"KOMET and MAID"
.
.
.
Maaf updatenya lama.. :D
Baru 2 hari masuk tugas da numpuk dan saya masih tetep ketiduran di kelas
waktu jam pelajaran XP
Yosshh... langsung baca aja ... yang review makasih ya...
.
.
.
liwen99: Hahaha.. O.O/ Saya akan berusaha..
Maria Imaculata Apriliani : Gak bisa kilat ni updatenya.. saya da mau masuk sekolah soalnya.
Kazurin : Diusahakan akan saya lanjut ampek finish
Ayu.p : Chapter selanjutnya menunggu hehehe... :D
Ayano Arakida : Okey ,... di tunggu ya..
KK LOVERS : Heemm..maaf ya gak bisa update kilat ..
RevmeMaki : Iya maki ni da lanjut :D
Kazurin : Okey siappp... :D
.
.
.
"KOMET and MAID CHAPTER 2"
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil
Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc =_="
Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.
.
.
.
"PERTEMUAN"
.
.
.
Mereka berdua terus saja berlari. Kazune mengejar gadis berkacamata itu tanpa henti.
Gadis itu terus berlari menaiki tangga lantai paling atas sekolah itu.
Cowok berambut pirang itu berlari tak mau berhenti, walaupun ia menyadari kalau bel masuk kelas sudah berbunyi kira-kira 7 menit yang lalu.
"Kemana dia akan berlari, kalau begini terus aku akan mendapat image yang buruk di hari pertama masuk sekolah. Payyaaaahhh..." teriaknya kesal.
Gadis itu membuka sebuah pintu dan terlihatlah sebuah cahaya pagi yang menyilaukan.
Kazune menutupi sedikit pandangannya dengan tangannya agar cahaya itu tak sepenuhnya membuatnya silau.
Kazune mempercepat larinya, ia menerobos pintu yang dibuka gadis berkaca mata itu.
"Apa maumu?" gadis berambut coklat dikuncir dua itu berteriak seenaknya.
"Haahhh...! harusnya aku yang bertanya begitu." Kazune kini berhadapan langsung dengannya.
"Cowok yang lumayan keren, sepertinya dia baru disekolah ini." Pikirnya.
"Apa kau murid baru?"
"Bukan urusanmu!" jawabnya cuek.
"Ohh,"
"Bukannya kau itu vokalis blue devil ya, kenapa penampilanmu aneh begitu?" tanyannya heran.
"Bukan urusanmu." Gadis itu kini melompat menuruni atap gedung sekolah.
"Heii..." Kazune berteriak panik.
Saat menatap kebawah Kazune terperangah dengan tingkah vokalis blue devil itu.
Dia mengerakkan kakinya dengan cepat menginjak tembok gedung kelas sebelah sebagai pijakan agar tak terjatuh.
"He-battt..." Kazune masih terperangah.
"Kalau kau tak cepat-cepat kau bisa terlambat." Gadis itu berteriak dari bawah dan melambaikan tangannya.
"Ehhh, huaaa..." cowok berambut pirang itu panik tak karuan.
Ia berlari secepatnya melewati pintu dan menutupnya dengan kasar. Ia masih terlihat panik.
Diinjaknya anak tangga tak berdosa itu untuk membawanya kelantai 2 sekolah populer itu.
"Gawat, mana aku tak tahu kelasku dimana lagi?" ia masih berlari.
Dilihatnya jam di tangannya yang kini menunjukkan pulkul 7.25 AM.
"Sebaiknya aku telfon Jin saja." Ia mengambil ponsel disakunya.
Saat layar di ponselnya menampilkan tulisan "Calling Jin..." ia menempelkan ponsel kesayangannya di kupingnya.
"Ada apa?" Jin yang masih dalam kegiatan ajar mengajar diam-diam mengangkat telfon dari Kazune.
Ia menaru telfon itu di sakunya dan sebuah headset kecil melekat cantik di telinganya.
"Aku masuk ruang mana ni?" Kazune masih terus berlari.
Ia berlari menyelusuri koridor lantai dua menuju ruang untuk kelas 2.
"Kamu di kelas 2-B." Jawabnya masih dengan sembunyi-sembunyi.
"Okey thanks." Kazune menutup percakapannya dengan Jin.
Kini matanya yang cantik menatapi setiap papan nama kelas di ruangan yang ia lewati.
"1-A, dan, itu dia 2-B. Yossshhhh ..."
Kazune memperlambat larinya karena sebentar lagi ia sampai dikelasnya.
"Tok tok tok..."
"Masuk."
Ia mendekati sensei yang mengajar dikelas itu.
"Gomen sensei saya terlambat." Ia menunduk tanda menyesal.
"Kamu Kujyo Kazune anak pindahan dari Inggris itu ya?"
"Iya sensei."
"Karena ini hari pertama kamu masuk sensei maafkan, tapi tolong jangan diulangi lagi."
Yang dinasehati hanya mengangguk pasrah.
"Sekarang perkenalkan namamu?"
Kazune menatap kepada calon teman sekelasnya.
"Perkenalkan nama saya Kazune Kujyou, murid pindahan dari Inggris. Salam kenal." Ia menunduk 900
"NahKazune-kun sekarang kau duduk di samping Karin Haruno." Sensei itu menunjuk sebuah bangku kosong.
"Baik sensei." Ia berjalan menuju bangkunya.
"Yoroshiku." Kazune mengulurkan tangannya kepada gadis berkuncir dua disebelahnya.
"Huh..."Gadis yang awalnya asik bercakap-cakap dengan temannya menjawab cuek.
"Haahhh... kau cewek gila yang bikin aku telat." Kata Kazune kesal.
"Salah diri loe ganggu dan ngatain aku aneh. Loe tu yang aneh!" Karin menaikkan nada bicaranya.
"Kazune Kujyou dan Karin Haruno diam kalian berdua. Sama-sama telat masih saja bisa ribut." Bentak sensei.
"Gomen sensei." Mereka menunduk menyesal.
Kazune dan Karin saling bertatapan dan beberapa detik kemudian mereka saling membuang muka bersamaan.
"Menyebalkan." Lagi-lagi mereka mengatakannya bersamaan.
"Apa loh?"
"Lah loh diri kenapa?"
"Dasar rambut jagung." Ejek Karin.
"Masih mending dari pada loh gaya rambut kayak anak TK." Kazune tak mau kalah.
"Sok keren."
"Idiot."
"Apa loh bilang, gue idiot. Loh tu kayak banci." Karin semakin menaikkan nada bicaranya.
Brakk... Kazune memukul bangkunya.
"Cewek aneh."
Braakkk... ganti Karin sekarang yang memukul mejanya.
"Muka aneh."
"Kalian berdua bersihkan kolam renang sekarannnngggg..." Teriak sensei.
"Diem loh." Kata Kazune dan Karin bersamaan.
"Eh.." mereka berdua baru sadar apa yang mereka omongin barusan.
Wajah sensei terlihat merah padam seperti mau meledak.
"Bersihkan semua dan jangan mengikuti pelajaran hari ini sebelum semua selesai." Perintahnya mengintimidasi.
"Huuuaaaapppaaaaa..." lagi-lagi mereka berteriak bersamaan.
"Sekaranggg..." teriaknya makin keras.
"Ba-baikk...!" Karin dan Kazune ngibrit keluar kelas.
"Ini semua salahmu." Ujar Karin yang kini sedang berlari ke kolam renang pria.
"Apa kau bilang, salahku. Loh yang mulai." Kazune membela diri.
"Kau yang salah. Sejak kau datang semua jadi berantakan tau."
"Enak aja, sejak aku ketemu kamu hidupku jadi ancur."
"Menyebalkan."
"Iya."
Mereka saling bertatapan.
"Aku gak ngomong sama kamu."
"Emang sapa juga yang jawab pertanyaan kamu."
Lagi-lagi dan lagi mereka berdua memalingkan muka bersamaan.
.
.
.
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
.
.
.
Mereka kini telah sampai di kolam renang. Di ambilnya peralatan untuk membersihkan satu-satunya kolam disekolah itu.
"Ini akan butuh waktu lama." Keluhnya.
"Hari pertama masuk sekolah sudah dihukum, ketemu cewek aneh. Mimpi apa aku semalem." Ia terduduk lemas di dekat kolam.
"Hei kau, kalau cuma mengeluh tak akan selesai. Cepat kita selesaikan." Ia melempar sebuah alat pembersih.
Kazune menagkapnya dengan sigap.
"Walau kau menyebalkan tapi omonganmu ada benarnya juga." Ia berdiri dan mengangkat celana sekolahnya.
"Ayo kita lakukan." Ia mengajak Karin Hi-Five (Bener gak tulisannya?).
Karin membalas ajakan Kazune.
Mereka kini sedang membersihkan pingiran kolam.
2 Jam kemudian.
"Huaaa... capeknya." Ujar Karin yang terduduk lemas.
"Kau benar." Kazune menyahutinya.
Ia kini tergeletak tak berdaya di lantai.
"Kalau kau tidur di sana, kau bisa sakit." Ujar Karin.
"Tak apa. Aku tak perduli." Jawabnya cuek.
Cliinnggg...
"Heh ada yang bersinar di dalam kolam." Jari telunjuknya menunjuk kearah kolam.
Kazune bangkit mendengar perkataan Karin. Karena penasaran ia cepat-cepat membuka bajunya dan menyeburkan diri kekolam renang.
Ia berenang sesuai komando Karin.
"Disebelah kirimu."
"Lebih kekiri Kazune."
"Sebentar lagi."
"Tepat didepanmu."
Kazune meraih benda berkilau itu.
Ia berenang menghampiri Karin. Karin terkejut saat Kazune naik ke permukaan.
Badannya yang putih bersih dengan cahaya matahri yang menyinari rambutnya membuat Karin bengong.
"Ke-keren." Gumamnya tanpa sadar.
"Hah, apa yang kau katakan?"
Karin tak menjawab, ia masih terkesima dengan penampilan Kazune.
"Ini barang yang kau mau." Ia menyodorkan barang yang berkilau di air itu.
"Hah... apa ini?"
Karin terkejut dengan apa yang diberikan Kazune.
"Apa iniiii..." teriaknya mengema di wilayah kolam dan sekitarnya.
.
.
.
Jreeennn... apa barang yang diterima Karin dari Kazune...
Tunggu chapter berikutnya..
Lagi sibuk jadi maaf kalau pendek dan jelek :p
.
.
.
R
E
V
I
E
W
.
.
.
