garing :( SIAPA YANG RINDU NARUSAKU? xDD KALO RINDU AKU? … NO? :(