Of That One Night

By: librasiren

.

.

.

Disclaimer: Akatsuki no Yona is belong to Mizuho Kusanagi


Ini adalah malam itu. Malam dimana Yang Mulia Soo-won hanyalah seorang pria biasa, lepas dari segala atribut yang lekat padanya, statusnya, dosanya, dan segala tujuan hidupnya. Malam dimana... ia bisa memeluk gadisnya dengan erat tanpa harus takut kehilangan.

Ia membelai surai kelam bak dalamnya lautan itu, menyelainya. Menarik tempat bertumbuhnya ke dekapan, menciuminya lembut dimana saja ia suka. Bagian favoritnya tentu saja sepasang bibir ranum dengan warna agak pucat itu- yang kali ini tak akan bisa mengeluarkan kata-kata kasar yang biasa terlontar, tentu saja. Rakus, seolah haus akannya, ia memagutnya. Mengecupnya, mengigitnya sesekali. Meminta lebih, lidahnya menjelajah lebih dalam, ingin merasai lebih banyak.

Belaiannya menjelajah, turun menelisik dalam kain-kain sang gadis. Kulit halus pucatnya tampak bersinar ketika cahaya bulan yang mengintip dari jendela tanpa permisi menyentuhnya. Ia cemburu, berusaha menghalangi sang rembulan menyentuh sang gadis, membuatnya memeluknya lebih dalam, lebih erat. Mencumbunya agar atensi sang gadis tidak beralih darinya. Menandainya posesif, dimanapun, setiap jengkalnya, agar sang rembulan tahu gadis itu miliknya.

Salah satu genggamannya erat menggengam tangan sang gadis, seolah tak ingin melepas. Tak ingin ia pergi lagi. Ia berbisik banyak hal pada gadisnya; seperti bagaimana ia tak ingin membuatnya menderita, tak ingin ia pergi, dan banyak kata-kata lainnya. Gengamannya mengerat saat ia masuk lebih dalam, menyelami kehangatan sang gadis lebih jauh. Lidahnya menyesap rakus air mata yang meleleh dari kedua manik biru seindah lautan milik gadisnya, tatapan hijau sewarna hutan rimbanya yang sama tajamnya dengan sang gadis menatap dalam seolah ingin mengatakan, jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja. Tentu saja, karena saat semuanya berakhir...

.

.

.

...ini tak lebih dari sekedar mimpi indahnya. Soo-won membuka mata dan langsung menghalangi pandangannya dari secercah cahaya fajar yang masuk lewat sisi-sisi jendelanya. Sepasang bibirnya melengkungkan senyum tipis, dengan tangan lainnya merabai peraduannya yang basah. Pagi telah datang, ia kini kembali menjadi seorang raja dengan segala kebijakan, tanggungjawab dan juga dosa yang ditanggungnya. Saatnya melupakan apa yang telah terjadi, indah semalam dalam mimpi. Hari ini ia akan bertemu dengan gadis itu- kenyataannya gadis itu bahkan bukan gadisnya, dan sudah pasti ia takkan bisa memeluknya, tak apa.

Toh ia masih akan bisa memeluknya erat lagi, di malam itu.


.

.

.

END