BABY ON LOANS

(Remake by Liz Fielding)

.

.

.

Main Cast :

Park Chanyeol (GS) & Kris Wu

.

Other Cast :

Park Luhan & Byun Baekhyun (GS)

Oh Sehun (GS)

Do Kyungsoo (GS)

Kin Jongin

Baby! Park Taehyung

Zhang Yixing (GS)

.

Genre:

Tentukan sendiri ^^

.

Rate:

Tentukan sendiri ^^

.

.

SELAMAT MEMBACA... ^^

.

Chapter 2

.

Chanyeol punya banyak pilihan.

Menelepon polisi.

Berteriak.

Membuat penghalang untuk dirinya, Taehyung, dan Mao sambil menunggu sampai pencuri itu mengambil apa pun yang diinginkannya dan pergi.

Berteriak.

Menghadapi penjahat itu.

Berteriak...

Oh, hentikan! Perintah Chanyeol pada otaknya yang kacau.

Polisi!

Chanyeol punya ponsel, ia akan menelepon polisi. Chanyeol menarik kacamatanya turun ke hidung dan mengedarkan pandangannya.

Dimana benda itu?

Kapan terakhir kali ia menggunakannya?

Oh, sial! Ponsel itu ada dalam tas tangannya dan tas itu ada di bawah. Bersama pencuri itu. Kalau begitu pilihan pertama batal.

Dan Chanyeol berpikir hidupnya tidak bisa jadi lebih buruk lagi.

Berteriak, benar-benar berteriak, dan mengeluarkan semua kepenatannya selama dua hari terakhir ini bisa jadi hiburan tersendiri.

Tapi berteriak berarti membangunkan Taehyung dan membuat Mao takut. Pencuri itu mungkin tidak akan lari. Mungkin dia malah akan mencarinya untuk membungkam mulutnya. Pikiran itu cukup untuk membuat Chanyeol menahan teriakannya. Untuk saat ini.

Berarti pilihan ketiga. Penghalang.

Chanyeol menurunkan Mao dan melihat ke sekililing kamar. Ingatan serta cahaya lampu dari koridor mengingatkannya bahwa perabot disitu adalah jenis perabot yang memerlukan sedikitnya tiga pria berotot besar untuk mengangkatnya. Dengan tambahan orang keempat untuk mengarahkan. Kecuali tempat tidur Taehyung yang ringan. Terlepas dari fakta bahwa benda itu tidak akan bisa menghentikan rencana pelarian yang matang, Taehyung ada di dalamnya, terlelap. Dan tidak seorang pun boleh membuatnya terbangun selama Chanyeol bisa mencegahya.

Tapi pencuri yang pekerjaannya teliti pasti akan naik untuk mencari perhiasan dan uang.

Ini waktunya untuk pilihan keempat. Tidak! Bukan berteriak! Dan mungkin bukan menghadapi penjahat itu, sebisa mungkin Chanyeol lebih suka tetap bertahan. Kalau begitu yang dibutuhkannya adalah senjata untuk melindungi dirinya dan Taehyung. Dan juga Mao, yang termasuk tanggungannya juga.

Chanyeol menelan ludah. Bagaimana kalau pencurinya lebih dari satu?

Menolak memikirkan itu, Chanyeol membuka pintu lemari baju dan mengintip ke dalam lemari yang gelap, Chanyeol sudah putus asa mencari ide.

Chanyeol tadi terlalu sibuk untuk membongkar barang-barangnya dan sekarang ia menemukan lemari itu penuh dengan baju-baju berwarna gelap dan berat. Yang benar saja, Sehun kan bisa saja mengosongkan bagian lemari yang berisi barang-barang gothiknya sebelum membiarkan tempat ini... Aish!

Chanyeol tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan hal itu. Yang dibutuhkannya sekarang adalah sebuah payung yang ujungnya tajam, atau... BRUK! sesuatu yang keras dan berat jatuh keluar dan menimpa kakinya.

Chanyeol berusaha menahan jerit kesakitannya dan membungkuk untuk mengambil benda tadi.

Tongkat Cricket!. Aneh. Chanyeol tidak bisa membayangkan Sehun memimpin tim cricket putri inggris, tapi sudahlah yang penting Chanyeol medapatkan sesuatu yang sangat dia butuhkan saat ini.

Chanyeol menggenggam tongkat itu dan langsung merasa lebih tenang. Sambil mengangkat pemukul itu dengan defensif di tangannya, Chanyeol melintasi ruangan menuju pintu, membukanya sedikit lebih lebar supaya bisa mendengarkan.

Sebelum Chanyeol mampu menghentikannya, Mao meloncat keluar lewat celah itu.

oOo

Kris membuka kulkas. Dalam rak di bagian dalam pintu, ada kardus susu yang terbuka, ia menciumnya dengan hati-hati. Masih segar. Ia meletakkan susu itu dan melanjutkan pencariannya.

Kris mengeluarkan sebuah piring, membuka tutupnya. Kelihatannya ikan tumbuk. Tidak terkesan dengan kemampuan memasak Sehun, ia menyingkirkan ikan itu. Tapi ketika membuka sekotak telur, sesuatu yang lembut dan hangat menyapu pergelangan kakinya.

Terkejut, Kris melangkah mundur. Makhluk itu menjerit nyaring saat Kris menginjak ekornya, kemudian berputar di antara kaki Kris dan mencoba melarikan diri.

Akibat kehilangan keseimbangan dan karena tidak yakin di mana bisa meletakkan kakinya dengan aman, Kris berusaha mencengkram benda pertama yang bisa diraihnya.

Benda itu adalah rak bagian dalam pintu kulkas.

Benda itu menahan berat badannya selama beberapa detik yang membuatnya berpikir ia sudah aman. Kemudian saat rak dan pintunya terpisah, susu dan cetakan plastik melayang keluar dan jatuh ke lantai.

Kris dan telur-telur yang dipegangnya menyusul tidak lama kemudian, dan kepalanya membentur ujung permukaan meja dapur.

oOo

Chanyeol sedang berdiri gemetaran di balik pintu kamar tidur dan bertanya-tanya apa tongkat itu ide yang bagus. Jangan-jangan ia malah memberi senjata pada pencuri itu.

Tiba-tiba Chanyeol mendengar teriakan kemarahan Mao yang segera diikuti oleh bunyi berdebam yang menakutkan.

Apa pencuri itu membunuh Mao? Apa Mao membunuh pencuri itu? Apa pun yang terjadi, jelas Chanyeol tidak bisa sembunyi di atas lebih lama lagi.

Dengan tongkat cricket yang terangkat di depan tubuhnya dengan gemetar, Chanyeol perlahan-lahan menuruni tangga dan berjingkat-jingkat mendekati dapur.

Chanyeol terlalu lelah untuk membersihkan dapur sebelum jatuh tertidur, tapi pemandangan yang dilihatnya membuatnya shock. Telur-telur yang hancur, tumpahan susu melebar membentuk genangan kecil, yang dijilati Mao dengan nikmat. Di tengah-tengah semua itu, seorang pria yang tampaknya memenuhi ruangan yang tersisa terbaring telentang, dengan darah merembes keluar dari luka di dahi. Seorang pria yang mengenakan pakaian hitam-hitam seperti pencuri dari kepala sampai kaki. Celana hitam, kemeja hitam, lengan bajunya di gulung dan memperlihatkan lengan bawah yang berotot.

Pria itu tinggi dan kuat dan pasti bisa melucuti senjata Chanyeol dengan mudah.

Untungnya pria itu pingsan.

Atau mungkin tidak. Bahkan saat Chanyeol berdiri disana, sedang menyelamati dirinya karena kenyataan itu, pria itu mengerang dan membuka matanya.

Chanyeol mencengkram tongkat itu lebih erat lagi, menelan ludah dengan gugup dan berseru dengan suara parau, "Jangan bergerak!"

oOo

Kris menatap langit-langit. Langit-langit dapur. Ia sedang berbaring telentang di lantai dapur, dalam genangan air yang sangat dingin, dan kepalanya terasa hampir lepas. Ada seorang wanita berambut acak-acakan, setengah telanjang, memakai kacamata yang kebesaran, sedang mengancamnya dengan tongkat cricket miliknya. Apa wanita itu memukulnya dengan tongkat itu? Kris baru saja mengangkat tangan ke kepala untuk memeriksa lukanya.

"Jangan bergerak!" ulang wanita itu.

Kata-kata itu, yang sudah pasti bermaksud untuk mengancam (walaupun efeknya hilang oleh suaranya yang gugup) sebenarnya tidak diperlukan, Kris tidak berniat untuk bergerak. Ia hanya mau memejamkan mata dan berharap semua ini sudah akan hilang saat ia membuka matanya lagi.

Kris mencobanya.

oOo

Mata pria itu terpejam lagi. Chanyeol memberanikan diri mendekat selangkah. Dia terlihat sangat pucat dan luka besar di dahinya kelihatan parah. Oh Tuhan, dia akan meninggal. Pria itu akan meninggal dan Chanyeol akan disalahkan dan masuk penjara. Itu yang biasanya terjadi. Kalian pasti membaca hal-hal seperti ini di koran setiap saat. Pencuri masuk dengan paksa, pencuri mati, pemilik rumah yang tidak bersalah masuk penjara. Luhan dan Baekhyun akan sangat menyesal bila saat itu tiba...

Chanyeol terkesiap. Apa sih yang dipikirkannya? Pria itu mungkin sudah masuk dengan paksa, tapi jelas dia membutuhkan bantuannya. Chanyeol menjatuhkan tongkat yang dipegangnya dan bertelanjang kaki melewati genangan susu dingin ke samping pria itu.

Berbaring telentang di lantai dapur, pria itu kelihatan sangat besar, sangat mengancam. Bahkan dalam keadaan pingsan pun dia tetap terlihat sangat berbahaya. Tapi Chanyeol tidak bisa membiarkannya begitu saja. Sambil meraih celemek bayi yang bersih dari atas meja dapur, Chanyeol berlutut di samping pria itu dan dengan ragu mencoba menyerap darah dari luka di dahinya. Tenggelam dalam kecemasannya, Chanyeol melupakan ketakutannya sendiri.

Mata pria itu tiba-tiba terbuka kembali, yang berarti dia belum pingsan seperti dugaan Chanyeol semula, dan dia mencengkeram pergelangan tangan Chanyeol. "Siapa kau?" tuntutnya.

"Chanyeol," jawab Chanyeol langsung, tidak ingin membuat pria itu marah.

"Namaku Park Chanyeol. Bagaimana keadaanmu?" tanya Chanyeol dengan suara hangat. Ia benar-benar ingin pria itu tahu bahwa ia tidak berniat melakukan hal-hal yang buruk...

"Bagaimana rupaku?" tantang pria itu.

Yang pasti dia tidak kelihatan baik. Terlepas dari wajah pucatnya, yang diperparah oleh bayangan gelap jenggot berumur satu hari, ada darah yang terus mengalir dari dahinya. Chanyeol meletakkan jemarinya di tenggorokan pria itu untuk memeriksa denyut nadinya. Kelihatannya itu hal yang benar untuk dilakukan, walaupun Chanyeol tidak yakin kenapa karena ia bisa melihat sendiri pria itu belum mati.

Kulitnya hangat dan halus di bawah jemarinya, denyut nadinya yang kuat membuat Chanyeol tenang. "Well?" tanya pria itu setelah beberapa saat. "Apa aku akan hidup?"

"Aku p-p-pikir begitu."

"Aku akan lebih senang kalau kau bisa terdengar lebih meyakinkan."

Pria itu tidak terdengar seperti seorang pencuri. Tapi memangnya apa yang ia tahu?

"Well..." Chanyeol mulai bicara. Lalu senyum sinis di bibir pria itu membuat Chanyeol sadar bahwa sebenarnya dia tidak serius.

"Aku tidak akan meronta kalau kaupikir aku perlu ciuman kehidupan," katanya, meyakinkan kecurigaan Chanyeol.

Untuk sesaat Chanyeol tergoda. Pria itu mungkin sudah masuk dengan paksa, tapi kalau dia berperan menjadi pria berpakaian hitam-hitam yang meninggalkan sekotak cokelat, Chanyeol menduga wanita manapun yang ditinggalkannya akan tersenyum. Mungkin ia seharusnya menawarkan ciumannya supaya keadaan pria itu menjadi lebih baik...

Tidak! Demi Tuhan, apa ia tidak akan pernah jera?

Dan kalau pria itu sudah cukup sehat untuk bercanda, mungkin dia juga sudah mampu untuk bangun dan... dan mungkin sebaiknya ia tidak memikirkan apa yang bisa dilakukan pria itu. Seharusnya, Chanyeol menyadari ia harus menelepon polisi serta ambulans. Sekarang juga.

"Yang kau butuhkan adalah perjalanan ke ruang UGD terdekat," kata Chanyeol dengan sopan, sambil mencoba membebaskan diri. Pria itu mungkin sedang ingin bercanda, tapi Chanyeol tidak siap mengambil risiko membuatnya marah. Jari-jari pria itu masih tetap memegang pergelangan tangan Chanyeol waktu dia mencoba duduk. Usaha itu jelas terlalu berat untuknya dan dia terdiam, mengerang, melepaskan tangan Chanyeol, dan memegang kepalanya yang terluka.

Ponsel. Chanyeol membutuhkan ponselnya. Tasnya ada di meja dapur di sebelah kulkas dan Chanyeol berdiri untuk meraihnya. Pada saat itulah si pencuri mencengkeram pergelangan kakinya.

Dan saat itulah Chanyeol akhirnya berhenti mengendalikan diri dan berpikiran jernih. Ia melakukan apa yang ingin dilakukannya sejak menyadari ada penyusup dirumahnya. Ia membuka mulut dan mulai berteriak ketakutan.

oOo

Kris. Yang hanya ingin tahu apa yang sedang dilakukan si wanita Chanyeol ini di rumahnya dan kemana Sehun menghilang, memutuskan bahwa bagaimanapun juga itu tidak terlalu penting. Menghentikan teriakan wanita itu jauh lebih penting, jadi Kris menarik kaki Chanyeol dengan keras dan suara berisik itu tiba-tiba berhenti.

Lalu Chanyeol jatuh menimpanya.

Kris menggumamkan satu kata singkat saat nafasnya berhenti sesaat. Satu kata sudah cukup untuk menggambarkan perasaannya. Mata Chanyeol, hanya berjarak beberapa senti dan matanya melebar karena shock.

Sebelum wanita itu sempat melakukan atau mengatakan sesuatu Kris mencengkeramnya. "Jangan. Tolong jangan bilang apa-apa lagi. Aku tidak tahu siapa kau, atau apa yang kau lakukan disini, tapi aku menyerah. Kau menang."

oOo

"Menang? Menang?" Bahkan untuk telinganya sendiri Chanyeol sudah mulai kedengaran histeris. Well, biar saja. Ia punya hak untuk histeris. Ia tergeletak di atas dada penjahat yang kejam. Pria yang sudah menerobos masuk ke rumahnya. Orang yang walaupun terluka parah di kepalanya, lebih dari mampu untuk mengambil keuntungan dan situasi ini. Dan situasi yang dimaksud adalah biarpun Chanyeol memakai kaus yang panjang dan besar, kaus itu masih terlalu kecil untuk menutupi tubuhnya. Yah, sebenarnya selain kaus itu tidak ada lagi yang dipakainya. Pria itu hanya perlu menggeser tangannya ke bawah beberapa senti dan dia akan mengetahui hal itu sendiri.

Chanyeol dengan sekuat tenaga menahan dorongan mendesak dalam otaknya untuk menarik kausnya turun sejauh mungkin. Itu hanya akan menarik perhatian pria itu pada keadaannya yang menyedihkan. Sebaliknya Chanyeol memaksa dirinya untuk menatap lurus-lurus si pencuri dan menyuruhnya untuk melepaskan pegangannya. Sekarang juga.

Wajah yang menarik. Jenis wajah yang dalam situasi lain ingin chanyeol lihat lebih sering lagi. Pipinya kurus, tapi dengan tulang yang kuat, berkarakter, dan Chanyeol punya kesan yang kuat bahwa pria itu sepertinya akrab dengan rasa sakit. Tapi bibirnya menjanjikan hasrat yang menggebu-gebu. Oh, Tuhan. Dan Chanyeol tadi menuduh pria itu yang mengigau!

"Dalam hal apa, tepatnya, aku menang?" desak chanyeol sambil berusaha mengendalikan diri, mengumpulkan akal sehatnya lagi.

"Aku menyerah," kata pria itu. Menyerah? Apa sih yang sedang dibicarakannya? Chanyeol menatapnya. Matanya sangat luar biasa, pikir Chanyeol. Abu-abu, tapi dengan bintik-bintik keemasan yang sepertinya membuat sepasang mata itu tampak membara. Atau itu khayalannya semata? "Yang penting kau jangan menjerit lagi. Tolong."

"Kau serius?" tanya Chanyeol dengan suara sekasar yang ia bisa. Chanyeol tidak mempercayai pria itu sepenuhnya. Tapi getaran dalam suaranya tidak akan bisa menakut-nakuti seekor tikus sekalipun.

"Oh, lupakan saja. Beri aku pisau dan aku akan menggorok leherku sendiri. Begitu akan lebih cepat daripada hukuman yang kauberikan."

"Aku!" pekik Chanyeol. "Aku tidak menyuruhmu masuk kesini dan jatuh."

"Jatuh?" teriak Kris, lalu meringis. "Itukah pengakuanmu nanti?" dan dia mengulurkan tangannya yang tadi memegang Chanyeol ke tongkat cricket dan mencengkeram gagangnya. "Apa kau melupakan barang bukti A?" katanya sambil mengayun-ayunkan tongkat itu dihadapan Chanyeol.

Chanyeol cepat-cepat berdiri dan mengambil jarak di antara mereka sebelum pria itu memutuskan untuk memukulnya dengan tongkat itu.

"Pokoknya diam saja disitu," kata Chanyeol. "Jangan bergerak. Aku akan menelepon ambulans."

Chanyeol cepat-cepat melangkah mundur, tanpa menghiraukan susu yang menetes dari kausnya dan mengalir turun ke kakinya.

Pria itu menjatuhkan tongkatnya. "Kau harus menyeretku keluar ke jalan kalau kau mau mobil itu melindasku," dia mengingatkan Chanyeol dengan lemah.

Mengigau. Pasti pria itu mengigau. Dia perlu ke rumah sakit, secepatnya, tapi Chanyeol bergerak menjauh dari jangkauannya sebelum mengambil ponsel dari dalam tas, menekan nomor pelayanan darurat dan minta dikirimkan ambulans. Mereka meminta detail. "Maaf, aku tidak tahu siapa dia. Dia mendobrak masuk ke rumahku dengan paksa dan terjatuh di dapur..."

"Ini bukan rumahmu!" teriak pria itu. "Ini rumahku!"

"Cedera kepala?" ulang Chanyeol dengan perhatian teralih saat operator ambulans bersikeras meminta detail. Apakah pria itu mengawasi rumahnya? Apa dia melihat Sehun pergi dan mengira rumah itu kosong? Pria itu memelototi Chanyeol, tapi sama sekali tidak bergerak. Merasa tidak yakin dengan sikap pria itu yang sepertinya bersedia bekerja sama, Chanyeol melangkah mundur ke koridor, meninggalkan jejak susu di atas karpet. Lebih banyak noda. Lebih banyak yang harus dipikirkan. "Oh, ya, kepalanya terbentur di sudut meja dapur... Ya, dia sadar, tapi kelihatan sedikit aneh... agak tidak masuk akal... kupikir mungkin dia, anda tahu, memakai sesuatu..." pria itu mengerang. Chanyeol mengabaikannya. "Anda mau melakukannya? Dan tolong beritahu polisi juga. Terima kasih banyak." Chanyeol menutup ponsel dan kembali ke dapur, berdiri di ambang pintu, enggan berdiri dekat-dekat. Satu kali berdekatan sudah cukup. "Mereka akan segera kemari."

"Katakan padaku." Tanya pria itu, akhirnya berhasil duduk dan bersandar di lemari, "Kau atau aku yang gila?" dia terdengar cukup serius, sepertinya benar-benar ingin tahu.

Chanyeol tidak ingin mengatakan sesuatu yang mungkin bisa membuat pria itu lebih gusar lagi, Chanyeol tetap menjaga jarak, walaupun lututnya begitu gemetaran hingga kalau ia tidak segera duduk, ia mungkin akan segera pingsan tepat di tempat ia berdiri. "Tenanglah. Aku yakin mereka akan segera sampai," kata Chanyeol dengan suara yang lebih meyakinkan daripada yang dirasakannya.

"Benarkah? Kuharap kau benar. Katakan padaku, dari mana kucing itu datang?"

Mao, yang sudah selesai menikmati tumpahan susu dan bermain dengan kuning telur dari salah satu telur yang pecah, sedang menjilati wajahnya perlahan-lahan. Chanyeol memperhatikannya sesaat. Ada sesuatu yang hampir menghipnotis melihat gerakan yang halus dan berulang-ulang itu... "Aku tidak tahu. Kucing itu hewan peliharaan pemilik rumah ini." Chanyeol berputar menghadap pria itu. "Itu salah satu alasan gadis itu ingin ada orang yang menempati rumah ini. Dia perlu orang untuk merawat kucingnya. Pasti kau sedikit terguncang mendapati rumah ini ternyata sama sekali tidak kosong."

"Kau bisa bilang begitu. Terutama karena ini rumahku."

Keadaan pria itu lebih buruk dari yang Chanyeol duga. Jauh lebih buruk. Chanyeol melihat jam tangannya, bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan ambulans untuk tiba. "Oh, jadi ini rumahmu, ya?" tanya Chanyeol dengan nada mengejek.

"Benar, Madam, ini rumahku," sahut pria itu tajam. "Dan percayalah, aku benci kucing. Begitu juga anjingku. Jadi mungkin kau bisa menjelaskan apa yang sedang kau lakukan di sini?"

Anjing? Dia punya anjing? Chanyeol melihat sekelilingnya dengan gugup. Itulah yang dibutuhkannya, seorang pencuri yang membuat dirinya merasa seperti tokoh Bill Sykes dalam buku karangan Dickenson. Tapi tidak ada anjing terrier dengan mulut penuh air liur yang menunggu untuk merobek-robek tubuhnya. Chanyeol berdoa penuh harap supaya seseorang segera datang untuk mengeluarkan pria gila ini dari rumahnya dan memutuskan bahwa menghibur pria itu merupakan jalan yang terbaik.

"Aku ingin..." Chanyeol akan berbicara tapi dipotong oleh pria itu.

"Bagaimana kalau kau mulai menceritakannya padaku..." dan tiba-tiba ucapan pria itu juga terpotong akibat suara dilantai atas.

Di lantai atas, Taehyung mulai menangis. Rasanya Chanyeol ingin menciumnya. Dia pasti akan menciumnya. Sekarang juga. "Aku ingin tinggal dan mengobrol tapi aku harus melihat bayiku."

"Bayi?" pria itu kelihatan seperti dipukul untuk kedua kalinya, pikir Chanyeol. "Kau punya bayi? Disini?"

"Anak yang malang itu sedang tumbuh gigi," ujar Chanyeol sambil buru-buru mundur. Ia tersandung tas yang ditinggalkan pria tak diundang itu diruang depan. Tas berwarna hitam, mahal, dan jelas-jelas sangat berat. Paling-paling tas curian tempat pria itu memasukkan semua hasil curiannya dari rumah yang dimasukinya sebelum rumah ini.

"Pokoknya diam saja dan petugas medis akan segera memeriksamu." Chanyeol berbalik. Membuka kunci pintu depan supaya petugas manapun yang tiba pertama kali bisa langsung masuk, lalu Chanyeol buru-buru lari ke lantai atas.

Taehyung sedang menjerit dengan nafas tak beraturan dan memasukkan kepalan tangannya ke dalam mulut. Chanyeol langsung mengenakan baju pertama yang ditemukannya lalu mengangkat Taehyung. Dia perlu mengganti popok Taehyung. Popok itu ada di bawah. Di dapur. Sial.

oOo

Bayi? Kris mencengkeram pinggiran bak cuci dan menghela badannya, berusaha sekuat tenaga tidak menghiraukan dentaman menyakitkan di kepalanya dan dorongan untuk muntah. Aroma itulah yang diciumnya tadi. Susu hangat, krim bayi, bedak talek, cairan yang dulu digunakan Jesica untuk mensterilkan botol-botol. Itulah aroma yang tak dapat diingatnya tadi. Bagaimana ia bisa melupakannya?

Dulu ketika Kris pulang setelah pemakaman, aroma itu seperti memenuhi rumah. Butuh waktu berbulan-bulan sebelum ia bisa mengenyahkan aroma itu. Ia sudah sampai pada titik di mana ia berpikir dirinya harus terus maju. Tapi pada akhirnya Kris sadar bahwa aroma itu ada dalam otaknya dan bukan di dunia nyata. Bayangan samar keluarga yang telah dirampas darinya akan menghantuinya selamanya. Bergerak maju tidak akan ada gunanya.

Dimana sih Sehun? Kris berpegangan pada bak cuci sejenak ketika dapurnya seperti berputar-putar, bertekad bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak akan muntah. Setelah merasa lebih kuat untuk mengambil risiko membuka matanya, Kris mendapati dirinya sedang diawasi curiga oleh seorang polisi berseragam.

"Untunglah," ujar Kris. "Officer, ada seorang wanita gila di rumahku. Dia memukulku dengan tongkat cricket."

"Bagaimana kalau anda duduk saja, Sir? Ambulansnya akan segera tiba."

Kris tidak perlu disuruh dua kali untuk menghempaskan diri di kursi terdekat. Celana panjangnya yang basah menempel di kakinya.

"Mungkin sambil menunggu kita bisa mengurus perinciannya dulu? Kalau anda merasa lebih kuat. Bagaimana kalau kita mulai dengan nama anda?"

"Tidakkah anda seharusnya membacakan hak-hakku terlebih dahulu?" tuntut Kris.

"Hanya untuk catatan, Sir."

Kris tidak berdebat lebih jauh. "Wu. Kris Wu."

Polisi itu membuat catatan. "Dan alamat anda?"

"Costwold Street nomor 27."

"Itu alamat rumah ini, Sir."

"Benar. Namaku Kris Wu dan aku tinggal disini," ucap Kris, pelan dan hati-hati. "Ini rumahku," tambahnya untuk lebih mempertegas maksudnya.

Polisi itu mencatat lagi, lalu mendongak saat pintu depan terbuka. "Petugas medis sudah tiba. Kita akan melanjutkannya di rumah sakit nanti. Sir."

Kris mengenali nada suara menenangkan yang biasa digunakan polisi saat menghadapi pria yang dianggapnya gila. Polisi akan menamengi diri dengan kesopanan berlebihan kalau-kalau dia salah sangka. Kris berpikir untuk memberitahu polisi itu kalau ia pengacara, Queen Council, pengacara yang berhak mewakili pemerintah Inggris dalam sidang pengadilan, dan bahwa polisi itu akan menemukannya terdaftar... Tapi kepalanya masih berdenyut-denyut sakit sehingga ia tidak terlalu peduli. Rumah sakit dulu, penjelasan bisa menyusul.

Setelah itu dengan senang hati Kris akan mengatakan pada wanita itu untuk membawa bayi dan kucingnya keluar dari rumah ini, segera setelah dia memberitahu Kris di mana Sehun berada.

oOo

"Bisakah anda menceritakan apa yang terjadi, Miss?" polisi itu berdiri dengan tak acuh sementara Chanyeol mencoba mengganti popok Taehyung. Jari-jarinya berkutat dengan perekat di belakang popok sekali pakai itu. Chanyeol bersikap tenang (sangat tenang dalam situasi seperti ini) tapi reaksinya sudah hampir muncul dipermukaan dan ia sadar bahwa ia ketakutan setengah mati. Polisi itu, yang melihat kesulitannya, membantu sementara Chanyeol dengan terpatah-patah menceritakan kejadian sebenarnya.

"Mr. Wu bilang anda memukulnya dengan tongkat cricket."

"Itu bohong!" Chanyeol merona merah oleh perasaan bersalah saat melihat tongkat itu masih tergeletak di lantai tempat pria tadi menjatuhkannya.

"Wu? Itukah namanya?" tanya Chanyeol.

"Kris Wu. Begitulah yang dikatakannya. Ada luka yang cukup parah di kepalanya."

"Aku tahu. Kurasa kepalanya pasti terbentur waktu dia jatuh." Chanyeol menggendong Taehyung, membuainya. "Dari kegaduhan yang kudengar, aku hanya bisa menduga bahwa dia menginjak kucing dan kehilangan keseimbangan, walaupun aku tidak mengerti apa yang dicarinya dalam kulkas."

"Anda akan terkejut. Kulkas dan lemari pembeku adalah tempat-tempat favorit untuk menyembunyikan barang-barang berharga. Sayangnya para penjahat mengetahuinya. Pria itu juga mengatakan dia memang tinggal di sini." Terang polisi pada Chanyeol.

"Dia juga mengatakan hal sama padaku. Anda tahu, itu tidak benar. Aku menyewa rumah ini dari Miss Oh Sehun. Aku baru masuk hari ini." Taehyung menyurukkan kepalanya ke bahu Chanyeol. "Mungkin dia gegar otak."

"Mungkin." Polisi itu berdeham. "Tapi tidak ada tanda-tanda masuk dengan paksa. Saya harap anda tidak keberatan saya menanyakan ini, tapi ini bukan masalah domestik, kan?"

"Domestik?" tanya Chanyeol bingung.

"Pertengkaran sepasang kekasih yang mungkin sedikit kelewatan?"

"Kekasih..." Chanyeol memandang polisi itu dengan mulut menganga, sejenak kehilangan kata-kata. "Officer, aku belum pernah bertemu pria itu seumur hidupku. Dan kalau aku bertemu lagi dengannya, itu berarti terlalu cepat. Aku sudah mengatakannya pada anda, bahwa aku baru pindah kemari hari ini, " papar Chanyeol. "Pemilik rumah ini berniat pergi keluar negeri selama musim panas dan butuh seseorang menempati sekaligus menjaga rumah ini, untuk mengurus kucing dan tanamannya. Apa di daerah ini tingkat kejahatannya tinggi?"

"Tidak juga. Kebanyakan orang memasang alarm keamanan. Anda juga punya," tunjuk polisi itu. "Apa alarmnya diaktifkan?"

"Well, tidak. Sebenarnya tidak. Semalam aku terlalu lelah, mengurus bayi ini... aku lupa. Mungkin aku juga lupa mengunci pintu." Polisi itu mengangguk penuh pengertian. "Anda mau melihat surat perjanjian sewanya? Ada di atas meja di ruang depan. Oh, dan pria itu juga meninggalkan tas di luar sini. Yang membuktikan bahwa tempat ini bukan rumah pertama yang dimasukinya malam ini."

Polisi melihat surat perjanjian sewanya, menulis beberapa catatan, lalu mengangkat tas itu. "Kalau begitu saya akan meninggalkan anda supaya anda bisa istirahat, Miss. Mungkin anda bisa datang ke kantor besok pagi dan membuat pernyataan?"

"Ya, tentu saja." Lebih banyak waktu yang terbuang, erang Chanyeol dalam hati. Kenapa sih pria brengsek itu harus memilih rumahku?

Chanyeol mengikuti polisi itu ke pintu depan. "Apa yang akan terjadi pada Mr Wu? Kalau itu nama aslinya." Polisi itu melirik tas dengan label penerbangan itu dan membaliknya, tertulis Kris Wu, tapi tidak ada alamatnya.

"Mungkin dia mencuri tas itu," ujar Chanyeol. "Beserta namanya." Dan kalau pria itu tidak melakukannya? Bagaimana kalau dia mengatakan yang sebenarnya? Matanya tidak menunjukkan dia berbohong. Tapi Jongin juga punya mata yang menjanjikan dunia dan Chanyeol mempercayainya. Chanyeol yakin dia bukan penilai yang baik.

"Baiklah, kalau begitu. Saya tinggalkan anda untuk menidurkan si kecil kembali. Kali ini jangan lupa mengaktifkan alarmnya," polisi itu mengingatkan Chanyeol sambil berjalan menuruni tangga depan.

"Tidak akan." Aku tidak mau mengalami masalah seperti ini lagi, pikir Chanyeol saat menutup pintu dan mengaktifkan alarm.

Tapi, dengan tubuh yang dialiri adrenalin, Chanyeol tidak ingin tidur lagi. Ia membersihkan kekacauan di dapur, mencoba untuk tidak memikirkan pencuri berwajah tampan dengan sepasang mata jujur. Atau bagaiamana rasa tubuh pria itu di bawah tubuhnya. Itu tidak mudah, dan dengan putus asa Chanyeol menyalakan komputernya dan mulai bekerja.

oOo

Di tempat lain...

"Aku tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan, Luhan. Aku sangat merindukannya."

"Aku juga. Aneh, bukan? Ketenangan ini malah membuat telingaku sakit."

"Menurutmu sudah berhasil belum?"

"Kurasa belum, sayang. Mereka tidak mungkin melemparnya ke jalan begitu saja, kan?"

"Tidak?"

"Kita kan sudah bilang akan memberi waktu satu minggu, Baekhyun."

"Aku tidak yakin bisa bertahan selama itu. Seandainya Chanyeol tidak bisa mengatasinya? Seandainya-?"

"Chanyeol wanita paling terampil yang pernah kukenal, dan dia pintar sekali menangani Taehyung hari minggu kemarin."

"Ya, tapi waktu itu aku ada di sana."

"Kau sudah meninggalkan instruksi yang cukup untuk menyusun satu buku tentang bayi. Dan kalau chanyeol mendapat masalah dia akan..."

"Dia akan apa?"

"Dia akan melakukan yang biasa dilakukannya. Dia akan menghubungi seseorang di internet. Kemari dan merapatlah padaku."

"Itulah yang membawa kita dalam situasi ini pada awalnya."

oOo

Matahari sudah bersinar selama satu jam saat Taehyung terbangun. Entah karena mulai terbiasa kurang tidur, sudah membuat kemajuan yang berarti dengan proyek yang sedang dikerjakannya, atau mungkin kenyataan bahwa ia sudah memperoleh tempat tinggal untuk beberapa minggu. Yang pasti Chanyeol merasa sangat bahagia saat membungkuk di atas tempat tidur Taehyung dan mengangkatnya.

"Lapar, sayang?" Taehyung memasukkan kepalan tangannya ke mulut dan Cahnyeol tertawa melihatnya.

Chanyeol menaruh cerek di atas kompor, membuat catatan untuk membeli rak kulkas, lalu membuat teh untuk dirinya sendiri dan sebotol susu untuk taehyung. Ada bekas samar di ujung lekukan meja dapur. Di sanakah kepala Kris Wu (kalau itu nama aslinya) terbentur? Apa dia terbentur sekeras itu? Chanyeol merasa mual membayangkannya. Mungkin ia harus menengok pria itu di rumah sakit.

Ya, benar. Sekalian bawakan buah anggur dan rumah kaca. Mungkin Kris Wu sudah di penjara. Pikiran itu tidak memuaskan Cahnyeol. Pria itu tidak terlihat seperti pencuri. Dia juga tidak terdengar seperti pencuri, tapi awal hidup yang bagus tidak selalu berakhir bagus.

oOo

"Maaf, Mr. Wu, tapi dalam situasi ini anak buahku tidak punya pilihan selain mempercayai kata-kata Miss Park tentang apa yang sudah terjadi."

"Kurasa dia mengatakan kebenaran. Sejauh yang diketahuinya."

"Kalau begitu, anda tidak akan mengajukan tuntutan?"

"Tuntutan apa? Anda bilang anak buah anda sudah melihat surat-surat perjanjian sewanya. Tampaknya keponakanku menyewakan rumahku pada Park Chanyeol. Aku yakin wanita itu akan bersikukuh dengan beberapa alasan yang benar, bahwa dialah pihak yang dirugikan." Kris menyentuh perban di dahinya dan mengernyit. "Aku akan mengganti uang Miss Park. Begitu wanita itu pergi, aku akan menemukan Sehun dan memastikan anak itu menjalani musim panas yang tidak akan dilupakannya dalam waktu dekat."

"Ya, Sir. Apa itu tas anda?" Kepala Deputi Kepolisian itu mengangguk memberi isyarat pada seorang polisi muda, yang langsung mengangkat tas itu. "Setidaknya yang bisa kulakukan adalah mengantar anda pulang."

oOo

Dapur sudah bersih. Taehyung sudah mandi dan sekarang sedang tidur. Chanyeol akan mandi, berpakaian, dan saat Taehyung bangun nanti, ia akan menaruhnya di kereta bayi dan berjalan ke kantor polisi untuk membuat pernyataan. Dan mencari tahu apa pencuri itu sudah sembuh.

Bukannya ia merasa bertanggung jawab. Waktu pencuri itu mencengkeram pergelangan kakinya, Chanyeol ketakutan setengah mati. Tapi saat ia terbaring di atas pria itu, di bawah tatapan sepasang mata abu-abu yang kelihatan... bagaimana menggambarkannya? Yang pasti bukan mengancam. Mungkin terpesona. Bisa jadi terguncang.

Yah, Chanyeol juga sudah merasa sedikit gamang saat itu. Dan bukan hanya karena pria itu sudah menarik kakinya dari bawah.

Benar-benar menggelikan. Ia takkan pernah membiarkan dirinya mengalami penderitaan seperti ini lagi. Takkan pernah. Ia akan baik-baik saja begitu bisa tidur nyenyak malam nanti.

Kamar mandi mewah itu dilengkapi perabot yang serasi dengan kamar tidur, warna-warna hangat yang menenangkan dan menentramkan.

Chanyeol tidak jadi mandi dengan shower dan memutar keran memenuhi bathtub besar bergaya kuno.

Chanyeol belum sempat mengeluarkan barang-barangnya, tapi kamar mandi itu sudah lengkap. Chanyeol menuang segenggam gel mandi beraroma kayu wangi.

Chanyeol membiarkan pintu terbuka lebar supaya bisa mendengar kalau taehyung menangis, ia menggelung rambutnya ke atas dengan ikat rambut, dan menyelinap ke balik air berbusa.

oOo

"Anda yakin tidak perlu dibantu?" Kepala Deputi Kepolisian itu merasa sangat malu karena anak buahnya sudah menahan Kris Wu dengan tuduhan pencurian. Pria ini bukan sekedar pengacara terkenal, tapi juga salah satu pengacara termuda yang pernah diangkat sebagai Queen council. Sebenarnya hal ini murni kesalahpahaman, tapi Mr Wu dikenal sebagai orang yang sukar memaafkan kesalahan yang dilakukan polisi.

"Kurasa aku bisa mengatasinya. Tapi terima kasih atas tawarannya. Dan soal semalam, yah, kalau anda tidak bilang siapa-siapa, aku berjanji aki juga tidak akan cerita."

"Anda baik sekali, Mr Wu."

"Aku tahu."

Terkejut oleh keterus terangan Kris. Kepala Deputi Kepolisian itu berujar, "Anda yakin aku tidak perlu ikut masuk dan menjelaskan situasinya pada Miss Park?"

"Kurasa aku bisa mengatasinya. Dan aku punya koran semalam seandainya dia perlu bukti." Berita utamanya sama sekali tidak memuaskan Kris, tapi fotonya berhasil meyakinkan polisi setempat bahwa ia bukan penjahat. Koran itu pasti akan berguna seandainya ia perlu meyakinkan Miss Park Chanyeol akan kenyataan itu.

Kris mengapit koran itu di bawah lengannya dan mengambil tasnya dari polisi muda tadi. Kepalanya masih berdenyut-denyut, tapi ia cepat-cepat menaiki tangga menuju pintu depan rumahnya. Ia tidak membunyikan bel. Ia tahu itu hal yang masuk akal untuk dilakukan, tapi kalau wanita itu memasang rantai di pintu dan menolak mengizikannya melewati ambang pintu, maka Kris akan terjebak dalam situasi yang aneh.

Bagaimanapun juga Kris takkan pernah bisa melupakan rasa malunya jika ia sampai harus meminta petugas hukum untuk mengusir penyewa yang tak diinginkannya. Ia tidak mau mengambil resiko itu. Alih-alih ia menunggu sampai mobil polisi itu membelok di tikungan, baru ia memasuki rumahnya.

Kali ini alarmnya diaktifkan. Kris meletakkan tasnya, melempar koran kemarin di meja depan dan menekan kode alarmnya lagi. Tidak terdengar teriakan kemarahan tiba-tiba.

"Halo? Ada orang disini?" panggil Kris.

Tidak ada jawaban. Ia meneruskan langkahnya dengan hati-hati, turun ke dapur, yang tampaknya sudah dirapikan seperti sediakala.

Kris menyerap pemandangan familiar yang menyakitkan dan botol-botol bayi yang sedang direndam. Sesaat, hanya sesaat, ia kembali ke sepuluh tahun lalu. Lalu kucing itu menggosok-gosokkan badannya di kaki Kris. Gosokkan membuat pikirannya kembali ke alam nyata, pikir Kris sambil tersenyum pahit. Ia kembali melanjutkan perjalanan ke lantai atas, tapi tidak ada tanda-tanda si penyewa rumah. Selain jejak susu di ruang depan. Mungkin wanita itu sedang keluar. Membawa bayinya berjalan-jalan.

Kris menyadari ia telah menahan napas terlalu lama dan mencoba menenangkan diri sambil mengangkat tasnya dan menaiki tangga, bertekad untuk mandi dan tidur selama delapan jam. Mendadak ia dikejutkan oleh pemandangan tempat tidur bayi di sebelah tempat tidurnya. Lalu ia memalingkan wajahnya, berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melipat benda itu dan meletakkannya di pintu depan sebelum wanita itu kembali. Menyediakan selembar cek dan mobil van. Mungkin wanita itu bisa berpikir sehat.

Kris mengingat cara wanita itu memegang tongkat cricketnya dengan mantap, walaupun dia jelas-jelas ketakutan setengah mati, dan memutuskan bahwa cek dan mobil van itu sepertinya tidak akan berhasil. Tapi tidak ada salahnya mencoba.

Kris menendang lepas sepatunya, menarik kemejanya lewat kepala sambil melangkah melewati pintu kamar mandi, dan melemparnya dengan bidikan jitu, masuk keranjang cucian. Kemudian ia berputar dan mendadak berhenti.

Park Chanyeol berbaring di dalam bath tub, ikal-ikal cokelat yang lembap membingkai lembut kening dan pipinya, pulau-pulau busa yang lembut nyaris tidak bisa menutupi lekuk-lekuk memikat tubuh telanjang wanita itu.

Semalam Kris berhadapan dengan wanita pemarah yang membawa-bawa tongkat cricket. Tanpa kacamata seperti burung hantu dan muka masam, wanita itu kelihatan agak berbeda. Dan benar-benar rapuh.

Pemandangan yang tersaji di hadapannya bisa meluluhkan hati yang paling keras sekalipun.

Kris selalu dikenal sebagai pria berhati baja, lebih mudah baginya jika orang-orang mempercayai hal itu. Tapi ia menyadari bahwa jika seorang pria pulang ke rumah dan menemukan wanita dalam bath tub-nya, pria itu pasti akan perlu waktu yang sangat lama sebelum bisa menemukan seseorang yang bisa menempati bath tub-nya dengan begitu menawan.

Bagaimanapun juga, Kris bisa mengerti bahwa jika dilihat dari sudut pandang Chanyeol. Situasi ini tidak akan semenyenangkan itu. Sebaliknya, Kris yakin bahwa satu-satunya alasan Miss Park tidak menjerit sekuat tenaga detik ini juga adalah karena wanita itu tengah terlelap.

.

.

.

.

.

TBC