"KOMET and MAID"
.
.
.
Yohhooo...
Update cepet ni XP
Tapi mungkin setelah ini akan gak update lama di karenakan kerjaan baru bebek u,u
Gomen
.
.
.
BALASAN REVIEW
Dc : Seeppp… udah kilat ni XP
Athena Athiya : Makasih silakan baca lanjutannya XP
KK LOVERS : Yooohhh.. makasih dukungannya, ini standart bebek XP 1.500 word per chapter XP
MAKASIH REVIEWNYA :D
.
.
.
"KOMET and MAID CHAPTER 6"
Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil
Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc =_="
Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.
.
.
.
"KARIN VS KAZUNE"
.
.
.
Sekolah telah usai beberapa jam yang lalu. Langit senja nampak begitu menawan dengan beberapa bintang berkilau yang mencoba bangun dari tidurnya.
Kazune merebahkan badannya ke tempat tidur, pikirannya melayang menginggat hal gila yang telah ia lakukan kepada Karin. Ia kini menarik rambut pirangnya dan meraih bantal yang berada di sampingnya.
Di tutupinya wajah rupawan itu dengan bantal putih nan lembut. Saat ia asik dalam aktivitasnya, ponsel kesayangannya mengalunkan sebuah nada dering yang familiar.
Di ambilnya ponsel itu dari dalam saku celana sekolahnya dan dengan malas ia menempelkan benda itu ditelingannya.
"Moshi-moshi Kazune." Terdengar suara sapaan yang cukup jelas dari balik telfon.
"Hn. Ada apa Jin?"
"Besok kita akan latihan band di atas gedung sekolah." Ujarnya santai.
"Apa tak ada tempat yang lebih gila lagi? Seperti di atas gunung gitu?" sindirnya.
"Hahahaha… okey akan aku usahakan." Jawabnya renyah.
Beberapa menit kemudian terdengar ketukan pintu.
Tok .. tok.. tokk…
"Ahh… menyebalkan sekali." Grutunya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan berjalan kearah pintu. Di bukanya pintu itu dan betapa terkejutnya ia. Vokalis Blue Devil tengah berdiri di depannya.
"Konbanwa Kazune." Ia tersenyum.
"Ke-Kenapa kau bisa ada disini?" tanyanya terkejut.
"Aku hanya ada perlu denganmu." Karin memasuki apartemen Kazune tanpa permisi.
"Heeiiii.. apa yang kau lakukan." Teriak Kazune menarik tangan Karin.
"Kazune Kujyou." Ia menatap mata Kazune lekat-lekat.
"Jangan menatapku seolah-olah aku telah melakukan sebuah pembunuhan." Ia mengalihkan pandangannya dari Karin.
"Kau salah, kau telah melakukan hal yang lebih kejam dari pembunuhan." Karin berjalan ke arah sofa yang terletak tak jahu darinya.
"Ma-maksudmu?" Kazune mengangkat sebelah alisnya.
"Apa kau masih tidak mengerti?"
"….."
"Nikahi aku." Serunya ragu.
"A-apaaaaa….." teriak Kazune.
"Karena kau telah melakukan tindakan pelecehan terhadapku." Ia menundukkan kepalanya.
"Hei, aku minta maaf untuk kejadian tadi di sekolah. Jadi aku tak perlu menikahimu-kan? Bela Kazune.
"Itu tetap tak bisa mengubah apapun." Karin menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat sedih.
Kazune berjalan dengan cepat kearah Karin. Ia kini berdiri tepat didepan Karin duduk.
"Terserah apa katamu, tapi aku tak mau menikah denganmu."
"Heii, memangnya aku jelek apa sampai-sampai aku kau tak mau menikahiku." Karin bangkit dari duduknya dan meletakkan kedua tangannya dipinggang.
"Aku hanya tak mau punya istri yang cerewet." Jawab Kazune cuek.
"Dasar Jam weker." Ejek Karin.
"Dari pada kau, anak TK." Balas Kazune.
"Kingkong."
"Gorilla."
"Monyet jelek."
"Tupay pesek."
"Siapa yang kau panggil Monyet?"
"Siapa yang kau panggil Tupai"
"Karin, Kazune sedang apa?" Tanya Himeka yang membawa sekantung plastik makanan.
.
.
.
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
.
.
.
"Hi-himeka. Kenapa bisa ada disini?" Ujar Karin heran.
"Yoo…" seru Michi. Ia membuka pintu itu sepenuhnya agar badannya bisa masuk.
"Mi-Michi, kenapa bisa dengan Himeka?" Tanya Kazune tak kalah heran.
"Karin, Kazune-kan kakakku." Jawab Himeka sambil tersenyum.
"Kalau aku, karena aku sekelas dengan Himeka hehehe." Jawab Michi sambil cekikikan.
"Kalian sedang apa? Kenapa Karin bisa ada disini?" Tanya Himeka heran.
"Hahaha.. aku sekelas dengan Kazune dan aku hanya ada perlu dengannya karena kami piket kelas dihari yang sama." Jawab Karin berbohong.
"Karin benar." Ia menyetujui alasan Karin.
"Oh iya kak, aku letakkan makanan ini di kulkas ya?" Himeka berjalan kearah kulkas dan membukanya. Ia meletakkan makanan-makanan itu kedalamnya.
Michi berjalan mendekati sofa dan menyalakan TV. Dilihatnya siaran ulang konser Blue Devil beberapa hari lalu.
"Wooowwww… kalian benar-benar terkenal." Seru Michi kagum.
"Hahahaha… tak perlu berlebihan. Oh iya kita belum kenalan." Seru Karin mendekati Michi dan berdiri di depannya. Michi yang melihat Karin di depannya ikut berdiri.
"Aku Michi sahabannya Kazune." Ia mengulurkan tangannya.
"Aku Karin Hanazono, vokalis Blue Devil, sahabatnya Himeka dan teman sekelas Kazune." Karin menatap Kazune malas dan menjabat uluran tangan Michi.
"Senang berkenalan denganmu Michi." Karin tersenyum.
"Aku juga Karin." Michi membalas senyum Karin.
"Kak aku sudah meletakkan semuanya di kulkas, sekarang aku akan pulang." Ujar Himeka.
"Kenapa cepat sekali?"
"Aku dan Michi ada perlu, kami ada tugas kelompok jadi kami akan mengerjakannya bersama." Jelas Himeka.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya!"
"He'em." Himeka mengangguk sedangkan Michi berjalan menuju pintu diikuti oleh Himeka di belakangnya.
Beberapa detik kemudian pintu itu telah tertutup kembali, menyisakan Karin dan Kazune yang saling berpandangan.
"Huhhh…" Mata keduanya hanya bertemu beberapa detik karena keduanya saling membuang muka.
"Apa kau masih ada perlu denganku?" Tanya Kazune.
"Sepertinya tak ada." Jawab Karin.
"Baiklah kalau begitu." Kazune berjalan kekamar mandi dan beberapa menit kemudian terdengan gemericik air.
Karin hanya duduk di atas sofa melihat konsernya beberapa hari yang lalu di layar TV merebahkan badannya ke sofa.
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
KARIN POV
Kurebahkan badanku ke sofa berharap aku menemukan cara lain untuk mengerjainya. Aku fikir hal gila ini akan berhasil, tapi sepertinya hal ini tak berlaku baginya.
Sebenarnya Kazune itu cowok seperti apa? Kufikir dengan memintanya bertanggung jawab karena ia telah melakukan hal tak sopan kepadaku akan membuatnya mau melakukan perintahku.
Tapi nyatanya ia malah minta maaf dan bersikap biasa saja denganku. Aaaahhhhh….. apa yang harus kulakukan. Ku acak-acak rambutku dan kulepas kedua kuncir rambutku.
Ku tatap langit-langit apartemen yang luas ini, kututup mataku pelan-pelan dan kurasakan jiwaku melayang.
END OF KARIN POV
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
.
.
.
-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-
.
.
.
"Sedang apa kau?"
Kurasakan setetes air membasahi pipiku. Mataku yang masih sedikit terpejam tak mampu melihat dengan jelas sosok di atasku.
"Malaikat." Gumamku. Kulihat ia berkulit putih bagai porselin dengan handuk putih yang menutupi sebagian badannya.
"Haahhh…" seru Kazune heran.
Aku kembali menutup mataku, tapi masih bisa kurasakan seseorang mengangkat tubuhku.
"Menyusahkan saja." Kazune mengangkat tubuh Karin di depannya. Karin tertidur pulas dan wajahnya terlihat sangat damai.
Sedikit senyuman tipis nampak samar-samar terukir. Kazune menatapnya dengan lembut dan dirasakannya wajahnya terasa hangat.
"Manis." Kata itu terlontar begitu saja tanpa perintah darinya. "Heehhh…" ia menghentikan langkahnya dengan ekspresi bengong.
"Sepertinya aku kurang istirahat sampai-sampai aku berkata seperti itu kepada gadis ini." Gumamnya.
"Siapa yang kau maksud?" Karin menatap Kazune penuh curiga.
"Ehhhh…" sontak kakinya mundur selangkah.
"Ke-kenapa kau mengendongku. Lepaskan aku cowok mesum." Teriak Karin. Ia menyentuh dada bidang Kazune dan mendorongnya sekuat tenaga.
Wajah Karin tiba-tiba memerah saat ia rasakan dada bidang Kazune terasa hangat. Kehangatannya menjalar keseluruh tubuh Karin, tapi ia mencoba tak memperdulikan hal itu, dan tetap berusaha mendorongnya.
"Hei jangan bergerak." Perintahnya.
"Aku tak mau, lepaskan aku.." teriak Karin. Ia masih mendorongnya tapi Kazune masih tetap tak bergeming.
Kazune mempercepat langkahnya sedangkan Karin hanya pasrah karena usahanya sedari tadi sia-sia. Ia memanyungkan bibirnya karena kesal. Kazune yang diam-diam memperhatikan tigkah cewek yang sedang ia gendong hanya tersenyum simpul.
Ingin rasanya ia tertawa lepas tapi ia tak mau image-nya jatuh di depan rival-nya. Setelah sampai di kamarnya ia menjatuhkan Karin ketempat tidurnya.
"Ehhh… Ke-kenapa kau membawaku kemari cowok mesem?" Tanya Karin panik.
"Hemm…" Kazune hanya ber'hemm'ria tanpa menghiraukan Karin yang tergeletak di tempat tidur king sizenya.
Kazune berjalan kearah lemarinya dan membukanya, diambilnya T-Shirt hitam dengan celana Jins selutut kemudian ia menutup kembali lemari itu.
"Heii.. apa kau akan ganti baju disini?" Karin mulai paranoid. Lagi-lagi Kazune berhasil membuat wajah Karin memerah.
"Memangnya kenapa? Inikan kamarku." Jawabnya acuh.
"Tu-tunggu biarkan aku keluar dulu." Belum sempat ia turun dari tempat tidur itu, Kazune sudah memakai T-Shirt-nya kemudian ia melepas handuk putih yang ia kenakan.
"Kyyaaaaa…"Teriak Karin. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei cewek aneh, apa yang kau fikirkan?" Tanya Kazune yang masih berdiri didekat Lemari.
"Apa kau sudah memakai celanamu?" Karin malah balik bertanya.
"Sudah." Jawabnya singkat.
Dengan ragu Karin menyingkirkan kedua tangan putihnya dari wajahnya. Dilihatnya Kazune yang memakai T-Shirt dengan celana pendek tapi itu bukan celana Jins.
Karin reflek meraih bantal di tempat tidur dan melemparnya sekuat tenaga kearah Kazune. "Apa yang kau lakukan bodoh, kenapa kau tidak bilang kalau kau memakai celana." Teriak Karin kesal.
"Memangnya aku harus laporan dulu denganmu Kelinci aneh." Celetus Kazune.
"Huhh menyebalkan." Karin mendengus kesal. Ia merebahkan dirinya di kasur empuk itu.
Jam dinding kamar itu menunjukkan pukul 9 malam. Karin bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati pintu.
"Untuk kali ini ku maafkan kau, tapi lain kali aku tak akan memaafkanmu Tupai pesek." Karin tersenyum dan berlalu dari kamar mewah Kazune.
Kazune buru-buru mengejar Karin dan meraih tangannya. "Aku akan mengantarmu pulang." Tawarnya. Karin membatu tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Alasan datangnya cinta untuk setiap orang pastilah berbeda, tapi perasaan suka yang diam-diam tumbuh secara perlahan, apakah akan menghantarkanmu pada kebahagiaan atau kesedihan.
Ketika perasaan ini bisa ku pahami, apakah semuanya akan terlamabat. Aku… apa yang aku rasakan sekarang hanyalah benih kecil, akan kunanti sampai benih itu mampu tumbuh dan dapat kau lihat.
Banyak orang yang tidak suka berterus terang, seperti diriku yang tak mau percaya kalau cinta ini tlah tumbuh.
.
.
.
Yossshhh…
Apakah Karin mulai jatuh cinta dengan Kazune?
Apakah Kazune serius mengantarkan Karin pulang?
Bagaimana dengan Tantangan itu?
SEE YOU NEXT CHAPTER XP
Thanks to : READER AND REVIEWER :D
By © BEBEK L DARK EVIL
.
.
.
R
E
V
I
E
W
.
.
.
