Funny Sunny Day

.

Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi

.

Warning: OOC, typo(s), AU, isi seadanya, sekuel STILL, pertemuan Naruto dan Hinata di Jepang | Genre: Romance, School, Fluffy, Humor | Rate: T | Main Pairing: Naruto Uzumaki/Namikaze and Hinata HyuugaStory is mine

Enjoy Reading!

.o.O.o.

Part IV: Lucky Day!

Menma meringis saat memecahkan sebuah gelas di kantin. Banyak pandangan mata tertuju padanya. Dia tidak mempedulikannya. Dia berjongkok untuk membersihkan pecahan-pecahan kaca tersebut. Naruto dengan kesigapannya membantu saudara kembarnya.

"Kamu tidak apa-apa, Menma? Kenapa kamu bisa menjatuhkan gelas ini, sih?" berbagai pertanyaan membuat perasaannya menjadi tidak enak. Menma menepisnya dengan cara membantu Naruto diikuti juga oleh Hinata dan Sakura.

Bantuan datang dari salah satu pembersih sekolah. Dia datang membawa sapu dan kain pembersih. Semua orang tadi berbisik-bisik melanjutkan makannya. Mereka tadi bicara karena tidak ada pemuda berambut klimis berambut hitam. Tapi, sekarang dia ada jadi acara bisik-membisik ditiadakan dan kembali makan tanpa ada rasa mengeluh.

Naruto, Menma, dan Hinata berterima kasih kepada pembersih tadi dengan menganggukkan kepala. Naruto memandang Menma sangat aneh. Mau bicara, tapi itu ditunda karena takut menyinggung hatinya. Perasaan tidak enak menghampirinya kalau melihat Menma sedih. Semoga bukan apa-apa.

Sakura menawarkan makanan lagi untuk Menma. Menma berterima kasih dengan cara tersenyum tanpa mengucapkannya. Mereka berempat duduk ditambah Sai datang dan duduk di samping Menma, bertanya.

"Tadi aku dengar suara gelas pecah." Sai meminum minumannya dan berbicara lagi. "Memangnya kamu ada apa?"

Tatapan Menma melirik Sai. Wajah ekspresi melawan ekspresi membuat ketiganya merinding. Bulu kuduk berdiri, mata tertuju pada makanan, dan mereka sungguh takut kalau memulai pembicaraan.

"Aku tidak apa-apa. Entah kenapa aku kaget saat gelas yang aku pegang ternyata cepat sekali pecah dan jatuh ke lantai. Itu saja dan jangan tanya apa-apa lagi," sungguh sopan cara bicara Menma. Tidak biasanya.

Pikiran Naruto kalut. Ada sebuah kecemasan menghinggapi dirinya. Aneh dan bikin merinding. Seolah-olah menyuruhnya mencari tahu apa itu. Naruto mau berbicara pada Menma, tapi karena ada dua orang gadis dan satu laki-laki. Itu ditunda saja dulu. Naruto tidak mau kalau ada mulut ember di sekitar mereka. Naruto mau berbicara dengan saudara kembarnya, empat mata.


Selesai makan, Sakura mencari keberadaan Ino. Tidak ditemukan keberadaan gadis pirang tersebut. Akhirnya Sakura meminta ijin pada mereka berempat agar bisa mencari Ino. Hinata menawarkan bantuan juga kepada Sakura untuk mencari Ino. Sakura menyanggupinya.

Mereka bertiga-lah yang berada di lorong sepanjang beberapa meter dari ruangan kelas. Sai ada urusan mendadak. Urusan di ruang guru. Urusan untuk menentukan ke mana ketiga senior tersebut yang pernah melawan Naruto dan menyekap Hinata dihukum. Soal hukuman, Sai tepatnya dan urusan pun diserahkan kepada sang ayah, Shimura Danzo alias kepala sekolah Konoha.

Akhirnya sang kedua saudara kembar ini berdiri di tengah lorong gelap. Naruto maju dan menepuk bahu Menma. Meski ragu-ragu, Naruto tahu apa yang harus dilakukannya.

"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku, 'kan?" tanya Naruto tidak bertele-tele. Menma berhenti dan tidak menatap Naruto, tapi menatap luar jendela. Naruto bingung. Namun, sebuah rahasia pasti akan terkuak juga kalau orangnya ngomong langsung tanpa ada paksaan dari kedua belah pihak.

"Aku mau tanya..." Menma angkat bicara, akhirnya. "Apa kamu menyukai Hyuuga Hinata, Naruto?"

Naruto terperanjat kaget. Mundur selangkah hingga tangan ada di pundak Menma diturunkan. Wajahnya merah merona. Apa maksudnya? Kenapa dia baru membicarakannya sekarang? Tadi aku bertanya, 'kan? Kenapa dia malah membalikkan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan di benak Naruto tidak bisa dibendung lagi. Naruto pun menyerah.

"Iya, aku suka padanya. Memangnya ada apa dengan itu?" Naruto bersitegas berusaha mempertahankan warna merah tomat di wajahnya. Kembali bertanya pada Menma lagi.

"Apa kamu mau kalau hari ini menjadi hari keberuntungan dan hari terindah dalam hidupmu?" pertanyaan aneh muncul di bibir Menma. Tentu saja Naruto mau. Siapa sih, yang tidak mau mempunyai hari indah dan seberuntung ini. Pasti semua orang mau.

Naruto Cuma mengangguk sekali sekaligus bingung. Untuk apa seorang Namikaze berbicara aneh seolah-olah dia memberikan hadiah saat dia akan... pergi? Pergi?! Naruto berpikir ulang dengan kata 'pergi'. Memangnya siapa yang akan pergi, aku atau Menma? Naruto menepisnya lagi. Apa-apaan sih, perasaan ini. Tidak enak banget. Pikir Naruto dalam hati.

Menma tersenyum dan menatap Naruto, "aku akan membuat hari-harimu indah dan seberuntung ini agar kamu tidak akan melupakannya seumur hidup."

Alis melengkung ke samping. "Sungguh?"

"Sungguh dan aku berjanji." Diangkat tangan Menma, mengacungkan dua jari tanda PEACE.

Naruto memeluk saudaranya sekaligus teman dan sahabat. "Aku senang memilikimu di sini bersamaku. Kamu memang saudaraku yang paling baik, Menma."

Ratapan sedih dari wajahnya membuatnya tersenyum senang. Melihat saudara kembarnya bahagia, tentu saja dia akan bahagia. Bahagia melihatnya tertawa, gembira dan ceria kayak anak kecil. Itu janjinya untuk Naruto, tapi untuk Sasuke... mungkin janji bakal tidak terpenuhi. Menma mengencangkan pelukannya dan menutup mata sambil menahan rasa sedih yang memuncak.


Di halaman belakang, Sakura dan Hinata berhasil menemukan Ino. Dia sedang duduk di pohon mangga yang ditanamnya. Itu kata Hinata kalau tidak menemukan Ino di ruangan klub. Ino kaget dan terperanjat pada dua sosok gadis datang.

"Kamu kenapa, Ino? Kamu tidak enak badan?" tanya Sakura menepuk pundak Ino. Ino terdiam. "Saat kejadian gelas pecah, kamu malah pergi entah ke mana. Kami harus mencarimu sampai ke sini. Semuanya mengkhawatirkanmu."

Ino menggeleng. Dijambak rambutnya hingga rambutnya kusut. Hinata dan Sakura saling pandang, aneh melihat tingkah Ino.

"Je-jelaskan pada kami, apa yang terjadi?" Hinata menghentikan tangannya untuk menjambakkan rambut Ino. Ino malah memeluk Hinata, sungguh ketakutan sambil gemetaran. Hinata aneh pada setiap tingkahnya membiarkan dia menangis sesenggukan.

Sakura duduk di samping Ino yang kosong. Mengusap-usap punggungnya agar berhenti menangis. Perasaan tidak enak membanjiri si gadis berambut merah muda ini. Apa lagi ketakutan ini? Kok sama seperti perasaan ditinggalkan sang paman? Sakura menggeleng. Tidak mau mengingat kejadian menyakitkan tersebut.


Berusaha yang terbaik untuk semuanya, Menma melakukan hal yang tidak biasa. Membuat hari terindah dan terberuntung di masa hidupnya selama ini. Naruto merasa curiga pada saudara kembarnya satu ini, apa yang disembunyikan darinya.

Dia meminta persetujuan dari Sai, si rambut klimis tersebut. Ide cemerlang datang di saat mereka sedang berdua. Ide yang akan membuat Naruto terkagum-kagum padanya. Semoga saja.

Sai dan Menma menjadwalkan lokasi di sebuah gedung olahraga. Mereka meminta izin pada ketua klub basket, voli, dan semua klub yang pernah memakai bangunan tersebut. Menma juga mendapat izin dari kepala sekolah sekaligus ayah Sai, Shimura Danzo dan juga ketua OSIS, Shimura Shin.

Menma aneh pada keluarga Sai. Ayahnya seorang kepala sekolah, kakaknya ketua OSIS, sedangkan dia seorang ketua kedisiplinan. Pantasan saja semua orang di sekolah ini takut kepadanya. Seperti seorang tentara yang siap melahap apa yang diincarnya. Benar-benar konyol. Kenapa mereka tidak buat saja sekolah tentara kalau keadaannya begini.

Tentu saja kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Sebuah perubahan terjamin di depan. Perubahan menghancurkan sekolah ini mulai dari ujung, luar, sampai dalamnya. Mereka pun insyaf dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Entah kenapa, Menma punya insting mengatakan bahwa semua itu akan terjadi. Ada-ada saja.

Kerapihan di bangunan tersebut adalah terpasang sebuah spanduk untuk Naruto dan Hinata. Berkat bantuan anak-anak basket, voli, dan futsal. Hiasan-hiasan ini bisa terselesaikan dengan cepat.


Naruto menggerutu terus tanpa sebab. Eits! Ada sebabnya lho. Sebabnya karena Menma yang akhir-akhir ini menghilang. Dicari, tidak ada di kelas atau di mana pun. Setiap berbicara sama teman-teman sekelas, mereka Cuma menggeleng ragu-ragu. Apa maunya Menma? Naruto cemberut.

Tanda berbunyi di dalam pikirannya, jangan-jangan dia sedang... takut ada apa-apa, Naruto berlari mencari keberadaan Menma. Kalau Menma pergi meninggalkannya sekali lagi, dia tidak akan pernah mengingatnya. Jadi, inikah kenapa Naruto tidak mengingat Menma. Adalah sumpahan terucap di mulutnya. Ya, ampun.


Ino berhenti menangis. Perasaannya sudah tenang. Benaknya tidak lagi meragukan, tapi meragukan apa yang terjadi kemudian. Ino mengangkat tubuhnya berdiri tegak. Menatap kedua teman-temannya sekaligus sudah menjadi sahabat-sahabatnya. Tersenyum lega karena punya sahabat seperti mereka berdua ini.

"Sudah berhenti menangis?" tanya gadis berambut merah muda, membelai rambut Ino penuh kasih sayang persahabatan.

Ino tersenyum mengangguk. "Aku sudah berhenti dan sungguh senang pada kalian yang mau menemaniku di sini."

"Bukankah kita teman sekaligus sahabat. Jika diantara kita bersedih hati, tentu kita harus membuatnya gembira. Sekali bersedih, semuanya akan bersedih. Jika kamu senang, kami juga sangat senang dan melihatmu tersenyum. Tidak ada seorang pun yang boleh meninggalkan sahabatnya," jelas Hinata dengan gayanya seperti sang pembahas.

"Gayamu lucu sekali, Hinata. Kayak guru," ledek Sakura kepada Hinata. Hinata merona malu. "Namanya persahabatan memang ada rasa meninggalkan dan ditinggalkan. Dan semua itu harus dilakukan dengan ketabahan, kelapangan, dan kebaikan. Jadi, kita akan terus bersama untuk selamanya."

Ketiganya berpelukan. Tersenyum haru.

Muncul seorang siswa di hadapan mereka yang sedang berpelukan. Mereka bertiga bingung pada siswa yang tidak dikenal alias teman sekelas Hinata. "Ini ada undangan untukmu, Hyuuga. Ini dari seseorang." Siswa itu memberikan secarik amplop kepada Hinata. "Tolong secepatnya datang ke gedung olahraga, ya!" Siswa itu pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.

"Apa itu, Hinata?" tanya Ino memiringkan kepalanya melihat apa isi amplop tersebut. "Undangan? Dari siapa?" Ino membantu Hinata membukakan undangan untuk datang ke gedung olahraga. "Naruto? Kenapa dia?"

"Sudahlah." Sakura bangkit berdiri sekaligus merapikan roknya yang kusut. Kedua tangan Sakura memegang tangan keduanya untuk berdiri. "Kita lebih baik ke sana. Mungkin akan ada kejutan luar biasa."

Hinata dan Ino setuju pada perkataan Sakura. Mereka pun berlari ke gedung olahraga. Menemukan apa maksud dari semua ini.


Pemuda berambut kuning keemasan melihat saudara kembarnya tengah mencuci tangan di dekat halaman belakang. Nafas Naruto terengah-engah. Akhirnya dia menemukan saudara kembarnya. "Menma!"

Menma menoleh karena ada seseorang memanggil namanya, "ah, Naruto. Kamu ke mana saja? Aku tadi mencarimu, lho."

Langkah cepat memenuhi kaki Naruto. Sebuah amarah siap dilemparkan ke Menma, tapi melihat senyuman Menma tanpa paksaan membuatnya marahnya berhenti. Dia pun ikut tersenyum dan mengusap-usap punggungnya.

"Kamu ke mana saja? Aku mencarimu dan sangat mengkhawatirkanmu tahu," Naruto cemberut. Keberadaan Menma seolah-olah menghilang tanpa jejak. Seperti seorang roh yang menghilang.

"Aku sedang memberikanmu sebuah kejutan di gedung olahraga," sahut Menma tersenyum. "Lebih baik kamu pergi ke sana, deh."

Bingung. Apa maksudnya? Kejutan? Kejutan apalagi? "Kenapa kamu tidak ikut bersamaku ke sana?"

"Aku tidak bisa. Aku harus mencari sesuatu yang cocok untuk kepulangan kita dari sekolah ini," sahut Menma lagi. Senyuman aneh terpampang di wajah tegasnya. Naruto bingung dengan tingkah Menma sesaat setelah gelas hancur di tangannya tanpa disengaja.

"Ada apa denganmu, Menma?" tanya laki-laki kuning keemasan tersebut bingung kepada Menma tersenyum sedih menatapnya. "Aku merasa kalau kamu akan pergi meninggalkanku."

Menma menggeleng.

"Jangan bohong padaku, Menma!" teriak Naruto. Kedua tangan mencengkram pergelangan tangan Menma. "Aku bisa merasakannya sejak kita dilahirkan. Ketika kamu sakit, aku juga pasti sakit. Ketika kamu sedih, aku juga pasti ikut sedih. Dan ketika kamu senang, aku juga pasti akan senang. Kamu juga merasakannya seperti apa yang aku rasakan. Kita memang mirip! Karena kita anak dari ayah dan ibu. Kita tidak terpisahkan!"

Menma meratapi ratapan sedih Naruto. Sungguh! Menma tidak tahu kenapa dia mau memberikan semuanya untuk Naruto. Sepertinya dia akan pergi untuk selamanya. Di mana dia akan tidak melihat Naruto untuk selamanya.

"Entahlah. Aku tidak tahu. Kalaupun aku tahu, kamu juga pasti tahu, 'kan? Karena kita seperti alat penghubung hati dan pikiran," sahut Menma agak menyimpulkan senyuman walaupun dengan keadaan terpaksa.

Naruto menurunkan kedua tangan di pergelangan tangan Menma. Persaudaraan mereka memang sangat erat. Banyak orang beranggapan, bagaimana mereka akan berpisah nanti? Apa mereka bisa melewati hidup? Kalau bisa, mereka bersyukur. Kalau tidak, mereka Cuma bisa pasrah.

"Katakan apa yang ingin kamu katakan?" pertanyaan Naruto menyuruh Menma mengatakan semuanya. "Supaya aku bisa melakukan sesuatu untukmu."

"Jagalah Sasuke dan Sakura untukku, Naruto," sahut Menma memeluk saudara kembar paling disayanginya. "Dan jagalah ibu, ayah, bibi Rin, dan sepupu-sepupu kita."

Balasan pelukan Naruto untuk Menma sangat indah. Tetesan embun memang jernih. Inilah persaudaraan terindah dalam hidupnya. Sudah lama sekali mereka tidak seperti ini. Sejak kecil mereka selalu bersama-sama. Memang mereka pernah berpisah walau itu Cuma sekali. Pisahannya berupa tur. Naruto bersama saudara sepupu-sepupunya dari keluarga Sabaku, sedangkan Menma bersama orang tua mereka.

Sebenarnya Menma dan Naruto tidak mau berpisah. Tapi, karena waktu itu hidup pas-pasan. Mereka Cuma numpang di rumah keluarga kerabat. Mereka bertemu lagi saat Hatake Kakashi datang ke kehidupan mereka. Menyatukan mereka kembali. Makanya kenapa mereka bisa begitu dekat dengan pamannya ini.

Setelah meninggal Kakashi, Menma dan Naruto ikut bersama Rin dan ketiga anak-anaknya. Mereka berdua sudah besar dan tidak mau berpisah lagi. Padahal Menma disuruh untuk tinggal bersama orang tuanya di Sydney, tapi Menma tidak mau karena takut kehilangan Naruto.

Bukannya mereka membenci Naruto, tapi sang nenek selalu mengatakan kalau yang paling beruntung itu adalah Naruto. Naruto punya segalanya bukan dari kekayaan, tapi apa yang ada di masa depan nanti. Hal itu menyebabkan Menma berpisah dari Naruto agar bisa menjadi seberuntung Naruto.

Tentu tidak puas dengan hasilnya, Kushina dan Minato menyerah pada keras kepala Menma. Mereka membiarkan Menma tinggal bersama Naruto. Rasa bahagia terpancar di benaknya. Bersama saudara lebih menyenangkan daripada sendiri sambil duduk termenung di layar televisi di saat orang tua sibuk bekerja.

"Hari keberuntungan memang selalu ada di tanganmu, saudaraku!" seru Naruto terus memeluk laki-laki berambut biru. "Kamu adalah sebagian diriku yang tidak akan pernah hilang. Jadi, kamu adalah dewa keberuntunganku yang selalu menyemangatiku selama ini. Terima kasih."

"Hei, hei..." Menma melepaskan pelukannya. "Bukankah kamu adalah dewa payah yang diberikan Kami-sama untukku?" sindir Menma membuat Naruto merengut kesal. "Tidak kok, Cuma bercanda. Tenang saja. Kamu adalah saudara yang paling aku kagumi dan paling sayangi di dunia ini lebih dari apa pun."

Alis Naruto diangkat, mengangguk. Menma membalikkan tubuh Naruto, mendorongnya ke arah gedung olahraga. "Lebih baiknya lagi kalau kita ke gedung olahraga. Ada seseorang menunggumu di sana."

"Hah? Siapa?" Naruto kembali kebingungan.

"Lihat saja nanti."


Suasana olahraga terlihat sepi, Naruto berbalik menatap Menma. Dagu mengarahkannya untuk cepat masuk ke dalam. Naruto pun membuka pintu. Saat masuk, lampu dinyalakan dan di sana ada seorang gadis berdiri. Ternyata adalah... Hinata!

"Hinata?" Naruto terkejut kenapa ada Hinata di sini. "Di mana Sakura dan temanmu bernama Ino?"

"Ka-katanya mereka dilarang masuk sama ketua," ucap Hinata malu. Bukan malu gara-gara Naruto, tapi sekarang mereka sedang berduaan di tengah lapangan basket.

"Sai?!" Mata Naruto ditekuk ke atas. "Ya, ampun. Ada-ada saja. Mungkin sudah waktunya."

"A-apa maksudmu, Naruto?" Hinata memiringkan kepalanya, bingung.

Naruto tidak menjawab pertanyaan Hinata. Dia maju ke depan, mendekati Hinata. Tersenyum. Hinata tidak tahu apa maksud dari senyuman tersebut. Wajahnya merah saat Naruto berlutut selayaknya seorang pangeran berkuda putri. Putrinya adalah Hinata sendiri. Dirinya!

Jadilah pacarku, Hinata," Naruto berlutut seraya seperti seorang pangeran memberikan sebuah penghargaan kepada seorang putri untuk meminangnya.

Semburat merah muncul di wajahnya. Oh, ya ampun. Hinata serasa mau pingsan. Naruto mengatakan dia ingin menjadikan Hinata pacarnya. Hinata merasa melayang, terbang tinggi ke langit. Kalau itu nyata, yakin deh, pasti Hinata terbang tidak tentu arah. Namanya terkejut, kaget sekaligus senang.

Tanpa ada rasa keraguan lagi, Hinata memeluk Naruto. "Aku mau menjadi pacarmu, Naruto!"

Naruto mengangkat tubuh Hinata. Berputar-putar sambil melayang. Sebuah tepukan tangan dan siulan dari para teman-teman sekolah mereka membuat suasana menjadi haru. Astaga! Hari ini beruntung banget buat pasangan baru jadian ini. Memang enak, ya kalau itu bisa terjadi pada Sakura ke Sasuke atau Ino ke Sai. Sayangnya, Sasuke tidak ada di sini.


Acara meriah di gedung olahraga membuat suara riuh serak. Gadis berambut pirang berkuncir satu tadi bahagia melihat sahabatnya, lalu melirik ke arah pemuda berambut biru. Pertanyaan terbesit di benaknya. Tanpa muluk-muluk lagi, dia mendekati Menma.

"Aku ingin berbicara denganmu, Namikaze Menma."

To Be Continued...


Next Last Part: Happy Day?

Ketahuan! Inikah alasan dia tahu semua apa yang terjadi padanya? Menma Cuma menggeleng saja. "Kamu tidak tahu siapa aku, nona Yamanaka Ino!"

Tubuh Naruto tadi gembira sekarang terguncang hebat. Nafasnya tercekat. Tangan ditekan di dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Ingatan berpusat pada sang saudara kembarnya. Ada sebuah mobil berjalan kencang. Pengemudi tidak melihat apa yang ada di depannya. Menabrak tubuh seorang laki-laki berambut biru terguncang ke belakang. Nyawanya tidak tertolong lagi pada saat mobil Ambulans datang menghampiri.

"Naruto!" teriakan tersebut menggema di seluruh ruangan gedung olahraga. Gadis berambut merah muda melihat sahabatnya terjatuh. Sakura tidak tahu kalau air mata tersebut adalah air mata terakhir Naruto mengingat Menma adalah saudaranya.

"Menma..."

.o.O.o.

A/N: Tangis bahagia tidak sih? Sudah dapat satu, malah kehilangan satu. Sungguh menyayat hati :'(. Menma akan pergi di part terakhir itu. Tidak ada kebahagiaan. Untuk saat ini, mungkin ada epilog dan bonus part. Selayaknya bakal dituntaskan awal bulan depan. Dimohon dukungannya! ^^

Terima kasih sudah mereview buat mereka:
- Hikaru-Ryuu Hitachiin
- Faris Shika Nara
- Cicikun Syeren
- Nataka san
- Ekasari 12.7-TheRavenGirl
- A4 Project

Buat kalian masih agak bingung dengan part sebelumnya, saya akan mengubahnya. Buat kalian yang silent reader, terima kasih ya sudah membaca fic saya ini. Kalian adalah orang-orang paling saya kagumi karena kalian adalah saudara saya. ^^

Sunny Blue February

Date: Makassar, 26 February 2013

Thanks to Reading!