BABY ON LOANS
(Remake by Liz Fielding)
.
.
.
Main Cast :
Park Chanyeol (GS) & Kris Wu
.
Other Cast :
Park Luhan & Byun Baekhyun (GS)
Oh Sehun (GS)
Do Kyungsoo (GS)
Kin Jongin
Baby! Park Taehyung
Zhang Yixing (GS)
.
Genre:
Tentukan sendiri ^^
.
Rate:
Tentukan sendiri ^^
.
.
SELAMAT MEMBACA... ^^
.
Chapter 1
.
"Ayolah, Kris! Semua orang akan pergi. Tak ada satu orang pun yang akan tersisa di London..."
Kris Wu dengan mudah menahan keinginannya untuk tersenyum. "Hanya kau dan tujuh juta orang lainnya..."
"Jangan menertawakanku! Aku serius!"
Tertawa! Dia pasti bercanda. Kris sedang tidak ingin tertawa ataupun memanjakan keponakannya. Menilik cara semuanya berlangsung, keponakannya itu akan segera bebas. Sementara itu, tidak ada salahnya jika anak itu sekali-kali bersikap baik.
"Aku juga serius, Oh Sehun." Penggunaan nama panjangnya biasanya sudah cukup sebagai peringatan bahwa Sehun terlalu memaksakan keberuntungannya. "Kau berjanji dengan sungguh-sungguh akan menjaga rumah sementara aku pergi. Dan aku sungguh-sungguh percaya kau akan menepati janjimu, kalau tidak aku pasti sudah menggunakan jasa pelayanan pengurus rumah tangga yang biasa kugunakan."
"Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa mereka tidak bisa menyediakan orang dengan pemberitahuan yang begitu mendadak?"
Kata-kata Sehun begitu tajam hingga Kris heran anak itu tidak memotong dirinya dengan lidahnya sendiri. "Kurasa aku bilang akan sulit bagi mereka untuk menyediakan orang dengan pemberitahuan yang begitu mendadak."
"Oh, jangan sok...sok... seperti pengacara begitu!"
"Jangan mengejek profesiku, Sehun, profesi itu yang membayar semua tagihan. Tagihan yang cukup sering mencantumkan namamu."
Tanpa malu-malu, Sehun berganti taktik. "Kau kan bisa menelepon agen pengurus rumah tangga sekarang dan bertanya apa mereka bisa menemukan seseorang, bisa kan?" Bahkan gema hampa dari satelit komunikasi pun tidak bisa menyembunyikan nada merengek Sehun yang dimaksudkan agar Kris menuruti keinginannya.
"Sekarang? Kalau aku tidak salah, sementara di sini sekarang siang, aku cukup yakin bahwa di London sudah tengah malam. Kurasa agennya tidak..."
"Kalau begitu nanti," desak Sehun, sepertinya semangatnya tidak berkurang oleh kurangnya antusiasme pamannya. "Kau bisa menelepon agensi itu nanti."
"Aku memang bisa," jawab Kris ketus, "Tapi buat apa?" Kasus penipuan yang ditanganinya selama berminggu-minggu dan dijadwalkan maju. Sidang minimal tiga bulan sudah menyibukkannya sedemikian rupa, hingga membuat Kris enggan melayani kemanjaan keponakannya yang berusia delapan belas tahun itu. "Kau tidak punya uang untuk melancong keliling Eropa, kalau tidak kau tidak akan menghabiskan musim panasmu di London menjaga rumahku. Omong-omong, kau juga tidak bakal menggunakan teleponku untuk meneleponku lewat sambungan internasional."
"Sekarang kan sudah tengah malam," Sehun mengingatkan pamannya. "Tarifnya murah. Dan sebenarnya itu juga masalah lain yang ingin kubicarakan."
"Apa itu?" tanya Kris.
"Uang. Kupikir mungkin kau bisa meminjami aku uang sampai Mommy bisa berpikir jernih."
"Untuk berkeliling Eropa selama musim panas? Apa kau gila? Ibumu bisa kena serangan jantung."
"Aku tidak akan memberitahunya, kalau kau juga tidak memberitahunya," tukas Sehun sambil tertawa cekikikan seperti gadis kecil yang tidak bisa membodohi Kris barang satu menit pun.
"Usaha yang bagus, sayang. Tapi lupakan saja." Tahun ini Eropa terpaksa hanya menjadi impian Sehun. "Dapatkan nilai-nilai yang lebih bagus saat kau mengikuti ulangmu November nanti dan aku akan memberimu cek yang besar supaya kau bisa pergi main ski pada liburan Natal. Sementara itu, kusarankan kau menggunakan minggu-minggu mendatang yang panjang dan sepi ini untuk belajar, belajar, dan belajar." Saran Kris pada Sehun.
Sehun mengumpat kasar tentang belajar. "Bagaimana kau bisa begitu kejam?"
"Perlu latihan, malaikatku." Dan Kris sudah sangat sering berlatih karena beberapa wanita tidak bisa menerima penolakan halus. "Katakan padaku, bagaimana kabar pohon ficusku yang berharga? Kuharap kau tidak lupa menyiramnya?" Jawaban Sehun, seperti yang sudah diduganya, 'Ya' singkat dan berirama. "Airnya suam-suam kuku, jangan lupa," balas Kris dengan lembut.
"Oke," kalah Sehun sambil menghela nafas. "Aku akan melakukannya sekarang. Aku akan menyiram mereka dengan air suam-suam kuku, kemudian aku akan mengeluarkan mereka dari pot dan memotong semua akarnya." Lalu ia membanting telepon.
Kris tertawa, merasa jauh lebih baik karena percakapan tadi. Ia sama sekali tidak mencemaskan tanaman rumahnya yang malang. Tanaman-tanaman itu ide ibu Sehun, begitu juga perawatan rutinnya yang rumit. Kakak perempuan Kris itu telah mendesaknya untuk menyuruh anaknya menjaga rumah Kris selama ia berada di Timur jauh. Yang dibutuhkan Oh Sehun adalah tanggung jawab, sesuatu yang membuatnya merasa dipercaya, sesuatu yang bisa membuat putri kakaknya itu tetap tinggal di London, dan memusatkan pikiran pada ujian ulangnya. Berlawanan dengan akal sehatnya. Kris setuju dengan pemikiran kakaknya.
Dan Kris memang membutuhkan orang untuk menjaga rumahnya. Ia tidak mungkin meninggalkan rumahnya tanpa penjagaan selama ia menangani kasus ini, yang menurut perkiraannya akan memakan waktu, tapi sepertinya dua minggu menyirami tanaman sudah menguras kapasitas tanggung jawab Sehun sampai batasnya, apalagi sekarang teman-temannya meninggalkannya untuk bersenang-senang di Eropa. Memang sulit. Poor Sehun.
.
Chanyeol mematikan pancuran. Seseorang membunyikan bel pintu depan dan sepertinya jari orang itu terjepit. Seandainya tidak, orang itu sebaiknya punya alasan yang sangat bagus karena membuat keributan seperti ini.
"Baik, baik! Aku datang." Teriak Chanyeol sambil meraih jubah mandinya, membungkus rambutnya yang basah dengan handuk, dan menuju pintu.
Ketika dia membuka kunci, dering bel mendadak berhenti. Mungkin bunyi bel tadi sudah berhasil membangunkan separuh penghuni Taplow Towers, yang pasti tidak akan memandang Chanyeol dengan ramah pada jam setengah tujuh pagi begini.
Chanyeol memasang rantai, memutar kunci, dan membuka pintu beberapa senti. Tak ada seorang pun disana. Lalu ia menunduk. Sepasang mata yang mempesona balas memandangnya.
Sejenak hatinya meleleh, kemudian ia menyadari bahwa meskipun Taehyung pandai, keponakannya yang menggemaskan itu tidak mungkin membunyikan bel sendiri. Ia melepaskan rantai pintu. "Baekhyun? Luhan? Ada apa?" tanyanya sambil membuka pintu.
Kakak dan kakak iparnya sama sekali tidak kelihatan. Yang ada hanyalah selembar kertas kuning kecil dengan tulisan tangan Luhan. Ditempel di pintu kayu yang mengkilap. Chanyeol menariknya, mengangkatnya ke depan wajah, dan menyipitkan matanya untuk membaca kata-kata yang tertulis di situ. Merasa salah membaca pesan itu, Chanyeol meraba-raba mencari kacamata di kantung jubahnya. Tulisan itu langsung menjadi jelas. "Tolong jaga Taehyung selama beberapa hari," bacanya. "Kami akan menjelaskan saat kami kembali. Love, Luhan dan Baekhyun."
Kembali? Kembali dari mana? Pasti ada yang salah! Sangat salah!
Tiga lantai di bawah ia mendengar pintu lift terbuka. "Luhan!" ia berputar melewati kereta Taehyung dan bergegas menuju tangga. "Tunggu!" teriak Chanyeol. Ia sudah setengah jalan menuruni tangga ketika dihentikan oleh suara mencela tetangganya di lantai bawah.
"Ada yang salah, Miss Park?"
Dalam dunia Chanyeol yang teratur tidak pernah ada yang salah. Ia mengantisipasi masalah-masalah rasional dan mengatasinya sebelum masalah itu sempat berkembang. Dan belakangan ini ia sangat berhati-hati untuk menghindari masalah emosional.
Beberapa meter di atasnya Taehyung terisak dalam keretanya, merengek pelan, dan dengan ngeri Chanyeol menyadari bahwa ia mungkin baru saja mendapat masalah. Jauh dibawahnya, pintu depan dibanting keras. Ini masalah yang rasional dan emosional, dan ia berada dalam kesulitan besar.
Taplow Tower adalah tempat tinggal yang damai dan tenang. Tidak ada musik keras, binatang peliharaan, dan yang pasti tidak anak kecil, selain kunjungan-kunjungan singkat yang dibatasi hanya pada siang hari. Kim Heechul, anggota Residents Association yang memiliki telinga setajam kelelawar, menengadah waktu Taehyung merengek lagi. Satu hal yang ditakutkan Chanyeol.
"Apa itu tadi?" tanya Heechul curiga.
"Bukan apa-apa." Chanyeol berdeham keras. "Aku hanya sedikit batuk, itu saja." Ia terbatuk-batuk kecil untuk membuktikannya. "Aku minta maaf tentang keributan tadi. Aku sedang di kamar mandi dan tidak bisa membuka pintu secepatnya."
Tapi Chanyeol yakin itu bukan kebetulan. Alasan di balik kunjungan Luhan dan Baekhyun sepagi ini adalah untuk meyakinkan bahwa Chanyeol sedang tidak mengenakan apa-apa selain jubah mandi dan tampang cemberutnya sehingga tidak bisa mengejar kakaknya untuk menuntut penjelasan.
Dan mereka berhasil. Lebih dari yang Luhan harapkan, karena pengejaran itu sekarang lebih terhambat lagi oleh keharusan Chanyeol memasukkan Taehyung ke dalam apartemennya tanpa terlihat oleh Kim Heechul.
Chanyeol melambaikan pesan tadi sebagai bukti kejujurannya sambil kembali menaiki tangga. "Itu tadi Luhan. Kakakku. Dia meninggalkan pesan."
Kemudian sambil batuk lagi dan mencengkram jubahnya untuk menghalang-halangi kalau-kalau wanita itu berniat mengikuti langkahnya dan memperpanjang keluhannya, Chanyeol berkata, "Maaf, permisi kurasa tadi aku meninggalkan shower menyala." Chanyeol tersenyum minta maaf.
Lady Heechul tidak tergugah oleh seulas senyum Chanyeol. "Anda tahu kami tidak akan menoleransi kebisingan, Miss Park. Anda masih dalam masa percobaan untuk diizinkan tinggal disini. Tamu-tamu anda hari minggu kemarin sangat berisik..."
"Aku tahu dan aku minta maaf, tapi gigi Taehyung mulai tumbuh. Aku sempat membawanya keluar sebentar kok."
Waktu itu Chanyeol menawarkan diri untuk mengajak Taehyung berjalan-jalan dan memberi kesempatan kepada para tetangganya untuk istirahat sebentar. Sambil memeluk tubuh Taehyung yang hangat, ia berjalan-jalan di sekitar taman kecil di tengah lapangan. Saat ia kembali. Luhan dan Baekhyun yang malang tertidur di sofa.
"Itu tidak akan terjadi lagi," tambah Chanyeol cepat. "Aku janji."
Tidak ada... tidak ada yang akan merusak kesempatan Chanyeol untuk bisa tinggal di Taplow Towers. Tempat ini damai. Tenang. Sepenuhnya mudah di tebak. Taplow Towers bukan jenis tempat di mana pria-pria tampan akan mengetuk pintu seorang wanita waktu kehabisan kopi. Chanyeol seharusnya sadar bahwa seorang perayu ulung seperti Jongin pasti sudah banyak berlatih. Dan cepat atau lambat akan kehabisan kopi lagi.
Di Taplow Towers Chanyeol bisa bekerja di depan komputernya sepanjang siang, dan malam kalau ia mau, tanpa resiko adanya gangguan sedikit pun. Dia sudah pernah mengalami semua gangguan yang sanggup ditanggungnya. Tapi untuk bisa tinggal disini bukanlah hal yang mudah. Residents Association merasa lebih ama menerima wanita-wanita 'Usia Tertentu', tapi pernyataan Chanyeol yang agak tidak jujur bahwa dia baru saja 'kehilangan' tunangannya bisa diterima. Dengan bijaksana mereka mengubah pokok pembicaraan, dan kelihatannya mereka yakin bahwa hati Chanyeol sudah patah tanpa dapat diperbaiki lagi, sehingga ia diberi masa percobaan. Yang masih harus dijalaninya selama satu bulan lagi. Sekali salah langkah, ia hanya punya waktu 24 jam untuk meninggalkan apartemennya. Syarat itu ada dalam peraturan dan ia sudah menandatanganinya tanpa keberatan.
Sedikit menjilat mungkin lebih bijaksana, putus Chanyeol. "Aku benar-benar minta maaf karena sudah mengganggu anda, Lady Heechul."
"Baiklah. Miss Park. Kita tidak akan berpanjang-lebar lagi saat ini." Dan dia akhirnya tersenyum. "Semua orang diperbolehkan membuat satu kesalahan." Dibelakang Chanyeol isakan Taehyung semakin keras dan Chanyeol pun terbatuk-batuk makin keras dan kembali menaiki tangga. "Sebaiknya kau minum madu dan lemon untuk batukmu, sayang."
"Iya – batuk –aku akan meminumnya – batuk - terima kasih." Jawab Chanyeol.
Begitu Kim Heechul masuk kembali ke apartemennya, Chanyeol berbalik mencengkram pegangan kereta Taehyung, dan mendorongnya ke dalam, lalu menutup pintu di belakangnya tanpa suara.
Kemudian Chanyeol berputar dan bersandar di pintu, serta menarik handuk dari rambutnya. Hatinya diliputi kejengkelan sekaligus kerinduan ketika menunduk menatap keponakannya yang masih bayi.
Wajah Taehyung yang mungil berkerut seperti pria dewasa waktu mencoba memusatkan pandangan pada Chanyeol. Berusaha menenangkannya, Chanyeol menunduk lebih dekat. "Nah, Taehyung," gumamnya sambil mengusap pipi Taehyung yang lembut dengan punggung jarinya. "Kau sudah membuatku berada dalam kesulitan besar."
Ternyata melakukan hal itu adalah suatu kesalahan. Tinggi dan rupa Chanyeol yang memang berbeda dengan Baekhyun, suaranya yang tidak sama dengan Baekhyun. Dan Taehyung mengenal suara ibunya. Dan wanita dihadapannya bukan ibunya. Taehyung membuka mulutnya, bertekad membuat bukan hanya Chanyeol tapi juga seluruh dunia tahu persis apa yang dirasakannya tentang hal itu.
"Shhh!" kata Chanyeol."Shhh! Ayolah Taehyung!"
Meskipun pengetahuannya tentang bayi hanya sedikit, Chanyeol mengerti bahwa kalau ia tidak bisa membuat Taehyung bahagia dan tenang, hari-harinya di Taplow Towers akan segera berakhir. Ia mengangkat Taehyung, dan memeluknya di bahu.
"Aku akan menemukan Mommy dan Daddy, segera. Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji." Taehyung, untuk beberapa alasan, tidak bisa diyakinkan.
Secara insting Chanyeol mulai berjalan mondar-mandir di atas karpet tebal, seperti yang dilakukan Baekhyun hari minggu kemarin. Ia kembali mengingat wajah kakak iparnya yang pucat dan kelelahan. Luhan sendiri tidak kelihatan lebih baik dan dia masih harus bekerja.
Dan sekarang mimpi buruk lainnya pasti sudah menimpa mereka. Ketika melewati meja, Chanyeol meraih telepon. Ia ragu Luhan dan Baekhyun ada di rumah untuk menerima telepon, tapi ia bisa meninggalkan pesan. Mereka pasti memeriksa pesan-pesan, iya kan? Tak peduli keadaan darurat seperti apa pun yang membuat mereka pergi.
Tapi Chanyeol tidak perlu meninggalkan pesan apa pun. Mereka sudah meninggalkan satu untuknya.
"Chanyeol sayang, kami butuh tidur, maksudku benar-benar butuh tidur, dan Baekhyun pikir – kami pikir – karena kau bukan hanya bibinya Taehyung melainkan ibu baptisnya, kau tidak akan keberatan..."
Baekhyun menyelanya, "Tidak ada lagi yang bisa kami mintai."
Minta? Minta? Mereka tidak meminta, karena mereka tahu pasti apa jawabannya! Mereka tahu ia tidak bisa mengasuh bayi di Taplow Towers!
"Aku akan membawa Baekhyun pergi untuk beberapa hari, tidak ada telepon, tidak ada bayi," kata Luhan mengakhiri pesannya. Kemudian seperti mendapat gagasan lagi, dia menambahkan, "Kami akan melakukan hal yang sama untukmu suatu hari nanti. Janji."
"Tidak mungkin," Chanyeol mendengus.
Kemudian, merasa ngeri dengan kerumitan masalahnya, ia menatap Taehyung. Taehyung balik menatapnya sejenak sebelum mengumpulkan tenaga untuk menangis sekencang-kencangnya. "Jangan. Taehyung!" pinta Chanyeol.
"Kumohon., sayang!" Taehyung tidak mendengarkan.
Tapi semua orang mendengar Taehyung menangis.
.
"Panggilan terakhir untuk penerbangan British Airways menuju London, para penumpang diharap melapor ke..."
Kris mengambil boarding passnya dari petugas check-in dan berjalan ke bagian keberangkatan. Ini hari keberuntungan Sehun. Berkat kliennya yang mengubah pengakuannya pasti dia menerima bayaran yang tidak sedikit untuk melakukan hal itu demi melindungi orang-orang di posisi penting. Dan Kris akan segera pulang. karena tidak sudi berbagi rumahnya dengan siapa pun. Apalagi dengan gadis berusia delapan belas tahun, Kris akan meminjamkan uang pada Sehun supaya dia bisa bergabung dengan teman-temannya di Perancis. Dan sebagai gantinya Sehun harus menjanjikan beberapa hal serius mengenai pekerjaan. Dalam 24 jam lagi gadis itu akan bebas.
.
"Bagaimana? Kau mau menerimanya?"
Menerimanya? Chanyeol hanya punya waktu satu jam sebelum ia benar-benar jadi gelandangan. Ia akan mensyukuri tempat apa pun yang memiliki pemanas air yang berfungsi serta atap yang tidak bocor. Rumah ini melebihi mimpinya yang paling liar sekalipun. Dan yang terpenting, ia bisa langsung menempatinya. Sekarang. Saat ini juga. Rasanya terlalu bagus untuk jadi kenyataan.
"Aku bisa langsung pindah kemari?" Chanyeol perlu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Terjaga selama 29 jam, hanya sempat tidur dua puluh menit, dan sama sekali tidak memperoleh ketenangan bisa membuat orang mulai berhalusinasi.
"Tentu saja!" Oh Sehun kelihatan terlalu muda untuk menjadi pemilik rumah sebesar ini, tapi Chanyeol tidak mencemaskan hal itu. "Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini dalam keadaan kosong, selain itu aku perlu seseorang yang bisa kupercayai untuk memberi makan Mao-ku sayang selagi aku pergi." Kucing itu satu-satunya kekurangan dalam penataan rumah yang sempurna ini, mengedip kearah Taehyung, yang duduk di atas pangkuan Chanyeol. Taehyung berhenti menggigiti kemeja Chanyeol dengan gusinya dan menatap balik Mao. "Aku sudah hampir kehilangan akal."
"Benarkah?" Ada epidemi, ya? Bisa minta imunisasi, tidak? Apa gadis itu juga sudah gila? Pikir Chanyeol.
"Tentu saja. Jadi kalau kau suka, aku hanya butuh uang sewanya," desak Sehun, "Dan tempat ini milikmu, kunci, barang-barang dan semua perabot lainnya selama tiga bulan kedepan." Dia mengulurkan pena. "Yang harus kaulakukan hanya tanda tangaan di sisni."
Chanyeol mengeluarkan kacamata dari kantongnya, memakainya dan membaca surat perjanjian sewa dengan mata perih karena kurang tidur. Surat itu kelihatannya surat standar yang digunakan agensi yang sudah dihubunginya. Chanyeol cepat-cepat menandatangani surat itu dan menghitung uang jaminan dan uang sewa untuk tiga bulan di muka. Tunai. Mereka berdua tidak punya waktu untuk menunggu ceknya cair.
Oh Sehun menghitung ulang dengan gembira, kemudian menyerahkan kunci. "Semuanya milikmu," katanya, sambil melipat uang itu dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tasnya. "Kau akan menjaga Mao dengan baik, kan? Dia suka hati dan ikan cod segar, kau harus mencampurnya dengan tangan untuk memeriksa kalau-kalau ada tulang dan dia juga suka ayam cincang. Aku sudah menuliskan semuanya untukmu..." Chanyeol berusaha keras supaya tidak bergidik. Demi mendapatkan atap di atas kepalanya, ia bersedia mencincang daging ayam. "Oh dan juga daftar cara merawat tanaman." Tambah Sehun.
Oh, bagus. Chanyeol akan berusaha tidak membunuh tanaman-tanamanitu, walau apa pun yang rapuh cenderung layu kalau ia mendekat dlam jarak tiga meter saja. Tapi ia selalu bersungguh-sungguh melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Kalau tidak, mana mungkin Luhan Baekhyun berani meninggalkan anak pertama mereka di depan pintunya? Mereka tahu mereka bisa mempercayainya.
Mungkin Chanyeol harus melakukan sesuatu yang benar-benar memalukan dalam waktu dekat, sesuatu yang cukup buruk supaya mereka berpikir dua kali sebelum melakukan hal ini lagi.
"Apa kau sudah meninggalkan nomor telepon dokter hewan?" tuntut Chanyeol sambil mengikuti Sehun ke pintu. Tidak segampang itu menjadi orang yang tidak bertanggung jawab. Ia masih harus mengusahakannya. "Dan siapa yang harus kuhubungi kalau ada keadaan darurat? Kau sudah meninggalkan alamat yang bisa kuhubungi?"
"Aku tidak berencana untuk menetap di manapun selama tiga bulan ini," kata Sehun, sambil mengangkat ransel yang kelihatannya berat. "Jangan khawatir, tidak ada bencana yang akan terjadi." Salah. Bencana itu sudah terjadi. "Sampai ketemu tiga bulan lagi." Kata Sehun sambil berjalan pergi meninggalkan Chanyeol.
Tiga bulan. Waktu untuk mencari Taplow Towers yang lain. Tidak terlalu buruk. Lagi pula masalah dengan Taehyung hanya situasi sementara. Baekhyun tipe ibu yang sangat melindungi dan Luhan tergila-gila pada putranya.
Walaupun kelelahan, mereka tidak akan sanggup hidup lebih dari beberapa hari tanpa Taehyung. Dan mereka berdua pasti tahu betul apa akibat perbuatan mereka ini pada hidup Chanyeol.
Mereka akan kembali merasa malu dan bersalah karena menjerumuskan Chanyeol ke dalam situasi ini, keadaan akan kembali normal dan dalam hitungan jam hidupnya akan berbalik lagi, berjalan seperti biasa. Satu-satunya hal yang tidak akan sama lagi adalah Taplow Towers.
Seandainya saja kakak dan kakak iparnya itu menelepon, menjelaskan, Chanyeol bisa saja menginap di rumah mereka selama beberapa hari. Sebaliknya mereka malah mengirim semua perlengkapan Taehyung padanya lewat pos kilat, serta paket khusus berisi popok sekali pakai. Chanyeol tahu apa isi paket itu, karena tulisannya dicetak besar-besar pada seluruh permukaan paketnya. Penjaga pintu tidak mengatakan apa-apa waktu mengantarkan paket-paket itu ke apartemennya. Dia tidak perlu melakukannya. Ekspresi wajahnya yang muram sudah cukup mengungkapkan semuanya. Chanyeol sudah pasti menghadapi bencana.
Kurang tidur pasti sudah mengganggu otak mereka. Dan jika mereka memang berniat membuat Chanyeol diusir. Luhan dan Baekhyun sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Semua ini bukan salah Taehyung. Chanyeol menarik nafas dalam-dalam dan mencium rambut hitam Taehyung yang ikal. Lalu memeluknya. Chanyeol tidak yakin apa manfaatnya bagi Taehyung, tapi itu membuatnya jauh lebih baik.
"Maaf. Sayang, tapi aku harus menaruhmu sebentar sementara aku membuat secangkir teh."
Taehyung. Dengan mata bulat besarnya yang masih terpaku pada Mao, masuk dalam kereta dorongnya tanpa memprotes. Kucing itu menguap. Taehyung menggeliat senang dan tersenyum.
Terpukau oleh pemandangan itu, Chanyeol diam, dan selama beberapa saat yang menyakitkan, ia menyadari bahwa keponakannya yang masih bayi itu adalah hal paling indah yang pernah dilihatnya.
Jongin sialan.
Kucing itu mengeong minta keluar mengalihkan Chanyeol dari perasaan mengasihani dirinya sendiri yang membosankan.
Taehyung mengawasi kucing itu berjalan pelan-pelan ke taman, dan mulai merengek waktu Mao menghilang ke dalam semak-semak, lalu tangisannya melengking.
"Oh..." Chanyeol menatap Taehyung dan menelan kembali kata-kata yang hampir terloncat keluar dari bibirnya.
"Mao!" panggil Chanyeol.
Tapi kucing itu sudah hilang. Bagaimana kalau dia tidak pernah kemabali? Dua jam yang lalu Chanyeol tidak akan peduli, tapi kalau Taehyung menyukai kucing itu, maka Chanyeol harus membeli ayam paling mahal dari Fortman dan mencincangnya untuk memikat makhluk berharga itu. Mungkin ada gambar kucing di suatu tempat...
.
Sehun memungut koran, memakainya untuk menaungi matanya dari pantulan air laut yang menyilaukan.
"Bukankah itu kasus pamamnmu?" kata Kyungsoo sambil menoleh ke belakang untuk membaca berita utama. KASUS PENIPUAN FAR EAST. "Benar, lihat ada fotonya." Kyungsoo merebut koran itu dan tersenyum lebar. "Wow, dia seksi sekali!"
"Oh, tolong! Dia cukup tua untuk menjadi ayahmu."
"Nyaris seumur ayahku." Kyungsoo menghela nafas. "Aku ingat waktu dia memberi pidato, bertahun-tahun yang lalu... dia kelihatan sangat menderita. Sangat.. tertutup. Aku berfantasi tentang dia selama berminggu-minggu. Menenangkannya, membuatnya hidup lagi..." Kyungsoo menyeringai. "Yah, kau tahulah kelanjutannya..."
Sehun memutar bola matanya. "Aku tahu. Kau dan separuh perempuan di London yang menurut ibuku, orang-orang bodoh. Pamanku sudah kehilangan belahan jiwa dan juga bayi perempuannya. Melupakan hal seperti ... yah, kurasa kau takkan pernah bisa melupakannya. Hanya pekerjaanlah yang membuatnya bertahan. Mom bilang, kalau dia tidak bersantai, mungkin dia bakal menjabat Lord Chief Justice."
"Sia-sia sekali." Kemudian Kyungsoo membaca, "Terdakwa mengubah pengakuan? Apa artinya?"
Sehun mengerutkan kening, mengambil koran itu dari temannya supaya bisa membacanya sendiri, lalu mengerang. "Artinya Kyungsoo, aku dalam masalah besar. Aku sudah menyewakan rumahnya pada seorang wanita dengan bayinya yang senang menangis sekeras-kerasnya..."
Mereka bertukar pandangan ngeri. "Dan mungkin pamanku sedang dalam perjalanan pulang sekarang. Bagaimana aku bisa setolol ini?" erang Sehun penuh frustasi.
.
Ada banyak gambar. Lukisan Belanda di atas perapian di ruang makan semi basement di sebelah dapur. Satu seri gambar kartun pengacara-pengacara yang mengenakan wig dan jubah di tangga dan gambar kuda di ruang duduk di lantai atas.
"Lihat kuda yang cantik ini, Taehyung," bujuk Chanyeol. Taehyung tidak terkesan.
Ada lukisan pemain cricket abad ke-19 yang terkenal di tangga utama dan lorong, setidaknya Chanyeol menduga mereka terkenal, kalau tidak, tak akan ada yang mau repot-repot melukis mereka.
Tidak ada kucing.
Kamar tidur utama didekorasi dalam warna merah yang hangat dan dilengkapi perabot kayu walnut yang antik. Tidak terlalu cocok dengan gambaran Sehun (celana panjang cargo, tindikan di hidung, dan model rambutnya yang radikal).
Kamar kedua dibuat menjadi ruang kerja, dengan rak buku yang tingginya sampai ke langit-langit rumah dan penuh berisi buku-buku hukum. Chanyeol ingat gambar kartun tadi dan bertanya-tanya apakah gambar-gambar itu milik keluarga. Mungkin pemilik rumahnya yang baru mewarisi rumah dan buku-bukunya. Itu bisa menjelaskan banyak hal.
Ada meja yang luar biasa besar dengan ruang yang cukup untuk pemindai dan komputer yang dibawanya. Ia belum sempat menghubungkan keduanya. Kalau Taehyung sudah tidur, janji Chanyeol pada dirinya sendiri, ia akan mulai bekerja, mencoba mengejar ketinggalannya.
Chanyeol belum melihat kamar yang ketiga. Sehun hanya melewatinya tadi, menggumamkan sesuatu tentang kamar yang dijadikan gudang dan sudah tidak digunakan selama bertahun-tahun itu. Pintunya keras, sepertinya belum pernah dibuka untuk waktu yang cukup lama, tapi dibalik debu cat kamar itu berwarna kuning-putih yang ceria sehingga akan kelihatan cerah bahkan di malam gelap sekaipun. Tapi tidak ada gambar-apa-apa, hanya beberapa kotak yang kelihatannya tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun.
Chanyeol kembali ke dapur sambil berharap Mao sudah kembali. Kucing itu belum kembali, tapi Taehyung yang sudah kelelahan akhirnya tertidur dalam pelukan Chanyeol.
Merasa lapar tapi tidak mau mengusik si bayi yang sedang tidur, Chanyeol menemukan setengah biskuit cokelat yang ditinggalkan Sehun, lalu dengan hati-hati ia duduk di kursi berlengan yang besar dan nyaman, dan mulai makan dengan lahap.
Chanyeol pasti sudah tertidur waktu biskuitnya baru setengah digigit karena sewaktu Mao, yang mengeong dan mencakar-cakar jendela membangunkannya, ada remah-remah cokelat mengotori bagian depan kemejanya, sisa biskuitnya sudah jatuh ke lantai dengan sisi cokelatnya terbalik di atas karpet.
Chanyeol lalu memasukkan kucing itu, memandikannya dan menyuapi Taehyung, dan akhirnya menidurkannya dalam tempat tidurnya. Lalu Chanyeol menjatuhkan kemejanya yang sudah kusut dan ternoda cokelat dalam keranjang cuci beserta seluruh pakaiannya, menarik kaus, benda pertama yang bisa diraihnya, menggosok gigi dan roboh ke tempat tidur.
Sejenak sebelum tertidur, dalam benaknya Chanyeol melihat biskuit cokelat yang tergeletak di atas karpet persia di ruang duduk dan menyadari seharusnya ia bangun dan membersihkannya. Dan menyalakan alarm antimaling. Lalu semuanya hilang.
.
Kris menjatuhkan tasnya di koridor dan berjalan menuju sistem alarm untuk memasukkan nomor kodenya. Alarmnya tidak dinyalakan. Sehun pasti lupa. Seharusnya Kris tidak menyerah pada permintaan kakaknya dan mengizinkan Sehun tinggal disini.
Besok dia akan menulis cek untuk Sehun. Gadis itu akan langsung pergi seperti salju di bulan Agustus dan semuanya akan kembali normal.
Tah, setidaknya hampir normal. Sekarang tengah malam di London, tapi ia sudah tidur di pesawat dan mungkin akan perlu beberapa hari sebelum tubuhnya bisa menyesuaikan diri lagi. Saat ini, ia masih terjaga dan lapr. Kris hanya berharap masih ada sesuatu yang bisa di makan di kulkas. Ia menyalakan lampu dapur, menelan ludah, dan dengan teguh berusaha mengabaikan bak cuci yang penuh dengan piring-piring kotor.
Lebih sulit lagi untuk mengabaikan aroma familiar yang samar-samar dan mengganggu itu. Aroma yang tidak terlalu diingatnya. Mungkin karena terhalang bau ikan kukus.
Bunyi remah-remah biskuit yang hancur seperti pasir di bawah kakinya yang mengalihkan perhatian Kris juga tidak membuatnya merasa lebih baik.
Lupakan ceknya. Sehun akan sangat bersyukur bisa lolos dari sini saat Kris sudah selesai berurusan dengannya. Menjaga rumah, huh! Gadis itu bahkan tidak bisa diandalkan untuk menjaga kotak kardus.
.
Pikiran pertama Chanyeol waktu terbangun dengan tiba-tiba adalah panik. Terlalu tenang. Ia melompat turun dari tempat tidur, mengintip cemas ke dalam tempat tidur bayi, lalu meraba-raba kacamatanya dan memakainya supaya bisa melihat lebih jelas. Hanya untuk berjaga-jaga. Seminggu melakukan ini dan ia akan menderita gangguan saraf.
Tapi tidak ada yang salah dengan Taehyung. Dalam sinar temaram yang berasal dari lampu di koridor, Chanyeol bisa melihat bayi itu sedang tidur nyenyak. Chanyeol menyentuh pipi Taehyung, hangat, tapi tidak terlalu hangat.
Keponakannya baik-baik saja. Malah sebenarnya sangat menawan, dengan pipi kemerahan dan rambut hitamnya yang mengikal lembut di telinganya.
Mao juga baik-baik saja.
Chanyeol membeku, rasa ngeri menyergapnya. Baekhyun pasti akan mengalami serangan hebat kalau dia bisa melihat bayinya yang berharga berbagi tempat tidur dengan Mao, yang sudah melingkar nyaman di kaki Taehyung.
Chanyeol mengangkat kucing itu. Mau memprotes. Taehyung bergerak. Chanyeol memaksa dirinya memeluk kucing itu, bergumam sambil membelainya, walaupun kulitnya merinding waktu menyentuh bulu Mao.
Mao menatapnya dengan sepasang mata curiga dan menyipit. Sepertinya dia tahu persis apa yang sedang dipikirkan Chanyeol sewaktu gadis itu berjingkat menuju pintu.
Chanyeol baru saja sampai di koridor waktu menyadari apa yang sudah membuatnya terbangun. Ada orang di dapur.
.
.
.
.
.
TBC...
.
A/N : akhirnya aku update chapter 1,, mungkin banyak typo dan bahasa yang amburadul, mohon maafkan. Owh ya terima kasih buat yang udah review. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca cerita ini... ^^
Ditunggu reviewnya... *muach
