BABY ON LOAN

(Remake by Liz Fielding)

.

.

.

Main Cast :

Park Chanyeol (GS) & Kris Wu

.

Other Cast :

Park Luhan & Byun Baekhyun (GS)

Oh Sehun (GS)

Do Kyungsoo (GS)

Kin Jongin

Baby! Park Taehyung

Zhang Yixing (GS)

Jesica Jung

Etc.

.

Genre:

Tentukan sendiri ^^

.

Rate:

Tentukan sendiri ^^

.

.

MAAF TYPO! SELAMAT MEMBACA... ^^

.

Chapter 8

.

Chanyeol mendial servernya untuk mendownload pekerjaan yang sudah diselesaikannya malam sebelumnya, lalu tidak beranjak dari sana. Informasi. Semuanya ada di internet, kalau kau tahu ke mana harus mencari. Ia tinggal mengetik beberapa kata kunci dan ia bisa menemukan semua yang ingin diketahuinya tentang Kris Wu. Kasus-kasus yang pernah ditanganinya. Istrinya.

Ia tinggal serumah dengan si pengacara QC dan sepertinya masuk akal kalau ia mencari tahu sebanyak yang ia bisa tentang pria itu. Selain itu, ia juga bertanggung jawab terhadap Taehyung... Alasan yang sangat dibuat-buat untuk menutup-nutupi keingintahuannya yang sangat besar. Kalau Kris berniat mencelakainya, pria itu punya banyak kesempatan untuk melakukannya. Kalau ia memang ingin mencari tahu, sebaiknya ia jujur saja dengan motifnya.

Hanya saja Chanyeol tidak begitu yakin dengan motifnya.

Kalau ia tertarik pada Kris, misalnya melihat pria itu sebagai calon kekasihnya, well, itu bisa membenarkan keingintahuannya. Dengan gugup Chanyeol cepat-cepat mengalihkan otaknya dari pemikiran itu. Lalu perlahan kembali lagi untuk menjajaki ide itu, mendorongnya hati-hati, rasanya hampir seperti mengulurkan tangan untuk menyentuh Grady, tak yakin apakah anjing itu akan menggigit atau tidak.

"Oh, yang benar saja!" seru Chanyeol. Kris memang sudah menciumnya. Dia mungkin sudah mencium lusinan wanita, yang histeris maupun tidak. Setiap saat. Pria itu pasti sudah banyak berlatih untuk bisa semahir itu.

Dari bagaimana Kris menciumnya?

Kris sedang sedih. Ciuman itu tidak berarti apa-apa.

Tidak berarti apa-apa.

Jadi kenapa ia masih bisa merasakan air mata yang asin di kulit Kris, lidahnya yang lembut, merasakan tangan pria itu melingkari tubuhnya, mendekapnya erat, seolah-olah Kris benar-benar memedulikan keselamatannya maupun keselamatan Taehyung?

Sesaat jari-jari Chanyeol terdiam diatas tuts, lalu ia menggeser pointer pelan-pelan di layar. Ia sedang bekerja dan kehidupan pribadi Kris Wu sama sekali bukan urusannya.

Ia sudah melepaskan diri dari kerumitan semacam itu, Chanyeol mengingatkan dirinya sendiri dengan tegas, lalu berkonsentrasi kembali untuk memeriksa update yang sedang dikerjakannya. Chanyeol terlonjak kaget waktu melihat Kris. Pria yang berpenampilan layaknya pengacara sukses dalam setelan tiga potongnya yang berwarna abu-abu gelap itu memperhatikannya dari ambang pintu.

"Sudah berapa lama kau berdiri disana?" tanya Chanyeol, wajahnya merona merah saat menyadari ia nyaris kepergok sedang mencari tahu tentang pria itu.

Kris beranjak dari pintu, melintasi ruangan menuju meja Chanyeol, dan mencondongkan badannya untuk melihat webpage yang sedang dibuka wanita itu. "Mungkin satu menit. Mungkin lebih. Apa kau selalu seserius itu saat bekerja?"

"Memangnya kau tidak?" tukas Chanyeol ketus. "Kukira kau hendak pergi ke kantormu hari ini."

"Rencananya sih begitu. Tapi aku baru sadar aku belum melakukan apa pun pada kamar tambahan itu."

"Kau yakin tidak berharap aku sudah pindah sebelum kau merapikannya?"

"Aku sudah membeli tempat tidur dan aku perlu mengeluarkan kardus-kardus dalam kamar itu sebelum tempat tidurnya tiba," ujar Kris, tidak menyetujui ataupun menyangkal ucapan Chanyeol. Pria itu berdiri di belakangnya, mengambil alih mouse-nya, lalu mulai menjelajahi website yang sedang dikerjakan Chanyeol. "Ini salah satu hasil karyamu?"

Chanyeol berbalik dan menatap layar, hal itu jauh lebih mudah daripada melihat Kris Wu saat pria itu mengutak-atik komputernya sesuka hati. "Ya. Ini pekerjaan besarku yang pertama. Tempat pengembangbiakan bunga liar di Maybridge. Stacey lebih banyak melakukan bisnisnya lewat internet."

"Dia mengekspor tanamannya?"

"Tidak, dia berpendapat bahwa spesies harus berada di habitat aslinya, tapi dia mendistribusikan tanamannya ke seluruh Inggris."

Kris memilih 'Hutan di Musim Semi', kemudian memilih bunga primrose dan segera diantar ke halaman yang menjelaskan tanaman itu secara terperinci, tempat pertumbuhannya, tanah yang cocok, sekaligus tanggal pengiriman, biaya, serta undangan untuk 'Beli Aku'.

"Sangat menggoda," ujar Kris. "Apa orang-orang berminat membeli?"

"Usaha Stacey berkembang, jadi kurasa banyak yang membeli." Kris meneruskan penjelajahannya. "Kau bisa, tentu saja, mengetik nama umum atau botanical untuk bunga yang kaucari dan mendapat hasil yng sama," ujar Chanyeol gugup saat Kris mencondongkan badan ke arahnya, lengan Kris mengusap bahunya, nafasnya meniup rambutnya. Chanyeol ingin menyandarkan tubuhnya pada Kris, merasakan kekuatan pria itu menahan tubuhnya.

"Apakah bayarannya bagus?"

"Menjual bunga liar?" Chanyeol balik bertanya, terganggu oleh kedekatan Kris.

"Mendesain website," ujar Kris dan saat Chanyeol menengadah, ia mendapati Kris tidak sedang melihat ke layar, tapi ke arahnya.

Chanyeol merasakan dorongan kuat untuk meraih Kris, menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya dan menciumnya. Chanyeol ingin mengatakan padanya bahwa dirinya bersedia melakukan apa pun, bahkan dengan risiko kehilangan hatinya sendiri, seandainya hal itu bisa menghapus kesedihan Kris. Tapi sebaliknya Chanyeol malah berkata, "Minta aku mendesain website untukmu dan akan kuberikan rincian harganya."

"Dengan kata lain, urus saja urusanku sendiri?" Kris tersenyum. "Apa kau akan sibuk sepanjang hari?"

"Kenapa? Kau butuh bantuan untuk memindahkan kardus-kardus itu?"

"Tidak. Aku hanya berpikir mungkin kita bisa membawa Taehyung jalan-jalan dan makan siang di suatu tempat setelah aku membereskan kamarmu. Perabotnya baru datang siang ini."

"Membawa Taehyung jalan-jalan?"

"Hari ini sangat indah. Lagi pula kau kan harus makan."

"Mmm, ya." Perabot? Chanyeol mengira ia hanya membutuhkan tempat tidur. Mengingat tekadnya untuk tidak memperumit masalah, ia membatasi komentarnya hanya pada undangan Kris untuk makan siang. "Tapi makan siang di luar? Sambil membawa bayi?"

"Hanya makanan yang sederhana. Sandwich di taman, mungkin?"

Menggoda. Sangat menggoda. Tapi Chanyeol curiga ada udang di balik batu.

"Sayangnya hari ini hanya bisa berjalan-jalan di kebun dan makan sandwich di teras." Itu pun sudah cukup menyenangkan kalau dilakukan bersama Kris. Tapi Chanyeol menyimpan bagian itu untuk dirinya saja. "Aku sedang mengejar tenggat."

"Pekerjaan bukan segalanya Chanyeol. Dan kelihatannya kau perlu terkena sinar matahari." Kris meluruskan tubuhnya dan Chanyeol mulai bernafas lega.

"Tapi kebun juga sudah cukup. Aku akan membuatkan sandwichnya."

Kris tidak menunggu Chanyeol berdebat, tapi langsung beranjak pergi.

.

Cahnyeol merasa sulit mempertahankan konsentrasinya ketika Kris mondar mandir. Pria itu bekerja dengan mengenakan kaus usang dan jeans, membersihkan kamar tambahan itu dari kardus-kardus yang tersimpan disana. Kris menurunkan semuanya, menyingkirkannya dan Chanyeol bertanya-tanya sendiri apa isi semua kardus itu. Kris Wu tidak terlihat seperti pria yang suka menyimpan barang-barang rongsokan.

"Perlu kubantu?"

"Tidak perlu. Sudah hampir selesai kok." Lalu, seolah merasakan pertanyaan yang tidak terucapkan, Kris berkata, "Seharusnya aku sudah menyingkirkan barang-barang ini sejak lama."

"Apa yang akan kau lakukan dengan barang-barang itu?"

"Jessica dulu suka membantu di tempat penampungan wanita. Sebagai konselor, dan semacamnya. Aku meneruskannya setelah dia meninggal. Mereka pasti senang..." Kris terdiam. "Jessica senang jika barang-barangnya bisa bermanfaat."

"Aku yakin begitu." Chanyeol melihat ke sekeliling, lalu melihat alat penyedot debu. "Well, omong-omong, aku bisa membersihkan karpetnya."

"Dengan harga sewa yang kaubayar?"

"Kau selalu bisa menurunkan harga sewanya. Aku bukan orang yang angkuh kok."

Kris menyeringai. "Ya, well, mungkin aku akan melakukannya. Kita harus membahas soal itu. Tapi pembersihan rumah seperti biasanya dilakukan hari senin, setelah Mrs Jacobs kembali dari liburannya."

"Mrs Jacobs?"

"Dia datang selama beberapa jam setiap pagi."

"Sungguh? Sehun tidak pernah menyebut-nyebut soal dia."

"Sehun mungkin mengira para peri yang membersihkan rumah sementara dia tidur," ujar Kris sambil tersenyum datar. "Tapi kamar ini sudah cukup lama tidak disentuh."

"Kenapa?" terlambat, kata-kata itu sudah keluar sebelum Chanyeol mampu menahannya dan ia melihat Kris menarik diri.

Kenapa? Kris tidak langsung menjawabnya. Sudah berapa kali Kris mengajukan pertanyaan itu pada dirinya sendiri? Kenapa Jessica? Kenapa Sophia? Kenapa aku? Tak ada jawaban.

Kris menatap kebun ke arah pohon tempat ia berencana memasang ayunan. Tempat yang dipilihnya untuk membuat kotak pasir. Yah, mungkin Taehyung bisa menikmati kotak pasir itu.

Kris bisa saja bilang pada Chanyeol bahwa kamar itu dulu merupakan kamar bayi perempuannya, tapi sebaliknya ia mengulurkan tangannya ke atas dan melepas tirai yang membingkai jendela. Gambarnya sudah memudar. Lalu ia berbalik untuk menjawab pertanyaan itu. "Karena kamar ini tidak diperlukan." Jari-jari Kris menelusuri dinding. "Aku harus mendekor ulang."

"Kalau kau berpikir untuk buru-buru membeli sekaleng cat sekarang, jangan! Tolong!"

"Beri tahu aku kalau kau berubah pikiran." Dan Kris menyadari dirinya sedang tersenyum. "Kau boleh memilih warnanya. Mungkin kau lebih suka kertas."

"Kris! Kuning sudah bagus. Warna yang cerah. Terang. Sempurna."

Kris mengangkat tangannya berpura-pura menyerah.

"Kemarin kau tidak sabar untuk menyingkirkanku," Chanyeol mengingatkannya. "Apa yang menyebabkan kau tiba-tiba berubah seperti ini?"

"Aku menepati isi surat perjanjian sewamu, Chanyeol. Setidaknya, aku menepati isi surat perjanjian sewamu yang baru."

"Tapi aku tidak perlu.."

"Surat perjanjian sewamu yang baru." Sela Kris, "Memiliki keuntungan karena keabsahannya."

"Keabsahan? Surat perjanjian sewa milikku seratus persen absah. Setidaknya..." ia terdiam, sesuatu di wajah Kris memperingatkannya bahwa ia tinggal selangkah lagi terperosok dalam masalah serius. "Sebaiknya kau memberitahuku."

"Kyungsoo, gadis di agen penyewaan, adalah bekas teman sekolah Sehun, Do Kyungsoo. Waktu menelepon dalam keadaan putus ada untuk pindah ke suatu tempat secepat mungkin, agen itu tidak bisa menolongmu. Mereka memiliki ketentuan untuk mencari referensi dulu, yang akan memakan waktu. Jadi Kyungsoo, yang sangat ingin menolong teman lamanya, menghubungkanmu dengan Sehun, dan bahkan membuatkan surat perjanjian sewa standar dari agen itu."

"Agen itu tidak tahu?"

"Sama sekali tidak. Sebenarnya manajernya agak marah, itu sebabnya aku minta mereka membuat surat perjanjian sewa lain dan membayar biaya mereka, kalau-kalau mereka memutuskan untuk mempermasalahkan hal ini. Kau bisa menemukan surat perjanjian sewa yang baru di meja ruang depan. Kau tinggal menandatananginya."

"Tapi..." Chanyeol mencoba mencerna kata-kata Kris. "Kau bisa saja mengusirku."

"Kurasa aku bisa melakukannya."

"Apa imbalannya?" tuntut Chanyeol.

"Tidak ada imbalan. Tak ada ikatan. Tidak semua pria... well... " Kris mengangkat bahu, menghindari kata yang tidak ingin diucapkannya. "Sebut saja dengan kata apa pun yang menurutmu paling cocok. Kau perlu tempat tinggal. Aku punya kamar lebih." Kris memandang sekeliling kamar yang sekarang kosong itu, ekspresi wajahnya tak terbaca. "Jangan memperumit masalah ini."

"Aku..." Chanyeol hampir bertanya rencana Kris mengenai Grady, tapi ia berubah pikiran. Pria itu sudah berusaha sekuat tenaga memberinya tempat tinggal dan memenuhi kewajiban yang terpaksa ditanggungnya akibat ulah keponakannya yang gegabah. Chanyeol tidak bisa meminta pria itu menyingkirkan anjingnya. "Terima kasih, Kris."

"Kalau begitu aku akan membawa Taehyung turun, ya?" Kris tidak menunggu jawaban, langsung berjalan melewati Chanyeol di ruang belajar, dan mengangkat Taehyung dari kursi kecilnya. "Makan siang lima belas menit lagi?"

"Mmm, ya. Kurasa."

Chanyeol bisa melakukan banyak hal dalam lima belas menit. Biasanya. Tapi usai membersihkan karpet, ia tidak bisa berkonsentrasi pada websitenya.

Alih-alih, ia menelepon kakaknya. Dengan sedikit keberuntungan, mungkin Luhan akan mengangkat sendiri teleponnya.

Ia menghela nafas saat mendengar alat penerima pesan berbunyi. "Luhan, Baekhyun, kalau kalian sudah bangun dan sedikit saja tertarik... aku sudah pindah dari Taplow Tower."

Bukan hanya tubuhnya, Chanyeol menyadari, tapi juga jiwanya. Tadinya ia marah, tapi sekarang, well, ia siap mengakui bahwa tinggal disana memang akan menjadi kesalahan. Terlalu mudah untuk lari, bersembunyi, dan mengobati lukanya. Kris benar, tidak semua pria seperti Jongin. Walaupun begitu, Chanyeol tidak akan membiarkan kakaknya bebas semudah itu.

"Sementara ini aku tinggal di Costwold Street," ujarnya. "Nomor 27. Kalian akan menerima tagihan untuk semua biaya kepindahanku dalam waktu dekat." Lalu Chanyeol menambahkan, "Omong-omong, Taehyung baik-baik saja." Dan seolah-olah mendapatkan pikiran lain ia berkata, "Tapi kalau kalian sudah puas tidur, bisakah kalian segera menjemputnya? Aku punya kehidupan juga, kalian tahu. Dan kalau lain kali kalian perlu istirahat, bilang saja, hmmm? Aku akan menyediakan waktu, aku janji."

.

Di tempat lain...

"Kehidupan? Dia punya kehidupan?"

"Dia memang kedengaran berbeda."

"Dia kedengaran lebih seperti dirinya yang dulu."

"Sebelum Taehyung?"

"Sebelum Jongin. Ya Tuhan, aku ingin sekali mencekik leher pria itu. Tapi aku akan memuaskan diridengan menciummu saja. Kau memang brilian, Baek. Aku tahu betapa beratnya minggu ini untukmu."

"Ah, tidak seberat itu kok. Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu sebanyak ini di tempat tidur semenjak bulan madu kita."

"Semua hal yang bagus harus berakhir."

"Benar, tapi, karena Taehyung ada di tangan yang baik, kurasa kita bisa meninggalkannya dengan aman selama satu-dua jam lagi."

Abaikan pasangan diatas, dan kita kembali ke kediaman Kris... ^^

.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Kris menengadah. "Menyuapi Taehyung," sahutnya kalem. "Dia lapar. Pasta dengan keju. Benar, kan?"

"Tapi... Bagaimana kau tahu?"

"Ada daftarnya di samping kotak. Entah kau ini sangat teratur atau punya ingatan yang buruk. Bagaimanapun juga, menurut daftar itu kalau hari Jumat Taehyung harus makan pasta."

Kris menawarkan sesendok lagi pada Taehyung. Bayi itu melahapnya. Tanpa meludah, tanpa macam-macam. Kris lebih baik dalam hal ini daripada aku, pikir Chanyeol, benar-benar terkesan.

"Kalau begitu, aku, mmm, akan membuat susunya."

"Sudah jadi kok," ujar Kris. "Sedang didinginkan."

"Kau cukup ahli."

"Itu masih bisa diperdebatkan, tapi aku cukup mampu mambaca beberapa instruksi sederhana. Jadi kau bisa berhenti berkeliaran seperti lebah yang gugup, duduk, dan ambil saja sandwichnya." Kris mengulurkan tangan dan menuang segelas anggur untuk Cahnyeol. "Karena kita sedang piknik dalam rumah, aku pikir kita bisa memanfaatkan lemari es di dekat kita dan menghindari hukum yang melarang minum-minum di tempat umum."

"Benar," ujar Chanyeol, sedikit kehabisan nafas. Ketika hampir bergabung dengan Kris di bangku kebun yang panjang, ia melihat Grady di bawah meja di kaki pemiliknya. Anjing itu berbaring di atas rumput, kepalanya direbahkan. Grady hanya memutar bola matanya ke arah Chanyeol, menghela nafas, lalu matanya terpejam lagi.

Kris, yang memperhatikan kebimbangan Chanyeol, bergeser sepanjang kursi.

"Aku duduk dekat kepalanya, kau bisa duduk dekat ekornya."

"Terima kasih," ujar Chanyeol. "Kurasa..." Chnayeol duduk dengan sangat hati-hati di ujung bangku, mengangkat gelas, dan menyesap anggurnya. "Kau tuan rumah yang lebih bain daripada Sehun."

"Terlepas dari anjingnya?"

"Anjing... kucing..." Chanyeol kembali menyesap anggurnya untuk mengalihkan pikirannya dari pergelangan kakinya yang berkedut. "Kau mau aku mengambil alih sekarang?"

"Tidak, kami hampir selesai kok." Dengan cekatan Kris menangkap tetesan makanan dengan sendok dan menyuapkannya kembali ke mulut Taehyung. "Berapa umurnya?"

"Eh..." tangan Chanyeol terangkat gugup waktu ekor grady bergoyang mengenai belakang kakinya dan ia menumpahkan sedikit anggur ke roknya. Kris memberinya sehelai serbet dan Chanyeol cepat-cepat membersihkan noda itu, sambil mengingatkan dirinya dengan cukup tegas bahwa ekor tidak menggigit. "Mmm... enam bulan." Ia mengambil sepotong sandwich. "Wah, enak sekali. Kau benar-benar pandai menangani urusan rumah tangga."

"Untuk ukuran Pria? Kalau aku membuat komentar semaca itu mengenai keahlianmu dengan komputer, kau pasti menuduhku melecehkanmu."

"Mau pria atau wanita, yang pasti kau benar-benar mengalahkanku."

"Ya, well, ini karena aku sudah lama tinggal sendirian."

"Tak ada keluarga? Saudara laki-laki? Saudara perempuan?" Chanyeol buru-buru menambahkan untuk mengalihkan pikiran Kris dari istrinya yang sudah meninggal.

"Satu saudara perempuan, Victoria. Ibu Sehun. Dia sudah bercerai. Ibuku sekarang hampir memasuki masa pensiun dan tinggal di perancis. Ayahku sudah meninggal."

"Apa ayahmu juga pengacara?"

"Kami semua pengacara. Ibuku, ayahku semasa hidupnya, Vic, bibiku..." Kris terdiam sejenak dan Chanyeol menyambung kata-katanya. Istrinya. Istrinya juga pengacara. Begitulah cara istrinya membantu para wanita di tempat penampungan. Memberi konsultan hukum. "Dan Sehun sudah pasti akan mengikuti jejak ibunya dan bergabung dalam tradisi keluarga," lanjut Kris sesaat kemudian. "Itu kalau dia bisa menenangkan diri dan mendapatkan nilai yang bagus saat melakukan ujian ulangnya." Kris membersihkan mangkuk itu dengan sendok dan menyuapi Taehyung dengan suapan terakhir makan siangnya. "Bagaimana denganmu? Dimana orangtuamu?"

"Sedang keliling dunia. Ayahku menjual usahanya beberapa bulan lalu, dan dari pesta pensiunan mereka langsung berangkat ke bandara. Mereka seharusnya ada di Cina sekarang." Ia mulai berdiri. "Sebaiknya aku mengambil botol susu Taehyung."

"Tidak usah. Aku akan mengambilnya beberapa menit lagi," ujar Kris sambil meletakkan tangannya dengan ringan di bahu Chanyeol, menahan wanita itu tetap disampingnya. Jari-jari Kris terasa hangat melalui kain tipis bajunya, sentuhannya mempengaruhi Chanyeol, melingkupi jiwanya, dan ia merasakan dorongan yang hampir tak tertahankan untuk menunduk dan mengusapkan pipinya pada jari-jari itu.

Chanyeol menengadah, terpana oleh kuatnya perasaan yang timbul dalam dirinya. Merasa takut oleh perasaan itu. Nafasnya tercekat diterjang gelombang gairah yang panas. Mungkin sudah saatnya ia bersosialisasi lagi, tapi ia butuh waktu untuk membiasakan diri. Waktu untuk mengembalikan kepercayaan pada instingna. Ia sudah tidak tertarik lagi pada kesenangan berbahaya atas nafsu pada pandangan pertama.

"Tidak," ujar Chanyeol, lebih tajam daripada yang dimaksudkannya, dengan gugup menjauh dari sentuhan Kris. "Kau sudah berbuat banyak." Chanyeol meletakkan gelasnya di meja dan melompat berdiri, butuh menjaga jarak di antara mereka.

Grady merespon dengan semangat. Anjing itu bangkit berdiri, menyalak, lalu menjatuhkan diri ke tanah menaati perintah tajam Kris saat Chanyeol menjerit gugup. "Oh, Tuhan," ujar Chanyeol. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan itu... aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan benar-benar berusaha... kau pasti berpikir aku sangat lemah."

"Aku tidak berpikir kau lemah. Aku pikir kau sudah sangat terluka. Kau sudah dicampakkan oleh pria yang kaupercayai, diusir dari rumahmu hanya karena masalah sepele dalam peraturan sewa. Kau lelah dari bekerja terlalu keras. Di atas semua itu kau sudah berusaha dengan sangat berani untuk mengalahkan ketakutanmu terhadap Grady."

Chanyeol melupakan anjing yang berbaring di kakinya. "Bagaimana kau tahu semua itu?" tanyanya.

Kris mengangkat bahu. "Aku suka berpura-pura memiliki semacam kekuatan istimewa untuk bisa melihat alasan di balik perilaku seseorang. Kenyataannya tidak ada yang istimewa. Aku pergi ke Taplow Towers pagi ini dan dengan sedikit imbalan penjaga pintunya jadi senang bergosip. Dia menjelaskan semuanya."

Chanyeol menatap Kris tanpa berkedip, hampir tak bisa percaya bahwa pria itu mengakui sudah mencari tahu mengenai dirinya. "Kau memata-mataiku..."

"Aku tidak berniat begitu." Kris berusaha meraih tangannya, tapi Chanyeol bergerak menjauh dari jangkauannya. "Sungguh Chanyeol. Aku menginginkan informasi, itu saja. Aku tadinya berharap bisa memberikan semacam tekanan pada ayah Taehyung untuk membantumu mengumpulkan uang jaminan supaya kau bisa menyewa tempat tinggal sendiri yang layak. Kau akan terkejut mengetahui apa yang bisa dilakukan selembar surat dari pengacara."

Sesaat Chanyeol tak sanggup berkata-kata menghadapi perhatian semacam itu. Hanya saja itu bukan perhatian, Kris hanya menginginkan ia pindah secepatnya. "Kalau begitu, aku menyesal kau sudah membuang-buang waktumu tadi pagi," tukas Chanyeol.

"Sama sekali tidak. Banyak yang kudapatkan."

"Aku yakin begitu. Tapi sebenarnya kau tidak perlu membayar untuk informasi itu. Kalau kau bertanya, aku pasti menceritakannya padamu. Bagaimanapun juga, kau memang akan segera mengetahuinya." Luhan dan Baekhyun mungkin akan segera muncul.

Kris menggelang. "Tidak jadi masalah, Chanyeol. Tinggalah disini. Kau boleh tinggal selama yang kau mau."

"Surat perjanjian sewa hanya mencatumkan tiga bulan."

"Dalam surat perjanjian sewa buatanku ada pilihan untuk memperpanjang. Kalau-kalau kau tidak bisa menemukan tempat yang ingin langsung kau beli. Mencari rumah tidaklah muda." Kris mengangkat sebelah alisnya, mengundang Cahnyeol untuk ikut tersenyum. "jangan bilang kau tidak membcanya dengan seksama sebelum menandatanginya."

"Tidak setiap kata," akunya. Chanyeol bingung. Kalau memang penjaga pintu itu sudah menceritakan segalanya, kenapa Kris tidak marah karena ia sudah berpura-pura menjadi ibu Taehyung. "Kau tidak marah?"

"Marah? Kenapa aku harus marah? Kau yang diusir dari rumahmu. Kau yang harus erawat bayi sendirian."

"Aku tahu, tapi seharusnya aku sudah menjelaskan. Tadinya aku memang berniat memberitahumu, tapi aku pikir kalau kau tahu yang sebenarnya kau akan memaksaku pergi."

Kris terang-terangan terlihat jijik. "Memangnya kau anggap aku ini orang macam apa?" kemudian Kris berkata, "Dia benar-benar sudah melukaimu, benar kan?"

Pipi Chanyeol seperti terbakar. Kris tidak hanya tahu ia sudah berbohong padanya dengan beberapa kebenaran yang dihilangkannya mengenai Taehyung. Kris juga mengetahui semuanya mengenai Jongin. Ya Tuhan, benar-benar memalukan. Chanyeol menutupi pipinya yang panas dengan kedua tangan dan sambil mengerang dalam hati betanya-tanya berapa banyak yang sudah didapatkan pria itu dari alamat lamanya sebelum Taplow Towers.

Ia menduga penjaga pintu di Towers juga yang sudah memberi Kris alamat itu. Selama berminggu-minggu surat-suratnya dialihkan dari sana. Dan sedikit uang sogokan pasti juga berhasil mengorek informasi dari sana, padahal Chanyeol begitu berhati-hati menggunakan jasa informasi publik di internet untuk mencari tahu soal Kris.

"Permisi," ujar Chanyeol kaku, saat kenyataan menghantamnya, dan ia mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi. "Aku akan mengambil Taehyung, kalau kau tidak keberatan."

"Jangan bersikap seperti ini." Kris berdiri, menangkap lengan Cahnyeol, dan tidak mau melepaskannya. "Tolong tinggallah dan selesaikan makan siangmu."

"Makanan itu hanya akan membuatku tersedak. Dan aku lebih suka kalau kita gunakan lagi panggilan Ms Park dan Mr Wu," ujar Chanyeol, sambil menatap tangan yang memegang lengannya sampai Kris melepaskannya.

"Aku benar-benar hanya berusaha membantu," ujar Kris.

"Sungguh? Kau tidak mencoba membuatku merasa benar-benar muak, supaya aku akan memberitahumu dimaan kau bisa menancapkan surat perjanjian sewa barumu yang hebat itu? Dan pilihannya untuk memperpanjang?"

"Untuk apa aku melakukan itu?"

"Karena dengan begitu kau bisa mengusirku dan kalau aku mengeluh kau bisa menunjukkan surat perjanjian sewa baru yang baru saja kau tanda tangani. Kau bisa menunjukkan pengurangan tarif sewa, perabot yang baru kau beli, aku hanya akan menjadi wanita bodoh dan histeris yang tidak tahu saat dia kalah!" Kemudian, karena air matanya hampir tumpah, Chanyeol berbalik dan bergegas berjalan kerumah. Grady membuntuti di belakangnya. "Tiarap!" bentaknya, dan anjing itu langsung merespons.

Chanyeol masih berusaha mengatasi rasa shocknya saat Kris memanggilnya.

"Dan apa kau akan mengaku kalah, Ms Park?"

Chanyeol memutar tubuhnya menghadap pria itu lagi. "Tidak akan, teman pengacaraku," jawabnya. "Tidak akan."

"Cuma bertanya," balas Kris tenang. "Kalau-kalau aku perlu membatalkan pesanan tempat tidurnya."

Chanyeol memandangnya. Ia terkejut saat Kris Wu hanya tertawa. Well, ia bisa memperbaiki itu. "Kalau kau membatalkannya, Mr Wu, aku jamin kau akan tidur di sofa selama beberapa waktu mendatang."

"Ya. Madam," ujar Kris.

Tapi saat sedang berjalan melintasi dapur, sambil mencengkram botol susu Taehyung, Chanyeol menyadari suara tawa Kris mengikuti langkahnya sampai ia menaiki tangga.

.

Chanyeol sedang bekerja waktu perabotnya tiba. Ia bertekad tidak mengacuhkan para pekerja yang mondar mandir, menolak untuk melihat bahkan waktu ia mendengar suara wanita, menolak untuk terkesan, maupun menawarkan bantuan. Ia bahkan tidak akan memberi Kris kepuasan dengan bangkit dari tempat duduknya dan menutup pintu ruang belajar untuk menghalangi kegiatan itu dari pandangannya.

"Sudah selesai. Chanyeol. Kau mau melihatnya?"

Kris sudah berdiri di ambang pintu selama setidaknya satu menit. Dan Kris tahu Chanyeol mengetahui kehadirannya. "Aku yakin kamar itu pasti akan bagus."

"Mungkin kau ingin memerikasa apa kasurnya sesuai dengan keinginanmu."

"Kalau tidak, kau bisa tidur di situ."

"Aku akan menolak godaan untuk bertanya apakah itu sebuah undangan..." Chanyeol memelototinya. "Aku hanya akan bilang bahwa belum terlambat untuk mengganti kasurnya kalau kau tidak merasa nyaman. Jadi periksalah, atau kau harus puas dengan apa yang ada."

Chanyeol menghela nafas. "Baiklah. Kalau kau memaksa." Ia buru-buru melewati Kris menuju kamar barunya. Dan berhenti. Kamar itu sudah berubah drastis. Tampak baru dengan tirai-tirai warna hijau lumut digantung di depan jendela, tempat tidur, dan lemari pakaian sama-sama bergaya Perancis, bergaya pedesaan yang menyegarkan.

Para pria pengantar barang berdiri di lorong, menunggu persetujuannya, bersama seorang wanita yang tampaknya sudah mengatur seprai linene, menggantung tirai, dan mendandani tempat tidur itu. "Kris aku tidak tahu harus bilang apa."

"Itu berarti dia menyukainya," ujar pria pengantar barang itu yakin.

"Aku lebih suka mendengar langsung darinya." Kris menunjuk tempat tidur.

Chanyeol mencoba kasur itu. "Sepertinya bagus," ujarnya.

"Tidakkah sebaiknya kau berbaring dan memastikan kasur itu memang bagus?"

Sekarang Kris bercanda. Mungkin Chanyeol tadi sudah sedikit kejam dalam menilai pria itu. "Mungkin sebaiknya kau lakuakn." Ia menendang lepas sepatunya duduk di ujung tempat tidur, lau berbaring di atasnya. "Ini luar biasa," ujarnya, sambil melipat tangan di belakang kepalanya di atas bantal. "Aku ingin mengundangmu untuk mencobanya, tapi mungkin nanti kau ingin bertukar."

"Sebagus itu, hmmm?" Kris duduk di sisi lain tempat tidur, kemudian berbaring di sampingnya. Hati Chanyeol yang berkhianat mulai berdebar kencang. "Kau benar." Kris tersenyum lebar ke arah si pengantar barang. "Kami akan membelinya," ujar Kris dan tanpa bergerak menerima clipboard dari orang itu, menandatangani kuitansinya, dan mengeluarkan uang tip dari saku kemejanya. "Tolong sekalian tutup pintunya saat kalian keluar, ya?"

Mereka sama-sama diam saat para pekerja keluar. Semenit atau dua menit kemudian pintu depan dibanting menutup, dan perlahan-lahan kesunyian muncul kembali hingga satu-satunya yang bisa Chanyeol dengar hanyalah denyut nadinya sendiri yang bergema di telinganya. Akhirnya, saat ia sudah tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, Chanyeol berkata, "Kau tidak perlu melakukan semua ini, Kris. Yang aku butuhkan hanya satu tempat tidur untuk beberapa minggu..."

"Memangnya kau akan menyimpan pakaianmu dalam beberapa minggu di koper?"

"Yah..." sambil memandang Kris dengan pandangan tak menentu, ia menambahkan, "... mungkin tidak."

Kris terus menatap langit-langit dengan konsentrasi yang sama seperti kalau dia sedang melihat Kapel Sistine. "Kalau kau memutuskan untuk tinggal, kau harus merasa nyaman."

Bagaimana Chanyeol bisa berpikir bahwa Jongin itu tampan? Dibandingkan pria di sampingnya, Jongin hanya kelihatan sedikit tampan. Dan lemah. Hanya indah di permukaan, tanpa kekuatan di dalam dirinya. Profil Kris tinggi dan kuat... tangan Chanyeol mencengkram seprai untuk mencegah dirinya menyentuh wajah Kris, melumat bibir bawah pria itu dengan bibirnya, mengecapnya, memilikinya... "Kau takkan bisa menyingkirkanku kalau kau terus bersikap begini, kau tahu," ujar Chanyeol buru-buru.

"Tidak? Well, mungkin aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu disini."

Lalu Kris berbalik, dan memandangnya. "Mungkin aku tidak mau menyingkirkanmu."

Jantung Chanyeol, yang dari tadi sudah berdegup kencang tapi teratur, sepertinya kehilangan satu detakan. "Aku bukan orang rumahan, kau tahu. Aku tidak bisa masak..."

"Bahkan memasak nut cutlet sekalipun?" suara Kris seperti sutra di kulitnya. Sudah saatnya untuk bergerak.

"Terutama b-bukan n-nut cutlet?" Cahnyeol tergagap-gagap, merasa malu oleh pertanyaan itu.

"Kenapa tidak? Kau suka makan, bukan?" Kris begitu percaya diri dan terus menggodanya.

"Tentu saja aku suka makan, tapi untuk satu..." Chanyeol berusaha bernafas, "... seringnya untuk satu orang. Lagi pula, sepertinya tidak ada gunanya membuat yang rumit-rumit."

"Kau selalu makan diluar? Saat kau masih bersama pria itu?" Kris terdengar terkejut atas kenyataan itu. "Kau dan Jongin?"

Jadi Kris mau tahu semua detailnya yang memalukan. Merasa kecewa, Chanyeol sama sekali tidak mendapati kesulitan untuk bernafas lagi. "Tidak. Kami lebih sering memesan makanan. Aku sibuk, dia tidak bisa... atu lebih tepat tidak mau... bersusah payah." Buat Jongin bersusah payah? Bukankah ada Chanyeol yang melakukan semuanya?

"Ibuku selalu bilang, jangan pernah mempercayai pria yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri," Kris memberitahu Chanyeol. "Kau tak pernah bisa yakin dengan alasannya. Apa dia menginginkanmu karena dirimu? Atau hanya membutuhkan seseorang yang tahu cara membuka kaleng?"

"Ibuku selalu bilang bahwa kau bisa tahu segalanya yang perlu kau ketahui tentang pria dari caranya menangani barang bawaan yang hilang, hujan waktu piknik, dan lampu pohon natal," balas Chanyeol. "Sayangnya barang bawaan yang hilang dan lampu pohon natal tidak terjadi cukup sering untuk dijaikan pedoman karakter yang berguna. Dan kami tidak suka piknik." Ia berbalik menghadap Kris. "Kemampuan mengurus diri sendiri memang lebih bisa menentukan. Ibumu wanita yang bijaksana."

"Begitulah yang selalu dikatakannya padaku. Secara pribadi, aku selalu berpikir itu hanya cara halus untuk menyuruhku belajar masak dan bersih-bersih. Bagaimana kau bertemu dengannya?"

Chanyeol terkejut betapa mudahnya ia membicarakan Jongin. Bagaimana hal itu hanya sedikit melukainya. "Dia mengetuk pintu apartemenku, untuk meminjam sebotol kopi, persis seperti iklan konyol di televisi." Kejadiannya sangat klisehingga seharusnya Chanyeol bisa mengenali tipuannya, tapi saat itu ia terlalu terkesima oleh senyum yang mempesona, gaya rambut lurus Jongin yang bagus, serta tubuh yang terpahat bagai dewa Yunani. Semua itu membuatnya tidak mampu berkata-kata secara tepat, apalagi menggunakan akal sehatnya. "Well, dia aktor. Setidaknya dia mengaku begitu. Mungkin dia hanya ikut audisi untuk sebuah peran. Singkatnya, aku ;angsung luluh melihat ketidakberdayaan serta senyum mautnya. Menengok ke belakang dengan pikiran yang jernih, aku curiga dia sudah melatih dua hal itu di depan cermin."

"Dia tetanggamu?" Kris tampak terkejut mendengarnya.

Chanyeol mengernyit saat berputar untuk melihatnya. "Bukan, dia tinggal bersama beberapa teman yang berbagi apartemen di lantai atas apartemenku. Tidur di sofa. Sesuatu yang sekali lagi jika dilihat kembali, kuduga sering dilakukannya."

"Oh, aku mengerti."

"Sayangnya, waktu itu aku tidak mengerti. Aku menduga tetanggaku yang baik itu tidak mau menampung Jongin di ruang tamu mereka lebih lama dari yang benar-benar diperlukan dan disanalah aku, masih lajang dan memiliki tempat tidur double yang nyaman dan hanya digunakan separuh.."

"Orang-orang baik."

"Mungkin mereka memang baik. Well, mungkin tidak baik tapi ssedikit putus asa untuk menyingkirkan tamu yang tak diundang." Kemudian Chanyeol tersenyum. "Agak seperti kau."

"Oh."

"Kau benar. Maafkan aku." Secara tak sadar Chanyeol mengulurkan sebelah tangannya dan menggenggam tangan Kris. "Kau sama sekali tidak seperti mereka." Ujarnya. "Sedikitpun tidak."

"Kau terlalu baik hingga membahayakan dirimu sendiri."

"Ya," ujar Chanyeol penuh perasaan. "Mabuk kepayang gara-gara seorang pria memang bisa mengakibatkan efek seperti itu. Lima puluh pound untuk potong rambut karena ada audisi yang harus dihadirinya. Seratus pound untuk makan siang di luar bersama agennya. Jumlahnya terus bertambah. Baru ketika tagihan dari datang, aku terbangun dari mimpiku. Gagasan dua orang bisa hidup semurah hidup sendirian, tidak sepenuhnya benar, kau tahu."

"Aku tahu."

Sial! Chanyeol tidak bermaksud mengintakan Kris tentang istrinya. "Ya, well, usulku supaya dia ikut menyumbang biaya hidup kami menghantamnya. Tepatnya menghapus rasa cintanya. Walaupun dia pintar mengalihkan perhatian..." berapa kali Jongin menggunakan rayuan klasiknya 'ini cincin pertunangan ibuku' pada wanita yang bisa dibujuk untuk mengurusnya? Berapa banyak sudah cincin itu dikembalikan padanya untuk disimpan lagi? Chanyeol seharusnya membuang benda itu ke tempat sampah, tempat yang semestinya.

"Dan tetanggamu tidak memperingatkanmu?"

"Bahwa Jongin sering berbuat seperti itu? Tidak. Kenapa mereka harus melakukannya? Mereka temannya, bukan temanku. Itu sebabnya aku tidak bisa tinggal disana, setelah semuanya berakhir. Waktu aku menyadarinya. Berpapasan dengan mereka di lorong... membuatku marah dan merasa bodoh. Aku perlu pergi dari semua itu."

"Tapi kupikir kau pindah karena...?" Kris tidak melanjutkan kata-katanya dan hanya mengangkat bahu. "Itu tidak penting."

"Kau benar, itu memang tidak penting. Sudah berakhir. Terlupakan."

"Kau begitu... pemaaf. Aku tahu orang-orang yang bisa melakukan pembunuhan tanpa alasan yang jelas."

"Itu karena kau pengacara. Kau sudah bertemu orang-orang yang sudah menemui jalan buntu. Aku sih Cuma membodohi diriku sendiri. Mengizinkan Jongin membodohiku." Chanyeol merenggangkan badannya. "Kuakui untuk beberapa waktu aku merasa sangat rendah. Aku merasa dimanfaatkan. Muak. Dan bertekad sungguh-sungguh seumur hidup takkan pernah lagi melibatkan diriku dengan pria lain."

"Tapi?" tanya Kris lembut. Ia berguling menghadap Chanyeol dan bergerak mendekat, tangannya terus menggenggam tangan Chanyeol.

"Tapi?" ulang Chanyeol dengan suara agak berat oleh emosi.

"Sepertinya ada tapi yang mengikuti kalimatmu tadi."

"Benarkah?" Chanyeol menelan ludah dengan susah payah. "Kurasa begitu. Beginilah, Kris. Kehidupan. Mungkin tidak sempurna, tapi tidak ada gladi resik. Kau harus membereskan semua kekacauan, meninggalkan semua itu di belakangmu, mau terus..." suara Chanyeol menghilang saat tangan Kris terangkat dan menyentuh pipinya, membelai bibirnya dengan ibu jari, kemudian menyelipkan jemari di rambut Chanyeol sebelum meraih wanita itu dalam pelukannya, awal dari ciuman yang sudah dapat dipastikan akhirnya.

"Tinggallah disini," ujar Kris. "Aku ingin kau tinggal disini."

Setiap sel dalam tubuh Chanyeol memaksanya untuk berjanji, untuk mengatakan 'Ya, please.'. mengabaikan akal sehat, pelajaran yang telah diperolehnya, dan terjun kembali ke perairan penuh ikan hiu dari hubungan antara lawan jenis ini. Tapi tidak seperti ini. Ia perlu memegang kendali, membuat keputusan yang rasionalm bukan keputusan emosional yang hanya didasari kebutuhan untuk dipeluk, untuk dicintai. Lain kali ia akan melakukan yang benar.

"Kris..."

Kris menciumnya, bukan di bibir, tapi di dahi. Pria itu lalu bangun dari tempat tidur dan membuat jarak selebar ruangan di antara mereka sebelum Chanyeol sempat memprotes, sebelum ia sempat menyesalinya.

"Kris!" kris berhenti di ambang pintu saat Chanyeol bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arahnya dan memegang lengan pria itu. "Terima kasih. Untuk semua ini."

"Kembali."

"Dan tentang tinggal..."

"Selama yang kau inginkan," Kris menyelanya. "Kalau memerlukan bantuanku untuk mencari flat dengan didampingi pengacara, beritahu aku."

Kris sepertinya menjaga jarak dan Chanyeol melepaskan tangannya. "Perlu waktu lama untuk menemukan tempat yang bisa menyamai rumah ini," ujar Chanyeol, sambil berbalik dengan cepat untuk melihat ke kebun di bawah. Kemudian, masih menghindari tatapan Kris, ia berkata, "Sebaiknya aku memindahkan tempat tidur bayi dari kamarmu supaya kau bisa mendapatkan kamarmu seperti semula."

Kris tidak merasa hal itu jadi masalah. Orang yang berbagi kamar denganmulah yang membuat kamar itu terasa nyaman. Tapi ia punya banyak waktu. Tubuhnya mungkin memaksanya untuk mengejar ketinggalan selama sepuluh tahun yang dihabiskannya dalam kehampaan, tapi ia perlu meyakinkan Chanyeol bahwa hatinya benar-benar tulus. "Biarkan saja," ujarnya. "Taehyung masih tidur dan masih ada pekerjaan yang harus kau selesaikan. Kau sendiri yang terus mengatakannya padaku. Aku akan mengurusnya nanti."

.

.

.

.

.

TBC...

.

"Aku ayah Taehyung"

"Kau fikir aku memanfaatkanmu dan Taehyung sebagai pengganti Jessica dan Sophia."

"Kita menyewa mobil dan jauh-jauh dari Perancis kesini hanya untuk itu?"