"KOMET and MAID"


.

.

.

Gak jadi Hiatus tapi updatenya lama XP

.

.

.


BALASAN REVIEW :D


Dci : Aku tau orange tapi gak tau karakternya :3

Kit-chan : Kagak ada inspirasi wekwekwek tiba-tiba ide buntu XP okey makasih

Jamilah : Oyii makasih :D

KK LOVERS : Oyii makasih dukungannya :D

Devi Yolanda : Maaf ya saya punya kehidupan selain nulis fic, kenapa kata-katamu kyk gtu ke aku -_- sebaiknya sebelum review seperti itu baca info tentangku dulu biar gak nyinggung perasaanku .. aku hargai review-mu .. nee lain kali sebelum review tolong rasain dulu perasaan yang kamu review :D

Yui : Iya makasih Yui yang pengertian :D

Athena Athiya : 1. Makasih udah memahami bebek :D keseringan review ya ampek paham sifat bebek XP

2. Miyon ma Yuki ya.. emm baca aja terus deh XP untuk cewek misterius itu nanti ada jawabannya :D

3. Kalua pairing seperti biasa pasti aja Jin X Kazusa tapi masih lama XP

4. Kalau masalah Kiss ada kok.. baca lagi deh ya :D

5. Makasih reviewnya :D

Guest : Ahahaha… aku juga penasaran #PLAK

Maria-chan : Ohh iya hehehe.. udah lanjut :D Salam kenal ya :D

Namima : Oh iya pasti lanjut kok :D makasih ya udah baca. Salam kenal :D


MAKASIH REVIEWNYA :D


.

.

.


"KOMET and MAID CHAPTER 10"

Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.


.

.

.


"FAMILY"


.

.

.


" Kamu akan selalu dapatkan cinta di tengah keluarga,

cinta tanpa syarat, cinta yang menerima kamu apa adanya."


Matahari menelusup masuk menyelusuri kamar berwarna putih. Ku buka mataku pelan-pelan. Entah sejak kapan rasanya tempat ini menjadi begitu nyaman.

"Sampai kapan kau aka tidur!" Teriak seorang cowok. Kesadaranku yang belum sepenuhnya kembali ke tubuhku seketika itu juga mulai berkumpul. "Kyaaa… jam berapa sekarang?" Teriakku gelagapan.

Cepat-cepat aku menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuhku. Aku berlari secepatnya ke kamar mandi dan kusambar begitu saja handuk yang mengantung di tempatnya.

15 menit aku telah siap dengan seragam lengkap. Aku masih saja panik dan berlari ke arah meja belajar untuk mengambil tas punggungku.

"Karin!" Panggilan itu lagi-lagi menyadarkanku. Aku menoleh ke samping dan kudapati Kazune berdiri di depan pintu dapur dengan membawa 2 gelas mie instan siap saji.

"Ka-kazune!." Panggilku gagap. Kazune berjalan mendekatiku. Dia mengulurkan salah satu gelas mie instan ke arahku. "Kau payah." Dia menjitak dahiku pelan setelah aku menerima mie. "Harusnya kau yang menyiapkan sarapan tapi kenapa malah aku?" keluhnya.

"Ma-maaf aku tak terbiasa bangun pagi." Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. "Huhh.. apa boleh buat, kali ini aku maafkan kau." Kazune mengeser kursi di dekatnya. Di makannya mie itu dengan lahapnya.

"Cepatlah Karin, kalau kau tak cepat akan ku tinggal kau." Kata-kata Kazune menyadarkanku dari lamunan anehku. Aku mengeser kursi di samping Kazune. Mie yang berasa di depanku ku tiup pelang-pelang, uap panas yang tadinya mengepul kini telah hilang.

Aku membuka mulutku dan siap memakannya tapi dengan cepat Kazune memakannya duluan. "Heehhh… apa yang kau lakukan Kazune." Teriakku kesal. Kazune tak langsung menjawabnya, ia masih sibuk mengunya Mie-ku.

"Aku masih lapar tau." Jelasnya. Kazune berdiri dan mengambil tasnya di atas meja. "Aku tunggu kau di bawah, jadi cepatlah." Dia berlalu bersamaan dengan pintu aparteman yang tertutup. Tak lama kemudian pintu itu terbuka lagi. "Aku lupa, ini kuncinya." Kazune melepar kunci Apartemen ke arahku.

Kazune kembali menutup pintu dan berlalu. Aku habiskan cepat-cepat mie bikinan Kazune. Aku membuang gelas mie ke tong sampah begitu juga dengan mie gelas Kazune.

Aku berlari menuju pintu dengan cepat aku menguncinya dan berlari ke arah Lift. Aku memencet tombol di lift dan dengan segera aku masuk. Sekitar 5 menit aku baru sampai di lantai pertama.

Buru-buru aku berlari ke arah Kazune yang sudah siap dengan sepedanya. "Cepat Karin kita hampir terlambat." Kazune berteriak dari atas sepedanya. Karin berlari untuk sampai ketempat Kazune. Tanpa basa basi Karin naik di belakang sepeda.

Kazune mengoes sepedanya dengan cepat. 15 menit kemudian mereka sampai di depan gerbang. "Kita sampai." Aku turun dari sepeda. Kazune menaiki sepedanya lagi saat aku tak lagi di belakang.

Bel pelajaran telah berdentang. Aku bergegas masuk ke kelasnya begitu juga dengan Kazune. Seorang guru berparas cantik memasuki ruang kelas. Dia memulai tugasnya. Aku membuka tasnya tapi entah kenapa raut wajahnya terlihat sangat terkejut.

"I-ini bukan tasku." Serunya lirih. Aku menoleh ke arah Kazune, tapi dia tak memperhatikanku. Aku menyobek beberapa kertas. Dengan sigap aku tulis apa yang ingin aku bicarakan dengannya.

Karin : "Kazune." Aku meletakkan sobekan kertas di meja Kazune. Kazune menoleh ke arahku kemudian mengambil kertas di depannya. Kazune membacanya dengan tampang datar. Kazune mengambil bolpoin di sakunya dan mulai menulis.

Kazune : "Hn." Kazune meletakkan kertas balasannya di atas mejaku. Aku menatap kertas itu kemudian menatapnya. Kazune mengalihkan pandangannya dariku. Dia menatap keluar jendela dan mengunakan tangannya sebagai tumpuan wajahnya.

Karin : "Tas kita ketukar." Aku menulisnya dengan cepat. Aku meletakkan kertas itu di meja Kazune. Dia membacanya kemudian menatapku. Kazune membuka tasnya dan lagi-lagi dia menatapku.

Kazune mengangarahkan tasnya ke padaku. Aku meraihnya dan memberikan tas milik Kazune kembali ke pemiliknya. Aku menghela nafas panjang. Cukup lega rasanya tapi kalau ada orang yang melihat ini akan jadi masalah.

Aku tersenyum ke arah Kazune tapi Kazune malah menanggapinya dengan cuek. Aku merasa ada hawa tak menyenangkan dari belakang, aku ingin melih dari mana aura itu datang. Dengan hati berdebar dan perasaan yang gugup aku menengok kebelakang.

"Yuuta." Panggilku. Cowok dengan tinggi badan sekitar 175 itu membals senyumku dengan tulus. Entah apa yang terjadi tiba-tiba aura itu menghilang begitu saja.

.

.

.

-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-

.

.

.

Kazune dan aku pulang kerumah sekitar pukul 5 sore, karena hari ini ada pelajaran tambahan dan belanja beberapa sayuran juda makanan. Kami berdua pulang terlambat. Kazune memboncengku seperti biasanya. Kami telah setengah perjalanan. Kami sampai di taman yang cukup luas.

Entah apa yang terjadi Kazune menghentikan mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah lagu, headset yang selalu ia gunakan menutupi pendengarannua. Aku hanya memperhatikan tingkahnya sampai aku mendengar sesuatu.

Sebuah tangisan. Dengan sigap aku turun dan mencari asal suara itu. Taman. Aku berlari menyelusuri taman. "Karin!" kazune memanggiku saat menyadari aku berlari menjahu darinya.

Aku mendengar suara lain selain tangisan, suara roda. Mungkin itu Kazune dengan sepedanya. Fikirku. Aku masih terus saja mencari. Di kotak mainan pasir kulihat seorang anak kecil tengah bermain sendiri. Aku mendekatinya. Pelan, tapi pasti aku melangkahkan kakiku mendekatinya.

Gadis yang berusia sekitar 3 tahun itu menangis terisak-isak, tapi entah kenapa tangannya sibuk membangun istana pasir. "Mama, Papa!" dai bergumam dalam isak tangisnya.

"Hallo." Aku duduk di dekat gadis itu. Aku mensejajarkan posisi dudukku dengannya. Kulihat wajahnya yang mungil begitu mengemaskan. Rambut pirang yang terlihat seperti rambut Kazune membuatku sedikit geli.

Aku tersenyum kepada anak kecil di depanku. "Mama." Entah apa yang terjadi tiba-tiba ia berhambur ke pelukanku. Memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya. Dia masih menanggis. Aku membelai rambut pirangnya ke atas dan ke bawah.

"Mama." Dia bergumam lagi dalam pelukanku. Tangisannya telah berhenti. Dia terlihat cukup tenang sekarang. "Karin ayo pulang, kau fikir ini jam berapa?" teriak Kazune. Aku berdiri dari posisiku.

Anak kecil yang memelukku tertidur pulas. "Si-siapa dia?" Kazune menunjukkan jari telunjukkan ke arahku. "Entah." Jawabku santai. Aku berjalan mendekati Kazune. "Sepertinya dia tidur, bagaimana sekarang Kazune?"

"Huuufftt apa boleh buat, kita bawa saja ke Apartemenku." Kazune tak menaiki sepedanya. Kazune mendorongnya dan kami berjalan bersama. Gadis itu masih tertidur lelap di bahuku. "Hehehehe.." aku tertawa menginggat warna rambutnya yang sama dengan Kazune.

"Kau kenapa, idiot."Kazune menatap lurus ke depan. "A-Apa katamu." Aku mempercepat jalanku agar bisa menatap wajahnya. "Kenapa kau tertawa?" Kini dia bertanya dengan sopan walau dengan wajah cueknya.

"Hemm… warna rambutnya sama sepertimu." Aku tersenyum. "Tapi itu bukan berarti aku ayahnya." Elak Kazune. "Hehehe.. tadi dia memanggilku Mama." Aku menundukkan kepalaku menatap jalanan aspal yang dingin.

Kami berdua telah sampai di Apartemen Kazune. Gadis itu kini tertidur di ranjang Kazune. Aku berada di dapur untuk memasak sesuatu untuk makan malam, sedangkan Kazune dia sedang mandi. "Karin, apa masih belum." Kazune berada di depan pintu dapur dengan sehelai handuk putih.

"A-apa yang lakukan Kazune, cepat pakai bajumu." Perintahku. Aku menuangkan masakan yang sudah siap di piring. "Aku lapar tahu." Jawabnya masih cuek. "Aku tak akan memberimu makan malam."

"Baiklah aku pakai baju dulu, tunggu aku. Jangan makan duluan." Serunya. 5 menit kemudian semua masakanku siap di atas meja, begitu juga dengan Kazune yang sudah memakai baju. "Mama." Gadis kecil itu menggucek-ucek matanya.

Dia seakan ini membuka matanya lebar-lebar setelah bangun tidur. "Ehh.. kau sudah bangun. Apa kamu lapar?" Aku berjalan mendekatinya dan tersenyum. Gadis itu mengagguk seakan dia menyetujui permintaanku.

Gadis kecil itu duduk di atara aku dan Kazune. "Siapa namamu?" tanyaku ramah. "Suzune." Jawabnya singkat, dia juga tersenyum. Senyum yang manis, fikirku. "Aku Karin dan dia Kazune." Aku menatap ke arah Kazune yang terlihat bosan.

"Mama, Papa." Suzune bergiliran menatapku dan Kazune. "Heehhh…" aku dan Kazune berteriak bersamaan, tapi gadis itu malah tersenyum.


Bagaimana kehidupan Karin dan Kazune selanjutnya?

Hehehe… sampai jumpa :D


.

.

.


Yosshhh… Tunggu Next Chapter :D


By © BEBEK L DARK EVIL


.

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.