"KOMET and MAID"


.

.

.


Quotes :

"Every day may not be good,

but there is something good in everyday."

"Author Unknow"


.

.

.


"KOMET and MAID CHAPTER 22"

Disclaimer : Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Story : Komet and Maid © Bebek L Dark Evil

Warning : Gaje, OOT, OOC, Ancur, Tak memperhatikan EYED and Etc -,-v

Selamat menikmati cerita yang di buat oleh author bebek sarap ini.


.

.

.


"K.A.Z.U.N.E"


.

.

.


"Mengingat masa lalu hanya akan membuatmu menyesal dan ingin mati."


Mata kami saling berpandangan satu sama lain, walau hanya ada kesunyian di antara kami berdua. Suzune masih tertidur dengan pulasnya. Kesunyian di antara kami membuatku senang, ya setidaknya aku bisa menatapnya diam-diam mengobati rasa rinduku padanya. Aku menunggu jawaban Kazune, sebenarnya dia tak punya pilihan lain selain menjadi Maid-ku. Tapi kau tahu, harga dirinya yang tinggi tak mengizinkan dia melakukannya. Dia menutup matanya, kedua tangannya menyilang di depan dada bidangnya.

Tak lama kemudian dia membuka matanya, menatapku dengan pasti dan tersenyum. "Baiklah aku menerima tawaranmu, tapi ada syaratnya." Aku mengerutkan sebelah alisku penasaran, belum sempat aku melontarkan pertanyaan dia sudah memberitahuku. "Tolong tinggalah di sini." Dia sedikit ragu mengatakannya, bibir bawahnya bergetar seakan ada kesedihan yang dia tahan, matanya terlihat sendu. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini, tanpa pikir panjang aku menganggukkan kepalaku.

"Sebaiknya kau tidur!" perintahnya pelan. " Ah gomen, Karena sekarang Karin adalah majikanku apa aku perlu mengendongmu layaknya seorang tuan putri." Dia tersenyum, senyuman usil yang membuatku ingin menendangnya. "Baiklah akan aku persilahkan kau melakukannya jika kau mau." Ucapku sinis. Huhh rasakan itu Kazune, apa kau bisa melawanku sekarang. Dia mendekatiku dengan pasti, dia tak bersuara, dia hanya menatapku. Tatapan sendu yang tandinya aku bingungkan kini menghilang sekejap mata. Dia menganggkat badanku tanpa aba-aba. Dia mengendongku layaknya seorang putri yang di gendong seorang pangeran. Aku mengalungkan kedua tanganku di leher putih Kazune. Parfume Kazune tercium jelas oleh indra penciumanku, aku memalingkan wajahku darinya. Sejak dia menganggkatku wajahku memerah padam, walau aku tahu aku yang memintanya, tapi aku heran kenapa dia mau melakukannya.

"Ini hanya sebuah Game, jangan menganggapnya serius." Perkataan singkat itu membuatku membatu. Aku menatap matanya untuk memastikan apakan dia serius mengatakan itu atau hanya main-main. Tapi tatapan mata itu 'Serius' dan itu membuatku terpuruk di dalam pelukannya. Dia berjalan dengan pasti dan beberapa saat kemudian dia menurunkanku dengan pelan di tempat tidur King Size yang berwarna putih dengan selimut tebal yang lembut.

Kazune mendekati pintu kamarnya dan menutupnya saat aku sibuk membenarkan posisiku dan menutupi badanku dalam kehangat selimut putih salju. Langkah kakinya semakin mendekat dan bunyi decitan dari tempat tidur yang di naiki Kazune membuatku syok. "Hei apa kau gila? Apa kau akan tidur seranjang denganku? " tanyaku sebal. Aku beranjak dari posisiku dan menatapnya. Dia sibuk membenarkan posisinya dan mengabaikanku begitu saja. "Tenang saja aku tidak tertarik dengan dada ratamu atau badanmu yang berat itu." Ejeknya santai. Dia memiringkan badannya dan menjadikan salah satu tangannya sebagai tumpuan kepala.

Rambut pirangnya tertata dengan rapi, bau shamponya dapan aku cium dengan jelas. "Hufffttt... Sebaiknya kau tidak menyentuku atau aku akan menyuruhmu melakukan hal-hal gila besok pagi." Ancamku sebal. Kau tahu walau sekarang aku adalah ratu dalam game kami tapi dia seperti tak menghargaiku, dia tetap saja berkuasa dan melakuakan semua hal tanpa aturan. Aku memiringkan badanku membelakangi tubuh Kazune. Kami berdua berbagi selimut tebal, tapi rasanya hati dan jiwa pikiran kami berada di tempat yang jahu. Aku harap suatu saat kami bisa bersatu.

Entah kenapa, tiba-tiba saja perkataan Kazune terlintas di benakku. "Ini hanya sebuah Game, jangan menganggapnya serius." Aku menarik selimutku sampai menutupi hidungku, kini teringat dengan jelas memori kami berdua, awal aku bertemu dengannya saat aku sedang menunggu Komet yang ingin aku lihat, tapi gara-gara dia semua berantakan. Persaingan dengan beradu perfome band kami, menjadi maid-nya, bertemu dengan Suzune, membersihkan kolam renang dan aku merasa dia pernah menciumku. "Ehh... " gumamku tiba-tiba di antara lamunanku.

Jadi apa dia pernah menciumku? aku tahu dia memelukku tapi apa saat aku sakit dulu di atap aku merasakan benda lembut mendarat di bibirku, tapi apa aku yakin kalau itu bibir Kazune? Aku mereka ulang setiap kejadian yang kami lewati. Aku membalikkan badanku, kini aku menatap punggung Kazune, dia tertidur pulas, nafasnya terdengar sangat teratur. Membuatku sedikit nyaman. Tapi aku sadar dia tak akan bisa aku miliki.

Saat ini aku ingin menangis. Tangan kananku mencoba meraih pungung Kazune, aku ingin memilikinya kali ini saja, aku tahu dia punya pacar tapi tidak bisakan kau melihatku sebagai seorang gadis Kazune. Selama ini kau selalu ada saat aku membutuhkanmu. Kau selalu menghiburku, membuatku tersenyum dan melupakan masa laluku. Tapi , tapi kenapa-

Aku menahan air mataku, aku mencengkram baju belakang Kazune, aku bergerak mendekatinya. Aku ingin memeluknya tapi aku sadar, aku tak akan mampu melakukannya. Dia bukan milikku. Walau hatiku dan perasaanku selalu menyukaimu tapi aku sadar bahwa orang yang aku sukai belum tentu menyukaiku. "Ka-rin.."Ujar Kazune lirih. Aku tersentak dan reflek bersembunyi di balik punggungnya.

"To-tolong jangan melihatku saat ini." Pintaku lirih. Kini, aku ada di batasku. Saat dia memanggil namaku air mataku mulai terjatuh. "Kau kenapa Karin? Apa kau ingin ke toilet tapi tidak berani?" tanya Kazune acuh. "Baa-Kaaa..." teriakku tepat di telingahnya. Dia terdiam, tak bersuara. Dia membalikkan badannya dan menatapku, aku melepas gengamanku darinya.

Dia melihatku menangis, kemudian dia memelukku. "Le-lepaskan aku Kazune, kau sudah punya pacar jadi lepaskan aku." Aku memberontak, aku mencoba melepas pelukan Kazune tapi semakin aku bergerak semakin kuat dia mencengkramku. "Memang kenapa kalau aku punya pacar?" tanyanya santai. "Oh apa kau Players? Dengan tampang bak pangeran itu tak heran jika kau seorang Play Boy!" sindirku dalam isak tangisku yang mulai reda.

"Kau ini memang otak udang." Ujar Kazune kesal. Apa kau belum sadar juga, siapa gadis yang aku sukai. "Ya aku tahu. Tentu saja itu Hisako kan?" jawabku cuek. "Dasar lemottt.. sebenarnya otakmu itu pentium berapa sih Karin Hanazonooo...?" teriak Kazune sebal. Tiba-tiba saja di batas kekesalannya dia menarik daguku dan menatapku lekat-lekat. "Suatu hari kau akan tahu siapa gadis yang menjadi pacarku selama ini." Kazune tersenyum, dan masih menatapku. Mata itu seakan tak mau di abaikan.

"Mana mau aku menunggu, kalau begitu berikan aku petunjuk." Pintaku merengek memohon. "Huhh.. gadis sepertimu memang menyebalkan. Tapi baiklah aku akan memberikanmu petunjuk. Jika kau membuatku merasa senang aku akan meninggalkan petunjuk di lokermu. Tenang saja hanya ada 7 petunjuk kok,bukankah itu mudah untuk ahli penyamaran sepertimu." Kini dia tidak tersenyum tapi menyeringai. "Apa kau bodoh Kazune? Memang apa hubungannya 'Ahli penyamaran' dengan 'Mencari petunjuk' dari cowok aneh sepertimu." Aku memanyungkan bibirku dan mengelumbungkan kedua pipiku.

"Hahaha.. jadi sekarang otakmu sudah 'jernih' sampai bisa mengataiku bodoh hahaha..." dia tertawa terbahak-bahak. Malam yang sunyi kini mencair dengan adanya , apa saat aku mengetahui siapa pacarmu aku akan terluka Kazune?. Aku memikirkan hal itu, aku takut terluka karnamu lagi jadi jika itu membuatku terpuruk untuk kedua kalinya aku tak akan melanjutkannya.

"Jadi, apa saat aku mengetahui siapa pacarmu aku akan terluka Kazune?" Dengan ragu-ragu aku akhirnya mengutarakan apa yang aku pikirkan. Dia melepas tangannya dari daguku dan tatapan serius itu mencapaiku. Kini suasana menjadi beku. "Jika kau berhenti aku akan menerima keputusanmu, tapi aku harap kau tak akan menyesal nantinya. Seperti masa lalumu, jika aku berharga buatmu kenapa kau tak mencoba mencari tahu tentangku? Aku selalu berusaha untukmu, tapi saat kita mencintai seseorang tapi dia hanya setenga hati mencintai kita itu sangat menayitkan Karin." Ekspresi sedih tiba-tiba melanda Kazune, wajahnya suram. Dan hari semakin pagi.

Ini membuatku bingung tapi hatiku bilang aku harus melakukannya. Aku harus bisa, walau aku tak yakin ini akan membuatku bahagia tapi setidaknya aku akan mencobanya. "Mama..." panggil suara renya dari seberang sisi ruangan. "Suzune-chan" panggilku lirih. Dengan sigap aku beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Suzune. "Kenapa Suzune-chan? Apa Suzune ingin ke toilet?" aku memegang tangan mungil Suzune dan tersenyum lembut padanya.

"Apa Suzune ingin tidur dengan mama?." Suzune berhamburan ke pelukanku tanpa perintah, reflek aku terdorong ke belakang dan terduduk lemas di lantai. Sepertinya Suzune hanya setengah sadar, badanya kini semakin berat. Dan matanya kembali terpejam. Aku mencoba berdiri pelan-pelan, butuh banyak usaha memindahkan Suzune ke ranjang King Size Kazune.

"Apa dia tak apa? Sepertinya dia merindukanmu." Aku mendengarkan ocehan Kazune sambil meletakkan Suzune di antara Kami berdua. Aku menyelimuti Suzune dan tidur disampingnya. Aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada Suzune, kini aku sangat lelah, aku memeluk Suzune dan tertidur.

.

.

.

"Ohayou Karin." Kazune menyapaku dengan lembutnya. Ponsel miliknya mengarah tepat di depan wajahku. Kami berdua masih tertidur di ranjang, mata Kazune memergokiku menguap dan itu sedikit memalukan, ya setelah apa yang kami berdua lakukan semalam ini membuatku sedikit canggung tapi sebenarnya tingkah jailnya itu yang membuatku kesal. "Jadi sepeti ini ya wajah pagi Vokalis cantik Blue Devil yang di agung-agungkan pengemarnya hahaha.." dia tertawa renyah setelah mendapatkan foto aneh di ponselnya.

"Tidak bisakah kau membangunkanku dengan normal. Kau sekarang adalah Maid-ku. " aku memanyungkan bibirku masih sebal dengan tingkahnya. "Maaf saja ya Hime, aku bukan pelayan yang profesional sepertimu." Balasnya santai. Dia benar-benar tahu cara membuat orang marah. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku. Aku beranjak dari tempat tidur, mengabaikan tatapan menyebalkan dari Kazune. Ya setidaknya dia menyapaku.

Aku beranjak menuju Kamar mandi dan Kazune beranjak ke dapur. Aku melepas bajuku dan berandam di kamar mandi Kazune, walau dia cowok dia paling suka dengan kebersihan. Mungkin karena dia tidak suka dengan serangga hahaha. "Mama!" panggil Suzune lirih dari tempat tidur. Aku yang sibuk dengan acara mandiku tak mendengar panggilan Suzune. Yang ku dengar hanyalah langkah Kaki kecil yang mendekat ke kamar mandi.

"Mama." Kini panggilan itu terdengar olehku. "Suzune-chan." Aku buru-buru memakai handuk dan membuka pintu kamar mandi, Suzune masih sibuk mengusap-usap kedua matanya. "Suzune-chan ingin mandi dengan mama?" tanyaku santai. Dia menganggukkan kepalanya dan memelukku. Aku mengajak Suzune mandi bersamaku dan butuh waktu cukup lama untukku memandikannya. Dia lebih aktif dari penampilannya. Aku keluar dari kamar mandi dengan seragam sekolahku, Suzune masih memekai handuk. Aku mencari seragam sekolah Suzune kemudian memakaikannya.

40 menit. Butuh waktu selama itu untuk kami berdua siap di meja makan. Mataku tercengag tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Terhidang sebuah nasi goreng yang enak di meja makan. "Woowww..." ekspresi takjub membuat Kazune menyeringai. "Jadi kau tidak menyangka aku bisa masak?" dia bertanya dengan tatapan puas. "Aku kira kau cuma orang aneh yang gak berguna." Sindirku. Aku duduk di meja makan dan bersiap sarapan. Begitu juga Suzune yang sudah siap di kursinya.

Kazune menatap kami berdua, dia sudah memakai seragam sekolahnya. Tapi entah kenapa dia tidak makan dengan kami. "Aku sudah menyiapkan bentto untuk Suzune, dan aku tak bisa mengantarmu Karin, aku harus mengantar Suzune dulu dan mengurus beberapa hal di sekolahnya." Jelasnya. "Okey tak apa." Jawabku singkat. Jujur saja aku kira hanya penampilannya saja yang lezat tapi rasa masakan Kazune juga enak.

Setelah selesai dengan sarapanku, aku bergegas menuju sekolah. Aku lihat Yuuta memasuki gerbang, aku berlari kecil dan menepuk punggungnya. Aku tersenyum, dan dia membalas senyumku. "Ohayou Karin." Sapanya. Dia sangat baik dan ramah. Aku lupa aku belum mengucapkan terima kasih dan maaf untuk semua masalah yang aku timbulkan.

"Yuuta-kun, maafkan aku untuk semua masalah yang aku timbulkan, dan terima kasih sudah banyak membantuku selam ini." Aku tersenyum dan dia membalasnya. "Iya. Eh kapan kau akan mulai menyanyi? Aku, ingin mendengar nyanyiamu lagi Karin." Pintanya lembut. "Mungkin acara festival budaya tahun ini, lagian ini tahun terakhir kita kan. Hehehe..." kami berjalan beriringan. Kaki Yuuta berusaha mengimbangi langkah kecilku, caranya itu sedikit mirip dengan Kazune. "Aku tak sabar menunggunya Karin. Bolehkan aku request sebuah lagu, aku ingin Karin yang menyanyikannya untukku." Dia tersenyum, aku menganggukkan kepalaku. "Kirim saja lagunya ke E-mail-ku nanti akan aku dengar hehehe."

Tak lama kemudian kami memasuki ruang kelas kami, semua anak sudah berkumpul di kelas, beberapa detik kemudian bel pelajaran pun berbunyi. Aku mengambil ponselku dari saku rokku. Sebuah E-mail baru dari Kazune.

To : Karin

From : Kazune

"Maaf Karin sepertinya hari ini aku tak bisa masuk, ternyata ini lebih lama dari dugaanku."

Aku menutup ponsel flip milikku. Ya sudahlah, aku akan mengizinkannya pada sensei. Aku duduk di bangkuku dan mendapati sebuah surat terletak di dalam loker mejaku. Aku membuka sepucuk surat berwarna biru dengan tulisan "1-K" kecil di ujung bawah surat. Sepertinya game dari Kazune sudah di mulai, cepat-cepat aku membukanya dan yang aku lihat adalah "Selembar kertas kosong tanpa ada sebuah tulisan apapun di dalamnya."

"Jadi apa maksud semua ini Kazune?" teriakku sebal, dan membuat seisi ruang kelas menoleh padaku. Sontak pipiku memerah, marah dan malu bercampur aduk.


SEE YOU NEXT CHAPTER :D

Aku aka terlambat updatenya –w- emang tiap update kan terlambat hehehe..

Maaf yak dan makasih da sabar menunggu :D


.

.

.


"BALASAN REVIEW MENYUSUL XP "

By © BEBEK L DARK EVIL


.

.

.

R

E

V

I

E

W

.

.

.