Would You Be Mine?
Jaehyun x Taeyong
NCT
.
.
Taeyong terbangun lagi dari tidurnya, ia bermimpi lagi. Mimpi yang sama seperti malam sebelumnya. Sehun datang lagi dimimpinya. Namun kali ini Sehun datang dengan raut wajah sedih.
Tae, kenapa kau bohong padaku?
Taeyong tak mengerti.
Kau melupakan aku, Tae.
Tidak! Taeyong tak pernah melupakan Sehun. Ia mencintai Sehun. Sehun juga tau itu. Tapi kenapa, raut wajah Sehun sangat sedih?
.
.
"Kenapa kau lakukan itu, Tae?" tanya Doyoung saat jam pelajaran usai.
"Apa maksudmu?" tanya Taeyong tak mengerti.
"Lagi-lagi kau memberi harapan pada Jaehyun. Kau bilang kau hanya menganggapnya teman" ucap Doyoung menatap Taeyong.
"Aku memang hanya menganggapnya teman!" ucap Taeyong yang juga menatap Doyoung.
"Kau memberi harapan padanya, Taeyong. Kau selalu menerima ajakannya" ucap Doyoung lagi.
"Aku-, aku hanya tak tega melihat wajah sedihnya" ucap Taeyong pelan.
Doyoung menggelengkan kepala. "Kau tak tega melihat dia bersedih, jadi kau selalu terima ajakannya? Bagaimana jika dia tau kau hanya menganggapnya teman? Itu akan lebih menyakiti hatinya, Taeyong" ucap Doyoung.
Taeyong diam tak menjawab. Doyoung benar, itu akan lebih menyakiti hati Jaehyun.
"Katakan padaku Taeyong. Katakan jika kau tidak suka pada Jaehyun. Katakan jika kau tidak mencintainya" ucap Doyoung sangat serius.
"Young?" tanyaTaeyong pelan.
"Katakan saja. Aku hanya ingin dengar" ucap Doyoung masih menatap Taeyong.
"Aku-" Taeyong tak bisa mengeluarkan kata-kata. Lidahnya beku. Matanya tiba-tiba terasa perih.
"Kau tak bisa mengatakannya. Kau tak bisa mengatakan kalau kau tidak mencintai Jaehyun" ucap Doyoung. Ia tau perasaan Taeyong.
"A-ku tak bi-sa melu-pakan Se-hun" ucap Taeyong terbata. Matanya berkaca-kaca.
"Aku tau kau sangat mencintainya, Tae. Tapi Sehun sudah meninggal. Kau harus bisa melupakannya!" ucap Doyoung.
Taeyong tak menjawab, ia hanya menggeleng.
"Tae, dengarkan aku. Sehun sudah tidak ada. Kau harus bisa melupakannya. Dia tidak akan pernah kembali lagi, Tae" ucap Doyoung lagi.
Taeyong masih menggeleng, ia berdiri dari tempat duduknya. Lalu ia keluar kelas, pergi meninggalkan Doyoung.
"Tae tunggu!" teriak Doyoung.
Saat Taeyong baru saja keluar kelas, ia terkejut saat tiba-tiba Jaehyun ada didepannya. Jaehyun yang baru datang pun terkejut melihat Taeyong.
"Hyung- kau tidak apa-apa?" tanya Jaehyun saat melihat wajah Taeyong pucat dan matanya memerah. Seperti orang menangis.
Taeyong tak menjawab ia hanya menatap Jaehyun lalu pergi. Ia sedikit berlari. Jaehyun tak tau apa yang terjadi dengan Taeyong mencoba memanggilnya.
"Hyung!" panggil Jaehyun, namun Taeyong terus saja pergi, ia tak menghiraukan Jaehyun.
"Sudah Jaehyun, biarkan saja" ucap Doyoung yang sudah ada disampingnya.
"Taeyong hyung kenapa, hyung?" tanya Jaehyun pada Doyoung. Raut wajahnya juga ikutan sedih.
"Sini Jaehyun, duduk dulu. Aku ingin bicara sesuatu" ucap Doyoung mengajak Jaehyun duduk dibangku didalam kelas.
Jaehyun mengikuti saja apa kata Doyoung, lalu ia pun duduk.
"Jaehyun, aku ingin bertanya padamu. Kau harus jujur padaku" ucap Doyoung serius menatap Jaehyun. Jaehyun menganguk.
"Kau mencintai Taeyong?" tanya Doyoung.
Jaehyun bingung kenapa Doyoung menanyakan itu. Doyoung pasti tau jika ia mencintai Taeyong. Namun ia tetap menjawab pertanyaan Doyoung.
"Lebih daripada aku mencintai diriku sendiri. Taeyong hyung adalah hidupku. Aku sangat mencintainya" jawab Jaehyun jujur. Ia memang sangat mencintai Taeyong.
Doyoung menggangguk, ia tau pasti Jaehyun akan menjawab seperti itu.
"Jika Taeyong tidak mencintaimu bagaimana? E ini hanya 'jika'" ucap Doyoung ia melihat perubahan raut wajah Jaehyun.
"Aku akan buat Taeyong hyung jatuh cinta padaku, hyung" jawab Jaehyun lagi.
"Kau yakin bisa membuatnya jatuh cinta padamu?" tanya Doyoung.
Jaehyun menggangguk. Ia yakin bisa membuat Taeyong jatuh hati padanya.
"Begini, Jaehyun. Bukannya aku ingin merusak suasana hatimu. Hanya saja aku rasa aku perlu mengatakan hal ini padamu" ucap Doyoung.
"Hal apa, hyung?" tanya Jaehyun sedikit penasaran.
"Hhmm sebenarnya Taeyong belum bisa melupakan seseorang" ucap Doyoung ragu.
"Melupakan seseorang?" tanya Jaehyun.
Doyoung mengangguk. "Aku tak bisa mengatakan seseorang tersebut, aku tak berhak mengatakannya. Kau tanyakan saja pada Taeyong. Dan tanyakan juga tentang perasaannya padamu" ucap Doyoung.
Jaehyun mengangguk, ia tak memaksa Doyoung mengatakan siapa orang tersebut. Seseorang yang tak bisa dilupakan oleh Taeyong. Hati Jaehyun sakit sekali membayangkan Taeyong mencintai orang lain.
.
.
Selama perjalanan pulang, Jaehyun terus saja teringat perbincangannya dengan Doyoung. Tapi sepertinya ia tak akan bisa bertanya langsung pada Taeyong siapa seseorang tersebut. Ia yakin tak akan ada kata yang keluar saat ia berhadapan dengan Taeyong. Lalu sebuah nama terlintas dipikirannya. Mark, tentu saja. Ia akan bertanya pada Mark. Mark pasti tau siapa orang yang dicintai kakaknya itu.
Jaehyun berdiri digerbang SMP SOPA, matanya melihat-lihat sekeliling, mencari Mark. Namun ia kecewa saat melihat sekolah sudah sepi, hanya tinggal beberapa siswa saja. Sepertinya Mark sudah pulang, batin Jaehyun. Saat hendak kembali ke mobilnya, Jaehyun terkejut ketika seseorang memanggilnya.
"Hyung! Jae hyung!" itu suara Mark. Jaehyun langsung menoleh kearah sumber suara.
"Mark" ucap Jaehyun senang, ternyata Mark belum pulang.
"Sedang apa disini, hyung? Aku kira kau kencan lagi dengan Tae hyung" ucap Mark tertawa.
"Tidak" ucap Jaehyun tersenyum. "Justru itu aku kesini untuk menanyakan sesuatu tentang Taeyong hyung" ucap Jaehyun, wajahnya sedikit berubah sedih lagi.
"Menanyakan sesuatu tentang Tae hyung?" tanya Mark.
Jaehyun mengangguk. "Kita bicara sambil makan, bagaimana? Kau sudah makan belum?" tanya Jaehyun.
Mark menggeleng. "Belum"
"Ayo masuk ke mobil, kita cari tempat makan" ucap Jaehyun menyuruh Mark masuk ke mobilnya.
Mark pun masuk kedalam mobil, lalu mereka pergi mencari tempat makan.
"Jadi kau mau bicara apa, Jae hyung?" tanya Mark ketika mereka sudah disebuah restoran yang dipilih Mark, dan sedang menunggu pesanan mereka datang.
"Mm nanti saja, kita makan dulu" ucap Jaehyun saat pesanan mereka datang.
Mark mengangguk, ia tersenyum saat pesanan makanannya datang. Sebuah pizza ukuran sedang dan segelas jus jeruk. Lalu Mark makan dengan lahap. Ia sepertinya lapar sekali setelah seharian belajar.
Jaehyun tersenyum melihat Mark makan dengan lahap. Ia hanya memakan sepotong pizza setelah itu ia hanya melihat Mark makan. Melihatnya saja sudah membuat Jaehyun merasa kenyang.
"Hyung, sebenarnya kau ingin bicara apa? Ayo bicarakan saja" ucap Mark masih mengunyah pizza.
Jaehyun meminum sedikit sodanya, lalu ia sedikit menghela napas. Ia rasa ia akan bicara pada Mark sekarang melihat Mark sudah menghabiskan hampir seluruh loyang pizza.
"Mm begini Mark. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu" Jaehyun memulai pembicaraan. "Apa ada seseorang yang Taeyong hyung cintai?" tanya Jaehyun sedikit ragu.
Mark tidak langsung menjawab. Ia menghabiskan seluruh pizza yang ada dimulutnya. Lalu meminum jus jeruknya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, hyung?" Mark balik bertanya.
"Doyoung hyung yang mengatakannya padaku. Tapi dia tidak mengatakan siapa orangnya. Untuk itu aku bertanya padamu, Mark" jawab Jaehyun.
"Hyung, kau yakin kau ingin mendengar cerita ini?" Mark bertanya. Ia terdengar serius.
Jaehyun mengangguk. Ia yakin ingin mendengar cerita tentang Taeyong meskipun ia tau itu sangat menyakitkan.
Mark menghela nafas. Ia akan menceritakan semua tentang hyungnya. Jaehyun hyung sudah seharusnya tau tentang ini, batin Mark.
"Namanya Sehun hyung. Dia kakak kelas Taeyong hyung saat SMP. Tapi mereka sangat dekat. Kemanapun pergi mereka selalu bersama. Mereka baru resmi berpacaran dua tahun yang lalu saat Taeyong hyung masuk SMA" ucap Mark menceritakan tentang Taeyong dan kekasihnya Sehun. Jaehyun mendengar dengan sangat serius, dan menahan sakit.
"Taeyong hyung sangat mencintai Sehun hyung. Begitupun sebaliknya. Sehun hyung selalu menjemput dan mengantar Taeyong hyung saat sekolah. Meskipun Sehun hyung berbeda sekolah dengan Taeyong hyung. Tapi dia rela menjemput dan mengantar Taeyong hyung"
"Taeyong hyung sangat bahagia bersama Sehun hyung. Aku bisa melihatnya karena Taeyoung hyung selalu ceria. Hyung selalu tersenyum. Tapi senyum itu jarang hyung perlihatkan lagi. Ia lebih banyak diam sekarang" ucap Mark sedih.
"Lalu kemana memangnya Sehun hyung? Apa mereka putus?" tanya Jaehyun penasaran.
Mark menggeleng. "Sehun hyung pergi untuk selamanya. Dia meninggal karena kecelakan motor setahun yang lalu" ucap Mark pelan. Ia kembali bersedih mengingat lagi peristiwa itu.
Jaehyun terkejut. "Sehun hyung sudah meninggal? Karena kecelakaan motor?" tanya Jaehyun.
Mark mengangguk. "Sehun hyung mengalami kecelakaan motor setelah mengantar Taeyong hyung pulang sekolah" ucap Mark lagi.
"Ya Tuhan" ucap Jaehyun pelan, ia merasa sedih membayangkannya. Membayangkan perasaan Taeyong setelah kepergian Sehun. "Lalu bagaimana dengan Taeyong hyung?" tanya Jaehyun.
"Taeyong hyung sangat terpukul, hyung sangat sedih sekali. Bahkan hyung tak mau makan sampai berhari-hari. Hyung hanya mengurung diri didalam kamar" ucap Mark.
"Karena itu kau pernah bilang, Taeyong hyung tidak suka dibonceng motor, Taeyong hyung pasti sangat trauma" ucap Jaehyun.
"Iya kau benar, hyung. Taeyong hyung sangat trauma pada motor" ucap Mark.
Jaehyun mengerti dan berterima kasih pada Mark karena sudah menceritakan kisah cinta Taeyong. Ia tidak merasa sakit hati, justru ia merasa simpati dan semakin mencintai Taeyong. Ia ingin melindunginya. Menjaganya. Menyayanginya. Ia sangat ingin.
.
.
Taeyong berdiam diri dikamarnya. Ia masih bertanya-tanya dalam hati kenapa ia tak bisa mengucapkan bahwa ia tidak suka pada Jaehyun ketika Doyoung meminta ia mengatakannya. Kenapa ia tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak mencintai Jaehyun saat ia yakin hanya Sehun yang ada dalam hatinya. Kenapa lidahnya seakan beku. Kenapa?
"Jaehyun" ucap Taeyong lirih. Memanggil nama Jaehyun pelan. Ia tiba-tiba teringat Jaehyun. Merasa bersalah saat ia tak menjawab pertanyaan saat Jaehyun bertanya 'Hyung, kau tidak apa-apa?'. Merasa bersalah saat tak memperdulikan saat Jaehyun mamanggilnya.
Saat Taeyong sedang menangisi penyesalannya. Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Hyung, boleh aku masuk?" itu suara Mark.
"Masuk saja tidak dikunci" jawab Taeyong. Ia lalu menghapus air matanya.
Mark membuka pintu lalu ia masuk, ia melihat Taeyong sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Ia tau Taeyong habis menangis. Lalu ia duduk dipinggiran tempat tidur
"Hyung, kau menangis lagi?" tanya Mark. "Aku kira kau sudah tidak menangis lagi, hyung" ucap Mark lagi.
"Hanya teringat sesuatu" jawab Taeyong.
"Kau teringat Sehun hyung?" tanya Mark.
Taeyong diam tak menjawab.
"Sehun hyung pasti sangat sedih jika kau selalu menangis, hyung" ucap Mark.
Taeyong masih diam, hanya menatap Mark.
"Sehun hyung sangat mencintaimu, hyung. Dia pasti menginginkan kau bahagia" Mark berkata lalu berdiri.
"Jae hyung juga sangat mencintaimu, hyung. Dia akan membuatmu bahagia" ucap Mark sambil tersenyum lalu keluar dari kamar Taeyong.
.
Jae hyung akan membuatmu bahagia, hyung. Kata-kata Mark itu selalu terngiang dalam kepalanya. Taeyong sampai tidak bisa tidur. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam laci disamping tempat tidurnya. Sebuah surat cinta dari Jaehyun. Dan ia memandanginya.
Maafkan aku, Jaehyun.
.
.
Pagi harinya Jaehyun menunggu Taeyong datang, kali ini bukan didepan kelas Taeyong tapi dilorong menuju kelas Taeyong. Sepertinya ia sudah tak sabar untuk bertemu Taeyong. Senyumnya sedikit menghilang saat ia melihat Taeyong. Wajah Taeyong masih pucat seperti kemarin dan matanya sembab.
"Hyung" sapa Jaehyun. Ia mencoba tersenyum meski hatinya sakit sekali melihat kondisi Taeyong.
Taeyong tak menjawab sapaan Jaehyun. Hatinya juga sakit melihat Jaehyun tersenyum padanya. Senyum tulus yang Jaehyun berikan untuknya.
"Hyung, nanti tunggu aku ya. Aku ingin bicara padamu. Kau jangan pulang duluan" ucap Jaehyun lembut.
Taeyong hanya mengangguk mengiyakan. Ia juga ingin bicara pada Jaehyun.
"Ya sudah, aku ke kelas dulu ya, hyung" ucap Jaehyun tersenyum.
Taeyong menggangguk lagi. Masih tidak membalas senyum Jaehyun. Ia hanya memandangi Jaehyun saat Jaehyun berjalan menuju kelasnya.
.
Taeyong sampai di kelasnya, ia melihat Doyoung sudah duduk ditempat duduknya. Meletakkan tasnya lalu ia duduk disamping Doyoung.
"Tae, maafkan aku" ucap Doyoung saat Taeyong sudah duduk disampingnya. "Aku tak merasakan apa yang kau rasakan, sangat egois jika aku memaksamu melupakan Sehun. Itu pasti sangat sulit untukmu" ucap Doyoung pelan.
"Jaehyun ingin bicara padaku" ucap Taeyong tiba-tiba membicarakan Jaehyun.
"Benarkah? Kapan?" tanya Doyoung.
"Pulang sekolah nanti" jawab Taeyong.
"Ia pasti ingin bicara soal perasaan cintanya padamu, Tae" ucap Doyoung.
Taeyong mengangguk, ia juga berpikiran seperti itu.
"Lalu apa yang akan kau katakan?" tanya Doyoung.
Taeyong menatap Doyoung. "Aku akan mengatakan tentang perasaanku padanya" jawab Taeyong.
Doyoung menatap mata Taeyong. Mata yang memancarkan kesedihan dan sedikit kebahagiaan. Ingin sekali Doyoung menghilangkan kesedihan itu. Dan melihat kembali kebahagiaan Taeyong. Kebahagiaan sahabatnya.
.
Jaehyun sudah menunggu Taeyong dihalaman belakang sekolah. Sekolah telah usai. Jaehyun tak berhenti mengatur napasnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia sedikit gugup. Merancang kata-kata yang akan ia bicarakan pada Taeyong didalam kepalanya. Namun kata-kata itu menghilang saat ia melihat Taeyong. Taeyong sudah berdiri dihadapannya.
"Hyung" ucap Jaehyun tersenyum pada Taeyong meskipun Taeyong tak membalasnya.
Taeyong langsung duduk dibangku yang ada dihalaman itu. Jaehyun juga ikut duduk disamping Taeyong, sedikit memberi jarak. Jaehyun kembali mengatur napasnya sebelum ia mulai bicara.
"Hyung, sebelumnya aku ingin minta maaf padamu" Jaehyun mulai bicara. Pandangannya lurus kedepan, ia belum berani menatap Taeyong. Pandangan Taeyong juga lurus kedepan.
"Tentang perasaanku-. Tentang rasa cinta ini. Aku minta maaf, hyung" ucap Jaehyun pelan. "Tapi aku tak pernah menyesal jika aku mencintaimu, meskipun kau tak membalas cintaku, hyung" ucap Jaehyun lirih. Membuat Taeyong menoleh padanya.
"Aku bahagia jika hanya melihatmu, hyung. Kau tak tau betapa senangnya aku saat kau bicara padaku dan tersenyum padaku. Aku senang sekali, hyung" ucap Jaehyun masih lirih.
"Jaehyun, kau tak perlu minta maaf. Aku seharusnya yang minta maaf padamu. Aku-. Aku belum bisa membalas cintamu" ucap Taeyong ragu, ia masih menatap Jaehyun
Jaehyun sedikit tersontak mendengar ucapan Taeyong. Meskipun sebenarnya ia tau Taeyong tak membalas cintanya, ia tetap saja terkejut. Hati Jaehyun sakit sekali. Tak terasa matanya berkaca-kaca.
"Kau sangat baik padaku, bahkan kau terlalu baik. Aku tak pantas menerima semua kebaikanmu" ucap Taeyong lagi.
"Aku sangat ikhlas melakukannya, hyung" ucap Jaehyun pelan. "Aku akan lakukan apa pun untuk membuatmu bahagia, hyung" ucap Jaehyun lagi.
"Jaehyun-" ucap Taeyong. "Maafkan aku. Maafkan aku karena aku belum bisa melupak-" Taeyong tak menyelesaikan kata-katanya, suaranya terdengar lirih.
Jaehyun lalu menatap Taeyong yang sedang menatapnya, mata Taeyong juga berkaca-kaca.
"Apakah aku harus berhenti mengejarmu, hyung? Apakah aku harus berhenti mendapatkan hatimu?" tanya Jaehyun. Ia sangat pasrah pada kenyataan Taeyong tak bisa melupakan masa lalunya. Tak bisa melupakan orang yang sangat dicintainya.
Taeyong menggeleng, air matanya menetes. Ia tak ingin Jaehyun berhenti mengerjarnya.
Tak sadar tangan kanan Jaehyun terangkat, menyentuh pipi Taeyong lembut. Menghapus air matanya. "Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu jatuh cinta padaku, hyung?" tanya Jaehyun pelan.
Taeyong tak menjawab, ia hanya menyentuh tangan Jaehyun yang sedang menyentuh pipinya. Merasakan tangan Jaehyun yang sangat hangat dipipinya. Taeyong memejamkan matanya.
Jaehyun sedikit tersenyum saat Taeyong memegang tangannya. Ini untuk pertama kalinya mereka bersentuhan. Jaehyun menggeser duduknya, mendekat.
Taeyong membuka matanya, mendapati Jaehyun sangat dekat dengannya. Matanya menatap Jaehyun. "Jangan pernah berhenti untuk mendapatkan hatiku, Jaehyun" ucap Taeyong pelan. Tangannya menyentuh pipi Jaehyun. Ia memang tak ingin Jaehyun berhenti mencintainya, ia ingin memberi Jaehyun kesempatan. Kesempatan untuk membuatnya bahagia.
"Hyung, kau-?" tanya Jaehyun terkejut.
"Aku memang belum yakin tentang perasaanku padamu. Tapi satu hal yang aku yakin adalah bahwa aku tak ingin kau pergi, aku tak ingin kau berhenti mendapatkan hatiku. Lakukan semua yang kau bisa untuk membuatku jatuh cinta padamu, Jaehyun" ucap Taeyong
Jaehyun tersenyum lebar, Taeyong memberinya kesempatan. Kesempatan untuk mendapatkan hati Taeyong. Untuk membuat Taeyong jatuh cinta padanya. Jaehyun akan lakukan apapun untuk itu, seperti yang Taeyong minta.
"Akan aku lakukan apapun untuk membuatmu jatuh cinta padaku, hyung" ucap Jaehyun senang. Lalu ia lebih mendekatkan dirinya pada Taeyong. Tangannya yang lembut menyentuh pipi Taeyong turun kebelakang leher, membawa wajah Taeyong mendekati wajahnya. Sedikit ragu saat bibirnya menyentuh bibir Taeyong. Menciumnya.
Taeyong sedikit terkejut tak menyangka Jaehyun menciumnya, namun ia tetap memejamkan mata. Membalas ciuman Jaehyun. Merasakan kehangatan menjalar keseluruh tubuhnya yang dingin. Membiarkan Jaehyun menciumnya lebih dalam, bagaimanapun juga ia telah memberi Jaehyun kesempatan.
Jaehyun melepas ciumannya, ia tersenyum saat melihat Taeyong membuka matanya. Menatap kedalam mata Taeyong. "Terima kasih, hyung" ucap Jaehyun pelan, ia tersenyum bahagia..
Taeyong tak menjawab, ia hanya tersenyum membalas senyum Jaehyun. Lalu Jaehyun memelukkan, memberi kehangatan lagi padanya.
.
.
Jaehyun bahagia, ia sangat bahagia. Taeyong memberinya kesempatan. Meski Taeyong belum sepenuhnya mencintainya. Ia tetap senang. Setidaknya Taeyong menerima kehadirannya. Ia akan selalu bersama Taeyong. Ia akan membuat Taeyong bahagia. Ia berjanji.
Ia sangat berterima kasih pada Mark dan Doyoung hyung.
.
.
TBC
Haaiii ketemu lagii... Maaf baru bisa update... Hehehe ^^v
Reviewnya jangan lupa yaa.. Hoho.. ^^
See you next chapter~~ \^^/
