Funny Sunny Day
.
Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi
.
.
Warning: OOC, typo(s), AU, isi seadanya, sekuel STILL, pertemuan Naruto dan Hinata di Jepang | Genre: Romance, School, Fluffy, Humor | Rate: T | Main Pairing: Naruto Uzumaki/Namikaze and Hinata Hyuuga Story is mine
.
Enjoy Reading!
.o.O.o.
PART III: Fall In Love
Di sebuah sekolah luar biasa besarnya dipenuhi banyak jendela dan ruangan kelas. Di sana tempat di mana siswa-siswi belajar demi menuntut ilmu. Hanya saja ada empat orang anak sedang hilir mudik keluar dari kelas atau di luar kelas demi mencari seorang guru pembimbing kesehatan. Sebuah lorong panjang bayangan berjalan menuju ruangan UKS dengan ada sebuah teriakan, "Kyaaaaa!"
Pintu di dobrak dengan kerasnya, pemuda berambut biru masuk penuh amarah. "Diamlah, Naruto! Kamu membuat semua orang kaget tahu!"
Pemuda memiliki rambut kuning keemasan meringis kesakitan karena kepalanya tengah diperban oleh gadis manis berkacamata tebal dua inchi memiliki rambut panjang biru sama seperti saudara kembarnya itu. Pemuda itu bernama Namikaze Naruto sedang menggigit bibir karena sakitnya minta ampun di bagian kepala.
"Kan sakit... Kamu harus tahu betapa sakitnya saat kepalaku diperban, Menma," rengek Naruto menutup mata karena gadis bernama Hyuuga Hinata sedang membalut perban.
"Jangan seperti anak perempuan yang merengek-rengek, Naruto." Menma menyilangkan tangan di depan dada sangat tidak suka Naruto merengek seperti anak kecil.
"Su-sudah selesai," sahut Hinata tersenyum sambil menggunting di bagian ujung perban. "Sekarang tidak sakit lagi."
"Terima kasih, Hinata!" Naruto tersenyum gembira, sedangkan Hinata memerah karena Naruto memanggil nama 'Hinata' tanpa ada lagi 'gadis berkacamata".
"Sa-sama-sama, Naruto..."
Naruto bangkit berdiri, tapi kepalanya masih berdenyut-denyut. Memang terasa sakit. Alhasil, Naruto-lah yang menyelamatkan Hinata dari serangan kakak senior hendak memukul Hinata memakai tongkat kayu. Kenapa para senior tidak bisa menjaga etika untuk selalu menghormati adik-adik supaya adik-adik kelas bisa juga menghormati kakak-kakak senior. Zaman sekarang memang sudah berubah. Masih saja ada yang bullying.
Naruto tersenyum gembira pada Hinata, Hinata Cuma menunduk memerah seperti tomat rebus. Menma yang melihat ini Cuma geleng-geleng kepala. Tidak menyangka ada seorang perempuan sudah menyukai pemuda bodoh ini dalam beberapa jam. Biasanya hanya tiga atau beberapa minggu, jatuh cintanya. Menma juga mengira semoga Naruto mengetahui isi hatinya kalau dia sedang jatuh cinta kepada Hinata.
"Hinata!" Pintu terbuka dengan keras. Muncullah pemuda klimis berstatus ketua kedisiplinan sekolah memanggil Hinata. "Kamu tidak apa-apa?" Hinata mengangguk gugup. Dilirik ke arah pemuda berambut kuning keemasan penuh amarah, Naruto secara polosnya tidak takut pada lirikan mata kemarahan. "Apa yang kamu lakukan pada Hinata?"
"Aku?" Naruto menunjuk dirinya. "Kasih tahu, ya..."
Sai jengkel dan kesal ingin sekali menghajar Naruto, tapi Hinata menangkap tangan Sai agar jangan memukul Naruto selagi berada di ruangan UKS. Karena guru UKS terkenal sangat benci jika ruangannya kotor.
"He-hentikan, ketua..." Hinata menggenggam erat tangan Sai, takut Sai akan melakukan macam-macam kepada Naruto.
DUAGH!
"Aduuuh... Sakiiittt..." Naruto memegang kepalanya, lemas terkulai sambil berjongkok. Kepalanya sungguh berdenyut-denyut. Tidak heran wajahnya terkenal sakit kalau kepalanya dijitak, dipegang apalagi dipukuli. Bisa-bisa dalam hitungan detik, Naruto akan amnesia dalam sehari. "Ke-kenapa kamu memukulku, Menma...?"
Hinata melepaskan genggaman tangannya, berlari menuju Naruto. "Ka-kamu tidak apa-apa, Naruto?"
"Aku tidak apa-apa, Hinata..." Naruto mencoba tersenyum kepada Hinata. Tapi, karena sebuah pukulan telak tadi akhirnya Naruto pingsan kembali.
Menma menyengir. Dilihat Sai sungguh kasihan pada Naruto, menatap dirinya penuh senyuman keji. Menma berjalan mendekati Sai, mengulurkan tangan untuk... bersalaman. "Perkenalkan namaku Namikaze Menma. Panggil Menma saja. Namamu..."
"Namaku Shimura Sai. Senang berkenalan denganmu, Menma." Sai membalas uluran tangan tersebut penuh senyuman kemenangan karena sudah memberikan Naruto pelajaran. Sai menatap Naruto pingsan siap membantu untuk menaruhkan tubuh Naruto ke tempat tidur putih bersih itu.
Menurut Menma juga ikut membantu. Dia menoleh ke arah Hinata dengan cara berdehem, "Ehem..." Hinata menoleh. "Bisakah kamu menemani Naruto di sini?"
Hinata Cuma mengangguk saja. Secepat kilat, Hinata mengambil tempat duduk di dekatnya. Terus menjaga Naruto sampai Naruto sadar.
Menma memberikan tanda kedipan kepada Sai untuk keluar dari tempat ini membiarkan Hinata berdua dengan Naruto. Sungguh romantis kalau Hinata duduk di dekat Naruto, dan Naruto menyangka dia bertemu bidadari lewat.
Dengan cara tergesa-gesa Menma menutup pintu dengan pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara yang berisik. Mereka berdua menghela napas lega. Saat berbalik, mereka berdua mendapati dua gadis cantik dan manis berdiri menyilangkan kedua tangan dengan senyuman tidak bisa ditebak apa namanya (sama dengan saya).
"Sa-Sakura?"
"I-Ino?"
"Tadi kalian ke mana dan di mana Naruto juga Hinata?" tanya mereka berdua secara bersamaan. Sejak kapan kedua gadis ini berteman? Bukankah mereka baru berkenalan beberapa jam yang lalu. Heran pada kedua laki-laki juga sedari tadi berkenalan beberapa menit yang lalu.
"Mereka ada di dalam," sahut Menma menunjukkan arah di mana Naruto dan Hinata berada memakai ibu jarinya. Sakura dan Ino maju, tapi langkahnya di hentikan oleh Menma. "Biarkan mereka berdua dan jangan ganggu mereka, Sakura... dan..."
"Namaku Yamanaka Ino, Namikaze Menma!" teriak gusar Ino, gadis cantik berambut blonde panjang dikuncir satu.
Seceapt kilat Sai menutup mulut Ino menyuruhnya diam, "Ssttt... Jangan berisik. Nanti Naruto bangun, wakil ketua."
Gara-gara kejadian tadi Ino salah tingkah. Ditepis tangan Sai dan memalingkan muka karena baru kali ini Ino dadanya berdegup sangat kencang saat bibirnya disentuh oleh tangan kekar ketua kedisiplinan. Ketegasan yang kuat ada di tangan hebatnya itu selalu memberikan kedisiplinan kepada anak-anak di sekolahnya. Juga sebuah desahan napas di depan wajahnya memberikan aroma mint enak dihirup. Ino jadi tidak sanggup meleleh di hadapannya.
Di samping mereka berdua, Menma dan Sakura tercengang melihat kedua dua jenis kelamin berbeda ini. Kedua-duanya selalu saling suka, tapi tidak ada niat untuk menyatakannya jadi parah melihatnya. Menma dan Sakura bukan mak comblang, tapi bisakah mereka membantu keduanya untuk menyatakan suka. Mereka akan mencoba nanti.
Sai menggaruk-garuk kepala. Mau dibilang apa, ya? Laki-laki bukannya gugup tapi saat menatap tangan yang tadi menutup mulut dan bibir mungil gadis blonde itu membuatnya tidak bisa berkata-kata. Lebih tepatnya terdiam seribu bahasa.
Menma pun menggiring Sai pergi menjauh dari mereka, sedangkan Sakura meminta Ino untuk mengikutinya menuju kantin apalagi sekarang sudah waktunya makan siang.
Menma membawa Sai ke sebuah tempat dekat perpustakaan. Ujung lorong dekat juga dengan jendela besar yang melihat arah luar di mana anak-anak sekolah Konoha tengah berlari keluar karena bunyi dering menandakan istirahat telah dimulai.
Sai menaruh tangan di jendela besar dan melihat siswa-siswi mulai dari SD, SMP, dan SMA keluar lapangan. Menma melirik sejenak ke arah Sai, lalu kembali menatap luar lapangan melalui jendela besar ini. Cahaya matahari masuk ke dalam lorong gelap dan menghantarkan mereka bisa melihat satu sama lain.
"Ada apa kamu menarikku ke sini?" tanya Sai menyandarkan tubuh melalui bahunya. Matanya melihat Menma tersenyum dan tertawa. "Kenapa lagi kamu tertawa?"
Menma berhenti tertawa dan berusaha menahan tawanya, "Tidak apa-apa. Hanya saja aku sungguh kasihan padamu. Coba dari dulu kamu mengetahui perasaanmu sendiri."
"Perasaanku sendiri?" Sai menyipitkan mata dengan tampang tidak berekspresi.
"Perasaan bahwa kamu menyukai seseorang," sahut Menma tersenyum sambil memasukkan tangan ke saku celana. Menma menatap Sai mau bilang 'siapa', Menma tersenyum menggeleng. "Tentu saja Yamanaka Ino."
Wajah pucat Sai timbul. Dia menatap horor Menma penuh ketakutan. Dia saja sendiri tidak tahu arti perasaannya kenapa menghubungkannya dengan Ino. Walaupun dia adalah ketua kedisiplinan yang baru merangkap sebagai ketua karena terpaksa gara-gara ketua asli malas menjadi seorang ketua. Sai yang juga lebih mempedulikan kehidupannya ketimbang percintaan karena saat ini dia baru putus cinta dari seorang wanita lebih tua darinya.
Sai menjadi gugup, menggigit lidah, dan tidak bisa bicara karena lidahnya tidak berucap karena meringis kesakitan akibat terlalu banyak menggigit lidah. Sai hilir mudik tanpa arah. Menggigit jari lagi penuh ketakutan berpikir apa benar dia menyukai sang idola gadis konglomerat terkaya di kota Konoha ini.
Menma Cuma menghela napas pada satu orang ini. Semoga Sakura bisa membuat Ino menyadari perasaannya terhadap Sai daripada Sai yang terus memikirkan apa maksud dari arti cinta tulus ini (wah.. payah.).
Sakura membawa nampan makanan dan minuman di kedua tangannya dan meletakkan di atas meja di mana Ino juga mengikutinya dari tadi dan duduk saling berhadapan. Sakura berdoa dengan cara menutup mata bersama dengan Ino. Sesudah berdoa, mereka memakan bersama setelah mengucapkan 'selamat makan'.
Sakura menelan satu suapan, lalu melirik Ino. Cara makan Ino sangat tenang bak seperti seorang putri dari kerajaan negeri dongeng. Tidak heran, ya, ada orang seperti Yamanaka Ino sekolah di sini ketimbang sekolah di luar negeri. Sakura terus meneliti seluk beluk keluarga Yamanaka, keluarga konglomerat yang sangat terkenal daripada keluarga Haruno dan Namikaze di kota Tokyo ini.
"Mau membicarakan apa, Sakura?" tanya Ino meletakkan sendok dan garpu di samping piring makanannya. "Dari tadi kamu melihatku terus," Ino duduk tegap sambil memangku kedua tangan di pahanya.
"Ng... Anu..." Sakura jadi salah tingkah. Takut dia salah bicara. "Anuuu... Apa kamu suka sama laki-laki klimis itu?"
"Siapa?" Ino memiringkan kepalanya, bingung. Berusaha mengingat siapa laki-laki yang dimaksud Sakura. Sekarang tahu siapa dia maksud, "maksudmu Sai?"
Sakura mengangguk polos.
"Aku tidak hubungannya dengan dia," ucap tegas Ino penuh kepercayaan diri. Ino tidak tahu kalau dia juga suka sama laki-laki klimis penuh kegilaan mau saja menjadi seorang ketua kedisiplinan waktu itu secara terpaksa. Wajahnya yang datar, tapi juga aneh. Sering payah dalam mencari solusi kecuali dibantu oleh seorang wakil ketua, Yamanaka Ino ini.
Sakura tidak tahu harus bilang apa. Berbicara dengan gadis konglomerat bukan tipenya. Susah mencari anggapan bahwa dia suka dengan laki-laki bernama Sai itu. Lebih tepat pasrah mungkin. Sakura pun menyerah. Sesaat kemudian, Ino bertanya kepada Sakura untuk menjelaskan apa maksud dengan masalah tadi.
"Sakura..." Sakura menatap lekat-lekat Ino karena baru kali ini dia memanggilnya dengan lembut. "Apa kamu tahu kenapa orang selalu berdebar-debar kalau mulutnya disentuh oleh lelaki lain?"
Sakura kaget dan mengeryit bingung. Kenapa jadi begini, ujarnya dalam hati. Seharusnya aku tanya kenapa dia malah bertanya! Kenapa juga aku menjadi bingung seperti ini. Sakura merunduk dalam-dalam. Memang butuh proses lama buat mereka yang tidak tahu apa itu... CINTA.
Menma dan Sakura drop langsung pada masalah seperti ini. Tidak mau berkelebat pada masalah yang berlarut-larut. Mereka ini terlalu bebal alias polos akut karena keseringan mengurus urusan pribadi di luar karakteristik mereka masing-masing. Ego mereka masing-masing. Dibanding perasaan di dalam hati mereka itu.
Sejenak kembali pada Naruto yang sudah siuman dari pingsannya. Naruto mengerjapkan mata berkali-kali karena ada cahaya masuk lewat jendela. Rasa sakit di kepalanya sungguh menyakitkan. Seharusnya saat ini dia pulang ke rumah atau duduk santai di kelasnya menerima pelajaran, tapi kenapa dia malah berada di UKS... sendirian.
"Su-sudah bangun, Naruto?" Naruto kaget mendengar suara manis menghanyutkan gendang telingannya. Suara manis itu sungguh enak didengar. Naruto bangkit, dibantu oleh gadis cantik berkacamata. Bukan! Bukan gadis berkacamata melainkan gadis cantik memiliki warna mata keperakkan.
"Hinata...? Kamu Hinata?" tanya Naruto kaget. Buru-buru Hinata mengambil kacamata tebal dua inchi dan memasangnya kembali ke wajah manisnya. "Kenapa kamu memakai kacamatamu lagi? Tadi 'kan sangat manis."
"Se-sebenarnya..." Hinata tidak tahu harus bicara apa, tapi akhirnya dia mau mengakuinya. "Kalau Naruto menyukai seseorang karena dia memakai sebuah kacamata untuk menutupi wajah sebenarnya setiap hari, apa Naruto akan menyukainya apa adanya?"
Mata Naruto membulat, sungguh terkejut. Sangat. Mungkin di dalam hati Hinata, ingin sekali menyukai seseorang yang mengerti dia apa adanya. Bicaranya yang blak-blakan tanpa pikir panjang, polos, dan mengerti arti kekurangan dia selama ini. Naruto menyadari banyak perempuan menjaga image mereka masing-masing, tapi Hinata berbeda. Hinata lebih tepat menyukai kesederhanaan ketimbang menor berlebihan.
"Kemarilah, Hinata." Naruto menyuruh Hinata mendekat kepadanya. Hinata takut-takut akhirnya mau dekat dengan Naruto. Naruto menyuruh Hinata duduk dan berbicara kepadanya. "Menurutmu, aku ini suka pada siapa?"
Hinata kaget dan takut akan jawaban Naruto yang tidak menyukainya. Dilihat sebuah perban melilit kepalanya membuatnya merasa bersalah. Air mata di pelupuk mata keperakkan menetes jernih, merasa bersalah.
"Maafkan aku," Hinata menangis melihat Naruto terkapar di tempat tidur ruang UKS. Hinata menyesal pada apa yang terjadi sampai-sampai membuat Naruto jadi korbannya.
Naruto terkejut karena Hinata menangis entah karena apa. Naruto mencari-cari tissue untuk membersihkan air mata yang menetes di pelupuk mata manisnya itu. Setelah tahu kalau dia mempunyai sapu tangan miliknya di kantong celananya. Dia pun merogoh saku celananya dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Diseka air mata itu memakai sapu tangan berinisial N.
"Kubilang jangan menangis... Hinata."
"Ta-tapi... ini semua salahku..." Hinata sesenggukan. Tidak henti-hentinya menangis. Naruto merasa bersalah juga karena membuat Hinata menangis seperti ini. Naruto tidak tahu cara membuat perempuan berhenti menangis karena waktu Sakura menangis, Naruto malah dilempar bantal dan boneka oleh Sakura. Naruto jadi trauma.
Dipeluknya tubuh rapuh Hinata, membuat Hinata berhenti menangis. Hinata berusaha melepaskan, tapi saat ini dia terlalu lemah untuk melepaskan pelukan Naruto kepadanya. Hinata jadi nyaman berada di pelukan Naruto.
"Kumohon jangan menangis dan jangan membahas masalah itu lagi. Biarkan saja berlalu. Namanya juga masa lalu yang baru beberapa jam lamanya," Naruto membelai rambut Hinata dengan lembut. "Jadi, jangan menangis Hinata."
Hinata mengangguk.
Dia membenamkan wajahnya di pundak Naruto. Sangat hangat.
Naruto tahu Hinata sudah menghentikan tangisannya. Dilepaskan pelukan tersebut dan menatap Hinata penuh keseriusan. Naruto menggaruk kepalanya ingin sekali berucap beberapa kata kepadanya, tapi lidahnya kelu takut Hinata menangis lagi. Mau bagaimana lagi, hati tidak bisa dicegah.
"Aku merasa telah jatuh cinta padamu, Hinata," kata Naruto malu-malu sambil menuntup mulutnya. Telinganya memerah karena panasnya udara atau karena tubuh mereka.
Keterkejutan Hinata kepada Naruto membuat memerah seperti kepiting rebus. Wajar-wajar saja sih, mereka 'kan sempat berkenalan, tapi akhirnya jatuh cinta juga. Namanya cinta tidak ada kata STOP. Harus tetap diutarakan daripada didiamkan beberapa saat. Jika hati belum juga lega, apa mereka akan membuka hatinya untuk bisa membuat mereka lega.
Tangan Hinata gemetaran. Itu ungkapan hati sejujurnya atau hanya siasat belaka. Suka dia apa adanya atau hanya suka dari kecantikan wajahnya. Naruto melirik Hinata sungguh tahu wataknya karena bisa dibaca beda dengannya wajahnya bisa dibaca oleh Menma, saudara kembarnya sendiri.
"Aku jatuh cinta padamu bukan karena luarnya saja, tapi di dalam karena keberanianmu mengalahkan kakak-kakak senior demi melindungiku," kata Naruto tersenyum.
Hinata tersenyum. Naruto pun juga ikut tersenyum gembira.
"A-aku juga sama, Naruto..."
Naruto tahu kalau Hinata juga jatuh cinta kepadanya. Dia memeluk Hinata secepat kilat sebelum terjangan badai saat dibuka pintu dengan kerasnya. Acara peluk-pelukan dihentikan karena laki-laki berambut biru, berambut hitam, dan dua gadis manis cantik berambut merah muda dan blonde masuk secara terdesak.
"Kamu sudah bangun, Naruto!" Sakura memeluk Naruto, tersenyum bahagia karena sahabatnya sudah pulih dari kesehatannya.
"Hinata..." Ino juga memeluk Hinata penuh keharuan, takut kenapa-kenapa dengan anak perempuan satu ini yang suka gugup.
Menma secara sudah mengetahui kalau keduanya akan menyatakan suka satu sama lain berusaha menghentikan acara pelukan tersebut. Menma berencana melakukannya sebelum feeling mengatakan bahwa sebentar lagi dia akan pergi untuk selamanya.
Sungguh ampun deh, kalau menyangkut masalah jatuh cinta. Secara begitu, baru masuk sekolah. Beberapa jam berkenalan, memanggilnya dengan sebutan gadis berkacamata dan akhirnya jatuh cinta membuat pusing tujuh keliling. Heran deh, kenapa tidak sekalian menikah saja. Buat si Ino dan Sai yang belum menyadari perasaan masing-masing. Tunggu saja, Menma akan melakukan sesuatu terhadap kalian berempat. Apa sih, rencana Menma selanjutnya bersama Author payah ini di chapter selanjutnya?
To Be Continued...
Next Part IV: Lucky Day!
Berusaha yang terbaik untuk semuanya, Menma melakukan hal yang tidak biasa. Membuat hari terindah dan terberuntung di masa hidupnya selama ini. Naruto merasa curiga pada saudara kembarnya satu ini, apa yang disembunyikan darinya.
"Ada apa denganmu, Menma?" tanya laki-laki kuning keemasan tersebut bingung kepada Menma tersenyum sedih menatapnya. "Aku merasa kalau kamu akan pergi meninggalkanku."
"Jagalah Sasuke dan Sakura untukku, Naruto," sahut Menma memeluk saudara kembar paling disayanginya. "Dan jagalah ibu, ayah, bibi Rin, dan sepupu-sepupu kita."
"Hari keberuntungan memang selalu ada di tanganmu, saudaraku!" seru Naruto memeluk laki-laki berambut biru. "Kamu adalah sebagian diriku yang tidak akan pernah hilang. Jadi, kamu adalah dewa keberuntunganku yang selalu menyemangatiku selama ini. Terima kasih."
"Jadilah pacarku, Hinata," Naruto berlutut seraya seperti seorang pangeran memberikan sebuah penghargaan kepada seorang putri untuk meminangnya.
.o.O.o.
A/N: Aduuh... Ada yang bilang mau lihat SaiIno, ya? (tadi baru lihat review) Keinginanmu akan terkabulkan setelah part IV selesai, ya. Sejenak saya mau revisi fic STILL karena di situ akan terjadi banyak kesalahan begitu dengan fic Always (berkat saran seseorang. Hehe...). mungkin chapter depan akan terdengar sedih karena dua saudara kembar ini akan merasakan kehilangan (jadi, ingin menangis #lebay #plak). Gara-gara dengar lagu-lagu Bleach pas jam istirahat tanpa makan siang sekalipun, mau tidak mau harus mengerjakannya (dasar tukang telat). Jadi, sebelum pulang kerja saya pun update deh fic-nya, tanggung.
(Panjang sekali author Note di atas. Duh!) Terima kasih buat kalian yang sudah review dari part I dan part II:
- Cicikun Syeren
- Hikaru-Ryuu Hitachiin
- Guest
- Lavender Sapphires chan
- Faris Shika Nara
- anonymous
Tunggu part selanjutnya! ^^
from,
Sunny Blue February (SMILE Up, Sunny!)
Date: Makassar, 19 Februari 2013
