BABY ON LOAN

(Remake by Liz Fielding)

.

.

.

Main Cast :

Park Chanyeol (GS) & Kris Wu

.

Other Cast :

Park Luhan & Byun Baekhyun (GS)

Oh Sehun (GS)

Do Kyungsoo (GS)

Kin Jongin

Baby! Park Taehyung

Zhang Yixing (GS)

Jesica Jung

Etc.

.

Genre:

Tentukan sendiri ^^

.

Rate:

Tentukan sendiri ^^

.

.

MAAF TYPO! SELAMAT MEMBACA... ^^

.

Chapter 3

.

Kris mundur selangkah. Secara moral, ia punya hak untuk berada di kamar mandinya sendiri. Ia tidak menyewakan rumahnya. Park Chanyeol-lah yang tidak punya hak untuk berada disini. Wanita itu mungkin sudah menandatangani surat perjanjian sewa, tapi Kris tidak habis pikir bagaimana wanita itu bisa percaya rumahnya ini milik gadis berusia delapan belas tahun yang menerjemahkan keanggunan sebagai rambut ungu dan hidung yang ditindik. Wanita itu hanya perlu melihat sekelilingnya. Buktinya bagi siapa pun yang punya otak, sangatlah jelas.

Sialnya, wartawan tabloid tidak akan peduli soal itu. Sedikit saja bocoran tentang situasi ini, maka orang-orang akan mulai menggali masa lalunya dan percakapan akan berhenti dengan tiba-tiba setiap kali Kris memasuki ruangan, kali ini bukan karena mereka tidak tahu harus mengatakan apa, tapi karena mereka sedang terlalu banyak bicara.

Benturan di kepalanya tadi pasti lebih keras daripada yang disadarinya, kalau tidak ia tidak akan pernah membiarkan dirinya terlibat dalam kesulitan semacam ini. Walaupun begitu, menemukan wanita telanjang dalam bath tubnya berhasil membuat pikirannya terpusat pada hal-hal mendasar. Sekarang Kris hanya punya satu pilihan yaitu keluar dari rumah ini sebelum wanita itu tahu ia pernah masuk.

Masalahnya bajunya ada di keranjang cucian. Ia punya yang lain, tapi kalau Miss Park melihatnya, dia pasti akan melihatnya begitu memasukkan handuknya di situ, wanita itu akan tahu...

Kris belum mengalihkan matanya dari wanita itu sedetik pun, yakin bahwa jika ia berani berkedip Miss Park akan terbangun. Tapi wanita itu belum bergerak. Dia tidur dengan tenang, matanya terpejam mata berwarna laut yang gelap, kenang Kris, tidak terlalu hijau, tidak terlalu biru, seperti Laut Mediterania yang tenang. Lalu Kris bertanya-tanya bagaimana ia bisa memperhatikan hal seperti itu ditengah-tengah kekacauan tadi malam. Apalagi melalui kacamata pantat botol yang dikenakan wanita itu.

Mungkin sewaktu wanita itu jatuh tergeletak di atasnya, alam bawah sadar Kris secara sukarela membantunya, Kris langsung bisa mengingat kehangatan tubuh Chanyeol di tubuhnya, bagaimana rambut wanita itu menyapu pipinya. Saat mengenang hal itu, Kris merasakan tubuhnya tergelitik, dan ia mengangkat tangannya seolah-olah ingin mengenyahkan sensasi yang tak diundang itu, lalu menyentakkan jari-jarinya kembali sebelum terlanjur melakukannya.

Bibir wanita itu sedikit terbuka, lembut, berwarna pink, dan polos tanpa lipstik. Lengannya tersampir di pinggiran bath tub benar-benar rileks oleh kehangatan airnya.

Pintu hati Kris yang sekeras baja perlahan-lahan terbuka. Kemudian, sewaktu pulau-pulau busa itu bergerak, Kris melihat tato kecil bergambar kupu-kupu di paha Chanyeol. Dan tubuh Kris bergetar, spontan bereaksi terhadap rangsangan yang sangat hebat itu. Gelombang hasrat yang menghantamnya membuatnya terpaku di tempat itu, pikirannya berputar membayangkan bibir hangat di bawah bibirnya, tubuh hangat yang siap untuk bercinta, dan Kris terkesiap lantang saat menyadari bahwa ia bukan merespons kenangan melainkan wanita itu.

Wanita itu mendesah pelan sewaktu air yang mulai dingin itu mengganggunya. Sesaat Kris mematung terpaku oleh gambaran itu. Tapi ia benar-benar harus bergerak keluar dari kamar mandi, keluar dari rumah ini, sebelum wanita itu bangun dan Kris membuatnya ketakutan setengah mati.

Saat ia meraih keranjang cucian, si bayi mulai menangis. Kris belum melongok isi tempat tidur bayi itu, ia bertekad tidak melakukannya. Bagaimanapun juga, mengira Park Chanyeol sedang pergi, tempat tidur itu pasti kosong. Perkiraan yang salah, dua-duanya.

Tangisan itu semakin lantang, semakin mendesak, secara menyakitkan melubangi perisai yang mengelilingi hati Kris, menghentikan langkahnya. Ia terkepung dari dua arah oleh gelombang emosional yang dengan hati-hati selalu dihindarinya. Tapi di sini, di rumah ini, di mana ia merasa aman, pertahanannya mulai melemah.

Wanita itu mendesah lagi, terganggu oleh tangisan bayi dan dengan harapan mengabaikan harapan untuk bisa mengambil kemejanya lagi, Kris bergerak mundur dari daerah berbahaya itu. Bahkan selagi menjauh dari jarak pandang pintu kamar mandi, Kris mendengar gerakan, suara riakan air saat wanita itu duduk. Kris mencoba tidak memikirkannya. Venuss karya Botticelli, di dalam kamar mandinya, mengancam saraf tubuhnya yang sudah lama tertidur.

"Sebentar. Taehyung." Kris ingat suara itu. Semalam suara itu tegang, bergetar oleh rasa takut dan amarah. Sekarang suara itu terdengar manis dan santai saat wanita itu keluar dari bath tub diiringi gemericik air.

Tangisan Taehyung tak kunjung mereda. Dengan berat hati Kris memutar tubuhnya untuk menghadap sumber keberisikan itu. Si bayi. Dengan wajah kecilnya mengerut sedih, mencoba meraih kris, kedua lengannya terulur, minta dipeluk, ditenangkan, dan insting mengalahkan keinginan Kris untuk menghindar. Sebaliknya, ia meraih bayi itu, mengangkatnya, mendekapnya di bahu dalam gerakan menenangkan yang takkan mungkin dilupakannya.

Taehyung berhenti menangis, menatap dan meraih pipi Kris dengan tangan-tangan kecilnya yang montok, lalu tersenyum. Pertahanan diri Kris langsung runtuh.

.

Chanyeol, yang sedang meraih handuk, terdiam sejenak saat Taehyung berhenti menangis, dan tersenyum. Sepertinya keadaan sudah membaik "Anak baik. Aku segera datang." Ia sudah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, sempat tidur sebentar di bath tub dan Taehyung mulai terbiasa dengannya, bereaksi terhadap suaranya. Seandainya keadaan terus seperti ini, ia mungkin akan bisa beres-beres. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar setelah aku mengganti popokmu?" tanya Chanyeol sambil mengenakan jubah mandi yang tergantung di balik pintu. Jubah itu berukuran besar. Terlalu besar untuk jadi milik Sehun. Tapi jubah itu lembut dan nyaman. Ia membungkus tubuhnya dengan jubah itu, mengikat talinya dengan kencang. "Aku harus pergi ke kantor polisi dan membuat pernyataan, setelah itu kita bisa pergi ke taman..." Chanyeol mengusapkan wajahnya pada lengan jubah yang lembut. "Kau haus? Atau kau mau..." ia berhenti mendadak di ambang pintu kamar mandi. Pencuri itu kembali dan dugaannya semalam benar. Berdiri seperti itu, pria itu benar-benar kelihatan sangat besar dan tinggi.

"Jangan berteriak," ujar Kris cepat-cepat. "Tolong jangan berteriak."

Chanyeol segera mengatupkan mulutnya dengan keras sampai giginya sakit. Tak ada teriakan. Tak akan. Pria itu tidak perlu mengulangi kata-katanya. Dia bahkan tidak perlu mengtakannya dengan begitu sopan. Dia sedang memegang Taehyung dan Chanyeol akan melakukan apa pun yang dikatakannya.

"Aku tidak akan menyakitimu." Chanyeol mencoba menanggapi kata-kata itu secara meyakinkan. Mulutnya terbuka tapi tenggorokannya tidak mau bekerja sama. "Dia tadi menangis. Aku mengangkatnya karena dia tadi menangis. Kau mau menggendongnya?"

Chanyeol mengangguk. Jangan bersikap sok pahlawan kali ini. Pikir Chanyeol. Ia harus tetap tenang dan bersikap seolah-olah semuanya benar-benar dalam keadaan normal. Jangan melakukan sesuatu yang bisa mengejutkan Kris Wu atau membuat pria itu menganggap Chanyeol sebagai ancaman.

Tenang. Chanyeol mengusap telapak tangannya yang berkeringat di sisi jubah mandinya, tiba-tiba merasa terganggu oleh ukuran jubahnya itu. Kalau ia harus bergerak cepat, sudah pasti ia bakal tersandung... Kecuali, tentu saja, ia tidak akan bergerak ke mana-mana. Taehyung jauh lebih penting daripada keselamatannya sendiri. Bagaimana pria itu bisa masuk lagi?

Tenang. Bersikaplah yang wajar. Kenapa dia kembali lagi? Berniat menuntaskan pekerjaannya? Pasti ada sesuatu yang sangat berharga dalam rumah ini sampai-sampai dia mau mengambil resiko. Chanyeol tahu ia harus tersenyum, tapi wajahnya juga tidak mau bekerja sama. Wajahnya membeku ketakutan.

Tersenyum, ia harus tersenyum! Dalam keadaan apa pun, ia tidak boleh mengejutkan Kris Wu maupun membiarkan pria itu melihat ketakutannya, ia bisa melakukan itu demi Taehyung. Entah bagaimana Chanyeol berhasil menggerakkan sudut mulutnya kembali dan melepaskan lidahnya dari langit-langit mulutnya, dengan hati-hati melangkah maju.

"Y-ya." Sialan saking gugupnya ia sampai tergagap-gagap.

.

Kris terpana. Apa yang telah dilakukannya? Wanita itu benar-benar ketakutan dan siapa yang bisa menyalahkannya?

"Dia tadi menangis," ulang Kris lembut.

"Tolong berikan dia padaku," pinta Chanyeol sambil mengulurkan kedua lengannya ke arah bayinya yang berharga.

"Nah. Ikut Mommy, ya." Kris meletakkan si bayi di lengan Chanyeol, tapi lengan yang terulur sangat gemetaran sampai-sampai Kris takut wanita itu akan menjatuhkan bayinya. Ia terus memeluk Chanyeol dan bayinya. "Kau sudah memegangnya?" Wanita itu menengadah, menatapnya dengan mata terbelalak. "Mungkin popoknya perlu diganti," usul Kris.

"Biasanya sih begitu," ujar Chanyeol. Lalu, menahan tawa histeris yang sudah hampir meledak, ia bertanya. "Kau melarikan diri?"

"Apa?" jubah yang dipakai Chanyeol terasa lembut di dada Kris. Rambut wanita itu, mulai keluar dari ikatan yang dipakainya untuk menahan rambutnya selagi mandi tadi, beraroma manis dan segar, membuat Kris ingin tetap di sana sejenak. Lalu ia menyadari apa yang diucapkan Chanyeol, bahwa wanita itu pasti punya sudut pandang yang sangat berbeda tentang situasi ini. "Oh tidak... Eh, apa kau sudah memegangnya dengan mantap?"

"Ya," sahut Chanyeol. Tapi pencuri itu menutupi jalan menuju pintu. "Barang-barangnya ada di lantai bawah."

"Benarkah? Kenapa?"

"Karena aku belum punya waktu..." Chanyeol berhenti. Ia tidak akan minta maaf pada pencuri itu atas caranya yang serampangan dalam merawat bayi. "Bukan urusanmu." Kata-kata itu membuat Kris tersenyum, sesuatu yang baru. "Boleh aku lewat?"

"Oh, ya." Pria itu menepi, Chanyeol baru sadar bahwa pria itu tidak memakai baju. Dia mungkin pencuri dan Chanyeol mungkin sudah bersumpah tidak akan berurusan dengan pria lagi, tapi itu tidak mencegahnya mengenali spesimen prima saat ia melihatnya. Meskipun tanpa kacamatanya. Chanyeol tidak perlu kacamata untuk mengagumi dada bidang pria itu, otot-otot yang menujukkan kesukaannya berolahraga, serta bahu yang mampu menanggung semua masalah di dunia ini...

Tidak memakai baju? Pikiran Chanyeol serta-merta kembali ke alam nyata. Atau sepatu. Dia pasti kabur dari rumah sakit. Setidaknya, dilihat dari perban di dahinya, dia menunggu untuk diobati dulu. Lalu setelah itu dia kabur. Polisi mungkin sedang mencari pria itu. Polisi... ia harus menelepon polisi... Tapi sementara itu ia harus bersikap tenang ia tidak mau melakukan sesuatu yang bisa membuat pria itu kaget.

"Mereka, eh, tidak menahanmu di rumah sakit?"

"Mereka berencana begitu. Aku keluar sendiri," Wajah Park Chanyeol sangat ekspresif, pikir Kris. Ia bisa melihat rentetan pikiran Chanyeol saat wanita itu mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Ia juga bisa melihat saat wanita itu memutuskan memaksa diri untuk bersikap seolah-olah sudah terbiasa mendapati seorang pria asing, pria asing yang tidak memakai baju di kamarnya.

Kamarku, ralat Kris.

Mungkin wanita itu memang sudah terbiasa. Bayi itu pasti punya ayah, walaupun Kris tidak melihat kehadiran Mr Park di situ. Mungkin memang tidak ada Mr Park. Atau mungkin Mr Park sudah di tendang pergi. Atau di pukul sampai mati dengan tongkat cricket...

"Apa itu bijaksana?"

Dalam situasi ini, mungkin tidak. Tapi wanita ini cantik. Bayi itu melengkapi kecantikannya, persis seperti Jesica yang dulu kelihatan lebih cantik ketika menggendong bayi mereka. "Aku tidak terlalu suka rumah sakit," tukas Kris kasar, lalu melangkah mundur untuk memberi jalan pada Chanyeol, kemudian, "Bisakah kau mengatasinya?" tanya Kris, masih khawatir kalau-kalau wanita itu menjatuhkan bayinya.

"Tentu saja aku bisa." Bentak Chanyeol. "Aku tidak bisa mondar-mandir sambil menunggu pencuri... Sebenarnya, kalau siang hari istilahnya masuk tanpa izin... Atau pengacara kelas teri, kalau begitu. Bagaimana jika kau teruskan apa pun... apa pun yang menjadi maksud kedatanganmu ke sini?" Chanyeol menghela nafas dengan gemetar. Hilanglah sudah sikap tenangnya. "Aku akan berpura-pura tidak melihatmu. Sungguh."

Chanyeol baru sadar bahwa kata-kata itu sepertinya tidak tepat.

Kris berpikir Chanyeol sedang menunjukkan kesediaannya untuk tunduk dengan membiarkannya meneruskan apa pun niat jahat yang ada dalam pikirannya selama ia tidak menyakiti si bayi. Masuk akal, dan juga berani. Kalau Kris benar-benar pencuri, maka itu hal paling bijaksana untuk dilakukan. Sementara memuji kecerdasan Chanyeol, situasi ini memang seperti lelucon buruk. "Jadi kau bersedia pura-pura tidak tahu sementara aku mengambil peralatan perak bergaya Georgia itu?" tanya Kris, berusaha tidak tertawa.

"Perak?" Chanyeol tidak melihat satu pun peralatan makan perak bergaya Georgia. Tapi kalau dipikir-pikir, ia memang belum sempat melihat-lihat. "Ambil saja. Aku yakin benda itu pasti sudah diasuransikan," ujar Chanyeol dengan nada suaranya yang paling meyakinkan sambil maju selangkah lagi menuju pintu.

"Terima kasih," ujarnya. "Kau sangat baik, tapi satu-satunya yang ingin kulakukan hanyalah mandi."

"Mandi?" Wanita itu memandang dada Kris dan tiba-tiba saja Kris merasa sangat telanjang. Kris harus memaksa dirinya untuk tidak memikirkan bagaimana rupa wanita itu, saat terbaring di bath tub. Tato kecil yang seksi itu. "Oh! Mandi!"

"Kau menyisakan air panas, kan?" tanya Kris, berusaha mengalihkan perhatian Chanyeol.

"Aku... eh... ya... setidaknya... mungkin..." sekarang Chanyeol kelihatan bingung. Tapi tidak ada gunanya mencoba menjelaskan sekarang. Wanita itu jelas tidak akan percaya pada apa pun yang dikatakan Kris. "Banyak handuk di dalam dan kurasa tadi aku melihat pisau cukur di lemari, kalau kau perlu..." Chanyeol terus mengoceh, lalu terdiam, tampak jelas menyesal telah menyebut-nyebut pisau cukur cadangan milik Kris itu.

"Setelah itu," Kris melanjutkan, "aku akan mencoba untuk tidur."

"Tidur?" Chanyeol menelan ludah. Sesaat Kris mengira wanita itu mungkin akan menawarkan untuk mengganti seprai.

"Aku mengalami hari yang sangat buruk, juga malam yang yang sangat buruk."

"Silahkan," ujar Chanyeol, tapi menunjuk kearah tempat tidur. "Tidak usah pedulikan aku. Lakukan saja."

Sementara itu Chanyeol akan turun dan menelepon polisi seperti layaknya semua warga negara yang baik. Yah, Kris sama sekali tidak keberatan. Para polisi akan memberitahukan yang sebenarnya pada wanita itu lalu mereka akan mengurus masalah surat perjanjian sewa itu. Yang sudah pasti akan menguras isi dompet Kris. Privasi memang mahal. Ketika mencapai ambang pintu yang aman, Chanyeol berbalik sambil menggigit bibirnya. Lalu ia berkata, "Dengar, aku harus tahu. Bagaimana kau bisa masuk lagi?"

"Cara yang sama dengan semalam. Pakai kunci."

"Kunci?" sesaat Chanyeol kehilangan kata-kata. Hanya sesaat. "Tapi aku sudah mengaktifkan alarmnya setelah polisi pergi semalam. Aku yakin aku sudah mengaktifkannya."

"Ya dan kau berbaik hati meninggalkan nomor kodenya di note di samping telepon. Kalau aku benar-benar pencuri, aku pasti akan sangat berterima kasih. Ada pertanyaan lain?"

Chanyeol punya selusin pertanyaan, Kris bisa melihat itu di wajahnya, tapi wanita itu jelas-jelas merasa lebih baik tidak menanyakannya. "Sebaiknya aku mengganti popok Taehyung."

"Lakukan itu. Dan, karena suasana hatimu sedang bagus, bagaimana kalau kau memasak air dan membuat kopi?"

"Apa kau tidak takut kopi akan membuatmu terus terjaga?"

"Bukan untukku. Untuk polisi. Kurasa kau berencana menelepon mereka, dan yang pasti mereka akan senang mendapat secangkir kopi yang enak setibanya di sini. Kau tidak akan percaya kopi yang disediakan di kantor polisi..."

Chanyeol langsung pergi. Begitu juga Kris. Ia serius saat mengatakan butuh mandi. Tapi ia akan menunda tidur sampai ia berhasil menyelesaikan masalah dengan penyewa rumahnya itu. Park Chanyeol sudah sangat mengganggunya, dan waktu bangun nanti, Kris ingin memastikan ia sudah menempati rumah ini sendirian.

.

Chanyeol mendengar pria itu menyalakan shower. Pria itu hanya menggertak, ia tahu pria itu hanya menggertak. Dia pasti sudah berencana mengambil apa pun yang menjadi tujuannya di sini dan sudah akan pergi sebelum polisi tiba. Well, Chanyeol akan memastikan hal itu. Pencuri sungguhan! Pria itu memang sungguhan! Yang sungguh-sungguh bisa membuat Chanyeol berhenti bernafas.

Chanyeol menurunkan Taehyung dan meraih telefon, tanpa sengaja menjatuhkan koran. Taehyung berusaha meraih koran itu, dan Chanyeol buru-buru menendang koran itu menjauh dari jangkauan si bayi. Saat itulah ia menyadari bahwa wajah yang sedang menatapnya dari halaman depan koran itu sangat familiar. Pria itu tidak memakai kacamatanya, tapi judul di cetak besar-besar itu menyebutkan berita kasus penipuan di suatu tempat di Timur jauh sana. Sambil menyipitkan matanya, Chanyeol berusaha membaca keterangan di bawah foto yang pasti bukan berasal dari berkas polisi manapun dan Cahnyeol membaca tulisan itu "KRIS WU QC". Nama yang tercantum di tas yang disandungnya semalam. Nama yang diberikan si pencuri itu pada polisi.

Perlahan-lahan Chanyeol meletakkan gagang teleponnya kembali, mengamati taehyung sejenak, lalu ingat bahwa popok keponakannya itu harus diganti. Ia kembali menaruh koran itu kembali di tempat ia tadi menemukannya di samping telepon, lalu membungkun dan mengangkat Taehyung.

Chanyeol mengganti popok dengan cekatan. Mendudukkan Taehyung di kursi tinggi bayi. Membersihkan bekasnya, mencuci tangan, kemudian membuat sepoci kopi. Chanyeol menduga dirinya berada dalam masalah. Maslah besar. Si penyelundup memang sudah bilang bahwa ini rumahnya. Ia tidak terlalu memperhatikan karena pria itu baru mengalami benturan di kepalanya.

Sekarang Chanyeol sangat takut kalau pria itu mengatakan yang sebenarnya. Bahwa Oh Sehun bukanlah pemilik rumah yang asli, dan sama sekali tidak berhak menyewakan rumah ini padanya.

Seolah-olah itu belum cukup buruk, pemilik sah rumah ini adalah Kris Wu QC. Pengacara yang sama sekali bukan kelas teri. Bahkan bisa dibilang menduduki tingkat tertinggi dalam profesi pengacara. Selangkah lagi menuju kursi hakim.

Chanyeol sempat berpikir bahwa membuat Residents Association Taplow Towers marah adalah masalah. Dengan situasi ini mungkin ia malah membuat semacam rekor pengusiran. Ia mengerang keras saat mengingat bagaimana ia mempersilahkan pria itu mengambil barang-barang berharga. Berjanji tidak akan melapor ke polisi. Pria itu hanya berdiri di sana dan membiarkan Chanyeol mempermalukan dirinya sendiri. Pantas saja pria itu tadi tersenyum.

Residents Association Taplow Towers, menurut dugaannya, hanyalah anak kucing dibanding Kris Wu. Chanyeol memiliki firasat buruk bahwa Mr Wu, ditambah luka di kepalanya, akan berubah menjadi harimau. Syukurlah masih ada surat perjanjian sewa itu. Setidaknya kertas itu membuktikan... sesuatu.

Ia memberi Taehyung sepotong biskuit bayi, menuang secangkir kopi untuk dirinya sendiri, dan berpikir tentang Oh Sehun. Gadis itu masih muda dan agak nyentrik, tapi dia tidak kelihatan seperti seseorang yang bisa menempati rumah ini tanpa izin dan menyewakannya untuk menipu. Lalu Chanyeol berpikir bagaimana gadis itu meminta uang sewanya dibayar tunai dan mengerang. Sulit dipercaya ia benar-benar termakan tipuan gadis itu!

Mao menggosokkan badannya di kaki Chanyeol, menuntut makan paginya.

Tidak, tungu. Ada Mao. Sehun meninggalkan kucing kesayangannya. Kucing itulah satu-satunya yang dipedulikan Sehun. Perasaan lega melandanya. Oh Sehun tidak menempati rumah tanpa izin dan dia juga bukan gadis yang suka mengambil keuntungan. Setidaknya, bukan dari Chanyeol. Sehun diserahi tugas untuk menjaga rumah cantik milik Mr Kris Wu dan tanamannya yang berharga, padahal satu-satunya yang diinginkan anak itu hanyalah menyeberangi Selat Inggris bersama teman-temannya.

Siapa tahu Kris Wu-lah yang menyerahi Sehun tanggung jawab atas rumahnya dan gadis itu malah menyewakannya. Posisi Chanyeol tidak separah yang ditakutkannya. Yang aku perlukan, pikir Chanyeol, adalah pengacara.

Ia mengerutkan wajah. Ia sudah punya seorang pengacara. Sambil terus memikirkan hal itu, Chanyeol berbalik dan mendapati pria yang sedari tadi memnuhi benaknya berdiri di ambang pintu dapur.

Cangkir itu bergetar di atas tatakannya.

Pria itu terlihat cukup mengesankan dalam kaus berwarna abu-abu tua dan celana jogingnya. Rambutnya masih basah sehabis mandi. Dalam jubah hitam dan wig putih, bisa dipastikan Kris Wu akan membuat siapa pun yang dituntutnya ketakutan setengah mati. Mungkin pria itu tidak suka menjadi penuntut. Membela penjahat lebih menghasilkan banyak uang daripada mengirim mereka ke penjara. Lukisan minyak karya Stubbs dan peralatan makan perak ala Georgia bukanlah barang-barang yang murah.

Seharusnya hal itu membuat Chanyeol merasa lebih baik, tapi tidak banyak. Tapi setidaknya ia bisa sedikit berharap. Hukum mungkin tidak berpihak padanya, tapi prosesnya pasti akan memakan waktu. Mungkin tidak sampai tiga bulan, tapi cukup lama. Bagaimanapun juga, Kris Wu bukan pencuri, tapi pengacara QC dengan reputasi yang harus di jaganya. Pria itu tidak bisa mengambil resiko dengan mengambil jalan pintas. Dengan pikiran itu semakin memperkuat keyakinannya, Chanyeol berhasil tersenyum kikuk. "Silahkan duduk Mr Wu. Silahkan ambil sendiri kopinya."

"Kulihat mereka sudah menjelaskan situasinya," Ujar Kris.

"Mereka?" Chanyeol mendapati lebih mudah berkonsentrasi dengan mengelap tetesan air liur dari dagu Taehyung daripada mata Kris. "Siapa?"

"Polisi." Kris duduk, menuang secangkir kopi kental, dan menambah gula. "Bukankah kau langsung menelepon mereka begitu kau turun?"

Chanyeol mendongak memandangnya. "Sebenarnya tidak. Aku baru mau menelepon mereka waktu aku melihat koran semalam. Kau menjadi berita utama semalam, tapi sepertinya bukan karena masuk tanpa izin." Dan kali ini senyumnya muncul lebih mudah. "Tapi Kris Wu QC kan memang jarang kalah." Chanyeol hanya menduga, tapi dugaan itu sepertinya benar, karena Kris mengernyit.

"Aku tidak kalah. Pada saat-saat terakhir klienku memutuskan bahwa lebih mudah memperoleh apa yang diinginkannya dengan mengaku bersalah."

Pria itu tidak terdengar terlalu senang. "Kau marah padanya karena melakukan hal yang benar?"

"Tentu saja aku marah. Dia tidak bersalah (Kris mengangkat bahu). Tak bersalah atas tuduhan itu pada tingkatan apa pun. Walaupun begitu, kelihatannya dia sudah dibayar mahal untuk memainkan peran itu. Bukti-bukti yang dimilikinya akan mempermalukan orang-orang yang berkuasa."

Kris mengiris roti Chanyeol dan menaruhnya dalam toester. "Jadi Sehun memintamu tinggal disini dan menjaga rumah sementara dia bepergian?"

"Tidak juga." Kris menatapanya. "Aku mendapat surat perjanjian sewa yang layak. Dan aku sudah membayar sewa tiga bulan di muka."

"Oh, bagus. Jadi kau membiayai liburannya. Trims," ujar Kris sinis. "Bersediakah kau menjelaskan apa yang kau lakukan pada kakakku?"

"Kakakmu?"

"Ibu Sehun," jelasnya. "Sehun seharusnya belajar untuk mengikuti ujian ulang level A-nya pada musim gugur nanti."

"Kalau Sehun separah itu, kakakmu seharusnya menjaganya lebih ketat," balas Chanyeol.

"Betapa menyenangkan menemukan satu subjek yang sama-sama kita sepakati sepenuhnya. Tapi tidak jadi soal. Kau bisa menghentikan ceknya, kita akan merobek surat perjanjian sewa itu dan masalah pun teratasi."

Ya Tuhan, betapa angkuhnya pria ini. Angkuh sampai ke tulang-tulangnya. Dia dihadapkan pada sedikit ketidaknyamanan dan tidak peduli sedikit pun pada Chanyeol. Atau Sehun. "Itu akan sulit," ujar Chanyeol dengan kepuasan yang tak terkira. "Aku membayarnya tunai."

"Tunai?" well, kata-katanya langsung menghapus kepuasan dari wajah Kris. "Kau membayar uang sewa tiga bulan secara tunai?"

"Empat. Sewa satu bulan sebagai jaminan."

"kau tidak merasa hal itu sedikit aneh?" tuntut Kris.

Sebenarnya Chanyeol tidak terlalu senang dengan perjanjian itu, tapi ia tidak berada dalam posisi untuk berdebat. "Tidak ada waktu untuk mencairkan cek. Sehun sedang terburu-buru."

"Pasti. Kurasa sekarang dia sudah di Perancis." Chanyeol tidak menyangkal atau membenarkannya. Sehun memang menyebut-nyebut soal kapal feri. Mungkin kapal itu menuju Perancis, tapi mungkin juga tempat lain dan itu sama sekali bukan urusannya. Yang pasti ia tidak berniat membantu Kris menemukan gadis itu. "Mungkin dia pikir aku tidak akan tahu," tambah Kris.

"Kalau klienmu mengikuti nasihatmu, mungkin kau memang tidak akan tahu."

Rotinya muncul dari Toaster. Kris bangkit, melintasi ruangan menuju lemari es, dan membukanya dengan hati-hati, menatap keruasakannya tanpa ekspresi. "Tidak jadi masalah." Dia berbalik menghadap Chanyeol sambil memegang piring mentega. "Aku akan mengganti uangmu."

Chanyeol yakin pria itu tidak sedang membicarakan mentega. "Itu tidak perlu. Aku tidak menginginkan uangmu."

"Kau baik sekali, tapi aku tidak bisa membiarkanmu menderita karena keponakanku..."

"Kau tidak mengerti. Aku tidak sedang berbaik hati, Mr Wu. Dan aku tidak berniat menderita. Kau tidak perlu mengganti uangku karena aku tidak akan pindah. Aku sudah menandatangani surat perjanjian sewa yang sah, melalui sebuah agensi, dan aku tidak berniat merobeknya. Polisi yang datang tadi malam sudah melihatnya dan mencatat semua detailnya," ujar Chanyeol. Siapa tahu pria itu berencana merobek dokumennya.

Mereka bertatapan, mata Kris abu-abu dan tenang. Mungkin mata itu bisa membuat para saksi bermimpi buruk, tapi Chanyeol tidak sedang diperiksa oleh pria itu di ruang sidang, jadi ia menolak diintimidasi. Setidaknya, tidak terlalu besar.

Untuk menekankan maksudnya, Chanyeol mengambil sepotong roti kris. Bagaimanapun juga ini kan rotiku dan mentegaku, pikir Chanyeol.

"Kurasa polisi itu mungkin sudah membahas semua detailnya bersamamu." Lalu karena tidak mau bermusuhan dengan Kris, Chanyeol menawarkan jalan tengah. "Mungkin kau masih sedikit bingung. Hal itu memang bisa mengacaukan ingatanmu."

Kris duduk dan menatap Chanyeol lurus-lurus. "Tidak ada yang salah dengan ingatanku." Ingatannya bekerja secara maksimal dan membawa Kris kembali melihat Park Chanyeol terbaring dalam bath tub-nya. Pemandangan yang sangat mengganggu.

"Kau yakin? Mungkin lebih aman jika kau menginap beberapa malam di rumah sakit."

"Cukup yakin." Kris menemukan alasan untuk tersenyum. "Selain itu aku percaya bahwa rumah adalah tempat terbaik untuk menyembuhkan penyakit apa pun yang menimpamu."

"Tapi ini rumahku selama jangka waktu 3 bulan," Chanyeol bersikeras.

"Tentunya kau punya relasi yang bisa kau tumpangi?" Chanyeol yakin satu kata saja dari Kris bisa membuat para wanita mengantri menerimanya.

"Keluarga atau teman yang mau menampungmu selama tiga bulan ke depan?"

Senyum Kris menghilang semudah datangnya. "Tiga bulan!"

Oh sial. Dia marah. Chanyeol terkejut karena Kris menunjukkan seberapa besar kemarahannya. Ia yakin bahwa kalau dia berada di ruang sidang, pria itu tidak akan menaikkan suaranya di atas nada percakapan yang sopan. Di sana Kris Wu pasti menggunakan suara bersahabat yang memperdaya saksi sehingga merasa seolah-olah sedang berbicara pada seorang teman. Sampai semuanya terlambat.

Mungkin dia sedang sakit kepala. Chanyeol bersimpati. Pria itu bisa saja mendapatkan seluruh simpatinya. Tapi bukan rumahnya. Ini rumah Chanyeol.

"Bagaimana denganmu?" Kris balas bertanya. "Apa kau tidak punya teman atau keluarga yang bisa kau tumpangi?"

"Kalau punya, aku tidak akan ada disini. Aku sudah hampir kehilangan akal waktu agensi itu menawariku rumah ini."

"Agensi apa?"

Chanyeol memberitahunya. "Aku berhubungan dengan mereka lewat telepon. Dengan Kyungsoo," tambahnya, jadi Kris bisa melihat bahwa ia serius. "Mereka sangat efisien. Mungkin mereka bisa membantumu," tambahnya lagi. "Aku terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu mencari tempat lain."

"Sibuk? Kau sebut tidur di pagi hari sibuk?"

"Tidur?"

"Kau baru saja mandi. Setidaknya kurasa itulah yang kau lakukan di kamar mandi," tambah Kris buru-buru, berusaha memperbaiki kesalahan yang baru saja dilakukannya. "Karena kau memakai jubah mandiku."

Chanyeol menunduk melihat jubah mandi yang sedang dipakainya, menyadari pipinya yang tiba-tiba terasa hangat. "Jubah mandi ini milikmu?" tanyanya. "Rasanya sangat nyaman."

"Aku tahu."

Membayangkan pria itu sebagai orang terakhir yang memakai jubah mandi itu membuat Chanyeol tidak mampu mempertahankan sikap dingin yang ingin ditunjukkannya. Ia malah mulai merasa hangat. Tapi ia berusaha keras menepisnya. "Aku memang mandi agak siang. Rutinitasku benar-benar terganggu karena kehadiran Taehyung."

"Itu sudah jelas," ujar Kris, tidak terlalu bersimpati. "Seharusnya kau sudah memikirkan hal itu sebelum memutuskan menjadi ibu."

"Oh, tapi..."

"Ini rumahku, Chanyeol."

"Oh... kau ingat namaku."

"Ya, aku ingat." Mana mungkin Kris bisa lupa?

Chanyeol merasa pipinya memerah. "Ms Park saja sudah cukup," bentaknya.

"Sehun tidak punya hak apa pun untuk menandatangani surat perjanjian sewa, Ms Park. Surat itu sama sekali tidak berarti."

"Kurasa aku ingin memeriksanya bersama pengacara, kalau kau tidak keberatan."

Kris menatapnya marah. "Lakukan apa yang kau inginkan, tapi kusarankan kau tidak membuang-buang uangmu. Asal kau tahu saja, kalau bukan karena bayimu, aku pasti sudah melemparmu ke jalan hari ini." Chanyeol, yang hampir menjelaskan bahwa Taehyung bukanlah bayinya saat pria itu menyelanya, memutuskan bahwa akan lebih bijaksana menyimpan fakta itu sementara waktu. "Bolehkah aku menelepon agensimu yang hebat itu?" Kris menawarkan. "Kalau mereka memang sangat efisien, mereka pasti akan mencarikanmu tempat lain untuk tinggal..."

"Jangan repot-repot." Diberi peringatan 24 jam satu kali tidak menyenangkan, dua kali dalam seminggu membangkitkan sifat spontan dan impulsif yang sudah susah payah ditahan-tahan Chanyeol. "Aku tidak akan pindah."

Hening sejenak sebelum Kris berkata, "Kalau begitu kita berdua punya masalah, Ms Park, karena aku juga tidak akan pindah."

Sesaat ruangan itu terasa penuh ketegangan.

Chanyeol menelan ludah dan menolak diintimidasi, ia berkata, "Well, kukira aku bisa menyewakan gudang untukmu. Memang agak berat membayar seluruh uang sewa di muka..."

Kris menyambar kesempatan ini. "Kau bisa mendapatkannya kembali. Seluruhnya. Ditambah uang sewa satu bulan sebagai kompensasi untuk kesulitanmu. Aku akan memberimu cek..."

Chanyeol tidak menginginkan cek. Ia tidak ingin pindah. Kenapa ia harus pindah? "Ruangan itu tidak ada perabotnya, tentu saja, dan kamar mandi tamunya agak kecil," lanjut Chanyeol seolah-olah Kris tidak pernah menyelanya. "Mungkin kau punya single bed atau sesuatu yang kau simpan di loteng?" pria itu tidak membenarkan atau menyangkal. Tampaknya dia benar-benar kehilangan kata-kata. "Bisakah itu menjadi kompromi yang layak?" Mao, yang masih lapar, menggosokkan badannya di kaki Kris. Pria itu memindahkannya dengan kesal, tapi Mao terus kembali lagi. "Aku yakin kita bisa mencapai kesepakatan mengenai pembagian biaya pengeluaran," tambah Chanyeol.

Kalau Chanyeol berharap bisa membangkitkan amarah Kris. Ia sudah berhasil. Pria itu bangkit dari kursi. "Aku tidak mau membagi apa pun, Ms Park, jadi sebaiknya kau mulai mencari tempat tinggal lain sekarang juga selagi aku masih mau bersikap adil! Dan jangan lupa bawa kucingmu!"

Beginikah ide pria itu tentang bersikap adil? "Apa kau akan memberiku waktu untuk berpakaian dulu sebelum kau melemparku ke jalanan?"

Kris begitu terperangah hingga kelihatannya perlu waktu memikirkan jawabannya. Terbalut jubah mandi miliknya, rambut di gelung ke atas dengan ikat rambut kecil yang longgar, serta wajah kemerahan dan berkilau sehabis mandi, Chanyeol sama sekali tidak menyadari daya tarik seksual yang dimilikinya. Dan wanita itu hanya mengenakan jubah handuk putih lembut.

Chanyeol terlambat menyadari bahwa mengingatkan Kris akan ketelanjangannya merupakan kecerobohan yang sama sekali tak ada manfaatnya.

.

.

.

.

.

TBC...

.

Sentuhannya menimbulkan rasa aman...

Ciuman itu seperti dongeng yang sempurna...