BABY ON LOAN
(Remake by Liz Fielding)
.
.
.
Main Cast :
Park Chanyeol (GS) & Kris Wu
.
Other Cast :
Park Luhan & Byun Baekhyun (GS)
Oh Sehun (GS)
Do Kyungsoo (GS)
Kin Jongin
Baby! Park Taehyung
Zhang Yixing (GS)
Jesica Jung
Etc.
.
Genre:
Tentukan sendiri ^^
.
Rate:
Tentukan sendiri ^^
.
.
MAAF TYPO! SELAMAT MEMBACA... ^^
.
Chapter 6
.
Kris berdiri di bawah shower yang memancarkan air dingin dan bersumpah Chanyeol akan mendapat ganjaran karena menyiksanya seperti ini.
Kris tidak percaya alasan Chanyeol yang menggunakan semua air panas untuk mencuci baju bayinya. Air sedingin ini hanya bisa terjadi gara-gara keran yang dibiarkan terbuka sampai semua air panasnya terkuras dari tangki.
Keterlaluan!
Baik kalau Chanyeol menginginkan peperangan, dia akan mendapatkannya. Wanita itu begitu yakin bisa menang mudah, pikir Kris, dengan kasar membalut tubuhnya dengan handuk supaya hangat lagi.
Chanyeol salah. Kris mungkin sudah jatuh sekali dan hampir kalah waktu ia terbangun dengan wanita itu dalam pelukannya tadi siang, tapi ia takkan menyerah semudah itu.
Ia akan berbagi hidangan minim apa pun yang dipilih Chanyeol untuk makan malam, senang karena tahu bahwa Chanyeol akan ikut menderita.
Saat melewati ruang belajar, Kris melihat melalui pintu yang terbuka. Chnayeol sedang duduk di depan komputernya. Tertarik melihat apa pekerjaan penyewanya, Kris masuk untuk menyelidiki. Tapi Chanyeol sedang tidak bekerja, dia sedang menyantap makan siangnya sambil browsing internet.
"Enak?" tanya Kris saat Chanyeol menggigit sandwichnya.
"Sedikit kering. Aku juga membuatkan satu untukmu. Ada di dapur."
"Terima kasih. Apa yang kau cari?"
"Tempat tinggal." Chanyeol mengklik mouse dan layar menjadi gelap. "Aku melihat-lihat beberapa agen rumah."
"Kau sudah memutuskan mencari tempat lain?" Kris berhasil menekan perasaan leganya supaya tidak terdengar dalam suaranya. Ternyata gampang sekali.
"Tidak, aku sudah muak dengan para induk semang yang cerewet." Chanyeol tersenyum sambil mangangkat Taehyung dan berjalan menuju tangga. Kris mengabaikan usaha Chanyeol yang terang-terangan memanas-manasinya, ia malah memperhatikan kata para yang dipakai Chanyeol. Yang menimbulkan pertanyaan, kenapa Chanyeol pindah dengan sangat terburu-buru dari tempat sewanya sebelumnya? Surat perjanjian sewa yang ditandangani wanita itu masih tergeletak di meja depan dan Kris mengambilnya sambil mengikuti Chanyeol turun ke dapur.
"Aku memutuskan sudah saatnya menghadapi kenyataan dan membeli rumah sendiri. Kelihatannya aku hanya mampu membeli lemari sepa..."
"Membeli?" ulang Kris, teralihkan dari rentetan pikirannya. "Tapi itu akan butuh waktu berbulan-bulan."
"Benarkah?" Chanyeol melirik surat perjanjian sewa yang dipegang Kris. "Lebih dari tiga bulan?"
"Mungkin", sahut Kris, mengenali suara yang menantang itu. "Kecuali kau bisa segera menemukan suatu tempat. Apa perjanjian sewamu bisa diperpanjang?"
Chanyeol tersenyum lebar. "Tidak. Sehun sangat tegas mengenai hal itu. Sekarang aku tahu kenapa. Bisakah kau menunggu untuk makan malammu? Aku harus menyuapi Taehyung." Kalau Kris lapar, dia mungkin akan pergi.
"Kurasa bisa. Menurutku sandwich itu akan cukup mengganjal perutku."
"Bagus", ujar Chanyeol, menyesal mengapa tidak melemparkan sandwich itu pada burung padahal ia punya kesempatan untuk melakukannya. Ia pasti sudah gila karena menawari pria itu sandwich. Impulsif. Kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Chanyeol ternyata tidak perlu khawatir. Piring yang tadinya berisi sandwich sekarang pecah berantakan di lantai dapur. Tak ada tanda-tanda roti atau keju. Hanya Grady, berbaring terlungkup di seberang anak tangga dengan ekspresi anjing yang tahu bahwa dia sudah sangat nakal. Chanyeol mendapati dirinya secara tak terduga ingin memeluk anjing itu.
"Oh, sayang sekali," ujarnya saat Kris menutup pintu, mengamankan ruang depan demi Chanyeol. "Sepertinya itu tadi keju terakhir. Dan kau sudah memecahkan semua telur semalam. Biasanya aku tidak sekacau ini. Ini karena pindahan..."
"Aku tahu. Tapi aku sudah mengeluarkan Grady."
"Aku bersumpah, aku tidak membawanya masuk."
"Tidak." Kris tahu Chanyeol tidak akan melakukan itu. "Mungkin aku yang tidak menutup pintunya dengan benar."
"Mungkin Grady lebih pintar daripada yang kau kira."
"Dia anjing yang patuh," tukas Kris, "Dan dia akan berguling dari mati demi sang ratu bersama anjing-anjing terbaik. Tapi membuka pintu? Kurasa tidak." Kris mengulurkan tangannya. "Sebaiknya kau memberi daftarnya."
"Daftar?"
"Daftar belanja. Itu kan rencananya. Aku belanja, kau masak."
"berarti kau tidak suka nut cutlet, ya?" Chnayeol jelas tidak mengharapkan jawaban karena ia langsung merobek kertas berisi daftar itu dari buku catatannya dan menyerahkannya pada Kris.
Sekilas pandang saja sudah memberitahu Kris bahwa daftar itu berisi jenis makanan yang bisa memberi nama buruk bagi kaum vegetarian.
"Ini sudah semuanya?" tanya kris sambil menengadah. "Tak ada kacang?"
"Oh, wah, terima kasih sudah mengingatkanku," ujar Chanyeol ceria, tanpa memperdulikan nada menyindir dalam suara Kris. "Dan selagi kau pergi..." ia mengambil kembali daftar itu, menambahkan setengah lusin barang lagi, lalu mengembalikannya. "Sebaiknya aku memberimu uang," ujarnya, sambil mengedarkan pandangan mencari-cari tasnya.
"Tidak perlu repot-repot." Kris melihat Chanyeol tidak tampak gembira, padahal dia sudah memenangkan ronde ini. Apa wanita itu membayangkan Kris menganggap dirinya terlalu hebat untuk mendorong troli keliling supermarket? Ataukah ada alasan lain hingga hati nurani wanita itu mulai mengusiknya? Misalnya, berpegang teguh pada surat perjanjian sewanya yang meragukan? Atau ada alasan lain yang lebih mendasar? Kris mengangkat botol makanan bayi, sudah di cuci dan siap dimasukkan dalam keranjang sampah yang bisa didaur ulang dan menemukan labelnya sangat informatif. "Kau bisa mengganti uangku nanti."
"Benar. Terima kasih."
"Bergembiralah, setidaknya kau tidak perlu membagi nut-cutletmu yang berharga itu."
Chanyeol jadi santai dan tersenyum. "Aku tidak keberatan."
"Kau memang santa." Kata-katanya sama sekali tidak tulus, tapi Kris memang tidak berniat bersikap tulus. "Katakan padaku, kau sudah lama jadi vegetarian?"
"Apa?" wajah Chanyeol memerah bingung. "Oh, well.. mm.. aku mulai waktu umurku lima belas tahun..."
"Benarkah? Aku sedang bertanya-tanya apakah itu hanya keputusan mendadak. Karena kau memberi daging domba dan hotpot wortel untuk makan siang Taehyung." Kris membalik botol makanan bayi supaya Chanyeol bisa melihat labelnya. Kemdian, meraih tangan Chanyeol yang bebas, Kris meletakkan botol itu di telapak tangan Chanyeol. "Kutunjukkan barang bukti..." hampir saja Kris mengtakan A, tapi ia teringat tongkat cricket. "Barang bukti B."
Ia tidak memberi Chanyeol kesempatan untuk menjawab dan langsung meninggalkannya berdiri di tengah-tengah dapur dengan mulut ternganga. Siapa suruh wanita itu berbohong setengah-setengah.
Chanyeol tahu mengatakan hal pertama yang muncul dalam kepalanya bukanlah tindakan yang pintar. Aku pasti sudah mulai kacau di bawah semua tekanan yang kualami, putusnya sambil meletakkan kembali botol makanan bayi tadi dalam lemari pengering. Otaknya mulai berubah jadi bubur bayi.
Tidak ada alasan lain yang bisa menjelaskan kelakuannya. Seharusnya ia tidak memainkan permainan yang bodoh. Ia punya hak. Ia punya surat perjanjian sewa yang ditanda tangani keponakan Kris, yang bertindak mewakili pria itu. Semua keluhan mestinya disampaikan pada Sehun dan saat Kris kembali nanti ia akan mengatakan itu. Tenang tapi tegas. Menjelaskan bahwa Kris harus membuat pengaturan tempat tinggal selama tiga bulan ke depan, Kris pria yang pandai. Pria itu mungkin tidak menyukainya, tapi dia pasti menyadari Chanyeol benar.
Chanyeol menghela nafas. Secara teori kedengarannya memang gampang, tapi dalam praktiknya ia tahu Kris tidak akan menyetujui solusi seperti itu. Memangnya kenapa Kris itu harus setuju? Ini rumahnya dan dia punya hak untuk menempatinya tanpa halangan dari siapa pun. Keponakannya sekalipun.
Chanyeol mengerang, duduk, dan menyandarkan dahinya di meja dapur. Ia sudah bekerja keras, taat membayar pajak, dan sebagai balasannya yang ia minta hanya kehidupan yang tenang. Apa yang sudah dilakukannya sampai harus mengalami semua ini?
.
Kris langsung menuju ke bagian daging. Daging steik yang besar dan gemuk pasti cocok pikirnya, dipanggang di atas panggangan dan disajikan sangat mentah. Kalau Chanyeol memang benar benar vegetarian, daging itu akan membuatnya jijik. Kalau bukan, dia bisa menonton Kris memakannya sementara dia memain-mainkan nut-cutletnya dan menderita. Keduanya sama-sama menyenangkan bagi Kris.
Memang bukan sikap yang baik, tapi begitu juga usaha Chanyeol yang berusaha membuat Kris menyerah dengan buncis dan gandum. Untung saja wanita itu tidak tahu betapa Kris sudah hampir benar-benar menyerah tadi.
Kris melempar daging itu ke dalam troli. Untuk berjaga-jaga seandainya itu masih kurang, ia juga memasukkan botol saus yang besar dan daging bacon potongan sedang untuk sarapan, walaupun membayangkan dirinya benar-benar memakan semua daging itu membuatnya merasa agak mual.
Dokter di UGD tidak repot-repot menyuruhnya beristirahat. Kehadiran polisi dapat dipastikan memberi kesan pada dokter itu bahwa pasiennya akan dikurung dan menjalani hukuman selama jangka waktu yang lama. Di lain pihak Kris sendiri tadinya berpikir untuk istirahat seharian di tempat tidur, memulihkan kesehatannya dengan tenang.
Sendirian.
Berdasarkan standar apa pun, bagi pria yang menderita luka di kepalanya, Kris bekerja terlalu keras.
Kris menarik nafas dalam-dalam beberapa kali, lalu mengambil beras, buncis, dan telur organik, wortel, dan bawang yang tercantum dalam daftar yang dibuat Chanyeol. Daftar yang ditambahkan wanita itu pada detik-detik terakhir tadi adalah beberapa keperluan Taehyung. Bedak dan tisu basah untuk bayi.
Kris menatap rak mainan dengan nanar, tenggelam dalam kenangannya sendiri. Seorang wanita bersama bayi yang terikat di trolinya berhenti dan memintanya mengambilkan satu popok bayi dari rak atas. Tersadar dari masa lalunya, Kris menjangkau pak itu dan memberikannya pada wanita itu.
"Perlu bantuan?" tanya wanita itu sambil memasukkan popok itu ke dalam trolinya.
"Bantuan?"
"Anda kelihatan agak bingung." Wanita itu tidak menunggu Kris mengiyakan atau menyangkal. "Anak pertama, ya? Rasanya menyenangkan melihat pria ikut membantu mengurus anak." Wanita itu mengambil daftar yang dipegang Kris. "Laki-laki atau perempuan?" tanyanya sambil mengambilkan barang-barang yang ditulis Chanyeol.
Perempuan. Sovia Wu. Kris ada disana waktu itu dan meletakkan putrinya yang baru lahir dalam pelukan Jesica...
"Ini untuk Taehyung", ujarnya cepat-cepat.
"Taehyung? Manis sekali. Apa kepanjangannya?" Otaknya bingung mencari jawaban. "Kim? Lee?" wanita itu terus bertanya, tanpa menyadari ekspresi Kris yang hampa.
"Hanya Taehyung", sahut Kris cepat-cepat, mengisi keheningan yang memperingatkannya bahwa sekarang gilirannya untuk bicara.
"Well, jaga mereka berdua baik-baik. Sangatlah berat melakukan semuanya sendirian. Aku tahu."
"Ya, aku juga berpikir begitu. Terima kasih atas bantuan anda." Kris kembali menatap mainan bayi yang kecil dan berwarna cerah. Kecuali warnanya mainan itu tidak berubah, pikirnya. Ia mengambil satu dari dan memegangnya sejenak, lalu melemparnya ke dalam troli bersama barang-barang lain yang dibelinya.
Itu suatu kesalahan. Kris menyadarinya sewaktu tiba di kasir. Kris mengambil mainan kecil berwarna cerah itu dari troli dan memegangnya sesaat. Tadinya ia berniat balas dendam. Sekarang, saat daging steik, saus, dan bacon dikeluarkan di tempat kasir, ia merasa sikapnya kurang ksatria.
Ia selalu merasa bagai pahlawan orang-orang yang tertindas, bersedia berjuang dalam kasus-kasus yang akan kalah, dan terkadang menang meskipun kemungkinannya sangat tipis. Seandainya Park Chanyeol kliennya, ia akan memastikan tak seorang pun bisa mengusir wanita itu dari rumah yang sudah disewanya dengan niat baik. Seharusnya Chanyeol tak perlu menderita gara-gara keponakannya kurang peka.
Siapa yang bisa menduga apa yang sudah dialami Chanyeol ? dan dengan egoisnya, Kris berusaha sekuat tenaga untuk memperburuk keadann wanita itu. Hanya untuk menyelamatkan dirinya dari tekanan mental waktu emosinya yang sudah lama mati rasa secara tiba-tiba bangkit kembali.
Mungkin, pikirnya, mereka bisa mulai lagi. Menyepakati semacam pengaturan yang masuk akal. Tentunya dua orang dewasa yang beradab sanggup berbagi rumah selama beberapa hari sementara Chanyeol mulai mencari tempat tinggal lain. Hanya dibutuhkan sedikit memberi dan menerima. Dan kalau ia memberi lebih dari yang Chanyeol tahu... yah, itu urusannya sendiri.
"Anda mau membeli barang itu?" tanya gadis di belakang meja kasir padanya.
"Apa? Oh, ya, maaf." Kris menaruh mainan itu di meja kasir dan meraih dompetnya, lalu membawa semua belanjaannya ke mobil.
Kris tidak langsung pulang. seandainya Chanyeol ingin tinggal, Kris ingin wanita itu tinggal berdasarkan persyaratan darinya, bukan dari wanita itu sendiri.
Di agen penyewaan, seorang wanita separuh baya dengan senyum profesional mempersilahkannya duduk. "Selamat sore, Sir. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya perlu bicara dengan siapa pun yang sudah mengatur penyewaan rumah di Cotswold Street nomor 27." Wanita itu mengernyit. "Anda menyewakannya pada nona Park Chanyeol awal minggu ini," Kris mengingatkan.
"Saya ingat Nona Park. Dia menelepon dalam keadaan putus asa. Kyungsoo mencoba membantunya, tapi wanita itu membutuhkan sebuah tempat dengan segera dan kami tidak bisa membuat referensi secara tergesa-gesa."
"Seseorang melakukannya."
"Bukan kami." Wanita itu menggeleng. "Selain itu, kami tidak punya properti di Cotswold Road. Seandainya saja kami memilikinya."
"Kalau begitu sebaiknya anda meminta Kyungsoo menjelaskan ini."
"Kyungsoo tidak bekerja disini lagi," ujar wanita itu, sambil mengambil surat perjanjian sewa dari Kris. "Dia hanya pekerja paruh waktu disini, mengumpulkan uang untuk keliling Eropa. Saya sendiri tidak bisa melihat apa yang menarik..." kemudian, saat wanita itu meneliti dokumen yang diserahkan Kris padanya, senyum lenyap dan dia menggumamkan kata-kata yang sama sekali tidak profesional.
.
Chanyeol memutuskan untuk bersikap dewasa dan mengaku sejujurnya. Ia memang tidak makan banyak daging, tapi dia bukan vegetarian. Ia tidak berbohong soal menjadi vegetarian waktu umurnya lima belas, ia hanya tidak menyebutkan bahwa ia kehilangan minatnya tiga hari kemudian, waktu ia diundang ke pesta barbecue oleh anak laki-laki yang sudah ditaksirnya selama berbulan-bulan.
Perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan dirinya. Chanyeol ingin memperbaiki sikap dengan memesan makanan untuk mereka berdua dari restoran Italia favoritnya dan minta diantarkan. Ayam polenta lembut dan game chips, pikirnya. Diikuti zabaglione dan biskuit ratafia. Mungkin bahkan sebotol minuman. Itu akan menjadi tawaran perdamaian yang pantas.
Chanyeol tidak memberi kesempatan pada dirinya untuk berubah pikiran, dan langsung menelepon restoran.
Ia baru selesai memberikan pesanannya, meminta pesanan diantar jam setengah delapan, saat mendengar bunyi ceklikan pegangan pintu dan merasakan serbuan udara dingin waktu pintu membuka di belakangnya.
"Wah, kau cepat sekali," ujar Chanyeol sambil menyunggingkan senyum ceria di bibirnya. Dalam hati ia merasa jengkel pada dirinya sendiri karena terlalu lama menimbang-nimbang padahal ia bisa sedikit memperbaiki penampilannya. Menghilangkan jejak-jejak makanan bayi yang menempel di bajunya mungkin bisa membuat Kris terkesan dengan keandalannya sebagai wanita mandiri yang tidak akan mempercayai omong kosong apa pun dari Kris Wu, si pengacara bertubuh tinggi dan menakutkan.
Tapi itu bukan Kris. Grady lah yang berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan membujuk yang diperlihatkan anjing saat mereka ingin bermain.
Gawat.
Dan akan semakin gawat.
Mao, yang sedang memakan sisa-sisa ikan dengan berisik, menengadah saat pintu terbuka, menengadah dan mematung.
Untuk sesaat tidak terjadi apa-apa.
Lalu Grady menundukkan kepalanya yang besar dan berbulu kusut dan mendengus curiga ke arah kucing itu.
Chanyeol yang malang. Wanita itu berpegang pada surat perjanjian sewanya solah-olah itu tali kehidupannya dan ternyata kertas itu sama sekali tidak berharga. Salah seorang teman Sehun melanggar semua peraturan dengan memfotokopi surat perjanjian sewa yang standar.
.
Chanyeol tidak tahu. Kris sangat yakin dia tidak tahu. Yang membuatnya diuntungkan secara sepihak. Mungkin ia harus melupakan dagingnya dan memesan makanan yang layak untuk makan malam supaya mereka tidak perlu memasak. Bagaimanapun juga, hari ini hari yang melelahkan bagi mereka berdua.
Makanan Cina atau India pilihan terbaik, pikirnya, kalau memang mereka harus menyantap hidangan vegetarian. Dengan sedikit niat baik dan anggur yang cocok untuk melancarkan suasana, mereka pasti bisa membereskan masalah. Menurut syarat-syarat yang dibuatnya, Chanyeol boleh memakai gudang. Dan ruang kerja.
Kris tersenyum lebar saat memarkir mobilnya di garasi dan menelepon restoran terdekat dari telepon mobilnya sebelum berjalan melintasi kebun sambil membawa barang-barang belanjaannya.
Pintu dapur terbentang dan Grady tidak terlihat dimana-mana.
Kris menjatuhkan kantung belanjaannya, tak peduli dengan telur-telur organik yang dibelinya sesuai daftar yang dibuat Chanyeol dengan cermat. Ia tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan beberapa telur pecah, ataupun pecahan keramik berharga yang berserakan yang saat ia meninggalkan rumah tadi masih menghiasi lemari di dinding dapur.
Khawatir bukanlah kata yang akan digunakan Kris. Melihat kursi tinggi yang terbalik, percikan darah di lantai dapur tidak membuatnya khawatir. Ia ketakutan. Ketakutan mendalam serta putus asa.
"Chanyeol?" teriaknya sambil berlari bahkan sebelum kantong belanjaan menghantam lantai, mengikuti jejak kehancuran di tempat itu. "Chanyeol, kau dimana?"
Ruang depan juga kacau balau. Lukisan-lukisan di dinding miring, meja terbalik, telepon terenggut dari sambungannya dan retak. Dahan pohon fig yang besar tergeletak tak berdaya di tengah jejak-jejak kaki binatang, kecil dan besar, di atas kompos yang berserakan. Tidak perlu ahli forensik untuk mengungkap barang buktinya.
"Chanyeol!" Kris berharap dan berdoa menemukan wanita itu sedang meringkuk ketakutan di ruang duduk. Setelah pemandangan yang membuat jantungnya berhenti, Kris melihat ruangan itu tak tersentuh. Dan kosong.
"Chanyeol!" rasa takut mulai menggema dalam suaranya. Kalau Chanyeol lari... Grady memang lembut, tapi anjing termasuk hewan pemburu...
"Jawab aku, Chanyeol! Kau dimana?"
Kekacauan itu berlanjut di sepanjang tangga dan Kris menaiki tiga anak tangga sekaligus, berhenti di ambang pintu kamar tidur. Grady berdiri tegak di tempat tidur, memamerkan gigi-giginya, bulu kuduknya berdiri, dan hidungnya berdarah akibat perkelahian dengan Mao.
"Grady! Berbaring!" anjing itu jatuh seperti batu dan langsung berbaring di tempat tidur, kepala menunduk, sementara si kucing mendesis mencemooh dari atas rel tirai yang aman. Kris mebentang pintu kamar mandi. "Chanyeol!" tak ada tanda-tanda keberadaan wanita itu. Benar-benar mimpi buruk. Seharusnya ia tidak meninggalkan Chanyeol. Dengan jantung berdebar kencang dan sambil mencengkram kalung Grady kuat-kuat, Kris mulai menuruni tangga, membuka lebar-lebar semua pintu yang dilewatinya. Ia sudah separuh jalan melintasi ruang depan, bertanya-tanya apakah Chanyeol tadi berlari keluar lewat pintu depan dan langsung menuju jalanan. Samar-samar ia mendengar suara seseorang memanggil-manggil namanya. Ada suara menggedor-gedor di kejauhan.
Kris mematung. Mendengarkan. Suara itu datangnya dari dapur. Dari arah lemari sapu dibawah tangga.
Kris membuka pintu lemari itu dan Chanyeol, yang duduk meringkuk seperti bayi dalam kandungan dan mendekap Taehyung didadanya, jatuh keluar dari lemari, terbelit sapu dan kain pel. "Kukira kau takkan pernah datang." Chanyeol terengah-engah. "Apa kau tidak dengar aku teriak-teriak?"
Perasaan lega karena Chanyeol tak terluka, bahwa mereka berdua tidak terluka, terhapus oleh kemarahan yang datang tiba-tiba.
"Mendengarmu?" ulang Kris. "Nona, apa kau pikir aku akan memanggi-manggil namamu selama lima menit terakhir...," ujar Kris sementara benaknya membayangkan semua mimpi buruk yang terpikir olehnya, "Kalau aku mendengarmu?"
"Aku sudah berteriak sekuat tenaga," protes Chanyeol, ia mengusap debu dari wajahnya dan bersin. Lalu, sambil memandang Grady dengan gugup, ia bertanya, "Apakah keadaannya buruk?"
Kris menunjuk kekacauan di dapur. "Masih kalah dibanding kekacauan yang diakibatkan gajah ngamuk," jawabnya, sambil mendorong Grady keluar dan menutup pintu. "Kuharap kau bisa menemukan penjelasan yang meyakinkan dan efektif untuk perusahaan asuransi."
"Perusahaan asuransi?" Chanyeol menatapnya. Hanya itulah yang dipedulikan Kris? Semua kekacauan ini? Beberapa piring tua? "Tentu saja aku punya cerita meyakinkan yang akan kuceritakan pada perusahaan asuransi," sergah Chanyeol marah, sebelum nafasnya tertahan oleh isakan gemetar. "Oh, sial!" ujarnya sambil mendekap Taehyung lebih erat lagi, menghujani kepala Taehyung yang lembut dan berambut halus dengan ciuman. "Persetan dengan perusahaan asuransimu. Dan koleksi keramikmu. Apa yang akan kulakukan? Apa yang akan kukatakan kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Taehyung?"
"Jangan." Ujar Kris, sambil meraih Chanyeol dengan kikuk, tidak benar-benar menyentuhnya. Menyentuh Chanyeol akan meruntuhkan seluruh dinding pertahanannya, membuatnya mengkhianati semua kenangan yang berharga... "Tolong, jangan..."
"Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada Taehyung karena aku terlalu bodoh, terlalu takut..." sebutir airmata mendesak keluar dari kelopak mata Chanyeol yang gemetar dan bergulir menuruni pipinya.
"Tak ada hal buruk yang terjadi," hibur Kris. Ia mengabaikan peringatannya sendiri, berlutut di samping Chanyeol, dan meraih wanita itu, meraih bayinya dan kali ini membawa mereka dalam pelukannya, mendekap mereka erat-erat. "Tidak ada yang terjadi. Tak ada yang akan terjadi," ujarnya. "Kalian baik-baik saja." Kris mencium kepala Taehyung yang mungil. "Dia tidak terluka, hanya sedikit berdebu." Ia mencium rambut ikal Chanyeol.
Chanyeol menengadah, airmata mengalir di pipinya yang berdebu. "Maafkan aku."
"Tidak aku yang minta maaf." Kris mencium dahi Chanyeol. "Aku tidak bermaksud meneriakimu tapi aku sangat ketakutan... kau tidak mungkin tahu..." Tubuhnya gemetar. "Aku takkan pernah membuatmu tahu," ujarnya kasar. Chanyeol mengerjap. "Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian padahal aku tahu kau ketakutan. Aku... aku minta maaf. Ayolah, Chanyeol, jangan menangis."
Chanyeol mengusap pipinya dengan telapak tangannya, menengadah dan memandang wajah Kris lekat-lekat. "Kau juga menangis," ujarnya. Tangannya terulur menyentuh pipi Kris seolah-olah sulit mempercayainya. Pipi itu basah. "Kris, kau gemetar." Kemudian entah bagaimana Chanyeol lah yang menenangkan, memeluk Kris, tangannya mengalungi leher Kris, pipinya merapat di pipi pria itu. "Semuanya baik-baik saja. Sungguh. Kau lihat?" Chanyeol berhasil menyunggingkan seulas senyum. "Tak ada yang terjadi pada kami. Dan kau benar, kalau saja aku tidak diam seperti pengecut, hal ini tidak akan terjadi. Ini kesalahanku, bukan Grady. Sungguh." Chanyeol membelai wajah Kris, mencium pipinya. Rasanya basah dan asin. Chanyeol merapatkan pipinya disana, ingin menenangkan Kris, meyakinkan pria itu bahwa ia dan Taehyung selamat. "Pandang aku," ucapnya lembut, telapak tangannya menyentuh pipi Kris agar pria itu bisa melihatnya, melihat bahwa apa yang dikatakannya benar. Dan saat Kris menatapnya, Chanyeol menyentuhkan bibirnya ke bibir pria itu.
Sejenak mereka terdiam, tak bernafas. Kemudian bibir Kris terbuka di bawah bibir Chanyeol dan mencium wanita itu seolah-olah ingin menghisap seluruh nafas dari tubuh Chanyeol.
Selama sepuluh tahun perasaan Kris telah mati dan sekarang wanita ini, selain mengambil alih rumahnya, juga mengambil alih hatinya. Chanyeol membangkitkan kembali hatinya yang telah mati, membuatnya bisa merasakan lagi, membuatnya nyeri. Kris tidak menghendaki hal ini. Ia ingin ditinggalkan sendiri bersama kenangan-kenangannya. Hanya kenangan-kenangan itulah yang dimilikinya dan ia sangat takut kalau ia tidak berkonsentrasi maka kenangan itu akan menyelinap pergi darinya. Tapi memeluk Chanyeol, merasakan kulit wanita itu di tangannya, merasakan intisari Chanyeol memenuhi bibirnya, terasa seperti rasa nyeri, kerinduan tak tertahankan yang telah begitu lama dipendam. Chanyeol menawarinya ciuman kehidupan...
"Chanyeol... jangan, please..."
Kris menjauhkan diri, berdiri sebelum Chanyeol bisa menyentuhnya. "Lagi pula apa sih yang kau lakukan dalam lemari sapu?" sergah Kris tiba-tiba, berusaha menciptakan jarak antara dirinya dan Chanyeol serta dari perasaan-perasaannya. Terlalu banyak emosi yang berkecamuk dalam dirinya untuk bisa ditepis akal sehat.
"Memangnya kau pikir apa yang kulakukan di dalam sana?" tuntut Chanyeol, yang berjuang sendiri untuk berdiri dengan taehyung dalam pelukannya karena Kris tidak berani menyentuhnya. Chanyeol merasa tersinggung dan terluka oleh perubahan sikap Kris yang mendadak. "Aku bersembunyi dari anjing pemburu..."
"Grady bukan..." Kris berhenti. Berdebat tentang tempramen anjing tidak akan menyelesaikan masalah. Ia menyisir rambutnya dengan jemarinya. "Apa tidak terpikir olehmu untuk pergi saja ke ruang depan dan menutup pintu dapur?"
"Aku tidak sempat memikirkan tindakan terbaik untuk kulakukan," jawab Chanyeol angkuh, mencoba berpura-pura tak ada yang terjadi. Tiba-tiba ia bersin, yang merusak efek penampilannya. Kris ingin tertawa. Ia berusaha mengendalikan dirinya, meskipun mungkin sedikit terlambat, tapi setidaknya ia akhirnya berusaha. "Lemari sapu takkan menjadi pilihan pertamaku, percayalah. Aku hanya membuka pintu pertama yang bisa kucapai dan melompat masuk." Chanyeol bersin lagi, lalu merogoh-rogoh sakunya untuk mencari tisu. Tak ada sehelai pun.
Kris mengeluarkan saputangan, menawarkan padanya tanpa komentar. Chanyeol meraihnya tepat saat ia bersin untuk ketiga kalinya. Kemudian, dengan mata berair, Chanyeol berkata. "Selain itu, anjingmu bisa membuka pintu."
"Jangan bicara omong kosong."
"Omong kosong, heh? Well, memang kau pikir bagaimana dia bisa masuk?"
"Mungkin kuncinya longgar..." Kris berjalan untuk memeriksanya, dengan senang menjaga jarak di antara mereka, memberi ruang untuk bernafas, tapi dengan segera ingin mendekat lagi. Kris mencengkeram pegangan pintu dan mengguncangnya. Tetap kencang. Ia mengangkat bahu. "Mungkin pintunya tidak tertutup dengan benar, tapi itu bukan masalah. Tak satupun hal ini akan terjadi seandainya kucingmu tidak ada disini."
"Mao bukan kucingku!"
"Kalau begitu, seandainya kau tidak ada disini!"
"Salah dua-duanya. Tak satupun dari hal ini akan terjadi seandainya kau tidak ada disini! Seandainya kau menghormati surat perjanjian sewa yang kutandatangani dengan niat baik!"
"Mengenai surat perjanjian sewa itu..." Kris mulai bicara, tapi Chanyeol tidak mendengarkan.
"Aku baru selesai menelepon dan sedang mengangkat Taehyung waktu kudengar p-p-pintunya terbuka." Chanyeol gemetar lagi, tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan grady ia mencium Kris. Hanya menciumnya. Hanya! Lucu sekali. Tapi Chanyeol merasa ingin menangis. Itu bukan hanya. Ciuman itu pasti mencapai nilai 9,5 menurut skala Richter untuk ciuman, ciuman yang mengguncang dunia, ciuman yang sanggup mengubah hidupmu. Dan Kris menghentikannya. Menarik diri. Berdiri dan menjauh. Gigi Chanyeol mulai bergemeletuk saat tubuhnya mulai bereaksi dan kakinya goyah. "Aku pikir kau yang datang, aku berbalik dan..."
"Hai, tenang." Kris menangkap tubuh Chanyeol saat kakinya lemas.
Menangkap dan memeluknya, mengambil bayi dalam gendongannya sebelum memapah wanita itu ke ruang duduk di lantai atas. Saat Chanyeol sudah duduk di kursi dengan aman, Kris menurunkan Taehyung di karpet satu teteasan air liur atau lebih tidak ada bedanya dari ia memenuhi gelas dengan brensi. "Ini." Ia mengulurkan gelas itu. Chanyeol mundur setelah mencium baunya, tapi kali ini Kris tidak menerima penolakan. Ia membungkuk dan memegang gelas itu di bibir chanyeol. "Ini berkhasiat," ujarnya tegas. "Minumlah."
Chanyeol menyesap, tersedak, lalu bergidik, tapi minuman yang membakar itu tampaknya memulihkan keadaannya. "Ya ampun, rasanya benar-benar tidak enak."
"Makin tidak enak, makin manjur. Minum lagi." Kris mengulangi dosisnya, dengan hasil yang sama. Kris hanya tidak bisa percaya siapa pun bisa begitu... bodoh. Begitu menggemaskan. "Aku tidak mendengarmu, tapi kau pasti mendengarku memanggil-manggilmu. Kenapa kau tidak keluar waktu kau tahu aku sudah pulang?" tanyanya.
"Aku tidak bisa. Tidak ada pegangan pintu di dalam. Aku menggedor dan berteriak..." Chanyeol mengangkat bahu.
"Tidak ada pegangan?" Kris membayangkan betapa takutnya Chanyeol waktu menyadari hal itu dan berusaha menahan senyumnya. Kris hanya perlu mengingat bagaimana perasaannya tadi, kepanikannya, dan ia merasa dirinya juga membutuhkan seteguk brendi untuk menenangkan sarafnya. Lalu saat mengingat bagaimana perasaannya saat memelek Chanyeol, saat wanita itu menyentuh pipinya, bagaimana ia mencium Chanyeol, kris langsung mengosongkan isi gelasnya. "Aku sudah mencari ke seluruh rumah..." ia mulai bicara. Lalu ia mengangkat bahu, cara yang janggal untuk mengakui bahwa Chanyeol benar. "Aku ketakutan setengah mati kalau kau terluka."
"Benarkah? Kukira hanya aku satu-satunya yang ketakutan tadi."
"Tidak." Kris menggenggam tangan Chanyeol. "Chanyeol, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal kau sampai ketakutan seperti tadi."
Dan ciuman itu, apakah Kris menyesali ciuman itu juga? Chanyeol bertanya-tanya. Sekali lagi? Chanyeol menghela nafas. "Aku juga. Benar-benar menyesal." Tapi ia sendiri tidak yakin tepatnya dosa apa yang ia sesali.
"Sudahlah. Tak ada yang tidak bisa diperbaiki." Kris jelas-jelas menganggap Chanyeol sedang membicarakan rumahnya yang berantakan, yah mungkin itu juga. Kalau kris bertanya. "Well mungkin keramiknya tidak bisa diselamatkan," ujar pria itu. "Sebaiknya aku pergi dan membersihkannya."
"Aku yang harus melakukannya. Itu semua kesalahanku..."
"Tidak!" kemudian dengan lebih lembut Kris berkata, "Kejadian ini bukan salahmu. Serahkan saja padaku."
Di dapur, Kris membetulkan letak kursi tinggi lalu pergi mencari kardus, sementara Chanyeol yang ikut turun walaupun Kris sudah menyuruhnya agar diam ditempat, mendudukkan Taehyung di kursi itu dan memasang tali pengamannya. "Lebih cepat kalau dikerjakan berdua," ujarnya saat Kris kembali. Kemudian, sambil mengumpulkan pecahan besar keramik dan mengangsurkannya pada Kris, ia berkata. "Apakah benda ini sangat berharga?"
"Berharga?" Kris sedang memegang piring yang hanya penyok, membalikkannya secara tidak sadar. Chanyeol pikir, Kris seolah-olah mencari semacam jawaban untuk pertanyaannya. "Itu tergantung pada apa yang kau maksud berharga. Aku membeli piring ini untuk Jessica saat bazar benda-benda antik tak lama setelah kami menikah."
"Istrimu?" wanita yang sudah meninggalkan Kris hanya ditemani anjing.
"Waktu itu hari ulang tahunnya. Dia berumur 26..." itu lebih daripada yang ingin kuketahui, pikir Chanyeol. "... dan dia melihat piring ini. Kami makan malam dalam perjalanan pulang. aku tidak ingat dimana. Kau pikir kau tidak akan pernah lupa, tapi ternyata kau lupa..."
"Kalian bercerai?" tanya Chanyeol, bersemangat ingin menghentikan perjalanan Kris menelusuri masa lalu, karena kelihatannya kenangan itu tidak membuatnya bahagia. Dan karena Kris menciumnya duluan, Chanyeol merasa berhak tahu.
"Bercerai?" perhatian Kris teralihkan. "Oh, tidak."
Oh, bagus! "Well," ujar Chanyeol cepat-cepat, "Piring itu tidak terlalu rusak. Tidak akan kelihatan kalau kau mendirikannya seperti ini. Lihat?" Chanyeol berbicara dengan keceriaan yang dipaksakan saat ia mendirikan piring keramik itu di lemari dengan tepian yang pecah dibalik penopangnya.
"Tidak." Kris menjangkau melewati bahu Chanyeol. "Piring penyok tidak ada gunanya kecuali untuk menampung bakteri. Dulu Jessica hanya mengoleksi benda-benda yang berharga." Kris menjatuhkan piring itu dalam kotak.
Cahnyeol mengerjap melihat perilaku Kris yang kasar itu.
Dulu. Chanyeol menyadari setelah jauh terlambat, bahwa istri Kris tidak meninggalkan pria itu. Wanita itu mungkin sudah meninggalkan anjingnya, tapi dia tidak mungkin meninggalkan koleksi piringnya yang berharga. Mereka bukan bercerai. Istrinya meninggal.
"Well" ujar Chanyeol ragu-ragu, " Kalau piring-piring itu diasuransikan..."
"Diasuransikan?" Kris memandang ke dalam kotak berisi pecahan piring-piring keramik. "Berapa harga yang bisa kau berikan pada kenangan satu hari yang kami habiskan bersama, Chanyeol? Saat yang takkan bisa terulang lagi. Coba katakan padaku dimana kau bisa mengasuransikan kenangan supaya tidak pernah hilang, tidak terhapus dari dirimu, atau memudar seperti foto lama."
Chanyeol menelan ludah, berharap tadi ia mematuhi Kris dan tetap tinggal di ruang duduk. Tapi sekarang ia sudah terlibat terlalu dalam, ia sudah memunculkan terlalu banyak kepedihan untuk pergi begitu saja. "Apa yang terjadi padanya?"
Kris membalikkan tubuhnya, menatap Chanyeol seolah-olah tidak ada yang berani menanyakan hal itu sebelumnya atau berani membicarakannya.
"Dia ditabrak pengemudi yang mabuk. Pria itu melaju sangat cepat, sehingga walaupun dia melihat lampu mobil Jessica, dia tidak akan sempat menghentikan mobilnya."
"Sepuluh tahun yang lalu?" kris mengangguk. "Aku sangat menyesal."
Chanyeol mengibaskan tangannya tanpa daya ke arah pecahan benda-benda keramik itu. Ia ingin menghampiri Kris meraih tangannya, melingkarkan tangan di sekeliling tubuh pria itu, memeluknya seperti tadi Kris memeluknya. Tapi sikap Kris begitu kaku. Menciptakan jarak yang tidak bisa diseberangi Chanyeol. "Aku benar-benar menyesal."
"Dalam skala malapetaka kehidupan, kurasa beberapa piring yang pecah tidak terlalu berarti. Beberapa kenangan yang hancur..."
"Kenangan tidak hancur, Kris." Kris menengadah, tertegun. "Tidak jika kau ingin menyimpannya." Chanyeol memungut sekeping pecahan yang terlewat oleh Kris. "Piring-piring ini hanya benda, sama seperti foto-foto. Pengingat yang efektif, tapi kalau foto-foto itu hilang, kau hanya akan kehilangan selembar kertas. Kenangan ada dalam dirimu, dalam benakmu, dalam hatimu. Cara kau tersenyum saat kalian berdua mendengarkan lagu yang kalian sukai, ingatan akan warna pakaian yang dikenakannya saat kalian pertama kali bertemu... hanya kepedihan yang bisa memudar. Kalau kau mengizinkannya. Kalau kau tidak terus menusuk-nusuknya seperti gigi yang sakit. Kalau kau menciptakan kenangan-kenangan yang baru." Chanyeol memberikan kepingan piring keramik itu padanya. "Itu sebabnya matahari selalu bersinar di musim panas. Saat kanak-kanak dulu mengapa es krim terasa lebih enak."
Kris mengambil kepingan piring keramik yang dipegang Chanyeol, membalikkannya dalam telapak tangannya. Piring itu dulunya ribbon plate, piring hias yang indah. Benda pertama yang dibelinya untuk wanita cantik yang dinikahinya. Dua tahun setelahnya, wanita itu dikubur di samping bayi mereka. "Benarkah?"
"Kuharap begitu." Kris tersentak menatapnya, dan Chanyeol bisa melihat pertanyaan terbentuk di balik mata pria itu. "Sebaiknya aku menidurkan Taehyung," ujar Chanyeol cepat-cepat, berkutat mengikat kardusnya. "Aku baru saja mau menidurkannya saat... yah... " Chanyeol tidak melanjutkan kata-katanya. "Apa kau akan baik-baik saja ?"
"Ya, Chanyeol. Aku akan baik-baik saja." Kris berdiri, melepaskan Taehyung dari kursinya untuk membantu Chanyeol, lalu memeluk Taehyung sejenak. "Dia anak yang baik."
"Ya. Aku berharap dia tidak memberiku kesulitan sebanyak yang Sehun berikan padamu."
"Semoga," ujar Kris. "Tapi aku cukup terhibur mengingat aku bisa minta ganti rugi pada ayahnya nanti." Kris menyerahkan Taehyung pada Chanyeol, lalu dengan cepat berbalik pergi.
"Kris, tentang makan malam..."
"Jangan khawatir tentang itu," ujarnya.
"Tidak..." Chanyeol muali bicara.
"Atau pindah. Tiga bulan tidak lama. Kita bisa mengaturnya."
Bulan? Kris hanya berencana beberapa hari saja. Beberapa minggu, paling lama. Sejak kapan beberapa hari jadi tiga bulan? Antara otaknya dan mulutnya? Antara makan siang dan makan malam? Antara masa lalu dan masa sekarang? Hati Kris berdebar nyeri saat mengangkat kotak kardus. Ia yakin perusahaan asuransi pasti ingin melihat buktinya. Kira-kira seperti apa reaksi mereka... ia berhenti, bersandar di pintu, terlalu gemetar untuk melangkah lebih jauh. Sudah begitu lama ia berpegangan pada kenangan pahitnya, memanfaatkan rasa sakit dan amarahnya sebagai energinya dari hari ke hari. Ia sangat takut jika melepaskan kenangannya maka ia takkan memiliki apa-apa lagi...
"Kris..."
"Apa?" Kris membelalak marah pada Chanyeol dan bayi yang sedang dipeluknya, membenci rasa simpati dalam suaranya. Chanyeol mundur selangkah seolah bisa merasakan kemarahan Kris.
"Aku... kau kelihatan sangat pucat..."
"Aku baik-baik saja. Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. "Kris tidak marah pada Chanyeol. "Tidurkan Taehyung, kemudian kita akan membahas bagaimana kita membagi dua rumah ini."
Chanyeol tampak ragu-ragu lalu berkata, "Kurasa maksudmu baik, Kris. Tapi kita berdua tahu itu tidak akan berhasil."
.
.
.
.
.
TBC...
.
Haloo, aku kembali. Maaf banget lama updatenya. Cerita ini sebentar lagi END. Jadi aku fokuskan pada cerita ini. Baru aku akan melanjutkan yang lainnya. Terima kasih buat yang masih menunggu cerita yang makin aneh ini. Dan terima kasih buat yang udah review. Cinta kalian... ^^
