Sugantea presents;

.

.

Cant Resist You

.

Min Yoongi

Park Jimin

.

.

I always think that i don't like you. I always say to myself that i can't loving you.

But i actually know that my heart, my feeling, can't lie the truth.

That i always thinking about you, care over you, missing you.

That i love you.

.

[chapter 2; confession]

.

"Jika kau benar tidak memiliki perasaan pada Jimin,"

" –dan jika kau masih berpikir kalau kau menyukaiku,"

Seketika suasanya disekitar Yoongi jadi sedikit mencekam hingga ia sedikit tercekat dan menahan napas. Entah kenapa Taehyung selalu mampu membuatnya tidak berkutik seperti ini. Sebenarnya sampai kapan ia akan bicara? Yoongi sudah benar-benar pening.

"Kemari dan cium aku."

"A- apa?!"

Yang barusan berteriak bukanlah Taehyung maupun Yoongi. Melainkan Jungkook yang sedaritadi menguping karena teh buatannya sudah siap dihidangkan. Sebenarnya sejak tadi ia sudah berkali-kali tersentak karena teriakan Taehyung yang menggelegar itu. Dan karena penasaran, ia ingin sekali menguping. Dan astaga –apa Jungkook salah dengar, barusan –Taehyung menyuruh Yoongi menciumnya? Otak Taehyung itu kurang diamplas atau apa sih.

Namun baik Taehyung dan Yoongi tidak ada yang mengacuhkan teriakan Jungkook. Mereka masih asyik dengan dunia mereka, saling bertatapan penuh arti dalam diam. Yoongi mengerutkan alisnya heran dan terkejut. Bagaimana tidak, Taehyung memintanya untuk menciumnya?! Blah, ini sungguh aneh dan benar-benar out of topic. Memangnya dia sudah lupa Jungkook atau bagaimana?

"Mari kita buktikan kau memang tidak memiliki perasaan apapun padanya."

Suara Taehyung begitu berat namun tipis mampu membuat Yoongi tergelitik. Wajahnya memanas seketika dan jantungnya berdetak lebih cepat lagi. Jadi si pabo Taehyung sengaja memancingnya, begitu? Dasar rubah licik jahanam kau Kim Taehyung!

Matanya mengerling nakal, "Mari ini lupakan saja Jungkook, dan coba cium aku."

"Taetae hyung?!"

Ajaibnya, Yoongi jadi benar-benar tuli, ia tidak bisa mendengar apapun kecuali suara jahanam penuh dosa yang keluar dari bibir seksi Kim Taehyung di hadapannya. Bahkan teriakan Jungkook yang sudah menggema seisi ruangan pun tak dapat ia dengar, inderanya jadi lemah dan hanya bisa fokus pada Taehyung. Ia sendiri bingung apa yang tengah terjadi.

"Well, i bet you won't ever could kiss –"

Dengan gerakan secepat cahaya, Yoongi menarik wajah Taehyung mendekat. Membuat mereka beradu tatap dengan lebih intens. Taehyung sempat tersentak tapi ia dapat kembali pada fokusnya. Ia tidak boleh lengah, ia harus bisa membuat Yoongi kalah kali ini. Jadilah ia menatap Yoongi remeh namun tajam dan sungguh congkak.

Dan entah mengapa gerakan Yoongi terhenti sampai disana. Tangannya tidak bisa bergerak lagi keculai gemetar kecil. Wajahnya bahkan kaku tak bisa maju untuk menggapai bibir Taehyung. Napasnya kacau dan kepalanya agak pusing. Sial. Apa yang terjadi?

Entah kenapa telinganya berdengung pelan, membuat kepala Yoongi serasa di tusuk ribuan jarum dan seketika pening, tanpa sadar tangannya mencengkeram pipi Taehyung. Ia memejamkan matanya menahan sakit dan kegelapan nyatanya hanya membuatnya semakin sakit, sial –sampai kapan ia harus menderita seperti ini? God, this is really hurt like hell!

'Yoongi hyung, aku menyukaimu.' Ajaib nan anehnya mata Yoongi tiba-tiba terbuka setelah mendengar suara manis dan lembut barusan. Seketika kepalanya lebih ringan dan berkurang sakitnya. Tubuhnya agak rileks dan tidak gemetaran lagi. Napasnya agak teratur dan yang paling aneh ia tidak melihat Kim Taehyung dihadapannya lagi, bukan tatapan menyebalkan dari pria tinggi itu, bukan hidung mancung dan bibir tebal yang ia lihat, bukan pula suara berat nan serak yang ia dengar.

"Park...Jimin...?"

Jimin tersenyum lembut sampai Yoongi rasanya ingin meleleh. Sungguh lengkungan bibir yang sangat indah dan menawan, ia bahkan tidak sadar kalau ia tengah terbengong-bengong saat ini.

.

.

Jika bicara tentang Yoongi, langsung terbesit tentangnya adalah musik. Orang-orang memang lebih mengenalnya dengan genius composer Min daripada si perawat Min. Ia lebih aktif di dunia musik underground bersama teman-teman gengnya dan beberapa sobat semasa sekolah menengah dulu. Semua orang khususnya para hoobae sangat menyegani mahkluk mungil itu jika sudah berkaitan dengan penciptaan sebuah karya musik yang agung.

Bagi mereka, Yoongi adalah inspirasi. Sebuah ciptaan Tuhan yang penuh dengan kromosom seni dan DNA estetika yang penuh talenta dan berkelas. Menurut mereka, Yoongi adalah satu dari keagungan Tuhan yang patut disyukuri. Karya-karyanya sungguh berdedikasi tinggi dan enak didengar; nyaman di telinga dan memiliki aura tersendiri. Yoongi memang makhluk mungil pendiam dan sedikit-banyak judes tapi kalau ia sudah naik keatas panggung dan suara mic mulai berdengung –kerumunan akan menghentikan aktifitasnya dan seluruh mata memandang Yoongi penuh kagum dan berbinar.

Mendengar hal ini, ketua pelaksana acara festival kampus tahun ini sangat bersemangat mengejar Yoongi. Ia tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan Namjoon seonsaengnim dengan salah satu sunbaenimnya. Awalnya ia agak ragu, memang ia tidak satu jurusan –apalagi satu fakultas dengan si Min Yoongi itu tapi ia butuh seorang rapper dengan aura sekuat Min Yoongi.

Tahun ini fakultas kesenian menunjuk Choi Hansol dari klub hiphop untuk memegang tanggungjawab festival. Jadilah ia mengusut tema berbau hiphop –makanya butuh rapper. Ditambah, dengar-dengar Min Yoongi ini lumayan terkenal dan cukup banyak fansnya –dari perempuan sampai laki-laki, lengkap semua. Hansol memang butuh seseorang seperti Yoongi –maksudnya, ia butuh Min Yoongi maka festival tahun ini akan sukses besar dan klub hiphop bisa memiliki citra yang lebih baik.

"Baiklah, terima kasih sudah mengundangku."

Awalnya memang Hansol agak takut berbicara dengan Yoongi, bagaimana tidak jika dari jarak jauh saja tatapannya sudah mematikan. Sebenarnya ia memiliki banyak kesempatan untuk bicara tapi ia benar-benar takut dan pada percobaan penguatan mental di hari ke-lima, akhirnya ia menyatakannya. Mengajak Yoongi bekerja sama untuk tampil di festival seni kampus bulan depan. Itu pun karena tidak sengaja ia melihat Yoongi sedang memberi makan tiga ekor anak kucing di halaman belakang kampus dengan sungguh –yaampun, apa ada kata lain untuk lebih dari menggemaskan? Karena saat itu Yoongi yang terkenal jutek dan galak menjadi amat sangat luar biasa menggemaskan.

"Te –terima kasih, sunbaenim." Hansol membungkuk sembilan puluh derajat tanpa terima kasih luar biasa. Ia sungguhan senang ternyata mudah sekali membujuk Yoongi, padahal Seungkwan dari kelas vokal sudah menyumpahinya akan gagal karena Yoongi itu galaknya nauzubillah. Ternyata tidak, baik begini –imut pula, ehehe.

Jadilah Yoongi tengah sibuk menciptakan lagu untuk festival bulan depan. Ia mendesah frustasi karena waktunya kurang dari empat minggu lagi dan ia belum bisa membuat satu bait dengan pas dan sesuai harapan. Pikirannya sungguh kacau saat ini, ia sudah menghamburkan banyak kertas dan tidak ada hasil memuaskan.

"Bukan aku, Yoongi. Kau tidak mencintaiku, kau mencintai Jimin. Percayalah padaku –setidaknya percayalah pada hatimu, pada dirimu sendiri. Sudah kukatakan untuk dengarkan apa yang hatimu katakan, apa yang kau rasakan, bukan logika rumitmu. Min Yoongi, sekali lagi kutekankan –kau mencintainya. Kau mencintai Park Jimin."

Memikirkannya lagi. Setelah kejadian memalukan itu, kepala Yoongi serasa mau meledak. Tempo itu Yoongi tidak bisa mencium Taehyung dan kalimat yang Taehyung ucapkan pada terakhir kali membuatnya gila. Kepalanya penuh sekali dan ia benar-benar hampil sakit jiwa. Sesak sekali kepalanya, dan ini benar-benar menghambatnya bekerja. Kurang ajar, ia sungguhan tidak ingin mengecewakan bocah yang mengaku sebagai ketua pelaksana itu. Ia ingin bersikap profesional tapi ia benar-benar depresi. Fokusnya selalu terpecah, semua tentang Jimin dan kalimat Taehyung selalu terbayang-bayang dalam benaknya dan ini membuatnya pusing.

"Apa yang harus kulakukan, oh God. Kepalaku pusing, ck. Au ah."

Yoongi meletakkan gitarnya dan berbaring diranjang kesayangannya. Ia menatap langit kamarnya. Tiba-tiba ia melihat wajah Jimin disana, langsung ia terbangun dengan cepat. Kaget juga, bisa-bisa ia sungguhan gila kalau begini caranya. Kembali ia mengambil kertas dan pensilnya kemudian memangku gitarnya. Ia harus fokus, tidak ada waktu bermain-main lagi. Cukup tentang Jimin. Jimin itu urusan belakangan. Hari ini lupakan dulu –

"Kau manis sekali hyung,"

ASTAGAAAAAA PARK JIMIN BISA TIDAK KAU KELUAR DARI PIKIRANKU?!

Yoongi membenturkan kepalanya pelan ke gitarnya. Ia frustasi, belum ada lima menit dan ia sudah kepikiran Park Jimin lagi. Sial. Kenapa sih otaknya tidak mau sejalan lagi? Ia benar-benar harus menyelesaikan lagu ini dan segera latihan. Satu bulan itu sebenarnya tidak cukup dan –astaga, bagaimana bisa dia bekerja jika Jimin terus berlari di pikirannya dan menari-nari di atas penderitaannya?! Yoongi benar-benar harus –

"Aku ingin mendengarmu bernyanyi, hyung! Coba nyanyikan lagu untukku!"

Tunggu sebentar. Tiba-tiba kepalanya kembali ringan. Pensil ditagannya juga terasa ringan dan tidak kaku seperti tadi. Sekelebat kalimat literatur poetric agak tersusun dalam benaknya. Mulutnya mulai menggumam nada mencoba-coba.

"Lagu untukmu, ya...?"

.

.

Semua orang sibuk. Hari ini festival sudah diselenggarakan. Ada beberapa orang di gerbang utama yang sibuk mengecek tas pengunjung. Antisipasi barang bawaan berbahaya, katanya. Beberapa lagi nampak memastikan pengunjung tidak menyembunyikan barang aneh didalam pakaiannya. Beberapa orang lagi dengan kaus coklat karamel dengan tulisan crew terlihat lari mondar-mandir, beberapa berteriak, dan mengumpat. Festival kali ini sungguh meriah, mengundang decak kagum segelintir pengunjung dari segala jurusan dan fakultas.

Seorang wanita dengan tatapan mata setajam elang mengawasi, kemudian mengarahkan walkie talkie ke bibir peach tipis miliknya, "Minju kepada Myungho; area E4 kerepotan. Kirim bantuan segera."

Tak lama sebuah serak terdengar, "Sudah kubilang panggil aku Minghao! Ugh, oke segera diatasi. Semangat semangat semangat!"

Semua panitia tidak ada yang sedang tenang-tenang saja. Semua kalang kabut bekerja dengan giat, lari sana-sini. Hanya koordinator dan pengawas yang kerjaannya hanya jalan-jalan dan melihat, anak bawahannya lah yang akan membereskan masalah yang terjadi. Termasuk Hansol; si ketua pelaksana ini kerjaannya daritadi keliling kesana kemari dan tersenyum tidak jelas. "Ah, astaga aku benar-benar deg-degan."

"Sudah terlambat untuk deg-degan, tahu." Hansol hampir saja terjungkal karena tiba-tiba ada yang menimpali ucapannya barusan dan yang ia kira hantu atau apa hanya makhluk tinggi dengan senyum lebar sampai mulutnya bisa saja robek. "Chanyeol hyung, kirain siapa. Bikin kaget saja,"

Chanyeol tertawa, "Gak usah lebay deh ah. Omong-omong festivalmu oke juga, tidak salah mereka menunjukmu sebagai ketua tahun ini. Sungguh diluar dugaan, kukira festival ini hanya akan berhiaskan pot bunga kampus dan sungguh berantakan karena kau tahu –anak hiphop agak sedikit.. yeah, kau tahulah."

Selanjutnya Hansol yang tertawa, "Yah, gak lah hyung. Aku mana sudi menggantungkan kaus kutangku sebangai hiasan disana-sini atau mungkin tatanan meja sebagai panggung dan jas hujan sebagai tenda –no no no, aku akan menyelenggarakan festival terbaik tahun ini."

Dan memang benar saja karena penampilan festival ini sangatlah luar biasa dengan tatanan yang sungguh indah dan nyaman dipandang. Tidak begitu meriah dengan hiasan yang norak juga sih, cukup dewasa namun fresh dan penuh aura seni yang estetik. Ia akui Hansol memang jagonya kalau urusan begini, ia jadi terharu –baru kali ini mahasiswa dari jurusan hiphop memegang tanggungjawab sebagai ketua acara sakral bagi fakultas kesenian. Katanya sih, anak hiphop tidak bisa diandalkan soal keindahan. Mereka kerjaannya cuma ngerapp dan bikin rusuh, kalau festival sampai jatuh ke tangan mereka –habislah sudah. Tapi akhirnya Hansol muncul dengan ketampanan dan sikapnya yang sungguh fresh dan penuh percaya diri serta kharismatik membuat ketua himpunan kesenian meliriknya dan –boom!

"Omong-omong aku punya senjata ampuh untuk menjadikan festival ini jadi meledak-ledak sampai mungkin gedung ini akan hancur lebur karenanya!" ucap Hansol dengan semangat. Chanyeol mengerutkan keingnya sebentar, Hansol memang selalu semangat tapi kali ini ia nampak lebih dari kata bersemangat. Membuat penasaran saja.

"Yoongi sunbaenim akan perform dan kupastikan dengan akurat kaca jendela akan pecah karena teriakan heboh dari para gadis."

.

Yoongi tengah fokus dengan rappnya, ia menyendiri di backstage dan mendengarkan rekaman lagunya dari earphone di telinganya. Ia menggumam untuk berlatih rappnya, dan kepalanya tidak bisa berhenti menganggukan atau menggelengkan kepalanya ketika ia semakin terbawa dengan lagunya itu. Sedang asyik di latihannya yang ke sepuluh, sebuah kaleng minuman dingin singgah di pipinya.

Ia menoleh, "Oh, kau rupanya Chanyeol."

Yang dipanggil tersenyum dan menyodorkan minuman kaleng dingin itu pada Yoongi yang dibalas pekikan riang darinya. Chanyeol tersenyum makin lebar ketika Yoongi bilang kalau ia selalu mengerti Yoongi. "Kau tidak bilang-bilang kalau mau tampil."

"Malas, lupa juga. Kupikir akan lebih hebat kalau jadi kejutan, kan."

Chanyeol tertawa, "Yah, mendengarmu akan tampil saja sudah sukses membuatku terkejut setengah mati. Kalau aku tidak tahu sampai kau benar-benar tampil nanti –kurasa perhatian malah teralih padaku yang sudah terkapar tanpa nyawa diantara kerumunan penonton."

Mendengarnya Yoongi hampir tersedak dan kemudian tertawa. Memang Chanyeol itu selalu mampu membuatnya tertawa karena ucapan konyolnya. Apapun yang keluar dari mulutnya itu lelucon dan Yoongi selalu tertawa, karena demi Tuhan, Chanyeol itu konyol. "Syukurlah kau belum mampus, kau harus liat performku dulu baru boleh mati."

"Sialan kau jahanam –hahahaha."

Mereka berdua tertawa dan lanjut mengobrol ringan. Dipikir-pikir sudah lama Yoongi tidak bertemu Chanyeol, kesibukan kuliah masing-masing memberikan mereka jarak cukup jauh hingga mereka hanya bisa bertemu beberapa bulan sekali saja. Mereka berteman karib di geng underground; kata Chanyeol, Yoongi itu keren dan sungguh menarik. Awalnya Yoongi hendak menonjok muka menyebalkan itu tapi karena sikap polos Chanyeol saat itu, Yoongi mencoba bergaul dengannya dan ternyata ia orang konyol yang menyenangkan sebagai teman.

Sedang asyik berbincang, Hansol dan seseorang yang sepertinya crew bagian panggung datang. Dan tanpa Yoongi sadari, Chanyeol menghela napas berat. "Yoongi-nim, Red Velvet akan tampil selama sepuluh menit setelah itu kau langsung naik,"

"Red Velvet? Jadi ada acara masak-masak juga, ya?"

Chanyeol terbahak, "Bukan, mungil! Itu grup dance cewek-cewek manis energik. Dasar kau kakek tua."

Yoongi membulatkan mulutnya, "Bagiku girlgroup itu hanya Girls' Generation saja."

Chanyeol melanjutkan tertawanya dan Hansol memberi senyum lebar sekali sampai Yoongi merasa risih. Ada apa dengan tatapannya itu, mungkin orang itu masih sungkan untuk bicara dengan Yoongi. Ya ampun, padahal Yoongi sudah berubah jadi pribadi yang lebih lembut –nyatanya orang masih saja takut denganku, heol.

"Ini, minum untuk sunbaenim, ehehehe."

"Oh, terima kasih." Yoongi menerima air mineral dingin dari tangan Hansol yang gemetar –tunggu, gemetar? Astaga memangnya Yoongi seseram itu, apa? Oh Tuhan, memang bagaimana sih cara menjadi baik hati. Ia sungguhan ingin menghilangkan embel-embel seram dari dirinya. Lihat, bahkan Hansol tengah keringatan dan kentara sekali kalau pemuda itu tengah gugup –oh for God's sake!

Yoongi menghela napas, "Tidak usah takut begitu, Hansol-ssi. Aku tidak menggigit,"

"E –eh?"

Dan kurang ajarnya Chanyeol malah semakin terbahak dan kemudian merangkul Yoongi dengan aksen seolah mereka ini sudah bersahabat sejak mereka masih jadi embrio. "Iya, Hansol-ah. Yoongi ini memang kadang judes tapi dia ini menggemaskan dan lucu, tapi cubitannya itu –AAASH!"

Chanyeol melepas rangkulannya dan mengelus pinggangnya yang baru di cubit Yoongi. Rasanya pedih sekali ditambah tatapan mengerikan dari Yoongi, oh lengkaplah sudah. Hansol hanya bisa tertawa melihat kedua sunbaenimnya ini, lucu sekali astaga. "Jangan dengarkan tiang itu, dan aku tidak lucu sama sekali, sudah jangan takut padaku."

Bohong sekali. Tidak lucu darimana. –hasil pikiran Hansol dan Chanyeol.

"Oh ya, aku baru sadar. Kau itu anak dari kelas hiphop, ya?"

Hansol memiringkan kepalanya, bukannya dia sudah bilang sejak tempo lalu? Kenapa pakai kata 'aku baru sadar' segala? Atau waktu itu Yoongi tidak mendengarkan, ya? Ah, sedih sekali rasanya. "Iya, kenapa sunbaenim?"

"Uh –panggil hyung sajalah," Yoongi berdeham sebentar. "Aku suka stylemu, wah ternyata kau berbakat juga, kenapa tidak ikut naik ke panggung dan coba beberapa beat? Kau punya visual yang bagus jadi mungkin kau lebih meledak dibanding aku, hahaha."

Hansol tidak mengerti arah pembicaraan Yoongi, apa dia mau memutuskan kerja sama tiba-tiba? Eh, jangan! Masa tiba-tiba ia harus naik ke atas panggung dan meminta maaf karena sang agung Min Yoongi tidak jadi tampil, kan malu. Sedih juga. Ia tidak siap dilempari tomat dari penonton.

"Yoongi-ssi, waktunya naik!" oh, sang crew sudah memanggilnya.

Yoongi menoleh dan memberi tanda ok dan bangkit, namun ia masih menatap mata Hansol dan tersenyum manis. Dan itu membuat Hansol terkesiap sampai ia menahan napasnya, "Aku tahu kau Vernon, kan. Yah, lama tak bertemu ya adik kecil. Kapan-kapan kita ke panggung bersama."

Setelah mengusak rambut Hansol, Yoongi melenggang pergi naik ke panggung. Usainya Hansol mematung dengan jantung yang berdegup kencang sekali sampai rasanya sesak. Tubuhnya lemas sekaligus kaku. Matanya membuat sempurna dan ia termangu, wajahnya sungguh seperti orang dungu saat ini. Bahkan ia menjadi tuli; Chanyeol sudah meneriaki namanya sejak tadi tapi ia tidak menyahut.

Yoongi hyung... Hansol menyentuh dada kirinya yang terus berpacu. Perasaan apa ini?

.

Yoongi menggenggam mic yang barusan diberikan padanya kemudian melangkah ke tengah panggung. Terdengar beberapa sahutan dan pekikan yang menembus pendengarannya sampai ia menoleh ke sumber suara. Sebab demi apapun, suara wanita yang memanggil namanya barusan sungguh tidak normal –kencangnya menembus kecepatan wifi di gedung utama kampus.

"Nah, kali ini kami akan memberikan hadiah untuk para wanita,"

Kalimat pembuka dari MC memicu kericuhan dari para gadis. Yoongi mengerutkan alisnya sebentar, ia tidak mengira kalau ia ternyata sepopuler ini. Pikirnya ia hanya cukup terkenal di kalangan sesama rapper saja. Setelah melihat kerumunan manusia ini, ia berpikir lagi jika ada undangan untuk tampil lagi. Ia tidak akan kuat dan sudi untuk mendengar jeritan wanita lagi, membuat kepalanya pusing.

"Kalian tahu, siapa si mungil ini kan?"

Kalau saja ia tidak didepan manusia yang tengah memujinya, mungkin Yoongi sudah mendamprat MC keparat itu. Seenaknya saja memanggilnya mungil, kurang ajar sekali. Sabar, Yoongi, sabar.

"MIN YOONGI!"

"SUGA SUGA SUGA OPPA !"

Sebelum makin ricuh, sang MC mengambil alih. "Wow, wow, oke oke –kalian semakin menggila. Oke, sekarang mari kita dengarkan dari sang masterpiece, the cutest bean but the manliest –Min Suga!"

Teriakan heboh sekali lagi menggelegar. Parahnya Yoongi mendengar suara laki-laki yang ikut menyoraki dirinya –yaampun, ia tidak kuat. Ia berjanji setelah ini ia tidak akan sudi untuk tampil di tempat terbuka seperti ini. Setelah ini ia akan pulang kalau tidak mungkin beberapa gadis meminta foto bareng, hell no.

Suara mic mulai berdengung dan menciptakan keheningan diantara kerumuman penonton. Yoongi menatap mereka dengan tenang dan mulai mengeluarkan aura kharismatik miliknya, yang tanpa sadar sudah membuat beberapa gadis menahan napas. "Lagu ini... ciptaanku sendiri, dan sejujurnya ku dedikasikan untuk seseorang."

Salah kau bicara seperti itu Yoongi, dengarlah betapa melengkingnya teriakan gadis-gadis itu setelah kau bilang begitu. Tapi Yoongi menarik napas pelan dan kembali bicara. "Mungkin dia tidak ada disini –entah dimana. Aku menciptakan lagu ini karena dia selalu memenuhi kepalaku hingga aku tidak bisa membuat lirik seperti tentang perdamaian dunia atau kerasnya hidup, aku membuat lagu tentang cinta."

Kerumunan makin heboh. "Mungkin akan terdengar pasaran tapi, kuharap aku bisa menyampaikan perasaanku lewat lagu ini. Sejujurnya aku sulit mengungkapkan perasaanku secara langsung."

"MIN YOONGI !"

Yoongi tertawa, "Baiklah. Langsung saja,"

Musik mengalun, ada sebuah nada piano dan dengung lembut mengawali. Yoongi menunduk dan mendekatkan mic ke mulut mungilnya dan mulai masuk beat. Suaranya yang dalam dan sedikit serak membuat penonton makin ricuh karena berteriak.

First encounter, first text, first phone call. First date, first kiss in our own space.

I want everything to be a first with you,

I have an eating disorder, whatever i eat, i'm still hungry.For you, the word "addiction" can't express all of this.

Describing a girl like you is impossible, it transcends the poetic.

It's because of you, like a capital letter.

I want to place you first in my life.

A good house, a good car, those things can't be happines but i want to give it to you.

When i'm in love, i'm passionate,

When i'm singing, i'm prickly; passionate and prickly.

Performance diakhiri Yoongi yang mengucapkan kalimat terakhir dengan lembut dan manis membuat kerumunan (khususnya para gadis yang sudah nangis darah dan keringat pelangi) kelepek-kelepek seperti ikan yang baru diangkat dari perairan. Mereka semua terpukau dengan aksi luar biasa Yoongi, bahkan beberapa pria ada juga yang jatuh cinta –kebanyakan hoobae yang terkagum-kagum.

Yoongi berdeham, "Itu baru lagu pertama."

Kerumunan makin ricuh. Lagu pertama berarti akan ada lagu lain yang Yoongi bawakan. Sungguh luar biasa, entah mengapa cuaca makin panas saja. Bahkan beberapa panitia sudah kewalahan dengan terik matahari dan para penjaga di area panggung cukup dibuat repot dengan aksi penonton yang makin lama makin penuh sesak dan riuh. Min Yoongi sungguh hebat, jauh di backstage sana, Hansol menangis penuh haru. Tidak salah pilihannya untuk menjadikan Yoongi sebagai aset utamanya dalam acara hiburan di tengah hari terik ini. Meski sesekali terbengong-bengong melihat area sekitar panggung sudah padat penuh manusia membentuk samudera.

"Seperti yang kukatan, lagu ini juga kubuat untuk seseorang." Yoongi mengawali, ia menatap kerumunan dihadapannya yang makin banyak saja orangnya. Seketika Jimin kembali masuk ke benaknya, matanya sesekali mengawas; barangkali Jimin ada diantara kerumunan ini. "Orang itu sudah lama menghilang –entah dia yang menghindariku, atau justru aku yang terlalu takut dan berlari menghindarinya sejauh yang aku bisa."

"Sahabatku bilang, aku menyukainya. Katanya, aku mencintainya. Aku pikir itu hanya omong-kosong, karena sejujurnya selama ini aku menyukai sahabatku itu."

Bayangan Jimin tertawa muncul, "Tapi belakangan ini aku merasa aku aneh. Aku –bukanlah aku. Entah bagaimana caranya dan entah sejak kapan aku mulai memikirkan dia. Entah mengapa aku merasa hidupku dalam sehari begitu hampa tanpanya. Entah kenapa dia selalu memenuhi benakku."

Kali ini Yoongi yang tertawa dengan pedih. "Padahal sejak dulu aku membencinya. Aku tidak suka dia. Dia sangat mengganggu dan menyebalkan, genit, kurang ajar, dan sok. Dia menguntitku kemana-mana dan bersikap kami ini akrab. Namun dia orang yang baik, tulus, dan jujur. Belakangan ini aku selalu merasa bersalah mengapa aku terus menyangkal perasaanku padanya."

"Sebab aku sangat takut akan perasaan yang ragu ini. Aku ragu. Aku tidak percaya dengan perasaanku sendiri, hahaha, bahkan aku tidak mampu meyakinkan diriku tentang bagaimana sesungguhnya yang aku rasakan padanya. Aku takut dan ragu. Dan hal itu benar-benar lengkap ketika –"

Hening. Kerumunan masih senyap dengan khidmat mendengar kisah Yoongi dan sang pendongeng sendiri terdiam. Tenggorokannya tercekat, rasanya berat sekali untuk melanjutkan kalimatnya barusan. Ia menunduk sebentar dan terdengar teriakan sedih dari para gadis. Tidak, mana mungkin Yoongi menangis sekarang –mau ditaruh mana mukanya ini. "Dia, yang selama ini mengatakan kalau ia menyukaiku dan mencintaiku; omong-kosong."

Yoongi menghela napas pelan, "Dia berbohong. Dan aku –menjadi gila. Entah mengapa aku baru dapat merasakan betapa tajamnya duri tangkai mawar. Aku baru mampu merasakan betapa pedihnya hal sepele semacam ini, sesuatu didalam dadaku –sesak. Penuh sesak sampai bernapas pun aku tersengal. Kupikir, aku sedang menghadapi kematian tapi –aku hanya melihatnya bersama orang lain."

"MIN YOONGI-AH GWAENCHANAYO !"

Mendengar satu suara menggelegar itu, yang lain ikut menyorakinya dengan kalimat yang sama. Dan dilanjut dengan nada serempak yang terdengar lucu sekali di telinga Yoongi. Ia tersenyum simpul dan melihat kerumunan dihadapannya dengan lembut, "Maaf ngelantur, mari kita lanjutkan. Karena crew diujung sana sudah memberi tanda."

Come here i'm about to take u higher, we about to set this love on fire.

This is unfamiliar feeling; even my mom can't stop me.

I told my true feelings, i have finally won. Baby, you should know you change all of my negatives to positives. I've had my throne up, i can see your rose.

The person who makes me run again is you, you probably won't know that yet. I will make you know them all.

I want to be yours, your boyfriend. I want to be accepted different than other dudes.

This may sound just like the movies but i have a sixth sense.

Yeah, i'll be different, i'll be missin', i'll be kissin ya all the time.

I can't seen to figure out your feelings even if i take my eyes away. Hey, it's only the beginning, You gave your heart away, and i gave mine all away as well.

Today is happier than yesterday but why, but why?

We sometimes carry our worries and honest feelings, we care for each other.

I understand that you're cold, i'm always stand below you.

I can't do anything when i'm holding you up on my shoulders. My rotten smile that already became my habit.

I will walk even if you're a fire, so please don't look at me as if you look at stranger. That makes me think of the time when i wasn't a thing for you.

What am i to you? What am i to you?

I do love you, crazy, uh –do you?

Do this, do that, stop making me confused. If you keep doing this, let's sign a contract how many kisses per day, how many kakaotalk messages, will i feel better after that contract?

What am i to you? What am i to you?

I do love you crazy, uh –

Yoongi terdiam dan menjauhkan mic dari mulutnya ketika matanya menatap objek yang mampu membuatnya mual. Musik masih mengalun meski akan masuk ke nada akhir, ia menelan ludahnya berat dan ia benar-benar kaku. Dan para penonton juga tidak terlalu memerhatikan diamnya Yoongi karena tengah mendalami lirik Yoongi barusan dan menangis atau bereaksi yang lain seperti –teriak?

Hal ini sungguh membuat Yoongi lemas, bagaimana bisa diantara sekian banyak manusia dihadapannya, di tengah-tengah penampilannya yang hampir selesai dengan sempurna, dengan pikirannya yang mengawang, dan perasaaanya yang campur aduk; Park Jimin seenaknya datang dengan wanita itu.

Apa barusan Jimin dan gadis itu menontonnya tampil, atau bahkan sejak Yoongi berceloteh tentang perasaannya yang kacau? Entahlah, yang jelas baik Jimin dan Yoongi –mereka hanya diam. Dan entah keajaiban darimana mereka saling menatap dengan pandangan yang penuh arti, sendu, dan terkejut.

Setelah sekitar sepuluh detik, Yoongi mendekatkan micnya kembali. "I do love you crazy, uh –do you?"

Kemudian Yoongi berlari turun dari panggung dengan perasaan dan pikiran yang kalang kabut.

.

.

Yoongi tidak mengira dirinya bisa begitu lemah jika itu tentang Jimin. Ia tidak habis pikir mengapa bisa ia begitu rapuh dan menyedihkan saat ini. Bukankah ia sudah terbiasa dicampakkan? Sejak ia kecil, bukankah ia ditakdirkan untuk dibuang? Bahkan ibunya tidak menginginkan kehadirannya di dunia ini. Jadi, mengapa ia harus sedih jika dicampakkan adalah kodrat yang melekat dalam dirinya sejak lahir?

Ini semua terasa tidak adil, rasanya perih sekali. Entah mengapa perasaan kali ini lebih pedih, lebih perih dibanding sebelumnya. Yoongi biasanya mampu melewati rintangan dengan mudah dan akan lupa namun kali ini entah, rasanya Yoongi sudah lelah. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia tidak mengerti lagi bagaimana ia akan melaluinya, ia tidak paham apa yang harus ia lakukan.

Sebab, jika semua masalah ia selalu mendapatkan pelarian; maka kali ini tidak. Ia tidak tahu kemana lagi ia harus berlari dari Jimin. Ia tidak tahu dimana tempatnya berlabuh dari perasaan gundah ini karena Jimin. Ia kehabisan akal untuk sekadar berpikir, bagaimana ia bisa melupakan Jimin. Ia pikir dirinya sudah benar-benar gila. Sakit jiwa. Gangguan mental. Entah apa lagi namanya, Yoongi tidak bisa memikirkannya lagi. Yang ia pikirkan adalah bagaimana ia bisa menghentikan perasaan sialan yang selalu membuatnya risih dan menorehkan serpihan rasa perih tiap kali ia melihat Jimin –baik sendiri maupun dengan orang lain.

Ingatan tentang bagaimana Jimin menciumnya dan mencium gadis tempo itu membuat kewarasannya terkikis. Kesadarannya kerap kali menipis sehingga ia tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak menangis, ia selalu menangis tanpa disadari dan ini sungguh membuat Yoongi muak dan lelah. Ia tidak suka lelah, ia ingin bahagia, bisakah? Bisakah sekali saja, dalam hidupnya Yoongi merasa bahagia? Mengapa takdir selalu mengajaknya bermain dan berputar-putar? Ia benci jika harus menangis, ia benci melihat dirinya lemah, ia benci menyadari betapa dirinya begitu payah, sebab ini artinya ia sudah jatuh terlalu dalam pada pilihannya yang salah. Dan Yoongi tidak bisa keluar dari lubang hitam yang sungguh dalam itu, ia terjebak, dan akan menderita disana sampai mati dalam kesendirian.

Ia tidak peduli lagi jika harus terluka seperti apa, ia tidak peduli jika orang memandangnya sebagai apa, ia tidak mau tahu bagaimana kehidupannya selanjutnya, karena memikirkannya saja membuatnya pening. Ia mati rasa dan sungguh tidak mampu merasakan apa-apa. Seluruh inderanya mati, hanya pikirannya yang kacau dan amburadul yang menuntunnya pergi, matanya sudah berkabut dengan airmata. Tubunya bergerak sendiri, penciumannya sudah mampet, ia menjadi tuli, dan bisu.

Sampai tiba-tiba tubuhnya ditarik kencang sekali, "JANGAN MATI, BODOH!"

Yoongi terjatuh bersama seseorang yang menariknya dan mengumpatinya bodoh barusan. Barulah ia sadar kalau ia melangkah ke koridor di lantai empat dan hampir terjun bebas dari sana. Ia baru dalam mode on ketika ia tahu ia hampir saja mati jika ia tidak ditolong oleh –

"APA YANG KAU PIKIRKAN?! KAU MAU MATI?!"

Ia sontak menoleh, "Park... Jimin?"

"IYA! AKU PARK JIMIN! DAN APA YANG KAU LAKUKAN BARUSAN, HAH?! KAU BUDEG SAMPAI TIDAK DENGAR AKU BERTERIAK SEPERTI MANUSIA GUA?! KAU HAMPIR MAMPUS KALAU AKU TIDAK MENGIKUTIMU, BANGSAT! KENAPA KAU MAU MATI SEPERTI INI, MIN YOONGI?!"

Yoongi malah diam dengan napas yang berat kemudian bangkit dan hendak pergi. Namun bukan Jimin namanya kalau membiarkan si mungil itu dalam keadaan kacau. Ia menarik tubuh Yoongi yang baru ia sadari ternyata Yoongi makin kurus dari terakhir merek bertemu. Ia menggiring Yoongi memasuki sebuah kelas di arah barat tempat mereka berdiri dan memandang Yoongi tajam, "Jelaskan padaku apa yang terjadi padamu, Yoongi."

"Tidak ada."

"Kau hampir mampus dan kau bilang tidak ada yang terjadi padamu? Kau pikir aku percaya?"

"Tidak percaya yasudah, lepaskan aku, keparat."

Bukannya mendengarkan, Jimin malah mencengkeram bahu kurus Yoongi. Menghentaknya agak kasar sampai Yoongi meringis perih. Ia baru sadar Jimin sangatlah kuat, "Kenapa –"

Di detik berikutnya, Yoongi membuka mata terkejut karena mendengar suara Jimin yang parau. Ia melihat Jimin tengah menunduk, enggan menunjukkan wajah tampan miliknya. Bahunya nampak bergetar dan suara deru napasnya berantakan. Jemarinya mencakar bahu Yoongi kuat, bahkan getaran tubuhnya sampai ke Yoongi.

"Kenapa kau seperti ini, Yoongi hyung? Kau tahu, aku takut sekali kalau kau mati, aku –aku takut."

Dengan pelan tangan Yoongi menggengam lengan Jimin dan menjauhkannya dari bahunya yang sudah terasa berat. Ia menatap Jimin yang baru saja mendongak menatapnya, mereka terdiam sampai akhirnya Yoongi angkat bicara. "Aku –aku juga tidak tahu kalau aku berjalan kesana, sungguh aku sedang kacau dan tidak sadar kalau aku hampir terjatuh dari sana."

Selanjutnya Yoongi tertawa, "Seharusnya kau tidak usah datang, Jimin. Akan lebih menarik jika aku terjun dari sana dan mencipratkan darahku."

"Apa?"

"Akan lebih baik jika aku mati –"

Sontak darah Jimin berdesir kencang sekali. Jantungnya berdetak lebih kencang –dan mungkin ini yang paling kencang dibanding sebelumnya. Tangannya mengepal kuat, dan wajahnya mengeras. Ia benci ketika Yoongi bicara seperti itu. "Berhenti berputar-putar dan jelaskan mengapa –"

"Karena kau berbohong padaku!"

Tidak tahan lagi, akhirnya Yoongi berteriak dengan suara serak dan paraunya. Ia tidak peduli jika pita suaranya putus atau apa, ia sudah lelah dan marah sejak tadi. Ia tidak kuat menahan perasaannya sendiri lebih lama, dan bicara dengan Jimin membuat kepalanya serasa mendidih –panas dan meletup.

Namun Jimin tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

Bukan ini yang Yoongi harapkan sebagai jawaban yang dikeluarkan bibir penuh dosa dari seorang Jimin. Bukan lagak aku-tidak-mengerti-yang-kau-bicarakan yang ingin ia dengar, ia tidak butuh akting murahan penuh dosa dan kelicikan macam ini. Apa maksudmu dia bilang? Apakah Jimin sebegitu bodoh dan tidak pekanya sampai Yoongi harus menjelaskan dengan detail? "Terserahmu, simpulkan sendiri."

Jimin marah bukan main ketika Yoongi meludahinya dan melenggang pergi. Namun ia tidak peduli apakah ia akan dipandang murah atau apa oleh Yoongi, ia masih menahan Yoongi pergi dari sini. Ia harus menyelesaikan masalah tidak jelas ini. Ia tidak peduli sehebat apa Yoongi berontak dalam pegangannya, ia tidak akan semudah itu melepaskan Yoongi tanpa kalimat yang lebih jelas. Ayolah, Jimin berbohong apa memangnya? "Bicaralah dengan jelas, Min Yoongi!"

"Dasar bodoh kau –"

Jimin menyentak, "IYA! AKU MEMANG BODOH DAN TIDAK TAHU DIRI, KEPARAT BANGSAT, APALAGI?! SEBUT SEMUA HYUNG, ANJING BABI KUCING CICAK TELEK! SEBUT SAJA TAPI JELASKAN MENGAPA KAU SEPERTI INI, MIN YOONGI!"

"Lepaskan aku kau bangsat jahanam."

Tidak peduli seberapa kuat Yoongi mencoba melepaskan diri, Jimin terus menggengamnya kuat-kuat dan memaksa Yoongi bicara dengan benar. Jimin kehabisan akal apa kiranya yang coba Yoongi utarakan tentang perasaannya sebab Yoongi bukanlah orang yang dengan mudah mengatakan apa yang ia nginkan dan mengutarakan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya. Yoongi memang blak-blakan tapi hanya dalam hal mengumpat, jika itu tentang perasaannya yang kacau balau maka bicara bukanlah jalan seorang Min Yoongi. "PERSETAN KAU MAU BILANG AKU –AISH! IYA! TERUS SAJA LUDAHI AKU SAMPAI LUDAHMU HABIS KEKERINGAN TAPI BICARALAH PADAKU DENGAN BENAR!"

Maka Yoongi terus meludahi Jimin tanpa ampun. "KUMOHON BICARA, MIN YOONGI, BICARA! KENAPA KAU TIDAK MAU DENGAR?! APA AKU SEBEGINI HINA BAGIMU?!"

"Lepas..."

"KAU TIDAK TAHU BETAPA KAGETNYA AKU SAAT JUNGKOOK BILANG KAU MENYAKITI DIRIMU SENDIRI?! KUMOHON SEKALI INI DENGARKAN AKU DAN BICARA! AKU TIDAK BISA MEMBIARKANMU MENDERITA SENDIRIAN, YOONGI HYUNG JADI –MIN YOONGI!"

Jimin tidak sempat melanjutkan amarahnya karena merasa pergerakan Yoongi melemah dan ia mendapati Yoongi menangis hebat. Tubuhnya gemetar dan sesenggukan, ia tidak mampu menopang dirinya sendiri lagi dan hampir merosot. "Mi –Min Yoongi, dengarkan aku –aku –"

Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Yoongi mendorong Jimin yang tengah lengah dan mencoba berdiri meski hasilnya ia sempoyongan dan tidak mampu tegak –persetan lah. "Aku benci. Aku benci padamu."

"Aku benci diriku sendiri –"

"Hyung –"

Yoongi berdecak, "Kau mau aku bicara? Baik, aku akan bicara karena aku kesal! Aku marah, aku murka. Aku benci. Benci. Benci pada diriku sendiri mengapa aku bisa sebegini dalam jatuh sampai tidak sadar aku sudah separah ini terluka. Aku benci mengetahui aku lemah dan tidak berguna. Aku benci diriku yang menganggap bahwa hidupku bisa lebih baik sebab takdir hidupku memanglah menyedihkan dan hina, patut dikasihani –ah, tidak. Tidak ada empati dalam kisahku jadi selayaknya aku dibuang saja."

" –jadi wajar kalau aku mati! Kenapa kau enak saja datang dan melarangku mati! Kau pikir dirimu Tuhan? Dewi keberuntungan? Atau malaikat maut, begitu? Kenapa kau seenaknya merenggut kebahagiaanku untuk bisa segera mengakhiri kesialanku dan segera mampus ke neraka, Park Jimin? Mengapa kau jahat padaku? Tidak bisakah kau biarkan aku mati dan segera menderita di neraka?"

Tangisnya makin berderai hebat. "Aku benci padamu. Seenaknya saja datang di kehidupanku yang sudah sial ini dan kau menjanjikan kebahagiaan tapi apa, Park Jimin?! Kau berbohong, kau ingkar, kau pendusta! Kau pendusta penuh dosa dengan umbar janji manis terselubung dalam lidahmu yang lunak dan sok suci! Kau hanya mendatangkan kesialan berlipat ganda padaku! Kau hanya membuatku menderita dan semakin frustasi! Bahkan membiarkanku mati saja tidak mampu, kau ini sampah bangsat!"

Mendengar Yoongi mengumpat itu membuat darah Jimin mendidih. Ia marah sekali mendengar Yoongi mengatakan hal seperti itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, jauh dalam lubuk hatinya ia menangis. Berpikir, apakah benar yang Yoongi katakan barusan –bahwa kehadirannya hanya membuatnya terluka lebih dalam?

"Kau dan mulut busukmu yang penuh kebohongan –"

Jimin menyela, "Aku bohong apa padamu?!"

"KAU TIDAK MENCINTAIKU!"

Yoongi bernapas dengan kacau usai berteriak hebat barusan. Ia muak sekali dengan wajah Jimin yang terus berakting seolah ia ini tidak bersalah. Ia benci melihat wajah polos itu. "Kau bohong, Park Jimin. Kau bohong –"

Ucapannya sedikit terpotong karena menangis. " –kau sama sekali tidak mencintaiku. Kau hanya membual. Kau hanya senang mempermainkanku, bukan? Congratulations! Kau berhasil mengobrak-abrik hidupku. Hebatnya kau mampu memporak-porandakan pikiranku yang sudah rumit jadi tambah ruwet! Aku bangga padamu."

"A –apa? Aku tidak mengerti."

"Kau senang ya membuat hidupku rumit? Apa kau bangga? Kau bahagia mempermainkan seorang gay sepertiku? Kau senang melihat orang menjijikkan sepertiku, yang menyukai sesama jenis, kau girang membuat orang seperti aku menderita? Hei, perlu kau tahu aku ini manusia pula, sampah!"

Yoongi menangis. Dan itu membuat Jimin tercekat. "Kenapa kau main-main pada seseorang sepertiku? Kau datang padaku dan selalu mengatakan kau menyukaiku, menyayangiku, mencintaiku tapi itu hanya omong-kosong. Sekarang aku tidak percaya lagi, tapi hatiku perih, Jimin. Apa kau senang memainkan perasaanku sampai aku hancur seperti ini? Ah, memalukan –sudah kubilang harusnya aku mati saja tadi."

"Hyung –"

"Kenapa kau mengatakan kau mencintaiku kalau kau sesungguhnya mencintai perempuan?"

Jimin kehabisan akalnya kali ini. Otaknya mampet untuk berpikir, ia tidak bisa mencerna perkataan Yoongi. Bagaimana bisa Yoongi mengatakannya berbohong; terlebih soal perasaannya pada Yoongi. Bagaimana mungkin Yoongi bilang kalau semua ucapannya hanya bualan manis di bibir saja, jika sesungguhnya ia memang mencintai Yoongi. Jimin tidak habis pikir bagaimana bisa Yoongi berpikir ia mempermainkan perasaan Yoongi sebagai seorang gay –hei, Jimin kan gay juga. Tapi apa maksudnya Yoongi bilang kalau ia mencintai perempuan?

Masih dengan sesenggukan, Yoongi bicara. "Kau tahu? Aku ingin menggunting bibirku karena aku tidak bisa melepaskan ingatanku ketika kita berciuman. Aku kesal mengapa aku selalu berdebar mengingatnya. Aku marah karena aku selalu ingat ciuman itu. Dan aku benci bahwa kita telah berciuman."

"Bicaralah dengan jelas, hyung –"

"Karena aku benci melihatmu mencium orang lain selain aku."

Seketika suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara lagi, tidak ada suara lagi kecuali Yoongi yang manis menangkup wajahnya sendiri dan menahan suara tangisnya yang semakin menjadi. Sedangkan Jimin tercekat dengan amarah Yoongi barusan. Jantungnya berdetak cepat sekali dan ia merasa bahunya berat seketika. Ia terkejut; bagaimana Yoongi bisa mengetahuinya? Bagaimana mungkin Yoongi melihatnya berciuman dengan oranglain? Ia merasa dirinya begitu bodoh dan kurang ajar, jahat, tidak berperasaan. Lihatlah betapa lemahnya Yoongi yang tengah menangis saat ini. Sejak dulu Jimin berniat menghilangkan kata tangis dalam kamus Yoongi tapi hasilnya, justru Yoongi menangis dan menjadi hancur lebur karena ulahnya sendiri. Dan ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, Yoongi dan kesedihan ada titik lemahnya.

Perlahan Jimin mendekat, "Kau –kau salah paham, hyung, aku –"

"Kau pikir aku buta? Bodoh? Aku pria dewasa, Jimin. Aku tahu apa arti sebuah ciuman di bibir!"

Jimin mendesah frustasi. "Tidak, Yoongi hyung –dengarkan aku, kami –"

"Terserah. Bicara sepuasmu tapi aku sudah lelah. Aku lelah percaya padamu. Aku tidak mau dan tidak akan sudi lagi mendengar ucapanmu yang isinya hanya bualan bajingan saja! Sana jadi pujangga kalau mau membual dan buat dirimu jadi primadona atau apalah. Tapi jangan dekati aku dan katakan hal-hal bodoh seperti dulu lagi!"

Jimin memelas, "Yoongi hyung,"

Namun Yoongi tidak bisa berhenti menangis dan bicara. Entah kenapa mulutnya terasa gatal sekali ingin mengeluarkan kalimat yang menumbung dan telah kusut tidak karuan dihatinya. Dadanya penuh sesak dengan kata-kata, maka Yoongi sudah kebelet untuk mengeluarkannya. "Aku marah pada diriku sendiri. Aku kesal sekali, kalau aku mampu, aku ingin memukul diriku sendiri. Itulah jawaban mengapa aku melukai diriku sendiri, kalau kau mau tahu."

"Aku marah pada diriku, kenapa dengan polosnya membiarkan semua mengalir begitu saja. Aku marah mengapa aku dengan bodohnya mengira aku bisa mendapat kehidupan yang lebih baik. Kau datang, Jimin, kau datang padaku dan aku tidak sadar kau mampu mengubah pandanganku padamu. Aku tidak mengerti diriku lagi sejak kau bersamaku. Aku tidak bisa lagi mengontrol diriku jika denganmu. Aku tidak paham mengapa aku terus memikirkanmu, dan aku tidak mengerti mengapa aku tidak bisa menghilangkanmu dari benakku bahkan untuk satu menit dalam dua puluh empat jam hidupku."

"Aku marah, mengapa aku tidak bisa menyadari betapa kau amat sangat tulus padaku. Aku marah mengapa aku; orang yang harus kau sukai. Aku marah karena kupikir aku tidak akan mampu membalas perasaanmu, aku kesal. Tapi aku lebih marah saat menyadari betapa aku begitu memikirkanmu, lebih dari yang kubayangkan. Betapa aku begitu merindukanmu meski kau tengah bersamaku. Betapa aku begitu nyaman meski hanya dengan tatapanmu. Betapa aku tidak bisa memikirkan hal lain kecuali tentangmu. Betapa aku begitu bodoh untuk menyadari bahwa kau memiliki arti dalam hidupku –"

" –sebab aku takut. Aku sungguh takut jika aku akan menderita, aku sudah lelah mengeluh pada kenyataan. Aku penat untuk berlari dari masalah. Aku letih untuk membayangkan jika aku harus sendiri. Aku ragu dengan diriku, aku ragu denganmu, aku ragu dengan perasaanku sendiri. Tapi kau seenak jidat menghilang, Jimin. Kau pergi dan datang dengan lagak menyebalkan sampai aku muak. Aku benci kau datang, aku benci kau kembali, aku benci kau melakukan ini padaku, aku benci kau terus membual, aku benci kau berbohong, –"

"Dan aku benci menyadari bahwa aku –" Yoongi menelan ludahnya berat. "Aku mencintaimu."

Dan Jimin tidak bisa tidak terpaku mendengarnya. Seluruh tubuhnya kaku dan tegang. Jantungnya berdegup kencang sekali sampai rasanya sakit luar biasa. Seketika otaknya kosong melompong. Mulutnya menganga sedikit, dan matanya berkaca-kaca. Perutnya geli sampai ke ujung kepala, hidungnya gatal dan memerah. Jimin sungguh bahagia.

Maka entah bagaimana dengan segala keberanian yang dimiliki Jimin, ia mencium Yoongi untuk yang kedua kalinya. Menghantarkan perasaan gembiranya pada makhluk mungil dihadapannya yang terbeku karena ciuman tiba-tiba ini. Terserah, tapi Jimin bahagia bukan main mendegar kalimat sakral dari mulut Yoongi sendiri. Ia nyaris gila saking girangnya, benarkah –atau ini hanya mimpi? Tapi ciuman tidak terasa sehangat ini jika didalam mimpi.

Dan Yoongi dengan segala egonya yang tinggi harus runtuh karena sebuah ciuman memabukkan dari Jimin. Ya, Yoongi tahu Jimin selalu sukses membuatnya terombang-ambing dengan situasi. Seolah ia mudah dipermainkan nasibnya. Tapi entah mengapa seberapa banyak Yoongi mengatakan ia benci, ia akan terbuai dan menyerah kalah pada Jimin. Jimin selalu mampu membuatnya lemah dan mengalah. Entah benar ia tulus atau tidak, Yoongi tetap terlena. Bahkan cara Jimin menyapu langit-langit mulutnya membuatnya gila dan serasa fly. Ia mungkin bisa sungguhan sakit jiwa jika Jimin menyiksanya seperti ini.

Jimin menggigit bibirnya tapi Yoongi hanya merasakan kelembutan disana. Sesuatu didalam dadanya meledak saat Jimin menangkup wajahnya dan semakin dalam menciumnya. Jimin mencengkeram pelipisnya dan membuka paksa mulutnya tapi Yoongi hanya semakin fly dan menggila. Pikirannya berkabut tidak karuan. Dan mungkin Yoongi bisa sungguhan mati ketika Jimin mengusap bibirnya sensual usai berciuman panas barusan dan menatapnya lembut.

"Aku mencintaimu dan aku tidak pernah berbohong akan itu."

Jimin mengelus pelipis Yoongi, "Aku tidak mungkin mempermainkanmu. Aku sungguh mencintaimu, Yoongi hyung. Dan untuk hal yang membuatmu gila –aku minta maaf."

"Jeong Yein namanya. Sepupuku lebih muda hampir tiga tahun dan dia –skizofrenia sekaligus alzheimer. Ingatannya sudah buruk sampai keluarganya tidak bisa berhenti menangis tujuh hari tujuh malam. Kami juga bingung, karena dia juga mengidap skizofrenia. Ia tidak bisa berhenti menghayal ini itu. Dan dia kerap kali menganggapku Lee Sungjong; pacarnya yang sudah meninggal karena menyelamatkannya dua tahun lalu. Kami tidak mirip, tapi keberadaanku yang selalu disisinya membuatnya berpikir aku adalah Sungjong."

Entah bagaimana Yoongi menyela, "Dan kau dikorbankan untuk menjadi Sungjong baginya?"

"Kasarnya begitu. Orangtua Yein berharap aku bisa menemaninya setidaknya sampai akhir hidupnya. Mereka ingin Yein bahagia saat meninggal dan memohon agar aku memberikan kenangan indah meskipun pasti ia akan lupa. Dan suatu hari aku menemukan bucketlist miliknya yang sudah usang; mungkin karena sudah lupa. Disana tertulis ia ingin berciuman dengan Sungjong –karena Sungjong pernah bilang ia hanya akan mulai menciumnya di altar; sebelum itu, tidak akan. Dan yah –itu terjadi. Maafkan aku, Yoongi, aku hanya terbawa suasana saat itu dan aku menyayangi Yein. Dia gadis baik dan polos, aku tidak tega mengetahui kalau ia akan segera mati. Terlebih ia tidak mengenaliku sebagai Jimin tapi –sebagai Sungjong."

Yoongi terdiam. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, ia pusing dan lelah sekali. Haruskah ia percaya pada Jimin sekali lagi? Haruskah Yoongi membiarkan dirinya terbawa arus yang Jimin berikan? Apa Yoongi harus memberikannya kesempatan lagi untuk memulai kisah baru? Tapi penjelasan Jimin sungguh membuatnya gila. Dan tidak mengerti. "Maafkan aku, Yoongi hyung, aku –kau boleh pukul aku sesukamu! Tidak apa, pukul saja aku!"

Jimin memegang lengan Yoongi dan memukulkannya ke kepalanya sendiri. "Pukul hyung, pukul saja aku! Aku memang pantas dihukum, tidak apa, hyung. Aku kuat!"

Dengan sekali hentak, Yoongi menarik lengannya. "Aku sudah sering menjitak kepala udangmu itu, nanti kau jadi semakin bodoh dan amnesia."

"Tapi hyung jangan marah lagi padaku~ Yoongi hyung, maafkan aku. Kau harus percaya padaku, aku tidak pernah berbohong –apalagi soal perasaanku padamu, aku sungguhan mencintaimu dan –"

Tau-tau Yoongi melenggang pergi, "Terserahmu lah. Aku mau nonton festival."

Jimin tersenyum puas. Senyumnya mungkin lebar sekali sampai bisa merobek bibirnya sendiri. Tidak apa lah, ia sedang bahagia bukan main. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Sungguh luar biasa. Meskipun agak menyedihkan tapi ia girang bukan main mendengar Yoongi mengatakan 'aku mencintaimu'. Oh Tuhan, jadi selama ini usahanya tidak sia-sia, kan? Karena meski melewati penderitaan yang bertubi-tubi akhirnya perasaannya terbalas. Meski ia harus membuat Yoongi terluka dahulu, namun nyatanya ia terluka karena mencintai Jimin. Astaga, bagaimana bisa Jimin tidak senang? Jimin amat sangat luar biasa gembira sampai dadanya hampir meledak saking menggebu-gebunya.

"Sedang apa kau disana? Senyum seperti orang gila."

Jimin cengengesan, "I'm coming~ " dan ia berlari mengejar Yoongi yang tau-tau sudah berjalan hendak turun. Ah, Jimin memang kebanyakan bengong sejak tadi –salahkan Yoongi yang membuatnya kelepek-kelepek begini. Ia pun merangkul pundak Yoongi dan mencubit pipi serta mengusak surai halus kelabu perak milik Yoongi yang mengakibatkan erangan sebal dari empunya.

"Ayo cepat, kudengar Taehyung sunbae dan Kookie akan duet, loh."

Sontak Yoongi terkejut dan menampilan wajah terlucunya bagi Jimin. "Wow~ benarkah? Kalau begitu ayo cepat kesana. Aku harus menilai lagunya Taetae! Ya! Jimin-ah, ayo ayo!"

Dan Jimin hanya tertawa menanggapi sikap menggemaskan kekasihnya. Tunggu, memang sudah resmi jadi kekasih? Ah, Yoongi bukan tipikal yang memikirkan hal seperti status menggelikan itu. Jimin pun begitu; cukup mengutarakan perasaan mereka dan –ekhem– berciuman maka selesai sudah, mereka akan bersatu menjalani kisah romansa ini.

"Iya, love. Sabar sedikit dong. Aku cemburu nih, masa kau menggebu begitu ingin lihat Taehyung?"

"MATI SANA TERUS MASUK NERAKA!"

.

.

Sang MC kembali ke tengah panggung setelah grup band indie menghibur. Ia sesungguhnya tengah minum jus jeruk tapi tiba-tiba disuruh naik panggung –menyebalkan. Dia kan ingin istirahat sebentar. Bukan penyanyi saja yang harus menyegarkan tenggorokan, MC juga hampir mati karena tenggorokannya kering dan gatal saking banyaknya bicara dan teriak meski sound system sudah luar biasa kencang. Hansol juga bilang tidak usah teriak seperti orang gila, tapi entah kenapa ia got too much excited!

Mic berdengung lagi. "Oke, Joshua Hong is back. Bagaimana pengampilan Busker-Busker? Nice, right?"

"AJU NICE !"

Joshua tertawa lembut sampai beberapa gadis di tribun depan pingsan. Habisnya, Joshua tertawa itu gantengnya sungguh seperti melihat malaikat turun surga. Julukannya the dangerous man. Tampannya sungguh tidak kira-kira. "Nah, sebagai pelembut, langsung kita panggil saja –eh? Angel Vocals?"

Kemudian Taehyung dan Jungkook naik ke atas panggung dan melangkah mendekat. Jungkook berjalan malu-malu. Dilihat dari ekpresi Joshua yang barusan membaca nama grup mereka –ah, memalukan. Bagi Jungkook nama itu juga norak. Salahkan Taehyung yang memilih nama itu! Sebenarnya Jungkook mengusulkan untuk menamai gabungan nama mereka saja seperti Taekook atau Vkook tapi kata Taehyung itu hal mainstream dan lebih norak. Yaampun, Angel Vocals?! Itu lebih norak lagi, astaga mereka bahkan tidak sefeminim namanya –sekali ini, Jungkook malu punya pacar macam Taehyung.

"Lagu ini buatanku sendiri." Jungkook mengerutkan keningnya. Aduh, kenapa Taehyung berlagak seperti leader sekarang, sudahlah. Dia jadi pusing sendiri. "Dan lagu ini bertemakan cinta."

Joshua menimpali, "Wow, seperti yang diucapkan Min Suga! Kalian dekat?"

Entah apa arti tatapan menyebalkan Taehyung pada Jungkook itu. "Oh~ dekat sekali, dekaaaat sekali!"

Sabar, Jungkook. Sabar.

"Oke, langsung saja. Kepada –eh... Angel Vocals, make some noise!" kemudian kerumunan heboh dan Joshua turun dari panggung. Dipikirannya masih ada jus jeruk segar menggoda di backstage. Ia benar-benar haus dan sedari tadi ia menahan untuk tidak terbatuk, kerongkongannya perih dan gatal.

Taehyung tersenyum pada Jungkook namun si mungil malah bersikap jutek. Sampai akhirnya Taehyung menggelitik dagunya untuk menggoda kemudian berbisik. "Jangan ngambek atau perlu kucium kau disini?"

"Cium saja dan kupastikan kau akan menelan seluruh koleksi sepatu timberlandku."

Taehyung tertawa lagi, "Kau makin mirip Yoongi."

"Kau –!" sebelum Jungkook makin marah Taehyung tertawa dan menyudahi godaannya. "Oke, oke. Ayo kita mulai, semoga Yoongi dan si bantet mendengarkan lagu ini dan segera jadian."

Mendengarnya, Jungkook tersenyum kembali. Ah, ingin rasanya ia melihat Jimin dan Yoongi berdua lagi, bagus lagi kalau dalam keadaan mereka sudah saling mencintai dan jadi pasangan. Ia kangen Yoongi omong-omong. Galak-galak begitu, Yoongi ngangenin ternyata. Ah, semoga mereka berdua segera sadar perasaan masing-masing.

Jungkook dan Taehyung saling menatap dan tersenyum, kemudian musik mulai mengalun.

I give it to you~ altough it was bit awkward, i want to give it all to you

I give it to you~ to me, who sometimes cries and laughs, it's only you. For you.

The first moment i saw you, with short hair and a pretty outfits.

I only remember that image.

You can't go anywhere, you have to only look at me too.

I don't know why my heart is like this. I only think of you always

I'll become a rhythm and a song, and sing it for you.

(good to you) i only have you

(good to you) even if i'm far away, always stay by my side

(good to you) you're my everything, even if the difficult tomorrow comes; hold my hand.

I give it to you~ altough it was bit awkward, i want to give it all to you

I give it to you~ to me, who sometimes cries and laughs, it's only you. For you.

good to you, good to you, good to you~

.

"Siap, hyung?"

Yoongi menghembuskan napasnya keras dan memantapkan hatinya. Memang terasa berdebar tapi ia akan berusaha lebih keras lagi kali ini. Ia tidak ingin mengecewakan Jimin lagi. Ia memandang hamparan rumput didepannya dengan seksama dan pandangan yang tajam dan mantap. Ia mengangguk dan Jimin bersedia dan mengatakan oke lalu mendorongnya maju.

"Kau pasti bisa Yoongi hyung!" Jimin berteriak dan terus mendorong Yoongi yang tengah konsentrasi penuh dengan keseimbangannya mengendarai sepeda. Sampai kira-kira sepuluh langkah Jimin berjalan ia menyeringai iseng.

"Jangan lepas dulu ya, aku –"

Jimin tertawa dengan keras sampai perutnya sakit. "DAEBAK! KAU SUDAH BISA HYUNG HAHAHAHAHA!"

"E –eh?" Yoongi kaget bukan main, ia tidak oleng saat mengendarai sepeda makanya ia kira Jimin masih membantunya berjalan tapi dia bilang Yoongi sudah bisa! "Wa –wah! Jimin –astaga, Park Jimin! Aku bisa –akhirnya aku bisa? Sungguhan bisa?!"

Jimin tertawa makin kencang mendengar pekikan girang tak percaya dari mulut Yoongi. Kekasihnya itu lucu dan amat sangat menggemaskan. Wajah gembiranya itu sungguh lucu seperti anak kecil dan lihatlah, bahkan Yoongi sudah berlarian jauh kesana-kemari berputar-putar mengelilingi taman dan beberapa anak kecil malah menimbrunginya dan mereka tertawa bersama.

"Hei, bocah –lihat, aku juga bisa! Hahahaha! Kejar aku kalau bisa!"

Memang kalau melihat Yoongi dalam mode bahagia itu sungguh kesenangan tersendiri. Jimin tidak bisa menahan senyum lebarnya kala Yoongi tertawa lebar tanpa henti, seperti bukan dia yang biasanya jutek tapi ia sungguhan bahagia melihat Yoongi-nya bisa gembira dengan alasan sederhana seperti itu.

Langit sudah semakin silau dengan cahaya oranye yang mampu membuat matanya sipit. Jimin berlari mendekati Yoongi yang asyik main kejar-kejaran dengan anak-anak kecil yang meneriakinya untuk berhenti main karena mereka sudah menyerah tapi Yoongi malah iseng mengejar mereka balik dan membuat anak-anak itu tertawa kegirangan.

Jimin tersenyum menangkap Yoongi. "Gotcha."

Dan hampir saja Jimin terbuai oleh rajukan Yoongi yang tengah cemberut itu. "Aish, apasih Jimin. Lagi seru main, tahu. Minggir deh, yang botak itu mengejekku terus daritadi, ya! Jimin-ah! Awas dong –!"

"Sudah sore." Jimin tersenyum dan dengan cepat mengecup bibir Yoongi. "Pulang yuk."

Hanya sebuah kecupan. Dan wajah Yoongi sudah memerah total sampai Jimin terkikik melihat wajahnya yang sangat menggemaskan. Ah, memang kapan Yoongi tidak menggemaskan. Dalam dua puluh empat jam hidupnya ia selalu memandang Yoongi sebagai mahkluk menggemaskan, ah ia selalu gemas. Ia mengusak surai lebat Yoongi dan mencubit pipinya yang –sial, malah tambah merah.

"Banyak anak kecil tahu!" suara Yoongi yang bisik-bisik bahkan terdengar menggemaskan.

"Hyung!" seorang anak kecil berambut merah maroon datang bersama teman-temannya. "Besok datang lagi ya, kita main lagi. Akan kupanggil pasukanku dan hyung harus mentraktir kami semua eskrim karena pasti hyung kalah!"

Yoongi tertawa jahat dan berkacak pinggang. "Lihat saja besok –yang ada kau yang harus membelikan hyung eskrim, bocah."

"Ogah. Pokoknya besok kami tunggu eskrimnya –bye!"

Jimin menatap wajah sumringah Yoongi yang asyik melambai pada anak-anak tadi dan mulutnya terbuka lebar menampilkan gigi-gigi mungilnya yang lucu. Ah, menggemaskan sekali. Jimin tidak tahan.

"Maaf tapi aku tidak tahan lagi." Dan Jimin kembali mencium Yoongi, menggiringnya pada ciuman dalam yang sungguh manis dan memabukkan. Jimin menggunakan lidahnya kali ini, menyapu pelan langit-langit mulut Yoongi dan menghantarkan kelembutan dalam setiap sentuhan yang Jimin berikan.

Sejak pertama kali Jimin menciumnya, Yoongi sudah terbuai. Entah Jimin memang seorang good kisser atau bagaimana tapi caranya mencium benar-benar membuat Yoongi kepayang. Ia seolah terbang menembus awan sampai tidak sadar lagi. Jimin sangat ahli membuatnya terbuai dan terpana bahkan hanya dengan usapan lembut di pelipisnya mengakibatkan sekujur tubunya lemah tak berdaya.

Jimin melepas ciumannya. "Sudah tidak ada anak kecil, jadi boleh dong ciumnya lebih intim lagi?"

"MESUM JAHANAM KAU!" Yoongi menjambak rambut lepek Jimin yang beraroma lavender bercampur daun mint dan raspberry. Wangi yang membuat Yoongi kelepek-kelepek, kalau mau jujur. Hanya dengan aroma itu Jimin jadi lebih seksi –astaga.

"Iya iya, Yoongiku sayang, pulang yuk." Jimin meringis karena kekuatan Yoongi masih saja sama walaupun mereka sudah berpacaran, dasar kejam. "Nah, kau kubonceng. Ayo ayo, aku lapar."

Yoongi mendecih, "Dasar. Pasti mau modus ke tante minta makan." Dan Jimin hanya cengengesan mendengar sindiran Yoongi. Bukan sindiran juga, sebenarnya. Karena ia memang berencana modus untuk dimasakkan sesuatu. "Kayak gak punya makanan dirumah saja kau."

"Diamlah daripada kau yang kumakan." Jimin menyeringai karena yakin Yoongi pasti merona.

Selanjutnya adalah diam yang mengalun. Tidak ada diantara mereka yang bicara, hanya hening menikmati pemandangan dan membiarkan angin menembus kulit dan menggerogoti paru-paru mereka penuh oksigen. Yoongi menikmati keheningan seperti ini, meski sunyi tapi sesuatu dalam dadanya tak berhenti berdegup bahkan ia sendiri takut kalau Jimin sampai mendengar gemuruh jantungnya ini. Entah mengapa hari ini terasa menyenangkan sekali, ia bahagia dan tidak dapat berhenti tersenyum.

Sesaat Yoongi memutar ulang memori mereka berdua. Betapa dulu ia membenci Jimin, kesal dengan kehadiran bocah genit itu, berharap Jimin mati ke laut saja. Kadang ia tertawa mengingat betapa Jimin nampak seperti masokis gila yang tidak berhenti mengejar-ngejar dirinya. Ia berpikir betapa dirinya begitu memikat –hah, bahkan Jimin sampai tergila-gila.

Atau saat melihat Jimin berciuman dengan sepupu Jimin itu, kadang ia sedih juga. Tapi ia mencoba ikhlas mengingat gadis bernama Yein sedang dalam masa terberat di hidupnya, meski dia kadang cemburu dan kesal tapi ia mencoba bersikap dewasa. Tidak masalah kalau Jimin bertemu Yein, sekali ini saja ia ingin menjadi orang yang berguna; membahagiakan orang lain sebelum meninggal itu perbuatan baik, kan? Dan Yoongi tidak begitu ambil pusing.

"Omong-omong," Yoongi tiba-tiba memecah keheningan. "Waktu itu –di halte, kok kau bilang padaku untuk melupakan perasaanmu padaku?"

Jimin tertawa, "Habisnya aku lelah. Kau tidak jujur pada dirimu sendiri sampai aku gemas menunggu. Saat itu aku sedang tertekan; ada banyak masalah yang datang dan melihat hyung terus mengelak aku jadi kesal dan merasa putus asa. Kupikir cukup saja, tidak apa hyung tidak membalas perasaanku asalkan hyung baik-baik saja dan bahagia, tidak masalah. Maka waktu itu aku memohon padamu, berharap kau melupakan bahwa aku pernah ada dalam hidupmu, mengganggumu, mengusikmu, dan mencintaimu."

Beberapa daun gugur dengan cantiknya. "Setelah itu –seperti yang kau tahu, aku menghilang. Tidak hanya menyuruhmu, aku juga memforsir diriku, mendoktrin pikiranku, meyakinkan diriku sendiri untuk turut melupakanmu. Melupakan perasaanku yang tidak kusadari jadi begini besar. Aku lelah, jujur saja dan aku berpikir aku sudah gila karena telah begitu payah mengejarmu namun tidak bisa secuil pun merenggut perasaanmu untuk sekadar tertarik padaku. Hah, saat itu aku benar-benar gila dan putus asa."

Suara Jimin yang begitu tenang mampu menjatuhkan daun-daun dari rantingnya hingga Yoongi terpana dan tidak bisa berhenti menatap punggung Jimin yang begitu lebar dan menyenangkan dipeluk. Ah, bahkan Yoongi tidak sadar kalau ia sudah memeluk Jimin. Baginya Jimin seperti magnet yang mampu membuatnya teru-terusan menempel. Ah, memalukan.

"Tapi melihatmu ternyata cemburu aku berubah pikiran."

Yoongi mencubit pinggang Jimin dan memekik sedangkan Jimin hanya tertawa lepas. Menyenangkan sekali mengubah mood Yoongi kembali jadi pemarah. Karena Yoongi dalam mode marah itu luar biasa menggemaskan. "Akui saja, kau pasti suka mengurung diri di kamar dan marah-marah tidak jelas kalau aku harus pergi dengan Yein, kan."

"Apaan, sih." Yoongi memukul punggung Jimin. Suaranya tergagap. "Siapa juga."

"Yah, Yoongi-ku kalau sedang malu memang yang paling menggemaskan."

Yoongi melotot sebal. "Kau –astaga, kau benar-benar –!"

"Benar-benar mencintaimu~" Jimin memainkan ucapannya dengan nada kemudian tertawa. "Ayolah Yoongi hyung, gausah ngambek aku takut bibirmu putus karena kucium dengan kasar nanti."

Dan apakah Yoongi sudah sering mengatakan kalau Jimin itu mesum? Karena sial, Jimin itu mesumnya luar biasa akut, menyebalkan. Tapi Yoongi lebih sebal karena ia malah merona dan berdebar karena dirty talk ringan dari Jimin. Ia tidak bisa marah dan hanya mampu membayangkan betapa Jimin jadi seduktif dan dengan kasarnya mencium bibirnya –ugh, astaga. Jika ciuman ringan mampu membuatnya melayang maka ia tidak bisa berimajinasi akan seheboh apa sistem tubuhnya meracau gila karena Jimin dalam mode seksi dan nakal. Membayangkannya membuat Yoongi panas.

"Tidak usah dibayangkan." Jimin terkikik. "Nanti akan kuberikan banyak-banyak."

"MESUM JAHANAM KAU!"

Menurut Yoongi, Jimin adalah orang yang luar biasa hebat. Jimin adalah orang yang kuat dan pantang menyerah. Jangan panggil dia Jimin kalau dia putus asa dan mengalah pada nasib. Tidak, Jimin adalah satu dari sekian orang yang akan mengerahkan segala yang ada diseluruh sel-sel daran miliknya untuk memperjuangkan yang ia mau. Bukan dalam artian egois, sebab sesungguhnya tanpa siapapun menyadari dengan perjuangan seteguh karang itu mampu merubah pandangan seseorang yang sekaku kawat menjadi lebih terbuka dan jelas. Merubah sifat seseorang yang begitu emosional dan tidak peduli menjadi peka dan berperasaan. Menjadikan pikiran dengan labirin mematikan menjadi selurus jalan tol tanpa hambatan.

Kata Taehyung, Jimin merubah Yoongi dan hanya Jimin yang mampu. Hanya Jimin yang bisa mengobrak-abrik pikiran rumit Yoongi hingga pemuda cuek itu luluh dan menjadikan pria itu kepayang akan cinta. Jika biasanya ia cemberut karena cemburu pada Jungkook yang selalu memenuhi pikiran Taehyung, maka seorang Yoongi hanya seharian tersenyum bak orang gila karena tidak bisa berhenti memikirkan betapa lucu Jimin dalam benaknya.

Semuanya sudah berakhir. Meski sebenarnya ini baru dimulai. Penderitaan Jimin yang sudah sesak menunggu Yoongi telah berakhir. Ia sudah tidak gila karena sikap Yoongi yang cuek dan menolaknya mentah mentah atau memarahinya sampai mengusirnya pergi.

Semuanya sudah berakhir. Kebingungan Yoongi akan perasaannya sendiri sudah mati. Keraguannya dalam menentukan apa yang hatinya katakan sudah ia kubur dalam-dalam. Ia tidak pernah lagi memikirkan hal rumit tentang betapa ia benci merindukan Jimin. Jika dulu dia kesal pada dirinya karena beranggapan kalau ia menyukai Jimin maka sekarang ia akui, ia mencintai Jimin. Ia tidak lagi ragu, ia yakin entah berapa ratus persen tapi yang jelas ia memantapkan hatinya untuk mencintai Jimin dan ia mengaku kalah, menyerah, mengaku bahwa Jimin sukses memporak-porandakan hatinya dan merenggut perasaannya. Tidak hanya sedikit, namun Yoongi sangat sangat sangat tertarik dengan Jimin sampai rasanya Yoongi bisa mati jika Jimin pergi darinya lagi.

Semuanya sudah berakhir, keputus-asaan yang bertemu dengan keraguan dan pelarian. Kali ini mereka telah mati dan punah. Perasaan terombang-ambing itu telah memudar dan hilang, kini hanya ada sapuan lembut, sentuhan memabukkan, waktu yang terasa lambat, dan euforia penuh merah muda serta nuansa kalem dan menyenangkan. Semua ini merupakan permulaan dimana Jimin hanya harus membuat Yoongi semakin terpana dan gila sedangkan Yoongi harus memantapkan hatinya untuk mengukir nama Jimin dan hanya Park Jimin yang terus mengisi relung hatinya sampai ia mati.

.

.

.

END

.

This finally come to an end! Ehehehehe, makasih atas perhatiannya selama ini. Dari yang ngikuti unpredictable wheel dan sequel Yoonmin-nya, semuanya i love y'all. Maaf juga kalau ceritanya masih amburadul karena yah... keterbatasan penulis untuk mengungkapkan sebuah kata-kata indah yang dirangkai jadi kalimat.

Semoga bisa menghibur para pembaca dan bisa menyegarkan otak penat kalian, hehehehe. Mohon ditunggu karya saya selanjutnya, semoga kalian tetap suka. Ehehehe, maaf kebanyakan cuap-cuap dan gabis balas review satu-satu –maaf, hhuhuhuhuhu. Tapi aku selalu menghargai reviews kalian dan selalu tertawa bacanya coz itu jadi smenagat aku menulis! Makasih buanyaaaaaaaaak ya...

Untuk yang belum review, review juseyo~ penulis mengharapkan reaksi, kritik, dan saran yang membangun yang bisa di berikan di kolum review, so read and review!

Happy reading~!^^