"KOMET and MAID"
.
.
.
Quotes :
"Saat kami kalah, ini juga berarti awal yang baru..
yang juga berarti..
Berjuang menuju tantangan baru."
"Aida Riko – Kuroko No Basuke "
.
.
.
BALASAN REVIEW :D
Jamilah : okey okey makasih hehehe…
Ikina Uruwashii : untuk masalah panjang atau gak gak tau deh.. tergantung mood soalnya.
Andien Hanazono : Okey … makasih dukungannya..
Izza : Iya pasti lanjut. Tapi untuk panjang atau engaknya gak tau deh.
Yume Sora : okey
Bulansucidewinu : gak janji deh ya :D
Athena Athiya : untuk Love and Rivalry aku butuh bahan banyak tapi dari semua fic aku, aku paling suka yang Love and Rivalry –w-
Rizki Kinanti : wehh.. makasih udah di jawab dan thanks lagi untuk dukungannya.
Karinokazune : Ehh.. rame apanya O.O?
Siti Ragiba Fihi : Hehehe.. gak sebagus itu u,u aku masih berusaha. Wehh… makasih udah di download XP. Hehehe.. kan emang tentang Kazune X Karin
Fasyamazaya : Iya masama, dan salam kenal :D
Ayu.p : Hahaha.. gak tau deh XP mungkin aja dia emang punya 2 kepribadian XP
.1 : Iya pasti lanjut
Guest : Tolong kalau pakek nama 'Guest' tolong kasih nama panggilanmu ya :D okey pasti lanjut.
Nuri : Hahaha baguslah kalau suka lagunya XP
Alya : Hahaha.. aku gak suka bikin Karin sengsara kayak sinetron aja –a
Asahina Natsuki : Okey terima kasih atas dukungannya.
KK LOVERS : Jujur aja aku gak tau banyak tentang genre hehehe..
MAKASIH REVIEWNYA :D
.
.
.
"KOMET and MAID CHAPTER 14"
Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil
Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v
Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.
.
.
.
"LAST GAME"
.
.
.
"Langit pun menangis..
Dan suaramu tidak dapat digapai.."
Pagi menjelang siang di sebuah Apartemen yang mewah dua sosok remaja saling berpandangan. Mata beriris biru memancarkan kegembiraan dan mata beriris hijau mengambarkan kepanikan.
Keduanya bertatapan penuh makna. "Duduk." Perintah Kazune. Aku duduk di sebuah sofa di belakang Kazune begitu pula dengannya yang mulai berdiri dan duduk di sofa. "Baik aku siap. Cepat mulai." Tantangku. "Baiklah, dengarkan aku baik-baik." Kazune menatapku sinis.
"Akan aku jelaskan permainannya." Aku memperhatikan Kazune dengan seksama, jujur saja aku tak mau kalah lagi darinya kali ini. "Masing-masing dari kita punya 18 pertanyaan, dan orang yang di beri pertanyaan wajib menjawabnya. Aku tak mengharapkan kau setuju tapi kau adalah 'Maid-ku." Penjelasan Kazune berakhir dengan kata-kata mengintimidasi.
"Huhh.." aku mendengus kesal sedangkan Kazune tersenyum puas. Dia memang suka menyiksa orang dan itu membuatku sebal. "Kita mulai." Tegasku. "Kau harus menjawabnya tanpa berfikir, setelah pertanyaan di lontarkan kau harus langsung menjawabnya." Lanjutnya.
"Setuju." Kali ini aku yang tersenyum. Entah dia bodoh atau apa tapi penjelasannya barusan memberikan keuntungan juga untukku. Aku tersenyum menyeringai. "Baiklah pertanyaan di mulai dari aku." Seru Kazune.
"Tak masalah." Jawabku antusias. "Siapa cowok yang menonjokku dulu?" Pertanyaan pertama telah di lontarkan. "Dia Kise, dia temannya Yuta." Jawabku singkat. "Selanjutnya aku, Kenapa kau tak masuk sekolah?" tanyaku antusias.
"Aku bosan." Jawab Kazune. "Ganti aku, bagaimana rasanya di cium oleh..ku?"Kazune menatapku penuh penyelidikan. "Heehhh…. Kenapa kau tanya begitu?" Aku benar-benar tak menyangka dia akan bertanya tentang hal itu. "Kau sudah memakai 2 pertanyaan Karin. Sekarang jawab pertanyaanku."
"Huhh… Menyebalkan di cium olehmu." Aku mengalihkan pandanganku darinya. "Sekarang ganti aku." Aku memberanikan diri menatapnya. "Kenapa kau ingin aku jadi Maid-mu?"
"Karena ku fikir ini menarik. Apa kau suka Kise?" Kami saling berhadapan tapi aku merasa ada ruang hampa yang memisahkan kami. "Tidak, aku hanya menganggapnya teman. Aku berteman dengannya sejak kecil."
"Pertanyaan ke empatku. Apa Kazune pernah menyukai seseorang sebelumnya?" Wajahku terasa panas dan memabakar. "Pernah, aku menyukainya."Kazune menengadakan kepalanya menatap atap berselimut awan putih.
"Kalau Karin apa kau menyukai seseorang sekarang?"Pertanyaan dari Kazune membuatku sedikit gugup. Jujur saja sampai sekarang aku tak merasakan apapun dengan siapapun. Perasaan suka itu telah lama aku hapus. Aku pernah kehilangan seseorang tapi aku tak mungkin menceritakan itu kepadanya.
"Tidak, aku tak tertarik dengan itu sekaranng." Aku tersenyum ke arahnya. "Bipp..Bipp…" aku mendengar suara ponsel yang bordering. Aku menatap Kazune saat ia mengeluarkan ponselnya dan menatap layar bersinar di tangannya.
"Dari siapa Kazune?" Tanyaku penasaran. "Himeka, dia bilang dia mau kemari tapi Kazusa dan Miyon mengikutinya. Sekarang dia sudah berada di depan Apartemen. "Heeehhh…. Bagaimana ini, mereka berdua tahu kalau aku jadi Maid-mu tapi mereka tak tahu kalau aku menginap di rumahmu." Aku menjelaskannya dengan panik.
"Kenapa kau selalu membuatku dalam masalah Karin." Seru Kazune kesal. "Cepat kita keluar dari sini." Kazune menarik tanganku dan berlari menuju lift. Ia menjalankan lift ini menuju atap Apartemen. "Huftt….Syukurlah." Aku menghela nafas lega.
Kami berdua berdiri berlawanan dan Kazune belum melepaskan tanganku. "Kita lanjutkan permainannya." Ia berbicara tanpa menoleh ke arahku. "Tapi sebelumnya bisa kau lepas tanganku." Wajahku lagi-lagi memerah. Kenapa Kazune selalu membuat jantungku berdebar dan wajahku memerah.
"Kau sudah memakai 5 pertanyaanmu Karin dan sekarang giliranmu." Kazune menyenderkan tubuhnya, ia menatapku yang berjarak 3 langkah darinya. "Emm… tolong ceritakan masa lalumu." Jawabku antusias.
"Hn, apa kau bodoh itu tadi bahkan bukan sebuah pertanyaan tapi sebuah permohonan, dan lagi aku tak mau menceritakannya Maid-ku." Ia meyeringai. Apa yang sebenarnya ia fikirkan kenapa ia suka sekali membuatku kesal. "Kenapa kau selalu membuatku kesal Kazuneeee?" teriakku. "Eh.." dia mengangkat sebelah alisnya.
"Uppss…" Aku membungkam mulutku dengan kedua tanganku, tanpa sengaja aku mengatakan apa yang aku fikirkan. "Hn, benarkah,"Kazune mengantungkan kalimatnya. Ia berjalan ke arahku dan memojokkanku. "…Karin!" Dia memanggil namaku tepat di salah satu telingaku.
Degg..
Lagi, jantungku berdetak semakin cepat lagi dan lagi. Kazune memegang lenganku dan mendorongku ke tepi Lift. Aku mengalihkan pandanganku darinya. Aku tak mau terhipnotis oleh matanya yang kelam dan mempesona itu. Huhh… sekarang aku benar-benar yakin kalau dia ini super menyebalkan.
"Sekarang giliranku." Sepertinya Kazune tak tahan aku cuekin, buktinya ia meraih daguku dengan paksa agar aku menatapnya. "Apa kau menyukaiku?" Karena tingkahnya yang jail, kini mata kami untuk kesekian kalinya saling bertemu. Aku terbelalak dengan pertanyaan yang tak pernah aku duga sebelumnya. "Tidak." Aku menjawabnya dengan cepat.
Tapi perasaan apa ini, jantungku berdetak semakin cepat, wajahku terasa hangat. Hembusan nafas Kazune bisa aku rasakan dengan jelas. "Let's Kiss." Deg.. 'Kazune mau berapa kali lagi kau membuatku begini, apa kau tahu tanpa kau sadari aku kini mabuk karenamu tahu.' Umpatku dalam hati.
"No, Thank you." Tolakku ragu. Sunggu perasaan ini semakin menjalar keseluruh tubuhku. Kazune sampai sekarang masih belum melepaskan tangannya yang menahanku dan juga tangannya yang memegang daguku.
"Lepaskan aku Kazune." Aku meneriakinya tepat di depan wajah tampannya. "Baiklah." Kazune melepaskan pertahanannya dan berjalan menjahuiku. Ia juga membelakangiku.
.
.
.
Hanya keheninggan yang terasa saat pintu Lift terbuka. Kazune melangkah pergi terlebih dahulu sedangkan aku mengikutinya dari belakang. Kami berdua berjalan menaiki tangga kea tap yang cukup panjang. Tak lama kemudian kami berdua kini telah sampai di atas atap. Ia mengeluarkan ponselnya dan membaca sebuah E-mail dari Himeka.
Dari : Himeka Kujyou
"Kak aku sudah sampai di depan Apartemen kakak, Apa kakak bertengkar dengan Karin?
Apartemen kakak sangat berantakan tak seperti biasanya. Aku, Miyon dan Kazusa kini sedang memberkannya. Jadi tolong jangan kembali dulu."
Kazune menutup ponsel pintarnya dan berbalik menapaku. "Hei Karin, bukankah saat kita pergi tadi Apartemenku bersih dan rapikan?" tanyannya menyelidiki. "Tentu saja. Memangnya kenapa?" aku balik bertanya kepadanya.
Kazune mengarahkan tangannya ke depan mulutnya seperti seseorang yang sedang berfikir. "Aneh." Gumamnya. "Memang kenapa Kazune? Jangan membuatku penasaran." Ujarku ketus. "Oh bukan tak ada apa-apa." Jawabnya santai.
"Bagaimana dengan gamenya?" Tanyaku. Aku berjalan mendekati tembok dan bersandar di tembok. Angin sepoi-sepoi membuat kepalaku sedikit pusing. Aku merebahkan tubuhku di lantai, aku terduduk lemas. Sandaranku pada dinding semakin melemah, nafasku terengah-engah.
Hosttt..hoossttt… semakin lama nafasku semakin tak beraturan. Tak sampai di situ saja, pandangan mataku mulai melemah. "Aku tak sanggup lagi." Gumamku lirih. Aku akan jatuh tertidur ke lantai kalau saja Kazune tak menangkapku.
"Karin." Panggilnya lirih. "Ka-zu…ne." sahut Karin tersengal-sengal. "Kau demam." Kazune mengecek suhu badanku dengan menaruh tangannya di dahiku. "Karin." Panggilnya lagi. "Aku ingin membawamu ke Apartemen tapi Himeka dan yang lain di sana, aku tak tahu kalau kau bisa selemah ini Karin." Wajah Kazune samar-samar terlihat panik dan sedih.
Aku merasa badanku terangkat, warna harum yang aku kenal yang selama 3 hari ini bersamaku membuatku sedikit tenang. Kazune mengendongku. Suara desiran pintu menuju atap terbuka. Rasa dingin dari hembusan angin menjelang senja kini tak aku rasakan lagi.
"Untuk sementara kita di sini saja Karin." Serunya setelah mendudukkanku di balik pintu. Tangannya yang lembut menyandarkanku di balik pintu. Kazune duduk di sampingku. Ia melepas bajunya dan menyuruhku memakainya.
Kazune kini tanpa sehelai kainpun di bagian atas. "Karin pakailah ini." Perintahnya lembut. Aku ragu-ragu mengambilnya, tapi kekuatanku sekarang tak sangup memakainya. "Karin." Panggilnya lagi. Aku yang sekarang mungkin terlihat benar-benar menyedihkan di mata Kazune.
"Sial." Umpatnya kesal. Kazune mengambil bajunya dan meletakkannya di atas tubuhku kemudian ia memelukku erat-erat. "Maaf aku tak tau harus bagaimana lagi Karin." Kazune berbisik di selah-selah pelukannya. "Maaf.." hanya itu yang bisa aku katakana sekarang.
Aku sekarang cuma beban untuk Kazune. Hanya menyusahkannya. Kazune melepas pelukannya dan mengetes suhu badanku lagi tapi kali ini dengan dahinya yang menempel di dahiku. Ia menatapku. Dengan dahi kami yang saling menempel wajah dan nafas kami bertukar satu sama lain.
"Gomen, Karin!" Serunya sebelum ia menciumku. "Ka-" aku tak bisa melanjutkan kata-kataku lagi karena ia telah mengunci aksesnya. Kazune memeganggi wajahku. Semakin dekat dan semakin dalam. Semakin kasar tapi menenagkan. Badanku yang sedari tadi terasa dingin tiba-tiba menjadi hangat.
Bibir lembut Kazune terasa begitu nyata. Aku tak bisa melawannya dengan kekuatanku yang sekarang, aku tak bisa mendorongnya seperti saat kami berciuman di taman ria. Entah apa bedanya tapi aku sedikit merasa ciuman Kazune kali ini benar-benar tulus dari hatinya. Aku tak tahu kenapa aku berfikir begitu dan aku tak bisa membohongi perasaanku.
Akhirnya aku sadar, perasaan berdebar saat dekat dengannya. Wajahku yang sering memerah karenanh tingkah jailnya kini aku menyadarinya. Perasaan yang aku rasakan terhadap Kazune. Aku menyukainya. Aku memeluk Kazune dan tidakanku membuatnya kaget. Kazune melepas ciumannya dariku. Aku hanya menatapnya dengan wajah yang memerah.
Nafas Kazune silih berganti masuk dan keluar, begitu juga denganku. "Karin, sebenarnya aku,"
Sebenarnya Kazune mau ngomong apa sehh..?
SEE YOU NEXT CHAPTER :D
.
.
.
Thanks for Readers and Reviewer :D
Habis ini gak update lama karena Quota modemku abis ..
Ada yang mau nyumbang wekwekwek XP
By © BEBEK L DARK EVIL
.
.
.
R
E
V
I
E
W
.
.
.
