Disc: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto sepenuhnya.

Gendre: cerita awal = sedih : kakashi, team 7 minato dan Konohagakure

Di pertengahan cerita = sedih dan romantis : kakashi, team 7

Memasuki akhir cerita = romantis : kakashi dan sakura

Akhir cerita = humor : kakashi dan Konohagakure

Maaf kalau gendre cerita ini banyak dan pairing tiap gendre berbeda, tapi memang begitulah aku membuatnya

BUKAN AKHIR

CHAP 3

Sakura memandang hamparan hijau di depannya. Terkadang ia tersenyum namun kembali datar. Hening, hanya suara desiran angin yang menerpa wajahnya dan menerbangkan rambut pink nya. Ia memandang ke depan namun matanya menerawang jauh ke masa lalu. Masa di saat team 7 berkumpul bersama. Ia tersenyum lagi, senang karena akhirnya Sasuke kembali berkumpul bersama-sama, namun sedetik kemudian wajahnya menampakkan perasaan sedih karena Kakashi, guru pembimbingnya kini yang hilang, mengilang entah kemana.

"Kakashi –sensei, sekarang dimana?" tanya Sakura pada angin.

Sudah dua tahun sejak perang dunia shinobi ke empat berakhir, sudah selama itu pula Sakura tak melihat Kakashi. Sakura bukannya tak mengerti mengapa gurunya itu menghilang. Sakura tau, gurunya itu mencoba menghindari siapapun yang ingin dekat dengannya. Ia tersenyum perih, memandang langit biru yang tenang.

'apakah sensei masih merasa sedih, saat ini? Sampai kapan sensei akan menghilang dari kami?'

Sakura rindu pada gurunya. Ia menangis, ia memeras dadanya. Sakit. Hatinya kembali sakit.

"Sakura?" seseorang dibelakangnya memanggilnya. Ia mengalihkan wajahnya.

Naruto.

Sasuke.

Sai.

Yamato.

Keempat orang itu menatap sedih ke arahnya. Ia membiarkan air matanya terus turun. Ia mulai terisak. Mungkin, ia tau bagaimana rasa sakit yang di rasakan oleh gurunya.

"Sakura"

Naruto yang melihat Sakura menangis seperti itu –lagi hanya bisa tidak bisa berbuat apa-apa.

Akhirnya Sakura menangis, keras sekali. Semua hanya bisu, menatap sedih pada Sakura.

"Kakashi –sensei" sedih Naruto mengingat Sakura menangis karena mengingat gurunya.

...

Laki-laki berambut perak itu hanya menatap langit biru yang cerah. Ia menjulurkan tangannya pada langit yang luas itu, mencoba menggapai namun gagal. Ia gagal. Ia memang tak gagal dalam misi yang di berikan Gondaime hokage padanya. Ia gagal. Ia memang tak gagal dalam menjaga setiap informasi rahasia untuk di bocorkan.

Ia tak gagal.

Tidak. Misi, informasi rahasia, ia memang tak gagal.

Ia gagal.

Ya. Teman, sahabat, ia gagal untuk melindungi.

Air matanya hampir turun jika ia ingat bahwa ia tidak boleh menunjukkan tangisannya meskipun ia sedang sendirian. Kekerasan hati untuk mencoba mengubur semua masa lalu, tiap hari ia lakukan. Dengan menerima misi solo ranking S dari Hokage ke lima membuat hatinya mengeras sedikit demi sedikit. Tapi itu semua tak merubah apa yang sudah terjadi di masa lalu. Entah itu saat ia masih kecil dan...

Ia tidak ingin otak jeniusnya mengenang masa lalu meskipun masa lalu yang ia maksud adalah 'masa lalu'. Ia menutup matanya.

Flashback

Hari itu, ia mendapat misi solo ranking S dari Tsunade. Misi untuk membunuh para Missing-nin. Jujur, baginya misi ranking S hanyalah misi biasa untuk ukuran orang sepertinya yang terlalu sering melakukan misi ranking S terutama solo.

Sebenarnya ia lelah. Ia ingin mati, namun tak bisa. Mengerikan, bukan?

Setelah dua hari melakukan pengintaian akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri misi ini dengan membunuh para Missing-nin itu. Namun, satu orang Missing-nin terakhir yang akan di bunuhnya mengatakan sesuatu yang akhirnya ia mengerti. Ia menemukan alasan siapa dirinya sebenarnya, akhirnya.

"Iblis"

Satu kata itu cukup untuk membuat ia menemukan jati dirinya.

Iblis. Diputarnya kata-kata itu cukup lama di otaknya hingga ia mampu untuk membunuh Missing-nin terakhir dengan tersenyum puas. Puas sekali hingga merasa kasihanpun tidak.

Iblis. Kata itu memang cocok digunakan pada dirinya. Ia lebih mengerikan dari pada siluman yang mengamuk. Tak ada lagi yang menghentikannya bertindak kejam pada orang-orang yang ia sayangi.

Meskipun ada, itu hanya masa lalu –lagi. Dan orang itu hanyalah Uchiha Obito. Orang yang dikhianati kepercayaan olehnya.

Pahit, rasanya.

End Flash

Ia membuka matanya, menatap langit biru.

Iblis.

Kau memang cocok untuk menjadi Iblis, Kakashi.

Ia meninggalkan tempat itu dengan senyuman.

...

Hari-hari berlalu dengan damai. Anak-anak kecil seperti biasanya bermain-main, berlarian mengejar temannya. Anak-anak kecil itu tak tau apa-apa. Mungkin mereka tak peduli dengan apa yang terjadi di masa lalu karena bagi mereka masa lalu itu adalah sekarang. Namun, bagi orang yang sudah terlalu hidup lama masa lalu mereka adalah masa dimana kekejaman berada. Itu biasa, setidaknya beberapa orang tua yang menganggap masa lalu sebagai salah satu 'makna' dari kehidupan. Yah, itu pendapatnya. Menurutnya manusia dituntut untuk berkembang dengan cepat –bukan mengalami perubahan bentuk tubuh, itu ada masanya melainkan manusia dituntut untuk berkembang cepat untuk 'menerima' sebuah kata...

KEHILANGAN

Tsunade diam. Benarkah demikian begitu? Pikirnya. Itu hanya rasio yang entah mengapa muncul akhir-akhir ini di kepalanya yang tak pernah memikirkan apapun selain bermain judi,judi dan judi –tidak juga sih. Terkadang ia juga tau apa arti dari kehilangan. Ia pernah kehilangan kakeknya dalam misi menyelamatkan desa, ia juga kehilangan Dan, kekasihnya dan juga adik yang ia sayangi. Ia juga tau butuh berapa lama ia dapat merelakan kepergian dari semua yang hilang darinya. Lama sekali hingga terkadang ia bosan untuk mengingatnya. Mungkin karena ia tau memikirkan orang yang hilang dari kita karena kebencian orang lain memang fatal akibatnya. Entahlah, ia juga tak mengerti arti dari pikirannya sendiri. Yang ia lakukan sekarang hanyalah menelusuri kertas-kertas di depannya yang bertumpuk melebihi dirinya sendiri. Sungguh, ia tak mengerti kenapa ia bisa berpikir seperti itu.

"mungkin..."

Ia tau alasannya. Ia ingat dengan seseorang yang selalu berpura-pura untuk menatap ke masa depan namun orang itu sebenarnya tertahan di masa lalu. Ya, ia tau siapa orang itu. Sangat, hingga tiap kali mendengar nama orang itu di sebut ia akan sensitiv. Bahkan lebih sensitiv daripada dirinya dikatai nenek-nenek. Yah, ia memang sudah nenek-nenek untuk dikatakan bibi. Namun, ia juga tau, kehilangan yang didapatkan orang itu bukan kehilangan biasa. Tiba-tiba ia tersenyum.

"memang ada kehilangan yang biasa?" gumamnya, menyindir dirinya.

Ia berdiri, lelah dan bosan dengan tumpukan kertas yang menggunung yang harus di selesaikannya. Ia melihat keluar jendela dari tempatnya sekarang.

"tidak. Tidak ada satupun kehilangan yang biasa" jawabnya, menyindir dirinya sekali lagi.

...

"jadi, bagaimana hasilnya?" tanya Tsunade pada Kakashi yang berdiri menyerahkan misi yang sudah dilaksanakan.

Kakashi hanya mengangguk, tanda bahwa misi yang ia jalankan berhasil dengan mulus dan Tsunade cukup mengerti dengan anggukkan Kakashi.

"bagus" ucap Tsunade sambil menopangkan dagunya.

Namun, pintu ruangan itu terbuka dengan tiba-tiba. Sesosok rambut kuning masuk tanpa ada rasa dosa di mukanya yang tanpa ijin menyelonong masuk seenaknya. Tsuanade dan Kakashi hanya mendesah melihat sikap Naruto yang tak berubah –sepertinya.

"Naruto, bisakah kau minta ijin dulu?" saran Tsunade dengan senyuman horor.

"ng?" Naruto hanya menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal itu.

"akh, sudahlah. Bicara dengan kamu sama bicara dengan monyet!"

"APAAA!"

Kakashi hanya mendesah bosan melihat pertengkaran konyol. "kalau begitu saya permisi dulu, Hokage –sama."pamit Kakashi sambil menundukkan badannya. Namun, Naruto menahan Kakashi.

"TUNGGU" teriak Naruto. Kakashi hanya sweatdrop mendengar teriakkan Naruto yang menggelegar.

"Naruto. Kau ingin membuatku tuli, hah?" rutuk Tsunade.

"Gomen" jawab Naruto sambil cengengesan.

"Naruto, ada apa?" tanya Kakashi pada Naruto. Naruto langsung mengalihkan wajahnya pada gurunya. Ia tersenyum seperti biasanya. Sebenarnya ia senang karena akhirnya selama 2 tahun ini ia bisa bertemu dengan gurunya itu.

"kapan Kakashi –sensei mau mengajari kami lagi?"

Ucapan Naruto langsung membuat Kakashi terdiam lama. "mengajari..., apa?" tanya Kakashi tak mengerti. Naruto terdiam, mencoba berpikir. Setelah cukup lama dalam pikirannya, ia memandangi Kakashi cukup dalam. Ia tau ia memang bodoh dalam menjawab alasan yang dibuatnya sendiri –benar-benar bodoh. Tapi ia ingin gurunya mengerti apa maksudnya. Maksud sebenarnya dari arti kata 'mengajari' yang di ucapkan olehnya. Ia ingin gurunya kembali lagi bersama-sama kelompok 7. Ia juga ingin mengatakan pada gurunya bahwa ia merindukan senyuman di balik masker Kakashi, sikap telat Kakashi. Ia ingin gurunya yang dulu. Ia ingin Kakashi kembali menjadi Kakashi yang dulu. Namun di satu sisi ia sulit mengatakannya. Entah mengapa, padahal selama ini ia mudah bilang 'kembalilah' pada Sasuke yang pernah pergi dari Konoha. Jujur, ia takut. Sangat takut mengahadapi Kakashi.

"Sasuke sudah kembali ke Konoha, loh"

Baka! Semua orang juga tau kalau Sasuke sudah kembali ke Konoha.

Kakashi tau jika Naruto ingin berbicara padanya. Berbicara dari hati ke hati. Tapi Kakashi tak bisa. Ia tak mau untuk berbicara pada orang lain, kecuali berbicara bersama Tsunade dengan urusan misi. Mungkin, ia tidak ingin menerima kebaikan semua orang. Hanya itu yang ia takut. Mengapa? Karena ia tidak tau kapan ia akan mengkhianati kebaikan orang lain yang di berikan padanya.

"aku tau" jawab Kakashi sambil tersenyum lemah. "kalau begitu aku permisi dulu"

Setelah mengucapkan itu, Kakashi benar-benar pergi. Pergi entah kemana yang pasti Naruto tak mengetahuinya. Naruto tersenyum kecut. Ia memang tak tau apa-apa.

"Naruto" panggil Tsunade lemah.

"apa?" jawab Naruto lemah. Sekarang ini, ia terlalu sakit untuk mencoba mengerti tentang gurunya.

"kau tak apa-apa?"

Naruto terdiam. Mendengar nada kekhawatiran yang Tsunade membuat ia kecewa dan...

Menangis.

Akhirnya ia mengerti rasa perih yang dirasakan oleh Sakura tiga hari lalu di lapangan yang selalu membuatnya terkenang akan masa kecilnya –sebagian. Rasa perih ini lebih sakit daripada menghadapi Sasuke yang keras kepala akan kebenciannya pada dirinya meskipun itu dulu. Rasa perih ini tak bertepi, selalu ada yang menyambungkannya tiap waktu. Rasa perih ini sulit untuk dijangkau, olehnya yang selalu ingin menghibur dan menutupi kekosongan hati siapapun yang membutuhkannya. Rasa perih ini membuatnya kehilangan kata-kata. Satu ucapan yang ingin ia sampaikan pada Kakashi, gurunya. Ia tertawa histeris. Ia menyadari, baru kali ini ia dikalahkan oleh Kakashi. Ia tidak mampu untuk berbicara.

Takut.

Takut.

Ia benar-benar takut untuk mengakuinya.

"kenapa Kakashi –sensei membuat semua ini menjadi sulit?"

Tsunade hanya memalingkan wajahnya, tak tega melihat atau menegur Naruto seraya berteriak 'kau mengganggu acaraku' ataupun 'pergi kau' –mengusirnya secara kasar seperti biasa. Mungkin, Tsunade tak percaya bahwa Naruto bisa seperti ini. Ia membiarkan Naruto menangis sepuasnya. Ia tersenyum.

"air mata adalah bukti bahwa tidak ada satu manusia di dunia ini yang kuat" gumam Tsunade sepelan mungkin, membiarkan matanya menelusuri anak-anak kecil yang sedang bermain dari kaca kantornya.

Lalu dimana air matamu, Kakashi?

Kau tau? Kau bukan alat, Kakashi.

Bukan. Tak pernah orang-orang yang mengenalmu menganggapmu alat, meskipun hanya beberapa orang.

Kakashi,kau lemah. Seberapapun kau menopangnya agar kau berdiri, kau akan terjatuh dan setiap orang mengalaminya.

Kakashi, seberapa jauh kau terjatuh untuk menjadi penopang agar kau tak terlihat lemah di hadapan orang lain?

Tsunade mengalihakan perhatiannya pada Naruto yang sudah tenang. Ia tersenyum manakala Naruto mengambil benda –sebuah buku dengan sampul orenge dengan judul 'Icha-icha Tactic' tergeletak di ambang pintu yang di jatuhkan pemiliknya, Kakashi tanpa sepengetahuannya, sepertinya-. Naruto mendekap benda itu erat-erat, dipeluknya benda itu agar tak terjatuh lalu tersenyum seperti seorang anak kecil.

Kenapa kau tak membiarkan orang lain untuk menyembuhkan 'lubang' di hatimu, Kakashi?

...

Angin menerpa wajahnya. Seperti biasa ia hanya memandangi langit yang ke biruan, memandangi burung-burung yang melintas, memandangi gumpalan awan yang bergerak, memandangi waktu yang pernah ia lewati. Ia sebenarnya rindu dengan teman-temannya terutama Gai yang selalu mengajaknya bertarung, Yamato dan Sai serta beberapa anggota di Anbu, dan murid-muridnya dan beberapa orang yang ia kenal.

"Kakashi –sensei, mengapa kau selalu telat sih?" tanya Sakura padanya.

"huh, apa sensei tau waktu latihan kami terbuang?" Naruto hanya cemberut.

Sasuke hanya diam, namun Kakashi tau kalau Sasuke juga kesal akan sikapnya.

"gomen" hanya itu yang selalu ia ucapkan manakala murid-muridnya menunjukkan kekesalan atas ulahnya.

"yah sudahlah. Toh seberapapun kami marah, sebal, kesal dan blablabla, Kakashi –sensei tetap saja terlambat". Kakashi hanya tersenyum melihat Sakura yang sok pengertian.

Semua itu hanya dulu. Satu waktu yang pernah ia lewati dengan murid-muridnya.

Matanya teralih lagi. Ia melihat awan yang bergerak ke utara. Sebuah bentuk terlukis di awan itu. Wajah Obito yang marah, sedih, benci, kecewa bercampur menjadi satu. Seketika itu ia sulit untuk bernafas, udara yang masuk melewati hidungnya terhalang oleh sesuatu yang ingin dikeluarkan dari mulutnya. Sesak, hatinya. Setelah ia bisa mengontrol emosinya supaya tenang, ia hanya menatap tanah kecoklatan yang diinjaknya, begitu dalam hingga setetes air mata turun dari mata kanannya yang tidak tertutup masker. Ia perlahan terjatuh.

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Ya, kenapa bukan ia yang mati?

Ya, kenapa orang-orang yang ingin hidup yang harus mati?

Ya, kenapa waktu harus memilihnya untuk membuatnya semenderita ini?

Ia tak tau apa jawabannya. Akhirnya ia benar-benar menangis. Tangisan untuk semuanya, penderitaannya.

Memalukan sekali kau, Kakashi.

...

Sakura menghentikan langkahnya ketika melihat punggung Naruto yang terduduk di bangku taman yang kesepian. Sebuah tanda tanya muncul di benaknya. Ia mendekati Naruto hingga akhirnya ia sadar, Naruto terdiam dengan mata sembab dan di sebelah kirinya, sebuah buku yang ia kenal dengan baik.

'buku itu, apakah milik Kakashi –sensei?' simpulnya sedikit teringat dengan kebiasaan gurunya yang selalu membawa buku Pervect buatan Jiraiya, salah satu dari 3 sanin legendaris. Ia juga ingat, dimana mereka [team 7] berada pasti gurunya tak lupa untuk membacanya berulang-ulang.

"Naruto" panggilnya. Namun yang dipangil hanya terdiam bisu, hening tak merespon pangilannya.

'ini bukan Naruto'

Ia mencoba memanggil Naruto berkali-kali hingga ia kehabisan kesabaran.

"NARUTO!"

Pada akhirnya ia harus berteriak agar Naruto meresponnya. Ya, benar. Naruto mengalihkan perhatiannya pada Sakura. Ia tersenyum, samar hingga terlihat dipaksakan.

"Naruto, kau kenapa?" ujar Sakura sambil duduk di kursi yang masih tersisa –sebelah kiri. Naruto terdiam, lama sekali untuk benar-benar menjawab pertanyaannya. Ia akan berteriak lagi jika Sasuke tidak datang untuk menghentikannya.

"jangan". Sasuke menggeleng. "biarkan, sampai ia benar-benar mengerti apa yang terjadi"

Sakura menunduk lalu mengalihkan perhatiannya pada Naruto. Ia memang harus membiarkan Naruto –saat ini. Sasukepun duduk di kiri Naruto, mengangkat buku gurunya dan menyimpannya di pahanya.

Kini Sasuke, Naruto, Sakura, mereka bertiga hanya memandang pemandangan di depan dengan pemikiran yang hanya tertuju pada satu orang.

Kakashi.

Di kejauhan, terlihat Yamato dan Sai hanya sedih memandang Sasuke, Naruto, Sakura yang terdiam bisu.

...

"karena kalian sekarang sudah berada di sini, aku akan menjelaskan misi yang akan ku berikan pada kalian"

Sasuke, Naruto, Sakura, Sai, dan Yamato hanya diam, tak ada yang memberi respon diantara mereka. Tsunade tau mengapa mereka seperti ini. Ia mendesah kecil.

"aku ingin kalian mengembalikan Kakashi"

Satu nama yang di sebutkan oleh Tsunade membuat mereka memandangnya heran.

"ada apa dengan Kakashi –sensei, Tsunade –sama?"

Tsunade tersenyum, ia tak percaya bahwa yang paling kaget adalah Sasuke –tampaknya.

"tidak. Kakashi tidak kenapa-napa. Hanya saja aku bosan melihatnya memintaku menyediakan misi solo ranking S, selalu. Kalian mengertikan maksudku?"

Semuanya mengangguk. "baguslah" ucap Tsunade senang. Tiba-tiba angin berhembus masuk ke dalam kantor hokage menerbangkan beberapa kertas. Angin itu sangat kencang hingga buku yang dipegang Naruto semenjak tadi terjatuh dengan suara keras dan disusul jatuhnya gelas yang diminum Tsunade membuat buku itu basah. Anginpun berhenti, seakan-akan hanya ingin menunjukkan sebuah pertanda buruk sedang terjadi pada pemilik buku itu kepada mereka.

"aku merasa sesuatu sedang terjadi pada Kakashi –san" ucap Yamato, memecah keheningan. Sai mengangguk setuju. "sepertinya, angin tadi ingin menunjukkan pada kita tentang kondisi Kakashi –sensei saat ini"

Sasuke, Naruto, Sakura dengan wajah khawatir mereka mulai histeris. Tsunadepun merasakan sesuatu yang buruk sedang menimpa Kakashi.

"cari. Cari Kakashi!" perintah Tsunade.

"tapi dimana?"

Semuanya diam lagi mendengar pertanyaan Naruto. Tsunade tau bahwa sudah 2 tahun ini Kakashi tak mampir lagi ke makam Obito maupun Rin. Namun, jika Kakashi tak kesana, dimana Kakashi saat ini, itulah yang jadi masalahnya.

"apartemen?" tanya Sasuke. Tsunade mengalihakan perhatiannya pada Sasuke. "apartemen?" cerna Tsunade hingga menautkan wajahnya.

"rumah!" teriak Tsunade akhirnya, cemas. Semuanya menoleh ke arah Tsunade tak mengerti. "rumah? Dan bukan apartemen?" Sasuke kebingungan.

"waktu dulu, bila Kakashi kecil sedang resah ia selalu mengunjungi bekas rumahnya dan aku yakin ia berada di sana" jelas Tsunade. Sasuke mengerti maksud Tsunade. "jadi dimana letak rumah Kakashi –sensei?" tanya Sakura.

...

Beberapa menit sebelumnya –

Kakashi yang telah selesai menangis, memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ia pergi menuju sebuah rumah yang sudah lama di tinggalkannya. Sebuah rumah masa kecilnya sebelum sang ayah ditemukan mati bunuh diri. Ia tersenyum. Terlintas sebuah ide di kepalanya yang sangat cemerlang hingga ia tak tau seberapa buruknya ide itu.

Akhirnya ia sampai. Sebuah rumah tua yang terletak jauh dari desa berdiri kokoh seperti dulu. Tapi rumah itu kini tak terawat. Di beberapa dinding rumah itu, di sudut-sudut langit rumah terlihat banyak sarang laba-laba.

Ia memasuki rumah itu, berjalan melewati ruang-ruang yang pernah ditinggalakannya di masa lalu. Kakinya terus melangkah hingga ia menemukan sebuah ruangan yang tak ingin ia masuki. Dibukanya ruangan itu, ia melangkah masuk. Ia ingat di ruangan inilah ia melihat ayahnya berbaring tak berdaya.

"Kakashi, ayah tak bisa" ucap Sakumo sambil menangis.

"kenapa?" Kakashi kecil tak mengerti maksud perkataan ayahnya.

"ayah tak mampu untuk bisa bertahan lagi atas kegagalan ayah, Kakashi". Sakumo hanya menatap kunai yang sedari tadi di pegangnya.

"maafkan ayah, Kakashi. maaf, ayah tak bisa untuk terus bersamamu". Setelah mengucapkan kalimat itu, Sakumo menancapkan kunai yang di pegangnya pada perutnya hingga ia benar-benar mati. Kakashi kecil yang terlalu terkejut hanya diam membisu.

"kenapa ayah mati harus dengan cara seperti ini?"namun tak ada suara balasan dari sang ayah.

"mengapa ayah menjadi pengecut?" Kakashi kecil hanya diam. Ia mulai melangkah keluar, pergi meninggalkan ayahnya yang tergeletak bersimbah darah.

Waktupun berlalu, semua yang dianggap oleh Kakashi kecil bahwa ayahnya kuat ternyata salah. Ia bersumpah, ia tidak akan menjadi seperti seorang pengecut karena misi yang gagal akan.

Namun, semua itu hanya dusta. Ia sebenarnya menyayangi ayahnya. Waktu dirinya dikalahkan pain, sebenarnya ia cukup senang karena di persimpangan kematian ia bisa bertemu dengan ayahnya, meminta maaf atas sifat egonya dan ia sangat ingin terus bisa bersama ayahnya. Namun, waktu pula yang membuat ia tau betapa sungguh percuma ia terus berharap bahwa ia akan mati. Ia sadar akan siapa dirinya. Seorang ninja elit dimana ketika seorang musuh melawan dirinya sekalipun musuh itu ranking S, pada akhirnya di detik-detik kematiannya ia lah yang membunuh musuhnya.

Mengerikan.

...lagi.

Ia masuk ke dalam ruangan itu, menutupnya sebelum ia tersenyum, puas.

End –

...

"seperti ini rumah yang di maksud oleh Tsunade –sama" ucap Yamato sambil memperhatikan rumah di depannya.

"sepertinya, sudah puluhan tahun rumah ini tak di tempati" analisis Sai. Sasuke mengangguk setuju.

"kalau begitu kita cepat mencari Kakashi –sensei" ucap Naruto cemas. Semuanya mengangguk.

"tapi lebih baik kita berpencar". Semuanya mengangguk setuju mendengar ide yang dilontarkan oleh Yamato.

Semuanya langsung menyebar. Yamato pergi ke arah timur, Sakura pergi ke arah barat, Sai pergi ke arah utara, Naruto pergi ke arah timur sedangkan Sasuke pergi ke arah tenggara. Jujur, rumah tua itu sangat luas sehingga mereka terpaksa harus berpencar.

Naruto berlari dari suatu lorong ke lorong lain sambil membuka pintu setiap kali ia menemukan sebuah ruangan.

"kenapa rumah ini sangat besar, sih" gerutu Naruto. ia terus memacu langkahnya. Didepannya terlihat sebuah ruangan paling ujung dan sepertinya itu adalah ruangan yang akan ditemukan olehnya terakhir kali. Ia membuka kenop pintu itu dengan cepat berharap gurunya berada di ruangan itu. Namun, ia harus memasang wajah penuh kecewa –lagi. Ia menggigit bibir bawahnya, frustasi mencari. Tetapi ruangan ini yang dilihatnya seakan membuatnya merasakan nostalgia. Di ruangan itu terdapat sebuah box bayi di tengah, warna ruangan itupun bewarna orenge sama seperti rambutnya, selain itu beberapa album foto tersusun rapi di sebuah meja.

"Naruto, ternyata kau ada disini" ucap Sasuke yang kebetulan melihat sebuah ruangan terbuka lebar.

"Naruto?"

Sasuke tak mengerti mengapa Naruto tak membalas ucapannya. Merasa Naruto memperhatikan ruangan itu dengan seksama, membuatnya tanpa sadar memperhatikan ruangan itu pula.

'tidak ada yang aneh' pikir Sasuke, reflek berpikir setelah mengamati ruangan itu. Namun, matanya teralih pada sebuah album yang berada di atas meja sebelah kirinya. Ia mengambil album itu. dengan penuh penasaran ia membuka album itu.

'ini...'

Sasuke menemukan sesuatu, sebuah foto anak kecil berambut orange yang mirip dengan Naruto. akh, tidak. Sangat, untuk dikatakan mirip.

"Naruto, apakah ini kamu?" tanya Sasuke pada Naruto yang mulai tampak merasakan kehadirannya.

"aku?" tanya Naruto tak mengerti pada Sasuke yang sedang memegang album. Naruto mendekati Sasuke dan mengambil paksa album yang di pegang oleh Sasuke. Dilihatnya album itu penuh perhatian. Tiba-tiba air mata Naruto jatuh ke album itu. ya, itu adalah dirinya. Kenapa bisa ada fotoku? Itu yang ada di dalam pikirannya. Ia membuka lembaran demi lembaran album itu. Semuanya fotonya, ada yang sedang tertawa, ada pula yang sedang menangis dan beberapa kali ia menemukan dirinya ketika bayi sedang di gendong oleh Kakashi, gurunya.

Naruto mengalihakan perhatiannya pada box bayi itu. setelah dekat, ia memegangi box bayi itu. air matanya mengalir deras lagi. Ia pernah tinggal dissini untuk beberapa waktu. Perlahan, kenangan masa kecilnya hadir di otaknya. Terkadang Naruto berpikir, selama ini ketika ia masih bayi dan tak mengerti apa dunia itu, siapa yang mengurusnya dan sepertinya pertanyaan itu akhirnya terungkap juga.

Ia ingat, sebuah keluhan yang sering didengarnya hingga bosan –terkadang membuatnya tertidur tanpa sadar waktu bayi semuanya berasal dari gurunya. Ya, rambut silver yang diingatnya ketika bayi adalah milik gurunya.

Selama ini...

... ternyata gurunya yang membesarkannya.

Naruto menangis, ia memegangi dadanya yang sesak yang menyuruhnya untuk berteriak. Sasuke merasa prihatin.

'sepertinya semua tentang Kakashi –sensei akan segera terungkap' pikir Sasuke. Sasuke berjalan ke arah Naruto, maksudnya untuk menenangkan Naruto tapi sebelum ia melakukan hal itu, suara teriakan Sakura menggema di seluruh ruangan membuatnya mengalihkan perhatiannya dan Naruto lalu bergegas keluar mengikuti suara teriakan Sakura begitupula dengan Naruto.

"ada apa?" tanya Sai, Sasuke, Naruto dan Yamato bersamaan. Sakura bergetar dan setengah menangis, nanar menatap sita perhatiannya. Semuanya mengikuti arah perhatian Sakura. Namun, betapa kaget mereka ketika ditemukannya seorang yang dicari mereka, Kakashi dalam kondisi mengenaskan. Darah tercecer dilantai. Darah itu berasal dari lengan Kakashi yang tersayat.

"Sakura, obati Kakashi" panik Yamato sambil mendekati tubuh seniornya.

Sakura yang mengerti segera mengobati Kakashi, tapi hanya pengobatan pertama.

"Yamato –sensei, kita harus membawa Kakashi –sensei secepatnya ke rumah sakit Konoha" pinta Sakura. Yamato mengangguk. "Naruto, bawa ketua Kakashi secepatnya"

Naruto yang masih dalam keadaan syok, yang mengamati gurunya dalam keadaan itu hanya terdiam.

"NARUTO!" teriakan Yamato cukup menyadarkan Naruto.

"bawa ketua Kakashi ke rumah sakit! Cepat!" suruh Yamato tanpa memberi jeda pada Naruto. Naruto mengangguk, dan mulai menggendong Kakashi di belakang punggungnya.

"Naruto, jangan lepaskan tangan Kakashi –sensei" ucap Sakura, menyuruh Naruto untuk tidak melepaskan kain yang telah diikatkan di lengan Kakashi untuk menghentikan pendarahan.

Naruto dan yang lainnya pergi meninggalkan Sakura yang memutuskan untuk membereskan .

...

Sakura berjalan di lorong rumah sakit yang sepi meski terlihat beberapa pasang penjenguk yang menjenguk rekan-rekan mereka yang terluka. Tapi saat ini ia terlalu lemah dengan kejadian yang telah melangkah dengan lelah.

"Sakura!"

Ia berhenti berjalan, lalu mengalihkan wajahnya pada Ino, sahabatnya.

"ya ampun, Sakura. Kau kenapa? Mengapa banyak darah di tubuhmu?" tanya Ino beruntun. Sakura hanya tersenyum lemah lalu menggelang.

"sedang apa kau di sini, Ino?" tanya Sakura pada sahabatnya itu.

"aku kemari karena ingin menjenguk Shikamaru"

"ada apa dengan Shikamaru?"

"huh.. dia itu kakinya terkilir akibat misi yang beberapa hari yang lalu kami jalani" jelas Ino pada Sakura.

Sakura mengamati wajah sahabatnya dengan perasaan lemah. "kalau begitu, semoga Shikamaru cepat sembuh" ucapnya. Ino mengangguk mengerti.

"kalau begitu aku permisi dulu, Ino" pamit Sakura. Ino hanya diam, tak bisa untuk berkata.

Kau kenapa, Sakura?

......

"ugh, Kakashi –sensei" cemas Naruto. ia tak berhenti untuk jalan bolak-balik di depan pintu perawatan gurunya.

"Naruto, bisakah kau duduk?" usul Sasuke. Naruto mengalihkan perhatiannya pada Sasuke.

"berisik, teme"

Namun sebelum pertengkaran kecil itu membesar, Naruto melihat sesosok perempuan berambut pink sedang jalan menuju ke arahnya.

"Sakura!" teriaknya membuat semua yang berada di situ mengalihkan perhatiannya pada satu sosok yang semakin mendekat itu.

"Naruto, bagaimana dengan Kakashi –sensei?" tanya Sakura pada Naruto.

"Sakura, ada apa denganmu?" tanya Yamato karena di baju Sakura terdapat banyak noda darah yang menempel. "bagaimana dengan Kakashi –sensei?" tanya Sakura lagi mengacuhkan pertanyaan Yamato.

"Tsunade baa-can sedang memberi pertolongan pada Kakashi –sensei" jawab Sai. Sakura menangis, ia memegangi dadanya.

"aku takut sekali melihat Kakashi –sensei seperti itu"

Semuanya diam, semuanya mengerti apa yang dimaksud Sakura. Mereka juga takut sesungguhnya. Semenjak semuanya terasa sulit untuk mereka mengerti tentang Kakashi.

...

Tsunade menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Ia tak percaya. Ia tersenyum kecut mendapati dirinya kelelahan setelah ia melakukan pertolongan di rumah sakit Konoha.

"ini rumit" ucapnya memandangi langit-langit apartemennya.

"Tsunade baa-can, bagaimana dengan Kakashi –sensei?" tanya Sasuke, serius. Tsunade memperbaiki posisinya. Ia menghadap pada sekelompok orang yang berdiri menghadapnya menanti sebuah jawaban atas apa yang ia lakukan pada Kakashi.

"untuk beberapa hari kedepan mungkin Kakashi akan aku serahkan pada Sakura. Kau bersedian kan, Sakura?" tanyanya pada Sakura.

Sakura tersenyum, lalu mengangguk. "aku siap" yakinnya.

"baguslah dan hanya itu" akhir Tsunade.

Semuanya hanya diam. "Tsunade baa-can, apa yang akan terjadi pada Kakashi –sensei setelah ini?"

Tsunade terdiam mengamati Naruto. ia menggeleng "aku tak tau. Semuanya tergantung Kakashi kedepannya. Tapi mungkin untuk saat-saat seperti ini ia butuh untuk diberi dukungan"

"hanya itu?"

Tsunade mendelik pada Sai yang tersenyum licik.

"lalu maumu apa?" tanya Tsunade balik. Sai mengangkat bahunya. "entahlah, tapi sepertinya anda mengerti maksudku"

Tsunade mendesah "aku mengerti"

"Tsunade baa-can, aku tak mengerti mengapa Kakashi –sensei melakukan hal seperti itu"

"lalu menurutmu apa yang kau mengerti tentang Kakashi?"

Naruto dan yang lainnya diam, menggeleng bersamaan. Tsunade hanya tersenyum lemah. Tiba-tiba pintu terbuka. Terlihat Jiraiya memasuki ruangan itu dengan panik.

"Tsunade!" teriak Jiraiya.

"apa?"

"apa benar jika Kakashi.." Jiraiya menatap Tsunade dengan tatapan serius.

"ya"

Jiraiya memegang kepalanya, mendesah tak percaya dengan informasi yang baru ia terima dari Tsunade langsung. "ini gila!"

Semuanya menoleh ke arah Jiraiya yang tampak frustasi. "tenanglah Jiraiya, setidaknya Kakashi sudah dalam kondisi baik meskipun ia masih belum sadar"terang Tsuanade padanya.

"aku tau. Tapi aku tak percaya bahwa ia melakukan tindakan seperti itu. rasanya aku seperti ingat seseorang dan aku takut kalau..."

"aku bilang Kakashi sudah dalam kondisi baik, Jiraiya" potong Tsunade. Jiraiya mendesah "ya, aku tau"

"tunggu dulu" Yamato mengernyitkan dahi. "tadi anda mengatakan 'seperti seseorang'? apa maksudnya?" tanya Yamato pada Jiraiya. Tsunade berdiri dan membelakangi mereka, melihat desa Konoha dari jendela. Sedangkan Jiraiya hanya menatap lantai tempatnya berdiri sebelum akhirnya ia mengangguk membenarkan pertanyaan Yamato.

"ya, dulu ada seseorang yang juga melakukan hal yang sama dengan Kakashi. namun, kami terlambat datang. Orang itu telah mati dengan meninggalkan seorang anak"

"siapa orang itu? dan siapa anak yang pertapa genit maksud?"

Jiraiya menggigit bibir bawahnya. "Sakumo. Hatake Sakumo. Dan anak itu adalah Kakashi"

Semuanya membulatkan mata. "maksudnya bahwa pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya? Dan orang bernama 'Sakumo' itu adalah..." Naruto tak bisa untuk melanjutkan kata-katanya. Sulit.

"ya. Sakumo adalah ayah Kakashi. ia melakukan harakiri didepan Kakashi yang waktu itu berumur 4 tahun."

"bukankah, Sakumo –sama meninggal karena misi?"

Naruto, Sasuke, Sai, Sakura mengalihkan perhatiannya pada Yamato yang terlihat keheranan sekaligus terkejut. Jiraiya menggeleng. "sebenarnya kami membuat kematian Sakumo –can seolah-olah karena misi" kali ini Tsunade yang angkat bicara. "apa?" tampaknya Yamato tak mempercayai semua ini. "jadi selama ini kalian menyembunyikan alasan Sakumo –sama meninggal yang sesungguhnya?"

"ya, tapi itu semua karena permintaan Kakashi kecil" Tsunade mulai menangis. Yamato tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia terlalu kaget untuk semua kenyataan yang didengarnya.

"Yamato –sensei mengenal ayah Kakashi –sensei?" tanya Sai selidik. Yamato mengangguk.

"Sakumo –can adalah orang yang kuat. Kekuatannya melebihi kami bertiga. Ia dijuluki..."

"Konoha Shiroi Kiba" lanjut Sakura, memotong pembicaraan Jiraiya.

"bagaimana kau tau, Sakura?" tanya Naruto. Sasuke dan Sai mengangguk setuju dengan pertanyaan Naruto. sedangkan Jiraiya dan Tsunade mendelik.

"aku tahu, karena almarhumah nenek Chiyo pernah mengatakan itu di saat kita akan menolong Kankurou. Bukankah kamu juga ada di sana, Naruto?"

Naruto diam, menulusuri pemikirannya. "akh. Ya, aku ingat. Dulu nenek Chito menganggap Kakashi –sensei adalah orang yang membunuh anak-anak nenek Chiyo yang ternyata bukan"

Sakura mengangguk, sedangkan yang lainnya diam.

"mengapa ayah Kakashi –sensei melakukan itu?" tanya Sasuke. Tsunade tersenyum lemah dan ia mulai menceritakan alasan yang sebenarnya. Kenyataan dari awal sampai akhir hingga semua yang ada di ruangan itu benar-benar mengerti.

"itu benar-benar bodoh!" protes Naruto. Jiraiya hanya mendesah. "awalnya aku juga menganggap itu adalah hal yang bodoh. Tapi tidak bagi Sakumo –can, baginya itu adalah hal yang benar"

"tapi tapi"

"sejak saat itu Kakashi membenci ayahnya"

"mengapa Kakashi –sensei tidak membenci orang-orang desa? Mengapa Kakashi –sensei..."

"masalah yang rumit. Kakashi bukan kamu, Sasuke. Bukan. Kakashi adalah tipe orang yang sama seperti Sakumo. Mereka adalah tipe orang yang selalu menyalahkan diri mereka sendiri bila semuanya tak menjadi seperti kehendak mereka. Mereka adalah orang-orang yang tertutup tentang perasaan. Mereka tipe orang yang setia meskipun mereka sendiri terluka terus-menerus. Mungkin, ada beberapa persamaan antara kalian dan Kakashi, terutama kau, Sasuke. Ya, satu sifat yang mirip denganmu yaitu perasaan akan 'haus kekuatan' membenci orang lain yang terlalu ikut campur. Satu sifat yang mirip denganmu, Naruto yaitu sifat pengertiannya akan rasa terluka. Satu sifat yang mirip denganmu, Sai yaitu sikap tidak bisa untuk mengungkapkan perasaan secara benar. Satu sifat yang mirip Yamato yaitu sikapnya yang malas tapi akhirnya dikerjakan dengan sangat untuk dijelaskan terlalu detail. Dan, satu sifat yang mirip dengan Sakura..." Tsuanade berhenti untuk mengatakannya. Ia ragu jika benar 'ya'.

"apa itu, Tsunade baa-can?" tanya Sakura harap-harap cemas. Tsunade menatap muridnya dengan keraguan.

"tolong katakan saja, Tsunade baa-can" pinta Sakura setelah ia yakin dengan tatapan Tsunade yang agak cemas. Tsunade mendesah dan tersenyum ke arah Sakura. "ya, satu sifat yang mirip denganmu yaitu rasa ingin diperhatikan" setelah Tsunade mengatakan itu, Sakura menggigit bibir bawahnya. Sakit sekali hatinya. Ya, Sakura menyadarinya bahwa apa yang dikatakan oleh Tsunade adalah benar. Tapi bukan itu yang membuat ia sakit. Tapi karena ia sama sekali tak menyadari bahwa gurunya itu ingin diperhatikan. Bukan Sakura saja yang berpikir seperti itu, tapi juga Naruto, Sasuke, Sai, dan Yamato juga sakit karena mereka tak menyadarinya. "tapi meskipun begitu, Kakashi selalu saja berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja" lanjut Tsunade. Jika, tentang hal itu mereka pun tau.

"apa kalian tau alasan mengapa Kakashi selalu telat?" tanya Jiraiya, sedih. Naruto dan yang lainnya menggeleng. Jiraiya tersenyum pahit untuk mengatakannya. "sifat telat Kakashi, ia adopsi dari sifat Uchiha Obito". Kali ini, mereka terkejut lagi.

"Kakashi mencoba menghidupkan diri Obito didirinya untuk mencoba tidak melupakannya. Selain itu, sifat perhatian Kakashi, ia juga adopsi dari Homura Rin. Mungkin sebagai tebusan kesalahannya. Tapi, mungkin ia kecewa. Sangat. Setelah mengetahui bahwa pria bertopeng dari Akatsuki itu adalah Obito, Kakashi, aku merasa ia ketakutan. Ia benci pada dirinya karena ia lah penyebab terjadinya perang dunia shinobi ke-4. Ia benci dan ia menunjukannya dengan tidak bertemu kalian, atau siapapun. Ia takut untuk bertemu siapapun." Tsunade mengelap air matanya.

"mengapa takut?" tanya Sai tak mengerti.

"pertanyaan yang bagus" Jiraiya tersenyum. "itu karena ia takut bahwa nanti ia akan mengkhianati, lagi. Ia takut untuk menerima kepercayaan orang lain. Ia takut jika orang lain ketakutan melihatnya. Ia takut untuk mendengar tentang..." Jiraiya mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan "... dirinya sendiri. Ia akan senang jika orang lain membencinya karena dengan begitu ia akan kehilangan sebuah 'beban' yang harus ia pertahankan. Ia memilih untuk dibenci daripada harus disukai"

"ANEH!" Naruto tak terima. Ia tak terima dengan apa yang Tsunade dan Jiraiya katakan.

"itu BOHONG! BOHONG!"

Tsunade dan Jiraiya menatap Naruto yang mencoba tak menerima semua tentang gurunya, Kakashi. mereka tersenyum, kecut. "tapi sayangnya semua itu benar" ucap mereka bersamaan.

Naruto mulai menangis. Ia terisak-isak tak percaya. Bahkan Sasuke, Sakura, Sai dan Yamato yang juga mengenal gurunya, Kakashi hanya diam yang berarti menurutnya mereka semuanya setuju dengan apa yang dipikirkan oleh 2 sanin legendaris itu. Sakit untuk dikatakan sangat. Tapi ia juga mengerti, ia juga tau dengan apa yang diucapkan oleh 2 sanin legendaris itu memang benar hanya saja ia tak mau mengakuinya. Ia mulai berhenti menangis. Ia sadar dengan ketakutannya dengan gurunya, sebuah alasan yang memperkokoh ketakutannya kepada gurunya. Ya, ia takut untuk mengetahui bahwa yang di ucapkan oleh 2 sanin legendaris itu benar yang memang benar. Air matanya menurun lagi, deras tak terhentikan oleh alam bawah sadarnya yang menyuruhnya untuk berhenti menangis. Naruto mengingat semua masa kecilnya dengan Kakashi. Bagaimana ia begitu manjanya pada Kakashi. terkadang takut untuk ditinggalkan bersama orang lain –Jiraiya yang terkadang menjenguk. Naruto mengangkat sebuah album berwarna putih yang pertamakalinya ditemukan oleh Sasuke di kamarnya. Ia memeluknya.

"jangan. Aku tak percaya. Aku tak percaya" hanya itu yang dilontarkan oleh Naruto berulang kali. Semuanya prihatin dengan semua kenyataan yang terkuak ini. Semua ini lebih menyakitkan dari saat Sasuke meninggalkan desa, itu hanya pikiran Sakura yang tanpa sengaja terlintas.

"Naruto, dimana kau menemukan album itu?" tanya Jiraiya yang juga ikut menangis semenjak tadi.

"aku.. aku menemukannya di kamarku" ucap Naruto terbata-bata.

"Jadi kau sudah menemukannya?" Jiraiya terkejut lagi, entah yang keberapa kalinya ia terkejut tapi ia tak peduli. "ya" Naruto mengeratkan pelukannya. "masa laluku yang sebenarnya" jelas Naruto. Jiraiya dan Sasuke mengerti dengan jelas maksud Naruto.

"apa maksudnya?" tanya yang lainnya yang tidak mengerti apa yang dikatakan Naruto.

"album itu berisi tentang masa lalu Naruto. tentang seorang anak kecil yang manja pada orang yang di anggapnya adalah ayahnya yang membesarkannya yaitu Kakashi –sensei" jelas Sasuke pada yang lainnya.

"jadi ketika Naruto masih menjadi bayi, ia di asuh oleh Kakashi –sensei" kalimat itu merupakan pernyataan daripada sebuah pertanyaan. Sasuke mendesah, mengangguk. "ya"

Lagi-lagi mereka harus terkejut. Sampai kapan mereka harus terkejut tentang Kakashi? sampai kapan? Ereka tidak tau. Mungkin ini hanya awalnya. Awal untuk melihat sebuah akhir yang takkan pernah mereka tau kepastiannya sampai mereka akan terkejut dengan Kakashi.

"Kakashi –sensei, kau gila! Mau sampai kapan sensei membuat kami terkejut?" tanya Sakura yang lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.

Sampai kapan, Kakashi?. Sampai kapan kau akan terluka, Kakashi? jangan seperti itu Kakashi. jangan. Jangan buat aku merasa bersalah. Jangan buat Rin harus merasa kecewa juga. Kakashi bangunlah. Katakan pada mereka jika kau adalah Kakashi yang mereka kenal. Bukan Kakashi yang tak dikenal. Ayolah, Kakashi. Ayolah. Aku mohon, Kakashi. aku mohon agar kau bahagia, Kakashi.

[ seorang Uchiha dengan sharingan yang menyala di mata kirinya, menangis pada seorang berambut perak yang tertidur dengan selang infus yang terpasang]

Bangunlah, Kakashi. Bangun! Aku mohon, Kakashi. jangan buat aku merasa kecewa karena dirimu, Kakashi. Bangun, dan jadilah dirimu sendiri.

[ Uchiha itu tersenyum lemah dengan air mata yang membekas di wajahnya]

Maafkan aku, Kakashi. Maaf. Maafkan aku, Kakashi.

[Uchiha itu mengalihkan pandangannya ke depan. Kemudian ia melebur bersama angin yang berhembus. Hilang. Ia hilang. Sejak awal ia memang tak 'hadir'. Ya, Uchiha Obito itulah ia]

Kakashi, Maafkan aku.

.

.

.

.

TBC

Please reviwnya hahahaha. Geje? Yah emang sih hahahahahaha.