"KOMET and MAID"


.

.

.


Quotes :

"Jika kau bertemu dengan semuanya,

Kau akan menjadi populer, Tapi Kau tidak mempunyai tempat di mana

Kau bisa menjadi dirimu sendiri."

"Megurou Shin (Devil and Her Love song)."


.

.

.


Review di bales di chapter selanjutnya

Gomen


.

.

.


"KOMET and MAID CHAPTER 14"

Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.


.

.

.


"LAST GAME"


.

.

.


"Semakin kau berfikir tentang alasan hidupmu

Semakin seperti kau terjebak dalam labirin yang begitu biru.."


Aku merasakan suhu badanku semakin panas, tapi aku berusaha sekuat yang aku bisa untuk tersadar. "Karin, sebenarnya aku…" Kazune terdiam sesaat, mungkin untuk meyakinkan dirinya sendiri sebelum ia mengatakan kelanjutan kalimatnya. "… aku ingin,"

Aku melihat sedikit semburat merah di wajah Kazune, tapi jujur saja aku tak mendengar dengan jelas apa yang ia katakan. Ia mengalihkan padangannya dariku. Semua yang ada di depanku menjadi putih, warna pirang rambut Kazune memudar di gantikan warna putih kusam yang menakutkan.

Aku mendengar Kazune memanggil namaku bersamaan dengan badanku yang ia gerak-gerakkan secara paksa."Karin!" panggilnya. Kazune mengerakkan bahuku ke dapan dan ke belakang.

Setelah semua ini kegelapan pekat yang aku rasakan, dan sekarang… tak terlihat apapun. Aku merasakan tubuhku berada di tempat yang lain. Begitu dingin, begitu gelap, tapi ini perasaan dan suasana yang aku rindukan.

"Karin!" Aku mendengar seseorang memanggilku. Awan lembut membawaku melayang mendekati asal suara. Tak lama kemudian aku melihat diriku yang masih berumur 10 tahun bermain dengan seorang cowok berambut hitam. Dia memanggil namaku, memberiku 7 tangkai bunga. Aku yang berusia 10 tahun mengambilnya dan tersenyum tulus.

Yang aku fikirkan saat itu adalah, apakah senyum gadis kecil itu palsu. Selama ini aku tak pernah tersenyum dari dalam hatiku, tapi aku juga merasa kalau aku pernah mengenal cowok yang memberiku bunga. Aku mendekatinya, tapi wajahnya masih tak dapat aku lihat. Cahaya mentari bersinar di balik tubuh munggilnya memberikan efek bayangan gelap pada wajahnya.

Cowok itu tersenyum tulus, tapi kesedihan mulai melintas di wajahnya. Ekspresi sendunya membuatku yang berusia 10 tahun mendekatinya. Cowok itu seakan tak ingin aku mendekat, ia terus mundur. Aku semakin mendekatinya karena penasaran dengan tingkah anehnya. Padahal beberapa menit tadi ia memberiku bunga.

Aku menjatuhkan bunga-bunga di tanganku saat aku lihat tubuhnya melayang dengan cepat ke bawah. "Tiiiiddddaaaakkkkkk….." teriakku yang berusia 10 tahun. Cowok itu lompat ke dalam jurang. Kakiku lemas. Kini aku menginggatnya kembali.

Sosok cowok yang pernah mengisi hidupku yang mampu membuatku tersenyum tulus. Karenanya sampai sekarang senyum palsu ini melekat dalam diriku. Aku mengingatnya. Aku yang berusia 10 tahun telah berjanji tak akan pernah tersenyum untuk orang lain lagi, kecuali untuknya.

"Karin." Aku mendengar seseorang lagi-lagi memanggil namaku. Aku tahu aku terkenal tapi tak bisakah mereka diam saat aku masih berusaha menginggat semuanya. "Karin." Panggilnya lagi. Aku sebal dengan panggilannya membuatku memaksa membuka mata.

"Berisikkk…" Teriakku. Aku mengayunkan tanganku dan memukul wajah yang pertama kali aku lihat. "Ehhh…." Seru seseorang secara bersamaan. "Eh.." Aku melihat sekeliling dan mendapati Himeka, Miyon dan Kazusa mengelilingiku. "Kalau Karin bisa memukul Kazune sampai terpental seperti itu, aku rasa dia sudah baikan." Ujar Miyon sambil tersenyum.

Himeka dan Kazusa tersenyum kepadaku. "Aku sudah menyiapkan bubur untuk Karin, semoga Karin cepat sembuh." Kini giliran Himeka yang angkat bicara. "Heemm… sebaiknya kita pulang. Ini sudah malam." Seru Kazusa. Miyon dan Himeka menganguk tanda setuju.

.

.

.

Kazune mendekatiku. Pipinya yang memerah karena pukulanku ia tutupi dengan salah satu tangannya. "Bagaimana ke adaanmu?" Tanyanya perhatian. "Aku sudah baikan." Aku menjawabnya dengan singkat. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Aku menatapnya serius.

"Jangan pasang tampang seram seperti itu, tadi kau pingsan kemudian terpaksa aku membawamu ke Apartemenku." Jelasnya singkat. "Berarti Miyon dan yang lainnya tau tentang ke adaan kita?" Tanyaku ragu.

"Apa boleh buatkan." Kazune menatapku cuek seakan-akan itu hanya masalah sepeleh yang tak berarti. "Mereka-kan temanmu, aku rasa mereka tak akan menceritakan hal itu kepada siapapun." Walau hanya basa basi tapi apa yang ia katakan membuatku senang.

"Aku tadi bermimpi, anak kecil yang aku rinduka. Tapi ," Aku mengantungkan kalimatku seakan-akan mimpi itu lenyap dari memoriku. "Some people come into our lives and quickly go. Some stay for a while, leave footprints on our hearts, and we are never, ever the same. - (Beberapa orang yang hadir di dalam hidup kita terkadang begitu cepat meninggalkan kita. Sebagian lainnya mungkin akan tinggal sejenak, kemudian pergi meninggalkan jejak kaki di hati, dan kita tidak akan pernah sama seperti dulu lagi.)" Setelah mengatakan hal itu Kazune berlalu pergi.


KE ESOKAN PAGINYA


Aku merasakan badanku menjadi lebih ringan, ku arahkan pandangan mataku menembus pemandangan luar jendela yang mengagumkan. "Ohayou." Sapa seseorang dari balik pintu. "Ka-kazune!" wajahku memerah saat kulihat Kazune hanya memekai sehelai handuk.

"Hennntttaaaaiiii…."Teriakku. aku menutupi wajahku dengan kedua tandanku. "Haahh.. " hanya kata singkat itu yang keluar dari mulutnya. Ia masih berdiri disana, di ambang pintu yang mulai terbuka seutuhnya. "Bagaimana keadakanmu?" Kazune bersandar pada pintu, padangan matanya menuju tepat ke mataku.

"A-aku sudah agak membaik." Jawabku singkat. "Hari ini kau tak perlu masuk sekolah, apa kau ada jadwal manggung?" Kazune masih menatapku. "Ti-tidak, aku tak ada jadwal manggung, besok sudah liburan musim panas jadi aku bebas." Jelasku. Entah kenapa perasaan gelisa yang tak ku mengerti kembali lagi.

"Baiklah, hari ini kau istirahat saja." Perintahnya. "Oh ya Kazune, sebelum aku pingsan aku merasakan sesuatu yang manis di bibirku, apa kau tahu itu?" Bluss.. seketika itu juga aku melihat semburat merah di wajah Kazune. "I-itu R.A.H.A.S.I.A" Kazune berbalik dan menutup pintu kamanya.

Semakin lama aku semakin tahu sedikit tentangnya, tentang cowok menyebalkan itu. "Mama." Aku menoleh ke arah pintu dan mendapati sosok anak kecil bersembunyi di baliknya. "Suzune-chan." Panggilku ramah. Suzune berjalan ke arahku dan menatapku, aku lihat air matanya tak lagi bisa di bendung.

Aku mengusap-usap kepalanya yang tertutup topi kelinci yang lucu. Matany berkaca-kaca, tak lama kemudian tanggisnya pun pecah. Aku turun dari tempat tidurku dan memeluknya erat. "Suzune-chan." Entah kenapa aku merasa nyaman dengan tangisan cowok mungil ini, seakan-akan tangisanya mewakili tangisanku yang sudah lama tak keluar.

Aku memeluknya semakin erat, ia masih menangis. Tagisan Suzune terhenti saat Kazune mengangkat badan Suzune ke udara. "Cowok tak boleh menangis Suzune-chan." Serunya. Aku sedikit terkejut akan kedatangannya. Aku tersenyum melihat Kazune dan Suzune begitu dekat. Senyumku terbentuk bak bulat sabit dengan sendirinya.

"Nah apa kalian masih bisa tersenyum seperti itu saat aku menyebarkan foto ini?" Seringai jahat tampak menyerampak, sosok itupun kini berlalu meninggalkan pintu yang masih terbuka.

.

.

.


Gak usah protes kenapa cuma dikit -_-

Saya lagi binggung ..

-3- tapi saya akan berjuang O.O/


By © BEBEK L DARK EVIL

.

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.