BABY ON LOAN
(Remake by Liz Fielding)
.
.
.
Main Cast :
Park Chanyeol (GS) & Kris Wu
.
Other Cast :
Park Luhan & Byun Baekhyun (GS)
Oh Sehun (GS)
Do Kyungsoo (GS)
Kin Jongin
Baby! Park Taehyung
Zhang Yixing (GS)
Jesica Jung
Etc.
.
Genre:
Tentukan sendiri ^^
.
Rate:
Tentukan sendiri ^^
.
.
MAAF TYPO! SELAMAT MEMBACA... ^^
.
Chapter 4
.
Kris menelan ludah. Jubah mandinya, yang tampak kebesaran untuk Chanyeol, tersingkap memperlihatkan leher Chanyeol yang putih dan bayangan lekukan lembut payudaranya yang mengundang. Pemandangan yang mengintip itu ternyata lebih menggoda daripada ketelanjangan yang tadi dilihat Kris secara tak sengaja. Pikiran Kris penuh dengan lekuk-lekuk indah serta tato kecil kupu-kupu yang seksi. Rasa nyeri samar-samar yang menggerogotinya semenjak ia melangkah masuk ke kamar mandi dan mendapati Chanyeol di sana kini semakin hebat dan cepat.
Dengan wajah merah padam Chanyeol cepat-cepat berbalik dan mengangkat Taehyung. Ia memeluk keponakannya itu, menjadikannya tameng bagi lidahnya yang terlalu impulsif. Chanyeol mengira sudah bisa mengendalikan lidahnya hingga sejalan dengan pikiran dan hatinya. Pesan kepada otak. Berusahalah lebih keras. Sementara itu dengan tegas Chanyeol menyingkirkan kecenderungan merasa bersalah karena membiarkan Kris Wu percaya bahwa Taehyung anaknya.
Chanyeol tahu itu salah. Secara teori. Tapi dalam praktiknya Kris sudah menjelaskan situasinya yaitu kalau Chanyeol mengaku Taehyung hanya dititipkan sebentar, sementara kakak dan kakak iparnya beristirahat, pria itu pasti tidak akan ragu-ragu lagi mengusirnya ke jalan. Kris jelas-jelas cukup besar untuk mengangkat dan membawanya ke jalan, dan sekali keluar, Chanyeol-lah yang harus menuntut lewat pengadilan supaya bisa masuk lagi. Yang sudah jelas tidak ada gunanya, karena toh ia masih butuh tempat tinggal sementara.
Parahnya lagi, Kris Wu mungkin akan menyerangnya dengan undang-undang tertentu yang neghukum para orang tua yang lebih mementingkan tidur daripada tugas merawat anaknya. Luhan dan Baekhyun tahu mereka bisa mempercayainya, tapi Dinas Sosial mungkin akan mengambil kesimpulan yang salah karena Chanyeol tidak memiliki surat rekomendasi untuk menjadi ibu sementara Taehyung sekalipun.
"Aku mengaku memliki bayi ini, Mr Wu," ujarnya, dengan hati-hati tidak mengiyakan ataupun menyangkal bahwa Taehyung anaknya. "Tapi Mao tidak ada hubungannya denganku. Dia milik Sehun."
"Oh, ss..." Kris menelan kembali kata-kata yang hampir keluar dari mulutnya saat Taehyng tersenyum padanya. "..ssayang," ujarnya.
"Mmm." Dia juga tidak peduli pada kucing itu, Chanyeol bisa melihatnya.
Situasi yang mungkin bisa dimanfaatkannya. "Omong-omong, kurasa dia lapar. Mungkin kau mau menumbuk ikan untuknya? Sudah dimasak kok. Kau tinggal meremasnya dengan tanganmu untuk menghancurkannya sekalian memerikasa kalau-kalau ada tulang." Kris tidak menjawab dan Chanyeol menduga bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya, Kris Wu kehilangan kata-kata.
Chanyeol membuka kulkas dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan rasa tidak sukanya sendiri terhadap tugas itu dengan hati-hati meremas ikan sebelum menruhnya di pirin Mao. "Coba kau lihat," ujarnya, menekankan kembali keberuntungan yang tidak disangka-sangka itu.
Mao berhenti menggosok-gosokkan badannya di kaki Kris dan melintasi ruangan untuk memeriksa pemberian Chanyeol. Dia mendengus, memandang Chanyeol dengan jijik, lalu sambil menaikkan ekornya dia berjalan ke pintu dapur, dan menunggu seseorang membukanya.
Chanyeol merasa ingin bertepuk tangan. Mao benar-benar cemerlang. Chanyeol membuka pintu, dan sambil menghela nafas ia berkata, "Kurasa hari ini dia ingin ayam cincang." Chanyeol berbalik untuk melihat bagaimana pria itu menanggapi kata-katanya tadi, tapi Kris Wu sudah setengah jalan menaiki tangga
"Mr Wu," Chanyeol memanggilnya.
Kris berhenti, setengah berbalik. "Apa?"
"Kalau kau mau tidur, aku ingin... " Chanyeol tidak dapat meneruskan kalimatnya. Sebenarnya dia ingin bilang kalau dia ingin berpakaian dulu. Untungnya pria itu tidak menunggu untuk mendengar apa yang Chanyeol inginkan.
"Tidur siang? Kau pikir aku mau tidur? Aku belum pernah terjaga sesegar ini seumur hidupku, dan aku mau keluar. Sementara itu sebaiknya kau mulai mencari tempat tinggal lain."
"Atau apa?" tanya Chanyeol.
"Atau. Atau aku yang akan melakukannya untukmu."
Jawaban yang paling lucu pikir Kris, tapi dia tidak menunggu persetujuan Chanyeol. Tak lama kemudian terdengar pintu depan dibanting.
"Kurasa kita memenangi ronde pertama," bisik Chanyeol di telinga Taehyung sambil mencium rambut ikal hitamnya. "Tapi sayangnya dia sangat marah." Chanyeol menghela nafas. "Tentu saja, kemarahannya bisa dimengerti. Sehun memang gadis yang nakal. Dia mengkhianati kepercayaan pamannya. Tapi," tambah Chanyeol, "Pria itu tidak kelihatan terkejut dengan semua ini." Ia menggelitik perut Taehyung dan bocah itu tertawa terkekeh-kekeh. "Ini bukan lelucon anak muda. Jangan coba-coba melakukan hal seperti itu padaku kalau kau sudah seumur gadis itu, ya," ujarnya, tertawa sambil mengangkat bocah itu dari kursinya. Tapi saat memeluk Taehyung di bahunya, dengan pipi bayi yang lembut menempel di lehernya, membayangkan bahwa ia tidak akan pernah menjadi lebih dari seorang bibi dan takkan pernah membesarkan anaknya sendiri sepertinya tidak begitu lucu lagi.
Tidak lucu sama sekali, pikir Chanyeol sambil memasang rantai pintu depan dan kembali mengaktifkan alarm keamanan yang akan memberitahunya jika Kris Wu kembali nanti.
.
"Kris sayang, masuklah! Apa yang terjadi padamu?"
"Apa aku kelihatan seburuk itu?" Pertanyaan bodoh, wajah bibinya menyiratkan bahwa tampangnya sama kacaunya dengan perasaannya.
Kris menyisir rambut dengan tangannya, menyentuh jahitan di dahinya.
"Tidak usah di jawab. Apa aku mengganggumu, Bibi Yixing? Aku tahu seharusnya aku menelepon dulu..."
"Sama sekali tidak. Dan Grady pasti senang melihatmu. Dia sedang tidur-tiduran di kebun. Bagaimana kalau kau ke sana dan memberinya kejutan sementara aku menyiapkan minuman?"
Kris mengikutinya sampai ke dapur dan melihat keluar jendela, memandang anjing hound tua kurus dan berbulu kusut yang berbaring di bawah pohon apel. "Bagaimana keadannya?"
"Sempurna. Dia sangat jinak. Orang bilang kau tidak bisa mengajarkan trik-trik baru pada anjing tua, tapi dia masih setajam anjing muda. Kami bersenang-senang..." Bibi Yixing terdiam dan memutar tubuhnya dari bak cuci piring. "Aku sudah membaca koran, tapi kukira hari ini kau akan tidur karena jet lag."
"Sementara ini tidur harus ditunda dulu."
"Jangan ditunda terlalu lama." Nasihat bibinya.
Lalu. "Well. Apa kau akan memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ini?" Dengan tak acuh Kris menunjuk perban di dahinya. "Bukan apa-apa. Aku tersandung kucing." Ia mengambil kopi yang dituangkan bibinya dan menambah gula.
"Kucing?" Bibinya tampak sedikit curiga, tapi berbaik hati mengganti topik itu. "Mungkin kau harus mengobatinya dengan segelas wiski dan berbaring di kamar tidur tamu selama satu-dua jam."
"Tawaran yang sangat menggoda..." Kris menguap dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "... Tapi sebaiknya aku minum kopi saja. Aku punya masalah yang memerlukan pikiran yang jernih."
"Masalah hukum? Ada yang bisa kubantu?"
"Sayangnya tidak. Sehun memutuskan bahwa merawat rumahku selama musim panas sedikit membosankan, jadi dia menyewakannya pada seorang wanita dan mengantongi uang sewanya untuk meluncur ke Eropa."
"Dasar anak nakal. Kurasa dia pikir kau tidak akan tahu."
Si Venus yang membawa tongkat cricket juga berpendapat begitu. Tapi Kris mengenal Sehun lebih baik. "Sehun akan mengaku, Bibi Yixing. Kurasa dia sudah memikirkannya, dan seandainya tidak terjadi hal yang hebat itu, aku akan memuji inisiatifnya. Masalahnya, dia mungkin benar."
"Ah, yah, kau memang selalu memanjakannya."
Kris mengangkat bahu. "Mungkin, tapi seseorang harus melakukannya. Ayahnya tidak mau peduli dan Victoria selalu saja terlalu sibuk. Tadinya aku mencoba lebih tegas." Kesalahan besar. "Kalau saja aku mengizinkannya pergi, aku tidak akan terlibat dalam kekacauan ini."
"Berarti kau harus mengganti uang wanita yang menyewa rumah dari Sehun?"
"Aku sudah mencobanya. Dia malah berniat menyewakan gudangku padaku. Kalau aku tidak bisa menemukan tempat tinggal lain." Walaupun jengkel, Kris mendapati dirinya menyeringai saat mengingat rona di pipi Park Chanyeol. Wanita itu lebih dari seraut wajah cantik. Jauh lebih dari itu. "Dengan sewa yang masuk akal."
"Kau bercanda!"
Kris memasang tampang datar. Hal itu tidak menghibur sama sekali. Wanita itu harus pergi dan lebih cepat lebih baik. "Kuharap begitu. Ada usul?"
"Tinggal disini?"
"Bibi Yixing, apa kau menyarankan aku mengaku kalah dan menyerah begitu saja?"
Bibinya tertawa "Tidak, kurasa itu harapan yang terlalu berlebihan." Ia menimbang-nimbang sesaat. "Kau bisa menunggu sampai dia pergi keluar dan mengganti kuncinya."
"Itu saran yang hebat." Kris meletakkan cangkirnya dan menyeringai pada bibinya. "Kenapa hal itu tidak terpikir olehku sebelumnya?"
"Kau belum memikirkan hal itu? Benturan di kepalamu pasti lebih keras dari yang kau kira. Tambah kopinya?"
Kris menggangguk. Lalu sedikit menyesal telah menerimanya. Ia butuh tidur. Segera. "Yah, well, dia punya surat perjanjian sewa. Mungkin tidak terlalu berarti, tapi aku tidak bisa bersikap seolah-olah mengabaikan hak-haknya di bawah hukum."
"Dan?" desak bibinya.
Kris mengangkat bahu. "Dan dia punya bayi." Ia menggambarkan ukuran Taehyung dengan tangannya. "Laki-laki. Umurnya sekitar enam bulan."
Tangan Yixing terulur menyentuh lengan Kris sesaat. Kemudian ia bertanya dengan ringan, "Tidak ada pria?"
"Sejauh yang kulihat sih tidak ada. Ms Park juga tidak pakai cincin." Dan kapan ia memperhatikan itu? "Tapi jaman sekarang pernikahan sepertinya memang tidak populer lagi." Lalu Kris menambahkan. "Ms Park tidak mengesankan wanita yang membutuhkan pria untuk menggandeng lengannya."
"Yang pasti seseorang pernah melakukan lebih dari itu." Kris mengingat cara wanita itu telentang di bath tub. Memeluknya pasti bukan hal yang sulit, akunya. Sama sekali tidak sulit. "Baiklah," kata Yixing setelah diam sejenak. Kris sepertinya tidak berniat memberi informasi lebih lanjut. "Kalau begitu kurasa kau harus tidur di gudang. Kau bilang sewanya masuk akal, kan?"
"Hanya ada satu masalah." Terlepas dari kotak-kotak kenangan yang tak sanggup dilihatnya, namun tak sanggup dilupakannya juga. "Disana tidak ada tempat tidur."
Zhang Yixing tersenyum lebar. "Kau bilang itu masalah? Kebanyakan pria akan merasa beruntung." Lalu dengan lebih lembut, ia berkata, "Sudah hampir sepuluh tahun, Kris. Jesica juga pasti tidak ingin kau sendiri terus."
"Aku tahu. Tapi sejak aku kehilangan dia, kehilangan mereka berdua sepertinya aku tidak bisa..." Kris terdiam, berusaha menyusun pikirannya. "Aku melihat seorang wanita dan berpikir... apa gunanya? Dia bukan Jesica." Sampai ia melihat penyewa rumahnya yang cantik telentang dalam bath tubnya. Ini pengalaman baru. "Tidak adil membebani wanita manapun dengan hal itu," ujarnya. Lalu ia berdiri. "Sebaiknya aku segera pulang."
"Kalau –kalau tamu yang tak diundang itu, sama seperti dirimu, tidak segan-segan dia mengganti semua kunci rumah?"
"Dia tidak akan..." Kris mulai bicara, lalu berhenti. Kris lebih yakin kalau Ms Park sanggup melakukan hal itu.
.
Chanyeol merapikan tempat tidur, membersihkan kamar mandi, berdecak jengkel melihat tumpukan handuk yang digeletakkan begitu saja, lalu mengosongkan keranjang cucian, memisahkan pakaiannya dengan pakaian Mr Kris Wu.
Chanyeol tidak menerima cucian. Atau penyewa. Betapa pun menariknya. Dan Kris Wu memang menarik. Lebih tampan dari Jongin. Yang berarti berita buruk.
Chanyeol melihat tumpukan pakaian kotor dan memungut sebuah kemeja pria. Dijahit di Jermyn Street, hitam, dan kaku karena susu dan telur yang sudah kering. Chanyeol bisa menduga kemeja itu milik "pemilik rumahnya", walaupun pria itu tidak memakainya terakhir kali Chanyeol melihatnya. Tapi Kris Wu sama sekali tidak memakai kemeja saat Chanyeol mendapatinya di kamar tidurnya, ralat kamar Kris Wu, ralat kamar mereka. Oh, masa bodoh. Bagaimanapun juga, chanyeol menyadari Kris tidak memakai baju. Sulit untuk mengabaikannya. Dada telanjang Kris sudah memenuhi pandangan matanya. Lebar, berotot dan agak kecoklatan. Sejujurnya dada yang sama sekali tak tertutup itu membuat Chanyeol terpesona.
Aneh. Tadinya Chanyeol mengira Kris kabur dari rumah sakit, tapi seandainya Kris memang diantar pulang oleh kepala polisi setempat yang terus minta maaf karena kesalahan mereka, seharusnya pria itu kan berpakaian lengkap. Jadi kenapa kemejanya ada dibawah handuk yang tadi Chanyeol pakai, dibawah baju-baju Chanyeol yang lain? Kerutan di dahinya semakin dalam. Ada sesuatu yang terlewatkan olehnya, sesuatu yang penting.
Chanyeol menguap. Tidur delapan jam tanpa terganggu. Itu yang terlewatkan olehnya.
Pikirannya teralihkan oleh dering bel alarm keamanan. Mr Wu sepertinya sudah kembali.
Taehyung terbangun dan menambah keributan. Chanyeol mengangkatnya. Sambil menggendong Taehyung di pinggulnya, ia menuruni tangga. Setidaknya dengan begini ia bisa mengurangi waktu latihannya di gym minggu ini. Naik-turun tangga... tak ada waktu untuk makan...
Chanyeol membuka pintu depan, tapi hanya selebar tujuh sampai sepuluh senti. Sepanjang rantai pintu. Ia mengintip melalui celah itu, bersiap-siap bersikap sopan kalau-kalau pria itu berhenti menganggap dirinya berada di rumah sendiri. Sekalipun ini memang rumahnya.
Tidak ada orang di luar. Chanyeol tidak menyangka Kris menyerah semudah itu. Hal itu malah membuatnya gugup. Tapi ia menutup pintu lalu mencari-cari kertas catatan kecil tempat Sehun menuliskan kode untuk mematikan alarmnya. Kertasnya hilang. Bagus.
Chanyeol memejamkan mata dan berusaha berkonsentrasi, mencoba membayangkan nomor-nomor itu. Lalu suara berisik itu berhenti sama mendadaknya seperti awalnya dan dengan terperanjat Chanyeol membuka matanya lagi. Kris Wu berdiri di sampingnya dan saat pria itu berbalik dari panel kontrol, hal itu terjadi lagi. Chanyeol jadi lupa bernafas lagi. Lupa bernafas pertanda buruk. Kurangnya aliran udara ke otak membuat Chanyeol sulit berpikir, dan saat ia tidak berpikir, penilaiannya pasti tidak bisa diandalkan.
Chanyeol perlu marah, menunjukkan bahwa Kris sudah masuk tanpa...
"Tipuan yang bagus, Ms Park," kata Kris sebelum Chanyeol sempat bersikap seperti tuan rumah yang marah besar. "Tapi tidak ada gunanya memasang rantai di pintu depan kalau kau tidak mengunci pintu belakang."
Kris tidak menunggu reaksi Chanyeol. Tak lama kemudian, menyadari dirinya sudah menganga seperti ikan mas, Chanyeol mengikuti Kris menuruni tangga pendek menuju dapur. Bagaimanapun juga ia bertekad meluapkan kemarahannya pada pria itu. Kris berdiri di bak cuci piring, memenuhi mangkuk besar dengan air dari keran.
"Kau masuk lewat garasi itu," tuding Chanyeol.
"Bukan garasi itu. Garasiku. Dan aku ingin kau memindahkan barang-barang rongsokanmu."
"Itu garasiku," tukas Chanyeol tegas. Ia menahan napas dan memutuskan bahwa bersikap sopan lebih bermanfaat. Dengan begitu ia menjadi orang yang lebih beradab daripada Kris Wu. "Aku punya surat perjanjian sewa. Dan itu bukan barang-barang rongsokan."
Kelihatannya memang seperti barang-barang rongsokan. Chanyeol tergesa-gesa mengepak barang-barangnya dalam kotak apa pun yang bisa ditemukan penjaga pintu Taplow Towers. Ia meletakkannya begitu saja di garasi sampai punya waktu untuk menatanya. Ia tidak mengantisipasi pengacara pemberang yang menuntut tempat parkir untuk mobilnya. Tapi ia tidak mendebat pria itu. Mereka punya segudang alasan untuk bertengkar tanpa harus mengkhawatirkan beberapa kotak kardus.
Setelah semburan kata-katanya tadi, Kris juga kelihatan berusaha keras bersikap sopan karena kemudian Kris menghadapnya sebelum berkata, "Tolong..." awal yang bagus, pikir Chanyeol, "... jangan bersikap keras kepala tentang hal ini."
Keras kepala! Ia tidak keras kepala, ia hanya membela haknya. "Dalam situasi ini, kurasa sikapku sangatlah masuk akal," balas Chanyeol manis.
"Benarkah? Kalau begitu, aku rasa sangatlah masuk akal untuk beranggapan bahwa, kalau mobilku sampai di derek karena parkir di tempat terlarang, kau yang membayar dendanya." Kris melirik arlojinya. "Kau punya 22 menit terhitung dari sekarang."
Semua sel impulsif di tubuh Chanyeol mendesak untuk memberitahu pria itu apa yang bisa dia lakukan dengan 22 menitnya. Chanyeol menahan diri. Ia tidak melakukan hal-hal impulsif lagi sekarang. Setidaknya itulah rencananya. Dibutuhkan usaha yang sangat keras, dan setelah menghitung sampai sepuluh dengan cepat, Chanyeol bertanya dengan kesopanan yang dibuat-buat, "Dan menurutmu apa yang harus kulakukan dengan barang-barangku dalam 22 menit?"
"Itu urusanmu, Ms Park."
"Begitu." Kalau Kris berniat mempermainkannya, dia akan tahu bahwa Chanyeol punya banyak masalah dan dengan sepenuh hati bersedia membaginya. "Jadi kau ingin aku memindahkan kotak-kotak itu sekarang?"
"Kau sudah membuang waktu dua menit."
"Baiklah." Chanyeol mengikat Taehyung di kursi tinggi bayi. Berniat memberinya biskuit, lalu mengurungkan niatnya. Chanyeol tidak mau Taehyung nyaman.
"Akan kuusahakan secepat mungkin," ujar Chanyeol. Ia mengambil tas tangannya dan menaiki tangga menuju pintu depan "Tapi mungkin akan memakan waktu."
Chanyeol sudah mencapai anak tangga ketiga sebelum Kris menghentikannya. "Ms Park!"
"Ya?"
"Tidakkah kau melupakan sesuatu?"
Chanyeol berhenti tanpa menengok. Ia membuka tasnya dan berkata, "Kunci, kartu kredit, ponsel. Tidak, semuanya sudah lengkap." Ia naik selangkah lagi...
"Bayi?" sergah Kris ketus.
"Taehyung?" Chanyeol berbalik. Kris sama sekali tidak kelihatan senang. Pria itu malah terlihat agak pucat dan tegang. Sisi Chanyeol yang impulsif ingin memeluknya, menenangkannya, menyuruhnya pergi tidur dan istirahat. Mengatakan bahwa ia akan langsung pindah dari rumah ini sekarang juga...
Sebaliknya, Chanyeol hanya mengatakan, "Aku tidak bisa memindahkan kotak-kotak itu sekaligus menggendong bayi, Mr Wu. Tapi jangan khawatir, dia tidak menyusahkan, kok." Chanyeol tidak repot-repot menyilangkan harinya waktu mengatakan hal itu. Bagaimanapun juga, itu hanya masalah persepsi dan dalam persepsinya saat ini Taehyung seperti malaikat. "Dan Taehyung sepertinya menyukaimu. Mungkin kau bisa membawanya jalan-jalan nanti..."
Nanti?! Nanti! "Tapi kau tidak bisa meninggalkan dia begitu saja..."
"Setelah kau menyuapinya?" lanjut Chanyeol.
"Menyuapinya?!"
"Aku harus menyimpan barang-barangku di suatu tempat, Mr Wu. Paling-paling hanya satu-dua jam," tambahnya. "Mungkin." Lalu, "Kau tinggal memberinya semangkuk makanan bayi dan membuat sebotol susu... Kau bisa membaca petunjuknya di kaleng. Popoknya ada di lemari di sebelah bak cuci piring. Kau tahu bagaimana cara mengganti popok, kan?"
"Kau serius?"
"Sangat." Chanyeol menatap Kris dan mencoba melawan rasa panas yang seakan-akan membakar tubuhnya hingga meleleh. Itu tidak gampang. "Memangnya kau tidak?"
Kris angkat tangan. "Baiklah. Oke. Aku yang akan memindahkan kotak-kotak itu. Mungkin masih ada tempat di belakang garasi kalau aku menumpuk kotak-kotak itu..."
"Oh, tapi..."
"Apa?"
"Tidak apa-apa." Kris menunggu, tidak bisa dibodohi dan menganggap Chanyeol sudah selesai bicara. "Tolong berhati-hatilah dengan kardus yang berisi barang-barang keramikku..."
"Apa kardus itu bertanda 'Mudah Pecah'?" selidik Kris dengan tatapan berbahaya seperti hampir meledak.
"Sepertinya tidak. Dan aku tidak begitu pandai mengepak barang. Aku agak terburu-buru waktu pindah."
"Kira-kira kenapa ya," sindir Kris, "Padahal kau kan orang yang menyenangkan untuk diajak berbagi rumah?"
Chanyeol tidak mengacuhkannya. "Aku yakin kau mampu mengatasinya. Sebaiknya kau memeriksa tiap kardus untuk memastikan kau tidak menaruh apa pun di atas barang-barang Royalku..."
"Baiklah!" Kris Wu mulai kehilangan kesabaran, pikir Chanyeol. Kesombongannya yang tajam mulai menumpul. "Baiklah." Ulang Kris lebih berhati-hati. "Aku akan menjaga barang-brang keramikmu. Tapi jangan coba-coba memainkan rantai pintu dan alarmnya lagi."
"Aku janji." Ujar Chanyeol.
Mungkin Chanyeol tidak benar-benar meyakinkan. Atau mungkin pengalaman selama bertahun-tahun di ruang pengadilan sudah mengajar Kris untuk mewaspadai siapa pun yang berjanji semudah itu, karena Kris lalu berkata, "Aku yakin kau menyadari bahwa Sehun tidak punya hak legal apa pun untuk menandatangani surat perjanjian sewa atas rumah ini, Ms Park. Aku yakin pengacara yang bertekad kuat bisa saja membuatmu diusir dalam hitungan hari, kalau dia mau mempersulit keadaan."
Chanyeol tidak meragukannya semenit pun. Dan Kris pengacara yang tekadnya sangat kuat. "Aku tidak akan memain-mainkan rantai pintu lagi," Chanyeol sepakat. Kali ini ia bersungguh-sungguh. "Aku bahkan akan membuatkan secangkir teh untukmu karena telah bersedia membantuku." Sebelum kau pergi, tambah Chanyeol dalam hati.
"Terima kasih," ujar Kris. Tatapannya menunjukkan dia bisa membaca pikiran Chanyeol. "Aku akan sangat senang." Kris juga kedengarannya bersungguh-sungguh. Chanyeol baru menyadari bahwa pria itu terlihat betul-betul letih sewaktu kembali menghadap ke bak cuci piring dan mengangkat mangkuk air yang tadi diisinya. Rasa bersalah menghujam Chanyeol. Ini rumah Kris Wu. Yang diinginkan pria itu hanyalah sedikit ketenangan. Tempat untuk berbaring dan tidur. Sama seperti Chanyeol sendiri.
"Mr Wu..."
"Tolong... kurasa kita sudah tidak perlu berbasa-basi seperti itu, Ms Park. Panggil aku Kris..." Kris tidak menunggu Chanyeol menghinanya dengan menolak menuruti permintaannya. Sebaliknya Kris hanya memutar tubuh dan meletakkan mangkuk itu di depan pintu dapur. "Grady, sini, boy." Seekor anjing muncul dari bawah anak tangga pintu belakang dan dengan rakus mulai minum. Anjing yang sangat besar. Besar dan berbulu kusut, tingginya mencapai paha Kris...
Chanyeol membeku.
Aku benci kucing, begitu juga anjingku. Kris pernah mengatakannya saat terkapar di tengah pecahan telur dan genangan susu di lantai dapur. Chanyeol tidak memperhatikannya waktu itu, yah setidaknya tidak secara serius, karena ia mengira Kris pencuri. Tapi ternyata Kris sama sekali bukan pencuri.
Ini rumahnya. Dan itu anjingnya.
Anjing itulah yang didatangi Kris waktu dia bergegas pergi tadi. Pria itu bukan menghubungi iklan mini lokal untuk mencari flat yang bisa disewa. Kris mungkin mempercayai Sehun untuk menjada rumahnya, tapi dia tidak mempercayakan mobil maupun anjingnya kepada keponakannya itu.
Chanyeol sempat terganggu dengan kehadiran Mao. Ia mengira menghadapi Kris Wu sebagai penyewa merupakan masalah yang sangat besar. Ia sudah berencana berusaha sekuat tenaga dengan menaruh harapan besar pada Taehyung untuk membuat Kris tidak betah disini.
Sekarang seluruh kengerian dan situasi saat ini akhirnya menghantam Chanyeol. Ia merintih dan berusaha merapat ke dinding di belakangnya. Ia tidak terlalu suka kucing, tapi ia bisa menoleransi mereka. Tapi anjing... anjing sih lain masalah...
Kris berbalik saat mendengar pekikan tertahan Chanyeol. Saat itu juga ia tahu ia sudah menemukan kelemahan Chanyeol. "Kenapa? Ada masalah apa?" tanya Kris, padahal ia tahu. Tidak perlu jadi orang jenius untuk menyimpulkan bahwa penyewanya itu ketakutan setengah mati pada anjingnya. Kris tahu ia menang.
Dan kalah.
Chanyeol merapat ke dinding, menempel disana, seolah-olah ingin menghilang ke dalamnya. Ia menjerit lemah, menunjukkan perasaannya yang kacau dan menderita. Ini lebih dari sekedar rasa takut. Walaupun kris sangat ingin lepas dari Chanyeol dan bayinya yang mengganggu, ia tidak bisa bersikap sekejam itu.
"Tidak apa-apa," ujar Kris hati-hati, suaranya menenangkan, "Grady tidak akan menyakitimu." Tapi bahkan saat mengucapkan kata-kata itu pun Kris menyadari bahwa Chanyeol tidak bisa diajak bicara. Kris mengangkat mangkuk Grady dan memindahkannya keluar. Anjing itu menengadah, menaikkan alisnya yang berbulu kasar dengan kaget. "Maaf, boy. Pengaturan sementara." Lalu Kris mendorong anjing itu keluar dan menutup pintu.
Chanyeol merosot di dinding, dan sebelum Kris bisa menghentikan dirinya sendiri ia sudah melintasi dapur dan memeluknya. "Ms Park..." Ya Tuhan, betapa konyolnya kata itu, melihat bagaimana Chanyeol gemetar dalam pelukannya, ketika ia bisa merasakan nafas Chanyeol yang panik dan tersengal-sengal di lehernya sendiri, mencium aroma sabun yang menyelimuti kulit wanita itu. "Chanyeol... sudahlah, tidak apa-apa." Chanyeol masih bersandar padanya, gemetar ketakutan. "Kau aman. Sungguh. Dia tidak bisa menyentuhmu. Aku sudah menyuruhnya keluar." Tenggelam dalam ketakutannya sendiri, Chanyeol tidak mendengar Kris terus menggumamkan kata-kata lembut dan menenangkan yang biasa diucapkannya untuk menenangkan anak kecil atau mengendalikan kuda yang gugup.
Kata-katanya tidak penting. Tapi suara dan sentuhannya menimbulkan rasa aman yang dibutuhkan Chanyeol. Kris semakin erat mendekapnya, bibirnya menyapu rambut dan dahi Chanyeol, sambil terus membelai punggungnya dengan kelembutan menentramkan. Kelembutan yang berasal dari suatu tempat yang sudah lama ditinggalkan Kris, suatu tempat jauh dalam dirinya yang telah membeku dan menutup diri dan emosi yang berisiko.
Sepanjang hari Chanyeol terus-menerus memukuli dinding es dalam diri Kris dengan suaranya, senyumnya, dan sekarang dengan kebutuhan wanita itu untuk dipeluk, dilindungi. Jadi ketika akhirnya Chanyeol bergerak, gemetar dalam pelukannya, dan menengadah dengan sepasang matanya yang besar, muram, berkabut... Kris lupa alasannya memeluk wanita itu, melupakan semuanya...
Chanyeol tahu ia sedang mempermalukan dirinya sendiri, ia tahu sangatlah bodoh ketakutan seperti itu, tapi menyadari hal itu tidak ada gunanya. Begini lebih berguna. Dipeluk oleh Kris, mendengar pria itu menggumamkan kata-kata yang menenangkan di telinganya, kelembutan yang manis...
Chanyeol menengadah, mencoba mengendalikan diri, menjelaskan. Tapi menengadah sama sekali tidak menolong. Sepasang mata Kris penuh dengan perhatian, kehangatan, dan bintik-bintik keemasan mendominasi warna abu-abu. Dan bibir pria itu, yang tercipta untuk gairah, juga tercipta untuk kelembutan.
Hening sesaat, saat yang sangat singkat ketika apa pun bisa terjadi.
Lalu Kris menciumnya.
Sudah begitu lama Kris menyingkirkan jauh-jauh kelembutan bibir wanita yang seperti sutra, sentuhan lembut yang dengan mudah bisa berubah menjadi kobaran yang bisa menghanguskan jiwa.
Gula-gula dan brendi, manis dan penuh kekuatan, bibir Chanyeol meniupkan kehidupan dalam diri Kris, menyalakan obor yang membakar darahnya, mencairkan setiap sisa es saat api itu mengalir melalui pembuluh darahnya, memanaskan, dan membangkitkan gairah yang sudah terlalu lama dipendamnya.
Chanyeol lupa kenapa ia takut tadi. Melupakan semua janji yang sudah dibuatnya untuk tidak menanggapi ketertarikan dalam waktu singkat dan bertindak impulsif. Tidak ada apa pun dalam pikirannya kecuali rasa bibir Kris, aroma kulitnya, dan untuk beberapa saat yang penuh kebahagiaan Chanyeol meninggalkan dunia nyata dan membiarkan dirinya terhanyut...
"Chanyeol..." Chanyeol menengadah dan angan-angannya menguap. Ciuman itu seperti dongeng yang sempurna, bernilai sepuluh dalam skala sepuluh tanpa perlu latihan. Wajah Kris mengatakan hal yang berbeda. Dia tampak bingung, putus asa... Yah, dia kan pengacara. Mungkin pria itu mengira Chanyeol berniat menuntutnya.
Saat mulai sadar, Kris memutuskan otaknya pasti sudah kacau. Hanya itu jawabannya, alasan lainnya terlalu mengerikan untuk dipikirkan, sama seperti melongok ke jurang yang dlaam. Tidak ada, tidak ada yang bisa menggodanya menyusuri jalan yang membawanya menuju rasa sakit yang begitu dalam...
"Chanyeol..." Chanyeol menyadari Kris sedang berusaha minta maaf. Bahkan saat ini otak pengacara itu sedang menyusun permintaan maaf yang pantas. Well, sialan dia, Chanyeol tidak akan membiarkan Kris meminta maaf karena sudah menciumnya.
"Kenapa kau melakukannya?" tuntut Chanyeol.
"Kau sedang histeris. Kau membuat bayimu ketakutan." Taehyung, yang bereaksi terhadap suara Chanyeol yang tajam, mulai merengek.
Histeris? Apa tadi ia histeris? Chanyeol memejamkan matanya, mengusap-usap dahinya, dan tubuhnya bergidik. Ya, pasti begitu. Ia benar-benar membuat dirinya tampak bodoh. "Cara yang bagus," ujar Chanyeol, berusaha bergurau.
"Yang pasti cara itu berhasil."
"Tidak sekasar tamparan," Kris mengiyakan, menyamai usaha Chanyeol untuk mencairkan suasana. Dan waktu Chanyeol membuka matanya lagi, ia melihat mata Kris menunjukkan rasa prihatin. Tidak lebih, ia pasti hanya mengkhayalkan rasa panas maupun gairah yang membara tadi.
"Itu gara-gara sh..shock. Aku tidak punya waktu untuk mempersiapkan diri. Aku pasti bisa mengatasinya kalau aku tahu lebih dulu..." Benar-benar konyol. Chanyeol seharusnya berdiri di atas kedua kakinya sendiri, bukannya bersandar pada Kris Wu seperti makhluk malang yang kakinya tidak bertulang. Kalau terus bersikap seperti ini, Kris akan berpikir Chanyeol ingin pria itu menciumnya lagi. "Dia sangat b..besar." Chanyeol merasa dirinya lebih tepat disebut makhluk yang bodoh.
Kris bernafas lega saat bahaya sudah berlalu. Ketika mereka kembali berperan seperti dua orang asing. "Makin besar tubuhnya, makin jinak," ujar Kris.
"Makin besar tubuhnya, makin besar gigi mereka. Anjing jenis apa dia?"
"Grady? Dia wolfhound Irlandia."
"Wolfhound..." ulang Chanyeol lemah.
"Aku minta maaf, Chanyeol. Seharusnya aku memperingatkanmu. Aku lupa Grady cenderung menakutkan waktu pertama kali melihatnya. Dia sebenarnya sejinak domba. Aku janji."
"Mmm. Orang-orang selalu bilang begitu, benar kan? Sebelum anjing mereka yang jinak dan tidak-akan-melukai-seekor-lalat-pun menancapkan giginya di pergelangan kakimu."
Kedengarannya Chanyeol berbicara berdasarkan pengalaman. "Dalam kasus Grady, aku bersumpah menyatakan yang sebenar-benarnya," ujar Kris, berusaha membuat Chanyeol tersenyum lagi.
"Aku lebih senang kalau dia sendiri yang bersumpah, kalau kau tidak keberatan."
"Dengar, umurnya sebelas tahun," ujar Kris, berusaha menenangkan Chanyeol. "Dia mungkin tidak perlu alat bantu untuk berjalan, tapi untuk ukuran anjing, dia sudah termasuk anjing tua." Harusnya Kris membantu Chanyeol duduk. Melakukan sesuaru yang berguna, seperti membuatkan secangkir teh manis hangat, tapi Kris tidak ingin melepaskannya. Chanyeol terasa sangat tepat dalam pelukannya. Wangi tubuhnya juga menyenangkan. Rasanya seperti berjalan di antara perpohonan yang menyegarkan. "Grady anjing istriku..." Kris berhenti. Istriku. Kris tidak ingat kapan terakhir kali ia mengucapkan kata itu. "Jesica memeliharanya sejak Grady masih kecil." Lalu Kris tersenyum. "Well, sejak Grady masih anak anjing. Hadiah Natal."
"Walaupun begitu, dia meninggalkannya bersamamu." Chanyeol mengatakannya seolah-olah hal itu merupakan beban berat. Dan di satu sisi memang terasa berat.
"Kami tidak akan lama." Jesica berdiri di ambang pintu ruang kerja. "Hanya pemeriksaan rutin Sophia ke klinik. Aku tidak bisa membawa Grady, tapi dia akan menemanimu..."
"Sudah berapa lama dia pergi?"
"Apa?" Kris kelihatan seperti berada di tempat yang sangat jauh, pikir Chanyeol. "Oh." Kris memejamkan matanya sejenak. Chanyeol rupanya berpikir ia dan Jesica bercerai dan Kris tidak mau menjelaskan yang sebenarnya.
"Sepuluh tahun. Hampir sepuluh tahun."
Dengan ragu Chanyeol mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Kris, berusaha membawa Kris kembali padanya. "Kau tidak menganggap memelihara anjing itu suatu kesalahan?" Oh Tuhan, Chanyeol tidak percaya ia mengatakan hal itu! Pasti karena kurang tidur, ketakutan... "Lupakan aku mengatakan itu. Kumohon." Chanyeol menjauh sebelum Kris sempat melakukannya. Tapi Kris menangkap tangannya, memegangnya, wajahnya berkerut membentuk senyum yang pasti sering dilakukannya dulu.
"Tidak apa-apa. Lupakan saja. Bisakah kau mencapai kursi itu sekarang?"
"Aku pi..pikir begitu."
Kris tersenyum walaupun Chanyeol sedikit menyinggung perasaannya karena membicarakan anjing Jesica seperti itu. Kris nyaris tidak mempercayainya. Tapi Chanyeol tidak bermaksud menyakiti hatinya, wanita itu baru pulih dari shock, belum bisa berpikir jernih. Dalam hal itu Kris sendiri ikut bersalah, dan kalau ia mengatakan yang sebenarnya dan membiarkan Chanyeol mengetahui dia sudah menyakitinya, wanita itu pasti akan merasa malu dan ngeri oleh ucapannya tadi. Kris bisa melihat Chanyeol sudah cukup merasah bersalah, ia berutang senyuman itu pada Chanyeol dan ia rasa Jesica akan setuju dengan tindakannya ini. "Kemarilah, duduk disini. Aku akan mengambilkan segelas brendi."
"Tidak. Tidak, aku tidak..."
"Tidak minum?"
"Tidak suka brendi." Chanyeol hampir tidak berani menatap Kris, takut kalau senyum itu bukanlah senyum, melainkan seringai meremehkan. Sebaliknya Chanyeol melihat ke pintu. "Dia tidak bisa masuk, kan?"
"Tidak kecuali dia belajar menggunakan pegangan pintu waktu aku pergi." Kemudian, karena bersikap acuh tak acuh tidak akan membantu, Kris berjongkok dan menengadah menatap wajah Chanyeol. "Kau takut pada semua anjing atau hanya yang besar?"
"Umm... semua an..anjing." mengucapkannya saja sudah cukup buruk. "Walaupun mungkin yang kecil itu yang paling mengerikan. Sebagian kecil." Kaki chanyeol berkedut, seakan mengenang rasa sakit, dan ia mengulurkan tangannya ke bawah, mengusap bekas luka lama yang terletak di atas tulang pergelangan kakinya.
Anjing terrier, pikir Kris, jenis yang suka menancapkan giginya dan tidak akan melepaskan gigitannya. "Ya, aku mengerti. Well, aku janji padamu bahwa Grady tidak menggigit. Tapi aku akan mengunci pintu belakang sebelum aku pergi."
"Pergi?" Kris menyadari bahwa Chanyeol yang merasa malu akibat ciuman tadi yang mereka berdua tahu bukan gara-gara histeris serta kelancangan kata-katanya, sedari tadi mengelak untuk menatapnya. Saat Kris mengatakan akan pergi, Chanyeol langsung menengadah. "Pergi kemana?"
Ya Tuhan, sangatlah mudah untuk mengusir Chanyeol keluar, pikirnya. Biarkan Grady masuk, tuliskan selembar cek, dan Chanyeol sudah pasti masuk taksi sebelum petugas parkir datang menyuruh Kris segera memindahkan mobilnya. Tapi betapa pun Kris menginginkan Chanyeol pergi, ia tidak bisa mengusirnya seperti itu. "Memindahkan kardus-kardusmu dan memindahkan mobilku dari jalan sebelum diderek." Kris meluruskan tubuhnya, melintasi ruangan menuju pintu, dan memutar kuncinya. Untuk sementara Grady akan cukup senang berbaring di bawah kursi kebun. "Nah, sudah terkunci." Lalu, berjaga-jaga seandainya semua ini hanya sandiwara, karena dengan pintu belakang terkunci dan rantainya terpasang di pintu depan Kris tidak akan bisa masuk lagi, Kris mengantongi kuncinya. Seorang wanita akan melakukan apa pun utnuk melindungi anaknya. Apa pun.
Chanyeol masih kelihatan tidak senang. "Aku akan melakukannya secepat yang aku bisa," tambah Kris.
Chanyeol tidak berusaha mengingatkan Kris untuk berhati-hati dengan barang-barang keramiknya. Kris tidak berusaha mengingatkan Chanyeol untuk memasang rantai. Kris menduga Chanyeol tidak akan beranjak dari kursi itu dalam waktu singkat.
Taehyung, yang sudah kesal karena tidak diperhatikan, akhirnya berhenti terisak pelan dan menangis sekeras-kerasnya.
"Oh, sayang, kau lapar, ya? Maafkan aku!"
Kris memperhatikan saat Chanyeol melupakan rasa takutnya dan melintasi dapur untuk mencium bayi yang sangat disayanginya, melepas ikatan kursi supaya bisa mengangkat Taehyung, dan memberinya perhatian penuh. Pemandangan ibu beresama anaknya itu mendorong Kris keluar dari dapur untuk menumpahkan perasaannya pada barang-barang yang berserakan di garasi.
Kris mengisi dan memindahkan kardus-kardus sambil berpikir tentang Chanyeol serta bayinya. Chanyeol tidak mengenakan cincin, hampir dipastikan tidak menikah. Jadi apa yang terjadi pada ayah Taehyung? Apa mereka masih terus berhubungan?
Dan memangnya kenapa dia peduli? Satu ciuman tidak berarti apa-apa. "Tidak ada artinya," ujar Kris keras-keras untuk mempertegas maksudnya. Chanyeol adalah masalah rumit yang tidak bisa ditanganinya. Bayinya hanya semakin memperumit keadaan. Wanita itu harus pergi.
.
Chanyeol masih gemetar saat Taehyung sudah menghabiskan sebotol makanan bayi. Botol itu dikirim Baekhyun beserta instruksi panjang lebar tentang bagaimana dan kapan Taehyung harus memakannya. Tapi apakah anjingnya ataukah tuannya yang menyebabakan tubuh Chanyeol gemetar, sulit untuk dikatakan.
Anjing yang pernah menyerang Chnayeol waktu kecil dulu meninggalkan bekas luka samar di kakinya, tanpa luka permanen. Hanya bekas yang hilang seiring waktu. Luka itu masih bisa ditanggungnya. Jongin menyisakan luka emosional. Apakah rekasinya terhadap Kris Wu, bagaimana ia menanggapi ciuman pria itu tadi, menandakan bahwa luka emosional itu juga sudah mulai memudar? Hanya bagian dari proses belajar? Atau itu hanya peringatan bahwa dirinya belum belajar apa pun?
Histeris? Apakah tadi ia benar-benar histeris? "bagaimana menurutmu, sayang?" tanya Chanyeol pada Taehyung, menggunakan suara lembut yang digunakan kakak iparnya yang pintar saat sedang mersa bahagia bersama bayinya. Tadinya Chanyeol tidak mengerti, bagaimanapun juga taehyung sudah mengubahnya, karena tiba-tiba semuanya jadi masuk akal. Taehyung kelihatannya menyukainya, karena dia balas tersenyum. Chanyeol membersihkan wajah Taehyung dan mengangkatnya dari kursinya. "Oh, kau kira ini lucu, ya?" Chanyeol menggelitiknya dan Taehyung tertawa.
Saat itulah Chanyeol menyadari kenapa Taehyung sangat bahagia. "Taehyung! Sayang! Gigimu sudah tumbuh satu! Oh, syukurlah!" Chanyeol berbalik saat Kris Wu meletakkan sebuah kotak di atas meja dapur.
"Yang satu ini," ujar Kris dengan suara yang menunjukkan bahwa Chanyeol tidak memiliki alasan untuk tersenyum, "Tidak muat."
"Benarkah? Oh, well, mungkin itu bisa ditaruh di atas, dalam kamar penuh kotak itu bersama barang-barang bekas lainnya." Kemudian, karena Chanyeol tiba-tiba merasa puas dengan hidup, dengan dirinya, dengan Taehyung dan tak ada orang lain yang bisa diajaknya berbagi berita itu, Chanyeol berkata, "Dia mendapat gigi pertamanya! Lihat!"
Kris tidak terkesan, dia tetap menjaga jarak, bergeming untuk melihat keajaiban kecil ini. "Tidakkah seharusnya kau berbagi peristiwa sekali seumur hidup ini dengan ayah Taehyung?" tanya Kris.
Wajah Chanyeol memerah kesal saat ia menyadari kata-katanya bisa menjadi perangkap bagi dirinya sendiri. "Ayahnya?" ulangnya, berusaha mengulur waktu. "Dia punya ayah, kan?"
"Tentu saja dia punya ayah." Chanyeol tahu ia tidak bisa terus berpura-pura. Baekhyun dan Luhan akan kembali dalam satu atau dua hari lagi. Chanyeol tidak suka harus berbohong pada Kris dengan tidak menceritakan yang sebenarnya, dan hampir tergoda untuk berterus terang dan bertekuk lutut memohon belas kasihan Kris. Dulu itu tidak berhasil dengan Kim Heechil dari Residents Association Taplow Towers. Tapi Chanyeol menduga mereka memang sedang menimbang-nimbang kembali keputusan untuk mengizinkannya menyewa apartemen di tempat kediaman mereka yang terhormat. Chanyeol berusaha kelihatan setua mungkin saat wawancara, tapi ia tetap saja lupa. Mereka mungkin lega karena punya alasan untuk mengusirnya...
"Kris..."
"Kalau dia anakku, aku pasti ingin tahu," sela Kris. "Aku tidak akan melepaskannya dari pandanganku." Kata-kata Kris itu terdengar penuh perasaan dan ada kesuraman dalam matanya yang membuat Chanyeol berpikir lagi ada hasrat yang terpendam disana. Apakah Kris punya anak laki-laki? Istrinya mempersulit Kris menemui anaknya? Meninggalkan anjing itu, membawa anak mereka. Kris tidak menunggu Chanyeol bicara, melainkan langsung mengangkat kotak itu. "Aku akan membawa ini ke atas," sergahnya kasar.
"Terima kasih." Chanyeol berbalik, mengangkat botol taehyung untuk memeriksa temperaturnya. Kemudian, saat Taehyung menyedot susunya dengan lapar, terpikir oleh Chanyeol bahwa 'teman barunya' itu pasti lapar juga. "Kau mau kubuatkan sandwich atau sesuatu?" tawarnya. Kata-kata 'sebelum kau pergi' yang tak terucapkan sekali lagi menggantung di antara mereka.
.
.
.
.
.
TBC...
.
Ia merasa hangat dan nyaman dan merasa sedang berbaring dalam kehangatan payudara wanita yang nyaman...
Payudara wanita.
