BABY ON LOAN
(Remake by Liz Fielding)
.
.
.
Main Cast :
Park Chanyeol (GS) & Kris Wu
.
Other Cast :
Park Luhan & Byun Baekhyun (GS)
Oh Sehun (GS)
Do Kyungsoo (GS)
Kin Jongin
Baby! Park Taehyung
Zhang Yixing (GS)
Jesica Jung
Etc.
.
Genre:
Tentukan sendiri ^^
.
Rate:
Tentukan sendiri ^^
.
.
MAAF TYPO! SELAMAT MEMBACA... ^^
.
Preview
"Kalau dia anakku, aku pasti ingin tahu," sela Kris. "Aku tidak akan melepaskannya dari pandanganku." Kata-kata Kris itu terdengar penuh perasaan dan ada kesuraman dalam matanya yang membuat Chanyeol berpikir lagi ada hasrat yang terpendam disana. Apakah Kris punya anak laki-laki? Istrinya mempersulit Kris menemui anaknya? Meninggalkan anjing itu, membawa anak mereka. Kris tidak menunggu Chanyeol bicara, melainkan langsung mengangkat kotak itu. "Aku akan membawa ini ke atas," sergahnya kasar.
"Terima kasih." Chanyeol berbalik, mengangkat botol taehyung untuk memeriksa temperaturnya. Kemudian, saat Taehyung menyedot susunya dengan lapar, terpikir oleh Chanyeol bahwa 'teman barunya' itu pasti lapar juga. "Kau mau kubuatkan sandwich atau sesuatu?" tawarnya. Kata-kata 'sebelum kau pergi' yang tak terucapkan sekali lagi menggantung di antara mereka...
.
Chapter 5
.
Kris menimbang-nimbang beberapa saat. Ia mengangguk dan berkata, "Terima kasih. Kau baik sekali."
Chanyeol mendengar sedikit nada tajam dalam suaranya, menunjukkan Kris tahu Chanyeol tidak bersungguh-sungguh. Itu tidak sepenuhnya benar, tapi mungkin lebih bijaksana untuk membiarkan Kris berpikir begitu.
"Bukan masalah kok. Lagi pula aku berniat membuat sandwich untukku sendiri," Chanyeol meyakinkannya. Ia tidak ingin Kris berpikir ia mau bersusah payah untuk membuat Kris merasa betah. "Ada permintaan khusus?"
Kris langsung menyesali nada tajamnya tadi, ia tidak tahu situasi apa yang dialami Chanyeol. Ia tidak berhak menghakiminya. Chanyeol mungkin ada di rumahnya, tapi wanita itu sama sekali tidak berniat mempersulit hidupnya, Sehun lah yang harus disalakan. Kris mengangkat bahu. "Apa saja asal bukan ikan tumbuk atau daging ayam cincang," ujar Kris.
Chanyeol menatapnya sesaat. Apa Kris bermaksud menyindir? Mata pria itu sedikit berkerut dan ujung bibirnya sedikit terangkat seolah menahan tawa. Atau bercanda?
Sebelum Chanyeol sempat memahaminya, Kris sudah setengah jalan menaiki tangga.
Mungkin lebih baik begitu, pikir Chanyeol agak jengkel, kemudian berkonsentrasi mengganti popok Taehyung. Ia berusaha keras menjauhkan Kris Wu dan sepasang mata kelabu dengan bintik-bintik keemasan yang sangat mengganggu itu dari pikirannya. Banyak pekerjaan yang membuatnya sibuk. Pertama-tama sederetan orang yang harus diteleponnya, klien-klien potensial yang tidak akan mau dibiarkan terus menunggu.
Dan sekarang Chanyeol malah berjanji membuatkan makan siang untuk tuan rumahnya yang kelihatannya berusaha menarik diri. Kapan aku belajar menutup mulut? Pikir Chanyeol.
Chanyeol membuat setumpuk sandwich keju. Ia menaruh beberapa di piring untuk dirinya sendiri, lalu menutupi sisanya. Lalu sambil menggendong Taehyung di pinggulnya, ia menaiki tangga.
"Mr Wu?" pria itu minta dipanggil Kris saja, tapi Chanyeol merasa semuanya akan lebih sederhana kalau mereka tetap mempertahankan sikap formal. Cara Kris Wu memeluknya saat ia ketakutan akibat anjing itu, bagaimana perasaannya saat pria itu memeluknya, sudah meyakinkan Chanyeol akan kerumitan yang bisa terjadi.
Memangnya sejak kapan Kris menemukan bahwa untuk mengatasi histeria, ciuman lebih manjur dibanding tamparan? Bukannya Chanyeol mengeluh. Ia bersedia menerima ciuman itu kapan pun, kalau pria itu yang mencium...
Chanyeol terdiam. Itulah sebabnya kenapa semua ini begitu rumit.
Kris Wu meninggalkan kardus-kardus Chanyeol di ruang belajar dan bukannya di gudang, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan pria itu. Chanyeol meletakkan piring dan mencari pria itu. "Mr Wu?" panggilnya.
"Sandwichmu ada di..." Chanyeol berhenti di ambang pintu kamar tidur. Kris Wu berbaring di tempat tidur Chanyeol. Atau apakah itu tempat tidur Kris? Bukankah pemilik lebih berhak atas benda yang tengah dipersengketakan? Kalau benar begitu, Kris sudah mendapatkan tempat tidurnya, karena pria itu telentang di atasnya dan tampaknya tidur nyenyak. "Dapur," lanjut Chanyeol sambil mendesah.
Chanyeol meletakkan Taehyung di tempat tidurnya, memutar kotak musik kecilnya yang memainkan lagu nina bobo, dan berdiri di samping Taehyung. Ia membelai pipi keponakannya itu, berusaha tidak mengacuhkan pria yang berbaring di tempat tidur di belakangnya. Bayi yang malang. Mungkin sekarang setelah giginya sudah tumbuh, Taehyung tidak terlalu rewel lagi.
Chanyeol menyelimuti Taehyung dan dengan enggan berbalik dari Taehyung ke arah pria yang tertidur itu. Di balik tekadnya untuk mengenyahkan pria itu dari hidupnya, Chanyeol tidak bisa marah. Kris pasti benar-benar kelelahan, hal yang membuat Chanyeol bersimpati.
Keninginan untuk berbaring di samping Kris dan ikut menikmati tidur siang sangat sulit untuk ditolaknya.
Tapi apakah tempat tidurnya atau pria yang berbaring disana yang sangat menggoda Chanyeol? Bagi seseorang yang sudah pernah dikhianati pria, yang tahu betapa kecil arti sebuah ciuman, menentukan hal itu seharusnya mudah. Sebaliknya, ledakan tiba-tiba dari perasaan tertekan yang ditimbulkan Kris Wu mendidih ke permukaan. Ledakan itu mengubah apa yang seharusnya menjadi keputusan yang mudah, sesuatu yang tidak perlu pertimbangan sama sekali, menjadi pertanyaan dengan banyak pilihan.
Sambil menahan diri untuk tidak menguap dan mengabaikan godaan tempat tidur atau pria diatasnya, Chanyeol memutuskan mengambil pilihan yang mudah dan pergi. Sambil berbalik menjauh, ia berjingkat-jingkat menuju pintu.
Taehyung rupanya tidak terima. Segera setelah Chanyeol menghilang dari pandangannya, dia mulai merengek sedih.
"Shh," bisik Chanyeol. "Biarkan pria malang itu tidur." Rengekan Taehyung makin menjadi-jadi. Sialan! Kalau saja Kris memberi peringatan sebelumnya bahwa dia mau tidur, Chanyeol pasti sudah memindahkan tempat tidur bayi ke ruang kerja. Tapi, mungkin Kris tidak berniat tidur. Seandainya iya, maka pria itu tidak akan mengatakan 'ya' saat ditawari sandwich. Dia pasti akan melepaskan lebih dari sekedar sepatunya dan menyelinap ke bawah selimut.
Ada sekotak obat penghilang rasa sakit di samping tempat tidur, mungkin obat-obatan yang diberikan untuk pria itu sewaktu di rumah sakit. Mungkin dia sudah menelan dua pil dan itulah yang membuatnya tertidur. Ditambah jetlag dan kejadian selama 24 jam yang dialaminya, tidak perlu banyak obat untuk bisa membuatnya tidur. Kris mungkin akan tidur sampai pagi.
Chanyeol perlahan-lahan duduk di ujung tempat tidur dan memutar ulang lagu ninabobo tadi. Setelah dua hari yang melelahkan, tidur sampai pagi kedengarannya enak. Chanyeol terpaksa menahan diri untuk tidak menguap lebar-lebar saat lagu sayup-sayup yang menghinoptis itu mulai membuainya.
Chanyeol melompat berdiri. Ia tidak punya waktu untuk tidur, banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Taehyung langsung mulai merengek lagi. Chanyeol berdiri mematung, terombang ambing antara tempat tidur bayi dan pintu.
"Chanyeol, kalau kau duduk diam di tempat dia bisa melihatmu, dia pasti akan tidur."
Chanyeol memutar tubuhnya. Kris tidak kelihatn berbeda. Matanya masih tertutup dan dia tidak bergerak. "Kukira kau sedang tidur."
"Begitu juga aku." Alunan pertama dari lagu ninabobo itu merasuk dalam otaknya seperti palu. "Kombinasi dari kotak musik, bayi itu, dan kau yang melompat naik turun seperti mainan jack in the box memaksaku bangun."
"Maaf. Aku akan memindahkan tempat tidur bayinya..."
Mata Kris yang tampak berat hanya terbuka setengah. Chanyeol kelihatan kelelahan, dan mengingat malam yang dilaluinya, itu tidak mengejutkan. "Kau tidak akan memindahkan tempat tidurnya," tukas Kris tegas. "Kau akan berbaring dan diam selama sepuluh menit penuh. Saat itu Taehyung dan aku pasti sudah terlelap." Kalau beruntung Chanyeol juga akan tertidur. "Setelah itu kau bisa segera keluar dan melakukan apa pun yang sepertinya begitu penting."
"Kau tidak mengerti."
Tidak ada tunjangan finansial, pikir Kris. Chanyeol harus mencukupi hidupnya sendiri dan itu pasti sangat berat. Tapi wanita itu juga perlu istirahat. "Sepuluh menit tidak akan membuat banyak perbedaan. Bagaimana jika itu bisa membuat Taehyung lebih cepat?" Kris membiarkan Chanyeol memilih pilihan yang masuk akal. Wanita itu tidak mengecewakannya.
"Mungkin kau benar."
"Aku selalu benar," ujarnya saat Chanyeol membaringkan tubuhnya dengan ragu-ragu ke tempat tidur. Taehyung, yang tanpa menjadi kaki tangan Kris, mengawasi setiap gerakan bibinya, siap menangis bila Chanyeol menghilang. "Lepaskan sepatumu dan naikkan kakimu. Anak itu sangat pintar, kau tidak bisa menipunya dengan setengah berbaring begitu."
"Mr Wu."
"Kris." Matanya tetap mengawasi langit-langit. "Lebih baik kita tidak memanggil secara formal kalau kita akan berbagi tempat tidur, bukankah begitu, Chanyeol?"
"Kita tidak berbagi tempat tidur!" Kris hanya menepuk ruang di sebelahnya. "Kris kupikir ini tidak..."
"Jangan. Berpikir. Setidaknya jangan keras-keras. Berbaringlah dan diam. Tolong." Kris lalu memejamkan matanya untuk meyakinkan Chanyeol. Rasa kantuk yang tadi perlahan-lahan menguasainya dan diusahakan untuk dihilangkan, sekarang harus dibiarkannya. Sekarang kegelapan merangkak sedikit demi sedikit di mata Chanyeol.
Selain merasa bersalah karena sudah mengganggu Kris, Chanyeol juga merasa agak bodoh karena begitu cemas untuk berbaring di samping pria yang hanya memiliki satu keinginan yaitu 'Tidur'. Ia menendang lepas sepatunya dan berbaring di samping Kris. Mereka tidak bersentuhan, tapi Chanyeol sangat menyadari kehangatan tubuh yang tegap dan maskulin yang jaraknya hanya sejauh uluran tangan. Ia dapat mencium aroma kulit Kris bercampur aroma seprai yang baru dicuci.
Lagu ninabobo itu perlahan-lahan berhenti. Taehyung menggunakan sendiri lagu pengantar tidurnya. Tidak akan sampai sepuluh menit. Lima menit saja sudah lebih dari cukup, lalu Chanyeol akan bangun dan meninggalkan mereka berdua tidur. Ia merasa tenang, tenggelam dalam aroma lavender kain linen dan memejamkan matanya.
Kris, yang berbaring diam di samping Chanyeol, tersenyum mendengarkan nafas wanita itu yang mulai berirama lembut. Ia menyadari bahwa dengan latihan, lebih mudah mengendalikan wanita itu.
Kris bergerak, berusaha membuka matanya yang berat, mencoba mengingat dimana dirinya berada, dan memisahkan mimpi dan kenyataan. Ia mengulur-ulur waktu. Ia merasa hangat dan nyaman dan merasa sedang berbaring dalam kehangatan payudara wanita yang nyaman... 'Payudara wanita'.
Dari balik kabut akibat obat penghilang rasa sakit yang mengaburkan ingatannya, Kris tahu itu salah. Tak ada kenyamanan. Tidak disini, tidak dimanapun.
Tapi payudara tempat kepalanya bersandar sangat lembut dan manis seperti yang senantiasa menghantui mimpinya. Dan jauh lebih hangat. Ia harus bergerak, memisahkan kenyataan dan khayalan, meskipun sebenarnya ia lebih senang tetap berada di tempatnya sekarang. Kris menepis rambut yang menyangkut di bulu matanya, rambut sungguhan yang terasa seperti sutra di jarinya. Ia berjuang membangunkan otaknya yang masih mengantuk. Tentunya tidak ada mimpi yang senyata itu, kan? Dan kali ini ketika matanya terbuka, ia tidak memejamkannya lagi.
Chanyeol.
Wanita itu tidak kelihatan seperti mimpi, tapi t-shirt dan celana baggynya tidak bisa menipu Kris. Ia tahu apa yang tersembunyi di balik pakaian itu. Dan wajah itu tersenyum begitu natural. Chanyeol harus berusaha sangat keras untuk kelihatan marah, saat dia benar-benar marah sekalipun. Bahkan dalam tidurpun bibirnya sedikit membuka, memperlihatkan giginya sekilas, seolah-olah mengundang Kris untuk menciumnya.
Saat itu Kris tahu persis bagaimana perasaan pangeran sewaktu menemukan Putri Tidur. Dan untuk sesaat, sekejap, ia menyerah pada godaan itu, bibirnya menyapu bibir Chanyeol yang lembut. Seandainya ia percaya pada keajaiban, pada dongeng, ia sendiri yang akan terbangun dari kutukan... Janji itu sudah ada di sana semenjak ia menarik pergelangan kaki Chanyeol dan dikonfirmasi dari jarak dekat oleh sepasang mata berwarna biru jernih yang terperanjat.
Kris mengira dirinya sudah mendapat masalah saat berjalan ke kamar mandi dan menemukan Chanyeol tertidur dalam bath tub. Kris baru menyadari bahwa saat itu sama sekali tidak bisa dianggap masalah, ketika Chanyeol bergerak, menggerakkan kepalanya, dan makin merapat. Lalu Chanyeol, yang kelihatannya mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres, langsung terdiam. Matanya terbuka, belum sepenuhnya sadar, tapi hampir sadar. Ini baru masalah.
Sesaat tidak ada yang terjadi. Dalam keremangan cahaya, dengan bingung Chanyeol memisahkan bayangan yang dilihatnya dengan apa yang ia pikir dilihatnya. Keningnya berkerut. "Jongin?" gumam Chanyeol setengah mengantuk.
Jongin? Rasa cemburu yang tak terduga menusuk Kris. "Siapa Jongin?" tanyanya, kata-kata itu terlontar sebelum ia sempat mencegahnya.
"Apa?" Chanyeol mengerjap, masih setengah mengantuk.
"Apakah dia ayah Taehyung?"
Chanyeol merasa kacau. Tidur siang mengaburkan pikirannya, membuatnya tak siap untuk apa pun... Lalu kesadaran menghantamnya seperti baru saja mencium minyak angin, menjernihkan otaknya, membuatnya sadar di mana ia berada dan dengan siapa ia sudah berbagi tempat tidur. Dan Chanyeol pun mengerang. "Oh, tidak. Aku tidak percaya. Aku ketiduran."
"Kau membutuhkannya."
Dan bukan hanya di sebelah Kris, tampaknya ia malah menghambur ke dalam pelukan pria itu. Ini mulai jadi kebiasaan. Pertama di lantai dapur, kemudian gara-gara anjing itu... Apa yang bisa dikatakannya? Apa anggapan Kris?
"Kita harus berhenti bertemu seperti ini," ujar Chanyeol. Ia perlu bergerak. Benar-benar bergerak. Ia memerintahkan otaknya, tapi mungkin otaknya masih tidur karena tak ada yang terjadi. "Aku harus bangun," ujarnya, hanya untuk membuktikan bahwa ia bersungguh-sungguh.
"Jangan khawatir, Taehyung masih tidur."
Jangan khawatir... "Jangan khawatir!" ulang Chanyeol. Lalu terdiam. Secara logis, ia tahu Kris benar. Tak ada yang perlu dikhawatirkannya. Mereka berdua berpakaian lengkap. Tidak ada yang terjadi. Mereka hanya bergelung seperti yang biasa dilakukan orang...
Logika, pikir Chanyeol, sulit menang melawan pelukan menyeluruh dari pria seperti Kris Wu. Tubuh tinggi, wajah tampan pria dewasa, ditambah kerutan-kerutan wajah yang hanya diperoleh dari pengalaman hidup dan tingkat kematangan.
Dari dekat, dengan sinar matahari samar yang masuk dari ruang depan, Chanyeol bisa melihat pelipis Kris sudah ditumbuhi beberapa helai uban (jangan anggap Kris tua, uban itu akibat tekanan hidup ^^). Ia mengagumi hidung tirus seperti paruh burung elang itu, struktur tulang yang pasti disukai kamera. Ketampanan yang semakin matang seiring bertambahnya usia. Chanyeol yakin Kris pria yang dikagumi ditengah pengadilan kriminal. Mungkin itu sebabnya istri Kris mengakhiri pernikahan mereka dan cepat-cepat pergi, sayang dia tidak membawa anjingnya bersamanya.
"Siapa Jongin?" ualng Kris.
"Apa?" Chanyeol tidak ingin membahas pria itu. "Bukan siapa-siapa. Pria yang pernah tinggal bersamaku untuk beberapa waktu... Aku harus bangun," ujarnya. Kris memegang paha Chanyeol dan tangan pria itu bergerak perlahan, memperkuat pegangannya. "Sungguh," ujar Chanyeol lagi, maksud hati ingin terdengar tegas, tapi sama sekali tidak meyakinkan.
"Seharusnya kau mengambil setiap kesempatan yang kau punya untuk tidur, Chanyeol. Saat kau memiliki bayi, pekerjaan harus dikesampingkan dulu."
"Mudah saja kau bilang begitu. Aku harus menghidupi diriku sendiri."
"Aku mengerti." Jongin sepertinya pria pecundang yang tidak turut membiayai perawatan anaknya. Ataupun Chanyeol. Fakta yang membuat Kris senang, walaupun itu berat untuk Chanyeol.
"Aku meragukannya. Tapi kau benar, aku memang butuh tidur. Tapi sekarang..." sekarang wajahnya terbenam di leher Kris. Chanyeol bisa merasakan denyut nadi Kris di pipinya, bahkan janggut pria itu yang samar-samar menusuk dahinya, serta lengan Kris yang memeluk erat pinggulnya, mendekap Chanyeol di sisinya. Chanyeol tergoda untuk melupakan pekerjaan, memejamkan mata dan tetap tinggal di tempatnya sekarang. Chanyeol melihat Kris punya bekas luka kecil di dagunya. Luka itu sudah lama. Luhan punya luka persis seperti itu yang didapatkannya gara-gara bermain rugby waktu sekolah dulu. Apakah Kris dulu juga pemain rugby?
Apa Kris sudah tertidur lagi? Matanya terpejam. Mungkin seharusnya ia tidak menganggu pria itu, melainkan hanya berbaring diam di situ sampai Taehyung bangun, mungkin ia sendiri bisa mencuri waktu beberapa menit untuk tidur.
Tapi sulit untuk tidur lagi ketika dalam benaknya, pikiran Chanyeol bekerja ekstra keras, kenangan-kenangan bermunculan, hormon-hormon yang telah ditahannya terlalu lama mulai melompat-lompat, dan mengusik hasrat memiliki yang sudah dikuburnya dalam-dalam. Taehyung, Taehyung yang manis, menyelamatkan Chanyeol dengan rengekannya.
"Memang terlalu indah untuk bertahan lama." Kris memindahkan lengannya, membiarkan Chanyeol pergi, mengawasinya saat wanita itu menurunkan t-shirt nya yang kusut, menggendong bayinya yang berharga. Bayi Jongin. Bagaimana pria itu bisa tidak peduli...?
"Kau sadar tidak, bahwa ada makanan bayi di rambutmu?" tanya Kris.
"Oh, terima kasih banyak. Aku benar-benar perlu tahu itu."
"Sama-sama," ujar Kris sambil melompat turun dari tempat tidur. Mungkin berjalan-jalan menghirup udara segar bisa menjernihkan kepalanya dan membuat otaknya bekerja secara efisien seperti biasa. Seandainya ia tetap tinggal disini, satu-satunya hal yang kan bekerja secara efisien sudah pasti tidak ada hubungannya dengan otaknya. "Aku akan mengajak Grady jalan-jalan keluar," ujar Kris dari ambang pintu. "Apa kau akan memasak malam ini, atau aku perlu membawakan sesuatu waktu kembali nanti?"
"Masak?" Maksudnya untuk Chanyeol sendiri, dan Kris bermaksud mengatakan, ada yang bisa kubawakan untukmu? Tapi Chanyeol jelas-jelas salah mengerti karena wajahnya, yang beberapa saat sebelumnya hanya sedikit jengkel, mulai mengernyit, dan Kris melihat ada lebih dari satu cara untuk mengusir penyewa yang tak diinginkannya itu dan lebih cepat lebih baik, bagi mereka berdua.
"Bukankah itu alasan mengapa banyak pria ingin berbagi dengan wanita? Wanita kan benar-benar orang rumahan. Di rumah, bekerja di dapur," tambah Kris, berniat semakin memancing kemarahan Chanyeol.
"Kalau begitu kau harus mencari wanita yang bisa memasak dan berharap dia mengundangmu makan malam," Chanyeol meneriakinya saat ia berjalan ke tangga. Taehyung memutuskan ikut meramaikan suasana.
.
"Well, boy," ujar Kris saat Grady melompat berdiri, dengan gembira menyambutnya waktu ia berjalan melewati kebun menuju garasi, "Ternyata gampang sekali." Jadi kenapa ia tidak merasa lebih senang?
Chanyeol memerciki wajahnya dengan air dingin, lalu memandang bayangannya di cermin. Kris persis seperti Jongin suka memanfaatkan. Pria itu tidak bisa mengusirnya, jadi dia memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.
Cermin menunjukkan bahwa, selain makanan bayi yang melekat di rambutnya seperti semen, ada noda biskuit bayi di t-shirt nya. Tak ada sisa-sisa lipstik yang bisa memperbaiki penampilannya. Meskipun sebenarnya bibirnya tidak memerlukan lipstik itu. Bibirnya kelihatan penuh dan panas, seolah-olah minta dicium. Seperti baru dicium... Chanyeol masih bisa merasakan nafas Kris di pipinya. Ketika Chanyeol menyentuh bibirnya dengan ujung jarinya, ia seakan bisa merasakan kesan sekejap yang ditinggalkan bibir Kris.
Chanyeol menjatuhkan tangannya. Memangnya ia pikir dirinya ini siapa? Putri Tidur? Bahkan seandainya ia benar-benar putri tidur, Kris tidak akan menciumnya. Dia kan pengacara. Dia tidak akan bertindak sebodoh itu. Dua kali. Benar, kan?
Bagian dirinya yang berkhianat agak berharap Kris melakukannya. Itu sebabnya Chanyeol membutuhkan ruang bernafas sebelum melihat pria itu lagi dan bukannya pergi ke bawah, ia berbelok di bordes menuju ruang belajar dan menyalakan telepon selulernya.
Lega rasanya mendapati banyak pesan yang menuntut perhatiannya segera. Chanyeol menurunkan Taehyung di lantai dan saat Taehyung dengan gembira mengunyah ujung celana panjang bibinya, Chanyeol membalas telepon-telepon dan membuat kesepakatan yang ia harap bisa dipenuhinya. Lalu ia menelepon Luhan dan Baekhyun.
"Aku harap kalian sedang bersenang-senang, " ujar Chanyeol waktu diminta meninggalkan pesan. "Harus ada yang melakukannya. Omong-omong, gigi Taehyung sudah tumbuh."
Sedangkan di tempat lain...
"Satu gigi! Dia mendapatkan gigi pertamanya dan aku tidak ada disana!" Baekhyun bergelung pada Luhan menangis di bahunya. Setelah mendengar pesan yang ditinggalkan Chanyeol.
"Shh. Jangan bersedih. Sayang, dia akan punya banyak gigi lagi."
"Tapi bukan yang pertama!"
"Aku tahu, tapi... mmm.. ini idemu ingat?"
"Aku ingat. Dan kurasa memang layak untuk dilakukan, kalau bisa membuat Chanyeol keluar dari apartemen yang mengerikan itu." Baekhyun mendengus. "Dia terdengar benar-benar muak, bukan?"
"Well, itu pertanda baik."
"Benarkah?"
"Apa kau akan bahagia kalau baru saja diusir dari rumahmu?"
Kembali ke Chanyeol...
Setelah menelepon ke sana sini, Chanyeol mengalihkan pikirannya pada makan malam. Mr Wu ingin orang rumahan, begitu?
Pulang dari lari sorenya, lalu mandi, dan menemukan wanita mungil yang sedang sibuk bekerja di depan kompor panas. Teruslah bermimpi. Chanyeol tidak pernah bisa membuat kue yang mengembang atau kentang yang gurih, setidaknya tidak pada waktu bersamaan untuk bisa dihidangkan bersama masakan-masakan lain yang dimasaknya. Seandainya ia hampir sejago koki internasional pun. Chanyeol tidak sudi mendemonstrasikan keahliannya pada Kris.
Makin tidak nyaman pria itu, makin cepat dia menyadari bahwa tak ada untungnya tinggal disini. Tidak ada. Chanyeol menatap tempat tidur yang berantakan lalu merapikannya. Pertama-tama tidak ada lagi tidur siang bersama yang nyaman.
Chanyeol mencuci rambutnya untuk membersihkan makanan bayi yang menempel di rambutnya. Kris pasti ingin mandi air panas saat dia kembali nanti. Fasilitas yang menurut surat perjanjian sewa menjadi tanggungan Chanyeol. Jadi ia mematikan pemanas air.
Kemudian ia mengganti t-shirt nya, mengisi mesin cuci (Chanyeol sudah tidak bisa menghitung berapa banyak ia sudah melakukan itu semenjak Taehyung masuk dalam kehidupannya), lalu memeriksa lemari di dapur.
Baked bean, sereal makan pagi, satu kantong keripik. Di lemari pendingin hanya ada kantong nut cutlets. Yang isinya tinggal satu. Kalau Kris ingin tinggal untuk makan malam, dia harus memilih antara tinggal di rumah dan mengasuh Taehyung, atau mengunjungi supermarket terdekat.
Mereka bisa mulai berdebat siapa yang kan memasak setelah mereka punya bahan-bahan untuk dimasak.
.
Kris menyadari bahwa usahanya untuk lari merupakan usaha yang terlalu ambisius. Memangnya berapa lama seorang pria bisa lari dari sesuatu yang menghantuinya?
Ia melempar tongkat bagi Grady, berjalan pelan melintasi taman, mencoba memikirkan makna dari gelombang emosi bertentangan yang terus berperang dalam dirinya semenjak ia bertemu dengan Park Chanyeol yang menjengkelkan itu.
Ia bilang pada Yixing bahwa ia tidak tertarik pada hubungan yang baru sejak Jessica meninggal. Kebenarannya lebih rumit dari itu. Pada awalnya ia sudah terlalu kebas untuk bereaksi bahkan terhadap tawaran penghiburan yang paling terang-terangan. Setelah rasa kebas itu hilang, perasaannya membeku menjadi es, kekuatan dingin yang sanggup menampik wanita paling menggoda sekalipun.
Namun pertahanannya memang sedikit menurun dan ia merasa rapuh saat tiba di rumah pada tengah malam. Satu-satunya yang dipikirkannya hanyalah berapa lama yang dibutuhkan Sehun untuk berkemas.
Yang menjelaskan reaksi berbahaya yang langsung muncul dari dirinya menghadapi wanita barbar pemarah yang sudah mengambil alih kediamannya itu.
Mungkin.
Kebanyakan pria, jika secara tak terduga dihadapkan dengan seorang wanita cantik terutama setelah melihatnya telanjang di kamar mandi, akan berekasi seperti itu. Sama sekali tidak berarti apa-apa. Seharusnya tidak, hanya saja pada kenyataannya gairah itu tidak mau pergi. Senyum Chanyeol seperti matahari yang membakarnya. Wajah cemberutnya membuat Kris ingin memeluknya, menciumnya untuk menghilangkan kerutan itu.
Dan saat wanita itu marah... yah, sebaiknya tidak usah memikirkan apa yang dirasakannya saat melihat Chanyeol marah.
Sebenarnya situasi ini bisa saja jadi agak menyenangkan, seandainya tidak ada bayi. Bayi itu membuat situasi semakin rumit. Mereka seperti satu paket kecil yang indah. Hal itu begitu nyata, godaan yang terlalu berbahaya untuk diraih dengan kedua tangannya. Jessica dan bayi perempuan mereka, Sovia Wu, sudah meninggal. Chanyeol dan Taehyung begitu pas mengisi lubang dalam hidupnya seperti tutup botol dengan botolnya.
Rasanya hampir seperti cinta yang terulang kembali. Dalam kasus Kris, seperti musim semi yang terentang selama sepuluh tahun, dan mungkin itu menjelaskan kenapa reaksinya begitu kuat dan menakutkan.
Mesin cuci sedang sibuk, tapi selain itu dapurnya kosong saat Kris kembali. Ia memberi Grady minum, membawa anjing itu keluar, lalu ia sendiri naik. Chanyeol sedang meringkuk di sofa, membuat catatan. Wanita itu seolah-olah tidak menyadari kehadiran Kris. Well, memangnya apa yang diharapkannya? Lengan yang memeluk lehernya, sambutan gembira, 'Sayang kau sudah pulang?'
"Apa kau sadar bayimu meneteskan air liurnya di atas karpet yang sangat mahal?" tuntut Kris tajam. "Dan kucingmu meninggalkan bulu pada seluruh kain pelapis perabot?"
Chanyeol menengadah, mengintip dari atas kacamatanya. "Mao bukan kucingku. Aku tidak suka kucing. Aku tidak akan pernah secara sukarela tinggal bersama mereka." Kemudian Chanyeol menambahkan, "Tapi kalau disuruh memilih antara kucing dan pria, aku pilih kucing."
"Sama dong." Balas Kris, berharap suaranya meyakinkan. Begitu mereka pergi, Kris akan membersihkan tempat ini mulai dari loteng sampai ruang bawah tanah. Menghilangkan kehangatan aroma bayi yang mencabik-cabiknya. Menghilangkan aroma Park chanyeol yang menggoda sebelum aroma itu menyerbu jiwanya. Dan kembali hidup normal. "Pastikan kau membersihkan karpetnya sebelum aku pergi."
Chanyeol bergeming menatap karpet itu. "Kalau memang nilainya begitu tinggi, seharusnya karpet itu dibersihkan secara profesional. Sebenarnya waktu aku membersihkan cokelat..."
"Cokelat?"
"...aku melihat beberapa noda lain. Ada satu disana..." dan Chanyeol mengangguk, "... persis dibawah kakimu. Anggur merah, kurasa."
"Aku percaya. Dan aku terima nasihatmu. Bilang saja kemana aku harus mengirim tagihannya."
"Kau tidak akan bersikap seperti salah satu induk semang itu, kan Kris?"
Namanya terdengar begitu tepat dibibir Chanyeol... "Aku tidak akan menjadi induk semang seperti apa pun," tukas kris kasar. Lalu, karena tidak bisa menghentikan dirinya yang penasaran, "Induk semang yang bagaimana?"
"Induk semang yang suka mengarang-ngarang segala macam alasan supaya tidak perlu mengembalikan uang jaminan pada akhir masa sewa."
"Kau tidak memberiku uang jaminan sepeser pun."
"Induk semang yang akan kutuntut ke pengadilan tanpa berpikir dua kali."
"Sangat lucu." Tapi, didorong keputusannya bahwa Chanyeol harus pergi, Kris mengalihkan pembicaraan. "Sedang sibuk? Membuat daftar agensi penyewaan yang harus ditelepon?" tanyanya penuh harap.
"Tidak," sahut Chanyeol sambil menggetukkan pensil di giginya. "Aku membuat daftar belanja. Lemari di dapur kosong."
"Benarkah? Well, silahkan bersenang-senang dengan roti dan bayam, aku mau mandi."
Chanyeol memelototkan kacamatanya dan menatap Kris. Rambut Kris basah, menempel di dahi dan lehernya, dan dia terlihat agak pucat. "Kau baik baik saja?" tanyanya, kekhawatiran memenuhi hatinya. Lalu ia buru-buru menambahkan, "Kurasa seharusnya kau tidak lari dulu setelah mengalamu cidera di kepala."
"Aku tersentuh oleh perhatianmu, tapi Grady-lah yang lebih banyak berlarian."
"Aku senang mendengarnya." Kemudian, dengan perasaan sangat bersalah karena sudah mengeringkan tangki air panas, Chanyeol berkata, "Aku khawatir airnya mungkin tidak terlalu panas, aku sedang menyalakan mesin cuci. Mesin itu tidak pernah berhenti kalau kau punya bayi."
Kris mengangkat bahu. "Pemanas airnya menyala... iya kan?"
"Kurasa tidak. Hanya sejam di pagi hari dan sejam di malam hari selama aku yang membayar tagihannya."
Kris menarik nafas dalam-dalam. "Jangan khawatir soal tagihannya, aku yang bayar. Lain kali biarkan pemanasnya tetap menyala."
Sial, sial, sial, rutuk Chanyeol dalam hati. Bagaimana ia bisa sekejam itu?
"Bisakah aku mendapatkan pernyataan itu secara tertulis?"
"Aku akan memastikannya."
"Terima kasih." Sulit sekali mengusir pria itu. Tapi Chanyeol tidak bisa mengambil resiko tinggal bersamanya disini. Kris terlalu berpotensi sebagai pengingat akan apa yang sudah dilepaskannya. Chanyeol harus kuat. "Bagaimana kalau kutinggalkan daftarnya di meja dapur?" tanya Chanyeol menguji kesabaran Kris lebih jauh.
"Daftar?"
"Kalau kau mau makan, kau yang harus belanja. Aku harus menyuapi Taehyung, memandikannya, lalu menidurkannya."
Hening sejenak saat Kris sepertinya berusaha menenangkan diri.
"Berarti kau tidak makan?"
"Waktu aku bilang lemarinya kosong, aku memikirkan dirimu. Aku sih sudah punya baked beans untuk makan malamku. Dan satu nut cutlet." Chanyeol menimpali sekenanya.
"Hanya satu?"
Chanyeol meneliti Kris dengan seksama. Pernahkah kris melihat isi supermarket? Tanyanya dalam hati. Pasti ada orang yang mengurusnya, atau setidaknya mengurus rumahnya. Seorang wanita yang dicintainya yang bisa bersih-bersih dan belanja. Chanyeol tidak yakin kris bisa masak. Pria tampan yang masih lajang pasti sering diundang ke jamuan makan malam. Sering diundang, titik. Ia yakin bahwa seandainya Kris mau berusaha, pria itu pasti bisa menemukan orang yang bisa menampungnya.
Seandainya Kris menanggapi gertakannya? Dan pergi belanja? Chanyeol mengangkat bahu. Ia mencemaskan sesuatu yang hampir tidak mungkin terjadi. "Hanya satu. Tentu saja, kau boleh ikut menikmatinya kalau kau mau."
"Terima kasih Park Chanyeol. Kau baik sekali."
Ia benci dipanggil nama lengkapnya, kenyataan yang ia yakin sudah diketahui Kris dengan sendirinya, tapi ia mengimbangi kontrol diri Kris yang mengagumkan. Tadinya ia berharap kris langsung keluar. Pindah. Atau setidaknya kehilangan kesabaran dan menyruhnya untuk pergi ke neraka supaya ia tahu ia berhasil membuat pria itu kesal.
Sekarang ia dihadapkan pada pilihan memasak cutlet yang sama sekali tidak menggugah selera itu dan membaginya bersama Kris. Atau menyerah. Seharusnya ia berhenti saat posisinya di atas angin, bersama baked bean.
.
.
.
.
.
TBC...
.
Grady...
Gawat...
"Chanyeol.!"
"Jawab aku, Chanyeol.! Kau dimana?"
.
.
A/N : namaku aku ganti WUPARK94 oke,, tapi tetep panggil fien aja, makasih ^^
.
fienyeol
