"KOMET and MAID"


.

.

.


Woww.. lama gak buka akun FFN tahu-tahu yang review ni fic da banyak aja :D

Ucapan Terima Kasih :


1. Makasih untuk reader yang udah baca

2. Untuk yang udah luangin waktu buat review

3. Untuk yang ngasih dukungan

4. Untuk yang udah kapok baca fic Bebek karena reviewnya aku balas kasar dan aku minta maaf untuk itu.

5. UntuK sahabatku di FB (DAISY DEVIL : Ayam, Tupay, Kucing, dan Botak Ikkaku)

6. Untuk temen sebangkuku AZURA (BLUE DEVIL) FIC ini aku buat untukmu :D


Nahh.. setelah fic ini END akan aku kasih tau tentang diriku, dan kenapa aku benci di kritik.. eiitttsss… jangan berprasangka buruk dulu loh ya :D Nahh… sekian aja deh pembukaannya maaf kepanjangan :D


BY : L DARK EVIL


.

.

.


BALASAN REVIEW :D


Jamilah : Iyaa…

Guest : Iya semoga bisa lanjut terus

athena athiya : Oyii gak pa,pa kok

go green ne : Oyii makasih dukungannya :D

Sun : Hehehe… ya makasih da review

KK LOVERS: iyaa… :D

rizki kinanti : Iya makasih :D

Maria-chan : Yoo aku gak bisa lakukin yang kamu inginin

Alya : Ahahaha… eemmm gak tau juga #Plak

NagiSama : Iya udah update kok :D

Guest 2 : Ya ya ya udah update kok

karin nizza : Kenapa ada Suzune, ya jawabnya karena emang dia kan karekter di KK. Kalau cowok itu ya nanti kalau ngikutin juga kau tau diri :D


Panggilnya Bebek aja kagak usah pakek akhiran –san atau apalah itu -,-

Aku merasa aneh jadinya

MAKASIH REVIEWNYA :D


.

.

.


"KOMET and MAID CHAPTER 11"

Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.


.

.

.


"WEEKEND"


.

.

.


" Banyak hal menghilang dan banyak hal hanya terasa menyakitkan,

Tapi, walaupun begitu bintang akan tetap bersinar dan matahari akan selalu terbit."


"Mama mama!" Aku merasakan tangan mungil menepuk-nepuk kedua pipiku, tapi tak lama kemudian tangan itu tak kurasakan lagi. "Papa papa!" Kazune tertidur dengan pulas, panggilan Suzune dia abaikan begitu saja.

"Maaammaaa!" Teriaknya tepat di telingaku. Aku yang mulai tersadar oleh teriakan Suzune bergegas untuk bangun. Mata Suzune yang memancarkan sinar ke polosan menatapku dalam-dalam, kemudian ia tersenyum lugu.

"Ohayaou Suzuna." Aku tersenyum. Suzune menarik tanganku seakan mengisyaratkan untuk duduk. Aku mengikutinya duduk. Aku lihat di sampingku sang pangeran masih tertidur dengan pulas, walau saat marah dia terlihat menyebalkan tapi saat tidur wajahnya benar-benar damai.

Aku tak menyia-nyiakan momen ini, aku meraih ponselku di atas meja dan memotret Kazune. "Papa papa." Suzune mencoba membangunkannya seperti saat membangunkanku. Aku memotret Kazune dan Suzune.

Ekspresi wajah Suzune yang lucu di tambah raut wajah Kazune yang tertidur merupakan pemandangan pagi yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Entah kenapa aku merasa sangat senang, aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke dapur.

Aku memakai baju Maid yang entah sejak kapan sudah berada di atas meja, baju itu membuatku menginggat siapa tuanku sekarang. Aku hanya bisa mengambil nafas panjang dan tersenyum untuk menjalani semuanya.

Aku memanggang beberapa roti. Aku mengambil selai dan misis begitu juga dengan roti yang sudah aku panggang sebelumnya. Aku meletakkan sehelai roti kemudian mengolesinya dengan selai stroberi, kemudian aku letakkan lagi sehelai roti dan di atasnya aku taburi misis warna warni bak pelangi senja.

Aku menutup misis dengan sehelai roti lagi kemudian aku membuat sebuah bentuk senyum dari susu coklat. Aku membuat 2 roti yang sama dan juga 3 susu coklat hangat untuk pagi yang menyenangkan.

Aku tersenyum pada masakanku yang telah siap. Aku memindahkan sarapan pagi kami di atas meja makan. Setelah semua selesai aku hanya perlu membangunkan Kazune, tapi saat aku akan beranjak ke kamarnya ia sudah berjalan ke arahku.

Suzune duduk di bahu Kazune, dia memeganggi rambut Kazune sebagai peganggan. "Kau sudah bangun!"Seruku memastikan. "Kau cocok memakai baju Maid itu." Senyuman jailnya menemani percakapan kami.

Kazune menurunkan Suzune dari atas bahunya, dia juga mendudukkan Suzune di kursinya. Aku mengeser sebuah kursi dan Kazune mendudukinya. "Kenapa malah kau yang duduk di kursiku." Teriakku kesal. Tak lupa aku memanyungkan bibirku dan mengembungkan pipiku.

"Apa baju itu tak menggatkanmu pada tugasmu." Jawabnya santai. Aku hanya pasrah dan berjalan mendekati kursi di sebelah Suzune. "Ekspresi apa ini, wajah yang kau tunjukkan kepadaku tak sesuai dengan yang barusan kau lakukan." Ejeknya.

"Kalau kau tak mau memakannya aku yang akan makan bagianmu." Aku berdiri dari dudukku dan meraih roti Kazune. "Tak akan aku berikan, inikan bagianku." Kazune merampas roti itu dari tanganku. "Enak." Suzune bergumam di sela-sela makannya.

Reflek aku dan Kazune menatapnya bersamaan. Sebagian wajahnya penuh dengan coklat, hal itu membuatnya sangat lucu. "Hehehe.. Suzune kau manis sekali, kalau kau besar nanti kau pasti akan jadi gadis yang manis."

"Apa maksudmu Karin?" Tanya Kazune setelah mengigit beberapa bagian roti. "Haahhh…!" Aku hanya menatap Kazune heran.

"Apa kau tidak tau, Suzune itu laki-laki mana mungkin dia jadi gadis yang manis." Jelasnya cuek. "Apaaaa?" Sontak aku kembali menatap Suzune yang memakan rotinya dengan lahap.

"Sulit di percaya. Tapi dia benar-benar manis saat memakan rotinya. Aku akan mengambil gambarnya." Aku mengambil ponsel di saku baju Maid-ku. "Suzune lihat kemari." Pintaku lembut.

Suzune menatapku dan mengalihkan pandangannya dari rotinya. Aku berhasil mengambil gambar yang bagus. Suzune menatapku dan tertawa lebar. Walau aku tak begitu perduli tapi Kazune juga tersenyum karena tingkah Suzune. Aku meletakkan ponselku di atas meja makan.

"Heemm.. inikan hari minggu, bagai mana kalau kita ajak Suzune jalan-jalan." Saranku. Aku menatap Kazune yang sedang asik melahap semua rotinya. "Tapi sebelum itu habiskan rotimu." Perintahnya. Kazune dan Suzune telah memakan habis rotinya.

Hanya tinggal rotiku yang masih utuh. Aku menuruti perintahnya dan menggigit bagian ujung roti. "Get." Seru Kazune dengan sebuah ponsel yang mengarah ke arahku. "Ehh.. kau mengambil gambarku." Teriakku kesal.

Kazune tersenyum puas menatapku. Suzune sibuk bermain-main dengan piring makannya. "Hapus cepat Kazune." Aku beranjak dari dudukku dan berjalan cepat kea rah Kazune. Tangan Kananku masih memegang roti. Kazune mengikuti gerakannku.

Dia berjalan mendekatiku. "Aku akan menghapusnya kalau kau memberikan rotimu." Kazune kin berdiri tepat di depanku. "Tak akan pernah." Aku memasukkan rotiku dan memakannya. "Aku masih lapar tahu."

"Huhh…" hanya itu kata penolakan yang bisa aku lontarkan. Mulutku masih tertutup dengan Roti. Kazune mendekatiku dan semakin mendekat. Dengan cepat ia mengigit ujung roti yang lain. Sontak aku melangkah kebelakang, tapi keseimbangaku tiba-tiba goyah.

Kazune meraih pungungku dan menarikku ke arahnya. Kazune juga memakan rotiku, aku yang tak suka ke kalahan ikut memakannya dengan lahap walaupun wajahku terasa hangat.

"Mama, Papa." Suzune berhasil membuat kami berdua menjahu. Dia memegang ponselku dan tersenyum lembut. Wajahnya yang ceria membuatku gemas.

"Suzune mandi dengan Papa ya." Aku menganggkat Suzune dan memberikan anak kecil yang baru aku ketahui kalau dia seorang cowok, kepada Kazune. Suzune mengangguk dan memeluk Kazune dengan erat.

"Boleh Mama minta ponselnya." Aku tersenyum memmohon dan Suzune memberikannya tanpa perlawanan. Tanpa banyak bicara Kazune berjalan ke kamar mandi.

.

.

.

-xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx-

.

.

.

Kami bertiga kini sudah berada di taman bermain. Topi kelinci yang selalu ia pakai melindunginya dari sinar UV. Kazune memakai penutup kepala berwarna hitam, celana jins panjang danbaju yang senada dengan topinya. Aku memakai gaun one piece berwarna biru dan tas berwarna hijau.

Wajah Suzune yang terlihat terkagum-kagum dengan suasana taman ria ini, tangan mungilnya memegang kaos Kazune dengan erat. "Ayo bermain Suzune." Kazune tersenyum. Dia berjongkok agar sejajar dengan Suzune.

"Iyaaa…" Teriak Suzune bersemangat. "Suzune mau naik itu." Suzune menunjukkan jarinya pada roda besar yang berputar dengan indahnya. "Okey. Let's Go!" Kazune mengangkat Suzune dan mengendongnya di punggung. Aku hanya tersenyum dengan tingkah mereka berdua.

Mereka benar-benar seperti ayah dan anak. Mereka berdua berjalan mendekati permainan raksaksa, aku mengikuti mereka di belakang. Setelah mendapatkan tiketnya kami bertiga masuk dan menikmati suasana langit pagi yang menyenangkan.

Suzune duduk di antara aku dan Kazune. Dia tersenyum dan memegang tanganku dan Kazune. "Nah ayo kita foto." Aku mengeluarkan ponselku dan bersiap membidik. "Kazune bergeserlah sedikit kemari." Seruku. Kazune dengan malas hanya mengikuti permintaanku.

"1,2,Chiissseee." Aku menekan tombol Capture dan mendapati sedikit memori untuk di kenang. "Sekarang Suzune berdiri ya!" seruku. Suzune berdiri di atas kursi dan aku mulai membidik gambar lagi. Suzune mencium pipiku dan pipi Kazune.

Aku hanya menatap Suzune heran, begitu juga dengan Kazune. "Anak manis." Seruku. "Papa cium mama." Pinta Suzune manja. "Ehhh…" Aku menatap Kazune yang sepertinya masih shock dengan permintaan Suzune.

"Ayo Papa." Suzune menarik lengan Kazune. Suzune turun dari tempat duduk dan meraih ponselku. Entah setan apa dan dari mana, Kazune semakin mendekat ke arahku. "Ka-Kazune." Panggilku lirih. "Suzune yang minta, bukan aku." Balasnya.

"Ta-tapikan kau tak harus melakukannya." Aku memalingkan wajahku yang mulai memerah. "Papa cium mama." Pinta Suzune lagi. Suzune yang merasa bosan menunggku berjalan kesebelah Kazune. Dia memanjat Kursi dan menatap pemandangan luar jendela.

"Ba-baiklah kalau hanya di pipi." Kazune semakin dekat. Sebentar lagi dia akan menciumku tapi entah kenapa dia malah menjentikkan jarinya di dahiku. "Aku tak akan mencium orang yang tak menyukaiku." Kazune tersenyum. Entah kenapa senyumannya kali ini benar-benar sangat tulus.

Suzune yang sedang asik menikmati pemandangan tiba-tiba memanggil kami berdua. "Papa, Mama." Panggilnya, dia berbalik tapi tanpa senggaja Suzune malah menabrak punggung Kazune sehingga membuatnya menciumku.

Mata kami bertemu satu sama lain, detak jantungku beradu dengan detak jantung Kazune. Posisi ini membuat kami seperti bisa mendengar masing-masing detak jantung kami.

Reflek aku mendorong Kazune, seketika itu juga permainan raksaksa ini berhenda. Aku buru-buru membuka pintu dan menerobos kerumunan. Aku terus berlari tanpa menoleh kebelakang, seakan-akan saat aku menoleh kebelakang akan ada hal yang tak kan pernah bisa aku lupakan.

Tak hanya sekali dua kali aku menabrak orang yang sedang berjalan menikmati taman ria . semakin aku berlari air mataku semakin tak bisa aku tahan. Kristal bening itu kini berada di pelupuk mataku. Ingin rasanya aku menangis sekencang-kencangnya, tapi di keramaian seperti ini itu tak mungkin ku lakukan.

Aku masih terus berlari sampai seseorang menarik tanganku. Sejak itu langkah kakiku berhenti melangkah, tangannya memegang pergelangan tanganku.

Aku menoleh kebelakang dan aku mendapati cowok bermata kucing, berambut hitam legat tersenyum ke arahku. "Yo!" sapanya ramah. "Jin." Panggilku. Jin terkejut setelah menatapku, mungkin di matanya sekarang aku terlihat sangat menyedihkan.

Aku mengalihkan pandanganku darinya, tapi entah kenapa ia menarikku. Dia memeganggi pergelangan tanganku dan berlari menarikku. Aku hanya mengikutinya. Punggungnya yang tertutup kaos hitam legatnya menjadi pemandangan yang menghias jalanku.

Aku tak tahu dia akan membawaku kemana, dan aku tak perduli tentang hal itu sekarang. Rasanya otakku benar-benar error, yang ada di fikiranku hanyalah ciuman Kazune. Aku ingin menanggis, aku ingin melupakan kejadian itu.

"Kita sampai." Seru Jin. Kami kini berda di sebuah tempat istirahat yang cukup sepi, di dalam ruangan ini banyak sekali peralatan musik. "Ki-Kita dimana?" Aku gugup dan panik. Jin tak menghiraukan pertanyaanku, sebuah ruangan bercat putih dengan sebuah pintu yang tertutup rapat, taka da jendela disini.

Jin yang masih memeganggi pergelangan tanganku mendorongku ke dinding. Matanya menatap mataku. Mata kucingnya menghipnotisku untuk membalas tatapan mata dinginnya. "A-Apa yang kau lakukan Jin?" tanyaku gugup. Dia menatapku semakin dalam, dia melingkarkan sebelah tangannya ke pinggangku. Aku semakin takut. Aku hanya bisa menutup mataku.


Nah apa yang akan di lakukan Jin selanjutnya?


SEE YOU NEXT CHAPTER :D

Aku aka terlambat updatenya –w- emang tiap update kan terlambat hehehe..

Maaf yak dan makasih da sabar menunggu :D


.

.

.


"NOTHING"

By © BEBEK L DARK EVIL


.

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.