Funny Sunny Day

.

Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi

Warning: OOC, typo(s), AU, isi seadanya, sekuel STILL, pertemuan Naruto dan Hinata di Jepang | Genre: Romance, School, Fluffy, Humor, Tragedy, Sad ending and Happy Ending | Rate: T | Main Pairing: Naruto Uzumaki/Namikaze and Hinata HyuugaStory is mine

Enjoy Reading!

.

.o.O.o.

Part V: Happy Day?

"Aku ingin berbicara denganmu empat mata, Namikaze Menma."

Suara tersebut menghentikan kegembiraan di benak Menma. Dia menolehkan wajahnya ke arah gadis berkuncir satu dan warna rambutnya sedikit pucat beda dengan dimiliki Naruto seperti bak matahari. Menma sangat bingung pada kedatangan seorang gadis Yamanaka Ino. Dia tidak memilih teman, tapi takut melihat reaksi Shimura Sai. Sai betul-betul sangat menyukainya walaupun dia belum menyadarinya.

"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Menma kembali menatap suasana gembira pada pasangan baru jadian itu.

Sebenarnya Ino tidak mau mengatakannya pada Menma, tapi setiap kali melihat sesuatu di diri pemuda berambut biru ini, Ino selalu penasaran setengah mati. Dia bukan satu-satunya bisa merasakan keberadaan mengerikan di hadapannya. Tapi, dia juga sama. Punya pikiran aneh tentang kehidupan seseorang. Bukan karena ilmu Ino bisa merasakannya, tapi bisa dilihat raut wajah Menma terlihat sedih setelah tidak sengaja memecahkan gelas waktu di kantin.

"Bisakah kita bicara di luar? Di sini bukan tempat yang tepat." Ino berbalik mata melihat kedua pasangan tengah bergembira bersama gadis merah muda dan pemuda berambut hitam klimis. "Mereka tidak tahu karena aku bisa menjaga rahasia."

Menma paling tidak mau berbicara dengan gadis yang belum dikenalnya. Tapi, Ino sudah menjadi teman Sakura jadi mereka bisa bertukar sapa dan berkenalan. Bukan berarti Menma tertarik. Apalagi Ino menyukai Shimura Sai.

"Boleh." Menma berbalik badan menuju pintu keluar gedung olahraga, Ino mengikutinya.

Tanpa disadari mereka, Sakura mencium gerak gerik Menma dan Ino. Ingin sekali mengetahuinya, Sakura mengurungkan niatnya. Mungkin Menma ingin berbicara tentang Sai, ingin tahu tentang perasaannya. Sakura pun melanjutkan kembali acara kegembiraannya ini.


Di luar, Menma memandangi langit indah di dekat lapangan sepak bola. Hatinya sedih dan juga gembira. Perasaannya campur aduk tidak menentu. Takut sekali jika sewaktu-waktu dia akan meninggalkan pemuda berambut keemasan, saudara kembarnya. Takut suatu saat dia akan melupakannya sama seperti pernah diucapkannya waktu mereka sama-sama tidur di kamar Menma.

"Kalau kamu pergi lagi dariku tanpa bilang-bilang, aku akan melupakanmu dan tidak mengingatmu lagi!" sumpah laki-laki berambut kuning keemasan tengah berbaring di tempat tidur sambil membaca buku.

"Alasannya apa dulu?" Menma memutar kursi belajar menatap Naruto, dahinya berkerut dan alisnya diangkat. "Bukankah kita bisa bersama lagi sejak kita pulang dari Paris?"

Naruto menghempaskan buku dibacanya ke sampingnya. Dia merunduk. "Sejak kita pulang dari Paris. Waktu aku menginjakkan kaki di Tokyo, aku merasa kamu akan pergi dari diriku untuk selama-lamanya."

Pemuda berambut biru bangkit dari kursi belajar, melangkah mendekati tempat tidur dan duduk di samping Naruto. "Siapa bilang kalau aku pergi untuk selamanya? Sekarang aku berada di sini, bersamamu. Menjagamu. Menemanimu. Sama sepertimu juga menjagaku dan menemaniku."

"Menurutmu isnting saudara kembar itu Cuma insting belaka?!" Naruto berucap kesal. "Kamu harus tahu! Setiap aku membayangkan hal aneh, aku merasa aku akan ditinggalkan olehmu. Aku takut saat kamu tidur, kamu tidak akan bangun! Saat kamu diam, aku takut kamu berdiri tapi tidak punya nyawa! Aku ketakutan tahu!"

"Kita telah lahir di rahim ibu yang sama. Dibesarkan. Dimanjakan. Walaupun aku jarang mendapatkan kemanjaan dari seorang ibu, tapi... kamulah. Kamulah yang memanjakan aku setiap kali aku selalu meminta. Kamulah yang menemaniku setiap aku sendirian." Naruto berusaha menahan kesedihannya. "Setiap kali melihatmu tidak gembira, aku mungkin akan sedih."

Menma merangkul pundak Naruto penuh persaudaraan. "Kamu ingin tahu kenapa aku setiap hari sedih?" Naruto mengangkat kepalanya, menatap Menma dan menggeleng. "Itu karena kamu sedang bersedih, jadi aku juga ikut-ikutan bersedih."

"Sejujurnya, aku ingin sekali bersamamu untuk selamanya sampai kita dewasa. Saat aku ingin bermain sewaktu di luar negeri, aku melihat sepasang saudara menghibur satu sama lain. Aku iri padanya. Aku ingin pulang dan bersama denganmu. Aku tidak mau jauh-jauh darimu." Menma berusaha menahan kegelisahannya setiap mengingat masa kesendirian sewaktu di luar negeri. Hatinya sakit sekali. Menma meminta dan memohon-mohon agar ibu dan ayahnya mau mengizinkannya pergi ke Paris menemui saudara kembarnya. Apa mau dikata, orangtua selalu melarangnya.

"Jika aku merasa sakit, entah kenapa aku merasa kamu juga sakit. Begitulah sebaliknya. Sedih. Kecewa. Marah." Mata Naruto melebar tidak percaya. "Sungguh! Pernahkah kamu marah pada waktu tahun baru, yang berkata ibu dan ayah akan pulang ke Paris?" Naruto mengingat di mana dia marah-marah sama Rin, bibinya. Marah kenapa orang tua dan saudara kembarnya belum pulang. "Saat itulah aku baru pertama kali membentak orang tua kita. Aku mengamuk sepanjang malam. Setelah itu, pagi hari... entah kenapa aku tidak marah-marah lagi. Aku juga tidak tahu kenapa. Padahal aku masih marah sama ibu kita."

Pemuda berambut keemasan mengingat apa yang terjadi pada tahun baru. Waktu itu, dia marah tiada henti. Marah kepada orang tuanya. Bertanya-tanya, kenapa selalu saja mengingkari janji. Dia mengunci diri di kamarnya dan tidak mau berbicara dengan siapa pun. Awalnya ingin marah lagi dan mogok makan, tapi ajakkan sang paman, Hatake Kakashi membuat dia menghilangkan emosinya. Dia bahagia sampai waktu di mana orang tuanya sudah menepati janjinya.

"Wow! Jadi, kamu merasakannya juga?" Menma tersenyum dan menggoyangkan tubuhnya sambil merangkul pundak Naruto. "Hebat sekali. Ini benar-benar telepati batin dan fisik. Kita benar-benar saudara kembar. Aku pikir tidak ada saudara kembar punya komunikasi begitu, ternyata ada toh!"

"Senang bisa melihatmu tersenyum lagi, sahabat dan saudaraku!" Menma tertawa melihat Naruto tertawa juga. Mereka berdua tertawa terus menerus sambil bercanda. "Jadi, jangan berpikir macam-macam, ya?"

"Iya, aku janji. Tapi, perkataanku sungguh-sungguh lho tadi," ancam Naruto siap membuat Menma sulit berkata.

Kalau itu benar? Apa yang akan terjadi? Dia takut sekali kalau suatu saat dia akan meninggalkan saudaranya. Apa dia akan tersenyum dan tertawa seperti ini? Dia tidak mau menjadi beban untuknya. Jadi, dia harus menemukan seseorang untuk membuatnya bahagia.

Pikiran ingatan terlontas saja di benaknya. Sejak bertemu gadis berambut biru seperti dirinya, dia tahu suatu saat nanti Naruto akan jatuh cinta pada gadis ini. Hal itu terbukti benar. Hari ini mereka sudah resmi pacaran. Semuanya sudah bisa dilakukan untuk melihat Naruto bahagia. Itu saja sudah cukup.

"Aku ingin bertanya soal rasa penasaran ini," suara seorang gadis membuyarkan lamunannya. Dia bermaksud membelakangi gadis itu sekaligus mengingat masa-masanya dulu bersama Naruto. "Kamu merasakan kalau kamu akan 'pergi', Namikaze Menma?"

Ketahuan! Inikah alasan dia tahu semua apa yang terjadi padanya? Menma Cuma menggeleng saja. "Kamu tidak tahu siapa aku, nona Yamanaka Ino!"

"Tidak usah berteriak seperti itu, aku tidak tuli!" kerutan muncul di dahi Ino. Ino menyilangkan tangan di depan perutnya. "Aku merasakan itu akan terjadi secepat yang aku pikirkan."

Tubuh Menma menegang. Secepat itukah? Kedua tangan Menma mengepal erat. Sudah berputus asa melihat apa yang terjadi. Takut. Gelisah. Kecewa. Tunggu, kenapa dia kecewa? Kecewa pada apa? Kecewa padanya karena tidak bisa menepati janji untuk tidak meninggalkannya lagi.

Dunianya sudah runtuh. Jika itu memang sudah suratan takdirnya, mau diapakan lagi. Dia Cuma pasrah pada yang Di Atas. Yang paling dia takutkan adalah Naruto akan melupakannya. Itu hal paling dia takutkan selama ini.

"Bisakah kamu berjanji untuk tidak mengatakannya pada orang lain?" tanya Menma menahan napas, lalu dibuang keluar secara perlahan. Membalikkan badan menatap gadis blonde berkuncir satu.

"Sebetulnya, bukan hanya aku saja yang tahu suatu saat nanti. Mungkin kamu belum menyadarinya." Ino memalingkan wajah ke lapangan bola. "Keluargamu banyak mengetahuinya suatu saat nanti. Jadi, butuh waktu berapa tahun agar Naruto mengetahui semuanya termasuk Hinata. Jadi, bisa dibilang aku ini tukang lupa dan tidak mengingat apa yang aku janjikan bersamamu."

"Itu lebih baik." Kedua mata memandang langit biru. "Itu lebih baik daripada mengingat apa aku katakan."

Sejenak terdiam. Mereka tidak mau berbicara apa lagi. Semuanya tergantung waktu dan rencana Tuhan. Mereka pasrah saja apa yang terjadi kemudian hari. Untuk sekarang, biarkan dia mendapatkan kebahagiaan bersama saudaranya. Walau ini adalah yang terakhir. Itu harapan Ino sesaat kepada Tuhan. Kepada Kami -sama.


"Menma!" panggil pemuda berambut kuning keemasan kepada pemuda berambut biru. Dia berlari memeluknya, penuh kasih sayang. "Terima kasih! Kamu benar-benar saudaraku yang paling baik!"

Pemuda itu membalas pelukannya memasang senyuman kecil namun ada kesedihan terbesit di dalamnya. Menma melepaskan pelukannya dan menatap raut wajah Naruto penuh kegembiraan. "kamu senang?"

Naruto tersenyum. Senyum tulus. Alangkah indahnya di dalam pikiran Menma karena berhasil membuat saudaranya bahagia. Sungguh adilkah dunia ini? Meninggalkan saudara sepolos dia? Kalau adil, izinkan dia memohon sekali saja sebelum dia pergi meninggalkan dunia ini.

"Nah, aku akan mentraktirmu. Kamu mau minta apa, aku akan mengabulkannya?" ekspresi Naruto belum berubah, masih seceria sebelumnya. Menma mengangkat tangannya untuk menyentuh pundak Naruto, tersenyum.

"Sebelum kamu mentraktirku. Izinkan aku membuatmu tercengang dan terkejut," ledek Menma. Senyuman ledekkannya membuat Naruto ingin marah, tapi tidak bisa marah. Naruto tidak tahu itu apa.

"Baik! Kalau itu maumu, tukang ledek dan super kejutan," kesal Naruto terlihat kesal. Baru kali ini, Menma melihat saudara kembarnya kesal. Menma Cuma tertawa kecil. "Kenapa kamu tertawa?"

"Tidak apa-apa," Menma mengibas-ngibaskan tanggannya. "Oke, bagaimana kalau kita mengajak semua teman-teman kita makan di luar sepulang sekolah. Biar aku yang traktir. Begini-begini aku masih tahu diri."

"Mentang-mentang uang dari bibi membuat kamu jadi sombong." Pemuda berambut keemasan berkacak pinggang. "Tapi, tidak apalah. Enak dapat bayaran gratis."

Menma tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Naruto. Naruto berkerut kesal. "Iya, iya. Tunggulah aku di dekat pintu gerbang. Kalau sudah selesai, aku akan menghubungimu."

Berbalik badan, berlalu pergi. Pemuda itu melihat saudara kembarnya menyembunyikan sesuatu. Ditatap punggung belakang Menma, Naruto sedih di dalam hatinya. Dia merasakan itu pandangan Naruto terhadap Menma. Pandangan terakhir.

Karena tidak mau berpikir tidak-tidak, Naruto berbalik arah beda dengan tujuan Menma. Naruto bersiap-siap untuk pulang sekolah. Alasannya karena kepala sekolah memberitahukan bahwa mereka pulang cepat. Berkat itu, Naruto bisa memperkenalkan Hinata ke keluarganya. Dia betul-betul berpikir jika itu benar terjadi, melihat reaksi mereka. Kebahagiaan ini benar-benar membuat seluruh hidupnya melayang. Tapi, satu kenyataan itu tidak akan lari jika itu sudah tiba. Entahlah, Naruto tidak mau berpikiran macam-macam.


Awalnya Menma mau memesan tempat traktiran memakai telepon, tapi entahlah.. dia harus memesan tempat dengan cara berbicara langsung ke tempat pesanannya. Takut direbut oleh orang lain. Teman-temannya ada banyak, bukan berarti dia akan mentraktir seluruh anak sekolah, tapi juga mengajak seluruh keluarganya untuk makan bersama.

Akhirnya Menma meminta izin terlebih dahulu pada kepala sekolah dan wali kelas. Dia akan kembali ke sekolah tepat waktu. Dia pun meminta izin pada Sai untuk meminjam motornya sebentar saja. Untungnya, Sai mengizinkannya. Syukurlah Menma bisa secepat kilat kembali ke sekolah tepat waktu daripada memakai taksi yang super duper lama.

Sejenak jalanan sepi, Menma meluncur dengan kecepatan maksimum. Ingin sekali melihat wajah Naruto gembira apa kejutannya lagi. Namun, dia tidak melihat di seberang jalan ada mobil berkecapatan tinggi. Mobil itu besar, sangat besar malah. Mobil itu cocok untuk orang-orang pergi menaiki gunung atau tempat yang tinggi. Menma tidak mengerem tepat waktu. Menma pun menabrak mobil itu tepat di depannya.

Ban motor menabrak bemper mobil tersebut. Karena kaget dan lupa bawa helm, Menma terlempar ke depan, sangat jauh. Kepalanya terantuk keras di jalanan beraspal dan mengeluarkan darah segar di bagian kepalanya, membasahi aspal jalan. Pandangan Menma kabur. Ada bayangan Sakura tersenyum melihatnya, Sai tersenyum karena punya teman di sekolah, Ino berjanji sambil tersenyum, Sasuke juga tersenyum padanya dan... ingatan tentang Naruto dan Hinata berpelukan. Juga Naruto berteriak memanggilnya sambil memeluknya.

"Maaf... Naruto..."

Pandangan di sekitarnya gelap. Jantung berhenti berdetak, sudah tidak ada keraguan lagi di benaknya. Dia berharap Sakura, Hinata, Sai, Ino dan Sasuke bisa melindungi Naruto di mana pun berada begitu juga dengan keluarganya. Dia berharap orang tuanya mau menerima resiko apa pun keadaannya. Menma masih mendengar suara ambulans di telinganya, namun sayang... dia sudah... meninggal dunia dalam keadaan tenang dan tersenyum.


Beberapa menit lalu sebelum Menma mengalami kecelakaan mobil, Naruto memberitahukan pada teman-temannya kalau dia akan mendapat kejutan lagi dari saudara kembarnya. Sakura dan Hinata gembira mendengarnya sekaligus melihat Naruto bahagia. Tidak beda dengan Ino dan Sai berusaha tersenyum. Ingatan mereka akan pemuda berambut biru itu hilang di telan badai. Seolah-olah Menma tidak ada di dunia ini.

Tubuh Naruto tadi gembira sekarang terguncang hebat. Nafasnya tercekat. Tangan ditekan di dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Ingatan berpusat pada sang saudara kembarnya. Ada sebuah mobil berjalan kencang. Pengemudi tidak melihat apa yang ada di depannya. Menabrak tubuh seorang laki-laki berambut biru terguncang ke belakang. Nyawanya tidak tertolong lagi pada saat mobil Ambulans datang menghampiri.

"Naruto!" teriakan tersebut menggema di seluruh ruangan gedung olahraga. Gadis berambut merah muda melihat sahabatnya terjatuh. Sakura tidak tahu kalau air mata tersebut adalah air mata terakhir Naruto mengingat Menma adalah saudaranya.

"Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku untuk kedua kalinya?" pemuda berambut kuning keemasan memperlihatkan jari kelingking sebagai bukti janji kepada pemuda berambut biru di hadapannya.

"Aku berjanji!" Pemuda rambut biru menautkan jari kelingking ke jari pemuda rambut kuning keemasan bak seperti matahari. Mengulaskan seutas senyuman.

"Menma..."

Sekeliling Naruto, teman-temannya menghampiri termasuk pacarnya. Mereka takut kalau Naruto akan pergi. Akhirnya Sai menelepon ambulans lewat telepon genggamnya. Dia juga mengangkat tubuh Naruto dengan merangkul di sebelah kanan, sedangkan Sakura di sebelah kiri. Begini-begini, Sakura kuat dalam merangkul seseorang.


Sesampainya di rumah sakit, Naruto belum sadar. Kata dokter tadi, denyut jantung Naruto berhenti. Tetapi setelah ditangani oleh orang-orang di Rumah Sakit, denyut jantung Naruto kembali berdenyut. Sungguh keajaiban terindah.

Akan tetapi, perasaan gundah terbenam di pikiran Sakura. Saat ini dia sedang menunggu temannya sekaligus sahabat sejati dan saudara kembar Naruto. Sakura mengambil telepon genggam di tas sekolahnya. Menekan nomor telepon pemuda dicarinya. Dia menggigit bibir berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Belum diangkat. Setelah beberapa saat, jalur di sana diangkat.

"Halo? Menma, kamu ada di mana?" tanya Sakura menghentikan kemarahannya kepada Menma, tapi suara di jalur sana bukan suara pemuda berambut biru tersebut. "I-ini siapa? Kenapa kamu memegang ponsel Menma? Suster... memangnya Menma ada di mana?" Sakura berhenti sejenak. Raut wajahnya berubah. Air mata di pelupuk mata menetes. "I-itu tidak mu-mungkin. Bohong! Dia tidak mungkin..." tangan Sakura yang bebas, menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara isakan. "Baiklah... saya akan berbicara dengan keluarganya..."

Jalur tersebut tertutup. Tangan yang menutup mulutnya, diletakkan di dinding dingin. Dia jatuh. Menyandarkan kepalanya di samping dinding itu, merunduk. Menangis terisak-isak. Berita tadi membuatnya dunianya terguncang. Menma sudah tidak ada lagi. Dia meninggal setelah Naruto pingsan. Pantas saja Naruto pingsan dan jantungnya berhenti berdetak. Namikaze Menma meninggal dunia karena kecelakaan.


Keluarga datang secepat kilat ke Rumah Sakit untuk mengecek keadaan Menma dan Naruto. Syukurlah karena mereka berdua berada di Rumah Sakit yang sama. Mereka satu per satu menjenguk kedua orang. Mulai dari Menma. Mereka melihat tubuh Menma tidak bernyawa lagi. Wajahnya tenang dan tersenyum. Sedang apa pikirannya saat ini. Apa mungkin sudah tidak ada lagi perasaan menyesal menghinggapinya?

Keluarga Sabaku dan keluarga Uzumaki melihat tubuh Menma. Mereka membuka kain putih menutupi tubuh yang bersimbah darah dan juga kepalanya. Mereka menangis. Tidak menyangka kalau suatu saat nanti mereka akan berpisah dari anak ini untuk selamanya.

Gadis berambut merah muda melihat bibi kesayangannya, Uzumaki Rin memeluk kepala Menma. Membenamkannya dekat dengan wajah Menma. Hatinya sangat sakit. Sakura berbalik badan. Berlutut sambil menangis tanpa suara. Akhirnya dia belum bisa berbicara dengan Menma untuk terakhir kalinya. "Sepertinya janji itu tidak bisa dikabulkan olehnya, Sasuke..."

Mereka pun menjenguk Naruto. Di sana Naruto belum sadar dari tidurnya. Entah apa yang akan terjadi saat Naruto mengetahui semuanya. Apa dia akan marah, kecewa, sedih, atau... menangis? Mereka tidak tahu. Semoga saja semuanya baik-baik saja.

Pemuda berambut kuning keemasan membuka mata biru langitnya secara perlahan. Semua orang berada di ruang rawat Naruto kaget. Mereka berhamburan mendekati Naruto walaupun mereka memberikan jarak untuknya. Sambil melihat sesuatu di dalam pikiran Naruto, mereka tidak bisa berkata.

"Aku... ada di mana...?" tanya Naruto memegang kepalanya sedikit berdenyut. Ditatapnya semua orang di sekitarnya. "Kalian kenapa ada di sini? Bukankah aku seharusnya ada di sekolah?"

Gadis berambut merah muda mendekatinya. "Kamu mengingatnya?"

Dia mengangguk. Hening sejenak.

"Kalian kenapa?" tanya Naruto lagi. Pandangan tertuju pada Hinata, gadis rambut biru panjang. "Hinata? Kenapa kamu ada di sini juga? Apa yang terjadi padaku?"

Sakura merangkul pundak Naruto diikuti oleh pemuda berambut merah tanpa alis. Sakura pun berbicara, "berjanjilah kamu harus menahan amarahmu."

Alis Naruto terangkat. Heran dan bingung pada wajah dan ekspresi semua keluarganya termasuk Sakura. Naruto mengangguk lemah. Otaknya sangat sakit kalau terus mengangguk lama.

"Begini..." Sakura menghela napas sedih. "Menma meninggal dunia akibat kecelakaan. Dan aku mohon padamu untuk tidak..."

"Siapa Menma?" Naruto memiringkan wajahnya, bingung lagi. Raut wajahnya seolah-olah benar-benar mengatakan hal sebenarnya. Semua orang di ruang tersebut kaget mendengar kalimat Naruto itu.

Sakura melepaskan rangkulan tersebut, menurunkan wajahnya menatap pemuda itu. "Kamu... tidak mengingat... Menma?" pemuda itu mengangguk. Sakura terhuyung ke belakang. Untunglah ada Karin dan Nagato menahan tubuhnya. "Ti-tidak... mungkin." Sakura memeluk Karin, akhirnya menangis terisak-isak.

Anggota tersebut tercengang mendengar ungakapan bahwa Naruto tidak mengingat saudara kembarnya yang sudah meninggal beberapa jam lalu. Mereka tidak bisa berkata-kata lagi. Hati, pikiran dan jiwa terhempas begitu saja. Mereka menangis dalam diam.

Izinkanlah aku melihat dia bahagia...

Naruto bingung. Dia bangun dan menyandarkan tubuhnya di sandaran bantal. Dilirik Hinata mendekatinya. Raut wajahnya tersenyum dan bahagia melihat kekasihnya dekat dengannya. Mereka saling berpelukan. Hinata yang tadi diam saja, ikut menangis haru. Ikut menangis di dalam sepinya ruangan di mana hanya ada sesenggukan tangis di dalamnya.

Jika boleh, aku mau bersamanya sampai dia mau menerimaku pergi...

Ada suatu kenangan indah di pikiran pemuda berambut kuning keemasan itu. Rasa rindu menghampirinya. Dia tidak tahu apa itu. tapi, dia merasa melupakan sesuatu amat sangat penting bagi hidupnya.

Biarkanlah aku bersamanya, asalkan dia bahagia...

Naruto memandang langit luar jendela ruang rawatnya. Dia melihat sebuah awan indah. Ada sebuah pikiran indah di dalamnya lagi. Sebuah ungkapan beserta janji. Janji kebahagiaan. Apakah ini hadiah kejutan untukknya di hari kebagiaan ini? Dia memang sudah mendapatkan Hinata, tapi dia meninggalkan apa yang penting untuknya. Naruto menepis semua itu. Dia membaringkan tubuhnya, menutup matanya. Semoga setelah bangun, dia tidak lagi melihat orang-orang menangis.


"Aku mau mengatakan sesuatu padamu, saudaraku," senyum pemuda rambut biru menoleh ke arah pemuda rambut kuning keemasan. "Sebenarnya kalau kamu sudah menemukan cinta sejati, apa kamu akan meninggalkanku?"

Pemuda kuning keemasan menurunkan bukunya ke pangkuannya. "Hah? Apa kamu bilang? Itu tidak mungkin." Dia kembali membaca buku, tapi diturunkannya lagi. "Sebetulnya aku pasti akan menemukan cinta sejati. Begitu juga denganmu. Tapi, untuk sekarang ini aku ingin bersama denganmu."

"Sungguh?" raut alis terangkat, pemuda biru senang dan bahagia melihat saudara kembarnya mengangguk melihatnya. "Sebenarnya aku ingin melihatmu bahagia. Tapi, bagaimana ya... ini sudah takdir. Suatu saat nanti diantara kita pasti akan menemukan cinta dan sahabat sejati."

"Namanya juga takdir."

"Jika masih bisa, aku ingin sekali memberikan semuanya demi kebahagiaanmu. Apapun itu." pemuda berambut biru tersenyum sambil memandang taman indah menjulang di sana.

Pemuda kuning keemasan menyikut pemuda biru. "Jangan bercanda. Justru aku ingin sekali melihatmu bahagia ketimbang aku."

"Baiklah!" pemuda rambut kuning keemasan bangkit berdiri. "Mulai sekarang aku akan tetap membahagiakanmu. Jika suatu saat tiba di mana kita sudah menemukannya, aku berharap persaudaraan dan persahabatan kita tidak memudar, wahai saudara kembarku."

Pemuda biru bangkit berdiri dan merangkul saudaranya, "kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku begitu juga dengan kebahagiaanku adalah kebahagiaanmu. Kalau kamu bahagia, aku akan bahagia."

Mereka berdua berpelukkan tidak terpisahkan. Ini adalah awal di mana mereka merasakan kalau kebahagiaan sejati akan terus ada. Inilah awalnya. Kebahagiaan indah terbenak di dalam hati mereka sampai mereka berpisah dan akan bertemu jika sudah waktunya.

The End

.o.O.o.

A/N: Suer! Saat membaca novel cinta yang tragis, saya pun membuat chapter terakhir. Padahal mood saya ini bukan good mood tapi, sad mood sambil mendengar lagu sedih. Rasanya ingin banget menangis melihat Naruto ditinggalkan pergi saudaranya (huuuu...). Kalau kalian merasa ada yang janggal, tolong beritahu ya. Nanti saya akan memperbaikinya. Buat kalian, masih ada epilog dan bonus tambahan untuk pasangan NH ini. Dimohon dengan sabar. Saya akan mempublishnya secepatnya . Terima kasih.
Terima kasih sudah me-review:
- Hyuna. UzuHi
- Mitsu Rui
- Raditiya
- LavenderSun
- Hikaru-Ryuu Hitachiin
- Cicikun Syeren

Buat para readers, terima kasih sudah membacanya! ^^ saya senang ada mau membaca fic saya. Hehe...

Sunny Blue February

Date: Makassar, 03 Maret 2013

Thanks to reading! ^^