BABY ON LOAN

(Remake by Liz Fielding)

.

.

.

Main Cast :

Park Chanyeol (GS) & Kris Wu

.

Other Cast :

Park Luhan & Byun Baekhyun (GS)

Oh Sehun (GS)

Do Kyungsoo (GS)

Kin Jongin

Baby! Park Taehyung

Zhang Yixing (GS)

Jesica Jung

Etc.

.

Genre:

Tentukan sendiri ^^

.

Rate:

Tentukan sendiri ^^

.

.

MAAF TYPO! SELAMAT MEMBACA... ^^

.

Preview

"Kris..."

"Apa?" Kris membelalak marah pada Chanyeol dan bayi yang sedang dipeluknya, membenci rasa simpati dalam suaranya. Chanyeol mundur selangkah seolah bisa merasakan kemarahan Kris.

"Aku... kau kelihatan sangat pucat..."

"Aku baik-baik saja. Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. "Kris tidak marah pada Chanyeol. "Tidurkan Taehyung, kemudian kita akan membahas bagaimana kita membagi dua rumah ini."

Chanyeol tampak ragu-ragu lalu berkata, "Kurasa maksudmu baik, Kris. Tapi kita berdua tahu itu tidak akan berhasil."

.

Chapter 7

.

"TIDAK akan berhasil?" Kris hampir tidak bisa mempercayai pendengarannya. "Apa maksudmu tidak akan berhasil?"

"Aku mungkin bisa berbagi denganmu, Kris, tapi aku tidak bisa tinggal bersama anjingmu."

"Mungkin? Mungkin bisa berbagi denganku? Dasar tidak tau diuntung..." Kris terdiam. Chanyeol tidak punya alasan untuk merasa beruntung, dia tidak tahu bahwa surat perjanjian sewa itu palsu. Gradylah masalahnya, bukan Kris. Ia menurunkan kotaknya dan meraih telepon dapur. Salurannya mati dan ia mengeluarkan sumpah serapahnya karena kesal. "Mana ponselmu?"

Chanyeol mengeluarkan telepon dari tasnya yang ada di meja dapur dan menyerahkannya pada Kris tanpa sepatah kata pun. Ia mengawasi pria itu menekan nomor telepon. "Yixing?"

"Halo, Kris. Bagaimana hubunganmu dengan penyewamu yang cantik itu?"

"Kau mau versi pendeknya atau mau menunggu bukunya terbit?"

Yixing tertawa. "Kedengarannya menarik. Seandainya saja aku punya waktu untuk versi yang belum disensor, tapi saat ini aku sedang sibuk sekali."

"Oh, well, bukan apa-apa kok. Aku hanya ingin bertanya apa aku bisa membawa Grady kembali..."

"Oh, Kris! Maaf." Kris mendengarkan sementara Yixing menjelaskan kenapa ia tidak bisa menampung Grady. Kris mengucapkan selamat pada bibinya sebelum mengembalikan telepon itu ke Chanyeol.

"Dia tidak bisa menampungnya?"

"Tidak."

"Aku pernah dengar bahwa penjaga anjing yang bisa diandalkan lebih sulit dicari daripada pengasuh bayi yang bagus."

"Mungkin, tapi ini bukan soal siapa yang bisa diandalkan. Yixing orang yang sangat bisa diandalkan. Waktunya tidak tepat. Dia baru saja kembali dari Downing Street, dan Perdana Menteri memintanya untuk memimpin Komisi Kerajaan yang baru di bentuk untuk menangani masalah kriminalitas remaja."

"Oh." Kemudian. "Dia hakim Pengadilan Tinggi, ya?" Kris mengangguk.

"Tidakkah dia sedikit, well, terlalu tinggi untuk menjaga anjing?"

"Dia kan bibiku."

"Benar. Dan kurasa jika anjingmu nakal, menitipkannya pada hakim untuk menjalani pelatihan dan memperbaiki diri sangatlah masuk akal."

"Lucu sekali."

"Aku senang kau berpikir begitu." Chanyeol hanya berharap Kris tersenyum lagi dan meyakinkannya bahwa pria itu benar-benar menganggap hal itu lucu. "Apa yang akan dilakukan bibimu seandainya kau belum pulang?"

"Mencari jalan lain. Kalau aku memaksa, aku yakin dia pasti bersedia menerima Grady, tapi itu tidak adil baginya." Kris menyapukan jemarinya ke rambut. "Jangan khawatir, aku akan memikirkan sesuatu. Omong-omong, itu belanjaanmu," ujarnya sambil menunjuk kantong-kantong yang isinya tumpah di lantai dapur.

"Terima kasih," kata Chanyeol, alisnya sedikit terangkat melihat kekacauan itu. "Kurasa. Berapa banyak hutangku?"

"Aku akan melupakannya kalau kau mau pindah," tawar Kris. Satu usaha terakhir yang lemah untuk mempertahankan kewarasannya.

"Usaha yang bagus, tapi diperlukan lebih dari setengah kilo bawang dan sekantong ayam bun..." Chanyeol membuka kantongnya. "Apa ini?" Ia mengeluarkan mainan yang di beli Kris untuk Taehyung saat pertahanannya melemah.

"Aku tidak akan repot-repot menebak benda apa itu. Itu hanya benda dengan tombol berwarna-warni dan pernak pernik lain untuk dimainkan. Aku berpikir Taehyung mungkin menyukainya."

Chanyeol menatapnya. "Ya Tuhan, kau memang pria yang menyebalkan, Kris Wu." Menyebalkan? Apa yang menyebalkan tentang membeli mainan anak-anak? "Seandainya saja aku tahu apa yang sedang kaumainkan disini."

Yeah, well. Berarti mereka berdua memikirkan hal yang sama. Wanita itu sudah mengatakan ini tidak akan berhasil dan ia malah menjawab, jangan khawatir, aku akan memikirkan sesuatu. Mungkin, bagaimanapun juga, Kris berharap pengaturan ini bisa berhasil. Bahkan ketika ia sudah mendapatkan semua bukti yang dibutuhkannya untuk mengusir Chanyeol saat itu juga. "Dia masih bayi. Aku membelikannya mainan. Dialah yang akan memainkannya."

"Kenapa?"

"Kau terlalu banyak bertanya, tahu?" lalu Kris berkata, "Aku membelinya karena seorang wanita di supermarket mengira aku ayah baru yang sangat perhatian, berbelanja untuk istri dan bayinya..." ia berhenti, mengambil nafas dalam-dalam.

"Kris..."

"Mungkin aku mencoba membuat wanita itu terkesan," ujar Kris dingin, menyela kata 'Kris' yang diucapkan Chanyeol dengan lemah itu. "Tidak perlu berterima kasih."

"Ini mustahil." Chanyeol benar, pikir Kris. Mungkin. "Kau mustahil. Aku sudah mencoba, benar-benar mencoba-"

"Begitu juga aku, tapi kau memang bisa menguji kesabaran seorang santa."

"Memangnya kau tahu apa?" sergah Chanyeol. Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat kantong yang berisi barang-barang bayi lalu buru-buru meninggalkan ruangan sambil menggendong Taehyung.

Chanyeol memperlambat langkahnya saat tiba di ruang depan yang berantakan. Bukankah ia sudah berjanji untuk bersikap tenang tapi tegas? Berpegang teguh pada moral? Pemikiran tentang dua orang dewasa yang berbagi rumah? Apa sih yang terjadi padanya?

Kris Wu, pikir Chanyeol. Seorang pria dan anjingnya. Dan istrinya yang sudah meninggal. Semua membebani hatinya. Ia melangkahi tanaman yang bertebaran, kompos dalam pot yang berserakan di ruang depan, dan menaiki tangga. Lupakan berbagi. Ia tidak sudi berbagi rumah dengan Kris Wu seandainya pria itu Lord Chief Justice sekalipun. Chanyeol mengusir Mao dari tempat tidur bayi, mengganti seprai, dan membaringkan Taehyung di dalamnya. Keponakannya itu mulai merengek. Tempat tidurnya sendiri berantakan dan kotor, penuh dengan jejak kaki kucing. Chanyeol melepas seprai dan menggantinya. Rengekan Taehyung semakin keras. Sulit untuk tidak diacuhkan, tapi ia tahu Taehyung lelah dan mungkin akan segera tertidur. Meskipun sebenarnya ia merasakan dorongan untuk turun.

Kris sudah menyalakan kembali pemanas airnya, jadi Chanyeol memutuskan untuk mandi cepat-cepat dan membersihkan diri dari campuran makanan bayi yang lengket dan debu dari lemari sapu. Saat ia selesai, Taehyung sudah berhenti merengek.

Chanyeol tersenyum sambil membungkus tubuhnya dengan handuk. Ia sudah mulai terbiasa menangani bayi. Seandainya saja ia bisa menemukan cara untuk menangani Kris Wu, maka hidupnya akan kembali tenang.

Chanyeol membukan pintu dengan hati-hati, supaya tidak membangunkan Taehyung. Ia tidak perlu melakukannya Kris sedang menggendong Taehyung, berjalan mondar mandir, dan bayi itu menggigit mainan barunya.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Chanyeol ketus.

Kris berputar, mengawasinya sesaat, kemudian berkata, "Dia tadi menangis."

"Tentu saja dia menangis. Bayi-bayi selalu menangis waktu kau menaruh mereka di tempat tidur," dengus Chanyeol marah. "Kalau kau membiarkannya, mereka akan berhenti sendiri."

"Tapi untuk apa membiarkannya sedih seperti itu kalau aku bisa menggendong dan membuatnya senang?"

"Kalau tidak salah itu namanya 'mencambuk punggungmu sendiri' dalam hubungan ibu-bayi."

"Dia masih kecil, Chanyeol. Dia baru saja dipindahkan dari lingkungan yang dikenalnya. Dia perlu dipeluk."

"Aku mengutip teorimu, bukan mencoba membenarkannya, lagi pula, memangnya aku tahu apa?"

"Kau melakukannya dengan baik. Ayolah, Taehyung. Sudah waktunya tidur."

Kris melintasi ruangan menuju tempat tidur bayi dan membaringkannya. Taehyung berceloteh senang sambil mengunyah mainannya.

"Kuharap kau sudah mencuci benda itu sebelum memberikannya pada Taehyung."

"Ya, Chanyeol. Aku sudah mencucinya. Sekarang, menurutmu kita bisa berdamai tidak? Aku sudah mengatur makan malam-"

"Tidak, aku yang sudah mengatur makan malam," tukas Chanyeol.

"Aku tidak berminat pada baked beans, terima kasih."

"Bukan, maksudku-" Bel pintu berdering. Sudahlah, toh Kris bisa melihatnya sendiri. "Maukah kau membukakan pintu," tanya Chanyeol, "Sementara aku berpakaian?"

"Jangan repot-repot melakukannya demi aku. Aku suka handuk itu." Pandangan Kris menelusuri tubuh Chanyeol hingga berhenti di paha wanita itu. "Aku juga suka tato kupu-kupumu."

Chanyeol merona merah dan berusaha menarik handuknya menutupi tato tanpa memamerkan bagian tubuhnya yang lain. "Itu pernyataan yang sangat pribadi!"

"Yeah?" sahut Kris sambil menyeringai lebar. "Tambahkan itu dalam daftar keluhanu dan tuntut aku."

Kris tidak menunggu benda-benda berterbangan. Sejujurnya, Kris tidak percaya ia mengatakannya. Tapi bila dipikir-pikir lagi, seandainya ada yang bertanya padanya seminggu yang lalu, ia pasti akan menertawakan siapa pun yang mengusulkan padanya untuk berbagi rumah dengan seorang wanita. Apalagi dengan wanita yang memiliki bayi.

Aroma tubuh mungil Taehyung yang hangat menempel di tubuhnya. Napas bayi yang berbau susu. Kris merindukan itu. Ia merindukan semuanya. Gigi pertama. Langkah pertama. Kata pertama. Hari pertama masuk sekolah.

Kris mengusap wajah dengan kedua tangannya. Semua itu bukan salah Chanyeol. Seharusnya ia tidak menimpakannya pada Chanyeol. Wanita itu kelihatan capek. Tidak aneh Chanyeol sudah mengalami hari yang Kris harap tidak menimpa siapa pun.

Kris sendiri sudah mengalami hari yang lebih buruk, jauh lebih buruk, hari-hari yang ia harap tidak akan pernah Chanyeol dan Taehyung alami. Tapi mungkin itu malah bisa menjadi titik awal. Mereka berdua sudah mengalami hari yang buruk. Mungkin, bersama-sama mereka bisa melakukan sesuatu tentang hal itu.

Ia membuka pintu depan. Ternyata makanan yang dipesannya. Sedikit lebih awal, tapi mungkin lebih baik begitu. Ia memberi tip pada si pengantar makanan, membawa bungkusan itu ke dapur, dan menyalakan oven untuk menjaga makanan tetap hangat. Ia baru membuka bungkusan pertama dan sedang bertanya-tanya apa yang salah waktu pintu dapur membuka di belakangnya.

Di luar, Grady diam di anak tangga. Anjing itu merengek pelan, ekspresinya sangat sedih. Lalu ia mencium aroma ayam dan ekornya mulai bergoyang penuh harap.

Bel pintu berdering lagi, dan kali ini tidak ada yang menjawabnya. Chanyeol menghela nafas, mematikan pengering rambut, dan pergi kebawah. Ternyata kiriman makanan dari restoran. Ia memberi tip pada si pengantar makanan dan menutup pintu, kemudian turun kedapur. Kris tidak kelihatan dimana-mana.

Ia mengangkat bahu, membuka kotak, memeriksa ke dalam karton, lalu wajahnya mengerut. "Sialan!" ujarnya. "Dari mana datangnya semua ini?"

Di belakangnya ada bunyi 'klik' dan Chanyeol langsung memutar tubuhnya.

Grady berdiri di tangga, tampak sangat puas dengan dirinya sendiri.

Kris muncul di belakang anjingnya, wajahnya takjub.

"Kau benar, Chanyeol."

"Jangan kaget begitu. Itu kan bukan hal yang aneh," sahut Chanyeol sambil memandang anjing itu dengan gelisah. "Tentang apa?"

"Keluarlah dan aku akan menunjukkannya padamu."

Itu jebakan. Kris akan menguncinya di luar bersama anjing itu. "Kalau kau mengunciku di luar, aku bersumpah akan menelepon koran hari Minggu." Chanyeol menggenggam telepon selulernya untuk menunjukkan pada Kris bahwa ia tidak main-main. Ponselnya menyala menandakan 'baterai lemah'. Mungkin Kris belum mengetahuinya.

"Bateraimu lemah," ujar Kris. "Kau aman kok. Kalau aku menguncimu di luar, kau akan berdemonstrasi sendirian, duduk di trotoar, dan aku yang terpaksa mengurus si bayi. Ayolah." Kris mencengkram kalung leher Grady kuat-kuat dan memegangnya di satu sisi sementara Chanyeol berjalan merapat ke dinding dan dengan gugup melewatinya. Kemudian Kris menutup pintu.

"Sekarang apa?"

"Sekarang Grady akan menunjukkan padamu kemampuan barunya. Buka pintunya, Grady." Anjing besar itu mengangkat satu kakinya dan menekan pegangan pintu. Pintu mengayun terbuka. "Yixing memang sempat menyinggung soal mengajari anjing tua keterampilan baru, tapi aku tidak terlalu memperhatikan." Kris memerintahkan Grady untuk duduk lalu berjongkok sampai wajahnya sejajar dengan anjingnya. "Grady, ini Chanyeol. Kau membuatnya gugup, jadi aku ingin kau menunjukkan padanya seberapa baik kau bisa bersikap." Kris berbalik menghadap Chanyeol sambil mengulurkan tangannya. "Kemarilah, akan kuperkenalkan kalian secara resmi."

Chanyeol mundur selangkah. "Tidak usah, terima kasih."

"Kalau kau akan tinggal disini-"

"Aku memang-"

"- sampai kau berhasil memperoleh tempat tinggal sendiri, kalian harus bisa berteman."

"Tidak kalau kau yang pindah dan membawa anjing itu."

"Itu tidak akan terjadi. Berikan tanganmu."

"Tolong jangan lakukan ini..." Chanyeol memohon. Kris menunggu. Dalam hati Chanyeol tahu pria itu benar. Masalahnya terletak pada Chanyeol sendiri, bukan pada Grady. Walaupun begitu, ini terlalu berat baginya.

"Chanyeol, aku takkan membiarkan hal buruk terjadi padamu. Aku janji."

Kris begitu mudah dipercaya. Kalau saja saat ini Chanyeol sedang duduk di kursi saksi, ia akan mengakui pembunuhan sadis yang telah dilakukannya saat mendengar janji seperti itu. Tapi menyentuh Grady hal yang sama sekali berbeda. "Aku tidak bisa."

"Sudah saatnya menghapus kenangan tentang anjing yang jahat. Grady akan membantumu kalau kau mengizinkannya." Chanyeol masih bergeming. "Kalau Taehyung dalam bahaya, kau pasti melakukannya. Benar, kan? Kau bersedia melompat ke jurang demi Taehyung."

"Ya," bisik Chanyeol.

"Ya," ujar Kris. "Well, Grady sama sekali tidak seburuk itu. Dia benar-benar anjing jinak yang tidak akan menyakiti seekor lalat pun."

"Katakan itu pada piring-piringmu."

"Kucingmu yang menjatuhkan piring-piring itu saat memanjat ke atas meja." Jemari Kris membujuk semakin dekat. Jemari yang panjang dan indah. Menyentuh jari itu akan sama berbahayanya dengan menyentuh Grady. "Kucingmu berhasil mengalahkan Grady tanpa kesulitan sedikit pun. Kau juga bisa."

"Dia bukan kucingku," tukas Chanyeol sambil menyelipkan tangannya dalam tangan Kris, dan untuk sesaat pria itu menggenggam tangannya dengan ringan.

"Kita bisa berdebat soal itu nanti." Chanyeol sangat gemetar hingga Kris ingin menggenggam tangannya untuk menenangkan, tapi kalau ia mempererat pegangannya, Chanyeol akan panik dan menjauh. Toh Chanyeol akan tetap melakukannya. Kris tidak perlu tergesa-gesa. Ia berdiri, mengangkat tangan Chanyeol ke bibirnya, dan menciumnya. "Bertukar bau," katanya, ketika Chanyeol terperanjat dan langsung menengadah menatap wajahnya. "Sekarang kita sudah menyatu. Biarkan dia mencium jemarimu," ujarnya lembut. Chanyeol memekik gugup. "Aku memegang tanganmu. Kau akan baik-baik saja."

"Bagaimana kalau kucingnya lewat?" Chanyeol masih mencoba mencari-cari alasan untuk menghindar menyentuh Grady.

"Kalau kucingnya lewat, kau hal terakhir yang dipikirkan Grady. Percayalah padaku."

Kris bukan orang bodoh. Ia tahu ini strategi berisiko tinggi, tapi jelas sekali bahwa tak seorang pun, semenjak Chanyeol digigit waktu kecil pernah berusaha membuat wanita itu menghadapi rasa takutnya. Kris mengulurkan tangan dan mengelus kepala anjingnya yang berbulu kusut, sementara ibu jarinya terus mengelus-elus tangan Chanyeol, menenangkannya.

"Biarkan dia mencium punggung tanganmu."

Chanyeol perlu berusaha keras untuk mengulurkan tangannya, sama kerasnya untuk tidak menariknya kembali saat anjing itu mengendus-endus dengan hati-hati, tanpa menyentuh.

"Baik. Cukup. Tiarap, Grady." Kris berbalik menghadap Chanyeol. "Sekarang kau yang mengtakannya."

"Tiarap, Grady?"

"Ucapkan sebagai perintah."

Chanyeol berdeham dan mengulanginya dengan suara sedikit gemetar, Grady tidak kelihatan terkesan, tapi Kris tidak mendesak Chanyeol lebih jauh.

"Baik. Ingat itu. Ucapkan itu kalau dia terlalu dekat, atau setiap kali dia membuatmu gugup."

Kris masuk kembali ke dapur, diikuti Chanyeol, yang menutup pintu di belakangnya dengan mantap. "Itu saja?" tanya Chanyeol, terkejut.

"Memangnya kau kira apa yang akan kulakukan? Memasukkan tanganmu ke mulutnya?"

"Kupikir aku harus mengelusnya."

"Pertama kau bilang halo. Lain kali kau menyentuh. Kalau kau ingin. Kau tidak harus melakukannya. Sekarang, bisakah kita makan?"

"Oh, ya." Chanyeol hampir pingsan karena lega. "Aku baru mau bilang padamu..." Kris tidak menyadari betapa takutnya wanita itu. Ia hanya menyadari betapa sulitnya Chanyeol melakukannya dan ingin memeluk wanita itu karena sudah sangat berani.

"Aku sudah memesan makanan dari Giovanni's. Baru saja datang. Setidaknya sesuatu datang-"

"Pantas."

"Apa?"

"Aku memesan makanan vegetarian India untuk jam delapan. Waktu Grady membuka pintu, aku sedang berpikir kenapa aku mendapat ayam Italia pada jam setengah delapan."

"Oh."

Kris menunggu.

"Aku baru mau menjelaskan. Sambil minum anggur nanti." Chanyeol mengalihkan pandangannya kemana pun selain ke arah Kris. "Kau punya piring yang masih utuh?" itu bukan pertanyaan serius, hanya usaha untuk menunda hal yang tak terhindarkan. Usaha itu tidak berhasil.

"Menjelaskan apa?" Chanyeol membuka lemari, menyibukkan diri mencari-cari piring. "Aku sudah menaruh beberapa piring beserta ayamnya dalam oven supaya tetap hangat. Menjelaskan apa sambil minum anggur?" desak Kris.

Chanyeol berbalik. Tapi tidak begitu memandang mata Kris. "Tentang pernyataanku bahwa aku vegetarian."

"Aku mendengarkan."

Chanyeol sempat berpikir untuk menceritakan pada Kris seluruh kisah sedihnya, mulai dari waktu Grady mengetuk pintunya dan menjungkirbalikkan hidupnya. Tapi ia capek dan lapar, dan mungkin Kris tidak akan tertarik sedikitpun. "Ceritanya panjang" Akhirnya Chanyeol melihat tepat ke arah Kris. "Bisakah kau menerima jika aku hanya mengatakan maaf."

Kris balas memandangnya. "Begitu juga cukup." Untuk saat ini.

"Bagaimana kalau kau menyimpan sayur-sayuran itu di lemari es untuk besok, sementara aku membuka sampanye?" sepertinya itu pembagian tugas yang masuk akal, meskipun sedikit bebau diskriminasi gender. Tapi Chanyeol tidak terlalu meedulikannya. Ia menata semua makanan itu di atas piring, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi.

"Kapan terakhir kali kau tidur nyenyak?" tanya Kris saat memberikan gelas pada Chanyeol.

Terbersit dalam benak Chanyeol saat ia terbangun dan mendapati Kris sedang menunduk memandangnya, merasakan sensasi menyenangkan solah-olah baru saja dicium. Sangat mendambakan untuk dicium lagi. Seolah saat itu ia memang dicium. Dia sama sekali bukan Putri Tidur.

"Minggu malam," jawab Chanyeol.

"Kalau begitu lebih baik kau yang memakai tempat tidurnya. Aku bisa tidur di sofa malam ini."

"Tidak..." Chanyeol sudah hampir menolak dengan berbasa-basi seperti 'Aku tidak bisa... sungguh...'

"Kecuali kau senang berbagi lagi?"

Wajah Chanyeol merona mengingat hal itu. Ia bisa memakai tempat tidurnya. Dan ia akan melakukannya. Lagi pula ia sudah membayar mahal untuk tidur di tempat tidur itu sendirian. Itu yang diinginkannya, kehidupan tanpa komplikasi. Dan kalau Kris merasa tidak nyaman, pria itu bisa pindah ke hotel. Kemudian, kenyataan bahwa pria itu tadi mengatakan 'malam ini' menusuk kebahagiaan atas kemenangannya.

"Apa maksudmu dengan malam ini?"

"Besok aku akan membereskan kamar tambahan itu untukmu."

"Kamar tambahan? Kenapa aku yang mendapat kamar tambahan?"

"Lebih mudah begitu, kan? Kalau tidak, aku harus memindahkan seluruh barang-barangku padahal kau belum mengeluarkan barang-barangmu. Setidaknya aku berasumsi itu alasan kau memakai jubah mandiku, kan?"

Benar. Tapi Chanyeol tidak akan menyerah tanpa memperoleh keuntungan.

"Aku mengerti maksudmu. Taehyung dan aku akan mengambil kamar tambahan itu, tapi hanya kalau aku boleh menggunakan ruang kerja-"

"Aku sudah berniat menanyakan apa pekerjaanmu," ujar Kris, sambil meraih botol anggur. "Tapi aku selalu saja lupa."

Chanyeol menyerah pada pengalihan pembicaraan itu. "Aku merancang website internet."

"Benarkah?" Kenapa sih pria selalu saja tampak takjub setiap kali ia memberitahu mereka apa pekerjaannya? Semua orang berpikir seolah-olah komputer hanya pantas digunakan kaum pria. "Kukira itu sesuatu yang dilakukan anak laki-laki ABG di waktu senggang."

"Memang. Tapi mereka tidak menghasilkan uang dari hal itu," sahut Chanyeol.

"Dan kau menghasilkan uang?"
"Aku bekerja dengan rapi dan dapat diandalkan. Aku mengirimkan hasil kerjaku."

"Tidak jika aku tidak memperbaiki sambungan teleponnya."

Chanyeol menengadah, masih merasa sulit mempercayai perubahan suasana hati yang tiba-tiba itu. Apa Kris mengira bisa mengusirnya dengan mengisolasinya dari dunia luar?

"Tidak perlu bersusah payah demi aku. Aku bisa dengan mudah mendownload lewat ponselku." Segera setelah ia mengecas ponselnya.

Kris mengangkat bahu. "Silahkan menggunakan ruang kerja. Toh aku juga harus mampir ke kantorku besok."

"Menggunakan ruang kerja ini sepenuhnya," ulang Chanyeol. "Dan mendapat pengurangan uang sewa."

"Kau belum membayar uang sewa," balas Kris, sambil memenuhi gelas Chanyeol. "Setidaknya pasaku."

"Itu masalahmu."

"Spertinya begitu." Lalu tanpa diduga-duga Kris tersenyum lebar, dan semua garis tawa di wajahnya terlihat jelas. Senyum lebar seperti itu seharusnya diberi stempel peringatan berbahaya bagi kesehatan. Disegel di tempat yang aman supaya tidak melukai siapa pun. Senyum lebar seperti itu berbahaya. Bisa membuatmu melakukan hal-hal yang akan kusesali setelah kau sempat memikirkannya. Karena kau akan punya banyak waktu setelahnya. "Oke uajrnya, sementara Chanyeol masih berusaha memanggil kembali sekumpulan hormonnya yang melakukan terjun bebas menuju kehancuran. "Tapi kau harus menyirami tanamannya. Yang tersisa dari tanaman-tanaman itu."

"Mungkin sebaiknya kau buang saja tanaman itu ke tempat sampah supaya menghemat waktu kita berdua. Tanaman cenderung jadi layu kalau aku lewat." Chanyeol mengangkat bahu. "Tadinya aku berniat mengganti tanaman itu sebelum aku pergi nanti."

"Kau memang punya kecenderungan menghancurkan tempat yang kae lewati, ya?"

"Hidup ini terlalu singkat untuk mengurusi tanaman rumah yang membosankan."

"Rupanya kau dan Sehun punya banyak kesamaan." Chanyeol cukup yakin itu bukan pujian, tapi ia terlalu sibuk menyadari kenyataan bahwa hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan, titik, untuk membalas komentar Kris. Chanyeol sedang berpikir-pikir apakah ia bisa berbagi kesadaran yang tiba-tiba muncul ini saat Kris berkata, "Ini benar-benar lezat. Aku sudah dengar bahwa Giovanni's tempat makan yang enak."

"Memang. Aku sering makan disana."

"Bersama Jongin?"

Bersama Jongin. Chanyeol mengangguk dan menusukkan garpunya ke daging ayam. Bagaimana ia bisa termakan tipu daya pria itu? Kris orang asing terlepas dari beberapa jam janggal yang mereka luangkan di tempat tidur yang sama namun pria itu sudah menyiapkan makanan vegetarian karena Chanyeol mengaku padanya bahwa ia vegetarian. Dan Kris membayar sendiri makanan itu. "Sebaiknya kau menikmati makanannya. Aku tidak akan menikmati makanannya. Aku tidak akan melakukan hal ini lagi dalam waktu dekat, karena aku sedang menabung untuk membeli lemari sapuku sendiri."

"Mungkin kau seharusnya agak menekan ayah Taehyung untuk bantuan keuangan. Setidaknya demi Taehyung."

Dan itu masalah lain lagi. Chanyeol tidak suka membiarkan Kris salah paham tentang siapa Taehyung sebenarnya. Tapi siapa tahu pria itu masih berusaha memancing-mancing, bahkan saat ini, mencari jalan keluar dari situasi yang dibebankan Sehun padanya. "Makanlah, Kris," ujar Chanyeol, tidak menghiraukan pertanyaan yang diumpamakan padanya. "Masih ada puding zabaglione."

"Aku tidak suka puding."

"Tidak? Well kalau begitu, aku akan membawa bagianku ke atas, kalau kau tidak keberatan. Aku perlu bekerja beberapa jam lagi sebelum tidur."

Koreksi, ia perlu memberi jarak antara dirinya dan teman serumahnya yang baru dan sanggup mengacaukan pikirannya ini. Chanyeol berhenti di ambang pintu. "Kau tidak keberatan kalau aku memintamu mencuci piring, kan?" ia tidak menunggu jawaban. "Oh, dan kalau kau memerlukan seprai dan perlengkapan tidur lainnya, bisakah kau segera mengambilnya?"

Sensitif sekali, pikir Kris, sambil duduk kembali. Chanyeol sangat sensitif jika statusnya sebagai orangtua tunggal disinggung-singgung, tapi sangat teguh untuk hidup mandiri. Mungkin Kris yang harus sedikit menekan ayah Taehyung. Mendapatkan bantuan untuk membeli rumah dari pria itu, supaya bisa sedikit mempercepat penyelesaian masalah ini. Pengaruh sepucuk surat resmi dari pengacara kelas atas sangatlah besar. Dan banyak pengacara kelas tinggi berutang budi padanya. Kecuali tentu saja, Kris sama sekali tidak tahu siapa ayah Taehyung. Selain bahwa namanya adalah Jongin. Dan bahwa Chanyeol tidak mau membicarakan pria itu.

Mungkin pria itu masih tinggal di alamat Chanyeol yang lama. Alamatnya tercantum dalam surat perjanjian sewa. Dan kalau pria itu tidak tinggal di sana lagi, dia pasti meninggalkan alamat barunya pada pemilik rumah untuk mengirimkan surat-suratnya.

Kris menjatuhkan setumpuk bantal di atas sofa dan memikirkan kelebihan sofa dibandingkan tempat tidur, sofa itu lebih besar daripada sofa pada umumnya, tapi tidak cukup besar untuk tidur dengan nyaman. Ia harus melakukan sesuatu tentang hal itu. Membersihkan kamar tambahan, membeli tempat tidur yang pantas...

Yang sama saja seperti mengundang Chanyeol untuk tinggal selama yang diinginkan wanita itu.

Kenapa tidak?

Gagasan membiarkan Chanyeol tinggal, bukan hanya untuk beberapa minggu, tapi selamanya, begitu menggoda Kris sampai-sampai terasa menakutkan.

.

Taehyung sudah tidur, Kris ada dibawah, mungkin sudah tidur di sofa. Akal sehat Chanyeol menyarankan sudah saatnya mengikuti jejak mereka dan mencoba tidur. Namun karena rutinitasnya tertangguhkan selama beberapa hari ini, ia harus bekerja selagi sempat. Besok ia akan mengikuti saran Kris untuk tidur kalau ia punya kesempatan dan mengatur waktu tidur siangnya agar bersamaan dengan waktu tidur siang Taehyung. Sekarang, well, setidaknya saat ini tenang.

Chanyeol memasang ponselnya untuk di cas dan mulai bekerja. Ia masih terus bekerja hingga matanya perih. Kemudian sambil terhuyung-huyung ia kembali ke kamar tidur memeriksa Taehyung sebelum menggosok gigi, memakai pakaian tidurnya, dan jatuh tertidur dengan nyenyak dan bahagia.

Kris mendengus, terbangung oleh lengkingan tangis bayi, lalu berguling, dan jatuh ke lantai. Ia menyumpah-nyumpah, berdiri dan meregang untuk menghilangkan rasa pegal pada punggungnya. Sekarang tengah malam dan ada bayi yang menangis. Chanyeol benar. Kenangan memang lebih dari hanya sekedar gambar di kertas. Kris takkan pernah melupakan suara itu, keinginan mendesak untuk ditenangkan.

Kris berhenti tanpa terlihat di ambang pintu kamar. Chanyeol berdiri memunggunginya, berjalan mondar mandir di kamarnya sambil terus mengayun-ayun Taehyung dalam gendongannya. Rambut wanita itu tergerai di bahunya, berkilauan tertimpa sinar dari lorong, suaranya begitu merdu ketika berusaha menenangkan Taehyung. "Ssshh, sayang. Chanyeol disini. Kau tidak ingin membangunkan Kris..." Ia berbalik dan melihatnya. "Oh."

Protes Taehyung semakin melengking saat Chanyeol berhenti bergerak dan berhenti mengayunnya. Kris mengulurkan tangannya. "Bagaimana kalau kugantikan?"

"Oh, tapi..."

"Aku tidak akan bisa tidur lagi."

"Aku bisa turun bersama Taehyung. Kau bisa tinggal disini."

Kris membayangkan dirinya berbaring di tempat tidur yang hangat bekas ditiduri Chanyeol, membenamkan wajahnya di bantal yang masih menunjukkan bekas kepala wanita itu. Kris ingin lebih dari itu. Lebih dari sekedar kehadiran bayangan. Ia mendambakan tubuh Chanyeol seutuhnya. Kris tahu itu, ia hanya tidak yakin kenapa. "Ku tampak letih, Chanyeol. Kembalilah tidur." Kris mengambil Taehyung dari tangannya. Menyandarkan bayi itu di bahunya. "Kami akan baik-baik saja." Lalu, ketika Chanyeol masih ragu-ragu. Kris mulai berjalan mondar-mandir seperti yang tadi dilakukan Chanyeol. "Ayolah, Taehyung," gumam Kris. "Mommy wanita sibuk. Kalau dia tidak mendapatkan istirahat malam yang cukup, dia tidak akan punya tenaga untuk mencari rumah besok pagi, benar kan?"

Ada suara pelan tapi jelas. Lalu Kris mendengar Chanyeol naik ke tempat tidur. Ketika ia berbalik, Chanyeol sudah menarik selimut sampai sebatas telinga dan memunggungi Kris. Ia tersenyum dalam rambut ikal si bayi, menciumnya, dan kemudian dengan sangat perlahan kembali turun dan membaringkan tubuhnya di sofa bersama Taehyung yang berbaring dalam lekukan tangannya.

Taehyung sangat tampan. Matanya yang besar berwarna gelap, kulit yang lembut, senyum yang cukup manis untuk mematahkan hatinya. Fakta yang sangat mengejutkan, karena tadinya Kris merasa yakin hatinya sudah patah, hancur tanpa bisa diperbaiki lagi.

Chanyeol menemukan mereka beberapa saat setelah subuh, ketika ia mendadak terbangun dan dengan panik berlari turun. Ia berhenti diambang pintu ruang duduk, kepanikannya tampak konyol ketika dihadapkan pada pemandangan yang begitu menyentuh.

Kris berbaring telentang di sofa, Taehyung berbaring di dada Kris yang telanjang. Mereka kelihatan begitu sempurna bersama, begitu nyaman. Sepertinya sayang untuk mengganggu salah satu dari mereka, tapi Taehyung pasti mendengar Chanyeol, karena bayi itu menengadahkan kepalanya yang mungil untuk menatap bibinya. Chanyeol meletakkan satu jari ke bibir, kemudian mengangkat Taehyung dengan hati-hati supaya tidak membangunkan Kris. Kris tidak bergerak, dan setelah beberapa saat, Chanyeol memaksa dirinya berlalu dari sisi pria itu dan turun menuju dapur.

Kris terbangun dengan kaget, merasa kehilangan sesuatu, ia langsung terduduk, tubuhnya berkeringat, gemetaran, dan ia tergesa-gesa menuruni tangga dan menuju dapur.

"Semuanya baik-baik saja?" Chanyeol berbalik dengan terkejut, tangannya memegang sekarton susu. "Kau seharusnya membangunkanku."

"Aku tidak mau membangunkanmu." Ekspresi Chanyeol mengingatkan Kris akan reaksinya yang berlebihan dan tingkah lakunya yang aneh. "Aku minta maaf karena kami mengganggumu semalam."

Kris mengibaskan tangannya tak acuh. "Tak jadi masalah."

"Itu tidak benar. Kau sangat baik karena mengambil Taehyung. Seharusnya semalam aku langsung tidur dan bukannya bekerja dulu."

"Kau bekerja?" Kris sangat marah pada Chanyeol, pada pria itu yang sudah melakukan ini pada Chanyeol. "Seharusnya kau tidak bekerja." Kemudian sambil menyisiri rambut dengan tangannya. Kris berkata, "Maafkan aku, itu bukan urusanku, tapi merawat bayi adalah pekerjaan yang menuntut waktu penuh. Kau perlu merawat dirimu sendiri."

Chanyeol menahan diri untuk tidak menguap. "Mungkin kau benar. Tapi kau bisa menjadi ayah pengganti yang hebat lho."

Tubuh Kris menegang nyeri. "Well, kau harus bisa mengatur segalanya sendiri tanpa aku hari ini. Agendaku sangat kosong dan sekretarisku pasti sudah gatal ingin mengisinya."

"Mau kubuatkan sarapan sebelum kau pergi?"

Godaan untuk mengatakan ya, untuk duduk dan berpura-pura menjadi keluarga bahagia, terasa sangat kuat. "Tidak, terima kasih. Aku akan membeli sesuatu dalam perjalan nanti."

"Baiklah. Bagaimana dengan Grady?" Chanyeol mengernyit. "Apa yang kau lakukan padanya semalam?"

"Aku meletakkan tempat tidurnya di garasi. Dan hari ini aku akan mebawanya." Setelah mengucapkannya, Kris langsung menghilang. Chanyeol mengangkat bahu dan tak lama kemudian ia mendengar pintu depan dibanting menutup.

"Dan semoga harimu juga menyenangkan, " gumamnya.

.

"Miss Park?" Penjaga pintu di Taplow Towers mengawasi Kris dengan seksama dan karena kelihatannya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, ia mengangguk. "Dia pindah beberapa hari yang lalu. Wanita yang sangat baik. Saya menyesal melihatnya meninggalkan tempat ini." Dia mengangkat bahu. "Kalau kau mau tahu pendapatku, dia bagai embusan angin segar di tempat ini."

"Kenapa dia pergi?"

"Well, gara-gara bayi itu, kan? Begini, semuanya tercantum dalam peraturan sewa, tidak ada anak-anak, tidak ada binatang peliharaan. Anda tertarik untuk mengambil alih apartemen Miss Park?"

"Aku tertarik dengan ayah si bayi. Dimana dia?" Kris mengeluarkan selembar uang dari dompetnya dan penjaga itu meraih dan meremas uang itu dengan gerakan yang nyaris tak terlihat.

"Dia dan istrinya pergi." Pria itu mengangkat bahu. "Begitulah yang kudengar."

Istrinya? Ayah Taehyung sudah menikah?

"Memang sedikit tak terduga. Membuat Miss Park sangat shock."

.

.

.

.

.

TBC...

.

Dua chapter lagi dan cerita ini akan selesai...hohoho

Terima kasih buat yang masih setia baca dan review ^^

Selamat membaca ^^