"KOMET and MAID"
.
.
.
Quotes :
" Percaya kata hatimu, bukan kata oranglain.
Lakukan yang menurutmu benar,
bukan yang menurut orang lain benar."
.
.
.
"KOMET and MAID CHAPTER 16"
Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil
Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v
Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.
.
.
.
"LOVE"
.
.
.
"The day will come when you'll be mine
But I'll just wait till that time
If I have to wait forever, that's what I'll do
Cause I can't live my life without you"
Aku merasa perjalanan cintaku baru saja di mulai bersamaan dengan cuaca panas yang menghangatkan hati. Es yang cair sedikit demi sedikit membuatku kebingunggan. Sikap dinginnya yang mulai mencair membuatku sedikit takut, tapi debaran ini juga tak mau berhenti.
Liburan musim panas telah di mulai, aku dan Kazune memutuskan untuk berlibur ke vila, tentu saja Suzune ikut bersama kami juga. Pagi ini tepat pukul 8 pagi kami semua sudah sampai, Himeka tidak ikut karena dia demam, awalnya aku berniat membatalkan rencana ini tapi Himeka melarang kami.
Michi sebenarnya ingin ikut tapi dia mengurungkan niatnya untuk menjaga Himeka. Hemm.. aku merasa ini akan baik-baik saja. Aku khawatir dengan Himeka tapi aku yakin Michi akan menjaga Himeka dengan baik.
DI RUMAH KELUARGA KUJYO
Himeka terduduk di ranjangnya, sedangkan Michi duduk di sebelahnya. "Sebenarnya apa yang terjadi Himeka? Tiba-tiba kau memintaku bersandiwara seperti ini. " Michi memulai percakapan. "Aku sebenarnya belum 100 persen yakin tapi aku merasa ada yang aneh saat aku datang ke apartemen kakak waktu itu."
"Maksudmu?" Tanya Michi lagi. "Saat aku datang kesana di hari Karin sakit, aku masuk ke Apartemen kakak tapi pintunya tak di kunci dan keadaan di dalam ruangan sangat berantakan. Kau tahu, keadaannya seperti hancurnya kapal Titanic." Himeka mulai bercerita.
"Hehehe.. bukannya menyebut kamar Kazune berantakan seperti kapal Titanic itu sedikit keterlaluan Himeka?" Michi tertawa garing.
"Enn.." Himeka menggelengkan kepalanya. "Ehh.. serius?" Ekpresi wajah Michi terlihat serius. "Aku merasa ada yang aneh, Karin bukanlah orang yang jorok dan kakak paling benci hal-hal yang berantakan."
"Mungkinkah," Michi mengantungkan kalimatnya. "Kau benar, ada orang yang mencari tahu tantang ini. Kalau itu wartawan Blue Devil dan Karin akan dalam bahaya." Himeka menundukkan kepalanya. "Jadi kerena ini kau meminta bantuanku!" Himeka hanya mengangguk ringan.
"Walau belum 100 persen tapi aku tak mau mengambil resiko." Ekspresi Himeka menjadi sendu. "Baiklah!" Seru Michi semangat. "Aku akan membantumu." Michi tersenyum.
DI VILA
"Aku harap Himeka tak apa. Padahal ini awal liburan musim panas, tapi dia malah sakit." Seru Karin. "Himeka pasti tak apa. Michi kan menjaganya." Sahut Kazune. "Aku harap juga begitu."
Mereka berdua duduk saling berhadapan di meja makan, menikmati makanan yang sudah di sediakan sebelumnya oleh pelayan keluarga Kujyo. "Mama, Papa." Panggil Suzune. Kazune dan Karin reflek menoleh ke arah gadis mungil itu.
"Iya Suzune-chan." Karin tersenyum. "Kanapa Mama dan Papa tidak menyuapi satu sama lain?" Pertanyaan polos tepat di lontarkan oleh Suzune. "Ehh… kenapa Mama harus menyuapi Papa?" Wajah Karin tampak memerah. "Karena," Suzune tampak kebinggungan, dia melihat ke atas dan kebawah. Ke kanan dank e kiri.
"Hehehe… kau tak perlu berfikir sekeras itu mendapatkan jawabannya Suzune-chan." Karin tertawa ringan. Kazune yang hanya memperhatikan percakapan mereka dari tadi ikut tersenyum.
KE ESOKAN PAGINYA
"Tuan Kazune." Panggil pelayan tua nan tinggi itu. Wajahnya yang kalem membuatnya nampak berwibawah. "Apa kau sudah mendapatkan informasinya?" Tanya Kazune blak-blakan. Pelayan itu hanya mengagguk. "Aku mengerti. Mau tak mau kita harus mengembalikannya ke pada orang tua kandungnya. " Ujar Kazune pasrah.
.
.
.
Sedangkan di sisi lain Himeka dan Michi kini berada di Apartemen Kazune. Mereka mengawasi daerah sekitar Apartemen tapi tak ada yang mencurigakan. Kemudian mereka melanjutkannya masuk ke dalam Apartemen.
"Taka da jejak sekalipun, dia hebat." Seru Michi. "Ayo kita cari lebih teliti." Ujar Himeka. Mereka mulai mencari lagi, membolak-balik buku-buku yang mungkin meninggalkan sedikit barang bukti. "Apa di sekolah ada yang mengetahui identitas asli Karin, atau ada orang yang menyukai Karin?"
"Orang yang menyukai Karin ya! Aku tak tahu banyak tentang hal itu." Himeka sedikit kecewa dengan dirinya sendiri. Walau mereka bersahabat lama tapi dia tak tahu banyak tentang Karin. "Mungkin benda yang menjadi barang bukti sudah di hapus oleh pelaku, atau," Michi terlihat serius.
"Barang itu tak ada." Kelanjutan dari kalimat Michi membuat Himeka binggung. "Maksudmu?" seru Himeka. "Yang aku fikirkan adalah mungkin barang itu berubah gambar dan hanya dimiliki pelaku. Sehingga dengan mudah dia tak meninggalkan jejak apapun ." jelas Michi.
"Kalau prediksimu benar kita harus bagaimana?" Himeka terlihat panik. "Kalau kita memancingnya dengan mengorbankan Karin itu akan sangat berbahaya, dan aku yakin Kazune akan membunuhku hehehe…" tawanya garing.
"Kita harus mendapatkan informasi dan menyelidikin hal ini secepatnya." Seru Himeka. "Emm…"Michi mengangguk setuju. "Aku akan mencoba menghubungi Kazune, mungkin dia menyadari sesuatu." Michi mengeluarkan ponsel canginya dan menekan beberapa tombol.
Kazune yang sedang asyik memperhatikan tingkah Karin dan Suzune dengan malas mengangkat telfon dari Michi. "Hn..!" jawabnya cuek. "Ada hal yang ingin aku tanyakan serius." Katanya TO THE POINT . "Kalau kau sekarang bersama Karin sebaiknya kau cari tempat yang aman." Perintah Michi.
Tanpa basa basi Kazune menuruti perintah Michi. Kazune tahu maksud Michi, saat Michi serius itu berarti ada hal buruk yang terjadi. "Apa kau pernah merasa di ikuti Kazune?" Tanyanya lagi. "Dari mana kau tahu hal itu? Kazune malah balik bertanya. "Jadi kau sudah sadar tapi kau diam saja." Bentak Michi.
"Aku menyadarinya tapi dia hanya memperhatikan kami saat di depan Apartemen saja, aku rasa dari gelagatnya ia seorang wartawan." Jelas Kazune. "Bagaimana kau tahu tantang hal ini?"
"Himeka yang memberitahuku, saat ia berkunjung ke Apartemenmu dia merasa ada yang aneh kenapa Kamarmu berantakan, jadi sebelum kau kembali dengan Karin dia sudah selesai membersihkannya. "Apa?" "Karena khawatir aku dan Himeka sedang menyelidikinya."
"Jadi sampai di mana kau menemukan bukti?" Kazune sedikit panik. "Dia sangat terampil, sepertinya dia mengacak-acak kamarmu hanya untuk memberi gertakan, tapi sebenarnya dia tak meninggalkan jejak apapun. Jadi aku berfikir mungkin dia hanya mengambil foto." Ujar Michi serius. "Foto, kalau benar apa yang kau katakan ini bisa gawat."
"Kenapa memangnya? Oh iya Kazune apa ada seseorang di kelasmu yang menyukai Karin?" Tanya Michi lagi. "Aku rasa ada, namanya Yuta, dia pernah menonjokku sekali waktu aku baru pindah." Jawab Kazune jujur. "Aku akan menyelidiki anak itu, sebaiknya kau jaga Karin aku takut orang itu mengikutimu sampai Vila." Kemudian Michi menutup panggilannya.
.
.
.
"Karin." Panggil Kazune setelah menerima telfon dari Michi. Kazune berjalan ke ruang tamu, tempat di mana Karin dan Suzune asik bermain tadi. Tapi tak seorangpun di sana. Kazune membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Karin tapi taka da jawaban.
"Papa hiks .. hiks.." Suzune keluar dari kolong meja makan dan memeluk Kazune. "Suzune mama-mu dimana?" tanyanya panik. Kazune mengusap rambut Suzune untuk menenangkannya. "Mama pergi dengan orang aneh." Jelas Suzune.
"Sial.." ujar Kazune kesal. "Tuan Kazune." Pelayang setia Kazune menghampirinya. "Nona Karin meninggalkan pesan untuk Anda." Kazune membuka surat yang di berikan pelayan itu dengan sigap.
"Aku pergi sebentar untuk menyanyi."
"Aku serahkan Suzune padamu." Sebelum pelayan itu sempat menjawab Kazune sudah berlari meninggalkan Vila luas itu. "Kau bodoh Karin." Ujar Kazune kesal. Ia berlari menuruni bukit. Dinn..dinn..suara klakson mobil menghentikan langkah Kazune.
"Kujyo cepat naik." Seru cowok berambut pirang dari dalam mobil. "Kau.." tanpa pikir panjang Kazune masuk ke dalam mobil sport hitam nan mewah itu. "Cepat cari tampat karaoke yang dekat sini. Sial.. dia bertindak ceroboh lagi." Umpat Kazune kesal. "Jangan memerintahku." Seru Yuta.
Mereka kini berdua sampai di tempat karaoke yang cukup mewah. Kazune bertanya kepada Resepsionis tentang gadis yang masuk dengan om om gendut yang mencurigakan. Resepsionis itu mencari dengan cepat den teliti hingga akhirnya 3 menit ia mencari ia sudah menemukannya.
"Ruangan 102 lantai 4. Ujarnya. Tanpa pikir panjang Kazune berlari menuju ruangan yang di maksud.
RUANG 102 LANTAI 4
"Sekarang lakukan apa yang aku katakan, kalau tidak aku akan mengirim foto ini ke internet dan delam sekejap karirmu dan teman-temanmu akan tamat." Perintahnya. Karin hanya diam. Dia hanya mengangguk.
Kalau foto itu tersebar Kazune, dan teman-teman bandnya akan hancur. Om om itu duduk menghadap monitor, sedangkan Karin duduk di sebelahnya. Om om itu memeganggi paha Karin yang sedikit terbuka. Karin gemetar, ia risi dan jijik. Ia ingin menanggis tapi ia tahan.
"Sekarang berdirilah di depanku." Karin menurutinya. Ia berjalan ke depan monitor dan berbalik menghapat om om gendut itu. "Lepaskan jaketmu." Perintahnya lagi. Dengan engan Karin melepasnya dengan ragu-ragu. "Kenapa lama sekali, cepat buka." Teriak om om itu kesal.
Air mata Karin semakin ingin mengalir deras, ia berharap apa yang ia lakukan dapat menyelamatkan teman-temannya. Tapi apa ini tak apa? Ia mengorbankan dirinya sendiri. Bentuk tubuh Karin semakin terlihat saat jaket biru itu terlepas dari tubuhnya.
Hanya baju putih tipus musim panas yang ia kenakan menutupi badannya, celanya jins pendek yang ia pakai menutupi bagian bawahnya. Om om itu mendekati Karin dengan membawa sebotol air minum. Karin tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Om om itu menyiramkan air itu tepat di baju depan Karin. Baju putihnya yang basa membuat bra dalam Karin terlihat. "Gadis SMA memang menggiurkan." Katanya cabul. Ia membuang botol itu ke sembarang arah. Karin bergidik ngeri tapi ia coba beranikan dirinya.
Om om itu meletakkan kedua tangannya di dada Karin dan memeluknya. Ia membelai rambut Karin. Nafasnya berhembus di sela-sela lehernya. Om om cabul itu begitu dekat dengan lehernya dan tangannya yang menyentuh dada Karin semakin menekannya.
"Kau gadis yang manis, biarkan aku membuka bajumu." Om om itu melepaskan pelukannya dan mulai membuka baju Karin. Kancing atas baju Karin di bukanya dengan paksa, berikutnya kancing kedua. Karin tak tahan lagi. Ia ingin berteriak.
"KAAZZZUUNEEE.."Teriaknya bersamaan tangisan yang mulai memecahkan keheningan. Brakk .. pintu di buka dengan paksa, kazune yang masih ngos ngosan mendekati om om cabul itu dengan geram. Ia menonjoknya dan menendang wajahnya berkali kali.
Ia memukul wajahnya hingga babak belur, Karin terduduk kaku di lantai, tanggisanya semakin deras, ia ketakutan badannya gemetar. Karin memeluk lututnya, ia tak ingin seorangpun melihat dirinya yang kotor.
Setelah puas menghajar om om cabul itu Kazune membawa Karin pergi, di tengah jalan ia bertemu Yuta yang datang bersama polisi. Aku serahkan bajingan itu padamu. Kazune pun berlalu. Melihat ekprsei Karin yang kacau, Yuta hanya mengangguk.
.
.
.
Kazune dan Karin kini sudah kembali ke Vila. Karin mengurung dirinya sendiri di dalam Kamar. Karena merasa cemas Kazune mengetuk pintu kamar Karin dengan ragu. "Karin boleh aku masuk." Tapi taka da jawaban sama sekali. Tanpa pikir panjang Kazune masuk tanpa izin.
Suara air mengalir mendominasi kamar berwarna hijau toska itu. "Apa kau baik-baik saja Karin?" lagi-lagi tak ada jawaban. "Maaf aku datang terlambat." Kazune menunduk menyesal. Ia ingat betapa bodohnya ia meremehkan penjahat itu.
Lagi-lagi Karin tak menjawabnya. Suara pintu kamar mandi di buka. Kazune yang berdiri menghadap pintu benar-benar prihatin dengan kondisi Karin saat ini. Ia merasa dirinya benar-benar tak berguna. "Masuklah." Pinta Karin tiba-tiba.
Dengan ragu Kazune hanya menurutinya. Kazune masuk dan Karin menutup pintu itu dengan mendorong tubuh Kazune menempel di pintu. Karin menyenderkan dirinya di dada bidang Kazune dan menanggis tersedu-sedu.
"Tolong jangan minta maaf, hiks hiks.." Karin menanggis. Karin tak sangup berdiri lagi, matanya benar-benar memerah, dia menangis dari ia sampai di vila hingga sekarang, ku tahu ini sudah hampir jam 12 malam.
"Karin tenangkan dirimu." Kazune ikut duduk di lantai. "Kau tak tahu rasanya Kazune." Teriaknya. "Cowok sialan itu memegang dadaku, dia memelukku, dia membelai rambutku, dia memegang pahaku sesukanya. Dia bahkan hampir mengjilat leherku. Kemudian dia membuka bajuku. Apa kau tahu rasanya semua itu Kazune.." amarah Karin ia lampiaskan kepada Kazune.
Kazune hanya diam membisu. Ucapan Karin terdengar sangat menderita, ia tak tahu harus berbuat apa. Karin meremas baju Kazune. "Nee, Kazune apa kau menyukaiku?" Tanya Karin dalam isakannya. "Aku suka Kazune." Jawab Karin. Sontak Kazune terdiam dan menatap Karin.
"Ahahaha… lupakan sepertinya aku benar-benar sudah gila. Maaf membuatmu khawatir. Sekarang aku tak apa." Karin tersenyum dan berdiri. "Mungkin aku akan belajar aikido untuk menjaga diriku. Yosshhh… waktunya mandi." Teriaknya bersemangat.
Kazune masih terdiam di depan pintu. "Kazune cepat keluar aku mau mandi!" teriak Karin sambil menarik tangan Kazune. "Kau tak perlu berbohong di depanku. Kalau kau bersikap seperti ini lagi di depanku aku akan.."
"Hnn…" Karin memiringkan kepalahnya ke kanan untuk melihat wajah Kazune. Kazune menarik Karin dan memeluknya. Karin tak berkedip, tapi air matanya entah kenapa mulai menetes lagi. Beberapa detik kemudian Kazune menatap wajah Karin.
"Jangan menatapku." Perintah Karin. "Maaf…" ujar Kazune. "Tak perlu. Keduanya bersemu merah.
.
.
.
Yosh aku ngetik cukup banyak –w-
Tapi gak cocok di baca ama anak kecil…
Maaf ya.. ada hal yang ingin aku sampaikan nantinya..
U,u
By © BEBEK L DARK EVIL
.
.
.
R
E
V
I
E
W
.
.
.
