"KOMET and MAID"


.

.

.


Yohhooo...

Ketemu lagi dengan Bebek XP

Aku tahu maaf tak cukup untuk pelanggaran janji yang bebek lakukin u,u

Bebek sibuk sih..


.

.

.

: Okey maaf menunggu lama u,u

Ayu.p : Liat aja nanti XP

KK LOVERS : Maaf lagi sibuk nyari kerja ni aku..

kazurin lovers : Sepp

Dci : Sepp…

Katayanagi Namika : Makasih dukungannya :)

Mizuki Shikitei : Okeyy…

Ika : Maaf lagi sibukk..

athena putri nadiyah dan Athiya putri nabilah : Waahh kalian berdua menarik XP aku pakek buat ceritaku ya karakter kalian, boleh gak?

Vivi vivi : Maaf gak bisa panjang XP

RevmeMaki : Udah update XP

Yui : Makasih udah menunggu maaf lama XP

Febniani : Selanjutnya silakan di baca XP

Etc : Thanks :D

Guest : Okey udah lanjut XP

.

.

.


"KOMET and MAID CHAPTER 5"

Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc =_="

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.


.

.

.


"FRIENDS"


.

.

.

Angin sepoi-sepoi menerpa rambut lembut 3 cowok yang duduk berhadapan di atas atap gedung sekolah. Seorang anak bermata kucing sedang asyik mendengarkan lagu dari benda kecil di tangannya.

Cowok yang lebih tua setahun dari mereka berdua terlihat sedang memikirkan sesuatu, begitu juga cowok pirang di sebelahnya.

"Lalu siapa anggota kita yang satu lagi?" Michi mulai mengalihkan perhatian Kazune.

"Aku juga belum menemukannya." Jawabnya pasrah.

"Aku rasa itu bukan hal yang perlu kalian fikirkan sekeras itu." Tatapan tajam Michi dan Kazune mengenai pandangan mata Jin. Yang di pandang hanya bisa mengalihkan pandangan matanya.

"Apa maksudmu? Kalau kita tak menemukannya, kita akan kalah sebelum bertanding." Michi sewot.

Kazune hanya mendengarkan perdebatan 2 sahabatnya. Disisi lain matanya menatap sekeliling dan di lihatnya seorang cowok dengan seragam yang sama dengannya berada di tepi pagar pembatas atap.

"Apa yang akan ia lakukan? Jangan-jangan," belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya cowok itu melangkahkan kakinya, dengan cepat Kazune bangkit dari duduknya dan berlari secepatnya.

Michi dan Jin yang melihatnya ikut berlari mengejar Kazune.

"Hei kau, apa yang mau kau lakukan?" teriak Kazune panik.

Cowok berambut hitam legat itu menoleh kearah Kazune dan dengan cepat ia melompat. Kazune yang sudah dekat dengannya bergegas meraih tangan cowok itu.

"Apa yang kau lakukan bodoh!" umpat Kazune kesal.

"Lepaskan aku." Teriaknya meronta-ronta.

"Jangan banyak bergerak atau kau akan benar-benar jatuh." Ujarnya berusaha menarik tangan cowok itu.

"Itu lebih baik." Ia mengalihkan padangannya.

"Kazune…!" teriak Michi dan Jin bersamaan.

"Cepat tarik aku, aku tak mau mati disini." Pinta Kazune.

Dengan segera Jin dan Michi menarik kaki Kazune, otomatis cowok yang mau bunuh diri itu ikut selamat.

"Huffttt… akhirnya aku selamat."Kazune bernafas lega, sedangkan cowok berambut hitam itu hanya mengendus kesal "Huhh…".

"Heiii… apa kau gila, kenapa kau mau bunuh diri?" Tanya Jin heran.

"Belajarlah untuk tidak mencampuri urusan orang lain." Jawabnya ketus.

"Heiiii! Aku sudah menyelamatkanmu tahu." Jin terlihat kesal.

"Aku tak butuh bantuanmu." Ia menatap Jin meremehkan.

"Kalian tenanglah." Michi berusaha menghentikan perdebatan yang tak penting itu.

"Siapa namamu?" Kazune menatapnya.

"Aku Kazune." Lanjut Kazune.

"Aku Michi dan dia Jin." Michi tersenyum, Jin membuang mukanya.

"Aku Yuki." Jawabnya cuek.

"Kau dari kelas berapa?"Tanya Kazune.

"Aku berada di kelas 2-D. Kalian murid pindahan ya, aku baru pertama kali melihat kalian disini."

"Iya kami baru beberapa hari yang lalu masuk sini." Jelas Michi.

Yuki cowok dengan rambut legat itu hanya mengangguk.

"Dari tadi aku perhatikan kalian sepertinya sedang memikirkan sesuatu."

"Haahhh… kau mau bunuh diri aja masih sempat-sempatnya ngurusin urusan orang lain." Umpat Jin kesal.

Yuki yang mendengar jawaban Jin hanya bisa mendengus kesal. Kemudian ia berdiri dari duduknya.

"Terima kasih untuk semuanya. Maaf merepotkan. Kalau ada sesuatu yang kalian butuhkan datang saja ke kelasku." Ia berjalan meninggalkan ketiga orang yang menolongnya.

"Yuki tunggu." Teriak Jin.

Yuki yang mendengarnya hanya melanjutkan perjalanannya tanpa memperdulikan panggilan Jin. Jin yang kesal tak di hiraukan melepas sepatunya dan melemparkannya kearah Yuki.

Yuki yang asyik berjalan tiba-tiba terjatuh kedepan gara-gara sepatu Jin. Michi dan Kazune hanya bisa Sweatdrop melihat tingkah 'GAJE' temannya yang terkenal dikalangan kaum hawa.

"Apa yang kau lakukan bodoh!" umpat Yuki kesal. Tangannya memeganggi belakang kepalanya yang benjol.

"Bwahahahaha….." Michi tertawa dengan kerasnya.

Kazune yang melihat Michi tertawa jadi ikut tertawa.

"Hahahaha.. kurasa kalian berdua cocok." Seru Kazune disela tawanya.

"Itu tidak mungkinnn…" teriak Yuki dan Jin bersamaan.

"Hahahaha… kalian benar-benar kompak." Celetus Michi.

"Haahh… " teriaknya bersamaan lagi.

"Wekwekwekwek…" Tawa Michi dan Kazune tak dapat terbendung lagi. Michi memeganggi perutnya yang mulai sakit karena kebanyakan tertawa, sedangkan Kazune menyeka air mata yang keluar karena tingkah Jin dan Yuki.

Yuki yang melihat Jin sedang lengah, mengambil sepatu Jin yang tergeletak di lantai dan melemparnya kearah Jin. Jin yang tanpa pertahanan terjatuh begitu saja.

"Aku kembalikan sepatumu yang bau." Teriak Yuki mengejek.

"Aku tak akan memaafkanmu." Jin mendekati Yuki dan menjitaknya.

"Apa yang kau lakukan bodoh." Yuki balik menjitak Jin.

"Kau yang mulai mencari gara-gara denganku."

"Haahhh… apa aku tak salah dengar." Tangkis Yuki.

"Dasar menyebalkan." Umpat Jin. Kazune dan Michi mendekati Jin dan Yuki.

"Kurasa kita mempunyai teman baru." Kazune tersenyum.

"Sebaiknya kita kekelas, aku rasa kita sudah terlambat mengikuti pelajaran berikutnya." Ujar Kazune.

"Tapi bagaimana dengan satu orang untuk tantangan itu Kazune?"

"Tantangan. Tantangan apa Michi?"

"Tantang untuk membuat group band, dan kami kekurangan seorang pemain keyboard." Jawab Kazune.

"Bagaimana kalau aku membantumu, aku bisa bermain biola dan juga keyboard." Yuki tersenyum.

"Benarkah Yuki?" Tanya Michi memastikan.

"Tentu saja." Yuki tersenyum.

"Cihh.. kufikir kau tadi mau bunuh diri." Ejek Jin.

"Diam kau kucing aneh." Balas Yuki.

"Siapa yang kau maksud aneh, muka kodok."

" Kamulah, siapa lagi." Jawabnya ketus.

"Hahahaha…." Michi dan Kazune hanya tertawa melihat pertengkaran Jin dan Yuki.

Kazune menatap langit biru nan jahu disana. Senyumnya mengembang begitu tulus. Warna biru yang menawan memberikan kekuatan baru untuk melawan tantangan Karin.

.

.

.

-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-

.

.

.

Sesampainya dikelas Kazune memasuki ruang kelasnya dengan agak malas. Ia merasa kalau guru yang mengajarnya akan mengomel karena ia sudah telat untuk kedua kalinya.

"Apa sebainya aku tak masuk ke dalam ya?" gumamnya.

"Huufffttt… aku tak akan jadi cowok penakut, akan ku tanggung semua." Tekatnya. Ia mengetuk pintu di depannya dan masuk dengan menunduk.

Dilihatnya tak ada guru diruangan itu. Ketua kelas barunya berdiri di depan papan tulis dan menoleh kepadanya.

"Linchou, apa sensei hari ini tidak datang?"

"Ahh, ia. Sensei sedang ada rapat dan kita di suruh mengatur piket kelas." Jelas ketua kelas 2-B.

"Syukurlah aku selamat." Ia bernafas lega.

Ia berjalan ke bangkunya dan dilhatnya Karin sedang berkutik dengan pensil dan buku tulisnya.

"Apa liat-liat?" tanyanya ketus.

"Emang siapa yang melihatmu, dasar kePDan." Jawabnya tak kalah ketus.

Ia kini duduk di bangkunya dan dilihatnya papan tulis hitam yang penuh dengan tulisan Linchou.

"Haaahhhh… Aku tidak mau piket dengannya." Teriak Kazune mengagetkan seisi kelas.

"Tapi ini sudah tidak dapat dirubah Kazune." Seru Linchou.

"Hoi cowok pendek, bisa tidak kamu diam, aku sedang konsentraisi tahu." Teriak Karin.

Matanya menatap Kazune penuh kekesalan dan tangannya mengenggam bulpoin dengan sangat erat.

"Diam kau, cewek mata empat." Balas Kazune sewot.

"Memangnya kenapa kalau aku tak mau diam, kelinci aneh!"

"Oii cewek Mata empat , jangan-jangan kau naksir denganku ya, sampai-sampai mau piket kelas denganku hahaha.." seru Kazune jail.

"Heehhhh…. Apa maksudmu?" Karin terlihat binggung. Matanya terbelalak saat dilihatnya papan tulis hitam itu menampilkan hal yang mengejutkan.

"Tiiddddaaaakkk…" teriak Karin. Ia memeganggi kepalanya dan sesekali menjambak rambutnya.

"Aku tak mau dengannya." Karin menunjukkan jari telunjuknya tepat didepan wajah Kazune.

"Hn." Kazune mengernyitkan sebelah alisnya dan menatap Karin jengkel.

"Aku tak mau dengannnya Linchou." Teriak Karin semakin keras.

Jari telunjuk Karin masih berada di depan wajah Kazune. "Cihh…" Kazune berdecak kesal. Ia menatap jari telunjuk Karin. Entah apa yang ia fikirkan ia memasukkan jari Karin kemulutnya.

"Ehhh…." Teriak Karin terkejut, reflek ia menarik paksa jarinya. Wajah Karin memerah padam. Rasa kesal dan malu bercampur menjadi Kazune hanya menatap Karin dingin.

"Aku tak suka kau menunjuk-nunjuk jarimu di depan wajah orang lain. Itu tak sopan tahu." Ia memasukkan tangannya kedalam saku celanannya.

"A-apa maksudmu, kau malah lebih tak sopan dariku tahu." Bentak Karin.

"Karena kau yang memulainya." Kazune kembali duduk di bangkunya tanpa menghiraukan Karin.

"Aku benci laki-laki sepertimu." Karin berlari meninggalkan kelas. Beberapa menit kemudian ia telah sampai di toilet.

Dibukanya paksa pintu toilet berwarna putih itu. Kran air didepannya ia buka tanpa bosa basi. "Lihat saja Kazune Kujyou, akan kubalas kau." Gumamnya.

Ia tersenyum penuh aura kegelapan. Matanya terlihat memancarkan aura yang mengerikan. Entah apa yang ia rencanakan kepada cowok yang kini menjadi saingannya.


Tunggu next chapter XP


.

.

.


Maaf untuk keterlambatan pengUPDATEan fic ini u,u

Bebek sibuk nyari kerja ..

Kalau ada yang tinggal di Surabaya bisa massage bebek ya .. u,u

Ni nope bebek – 089 937 196 42


By © BEBEK L DARK EVIL


.

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.