Funny Sunny Day
.
Disclaimer: Naruto Kishimoto Masashi
.
Warning: OOC, typo(s), AU, isi seadanya, sekuel STILL, pertemuan Naruto dan Hinata di Jepang | Genre: Romance, School, Fluffy, Humor, Tragedy, Happy Ending | Rate: T | Main Pairing: Naruto Uzumaki/Namikaze and Hinata HyuugaStory is mine
Enjoy Reading!
.o.O.o.
Epilogue
Semilir angin datang dari timur. Rasa sejuk menyegarkan hati. Pohon-pohon rindang begitu indah jika dipandang. Senyum menghiasi wajah semua orang yang berada di gunung tersebut. Mereka tadi mengantar Sasuke dan Sakura pergi ke kota Prancis. Mereka sudah pulang dari mengantar kedua pasangan tersebut.
Seorang pemuda menundukkan kepalanya. Dia sedang melamun di tengah deras angin gunung bertiup. Rambut kuning keemasannya terbang bertebaran sehingga angin mengucapkan salam kepadanya. Dia mengangkat kepalanya juga membalas ucapan salam kepada sang angin, sahabat setianya selama ini.
"Sedang apa kamu di sini, Naruto?" tanya seorang gadis berjalan ke arahnya sambil memeluk tubuhnya yang kedinginan. Gadis itu berdiri di samping pemuda tersebut memandangi pemandangan indah dari atas gunung. "Di sini indah sekali. Cocok dijadikan lukisan."
"Ciptaan Tuhan lebih indah daripada manusia. Itulah kenapa manusia menggambarkan pemandangan ini dalam bentuk gambar atau pun lukisan," sahut pemuda bernama Namikaze Naruto. Dia melirik ke arah Hinata tersenyum menyetujuinya. Melihat dia menggigil kedinginan. Naruto mendekati dan memeluknya. "Kalau dingin, kenapa datang ke tempat ini?"
Hinata balas memeluk Naruto, membenamkan wajahnya ke dada bidangnya. "Aku ingin bersama denganmu."
Naruto meletakkan dagu di atas kepala Hinata. Menciumnya. Naruto juga mengingat masa-masa di mana dia dulu baru pertama kali bertemu Hinata sejak masuk sekolah barunya. "Kamu ingat waktu kita pertama kali bertemu?" Hinata mengangguk dekat dada Naruto, jadi Naruto bisa merasakannya. "Waktu itu aku tidak sengaja melakukannya. Aku baru pertama kali masuk ke sekolah itu. jadi gugup. Pas aku bertemu denganmu, Hinata. Aku menemukan bidadari. Tapi, aku tidak mau melakukannya karena aku takut kehilangan saudaraku."
Hinata melepaskan pelukannya, mengangkat kepalanya menatap Naruto dalam-dalam. "Aku juga. tapi, aku gugup karena belum pernah disentuh laki-laki selain saudara-saudara kandung. Sejak aku melihatmu dan menyentuhmu lewat kacamata tebal itu, aku merasakan kamu adalah cinta pertama dan terakhirku."
"Benarkah?"
Dia mengangguk mantap. Naruto memeluknya kembali. Mencium puncak kepalanya. Bau harum dari rambut Hinata membuat Naruto mengingat kembali di mana dia melupakan saudara kembarnya sendiri. Dia sangat sedih, tapi juga sekaligus senang karena Menma telah merubah hidupnya sampai sekarang. Kalau tidak ada Menma, mungkin ini tidak terjadi.
Sejak bertemu Hinata, hidupnya telah berubah. Dia tidak lagi takut dengan namanya sekolah. Semuanya sangat menyenangkan. Setelah kematian Menma, Naruto suka berbicara sendiri lewat bayangan gelap di dalam dirinya. Bayangan itu suka keluar kalau Naruto memakan sesuatu yang membuatnya dia tidak enak. Awalnya baik-baik saja. Namun, itu terus menjadi-jadi. Untunglah keluarga Sabaku dan Uzumaki membuat rencana. Menghentikan bayangan tersebut untuk keluar lagi dan mengganggu kehidupan Naruto. Makanya Sasuke dan Sai menyembunyikan rahasia ini pada Hinata dan Sakura. Begitu juga Ino.
Hari-hari bersama Hinata tidak terbayangkan. Mula-mula, mereka jadi saling ribut akibat Sakura memberontak ingin ikut naik gunung. Mereka berdua terpecah begitu juga dengan Hinata dan Naruto. Untungnya, semua bisa terselesaikan. Hinata dan Naruto bertunangan secara resmi.
Berpikir lebih dalam lagi. Naruto merasakan sentuhan hangat di pundak kanannya. Ada sebuah bayangan tangan putih menyentuh bahunya. Dia melirik ke arah sosok bayangan putih tersebut. Naruto tidak takut pada bayangan itu karena sosok itu adalah saudara kembarnya sendiri, Namikaze Menma.
Menma tersenyum, lalu mendekati telinga Naruto untuk membisikkan sesuatu. "Sudah saatnya kamu memberikannya, saudaraku."
Tersenyum gembira karena saudara kembar berambut biru ini mengetahui semuanya. Dia Cuma mengangguk. Tangan bebas merogoh sesuatu di kantung jaket tebalnya. Dia mengambil sebuah kotak kecil warna merah sederhana. Naruto melepaskan pelukannya. Hinata bingung pada apa yang dilakukan Naruto. Namun, setelah melihat Naruto berlutut dengan satu kaki. Dia membuka kotak merah sederhana itu. Hinata kaget. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan tidak menduga Naruto akan melakukan secepat itu.
"Maukah kamu menikah denganku, Hyuuga Hinata?" tawar Naruto sudah mempersiapkan hari ini dari awal dia membeli cincin bersama kedua sahabat dan sepupunya.
Suaranya tidak keluar karena terlalu kaget dan terkejut. Hinata mengatur napas agar tidak gugup. Akhirnya dia mengangguk setuju. "Iya. Aku mau menikah denganmu, Naruto!"
Kegembiraan mencuat di dalam benaknya. Dia mengambil cincin perak dan memasangkannya ke jari manis kiri Hinata. Naruto mengangkat kepalanya melihat Hinata menangis. Naruto bangkit berdiri dan memeluk Hinata. Rasa senang juga menyinari kehidupan sosok bayangan putih tersebut. Dia senang melihat Naruto bahagia. Asal dia bahagia, dia tidak apa-apa.
Aku senang kalian bahagia. Biarpun aku tidak bahagia, jangan marah padaku. Aku tahu kalian berusaha mengingatkanku. Aku tahu itu. Tapi, sifat ini sengaja aku lakukan untuk kalian. Asal kalian bahagia, aku tidak apa-apa. Aku akan pergi dan bertemu suatu saat nanti di mana kita bertemu lagi.
.o.O.o.
Bonus Tambahan
Sepuluh tahun kemudian ..
Percikan air bermunculan berkat langkah kaki mungil tersebut. Sosok anak laki-laki berlari terus tanpa henti sehingga sang ibu berlari juga agar bisa menangkap anak laki-laki berusia lima tahun tersebut.
"Jangan lari! Ibu akan menangkapmu, sayang!" seru sang ibu terus mengejar si anak laki-laki berambut biru. Nama anak laki-laki Menma, Namikaze Menma. Tentu kalian tidak menyangka kenapa nama itu terus ada dengan nama keluarga. Keluarga yang dulu dipakainya. Itu karena Naruto berharap Menma tetap akan hidup di keluarganya walaupun dia sudah tidak ada.
"Ayo, ibu! Kerja aku!" suara Menma berseru terus menerus berlari. Setelah melewati jalan raya. Ada mobil meluncur datang. Hinata yang melihatnya berteriak, meminta tolong agar anaknya bisa selamat.
Seorang pemuda berambut kuning keemasan berlari. Menyelamatkan anak bungsunya. Setelah sampai di tengah jalan, Naruto memeluk anaknya agar jangan sampai tertabrak mobil. Menma memeluk sang ayah dan menutup matanya takut. Sang pengemudi yang melihat kaget dan shock. Dia membelokkan putaran kemudinya dan oleng. Mobil tersebut hampir menabrak pagar pembatas taman. Untunglah tidak terluka.
Menma kecil membuka mata perlahan-lahan. Melihat sosok aneh disinari cahaya matahari yang menyilaukan. Menma kecil memngerjapkan mata berkali-kali. Dia bisa melihat sosok itu tersenyum dan menghilang. Menma kecil memiringkan kepalanya, bingung. Tadi itu siapa?
Kedua mata Naruto terbuka. Rasa sakit tidak datang kepadanya. Dia melihat sekelilingnya, lalu melepaskan pelukan. Dia menatap anaknya serius. "Kamu tidak apa-apa, Menma?"
Menma kecil mengangguk.
"Syukurlah. Lain kali jangan berlari ke jalan raya, ya." Naruto bangkit dan mengamit tangan si kecil keluar dari jalan raya. Sampai di taman, Menma kecil menarik tangan Naruto. Naruto melihat ke bawah, ke mata anaknya berwarna biru langit. "Ada apa, Menma?"
"Aku tadi lihat ada orang aneh. Wajahnya, badannya, dan semuanya putih. Sepertinya dia melindungi kita, Yah." Menma kecil menceritakan kisah sebenarnya. Kisah mereka seharusnya ditabrak. Tapi, sang pengemudi melihat sosok bayangan putih di siang hari. Akhirnya sang pengemudi kaget langsung membelokkan setir agar tidak menabrak Menma kecil dan Naruto.
Naruto tahu siapa yang dimaksud Menma kecil ini. Dia tersenyum dan mengelus-elus rambut biru. "Pasti kita sudah diselamatkan oleh seseorang yang kita tidak tahu."
Bukan itu jawabannya diminta Menma kecil. Menma kecil menyanggupinya saja. Menma kecil tidak mau menyerah. Dia menarik tangan dari Naruto, menghadang jalan Naruto. "Apa orang itu adalah orang paling berharga buat ayah?" Naruto terpaku. "Benar, 'kan? Kalau begitu izinkan dia pergi dengan bebas. Jangan biarkan dia disakiti oleh ayah lagi. Dia butuh keputusan ayah."
"Keputusanku?" Naruto mengeryit bingung. Apa keputusannya? Selama ini, dia pasrah membiarkan sosok itu terus ada di sampingnya. Tapi, setiap kali melihat sosok itu penuh kesedihan. Hatinya juga ikut sedih. Apa yang diinginkannya? Apa sosok itu meminta sesuatu darinya yaitu ikut dengannya?
"Yang diinginkan sosok itu adalah ayah harus menarik kembali ucapan ayah," bocah laki-laki berusia sembilan tahun berjalan ke arah pria berambut kuning keemasan dan adiknya. "Ayah harus menarik sumpah. Sumpah di mana ayah melupakannya."
"Dari mana kamu tahu semua ini, ?" tanya Naruto membungkuk untuk melihat kedua bola mata perak anaknya yang penuh keseriusan.
"Dari ini?" Anak sulung Naruto bernama Haru memperlihatkan sebuah buku tulis. Isinya adalah perasaan kesal Naruto pada saudara kembarnya. "Ayah dulu melupakan saudara kembar ayah sendiri lewat sumpah itu. Bayangan gelap itu datang ke dalam tubuh ayah karena sumpah itu. Sosok itu ingin bersama ayah. Saat paman Gaara bilang bahwa sosok itu tidak ada di dalam benak ayah. Sosok itu masih saja menemani ayah sampai sekarang. Itu berarti, semakin lama sosok itu menghilang, semakin lama ayah melupakannya. Jadi, tarik ucapan ayah dan biarkanlah dia pergi dengan bebas tanpa ada beban lagi di pundaknya."
Naruto terkagum-kagum pada anak sulungnya yang begitu pintar mengetahui semuanya. Dia berdiri tegak, menengadah ke langit biru. Menghela napas. Dan berbisik kepada sosok itu. "Apa benar kamu tidak pergi karena takut aku melupakanmu?"
"Seperti yang dikatakan anak itu," sosok itu muncul di samping Naruto. Naruto bisa merasakannya. "Tidak apa-apa. Biarkan aku menderita seperti ini asalkan kamu bahagia, saudaraku."
Naruto menggeleng. "Tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya!" Suasana jadi hening. Naruto merunduk. "Apa kamu tahu, Menma? Setiap kali kamu pergi sama ayah dan ibu, aku selalu takut kamu tidak akan kembali. Makanya aku selalu berbisik pada hatiku sendiri. Lebih baik aku melupakanmu daripada melihatmu menderita. Lebih baik aku tidak mengingatmu daripada kamu selalu menderita karena kesendirian."
"Tidak, Naruto." Sosok tersebut menggeleng. "Aku lahir karena aku senang bersamamu sebagai kakak, saudara, teman dan sahabat. Kita selalu berbagi bersama. Tidak bisakah kamu melihat itu? Harapanku adalah aku ingin kamu dan Hinata beserta anak-anakmu bahagia. Aku tidak mau menyakitimu lagi."
Dia berbalik badan dan menatap sosok putih itu sambil tersenyum. "Aku menarik ucapanku. Aku akan terus mengingatmu. Akan terus mengenangmu. Karena kamu adalah bagian dari diriku dan keluargaku. Aku senang kita bisa bersama. Saat kamu pergi, aku tidak akan melupakanmu, wahai saudaraku. Sampai ajal menjemput dan kamu-lah menjemput aku beserta ayah dan ibu."
Air mata menetes di pelupuk matanya. Sosok itu berubah menjadi sosok Namikaze Menma. Kedua anak laki-laki Naruto matanya membulat. Mereka takjub pada sosok setegas itu dengan senyuman memukau. Ada dua sosok datang ke arah Naruto dan Menma. Mereka berdua tahu siapa orang tersebut. Mereka adalah Hatake Kakashi dan Orohimaru.
"Pergilah dan berbahagialah. Kalau kamu bahagia, kami juga akan bahagia. Selamanya kamu adalah teman sehati, sahabat terbaik dan saudara terhebat yang pernah aku miliki." Naruto menyentuh pundak Menma. Menma bergumam dua kata yaitu, 'terima kasih'.
Menma memeluk Naruto sangat erat. Sinar cahaya memudar di sekitarnya. Saat melepaskan pelukan dan pergi bersama dua sosok tersebut, mereka menghilang di telan Bumi. Naruto bersyukur bisa bertemu dengan saudaranya itu. dia-lah orang yang telah memberikan hari menyenangkan dalam sehari.
Dua bocah tersebut merangkul leher Naruto secara bersamaan. Naruto tersenyum dan gembira karena ada si dua anak kecil memberitahukan dan menemaninya hingga saat ini. Naruto bangkit dan menggendong dua anak kecil tersebut lewat punggung tegapnya. Mereka bertiga bermain-main. Berputar-putar seperti baling-baling. Tidak mau ketinggalan, Hinata ikut bersama mereka bertiga.
Keluarga Namikaze betul-betul keluarga bahagia. Hari ini sangat menyenangkan dan menggembirakan. Tiada hari yang menyenangkan seperti ketimbang hari-hari yang akan datang. Biarkanlah sekarang menjadi hari menyenangkan di bawah terik matahari. Matahari juga menemani mereka dengan memberikan senyuman mempesona. Inilah hari menyenangkan, bukan? Happy Sunny Funny Day!
End
.o.O.o.
A/N: Saya tidak berkomentar lagi untuk saat ini. Saya sudah membuat keputusan. Keputusan tersulit. Semoga kalian mendukungnya! ^^
Terima kasih sudah me-review:
- Cicikun Syeren
- Hikaru-Ryuu Hitachiin
- Guest
- Lavender Sapphires chan
- Faris Shika Nara
- anonymous
- Nataka san
- Ekasari 12.7-TheRavenGirl
- A4 Project
- Hyuna. UzuHi
- Mitsu Rui
- Raditiya
- LavenderSun
- uchiha-yudha
- MaYa Chan23598
- Na Fourthok'og
- kirei- neko
-
Terima kasih sudah follow:
- A4 Project
- Fu-Chan NHL4e-KeepStright
- Namikaze Uzumaki Hendrix Ngawi
- bayux666
- vina-fosa
Terima kasih sudah favorite my fic:
- Cicikun Syeren
- Ekasari 12.7- TheRavenGirl
- Fu-Chan NHL4e-KeepStright
- Hikaru-Ryuu Hitachiin
- Lathifah Amethyts-chan
- bayux666
- endrafauzan46
Terima kasih pada kalian sudah membaca fic saya ini. Semoga kalian bisa membaca fics saya yang lain. :)
Sunny Blue February
Date: Makassar, 07 Maret 2013
Thanks to reading! ^^
