"KOMET and MAID"


.

.

.


Quotes :

"Try to be a Rainbow in someone's Cloud."

"Maya Angelou"


.

.

.


"KOMET and MAID CHAPTER 21"

Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.


.

.

.


"YOU"


.

.

.


"Ada saatnya aku melupakan masa laluku, yaitu kamu..."


Jam dinding itu selalu memperhatikanku, sejak aku menginjakkan kakiku di Apartemen mewah ini, ia menatapku dengan pandangan kosong. Aku duduk di sofa ruang tamu, menatap sebuah Televisi LCD 50 Inc, yang berwarna hitam legat. Saat ku tengok sebelah kanan kulihat Suzune tertidur dengan pulasnya di sudut kamar, pintu kamarnya terbuka lebar jadi aku bisa melihatnya dari sini.

Tak lama kemudian Kazune datang membawakanku segelas Orange Juice. Entah sejak kapan dia bisa melayani tamu dengan baik. Aku melirik jam dinding di sudut ruangan, di atas sebuah vas bunga yang bermekaran. Ia menunjukkan pukul 07.21 Malam. "Apa kau ingin pulang? Sedari tadi kau menatap jam diding itu." Petanyaan simple di lontarkan Kazune, memecahkan keheningan yang melekat di antara kami. "T-Tidak, aku hanya merasa kalau ini sudah cukup larut, dan entah kenapa aku sedikit merindukan tempat ini." Kazune terbelalak mendengar jawabanku.

Dia mengulurkan salah satu gelas di tangannya padaku. Dia berjalan pelan dan duduk di sampingku. "Malam ini ..." saat mengatakan hal itu, wajah Kazune sedikit memerah, walau aku tak yakin sih, karena aku hanya bisa meliriknya. Aku merasa canggung. "Malam ini, aku ingin mengatakan semuanya, semua hal ingin kau ketahui, jadi jangan mengabaikanku." "Ehh.." mataku terbelalak mendengar perkataan Kazune barusan. Aku tak bisa menjawanya. Aku menatap lurus ke depan, aku menatap Tv besar di depanku, wajah Kazune terpantul di sana, terlihat cuek dan menawan. "Apa kau ini seorang pangeran Kazune?" entah kenapa otakku memikirkan hal itu. Rasanya sedikit lucu, hihihi.

Tapi saat kau jujur seperti ini, aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan, bagaimana aku harus bersikap? Bagaimana aku menjawabnya? Tapi terima kasih. Aku berdiri dan menarik tangan Kazune. Jus yang ia pegang di tangannya sedikit tumpah ke tangannya. Matanya terbelalak, bibirnya seakan terkunci. Tanpa sekata katapun keluar dari mulutnya, dia menurutiku. Dia berdiri, dan aku menariknya. Aku berjalan menuju pintu Balkon, membuka pintu itu pelan-pelan dan keluar dan ruangan bersama Kazune.

"Disini lebih baik." Ujarku. "Tempat inilah yang belum pernah aku datangi di ruangan Ini, ini selalu terkunci. Aku tak pernah punya kesempatan bermain disini." Aku melepas tangan Kazune dan tersenyum kepadanya. Aku duduk di lantai Balkon yang dingin, menyilangkan kedua kakiku dan menatap langit malam yang sendu, tak ada Bintang ataupun Bulan. Kazune meletakkan Jus di tangannya di meja Balkon, kemudian dia duduk di depanku, dengan Kaki bersilang sepertiku.

"Jadi, pastikan kau menjawab semua pertanyaanku." Aku menatapnya dengan wajah serius. Dia mengangguk tanda mengerti. "Pertama, Kenapa kau menyimpan benda itu?." Aku menunjuk benda mengantung di lehernya. "Karena ini berharga." Sejujurnya aku mengabaikan jawaban itu, "Kenapa kau membunuhnya?" Aku tahu Kazune sudah sadar kalau pertanyaan ini akan keluar dari mulutku. Dia tahu aku ingin kejujuran, dan dia menatapku cukup lama sampai ia membuka mulutnya kembali.

"Maaf, maafkan aku." Dia menunduk. "Maaf tak akan membuat dia hidup Kazune." Sejujurnya semakin aku melihanya, itu membuatku semakin marah. "Aku tak membunuhnya, saat itu dia mengabaikan pertanyaanku, kemudian dia..."

.

.

.


FLASH BACK

KAZUNE POV


Hari itu aku, Jin juga Michi bermain di bukit kota. Sebenarnya kami ingin bermain basket, tapi karena lapangannya di pakai pertandingan kami akhirnya memutuskan datang ke sini. Umurku sekarang adalah 9 tahun, begitu juga Jin. Kalau Michi sih 10 tahun, tapi dia berhenti sekolah setahun karena ada masalah pada matanya, jadi sekarang kami sekelas. Ayahku sibuk dengan pekerjaannya jadi aku hanya menhabiskan waktu liburanku dengan mereka berdua, ya walau menyebalkan kadang-kadang tapi mereka sudah seperti keluargaku sekarang.

Ini pertama kalinya kami datang kesini, rumput liar dan bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Aku berlari menelusuri sudut demi sudut bukit yang sejuk ini. Saat aku sedang asik berjalan ku lihat seorang gadis manis menatap seorang laki-laki seusiaku yang sedang mengumpulkan bunga-banga sendirian. Gadis itu mengawasinya dari kejahuan, kemudian ia berbaring di atas rumput liar dan menikmati sejuknya angin dan tarian awan.

Aku mendekati laki-laki itu, Michi dan Jin mengikutiku dari belakang tanpa ku sadari. Tak lama kemudian aku sampai di depan laki-laki itu, sepetinya kedatanganku sedikit mengagetkannya. "Hei.. namaku Kazune, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanyaku ramah. Dia cukup manis untuk ukuran seorang laki-laki. Wajanya menawan dan lembut. Hei aku menjelaskannya bukan karena aku tertarik padanya kau tahu. Dia mengangguk. "Apa gadis yang tidur di sana temanmu?" laki-laki itu berdiri dan menatapku. Ia tak bersuara. Ia mengangguk.

"Bolehkah aku mendekatinya? Dia sedang asyik di sana jadi aku tak berani menganggunya." Ujarku santai. Laki-laki itu berdiri dengan cepat, dia menatapku dengan tajam. Dia tak bersuara, tapi tangannya meremas 7 tangkai bunga di tanganya. "Maaf, apa dia milikmu?" tanyaku santai. Sejujurnya aku sedikit terkejut, dengan wajah yang manis dia menunjukkan ekpresi membunuh. "Baiklah, aku tak akan mendekatinya." Aku mengangkat kedua tanganku dan tersenyum ramah padanya. Michi dan Jin yang berdiri di belakangku. "Tingkah konyol apa ini Kazune?" tanya Jin cuek. "Bukankah kalau kau ingin mendekatinya sebaiknya tinggal kau sapa dia." Lanjut Michi. Aku berbalik dan menatap mereka berdua.

"Kalian berdua tidak sopan. Apa kalian tidak tahu arti 7 bunga di tangannya. Dia menyanginya." Aku tersenyum pada laki-laki yang baru ku temui. "Sebaiknya kita pergi dari sini." Aku menarik Jin dan Michi dari bukit. "Bye bye, jaga dia baik-baik, kau tahu dia sangat manis hihihi.." aku tersenyum menyeringai dan meninggalkanya sendiri. Dia membalas senyumku. "Kazunee lepaskan akuuu...!" teriak Jin, ada hal yang mau aku sampaikan padanya. "Ehh.." aku berhenti sejenak dan melepaskan tanganku dari Jin.

Jin melangkah mendekati laki-laki itu. "Jaga dia baik-baik, kalau tidak aku yang akan merebutnya dari tangan kalian berdua." Jin menyeringai. Laki-laki itu mengambil sebuah buku yang tergeletak di rerumputan, kemudian dia memukul kepala Jin dengan buku itu keras-keras. Dengan cepat dia menghindari pukulan itu dengan tangannya. Laki-laki itu kehilangan keseimbangan, dia terdorong kebelakang dan menabrak pagar pembatas, Jin mengulurkan tangannya tapi naas, laki-laki itu tak bisa mengatur keseimbangannya dengan baik karena tanah bukit yang tidak stabil. Dengan cepat dia terjun ke bawah dengan buku dan 7 tangkai bunga di tangannya.

Kami sudah berusah menyelamatkannya, tapi karena hutan di bawah bukit sangat rindang dan susah di lalui, dia kehilangan banyak darah. Aku sudah memohon kepada Papaku agar melakukan segala cara untuk menyelamatkannya tapi nihil. Otaknya terbentur bebatuan sungai dan tubuhnya tercabik-cabik oleh ranting pohon.


END OF FLASH BACK


"Dan kau tahu apa yang terjadi selanjutnya." Aku menundukkan mataku, aku tak berani menatap gadis berambut coklat yang mulai menangis di depanku. "Saat aku bilang aku tidak membunuhnya aku minta maaf, aku rasa itu cuma pembelaanku saja. Tanpa sadar akulah yang membunuhnya. Tapi sebanyak apapun aku minta maaf aku tahu kamu tak akan memaafkanku." Dengan keberanian yang tersisa aku mencoba menatapnya.

Karin menatap tajam tepat ke padaku, tatapannya menusuk dan terasa kesakitan yang mendalam. Air matanya terus mengalir. Dia menampar pipi kananku dengan keras, aku merasa semua emosinya tertuang di sana. Sejujurnya aku tak tahu harus menyikapinya seperti apa. Aku hanya ingin dia melampiaskan semuanya. "Jadi Karin bisakah kau hidup tanpanya? Bisakah kau hidup dan melangkah kedepan tanpa dosa itu di tanganmu? Aku ingin melihatmu terlepas dari beban itu, karenanya aku mohon maafkan dirimu. Kau tidak bersalah, kau tak seharusnya menderita. Jadi tolong maafkan dirimu."


END OF KAZUNE POV


.

.

.

Aku mencoba berdiri, aku berpegangan pada pagar pembatas balkon Apartemen Kazune, aku benar-benar terkejut dengan semua penjelasannya. Aku membencinya. Itulah yang selalu aku katankan pada diriku tapi hatiku menolaknya. Aku berusaha melupakan masalah itu sedikit demi sedikit, walau susah tapi yang barusan Kazune ceritakan membuatku dikit lega. Aku berjalan meninggalkan Kazune yang masih terduduk di tempatnya. Aku mengambil sebuah buku usang di tasku. Aku mendengar langkah kaki dari belakang. Aku membalikkan badanku dan memperlihatkan buku itu pada Kazune. Ekpresi terkejut di matanya tampak samar. "Karin, apa kau akan terpuruk di tempat itu selamanya?" pertanyaan Kazune membuatku menatapnya dengan tajam, tapi dia mengabaikanku. Dia berjalan menuju kamarnya, tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah buku berwarna biru di tangannya.

Dia melemparkan buku di tangannya kepadaku. Dengan sigap aku menagkapnya. "Lihatlah, saat hatimu terpuruk disana, ragamu terlah membuat kenangan baru yang menyenangkan." Dia mengatakannya dengan santai, tapi matanya mengawasi setiap gerak gerikku. Aku mendekati sofa dan duduk di sana. Aku membuka lembar pertama buku itu, mungkin lebih tepat di sebut album.

Pemandangan pertama yang aku lihat adalah senyum usil Kazune dan diriku yang tertidur pulas di sebelahnya. Aku memanyungkan bibirku. "Heii.. apa-apaan ini? Kenapa disini wajahku jelak sekali?" tanyaku ngambek. "Dari dulu kau memang jelek." Jawab Kazune santai. "Huhhh... dasar BakaZune." Umpatku kesal. Tanpa aku sadari air mataku yang tadi mengalir deras berubah menjadi senyuman dalam sekejap mata.

Di bawah foto itu terdapat foto Suzune yang aku capture. Dia tampak sangat manis. Aku tersenyum dan sesekali terkikih. Aku berhenti pada halaman ke 4 album foto itu. Aku lihat Kazune berusaha keras mengambil rotiku. Aku rasa foto itu diambil oleh Suzune. Sekarang aku benar-benar merasa lega, apa yang Kazune katakan membuatku sadar, bahwa kebahagiaan itu tak hanya terjadi di masa lalu tapi sekarang pun aku masih bisa memperoleh kebahagiaan walau tanpanya.

"Sejak saat itu, aku selalu memikirkanmu. Jadi aku selalu mencari tahu tentangmu. Maafkan aku." Kazune menundukkan badannya dan serius meminta maaf. Aku tersenyum dan menyeringai. "Aku akan memaafkanmu tapi kalau kau bersedia menjadi Maid-ku selama 2 minggu." Ujarku riang. Akhirnya hari pembalasan untuk semua perlakuanmu padaku saat itu telah tiba Kazune kekeke..

"Ehhh..." Mata Kazune terbelalak tak percaya.

.

.

.


BALASAN REVIEW


Rere : Ok sama-sama dan saya cuma seekor bebek O,O/

Yumi Azura : Ini belum tamat kok, tamatnya masih lama xp

25 : mungkin sampai chapter 50 Tamat x.x

Ulin Nuha : Hahaha.. Kazune milik saya xp

ayu : Iya di lanjut kok

Mizuno Hakaru : Iya makasih dukungannya

Rin-chan 2930 : Ok sepp .. lanjut sampai titik darah penghabisan x.x

Guest :Iya sering Hiatus soalnya sibuk xp

Monica : Iya lanjut kok kalau ada waktu sengang aku ngetik kok

YuriKazehaya : Ah kalau gak yakin kalau gak hiatus xp

Ayu : Iya kok lanjut xp

BYKKSKRNVFVXFA LOVERS : Okkkeeeeyyyy

Aisha : Iya, makasih xp #gak tahu mau balas apa xp

Aisha958 : Sankyuu xp

ayu : Ok lanjut kok

Nana99 : Ok xp

Meydiana585 : Ok hahaha xp

azahnurbandini : Baguslah kau da ngerti xp

Rika'i : Ok sep makasih

EFI-Chan : Tenang2 udah lanjut kok xp


.

.

.


"No Comment, see ya next chapter"

By © BEBEK L DARK EVIL


.

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.